Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Vampire adalah sebuah tokoh dalam mitologi dan legenda yang hidup dengan memakan intisari kehidupan yang biasanya dalam bentuk darah dari mahkluk hidup lain. Dan mahkluk yang bernama Vampire itu hanya ada didalam cerita-cerita zaman dulu yang merupakan sebuah dongeng, buku cerita, novel juga sebuah filem.
Biasanya sosok Vampire itu menyeramkan, dengan tubuh yang terlihat pucat pasi seperti mayat hidup, mereka juga tak tahan dengan sinar matahari, bawang putih juga benda-benda yang terbuat dari perak.
Namun sepertinya Vampire yang ditemui oleh Orihime sangat jauh berbeda dari pandanganya atau penjelasan dari buku yang pernah dibacanya diperpustakaan. Vampire yang ada dihadapannya saat ini sangat tampan dengan iris berwarna hijau namun kulit tubuhnya putih namun tak terlihat pucat malah seperti warna salju, putih bersih dan indah.
Dengan perlahan dan tubuh gemetaran Orihime mundur kebelakang menghindari pria itu yang berjalan mendekat padanya.
"A-anda si-siapa? Dan me-mengapa bera-da di-dikamarku?" tanyanya ketakutan.
Pria tampan itu diam dan terus berjalan mendekat, "Aku yang menolongmu semalam,"
Deg'
Jantung Orihime langsung berdetak dengan cepat dan sekelebat bayangannya tentang kejadian tadi malam terlintas dibenaknya.
"Ja-jadi ya-yang semalam bu-bukanlah sebuah mimpi dan anda adalah..." Orihime menghentikan ucapannya dan memandang takut pria itu yang kini duduk manis didepannya seraya menatapnya penuh arti.
Pria itu mendekatkan wajahnya pada Orihime dan menatapnya dengan intens lalu mendekatkan bibirnya tepat ditelinga Orihime, "Apa kau takut padaku Hime?" bisiknya dengan mesra.
Cup'
Tiba-tiba saja Ulquiorra mencium bibir Orihime, kedua mata Orihime membulat sempurna saat merasakan sensasi dingin dari bibir pria tampan ini.
"Hmphh..." erang Orihime dalam ciumannya.
GYUT~~
Uluiorra mengurung tubuh Orihime dalam pelukkan eratnya.
Setelah memagut bibir Orihime beberapa menit, pria itu melepaskan ciumannya namun tidak menjauhkan wajahnya dari Orihime.
"Namaku Ulquiorra Schiffer, penguasa dari Hueco Mundo yang merupakan tempat para Vampire, monster dan iblis." Ulquiorra memperkenalkan dirinya.
Orihime terdiam terpaku mendengarnya, saat hendak protes mengenai hal ini. Pria itu langsung menatapnya dengan tajam dan mengitimidasi.
"Kau adalah pengantinku, Ratu di istanaku," Ulquiorra membelai lembut wajah Orihime.
"Jangan coba berusaha menolak keinginanku ataupun mencoba lari dariku, jika ingin nyawamu selamat, Hime.'" Ancamnya dengan dingin.
Glek'
Orihime menelah ludahnya dengan susah payah.
Gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini menatap ngeri pada Ulquiorra, dan merutuki keadaannya saat ini, karena terjerat oleh Raja Vampire nan tampan ini. Memang doa yang pernah ia panjatkan di dalam kuil, ingin memiliki seorang pacar yang tampan juga keren, namun yang datang malah seorang pria tampan dengan penuh pesona tapi sangat berbahaya.
"Ya, Tuhan tolong aku!" jerit Orihime dalam hati.
.
.
.
Saat ini para petugas kepolisian terlihat tengah dan memeriksa tempat disimpannya lukisan kuno hasil karya seorang pendeta yang hilang kemarin malam, tak ada tanda-tanda kerusakan yang terjadi diseketira tempat lukisan disimpan namun yang menjadi masalah adalah gambar pria yang ada didalam lukisan itu menghilang secara tiba-tiba dan hanya meninggalkan gambar rantai yang membelenggu tubuh pria itu.
