Title :

Kiseki48

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

48 Family © Aki-P

Cover © Murawuri

Story :
©Rall Freecss

Warning :

AU!Idol, GaJe, Typo Everywhere, Gender Bending Everywhere,Full OOC, etc :v

A/N :
Gender Bending bertaburan nih, Bahasanya ga baku alias ngawur, alurnya ga jelas begitupula jalan cerita /loh/ AU nih, menyangkut idol pula. Ga suka? jangan baca, makasih :3


Kuroko meremas rok yang ia kenakan erat-erat, kakinya gemetar. Namun tak ada perubahan sama sekali pada wajahnya, tetap datar. Sekalipun demikian, jelas terlihat kalau sebenarnya gadis itu tengah gugup setengah mati.

Murasakibara yang duduk di sebelah gadis bersurai aquamarine itu sibuk melahap snack yang ia bawa dari rumah. Bernar-benar berbeda dengan Kuroko yang saat itu di basahi keringat dingin karena gugup. Murasakibara terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seorang gadis yang akan mengikuti audisi dengan beribu-ribu kontestan.

Siapa sangka, audisi itu akan berhasil menarik minat banyak gadis muda. Lihat saja antrian panjang yang tampaknya akan mengalahkan panjang kereta api itu. Aura di sekitar yang terasa benar-benar berat dan tak bersahabat. Saling melemparkan tatapan mengintimidasi satu sama lain.

"Murasakibara-chan.." Kuroko menepuk-nepuk bahu gadis bersurai ungu itu pelan, berharap gadis itu akan menoleh, dan mendengarkannya sejenak.

"Nani, Kurochin?" Kuroko menggigit bibir bagian bawahnya pelan,

"Apakah aku akan berhasil? Apa sebaiknya berhenti saja?" tubuh gadis itu tiba-tiba saja ikut bergetar, mengikuti ritme dari getaran kakinya yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

"Kurochin, kenapa kau jadi pesimis begitu? Tidak seperti Kurochin yang ku kenal." Tanya Murasakibara sambil terus melahap maiubonya. Kuroko terdiam sejenak, ia memandang wajah sahabatnya itu lekat-lekat.

Ya, entah kenapa tiba-tiba Kuroko menjadi tidak percaya diri dan ingin menyerah dengan cepat. Tak seperti dirinya yang biasanya. Kuroko yang tak pernah menyerah hingga akhir. Sikap yang selalu membuat Murasakibara merasa jengkel. Namun, karena sikap itu jugalah keduanya bisa berteman baik hingga sekarang. Yah, walaupun perkelahian kecil kadang terjadi, tapi setidaknya mereka bisa menjadi akrab dan menghargai satu sama lain.

"Murasakibara-chan.." gumam Kuroko,

"Kurochin, mau sampai kapan memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Murasakibara tiba-tiba "Eh?"

"Atchan."

Kuroko menenglengkan kepalanya, "Atchan, kapan Kurochin akan memanggilku dengan sebutan itu?"

Kuroko menggaruk pipinya yang tak gatal itu, "Sumimasen, tapi aku.."

"Moo! Kurochin membosankan!" ah, Murasakibara merajuk. Lihat saja pipinya yang menggembung itu, betapa imutnya gadis yang satu itu kalau sedang ngambek. Salah satu ekspresi milik Murasakibara yang menjadi favorit Kuroko.

"Kalau begitu, setelah lulus audisi." Ujar Kuroko,

"Maksudmu?" Murasakibara mengerutkan dahinya,

"Aku akan memanggilmu dengan sebutan Atchan, setelah lulus audisi. Bagaimana?" ujar Kuroko, tak ada respon. Gadis bersurai ungu itu hanya memandangi wajah Kuroko dengan seksama, sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Maa, tapi itu sama sekali tak membuatku bersemangat, Kurochin. Aku tetap mengikuti audisi ini karena kau yang memaksaku."

Kuroko terkekeh mendengarnya, "Apa ini? Apakah Murasakibara-chan menjadi Tsundere?"

"Heeh? Apa itu Tsundere? Mereka makanan baru?" tanya Murasakibara. Mendengar pertanyaan yang 100% ngawur itu, Kuroko hanya bisa menepuk dahinya.

"Yang ada di pikiranmu itu, hanya makanan ya, Murasakibara-chan?"


Pemuda, bukan, pria dengan alis bercabang itu tampak sama sekali tak puas. Ia memijat pelipisnya, ratusan lipatan memenuhi dahinya. Ia benar-benar kecewa sepertinya.

