THE NANNY ; KAACHAN?

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

PAIRING : SASUNARU

GENRE : FAMILY/ ROMANCE

RATE : T

WARNING : BOY X BOY, my first BL fict,lil bit straight, Ide pasaran, TYPO(S), GAJE-ness, OOC-ness, DLL

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

HAPPY READING

.

.

" Apakah kakak yang cantik itu Kaachan untuk Sara?"

Dua Uchiha dewasa yang berada di ruangan itu langsung memusatkan perhatian mereka kepada satu-satunya gadis kecil yang juga bermarga Uchiha. Sementara gadis kecil yang dipandangi oleh ke dua keluarganya itu hanya menampilkan cengiran khas anak kecil.

" Kakak yang cantik itu, Kaachan untuk Sara kan Touchan?" masih dengan senyum yang mengembang diwajah cantik khas anak kecilnya, Sarada kembali bertanya kepada sang ayah yang masih terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun. Terlalu syok mungkin dengan pertanyaan polos dari puterinya itu.

" Ehh?"sementara pemuda manis yang duduk diseberang keluarga Uchiha itu hanya bisa memasang wajah bodohnya. Karena otaknya saat ini masih memproses setiap kata yang keluar dari bibir mungil gadis kecil dihadapannya. Terlebih lagi saat Jari telunjuk mungil gadis kecil itu menunjuk kearahnya. Membuatnya harus kembali berpikir keras apa yang sedang terjadi saat ini.

Cantik? Kaachan? Dan telunjuk yang mengarah kepadanya? Apa maksud dari semua itu? Ia sendiri tidak tahu hal buruk apalagi yang akan menimpanya. Sempat terpikir oleh pemuda manis itu jika sejak awal ia sudah salah melamar pekerjaan ke tempat ini. Kenapa juga ia harus terlibat dengan para Uchiha yang merepotkan seperti ini? Jika saja ia tidak membutuhkan pekerjaan ini, mungkin sudah sejak tadi ia lari dari apartement mewah ini.

" Bukan sayang, kakak yang manis itu sedang melamar pekerjaan disini." Nyonya uchiha adalah orang pertama yang tersadar dari rasa terkejut atas pertanyaan polos cucunya itu. Sekaligus menyadarkan kembali kedua pria yang berada diruangan itu dari keterkejutan yang sama.

Kedua pria itu pun menoleh kearah wanita paruh baya tersebut dan menatap nyonya Uchiha itu dengan tatapan yang berbeda. Sasuke yang menatap ibunya dengan tatapan terima kasih karena sudah membantunya memberi penjelasan kepada puterinya. Dan Naruto yang menatap nyonya Uchiha dengan kernyitan didahinya karena panggilan yang diberikan wanita paruh baya itu kepadanya.

Apa tadi katanya? Kakak yang manis? Setelah tadi mengatakan dirinya cantik sekarang wanita paruh baya itu mengatakan dirinya manis. Entah sebutan apalagi yang akan diberikan nyonya Uchiha itu kepadanya nanti. Naruto sendiri tidak tahu jika melamar pekerjaan seperti ini saja akan sangat melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Ingin rasanya ia berteriak kepada ketiga Uchiha dihadapannya ini bahwa ia adalah seorang laki-laki dan berhenti memanggilnya nona, cantik,manis dan terlebih lagi Kaachan. Apa-apaan itu dengan semua panggilan yang diberikan para Uchiha dihadapannya ini? Mendengarnya saja sudah membuatnya sangat kesal tapi ia hanya bisa menyimpan semua kekesalannya itu didalam hatinya saja demi kelancarannya mendapatkan pekerjaan ini. Ia sudah datang sejauh ini dan tidak akan mundur lagi demi mendapatkan pekerjaan ini.

" Tapi.. Sara ingin kakak yang cantik itu menjadi Kaachan Sara." Naruto mengalihkan perhatiannya kepada satu-satunya gadis kecil yang masih duduk dipangkuan ayahnya. Begitu pula kedua Uchiha dewasa yang kembali memusatkan perhatiannya kepada gadis kecil berkacamata yang tengah menundukkan kepalanya.

Naruto dapat melihat dengan jelas tatapan sendu dari dua Uchiha dewasa itu. Naruto sendiri tidak tahu apa arti dari tatapan sendu yang mereka layangkan pada gadis kecil itu. Naruto menatap ketiga Uchiha dihadapannya bergantian. Mulai dari nyonya Uchiha yang menatap cucunya dengan tatapan sendu dan gurat kesedihan terlihat jelas diwajah cantiknya meskipun usianya yang tidak muda lagi. Kemudian menatap Sasuke yang yang juga mengeluarkan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan ibunya. Entah kenapa Naruto merasa tidak nyaman melihat ekspresi terluka di wajah pria itu.