Dan berita mengenai hal ini masuk dibanyak koran, majalah juga telivisi karena ini merupakan kejadian aneh dan langka mengingat yang hilang bukanlah lukisannya melainkan orang yang berada didalam lukisan itu.
Banyak orang yang bersepekulasi kalau itu mungkin itu tipuan dari penjahatnya dan tak sedikit yang mengaikatnnya dengan cerita mistik mengingat lukisan itu bukanlah lukisan sembarangan. Namun pihak kepolisian akan berusaha keras menemukan pelaku pencurian dan menangkapnya.
"Kapan kalian terakhir melihat lukisan pria itu masih ada ditempat ini?" tanya seorang polisi.
"Kemarin malam saat bertugas malam, saya masih melihatnya Inspektur Abarai, dan saat Museum dibuka pagi ini pria yang ada didalam lukisan sudah menghilang tanpa jejak." Jelas sang penjaga museum.
"Apa mungkin pria yang ada didalam lukisan itu keluar dengan sendirinya?!" ujar pria bersurai merah itu.
"Hahaha...Itu tidak mungkin Inspektur. Bagaimana-pun itu hanya sebuah lukisan bukanlah sebuah benda hidup," sahut penjaga Museum yang merasa kalau omongan dari Inspektur muda itu sebuah lelucon belaka.
"Tapi yang dilukisan itu bukanlah mahkluk biasa. Melainkan Raja Vampire," sahut seorang pria seorang pria bersurai hitam pendek yang merupakan kepala musuem ditempat ini.
Para petugas museum tertawa geli mendengarnya, "Apa? Raja Vampire?! Lucu sekali, di jaman seperti ini masih saja ada orang suka berkhayal,"
"Lalu apa kalian bisa jelaskan, bagaimana gambar pria yang ada dilukisan itu menghilang begitu saja tanpa jejak!" tukasnya yang membuat semua orang terdiam dan tak lagi tertawa.
Para polisi terus menyelidiki kasus ini lebih dalam karena menurut mereka pencurian ini sangat rapih dan tak ada jejak sedikit-pun bahkan kamera pengawas yang berada didalam musuem tidak menangkap gambar apapun yang mencurigakan. Dan kasus ini merupakan tantang besar bagi pihak kepolisian kota Tokyo untuk menuntaskannya.
*#*
"Akhhh..." Rintih seorang gadis cantik saat lehernya digigit.
Tubuh gadis itu terlihat mengejang kesakitan dan lemas tak kala pria yang tengah menggigit lehernya ini menghisap darahnya.
BRUK...
Tubuh gadis itu jatuh tak bernyawa karena darahnya dihisap habis oleh pria itu setelah merenggut kesuciannya.
"Darahnya tidak enak sama sekali," pria ini mengusap sisa darah disudut bibirnya.
"Ikaku," panggilnya dingin.
CKLEK...
Suara pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang pria berkepala plontos masuk kedalam kamar seraya membungkukkan tubuhnya dalam, "ya Tuan."
"Buang jasad gadis itu atau kau berikan saja pada serigala kelaparan diluar sana," ucapnya kejam seraya memakai kembali pakaiannya.
"Baik Tuan." Ikaku meraih tubuh polos wanita yang sudah tak bernyawa itu lalu pergi meninggalkan kamar pribadi sang Tuan.
Setelah kepergian Ikaku, pria tampan ini berjalan menghampiri sebuah lukisan yang terpajang dikamar, dipandanginya penuh cinta dan kerinduan lukisan gadis cantik bersurai oranya kecokelatan panjang bermata abu-abu yang tengah berdiri cantik di bawah pohon sakura yang mengenakan kimono berwarna merah.
Tangan pria ini terulur menyentuh gambar gadis cantik itu, "Hime." Ucapnya sendu.
"Aku sangat merindukanmu," pria tampan ini menempelkan seluruh tubuhnya pada lukisan itu dan seakan-akan tengah memeluk tubuh gadis dalam lukisan.
"Dimanakah kau saat ini Hime, kembalilah padaku." Dikecupnya gambar bibir sang gadis penuh kasih.
TOK...TOK...TOK
Seseorang mengetuk pelan pintu kamarnya dan merusak kesenangannya.