"Taiga, kau tampak begitu frustasi. Ada apa?" tanya seorang wanita berkacamata yang duduk di sebelahnya.

Pria yang di panggil Taiga itu menoleh sebentar sebelum akhirnya menghela nafas berat. Ia meraih gelas yang berada di depannya dan segera meneguk isinya hingga tak tersisa.

"Apakah belum ada yang menarik perhatianmu?" tanya wanita itu sekali lagi. Pria itu, Kagami Taiga selaku total produser sekaligus penyelenggara audisi Kiseki48 mengangguk pelan.

"Tidak ada yang menarik perhatianku, Alex." Ujarnya, wanita yang di panggilnya Alex itu menghela nafas. Tangannya meraih lembaran formulir yang ada di depannya.

"Nomor 280, Murasakibara Atsuko, 16 tahun." Gumamnya. Tangannya kembali mengambil beberapa lembar formulir yang bertumpuk di depannya itu. Senyumnya merekah, di letakkannya kembali formulir-formulit itu.

"Tenanglah, Taiga. Sebentar lagi, kau akan di buat terpukau oleh gadis-gadis itu."

"Apa maksudmu Alex?" tanya Kagami penasaran, "Lihat saja, kau akan segera tau maksudku."

Alex memberikan gesture untuk mempersilahkan peserta berikutnya pada staff yang ada. Dan pada menit selanjutnya, berdirilah seorang gadis dengan tinggi yang benar-benar tidak biasa untuk anak perempuan seusianya di depan Kagami dan Alex.

"Eto Murasakibara Atsuko, 16 tahun. Mohon kerjasamanya." Gadis itu, Murasakibara membungkukkan tubuhnya sejenak, sebelum akhirnya kembali berdiri tegak.

Kagami di buat takjub oleh besar tubuhnya itu, begitu pula wajahnya yang tampak cukup cantik itu. Yah, walaupun matanya yang sayu membuatnya terlihat seperti seorang pemalas. Tapi, Kagami yakin, dia punya sesuatu yang akan membuatnya menjadi idol yang sukses.

"Atsuko-san yah?" Kagami menyilangkan kakinya, dan menggosok-gosok dagunya pelan. Ia benar-benar tampak tertarik pada gadis yang satu ini.

"Jadi, kau akan bernyanyi atau semacamnya mungkin?" tanya Kagami, Murasakibara menggaruk pipinya yang tak gatal itu sebelum akhirnya menggangguk pelan.

Musik mengalun, Murasakibarapun mulai mendendangkan lirik yang sudah ia hafalkan itu. Yah, walaupun ia tak begitu yakin, apakah suaranya nyaman didengar atau tidak. Tapi setidaknya, dia sudah mencoba melakukannya.

"Vocalnya tidak begitu bagus, tapi hal itu bisa di perbaiki dengan sedikit latihan khusus. Di tambah lagi dengan bentuk fisiknya yang tidak biasa itu. Dia akan menjadi bintang yang paling terang, pasti!" batin Kagami

Alex hanya tertawa kecil melihat Kagami yang senyam senyum sendiri di sebelahnya itu. Pria itu benar-benar tertarik pada gadis yang tengah menyanyi di depan mereka itu. Tanpa mereka sadari, musik berhenti mengalun, Murasakibarapun mengakhiri nyanyiannya.

"Tidak buruk, selanjutnya!"

Murasakibara membungkuk sebentar, kemudian ia memasukkan sebutir permen ke mulutnya dan berjalan keluar ruangan audisi itu. Ia duduk di sebuah kursi yang ada di sana untuk menunggu Kuroko yang merupakan kontestan berikutnya itu.

"Peserta berikutnya!"

"Ano.."

"Peserta berikutnya! Silahkan masuk!"

"Ano..."

"Hei! Cepat panggil peserta berikutnya!"

"Ano, saya ada di sini!"

Alex begitu terkejut ketika mendapati sesosok gadis bersurai aquamarine berdiri di depannya. Bahkan Kagami yang sedang minumpun sampai tersedak.

"Se-sejak kapan ka-kau berdiri di sana?" tanya Alex terbata-bata,

"Sejak tadi," jawab gadis itu datar. Kagami menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal itu.

"Sudahlah, tolong perkenalkan dirimu."

"Kuroko Tetsura, 16 tahun. Mohon kerjasamanya."