Naruto menurunkan pandangannya dan menatap gadis kecil yang masih menundukkan kepalanya. Gadis itu pasti pasti merasa kecewa saat ini. Sebenarnya ia ingin berbicara dan menghibur gadis kecil itu. Tapi semuanya kembali tertelan ditenggorokannya saat ia menyadari posisi dirinya saat ini yang tak lain hanya lah orang asing. Dan ia tidak berhak ikut campur dalam masalah keluarga mereka.

" Ano.. bagaimana denganku? Apakah aku diterima bekerja atau tidak?" Naruto hanya mampu merutuki dirinya sendiri saat sederet kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tidakkah mulutnya itu sadar akan situasi dan kondisi saat ini. Bagaimana jika mereka menganggap dirinya lancang? Sudah bisa dipastikan kesempatannya untuk mendapatkan pekerjaan itu melayang begitu saja. Batinnya mengerang frustrasi.

Sementara yang menjadi objek dalam pikiran Naruto itu langsung menoleh kearah Naruto. Menatap pemuda manis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Naruto semakin gugup dan gelisah. Apakah ia sudah salah bicara? Pikirnya.

" Tentu saja kau diterima bekerja disini. Benarkan Sasuke-kun?" Mikoto menjawab sambil tersenyum penuh arti kearah puteranya. Sasuke balas menatap ibunya dengan kernyitan didahinya. Ibunya sudah mengambil sebuah keputusan tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu. Ia ingin protes tentang hal itu kepada ibunya sebelum niatnya surut saat melihat tatapan ibunya yang serius itu. Sasuke pun hanya menghela napas pelan dan kemudian memfokuskan tatapannya pada pemuda blonde dihadapannya.

" Baiklah kau diterima dan bisa mulai bekerja besok pagi. Jam 7 pagi kau sudah harus berada disini untuk mempersiapkan semua keperluan Sarada." Ujar Sasuke sekaligus menjelaskan pekerjaan yang harus Naruto lakukan. Mendengar hal itu Naruto pun tersenyum cerah dan mengulurkan tangannya kearah Sasuke yang disambut baik oleh Sasuke sehingga mereka kini saling berjabatan tangan.

" Arigatou Gozaimasu Uchiha-san. Saya berjanji akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan anda." Ujar Naruto masih dengan senyum diwajahnya sambil menjabat tangan Sasuke yang hanya dibalas gumaman " Hn" khas seorang Uchiha Sasuke. Naruto pun beranjak dari sofa yang didudukinya dan membungkuk hormat kearah Ibu dan anak dihadapannya hendak berpamitan pulang.

" Kalau begitu saya pamit untuk pulang dan akan kembali besok pagi sesuai dengan yang anda katakan." Naruto menegakkan kembali tubuhnya dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu sebelum ia merasakan ujung kemeja yang ditarik dan sebuah suara yang sangat lirih memanggilnya.

" Kaachan.." Naruto menunduk dan mendapati seorang gadis kecil bersurai raven yang tengah menatapnya dengan sepasang onyx yang berlinangan airmata. Naruto menghela napas pelan saat mendengar panggilan dari gadis kecil itu untuknya.

Pemuda berusia 18 tahun itupun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis kecil bermarga Uchiha itu. Menunjukkan senyumannya untuk menenangkan gadis kecil yang ia yakini sedang menahan tangisnya.

" Kita belum berkenalan kan?" Senyuman manis masih terukir diwajah manis pemuda itu. Kedua tangannya memegang bahu kecil Sarada dengan lembut. Gadis kecil itu mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan pemuda manis yang dipanggilnya 'Kaachan' itu.

" Nama kakak Uzumaki Naruto dan panggil saja kakak dengan Naru-nii. Boleh Naru-nii tahu nama gadis manis seperti mu?" Senyuman diwajah manis Naruto seolah enggan untuk pergi dari wajah manisnya.

" Uchiha Sarada desu, Kaachan." Sahut Sarada dengan antusias dan juga senyuman yang menghiasi wajahnya. Naruto hanya meringis saat mendengar panggilan yang diberikan gadis kecil itu kepadanya. Kenapa gadis itu masih memanggilnya kaachan? Naruto yakin jika ia sudah memperkenalkan dirinya dengan baik dan benar. Ia juga bahkan sudah meminta gadis itu untuk memanggilnya dengan 'Naru-nii' tapi Sarada tetap saja memanggilnya 'Kaachan'.

Sementara itu, dua Uchiha dewasa yang berada didalam ruangan yang sama, hanya memandang interaksi pemuda manis dan gadis kecil itu dalam diam. Mereka bahkan sempat terkejut melihat putri dan cucunya tersenyum lepas dihadapan pemuda yang baru saja ditemuinya. Padahal biasanya gadis kecil mereka itu sangat sulit bersosialisasi dengan orang yang baru ditemuinya. Sarada lebih cenderung menjadi anak pendiam saat ada orang asing didekatnya. Tapi saat ini gadis itu tengah tersenyum dan membalas setiap pertanyaan dari pemuda yang akan menjadi pengasuhnya itu dengan antusias. Seolah-olah pemuda itu bukan orang asing baginya. Terlebih lagi panggilan yang diberikan gadis kecil itu kepada Naruto membuat mereka terdiam membatu.

