Ansatsu Kyoushitsu by: Yuusei Matsui.

Amaya Kuruta mempersembahkan:

UNDERWORLD MOON

Fiction ini hanya khayalan author belaka dengan meminjam Chara dari Manga ciptaan beliau diatas. Yang belum membaca atau menonton serial animenya disarankan untuk menontonnya ^^.

WARNING!

Fem!Nagisa, Assassin after Timeskip, Slight!KarmaxOkuda, Dark Fic, Penuh siksaan lahir batin, OOC, dan typo yang.. saya ga tau gimana ngilanginnya. Diikhlaskan saja ya ^^.

Bisa saja KarmaxNagisa XD.

Selamat menikmati ^^/

Chapter:2

Nagisa memasuki rumahnya. Gelap. Nagisa melangkah pelan. Sepertinya ibunya tidak ada. Mungkin sedang 'bekerja'. Tapi untuk apa Nagisa peduli? Bukankah Ibunya tak pernah benar-benar mau melihat wajahnya?

"Kau terlambat." Sebuah suara mengagetkan Nagisa. Nagisa menoleh dan mendapati ibunya yang tengah menatapnya tajam. Sepuntung rokok tersemat di bibirnya.

"Maafkan aku."

"Aku tidak peduli. Kukira kau tidak akan kembali ke rumah ini." Jawab ibunya. Nagisa tertegun. Apa ia punya kesempatan macam itu?

"Kaa-san.. apakah.. apakah aku boleh tidak kembali kerumah ini?" Tanya Nagisa. Ibunya mengangkat alis.

"Kau mau melepaskan diri dariku? setelah semua uang yang kuhamburkan untukmu?" Tanya ibunya. Nagisa menunduk dalam. Selalu itu yang jadi persoalannya.

"Hh.. baiklah. Kurasa itu bukan ide yang buruk. Tidak akan melihatmu lagi, kurasa itu hal yang menyenangkan." Perkataan itu membuat Nagisa mengangkat wajahnya. Terpana dan terkejut. Tentu bukan hal menyenangkan jika mendengarnya dari ibu kandungmu. Tapi disisi lain itu kesempatan bagus.

"Tapi ada syaratnya. Aku akan membahas itu nanti sebaiknya kau segera enyah dari hadapanku. Masuk ke dalam kamarmu dan jangan keluar jika bukan karena aku yang memanggilmu. kau mengerti?" Nagisa mengangguk.

"Um. aku mengerti."

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa melemparkan dirinya ke kasur. Rasanya melelahkan. Ia baru saja akan memejamkan matanya saat pintu kamarnya di pukul keras. Nagisa dengan segera membuka pintu kamarnya.

"Ada apa, Ka-umph." Nagisa melebarkan matanya. Di depannya bukan ibu Nagisa. didepannya berdiri dua orang lelaki yang tidak ia kenal. Satu diantaranya-yang tengah membekap Nagisa- bertubuh besar.

"Hmm~ Barang yang bagus, Hiromi! kau yakin akan memberikannya pada kami? kalau kau bawa ke tempat biasanya kau akan bisa mendapat lebih banyak lagi!" Ucap orang itu. Nagisa mengikuti arah pandang laki laki itu dan menemukan ibunya tengah menatap adegan itu tak peduli.

"Aku sedang butuh uang secepat yang aku bisa dapatkan. Karena itu aku tidak peduli." Jawaban ibunya membuat Nagisa melebarkan matanya.

"Hei.. hei.. apa kami boleh mencicipi di rumah ini?" Tanya seorang lagi.

"Hm? Ah, tentu saja. Dia sudah jadi milik kalian. Lakukan apa yang kalian mau." Jawab Hiromi seraya berjalan menjauh.

Nagisa berteriak dalam bekapan. Ia tidak menyangka ibunya akan menjualnya. Nagisa meronta saat kedua laki laki itu menyeretnya kedalam kamarnya. Nagisa semakin meronta saat dilihatnya laki laki dengan tubuh kurus mengikat tangan dan entah bagaimana membuat Nagisa menempel di tembok. Nagisa terus berteriak. Ia menangis sejadi-jadinya. Tak ada yang datang. Wajah Karma terlintas dikepalanya.

Karma..

Karma..

Karma..

"Hei. apa ini?" Tanya seorang diantara mereka sembari mengeluarkan sebuah tongkat besi dari dalam tas yang mereka bawa.

"Ah, itu untuk menandainya. Model terbaru dengan pemanas." Jawab pria berbadan besar.