Pagi itu, ketika Murasakibara sedang asyik mengemut permen lolinya di atap sekolah..

"Murasakibara-chaan!"

Kuroko muncul dengan sebuah senyuman lebar terukir di wajahnya. Nafanya tak beraturan, keringat tampak membasahi wajahnya.

Gadis itu berlari menghampiri Murasakibara yang duduk bersandar pada pagar yang mengelilingi atap sekolah itu. Ia meloncat dan memeluk Murasakibara erat.

"Kurochin, apa yang terjadi? Kau tidak seperti biasanya." Tanya Murasakibara. Kuroko tak menjawab, ia menenggelamkan kepalanya pada potongan leher gadis bersurai ungu itu.

"Yokatta... Yokatta.." Kuroko tak henti-hentinya megulang kalimat tersebut, membuat Murasakibara merasa penasaran atas penyebab dari tingkah laku aneh temannya yang satu ini.

"Kurochiin, jangan memelukku seperti ini!" gerutu Murasakibara. Kurokopun melepas pelukannya dengan cepat. Ia duduk di sebelah Murasakibara, kemudian menjabat tangannya.

"Omedetou ne, Murasakibara-chan!" ujarnya sambil tersenyum,

"Ada apa, Kurochin?" Kuroko menyodorkan ponselnya pada Murasakibara, menunjukkan sebuah website yang memuat hasil audisi yang mereka ikuti beberapa waktu lalu.

"Kau lolos ke audisi kedua!" Murasakibara terdiam, ia memandang Kuroko.

"Jaa, bagaimana dengan Kurochin?" tanya Murasakibara dengan nada malas yang biasa ia gunakan. Tak terlihat kebahagiaan ataupun semacamnya pada wajah maupun suara gadis itu. Ia tampak tak peduli.

"Aku..." Kuroko menggantung kalimatnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Kepalanya tertunduk, namun ia tersenyum kecil.

"Aku gagal." Permen loli yang awalnya berada di genggaman Murasakibara terjatuh begitu saja mendengar pernyataan Kuroko barusan.

Ia terlihat begitu terkejut, sangat berbeda dengan reaksi atas keberhasilannya yang begitu datar. Ia tampak lebih tertarik pada temannya yang satu itu, ketimbang dirinya sendiri.

"Gagal?" Kuroko mengangguk, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Murasakibara.

"Mungkin kau benar, tidak semua kerja keras akan di hargai." Katanya.

Murasakibara terdiam. Ia tak tau apa penyebabnya, tapi dadanya terasa sesak. Melihat Kuroko tersenyum seperti itu padanya. Menyebalkan, perasaan yang begitu menyebalkan.

Seolah dapat melihat isi pikiran Murasakibara, Kuroko kembali bersuara "Jangan di pikirkan,"

"Kurochin.."

"Kau harus lolos audisi kedua dan menjadi anggota resmi Kiseki48 ya, Atchan!"

Murasakibara kembali terdiam, untuk pertama kalinya Kuroko memanggilnya seperti itu. Senyuman tipis yang terukir di wajah Kuroko benar-benar menawan. Membuat suasana menjadi sedikit lebih ringan dari sebelumnya.

"Aku akan selalu mendukungmu, Atchan!"


Setelah itu, Murasakibara mengikuti audisi kedua yang terdiri dari 49 kontestan terpilih. Hingga akhirnya, hanya 24 oranglah yang lolos dan menjadi member Kiseki48. Perjuangan Murasakibara menjadi seorang idolpun, di mulai.

Hilang sudah hari-hari Murasakibara yang damai. Semuanya kini di isi dengan perjuangan, air mata dan keringat. Munculnya Kiseki48 tidak di sambut baik oleh masyarakat. Berbagai macam ejekan dan kritik pedas di luncurkan pada idol group yang baru saja di bentuk itu.

Setiap member harus membagikan brosur untuk mempromosikan diri mereka dan rumah mereka yang di sebut, Kiseki48 Theater. Tempat di mana melakukan pertunjukan secara rutin setiap hari. Walaupun tiket pertunjukan mereka tak pernah terjual habis dan bangku penonton tak pernah terisi penuh, semua member Kiseki48 tetap menampilkan pertunjukan terbaik mereka.

Mengerahkan seluruh hasil latihan mereka. Setiap harinya selalu begitu, hingga suatu hari..

"Aku sudah tidak tahan!"