" Err.. Sara-chan. Lebih baik memanggil kakak dengan Naru-nii saja ne?" Pinta Naruto dengan senyum canggungnya.

" Tidak mau,, Sara mau memanggil kakak Kaachan saja." Naruto kembali meringis saat mendapatkan penolakan dari gadis kecil itu. Terlebih lagi gadis kecil itu memasang ekspresi cemberutnya membuat Naruto gemas ingin mencubit pipi gembilnya tapi ia tahan. Pemuda itupun mengalihkan perhatiannya kepada dua Uchiha lainnya yang masih terdiam ditempatnya. Menatap dua orang itu dengan tatapan meminta bantuan. Tidak mungkin kan jika ia dipanggil Kaachan oleh Sarada? Bagaimanapun ia itu laki-laki.

Uchiha Mikoto hanya meringis saat mendapatkan tatapan seperti itu dari Naruto. Sementara Sasuke hanya memasang wajah datar andalannya. Naruto yang melihat tatapan datar dari Sasuke pun hanya mampu mengumpat dalam hati. Sebenarnya apa sih yang Sasuke-teme itu pikirkan? Kenapa pria itu diam saja dan tidak membantunya? Apa pria itu tidak keberatan jika puterinya memanggil dirinya kaachan?

Mikoto kemudian menghela napas panjang. Tidak tega juga dia melihat pemuda manis itu yang masih melayangkan tatapan memohon kearah puteranya dan diabaikan begitu saja oleh Sasuke. Mikoto bisa melihat kalau pemuda itu seperti ingin menangis.

" Kaachan, sekarang temani Sara bermain ne?" Mikoto kembali menutup mulutnya saat mendengar cucunya berujar dengan riang kearah Naruto.

" Ta-tapi Sara-chan?" Naruto tidak tahu harus berbuat apa saat gadis kecil dihadapannya ini mulai menarik tangannya. Ia bisa saja melepaskan pegangan Sarada dari tangannya tapi ia tidak tega melakukannya. Terlebih lagi saat melihat wajah ceria gadis kecil itu dan ia juga tidak ingin membuat gadis kecil itu kecewa seperti tadi. Naruto pun kembali menatap dua Uchiha dewasa dihadapannya.

" Tidak apa-apa Naru-chan. Kau temani saja Sarada bermain ne." Ujar Mikoto dengan senyuman diwajahnya. Naruto pun mengangguk pelan kearah wanita paruh baya itu. Melirik kearah Sasuke sebentar sebelum lengannya kembali ditarik oleh Sarada. Naruto pun melangkahkan kakinya mengikuti gadis kecil yang masih menarik lengannya itu meninggalkan kedua Uchiha yang masih duduk ditempatnya.

Uchiha Mikoto dan Sasuke menatap kepergian mereka dalam diam. Hingga mereka benar-benar hilang dari pandangan, saat gadis kecil dan pengasuhnya menaiki tangga yang menuju kamar puteri dan cucu mereka.

" Sepertinya Sarada sangat menyukai pemuda itu." Hanya sebuah helaan napas dari sang putera bungsu yang didapatkan oleh Mikoto atas perkataannya barusan.

" Bukankah bagus jika Sarada menyukai pengasuhnya itu? Kau bisa tenang karena tidak harus mengganti pengasuh seminggu sekali." Tambahnya sambil meringis saat mengingat kembali para pengasuh Sarada sebelumnya. Cucunya itu sangat pemilih dengan siapa saja orang-orang yang boleh dekat dengannya. Dan jika ia tidak suka maka ia akan langsung mengutarakannya dan Sasuke sebagai ayahnya selalu menuruti keinginan anaknya itu. Sebenarnya sifat Sarada tidak jauh berbeda dengan sifat ayahnya. Pemilih dalam bergaul dan sulit menerima orang baru disekitarnya. Pendiam dan lebih suka menyendiri.

" Entahlah Kaasan." Sahut Sasuke menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kemudian menutup kedua matanya dengan lengan kanannya.

" Kau juga harus memikirkan dirimu Sasuke-kun. Sampai kapan kau akan terus seperti? Kau memerlukan seseorang yang bisa mengurus dirimu dan Sarada. Apakah tidak ada seseorang yang menarik perhatianmu?" Ujar Mikoto menatap puteranya dengan antusias saat mengucapkan kalimat terakhir. Sasuke menjauhkan lengannya yang tadi menutup matanya. Membuka kelopak matanya yang menyembunyikan sepasang permata onyx. Balas menatap sang ibu dengan tatapan bosan.