"Siapa?" tanyanya dingin.
"Ini saya Yumichika, Ashido-sama." Ucap seorang pemuda bersurai hitam sebahu.
"Masuklah," pria ini menyudahi kegiatannya.
Saat masuk kedalam dan menemui sang Tuan, Yumichika langsung membungkukkan tubuhnya, "Maafkan saya jika mengganggu waktu anda, tapi ada hal yang ingin saya sampaikan pada anda,"
"Apa itu?" Ashido menatapnya dingin.
"Ulquiorra sudah bebas dari kurungannya," Yumichika masih membungkukkan tubuhnya.
Kedua mata Ashido melebar sempurna mendengarnya, "A-apa?!" serunya tak percaya.
"Katakan dimana keberadaan Ulquiorra saat ini," katanya penasaran.
"Kota Karakura, Ashido-sama." Ucapnya sopan.
Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya karena penantiannya selama ratusan tahun ini berbuah manis dan akhirnya gadis yang ia cintai lahir lagi kedunia ini.
"Perintahkan Rangiku dan Gin untuk menangkap gadis yang bersama dengan Ulquiorra, karena aku yakin gadis itu adalah reinkarnasi dari Yukihime." Ucapnya dingin.
"Baik Ashido-sama." Yumichika-pun pergi untuk menjalankan perintah sang Tuan menangkap gadis itu.
Pria tampan bersurai merah ini mamandangi kembali lukisan besar gadis pujaan hatinya, "Sebentar lagi kita akan bertemu kembali Hime dan kita akan bersama selamanya." Ucapnya dengan wajah gembira.
Ashido-pun jadi terkenang kejadian lima ratus tahun yang lalu saat dirinya masih menjadi seorang manusia bukan Vampire seperti ini.
"Akan kumusnahkan kau Ulquiorra Schiffer." Desisnya penuh kebencian.
Berabad-abad yang lalu disebuah Negeri tengah kacau dan dikecam ketakutan karena banyaknya para mahkluk penghisap darah atau para penduduk menyebutnya sebagai monster karena selalu menghantui kota setiap malam.
X0X0X0X0X0X0X0X
Dan yang harus bertanggung jawab atas banyaknya kematian dari para penduduk Negeri ini Ulquiorra Schiffer yang merupakan Raja di sebuah kerajaan Lash Noche.
Pria tampan bermata Emerald ini berasal dari klan Espada. Sebuah klan Vampire yang paling kuat dan berkuasa di Negeri kegelapan, yaitu Hueco Mundo tempat bernaungnya para Vampire, iblis, monster dan mahkluk menyeramkan lainnya.
Ulquiorra dikenal oleh semua orang sebagai seorang monster yang paling ditakuti baik didunia kegelapan dan didunia manusia karena kekuatan dan kekejamannya. Sebagai seorang Vampire Ulquiorra hanya menghisap darah seorang gadis bangsawan atau para putri Raja, karena menurutnya kualitas dari darah para gadis bangsawan sangatlah bagus dan enak.
Dan malam ini tepat malam bulan purnama, Ulquiorra pergi untuk mencari mangsa karena rasa haus yang sangat menyiksa ditenggorokkannya.
"Nnoitra, Yammy temaniku aku." Ucapnya dingin seraya pergi terbang dari kastilnya.
"Baik Ulquiorra-sama." Sahut keduanya bersamaan seraya mengikuti sang Tuan pergi.
Bersama dengan kedua anak buahnya, malam ini Ulquiorra mendatangi kediaman bangsawan Kanojo. Ulquiorra masuk kedalam kamar sang saat sang Nona muda tengah tertidur pulas ia-pun langsung menancapkan taringnya dileher sang Nona.
"Ekh!" rintih sang Nona karena merasakan lehernya yang sakit juga panas, namun kedua matanya terasa sangat sulit untuk dibuka dan melihat siapa yang tengah menggigit lehernya.
"Aaa….hmphh..." jerit sang Nona tertahan karena dengan cepat Ulquiorra membekap mulut sang Nona muda.