Semua perhatian tertuju pada gadis bersurai smoke pink yang kini menangis tersedu-sedu itu, Momoi Satsuki. Ia melempar semua barang yang berada di depannya. Membuat semua orang yang ada di ruang ganti menjadi panik.

"Sudah cukup! Aku tidak tahan!" isaknya. Tangisnya menjadi-jadi, ia kini duduk memeluk lutut di pojok ruangan. Saat ini mentalnya pasti sudah berada pada batasnya. Bagaimana tidak? Setiap harinya, Momoi yang selalu menari di bagian pojok harus selalu melambaikan tangan dan tersenyum ke arah bangku penonton yang kosong. Hal ini di karenakan jumlah penonton yang selalu sadikit dan terpusat pada bagian tengah.

"Aku bukan orang gila yang selalu tersenyum pada bangku kosong!"

Salah satu member dengan kulit sedikit gelap yang memang di kenal cukup akrab dengan Momoi menghampiri gadis itu.

"Ah, ayolah, jangan menangis, Satsuki." ia mengusap-usap pelan puncak kepala Momoi.

Murasakibara yang menyaksikan kejadian itu meremas kencang kemeja yang ia kenakan saat itu. Sebagai sesama member, ia tau betul apa yang di rasakan Momoi. Rasa sakit dan lelah yang selama ini ia rasakan. Untunglah ada Himuro dan Kuroko yang selalu menyemangati Murasakibara dengan berbagai macam snack. Jika keduanya tak ada, Murasakibara mungkin sudah berhenti sejak lama.

"Satsuki, hentikan. Tangisanmu tak akan merubah apapun, dasar cengeng." Seorang gadis yang juga merupakan member Kiseki48 buka suara. Terdengar kejam, tapi memang begitulah karakter Akashi Shiina.

Momoi mengangkat kepalanya, memandang Akashi tajam. "Kau yang selalu berada di tengah tidak akan mengerti perasaanku!" balas Momoi.

Akashi menghela nafas, "Semua yang ada di sini juga merasa lelah. Jangan bertingkah seolah kau yang paling tertekan di sini! Semuanya merasakan hal yang sama!" ujar Akashi.

Satsuki diam, ia terus memandangi Akashi dengan tatapan tidak suka. Gadis berambut ikal itupun membalas tatapan Momoi dengan tatapan mengintimidasi. Membuat gadis bersurai smoke pink itu berlari meninggalkan ruang ganti.

Momoi berlari menuju ruangan di mana Kagami selaku total produser berada. Ia sudah lelah dengan semuanya. Ia ingin mengakhiri semuanya secepatnya, sebelum stressnya berkembang dan semakin parah.

"Kagami-san! Aku ingin berhenti dari Kiseki48! Aku sudah lelah!" kata Momoi,

Kagami yang tengah meneguk kopinya itu terkejut bukan kepalang atas pernyataan Momoi yang tergolong mendadak itu. Kagami benar-benar tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar itu. Padahal ia menaruh harapan besar pada idol yang kini berdiri di depannya itu.

"Kenapa Momoi-san? Kenapa?" tanya Kagami, air mata Momoi mengalir semakin deras.

"Aku sudah lelah dengan semua ini! Aku tidak bisa terus begini!"

Momoi menutup wajahnya dengan dengan kedua tangannya. Suara isak tangisnya kembali pecah, memenuhi ruangan Kagami yang awalnya sunyi senyap itu. Tumpukan lirik untuk lagu baru yang tadinya sudah berkumpul di dalam rongga kepala Kagamipun langsung buyar akibat suara tangisan Momoi yang menggelegar itu.

Kagami menghela nafas berat. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Momoi. Di raihnya tangan Momoi yang tadi menutupi wajah gadis itu.

"Apakah kau yakin?" Momoi memandang wajah Kagami yang kini menggenggam tangannya erat itu.

"Apakah kau tak bisa mempercayaiku sedikit lebih lama lagi?"


Yoosshhaaa~ Chapter 2 selesai desu~ plok plok plok~ Terimakasih atas review yang muncul sebelumnya :DD Saya sangat senang desuu~ Semoga chapter 2 ini juga dapat memuaskan para readers sekalian. Karena saya sendiri tidak yakin jika chapter yang satu ini layak untuk di publish atau tidak.

Ah, pokoknya buat yang sudah baca dan meninggalkan review, saya benar-benar berterimakasih :DD Tanpa kalian fic ini bukanlah apa-apa~ /apasih/

Last, mind to review?

Terimakasih :DD

22:40
02/05/14—RallFreecss