" Tidak ada." Sahut Sasuke dengan wajah dan nada yang sama datarnya. Mikoto hanya menghela napas saat mendengar jawaban dari puteranya. Sasuke melihat jam yang melingkar ditangannya sebelum kembali bersuara.

" Aku masih ada urusan yang belum selesai Kaasan." Sasuke kemudian beranjak dari sofa yang didudukinya." Kaasan.." Serunya menoleh kearah sang ibu. Sang ibu yang dipanggil pun mendongak menatap puteranya yang sedang berdiri di samping sofa yang didudukinya.

" Tolong awasi anak itu selama aku pergi." Pintanya kepada sang ibu yang dibalas oleh senyuman lembut khas seorang ibu.

" Kau tidak perlu khawatir Sasuke-kun. Kaasan akan mengurus semuanya untukmu." Sahut sang ibu dengan senyuman penuh arti.

Mikoto masih memasang senyumnya saat Sasuke mulai melangkahkan kakinya keluar dari apartemen. Setelah sang anak benar-benar menghilang dari pandangannya, senyum diwajah Mikoto semakin merekah hingga matanya menyipit.

" Kaasan akan mencarikan istri untukmu dan ibu untuk Sara-chan." Gumam Mikoto masih mempertahankan senyum penuh arti diwajahnya.

Wanita paruh baya itupun beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu apartement puteranya. Melangkahkan kakinya mendekati tangga dan kemudian menaiki anak tangga tersebut dengan langkah anggun menuju lantai dua. Dimana kamar putera dan cucunya berada. Langkahnya terhenti disebuah pintu ruangan yang terbuka.

Sepasang Onyx teduhnya menatap kedalam ruangan yang merupakan kamar cucunya itu. Tatapannya menghangat saat melihat pemandangan didalam kamar cucunya itu. Senyum lembut merekah diwajah nyonya Uchiha itu saat melihat dua orang yang saling bercengkerama di dalam kamar cucunya. Terlebih lagi saat melihat senyum dan tawa lepas dari cucu semata wayangnya itu.

" Sepertinya kalian sedang asyik bermain ne?" wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Dua orang yang sedang bercengkerama itu pun menolehkan kepala mereka kearah suara lembut itu berasal.

" BAACHAN!" Sarada yang sedang duduk diatas ranjangnya pun langsung melompat turun dan berlari menghampiri neneknya dan menghamburkan dirinya kedalam pelukan sang nenek. Mikoto hanya tersenyum sambil memeluk cucu kesayangannya itu. Naruto yang tadi duduk di tepi tempat tidur Sarada pun turun dan kemudian berdiri disamping tempat tidur. Membungkuk hormat kearah wanita paruh baya itu dan dibalas senyum lembut dari Mikoto.

" Apakah ada yang bisa saya bantu Uchiha-san?" tawar Naruto kepada Mikoto. Ia pikir wanita paruh baya itu memerlukan bantuannya.

" Kau tidak perlu se formal itu kepada Basan Naru-chan." Mikoto berjalan mendekati Naruto dengan Sarada yang berjalan disampingnya.

" Kau sendiri tahu semua penghuni apartement ini adalah Uchiha. Jadi panggil saja bibi Basan ne?" lanjutnya setelah berdiri berhadapan dengan pemuda manis itu.

" Ha'i Basan." Menganggukkan kepalanya, pemuda manis itupun menyanggupi perkataan Mikoto. Sarada langsung saja memeluk kaki pemuda manis itu membuat Naruto meringis menerima perlakuan gadis kecil itu. Tangan tannya pun bergerak mengelus surai raven gadis kecil itu membuat Sarada tersenyum senang diperlakukan seperti itu. Nyonya Uchiha yang melihat hal itu juga ikut tersenyum kearah mereka.

' Benar-benar seperti ibu dan anak' batin Mikoto tersenyum haru.

" Jadi, apa Basan membutuhkan bantuan Naru ?" Tanya Naruto lagi. Mikoto mengangguk pelan sebelum kembali mengeluarkan suaranya.

" Basan harus segera pulang ke rumah utama, jadi bisakah Naru-chan membantu basan menjaga Sara-chan hingga Sasuke pulang?" sahut Mikoto yang kemudian meminta bantuan kepada pemuda manis itu.

" Tapi,, apa tidak apa-apa Basan meninggalkan Naru dengan Sarada berdua di apartemen ini? Tidak kah Basan mencurigaiku akan melakukan hal buruk kepada Sarada? Bagaimana kalau aku bukan orang baik?" Mikoto hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dari pemuda manis dihadapannya. Sepertinya pemuda manis itu sudah berpikir terlalu jauh tentang dirinya.