"Hee bagaimana jika kita coba? Sebaiknya dimana, hm?" Pria kurus itu mulai membuka pakaian Nagisa. Nagisa mulai putus asa. kaosnya tergeletak di lantai.

"Disini sepertinya bagus." pria itu mengelus pinggang Nagisa. Nagisa menarik nafas panjang. Ia tau benda apa itu. Kedua pria itu menyeringai lebar. Tubuh Nagisa bergetar.

"Kumohon.. jangan.. jangan lakukan.. Karma-kun!"

"Nagisa-chan, ada pesan untukmu!" Ritsu muncul dari layar komputer di meja Nagisa. Kemudian matanya membelalak tak percaya. Ia tak mampu berkata apa-apa sampai akhirnya..

NYESS

"AAAAAAAAAAAA..-"

Tanpa sadar Ritsu mengacaukan daftar kontaknya. Tanpa sadar Ritsu menghubungi acak kontak yang ada dalam memorinya dengan satu teriakan penuh ketakutan.

"NAGISA-CHAAAAN!"

Ansatsu Kyoushitsu

Di tiga tempat yang berbeda, semua kepala menoleh mendengar handphonenya berteriak penuh ketakutan. Terlebih dengan menyebut nama Nagisa.

Nakamura meraih handphonenya.

"Ritsu, kau bisa membangunkan orang tu... Ritsu?" Nakamura melihat wajah Ritsu penuh dengan kengerian.

"Na..Nakamura.. san.. Nakamura san! Tolong.. Tolong Nagisa!" Tanpa diperintah, Ritsu menampilkan kejadian di ruangan Nagisa. Mata Nakamura melebar. Ia melihatnya. Nagisa.. dan dua pria.. yang sedang tertawa puas.. dengan tangan yang tak henti menikmati kulit Nagisa.

"Ritsu, minta Koro sensei segera ke rumah !" Titah Nakamura sambil meraih jaketnya.

Ansatsu Kyoushitsu

Nakamura berlari secepat yang ia bisa. Tangannya sibuk memegang handphone di telinganya

"Karma.. kau dimana?" Gumam Nakamura. Kemudian ia mengangkat alisnya saat melihat sosok yang ia kenal tengah berlari kearah yang sama dengannya.

"Isogai kun!" Teriak Nakamura. Isogai menoleh.

"Nakamura-san! Aku mendapat kabar dari Ritsu tentang Nagisa. Dia-"

"Aku sudah tau. Bagaimana dengan koro sensei?"

"Ritsu bilang sensei baru akan tiba 10 menit."

"Sudah 15 menit berlalu sejak Ritsu memanggil. Harusnya Sensei sudah disana."

"um. berdoa saja."

mereka terus berlari menaiki tangga apartemen Nagisa. kemudian tanpa berhenti keduanya membuka pintu apartemen Nagisa.

"Huh? Siapa kalian?" Nakamura menatap sosok wanita dengan rokok di mulutnya. Tangannya tengah memegang lembaran uang. Seketika Nakamura dan Isogai faham apa yang terjadi.

"Kau.. menjual Nagisa.. bukan?" Terka Nakamura.

"Huh? Oh.. itu bukan urusanmu." Jawab Hiromi. Nakamura membelalakkan matanya. kemarahan nampak jelas disana.

"Aku akan menemui Nagisa!" ujar Nakamura. Hiromi kemudian mengeluarkan senapan dari kantong bajunya.

"Tahan sebentar anak muda. Maju selangkah lagi, aku tak akan peduli dengan nasibmu." Ujar Hiromi. Isogai mengernyit. Jadi.. Nagisa mendapatkan bakat membunuh dari ibu yang berbahaya, huh? Lalu tanpa segan Isogai gesit berlari kearah Hiromi. Hiromi menembak dan berhasil dihindari oleh Isogai. Dalam satu gerakan, Isogai berhasil memukul tangan Hiromi sehingga pistol itu terjatuh.

"Dasar anak- anak tak tau di-"

"Buagh."

"Ugh.." Hiromi merasa pukulan telak di perutnya. Isogai menoleh dan mendapati Kataoka serta Okano di sampingnya.

"Kami mendapat pesan Ritsu." Ujar Kataoka.

"Dan kebetulan aku sedang bersama Megu." Timpal Okano. Isogai mengangguk dan memberi Isyarat untuk mengikat Hiromi. Setelah selesai, mereka bergegas menaiki tangga.