Disaat Ulquiorra tengah menghisap darah sang Nona, tiba-tiba saja pintu kamar sang Nona muda terbuka dan menampilkan seorang pelayan yang tengah membawakan secangkir teh.
PRANG…
Pelayan itu menjatuhkan nampan dan gelas yang dibawanya.
"No-Nona," ucapnya dengan gemetaran.
Pelayan ini terlihat berdiri kaku dengan tubuh gemetaran, keringat dingin pun mulai jatuh dari pelipisnya saat melihat sebuah adegan yang mengerikan tengah terjadi didepan matanya.
"AAAAAAA!" jerit seorang pelayan wanita dengan histerisnya melihat sang Nona muda tengah meregang nyawanya dihisap darahnya oleh seorang pria tak dikenal.
"Pengganggu," lirik Ulquiorra dengan tajam dan masih melanjutkan aktifitasnya menghisap habis darah sang Nona muda.
Pelayan ini terlihat berlari dengan sekuat tenaganya menjauh dari Ulquiorra.
"A-a-ada Vampire!" teriak pelayan itu yang langsung mengundang kehebohan seluruh penghuni rumah itu.
Seluruh penjaga langsung berbondong-bondong datang kekamar sang Nona muda dengan membawa senjata.
BRUK...
Ulquiorra menghempaskan tubuh Nona muda itu yang sudah tak bernyawa lagi dan mengelap sisa darah dipinggir bibirnya.
"Yammy, Nnoitra bereskan semuanya." Ujar Ulquiorra dengan dingin pada kedua anak buahnya yang sedari tadi berdiri diatas atap melihat juga menunggu aktifitas sang Tuan.
BRAK...
Keduanya langsung turun dari atas atap, "Baik Ulquiorra-sama," sahut keduanya seraya tersenyum kejam.
Yammy dan Nnoitra terlihat mengeluarkan kuku panjang dan juga gigi taring mereka yang tajam. Seluruh pelayan dan penjaga dirumah ini terlihat datang menyerbu kamar sang Nona, namun disana mereka semua sudah ditunggu dan disambut oleh Nnoitra dan Yammy.
"Akan kuhisap darah mereka hingga kering." Gumam Nnoitra senang seraya memerkan taringnya.
"Akan kucabik dan kumakan tubuh mereka tanpa sisa." Yammy menyeringai kejam.
CRAT...
Percikan darah terlihat dimana-mana karena ulah keduanya, juga suara jerit ketakutan dan kesakitan yang memilukan telinga menggema diseluruh sudut rumah kediaman bangsawan Kanojo, banyak orang yang mati menjadi korban kekejaman dari Nnoitra dan Yammy.
Sementara itu, Ulquiorra hanya berdiri diam, diatas kediaman keluarga Kanojo dengan wajah tanpa ekspresi dan dingin, menyaksikan kediaman mewah itu hancur terbakar oleh ulah kedua anak buahnya.
Semenjak kejadian itu seluruh rumah bangsawan dikota ini, terlebih yang memiliki anak gadis yang belum menikah langsung dijaga ketat oleh para pendeta dan pengawal yang kuat demi melindungi mereka dari Ulquiorra dan anak buahnya.
Namun sepak terjang Ulquiorra dan anak buahnya tidak selamanya berjalan mulus tak lama karena para Quincy yang merupakan musuh para kaum Vampire datang dan berniat untuk memusnakan Ulquiorra juga rakyatnya di Hueco Mundo.
*#*
Banyak orang bilang kalau cinta sanggup mengubah apapun dan hal itu juga berlaku pada Ulquiorra yang merupakan Raja dari bangsa Vampire, pria tampan bermata Emerald ini jatuh cinta pada seorang gadis manusia. Nama gadis itu adalah Yukihime. Gadis cantik bersurai oranye panjang ini adalah seorang putri bangsawan yang dibuang oleh keluarganya karena kekuatan roh yang dimilikinya.
Pertemuan mereka terjadi didekat sebuah sungai saat itu Ulquiorra tengah terluka parah akibat bertarung dengan seorang pendeta. Saat melihat Ulquiorra dengan wujud aslinya Yukihime bukannya merasa ketakutan dan lari menjauh gadis itu malah mendekatinya lalu menolongnya. Bahkan dengan suka relanya gadis beriris abu-abu membiarkan Ulquiorra menghisap darahnya yang bisa membuatnya mati.