" Basan percaya kau anak yang baik Naru-chan. Dan kau bukan orang yang akan melakukan semua hal itu." Tangan wanita paruh baya itu berada dipundak Naruto. Menatap Naruto dengan tatapan lembut dan hangat khas seorang ibu. Membuat Naruto merasa nyaman dan hangat. Semua pikiran negatif yang sempat melintas dipikirannya pun lenyap tak berbekas. Setidaknya, dua wanita yang berada didekatnya ini mau menerima dirinya dan percaya kepadanya. Sementara untuk Uchiha Sasuke ia masih ragu jika pria itu sudah mempercayai dirinya untuk menjaga puterinya.

" Kalau begitu, Basan pulang dulu ne." Ujar Mikoto kemudian berjongkok untuk melihat sang cucu." Nee Sara-chan. Baachan harus pulang, Sara-chan harus baik-baik dengan Naru-nii ne." Lanjutnya menasihati sang cucu. Sarada mengangguk semangat dan tersenyum kearah neneknya.

" Baiklah sepertinya Basan harus segera pergi." Mikoto berdiri dan menatap Naruto dengan senyum diwajahnya.

" Biar kami antar hingga keluar." Tawar Naruto.

" Tidak perlu, kalian lanjutkan saja bermainnya." Sahut Mikoto mengibaskan tangannya dan kemudian berbalik melangkah pergi.

" Jaa ne Baachan." Sarada berseru riang sambil melambaikan tangannya kearah sang nenek yang juga membalas melambaikan tangan kearah cucunya hingga menghilang dari balik pintu dan meninggalkan Naruto dan Sarada diruangan itu.

" Nee Sara-chan." Seru Naruto memanggil Sarada yang masih setia menatap pintu kamarnya. Gadis kecil itu pun mendongak menatap Naruto dengan sepasang onyx bulat yang besar." Mau melanjutkan bermain lagi?" Tanya Naruto dengan senyum diwajahnya. Sarada yang melihatnya pun ikut tersenyum kearah Naruto.

" Ne Kaachan." Serunya riang kemudian menaiki ranjangnya dan kembali memainkan beberapa boneka yang tergeletak diatas tempat tidurnya itu. Naruto hanya meringis melihatnya, belum terbiasa dengan panggilan yang gadis kecil itu tujukan kepadanya. Ia pun kemudian mendudukan dirinya ditepi tempat tidur mengamati gadis kecil itu memainkan bonekanya. Sesekali menanggapi setiap gadis kecil itu mengajaknya bermain. Tersenyum tulus saat melihat wajah ceria Sarada.

" Nee Sara-chan." Serunya meminta atensi dari gadis kecil yang masih asyik bermain dengan mainannya. Sarada hanya bergumam tanpa menoleh kearah Naruto sebagai jawaban.

" Kenapa Sara-chan memanggil Naru-nii Kaachan dan bukan Naru-nii saja?" Tanya pemuda manis itu tanpa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Sarada menoleh dan menatap Naruto dengan sepasang onyx bulatnya yang polos.

" Karena kakak cantik. Sara selalu ingin punya Kaachan yang cantik seperti kakak." Jawab Sarada dengan senyum sumringah dan wajah polosnya. Sementara Naruto yang mendengarnya hanya mampu memasang senyum canggungnya. Tidak menyangka jika gadis kecil itu akan menjawab pertanyaannya dengan jawaban seperti itu. Dan sampai kapan ia akan terus dipuji cantik seperti itu? Batinnya frustrasi.

" Err.. Sara-chan. Tapi Naru-nii ini laki-laki dan Naru-nii ini tampan bukannya cantik." Berusaha melembutkan nadanya sambil berharap gadis kecil itu akan mengerti kali ini. Sarada menelengkan kepalanya menatap lekat pemuda manis dihadapannya.

"Tapi kakak cantik, dan Sara suka memanggil kakak Kaachan." Naruto hanya mampu menghela napas lelah. Sudah lah. Sekarang ia hanya perlu membiasakan dirinya dengan panggilan itu. Lagipula, asalkan gadis kecil itu bahagia bukankah itu sudah cukup baginya.

Naruto pun kembali menemani Sarada bermain tanpa bertanya apapun lagi mengenai panggilan barunya itu. Sesekali ia menanggapi dan menjawab pertanyaan Sarada mengenai dirinya. Senyum dan tawa juga ikut menghiasi kebersamaan mereka.

.

The Nanny

.

Naruto menatap jam yang berada diatas dinding. Kemudian menatap kembali meja makan yang sudah dipenuhi beberapa jenis masakan yang baru saja ia buat. Sebentar lagi waktunya jam makan malam dan Naruto sudah memasakkan makan malam untuk Sasuke dan Sarada.

Menghela napas panjang dan kemudian mendudukkan dirinya dikursi meja makan. Menatap kembali masakan yang masih mengepulkan asap karena belum lama ia membuatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam dan Sasuke belum juga pulang. Sementara Sarada sedang tertidur karena terlalu lelah bermain. Dan sekarang ia sendiri disini tanpa tahu harus berbuat apa.