"Nagisa!" panggil mereka. keempat murid itu terengah. Lalu menarik nafas lega saat melihat Koro sensei sudah disana dengan tentakel melilit leher kedua pria brengsek itu.

"Koro sensei.. Nagisa.. bagaimana?" Tanya Nakamura. Koro sensei didepannya masih berwarna hitam pekat. Keempat murid itu memperhatikan sekeliling sebelum terkesiap. Nagisa.. masih menempel di dinding. Isogai membuang mukanya. Dan kedua pria di tentakel sensei mereka, mereka tau keduanya sudah tak bernyawa.

"Semuanya.. sensei yakin kalian sudah membaca situasinya.." Ujar Koro sensei.

"Sensei baru saja membunuh dua orang ini. Apa diantara kalian ada yang keberatan dengan apa yang sensei lakukan?" Pertanyaan itu mengagetkan Isogai dan yang lainnya. Setelah beberapa saat, Nakamura menggeleng.

"Aku.. Kami tidak keberatan." Koro sensei mengangguk. Warna hitam pekat memudar.

"Bisakah kalian melepaskan Nagisa-chan? Rantai yang mengikat Nagisa terbuat dari anti sensei." Ucap Koro sensei. mereka berempat nampak ragu.

"Bagaimana jika menghubungi Karasuma sensei?" Usul Kataoka.

"Akan kulakukan!" Ritsu tak menunggu persetujuan yang lain. Bagaimanapun itu terlalu mengejutkan untuknya.

"Nagisa.." Nakamura mendekati temannya yang ia tau sudah tak sadarkan diri. Kemudian ia menoleh kearah Koro sensei yang membelakangi Nagisa. Mereka semua tau.. Koro sensei sedang merasa kesal. Kesal dengan dirinya sendiri.

"Sensei.. apakah.. apakah mereka.. berhasil melakukan apa yang hendak mereka lakukan kepada Nagisa?" Tanya Isogai. Semua mata menatap Koro sensei. Kemudian perasaan lega muncul saat Koro sensei menggeleng.

"Kalau begitu, kau tak perlu semarah ini dengan dirimu sendiri, sensei. Kau.. berhasil menyelamatkan Nagisa. Aku yakin Nagisa akan sangat berterimakasih padamu." Hibur Kataoka. Koro sensei menghela nafas kemudian menoleh.

"Kalian benar-benar anak yang baik." Ujar Koro sensei sambil mengusap keempat kepala didepannya. kemudian matanya beralih ke arah Nagisa. Dalam sekejap, tubuh Nagisa berbalut selimut.

"Sensei, sebaiknya.. kita bawa Nagisa pergi dari rumah ini. Kau.. mungkin tidak tau kenapa Nagisa bisa terjebak dalam situasi seperti ini.. tapi kedua orang itu.. mereka bisa masuk kerumah ini karena ibu Nagisa." Nakamura menjeda ceritanya. Bermaksud melihat reaksi Koro sensei. Koro sensei mengangguk.

"Sensei tau. Sensei bisa mencium bau orang lain dirumah ini dan baunya sama dengan banyak barang dirumah ini. Dan sensei bisa merasakan tak ada kepanikan lain di rumah ini selain milik Nagisa. Jadi.. Sensei bermaksud untuk mengurus ibu Nagisa setelah menyelamatkan Nagisa. Tapi.. melihat kalian berempat sudah ada disini, Sensei yakin kalian sudah mengurusnya kan?" Tanya Koro sensei. Keempat muridnya mengangguk. kemudian mereka sibuk dengan pikirannya masing masing hingga akhirnya terdengar suara langkah tergesa yang menaiki tangga. Lalu sosok guru PE mereka muncul diambang pintu.

"Karasuma sensei!" Sambut mereka antusias. Karasuma menatap orang-orang didepannya datar. Lalu matanya melebar melihat Nagisa yang masih menempel di tembok kamar dengan tangan terikat rantai.

"Kami tau kau ingin banyak bertanya. Tapi sensei.. bisakah kau membebaskan Nagisa terlebih dahulu?" Pinta Isogai. Karasuma menatap murid didepannya lalu mengangguk mengerti. Jarang baginya melihat Isogai sangat merasa terganggu.

Karasuma dengan mudah melepaskan Nagisa. Nakamura dan para gadis lainnya segera menerima Nagisa. Nakamura menatap wajah Nagisa sedih.

"Baiklah, kami sudah mengemas barang milik Nagisa. Sekarang, kemana ia akan dibawa?" Tanya Isogai.

"Ke tempatku!" Nakamura tak ragu.