Hati sang Raja Vampire bergetar hebat karena kebaikan dan ketulusan hati yang dimiliki oleh gadis manusia itu dan semenjak pertemuan itu-lah diam-diam Ulquiorra selalu datang menemui gadis manusia itu dan sudah hampir satu tahun ini ia menjalin hubungan dengannya.
Yukihime terlihat duduk didepan gubuk kecilnya yang dibangun oleh sang ibu sebelum pergi meninggalkannya sendirian disini.
Semilir angin menerpa tubuh dan wajahnya, untuk menghilangkan perasaan sepi dan bosannya ia memainkan sitar pemberian dari Ulquiorra dan disaat tengah asik bermain Ulquiorra datang dan langsung duduk disebelah Yukihime.
"Tuan?" panggil Yukihime lembut.
"Kenapa kau menghentikan permainanmu Hime, aku sangat menyukainya. Permainan sitarmu sangat indah dan terdengar merdu ditelingaku, " ujar Ulquiorra.
Yukihime tersipu malu mendengarnya dan tersenyum kecil, " terima kasih Tuan atas pujiannya, hamba sangat tersanjung sekali," Yukihime sedikit membungkukkan tubuhnya.
Sruk...
Ulquiorra mengelus pelan kepala sang kekasih dengan lembut, "jangan terlalu formal padaku,"
"Apakah kau sudah makan, Hime?" tanya Ulquiorra seraya menyentuh pipi Yukihime yang terasa hangat ditangannya.
"Sudah Tuan, tadi siang aku sudah makan beberapa buah dan kue pemberian dari Ashido-kun," jawab Yukihime dengan lembut.
"Pemuda manusia menyebalkan itu." Batin Ulquiorra sebal.
Ternyata disaat dirinya tidak ada pemuda manusia itu menemui Yukihime, padahal ia sudah memperingatkannya berulang kali agar tidak datang dan mengganggu gadis pujaan hatinya ini.
"Tapi kau harus makan yang banyak Hime, lihat wajahmu sangat tirus sekali," Ulquiorra menatapnya cemas.
"Terima kasih a..."
Ucapan Yukihime terhenti karena Ulquiorra memegangi bibirnya dengan telunjuknya, "Aku sudah membawakanmu makanan dan aku ingin kau memakannya hingga habis,"
"Tapi Tuan..."
"Aku tidak suka penolakkan Hime, kau tahu itu," potong Ulquiorra cepat.
Yukihime tersenyum kecil mendengarnya, gadis cantik ini-pun memakannya.
"Apakah enak Hime?"
"Ya, ini sangat enak sekali Tuan. Terima kasih,"
Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampan Ulquiorra, sudah hampir satu tahun ini ia dekat dan menjalin hubungan secara diam-diam dengan Yukihime yang merupakan manusia, makan bagi kaum Vampire sepertinya.
Mungkin akan terdengar lucu jika mendengar seorang Raja Vampire yang kejam juga dingin jatuh cinta terlebih pada mangsanya sendiri. Kaumnya mungkin akan menertwakan juga menentang hubungan mereka berdua namun Ulquiorra tidak perduli sama sekali, yang diinginnkan dalam hidupnya adalah Yukihime, tak ada yang lain.
Ulquiorra merasa nyaman dan hidup saat bersama Yukihime. Sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan Ulquiorra sama sekali, bahkan terkadang ia membuang jauh-jauh sifat kejam dan dinginnya saat berada didekat Yukihime.
"Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut.
"Ya, Tuan," Orihime menolehkan wajahnya.
Ulquiorra membelai wajah cantik sang kekasih dan menatap bola matanya yang berwarna abu-abu yang meneduhkan jiwa.
"Apakah kau mau menikah denganku?" tanya Ulquiorra dengan serius.
Yukihime terdiam dan kaget mendengarnya, dirinya bingung harus berkata apa juga menjawab pertanyaan dari Ulquiorra. Melihat sikap dari Yukihime yang seperti itu membuat hati Ulquiorra sedikit sakit, apakah gadis manusia ini akan menolaknya dan tak mau bersama dengannya.