Bosan menunggu dan tidak melakukan apapun membuat pemuda manis itu memutuskan untuk berkeliling dan melihat-lihat apartement ini. Melihat betapa mewahnya apartement yang memiliki 4 kamar dengan setiap kamar yang memiliki kamar mandi sendiri. Ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan memiliki ukuran yang luas. Design minimalis membuat apartemen mewah ini terlihat elegan.

Iris sapphire Naruto menatap setiap pigura yang terdapat didinding yang terdiri dari beberapa lukisan dan foto keluarga. Foto Sarada lebih mendominasi dibandingkan yang lainnya. Naruto berjalan mendekati sebuah figura besar yang berada diruang keluarga. Sebuah foto keluarga yang terdiri atas 5 orang. Tiga orang pria dan dua orang wanita yang salah satunya seorang gadis kecil yang ia ketahui sebagai Sarada. Wanita yang satunya lagi juga ia mengenalnya sebagai nenek Sarada yaitu Mikoto yang sedang duduk disamping seorang pria paruh baya dan Sarada duduk dipangkuan pria paruh baya yang Naruto yakini sebagai kakek Sarada. Disamping kanan tepatnya disamping Mikoto berdiri Sasuke yang merupakan ayah Sarada. Dan disamping kepala keluarga Uchiha berdiri seorang pria yang hampir serupa dengan Sasuke namun memiliki rambut panjang yang diikat rendah. Diwajahnya juga terdapat sebuah garis yang menyerupai keriput, Naruto nyaris tertawa melihat pria yang sepertinya masih muda itu tapi sudah memiliki keriput. Tapi tunggu dulu! Sepertinya wajah pria itu cukup familiar.

" Ahh, Bukankah dia itu aktor terkenal?" Gumam Naruto bermonolog seorang diri.

Naruto kembali memperhatikan foto keluarga Uchiha itu." Sepertinya ada yang kurang?" Gumam Naruto lirih menatap lekat photo berukuran besar itu. Kemudian ia pun melihat kembali beberapa figura yang terpajang diatas bufet televisi. Benar. Disetiap foto yang terpajang tidak ada potret ibu Sarada. Semua foto yang ada disini hanya foto Sasuke dan Sarada ataupun keluarga Uchiha yang lainnya. Sebenarnya kemana foto-foto yang memuat potret ibu Sarada? Apakah karena hal itu Sarada sampai memanggilnya Kaachan? Gadis kecil itu pasti tidak tahu seperti apa wajah ibunya. Bahkan Sarada tidak pernah mengungkit soal ibunya saat mereka bermain sambil mengobrol untuk mengakrabkan diri tadi.

" Pantas saja." Lirih Naruto menatap sendu sebuah figura kecil yang memasang potret gadis kecil bersurai raven dan beriris onyx yang dibingkai oleh sebuah kacamata.

" Apa yang sedang kau lakukan disini?" Sebuah suara bariton menyapa pendengarannya. Naruto langsung membalikkan tubuhnya dan mendapati sepasang onyx yang sedang menatap tajam kearahnya.

" Anda sudah pulang? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk anda dan Sara-chan." bukannya menjawab Naruto balik bertanya kepada pria yang tidak lain adalah Uchiha Sasuke.

" Hn. Dimana Sarada?" Ayah dari Uchiha Sarada itu kemudian berjalan dan duduk di sofa yang berada dihadapan Naruto. Sementara pemuda manis itu masih berdiri ditempatnya.

" Sarada sedang tertidur dikamarnya, sepertinya ia terlalu lelah bermain." Jawab Naruto dengan nada yang terdengar antusias saat mengatakan kalimat terakhir. Naruto mengingat kembali saat-saat dirinya menemani Sarada bermain dan itu adalah saat-saat yang menyenangkan. Mengingat itu membuat Naruto tidak dapat menahan bibirnya untuk melengkungkan sebuah senyuman. Sasuke sempat tertegun sejenak saat melihat senyum diwajah manis Naruto sebelum berdeham pelan untuk kembali bersuara.

" Lalu. Dimana Kaasan?" Tanya Sasuke lagi karena merasa sedikit heran melihat apartemen-nya yang sepi. Dan setahunya ia meminta sang ibu tetap berada diapartemennya ini untuk mengawasi pengasuh puterinya yang baru. Tapi yang ia dapati saat kembali ke apartemennya hanya pemuda manis saja.

" Basan pulang ke rumah utama tidak lama setelah anda pergi Uchiha-san." Jawab Naruto

" Basan?" Sebelah alisnya terangkat saat pemuda manis dihadapannya memanggil sang ibu dengan sebutan 'Basan'. Sedekat itukah mereka? Pikirnya.