"Baiklah. Tapi sensei ingin kalian semua ikut dan temani Nagisa sampai ia tersadar. Saat ia sadar nanti, penting baginya untuk tau siapa saja yang mengetahui kondisinya." Pinta Koro sensei. kemudian ia menoleh kearah partner gurunya. "Termasuk kau, Karasuma Sensei." Lanjutnya.

"Aku tak keberatan. Tapi izinkan aku mengurus mereka terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menyusul ke tempat Nakamura." Jawab Karasuma. Semua orang mengangguk setuju. Lalu tanpa menunggu lagi, Koro sensei meraih murid-muridnya dan segera meninggalkan ruangan tersebut.

Ansatsu Kyoushitsu

Kamar Nakamura nampak senyap. Sudah 4 jam berlalu sejak mereka meninggalkan rumah Nagisa. Tak ada satupun diantara mereka yang berniat untuk meninggalkan Nagisa. Isogai bersikeras untuk menjaga Nagisa dan menyuruh para gadis itu untuk tidur. Karena itulah ia kini duduk di samping kasur Nakamura. Mengamati wajah Nagisa yang belum juga sadar. Sesekali tangannya meraih ponsel miliknya untuk melihat pesan. Tidak ada. Ia sudah mencoba menghubungi Karma tapi tak ada balasan darinya. meski begitu, ia tak menceritakan apa yang terjadi. Ia hanya takut Nagisa tak ingin Karma tau. Bagaimanapun, Isogai tau Karma tak akan tinggal diam jika ia tau. Lagipula dua pelaku sudah dibunuh oleh sensei mereka. Jadi Isogai tak ingin Karma nekat menyelidiki itu semua.

"Ngh.." Isogai menegakkan punggungnya mendengar lenguhan Nagisa. Kemudian ia bisa melihat mata itu terbuka perlahan. menampakkan manik azure yang menatap atap kamar dengan tatapan kosong.

"Nagisa! Syukurlah." Ucap Isogai. Nagisa menoleh. Seakan baru saja sadar jika ia tak sendirian. Ia melihat rambut hitam milik Isogai. Milik Laki-laki ikemen itu. Laki-laki? Tunggu. Laki-laki.. kemudian mata Nagisa membesar. Ia menutup mulutnya. Perutnya terasa mual. semua adegan itu terulang lagi. Seringaian kedua laki-laki itu, Tangan lancang mereka yang menelusuri perut Nagisa, dan kecupan kecupan menjijikkan di tubuhnya. lalu tobgkat besi itu. Ya! Tangan Nagisa meraba pinggangnya. Kemudian matanya melebar. Ada! luka itu! Nagisa bergetar hebat.

"Na.. Nagisa?" Isogai bermaksud menenangkan Nagisa. Nagisa menoleh horor. ia melihat Isogai dengan tatapan ketakutan.

"Pergi.. Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!" Teriak Nagisa. Sontak ketiga murid lainnya yang tengah tidur di ruangan yang sama terbangun.

"Nggh.. Isogai kun.. apa.. Nagisa!" Nakamura melompat melihat teman birunya sudah terbangun. kemudian ia terdiam melihat apa yang terjadi.

"Nagisa.."

Nagisa duduk disana, menekuk lututnya dan merapatkan tubuhnya ke tembok.

"JANGAN.. SENTUH.. AKU.." Ucapnya. Kemudian ia menoleh kekanan dan kekiri dengan nafas terengah.

"Karma.. Karma kun.. dimana? Tolong aku.. Karma-kun.."

"Sensei kembali! Ba- ah.. kau sudah sadar, Nagisa chan?" Koro sensei yang baru tiba mencoba mengajak Nagisa bicara. Nagisa diam sejenak melihat makhluk aneh didepannya. Seakan ia lupa siapa makhluk itu. Kemudian ia tersentak dan dengan tergopoh ia meninggalkab kasurnya. Ia maju dan dengan penuh rasa takut memeluk Koro sensei.

"Sensei.. sensei.. syukurlah.. sensei.. tolong aku.. sensei.." Bisik Nagisa. Suaranya bergetar. Koro sensei mengelus kepala Nagisa lembut.

"Tenanglah, Nagisa chan.. semua baik-baik saja.. Semua akan baik- baik saja.. Sensei sudah me-"

"Tapi mereka masih disini.. sensei.. kumohon.." Nagisa memotong pembicaraan. Koro sensei tersenyum lembut.