"Hime, kenapa kau diam saja apa kau..."
Yukihime menyentuh tangan Ulquiorra yang terasa dingin lalu tersenyum lembut, "Dicintai olehmu, menerima semua kebaikan darimu juga selalu berada didekatmu adalah sebuah kebahagian yang sangat luar biasa untukku. Selamanya aku mencintai anda." Jawab Yukihime dengan penuh keyakinan.
GYUT~~
Ulquiorra langsung memeluk erat tubuh Yukihime, "Terima kasih, Hime. Aku mencintaimu selama-lamanya," ucap Ulquiorra dengan bahagia.
"Aku juga mencintai anda." Yukihime membalas pelukkannya.
Keduanya terlarut dalam kebahagian dan tanpa mereka sadari berdua kalau dari jauh ada seorang pria bersurai merah yang terus melihat juga menguping pembicaraan mereka berdua.
"Iblis itu." Ucap orang itu seraya meremas kedua tangannya.
"Tidak akan kubiarkan kau bersamanya Hime, selamanya kau milikku." Ucapnya seraya memandang penuh kebencian pada Ulquiorra.
*#*
Malam ini para dayang dari istana Ulquiorra datang menemui Yukihime untuk mendandaninya juga memakaikannya Shiromoku, kimono putih panjang yang biasa dikenakan saat pernikahan dan malam ini adalah pernikahan antara Ulquiorra dan Yukihime yang akan dilangsungkan di istana Ulquiorra, Hueco Mundo.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya seorang pria bersurai biru pada salah satu dayang istana.
"Sudah, Tuan Grimmjow."
"Kalau begitu antarkan dia kedalam tandu, karena Ulquiorra-sama sudah menunggu didalam istana." Ucap Grimmjow seraya berjalan menunju tandu.
Para dayang membantu Yukihime berjalan memasuki tandu karena pakaian yang tengah dipakainya terlihat berat dan besar. Namun saat berada ditengah perjalanan menuju gerbang Hueco Mundo beberapa pendeta suci dan seorang pemuda bersurai merah menghadang mereka.
"Lepaskan gadis itu," teriak seorang pria bersurai putih panjang.
"Cih! Para pendeta menyebalkan itu." Dengus Grimmjow.
"Bawa Yukihime-sama ketempat aman dan sampaikan hal ini pada Ulqiorra-sama kalau kita akan datang terlambat." Teriak Grimmjow pada salah satu pengawal.
Pertarungan sengit antara Grimmjow dan para pendeta suci itu terjadi, sementara itu Yukihime dibawa pergi oleh para pengawal dan dayang-dayang ketempat aman mengingat saat ini dua orang pendeta suci dan seorang pemuda bersurai merah berlari mengejar mereka semua.
"Bakudo ke empat Hainawa."
SRUT...
GREP...
Sebuah tali roth melilit tubuh Yukihime dan membuat gadis yang berada didalam pelukkan para dayang terlepas dan pemuda bersurai biru itu menangkapnya.
"Yukhime-sama." Teriak para dayang.
Kini gadis bersurai ornye kecokelatan ini tengah berada didalam pelukkan para pendeta suci. Para pengawal dan dayang dari istana Hueco Mundo itu mencoba merebut kembali sang pengatin Raja mereka.
WHUSSS...
Mereka semua langsung berubah dan menampakkan wujud mereka yang sebenarnya.
"Mundurlah Ashido bawa gadis itu ketempat aman, kali ini keadaan akan berbahaya." Ucap pria bersurai kuning pendek.
"Baik." Ashido langsung berlari menggendong tubuh Yukihime yang berbalut Shiromoku.
PRANG...
Gelas wine yang tengah dipegang Ulquiorra jatuh pecah berserakan saat mendengar kabar kalau pengantinnya, Yukihime dibawa pergi oleh para pendeta suci dan semua dayang juga pengawal yang membawanya termasuk Grimmjow tewas dalam pertarungan didekat gerbang perbatasan antara Hueco Mundo dan dunia manusia.