" Ah, maksudku Mikoto -san. Uchiha-san." Sahut Naruto meralat panggilannya terhadap ibu dari pria yang duduk dihadapannya.

" Lalu kenapa kau masih berada disini?" Naruto merasa dirinya seperti seorang penjahat yang sedang diinterogasi oleh polisi. Karena sejak tadi, duda dengan satu puteri ini terus saja memberinya pertanyaan.

" Saya menunggu anda pulang Uchiha-san, karena saya tidak mungkin meninggalkan Sarada sendiri di apartement. Dan karena anda sudah pulang maka saya juga pamit untuk pulang." Jawabnya dan hendak berjalan keluar apartemen saat mendapatkan anggukan kepala dari Sasuke.

" Kaachan mau kemana?" Langkah yang baru berjumlah tiga itupun terhenti saat mendengar sebuah suara khas anak kecil yang ia kenal tertangkap telinganya.

Membalikkan tubuhnya kearah suara itu berasal dan mendapati seorang gadis kecil yang tidak lain Sarada berjalan menuruni tangga terakhir. Wajahnya terlihat kuyu khas orang yang baru bangun tidur. Gadis kecil itu bahkan sesekali menggosok matanya yang masih terasa berat karena baru bangun tidur. Kacamata yang sering digunakannya pun sudah ditanggalkannya dan sepertinya gadis kecil itu langsung turun dari kamarnya tanpa mengenakan kembali kacamatanya.

" Kau sudah bangun Sara-chan?" Sang ayah yang sejak tadi duduk di sofa pun kini sudah beranjak dan mendekati sang puteri yang masih berdiri dibawah tangga. Sarada menoleh kearah Sasuke yang sedang berjalan kearahnya.

" Touchan." Serunya yang disambut oleh sang ayah yang langsung meraup tubuh kecil puterinya kedalam gendongannya. Mencium kedua pipi puteri kecilnya seolah sedang melampiaskan rindunya. Sarada hanya tersenyum menerima perlakuan seperti itu dari sang ayah.

" Kalau begitu saya permisi." Naruto kembali membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang keluarga itu. Sarada yang melihatnya langsung menggeliat dari gendongan ayahnya meminta untuk diturunkan.

" KAACHAN!" teriak Sarada sambil berlari kearah Naruto yang sudah keluar ruangan itu. Naruto baru saja hendak mengenakan sepatunya namun gerakannya terhenti saat merasakan beban dikakinya. Naruto menunduk dan melihat Sarada yang tengah memeluk kaki kanannya dengan onyx yang sudah berlinangan airmata.

" Kaachan mau kemana?" Tanya Sarada dengan suara yang bergetar hendak menangis. Naruto pun kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sarada.

" Naru-nii harus pulang dulu Sara-chan. Besok kita akan bermain bersama lagi ne." Senyum ia tunjukkan kepada gadis kecil itu dan tangannya bergerak membelai surai raven Sarada. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dengan airmata yang siap tumpah kapan saja.

" Kaachan tidak boleh pergi. Kaachan harus tetap disini bersama Sara." Isakkan kecil pun lolos dari bibir Sarada. Menghela napas pelan dan tanpa menghilangkan senyum diwajahnya. Tangannya masih setia membelai surai raven gadis kecil itu.

" Maaf Sara-chan tapi Naru-nii juga punya rumah yang harus Naru-nii urus." tatapan meminta pengertian pun dilayangkannya kepada Sarada. Sambil berharap gadis kecil dihadapannya ini akan mengerti.

" Tidak mau. Kaachan tidak boleh pergi dan meninggalkan Sarada sendiri." Menggelengkan kepalanya lagi. Sarada juga bersikeras dengan keinginannya.

Tidak tahu apalagi yang harus dikatakannya kepada Sarada. Naruto pun mengalihkan perhatiannya pada pria dewasa yang masih terdiam terpaku dibelakang mereka. Melayangakan tatapan meminta bantuan kepada Sasuke yang sedikit tersentak saat onyx-nya yang sejak tadi menatap punggung puterinya kini bertemu dengan sapphire Naruto. Dan hal itu juga tak luput dari pandangan Naruto. Pemuda manis itu mengira jika Sasuke sedang melamun tadi dan tidak menyadari tatapannya.

Setelah mendapatkan kembali kesadarannya karena mendapat tatapan memohon dari Naruto. Sasuke pun berjalan mendekat kearah puteri dan pengasuhnya itu. Menarik Sarada agar sedikit menjauh dari Naruto.

" Biarkan Naru-nii pulang, besok kau juga akan bertemu dengannya lagi. Lagi pula disini ada Touchan sayang." Ujar Sasuke lembut kepada puterinya yang masih memberontak tidak ingin dijauhkan dari Naruto.

" POKOKNYA KAACHAN TIDAK BOLEH PERGI!"