"Tidak Nagisa chan.. lihatlah." Koro sensei memutar tubuh Nagisa " Mereka hanya teman-temanmu. Lihatlah.. di ruangan ini hanya ada sensei, Nakamura san, Kataoka san, Okano san, dan Isogai kun." Jelas Koro sensei.

Nagisa masih menatap teman-temannya tak sadar. Tatapannya penuh ketakutan.

"Nagisa.. ini kami.." panggil Kataoka. Nagisa mengernyitkan matanya. Perlahan otaknya mulai bekerja dengan baik. Ia bisa melihat apa yang dikatakan senseinya benar. Kemudian Bahunya melemas. Ketegangan itu hilang. dan Air mata itu kini mengalir deras dipipinya. semuanya terdiam. Hanya ada isak tangis Nagisa dan tatapan-tatapan prihatin bercampur kemarahan yang menyertainya.

Ansatsu Kyoushitsu

"Merasa lebih baik?" Tanya Koro Sensei pelan. Nagisa mengangguk. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap teman-temannya.

"Terimakasih karena sudah menyelamatkanku." Ujarnya tulus. Semua diruangan itu tersenyum.

"Tak perlu berterimakasih, Nagisa. Kami senang kau baik-baik saja." Jawab Isogai. Nagisa kembali tersenyum. Sejujurnya ia tidak tau. Apa benar ia baik- baik saja? Ia tidak benar-benar ingat apa yang terjadi setelah besi panas itu menyentuh pinggangnya. Tanpa disadari air mata kembali mengalir dipipinya.

"Nagisa.." Gumam teman-temannya prihatin. Nagisa dengan segera menghapus air matanya dan berusaha tersenyum. Tapi semua usahanya sia-sia.

"Maafkan aku. Aku hanya.. aku tidak tau. Maksudku.. apa aku benar-benar baik-baik saja? aku.."

"Tentu saja kau baik-baik saja Nagisa." Potong Koro sensei. Nagisa menatap guru guritanya sendu.

"Kalau yang kau maksud apakah para lelaki kurang ajar itu berhasil menyentuhmu lebih dari yang kau ingat, maka jawabannya adalah tidak. Karena itu.. sensei jamin kau baik-baik saja, Nagisa." Koro sensei kini mengusap lembut kepala Nagisa. Nagisa merasa tenang.

"Um. Terimakasih, sensei." Ucap Nagisa lagi. Koro sensei tersenyum lembut. Semua di ruangan itu tersenyum lembut.

"Mm.. Nagisa, aku hanya ingin tau.. apakah kau ingin kami memanggil Karma-kun untukmu? Kami sudah mencoba menghubunginya. Dan.."

"Apa kau mengatakan semuanya pada Karma-kun?" Potong Nagisa.

"Belum. Kami tidak bisa menghubunginya." Jawab Isogai.

Nagisa menatap selimut di kakinya. Karma, ya? Entahlah. Nagisa tidak yakin ia akan peduli dengan kejadian ini. Lagipula, ia pasti sedang sibuk dengan Okuda kan? Nagisa menghela nafasnya kemudian menggeleng.

"Tidak perlu. dan.. aku tidak ingin satu orangpun tau tentang kejadian ini selain kalian. Termasuk Karma-kun." Jawab Nagisa tegas.

"Tapi Nagisa, Karma.."

"Nagisa sudah berkata seperti itu. Ayo kita ikuti kemauannya. Kalian keberatan?" Tanya Koro sensei. mereka saling memandang sesaat sebelum akhirnya menggeleng.

"Kalau kau bilang seperti itu, Nagisa." Jawab teman-temannya. Nagisa mengangguk.

" Nah, sebaiknya kalian semua istirahat. Besok masih harus sekolah." Ucap Koro sensei. Kemudian ia menoleh kearah Nagisa. "Kau bisa istirahat dulu untuk besok, Nagisa." Lanjutnya. Nagisa terdiam sebentar sebelum akhirnya menggeleng.

"Aku akan pergi ke sekolah besok." Jawab Nagisa. Koro sensei mengangguk. Kemudian ia pergi dari kamar Nakamura setelah sebelumnya merangkul Isogai, Kataoka dan Okano untuk mengantar mereka pulang.

Tbc

Maafkan atas lamanya update :D

Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca fic ini ^^

untuk review, karena ini upload dari hp jadi sepertinya akan saya jawab via pm saja ya :)

Kritik, saran, pesan, dan sejenisnya diterima dengan tangan terbuka. mau ngobrol juga boleh (?)

Sekali lagi terimakasih ^^

yours,

Amaya