"AAAAAA!" Ulquiorra berteriak dengan kencang.
WHUSSS...
Kedua sayap hitam Ulquiorra keluar dari punggungnya "Akan kubunuh mereka semua."
Dibelakang Ulquiorra Nnoitra dan Yammy pergi mengikuti pria bermata Emerald itu ke kuil suci untuk mengambil kembali Yukihime.
DHUAR...
BUUUMMMM...
Terjadi ledakan dan kekacuan hebat didalam kediaman Ashido, semua orang terlihat berlari ketakutan saat melihat sosok Ulquiorra ditengah kobaran api. Pandangan mata Ulquiorra terlihat membunuh dan dingin, tak segan-segan ia membunuh orang yang menghalangi jalannya mencari sang pengantin, Yukihime.
Merasa ada bahaya yang mengancam, buru-buru Ashido membawa lari Yukihime dengan menggunakan kuda, tapi sayangnya belum juga Ashido pergi Ulquiorra sudah menghadang jalannya.
BRUK...
Ashido terjatuh terhempas saat Ulquiorra memukulnya.
"Aaaaa..." erangnya kesakitan.
"Beraninya kau mencuri pengantinku, manusia." Ulquiorra memandang dingin Ashido.
"Tuan," panggil Yukihime seraya mengulurkan salah satu tangannya.
GREP...
Ashido menarik tuuh Yukihime agar menjauh dari Ulquiorra.
"Ti-tidak a-akan ku-kubiarkan iblis sepertimu bersamannya." Ucap Ashido susah payah seraya menahan rasa sakit di perutnya.
Dengan bersusah payah Ashido berdiri dan menghunuskan pedangnya pada Ulquiorra.
"Jadi kau memang ingin mati, manusia." Ulquiorra mengeluarkan aura kegelapannya.
Bukannya takut Ashido malah berlari menerjang tubuh Ulquiorra tanpa perduli kalau perbedaan kekuatan mereka jauh.
"Mati kau Ulquiorra..." teriak Ashido seraya berlari menerang Ulquiorra.
Merasa sang kekasih dalam bahaya Yukihime berlari mengikuti instingnya untuk melindungi Ulquiorra.
JLEB...
Pedang milik Ashido tertusuk tepat didada Yukihime dan darah segar langsung mengalir dari tubuh gadis cantik itu, dua pria tampan ini membelalakkan kedua matanya.
Mereka berdua tidak mengira sama sekali kalau Yukihime akan berlari melindungi tubuh Ulquiorra.
"Hime..." seru Ulquiorra dengan kaget, tubuhnya terasa lemas saat melihat pengantinnya berlumuran darah.
Ulquiorra memeluk erat tubuh Yukihime yang bersimbah darah.
"Hime," panggil Ulquiorra dengan lirih.
"Tu-tuan..." Ucapnya dengan sisa tenaganya.
Tak lama Yukihime menutup kedua matanya untuk selama-lamanya, Ulquiorra terlihat kaget dan syok sekali.
"TIDAAAKKK!" teriak Ulquiorra dengan keras.
"Hime...jangan tinggalkan aku." Ulquiorra terus memeluk erat tubuh gadis pujaannya yang sudah tak bernyawa lagi.
Tes...
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Yukihime yang kini tubuhnya sudah mulai mendingin.
Ashido terduduk diam seraya menundukkan wajahnya lalu menangis mengiringi kematian Yukihime. Pria tampan ini tidak terima atas kematian Yukihime dan berjanji didalam hati akan membalaskan dendam pada Ulquiorra.
"Yuki-chan." Isak Ashido.
Ulquirra terlihat sangat marah sekali dan langsung berubah ke wujud aslinya.
WHUSSS...
Kedua sayap hitam lebar terbentang keluar dari punggungnya juga mengeluarkan dua tanduk dikepalanya.
"AAAAAAA..." teriak Ulquiorra yang mengakibatkan sebuah gelombang besar yang menghancurkan benda didekatnya kecuali tubuh Yukihime yang ada dipelukkannya.
Ulquiorra menaruh tubuh sang kekasih dibawah dan berdiri, "Akan kubunuh kau manusia." ucapnya dengan dingin.