Sarada langsung berlari dan menghambur ke pelukan Naruto. Memeluk pemuda manis itu erat seolah tidak ingin kehilangannya. Lengan kecilnya melingkar di leher Naruto yang masih berjongkok dengan erat. Pemuda itu bahkan hampir terjatuh kebelakang saat tubuhnya diterjang oleh gadis kecil itu.

Sementara Sasuke masih terdiam mematung. Pria itu masih terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi. Menatap tidak percaya apa yang saat ini sedang puterinya itu lakukan. Bahkan puteri kecilnya itu saat ini tengah menangis dalam pelukan Naruto yang notabene adalah orang asing yang baru ditemuinya. Dan ini adalah pertama kalinya ia melihat puteri kecilnya menangis seperti itu. Entah kenapa ada perasaan sesak yang menyusup didadanya. Apakah ia sudah gagal menjadi seorang ayah? Padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin melakukan yang terbaik untuk puterinya itu. Berharap kehadirannya saja sudah cukup untuk Sarada. Tapi ternyata ia salah. Puterinya masih memerlukan sosok seseorang lagi dalam hidupnya. Sosok yang tidak bisa ia berikan. Sosok yang sudah ia kubur dalam-dalam bersama masa lalunya. Dan puterinya menganggap sosok itu ada pada diri pemuda manis dihadapannya. Pemuda yang saat ini ditangisi puterinya. Pemuda yang sedang dipeluk erat puterinya. Tangan Sasuke terkepal erat disisi tubuhnya. Merutuki diri yang tidak mampu memberi kasih sayang dan keluarga yang seutuhnya.

" Nee.. Sara-chan anak pintar kan?" Sebuah anggukan pelan dirasakan Naruto sebagai jawaban dari gadis kecil yang terus saja memeluknya. Tangan tan-nya membelai punggung kecil dengan lembut untuk menenangkan gadis kecil yang masih saja terisak dipelukannya.

" Anak pintar harus mendengar kata Touchan-nya ne. Naru-nii hanya pulang ke rumah saja dan besok akan kembali lagi untuk menemani Sara-chan bermain." Tangannya masih membelai punggung kecil Sarada. Sebuah senyum tulus terbit diwajahnya meskipun tidak dapat dilihat oleh Sarada.

" Jadi. Sara-chan baik-baik lah bersama Touchan mu ne." Lanjutnya dan dibalas gelengan kepala oleh Sarada. Membuat pemuda manis itu hanya mampu menghela napasnya. Kenapa gadis kecil ini keras kepala sekali? Pikirnya meraung frustrasi.

Naruto baru saja akan membuka mulutnya lagi untuk bersuara. Namun mulutnya kembali terkatup saat sebuah suara bariton lainnya terdengar.

" Tinggallah disini!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Viz back sama chap 2.. ^^

Gimana pendapat minna-san sama chap 2? Makin Gaje kah?

Viz benar-benar terharu melihat respon dari readers sekalian *ambiltisu

Viz ga nyangka kalo fict BL pertama Viz bakal dapat respon sangat baik seperti sekarang, padahal Viz ga berharap terlalu banyak dari fict ini. Cukup ada yang mau baca aja dan ninggalin sedikit jejak Viz udah seneng.

Huweeeeeee.. Viz bener-bener terharu... .

Oia di kolom review banyak yg nanya apakah akan ada mpreg? Gomen Viz masih belum kepikiran sejauh itu, tapi bisa dipertimbangkan untuk kedepannya.

Dan pemilihan anak Sasuke banyak yang kurang suka karena Viz milih Sarada bukan Menma? Karena di fict ini kan ceritanya anak Sasuke jd ya Viz pilih Sarada dan kalau anak SasuNaru viz ga bakal berpikir dua kali buat milih Menma.

Gomen kalau masih ada yang kurang berkenan dengan pemilihan anak Sasuke disini *bow

Viz bener-bener mau ngucapin TERIMA KASIH dari hati Viz yang terdalam buat yang udah baca, review, fav, ataupun follow fict gaje buatan Viz ini.

ARIGATOU GOZAIMASU *bow

Dan buat readers setia yang masih mau baca fict ini. Viz kasih spoiler chapter 3 buat kalian. Enjoy it.

#Next chapter

" Nee Sara-chan. Apa tidak apa-apa jika Naru-nii mengenakan benda ini?"

" Jichan, hidungmu berdarah."

" Apa yang kau lakukan disini?"

" Sasuke-san? Kau baik-baik saja?"

" Hn."

" Hidungmu berdarah Sasuke."

" Bukankah Naru-chan itu sangat manis. Bagaimana kalau dia untukku saja?"

" Dia itu straight bukan gay sepertimu. Selain itu kau harus menghadapi Sarada terlebih dahulu untuk mendapatkannya."

" Kalau begitu aku akan membuatnya menjadi gay."

.

See you next chap

#WeDoCareAboutSN

MIND TO REVIEW ^^