Ashido terlihat sedikit gemetaran melihat sosok asli sang Raja Hueco Mundo itu, kekuatan belum sempat Ulquiorra membunuh Ashido, para pendeta datang.
"Bakudou ke enam puluh satu Rikujokoro." Teriak seorang pria berurai putih panjang.
SRAK...
Tubuh Ulquiorra terkunci dan para pendeta suci itu langsung membentuk sebuah barisan.
"Unohana cepat kurung dia, sebelum semuanya terlmbat."
Wanita yang dipanggil Unohana itu-pun datang dengan membawakan sebuah kanvas putih kosong lalu membentuk sebuah segel gaib ditangannya.
"Senju Koten Taihō." Ucap Unohana.
"AAAAAAA!" teriak Ulquiorra kesakitan saat tubuhnya direjam oleh beberapa tombak roh.
"Sekarang saatnya." Teriak mereka semua bersmaan.
Unohana menggambar segel gaib diatas kanvas, " Kin Banki."
Seluruh tubuh Ulquiorra terbelenggu oleh rantai roh yang kuat, "Aku akan bangkit kembali dengan darah renkarnasi Yukihime dan menghancurkan kalian, semuanya." Ucapnya sebelum menutup kedua matanya.
WHUSSS...
Ulquiorra langsung masuk kedalam kanvas dengan kedua tangan dan kakinya terikat rantai. Akhirnya mereka semua bisa mengurung sang Raja iblis itu setelah berusaha menangkapnya selama ini.
Ashido masih terdiam melihat semuanya tanpa tahu apa yang harus ia perbuat atau katakan.
Tak lama setelah Ulquiorra dikurung didalam lukisan, Nnoitra berhasil merebut lukisan yang bergambar Ulquiorra. Para pendeta berusaha mengejar dan mengambil kembali lukisan itu namun sayangnya kedua Vampire itu menghilang dengan cepat.
"Sial!" geram Hirako.
"Tenanglah Hirako, dia tak akan bisa bangkit kembali tanpa darah milik dari Yukihime."
"Aku tahu itu tapi aku yakin kalau suatu hari nanti ia akan lepas dari kurungan itu."
"Tapi kita bisa mencegahnya Hirako."
"Kita harus lenyapkan dan hancurkan lukisan itu sebelum Yukihime berrenkarnasi keduani ini." sambung seorang pria bersurai putih panjang.
Unohana terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, karena yang dikatakan oleh pria bersurai kuning itu ada benarnya. Jasad Yukihime dikremasi oleh para pendeta dan abunya ditaburkan kelautan agar kelak abu kremasi dari Yukihime tidak disalah gunakan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Dan semenjak serangan waktu itu tiba-tiba Ashido menghilang tiba-tiba bak ditelan oleh bumi.
Semua kaum Vampire sudah berusaha membebaskan Ulquiorra, namun sayangnya meraka tidak bisa karena yang bisa membebaskan Ulquiorra hanyalah darah gadis yang dicintainya, Yukihime. Mereka semua akan menjaga dan menunggu kedatangan Yukihime kedunia ini dan membebaskan Ulquiorra dari kurungannya.
"Kita harus menjaga lukisan ini sampai Yukihime berrenkarnasi." Ucap Nnoitra.
"Ya."
Nnoitra menyimpan lukisan Ulquiorra ditempat khusus dan tersembunyi karena mereka tahu para pendeta berusaha menghancurkan lukisan ini dan mencegah kebangkitan dari Ulquiorra.
Hampir lima ratus tahun berlalu dan sesuai dengan janjinya Ulquiorra lepas dari kurunganya dengan darah milik Orihime yang merupakan renkarnasi dari Yukihime, gadis yang dicintainya.
Ulquiorra akan memenuhi janjinya pada para pendeta kuil suci itu untuk membalas perbuatan mereka dan yang menanggung hal ini tentunya adalah generasi mereka saat ini.
TBC
A/N : Maafkan saya karena mengganti jalan ceritnya dikarenakan saya kurang merasa pas dengan kelanjutannya.
Terima kasih atas semua Riviewnya dan sarannya.
jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka
