A Guy With Headband

.

.

Jungkook – Taehyung

Mentioned! BTS Member. Mingyu-Minghao-Seokmin (Seventeen). Yugyeom.-Bambam (GOT7). Jaehyun (NCT). Sungjin (Day6)

Romance. Friendship. College!AU. Bahasa.

Jungkook's Point of View

.

.

.

.

Yugyeom memberikan bungkusan kecil kepadaku dan Mingyu sebagai oleh-oleh kecil dari neneknya yang kemarin datang. Ayah dan ibu jarang mengunjungiku karena aku yang meminta mereka untuk tidak menghabiskan uang untuk membeli tiket kereta. Kalau kangen mereka aku cukup video call.

"Cie, yang kemarin dinotis sama Taehyung sunbae." Mingyu menyenggol lenganku, untung saja botol yang sedang kupegang tidak jatuh. Mingyu itu memang sedikit iseng. Aku hanya melengos, padahal dalam hati sudah menyumpahi temanku yang paling tinggi itu. Tau dari mana gosip itu?

"Apa, sih."

"Jangan judes gitu, ah. Terus, kemarin jadi pulang bareng?" tanya Mingyu lagi. Ah, soal kejadian kemarin, ya? Taehyung sunbae mengajakku pulang bareng dan berita itu sudah tersebar lagi dengan cepat. Aku hanya heran dengan mahasiswa di sini, apakah pekerjaan mereka menyebarkan gosip kacangan?! Tunggu, kenapa aku jadi sebal begini?

"Itu, kemarin…"

"Permisi, ada yang bernama Jeon Jungkook?"

Aku baru saja akan menceritakan pada Mingyu dan Yugyeom kejadian kemarin sore kalau saja tidak ada orang yang tidak kukenal memanggil namaku. Aku mengacungkan tangan kearahnya dan orang itu—dia laki-laki—menghampiriku. "Kamu Jeon Jungkook?"

Aku mengangguk cepat, "Iya. Ada apa?" lalu orang itu menyodorkan ponsel yang sedang digenggamnya kepadaku. Keningku berkerut bingung. "Ini ada telepon dari Taehyung sunbae."

Hah?!

Dengan ragu-ragu aku menerima ponsel itu dan menjawab panggilannya. Sementara Mingyu dan Yugyeom hanya menatapku dalam diam. "Halo, ini Jeon Jungkook." Sapaku. Lalu aku mendengar suara deheman yang berat, suaranya sangat-Taehyung sunbae-sekali. "Jeon Jungkook, apa kabar?"

"Eh, saya baik kok, sunbe."

"Betul! Kamu pasti baik. Kalau jahat aku gak bakal suka sama kamu."

Apa sih Taehyung sunbae ini. Aku hanya diam saja, bingung harus jawab seperti apa. "Kemarin kemana? Kan kita janji mau pulang bareng." Ada nada kecewa yang kutangkap dari suara Taehyung sunbae. Tapi, aku tertawa pelan. "Maaf sunbae, seharusnya saya yang bilang seperti itu. Kemarin saya sudah nunggu sunbae di depan gerbang, tapi sampai jam lima sore sunbae belum juga terlihat. Jadi aku memutuskan untuk pulang lebih dulu. Maaf ya, sunbae."

"Duh!" Aku mendengar suara kening seperti ditepuk dengan keras. "Jadi kemarin yang ingkar janji itu aku sendiri, ya?" Tawaku meledak begitu saja hingga Yugyeom menepuk pundakku dan bertanya tanpa suara; 'Kenapa sih?'. Aku hanya menggeleng. Terdengar suara deheman lagi, "Maaf ya, Jungkook. Kamu jadi terlambat pulang gara-gara aku."

"Gak apa-apa, sunbae."

"Tapi kamu sombong juga ya, Jungkook."

Apa-apaan nih Taehyung sunbae. Tadi menyalahkan aku dan sekarang bilang aku sombong?

"Maaf sunbae, maksudnya sombong itu?"

"Kamu gak pernah ngasih nomer ponsel kamu. Aku harus menelepon orang lain dulu deh kalau mau ngomong sama kamu." Tunggu sebentar, ya. Aku sedang mencerna kata-kata Taehyung sunbae yang ajaib ini. Pelan-pelan saja; Taehyung sunbae bilang dia harus menelepon orang lain dulu kalau mau bicara sama aku karena dia tidak punya nomer ponselku. Lalu, kenapa dia tidak minta nomer ponsel padaku langsung sih?!

"Maaf, sunbae. Tapi, kenapa sunbae tidak minta nomer saya langsung ke saya saja?"

"Karena kemarin kita tidak ketemu."

"Kan, yang bikin kita gak ketemu itu sunbae."

"Benar juga, sih."

Ih, Jungkook gemes nih!

Aku menengok kearah si empu ponsel; wajahnya terlihat sedang terburu-buru jadi aku putuskan untuk mengakhiri pembicaran random ini. " Kalau gitu, nanti saya kasih nomer ponsel saya ke sunbae, deh."

"Nah, gitu dong. Hehehe." Aku ikut terkekeh. Taehyung sunbae lucu juga, sedikit. "Pulang jam berapa, Kook?" Dadaku agak berdetak ketika Taehyung sunbae memanggil nama pendekku. Manis banget. Aku melirik ke jam tanganku, "Sekitar jam tiga sore."

"Sip. Aku tunggu di depan gerbang lagi, ya. Hari ini kita pulang bareng."

Setelah itu sambungan langsung dimatikan oleh Taehyung sunbae. Aku masih takjub dengan pembicaraan kami. Taehyung sunbae termasuk orang yang tidak suka basa-basi; dilihat dari caranya membuat kesepakatan 'kita pulang bareng' tanpa bertanya pendapatku lebih dulu. Sekilas aku melihat orang itu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bersiap akan pergi.

"Eh, tunggu sebentar." Dia berhenti dan bertanya padaku, "Iya, kenapa?"

"Itu, tadi… nomernya Taehyung sunbae?" Dia mengangguk, "Bukan. Itu tadi nomer pacarku. Pacarku temennya Taehyung sunbae." Dan aku tidak bisa menutup mulutku sekarang. Wow!

Kemudian orang itu segera pergi. Aku masih dalam mode tidak percaya dengan tingkah ajaib Taehyung sunbae. Kemudian ada yang menyenggolku. "Orang itu dateng lagi," Yugyeom berbisik padaku. "Ini," tiba-tiba orang tadi menyerahkan kembali ponselnya kearahku. Aku jadi bingung lagi. "Taehyung sunbae mau ngomong lagi sama kamu."

"Hah. Kan tadi sudah." Tapi aku tetap menjawab panggilannya. "Iya, sunbae?"

"Kook, mulai sekarang jangan pake 'saya' lagi. Kan belum jadi bapak-bapak. Pake 'aku' saja ya. Bye, Kook." Aku belum menjawab apa-apa, sambungan kembali diputus oleh Taehyung sunbae. Benar-benar ajaib sunbae satu ini. "Trims," kataku dengan lirih diikuti anggukan. Aku jadi tidak enak dengan orang itu. Merepotkan dia.

Tapi, omong-omong, Taehyung sunbae kembali meneleponku hanya untuk bilang seperti tadi?

Duh, makin pusing sama kelakuannya.

.

.

.

"Eh! Ada tugas dari Profesor Shin. Harus dikumpulkan sore ini juga." Teriakan salah satu temanku, Eunha, menarik seluruh perhatian kelas. O ya, kelas kami sedang kosong karena Profesor Shin sedang bertugas di luar kota. "Kenapa masih ada tugas, sih?" Aku tidak tahu siapa yang berteriak, tapi teriakan itu mewakili keluhan semua temanku dan termasuk diriku. "Ya, aku mana tau." Balas Eunha. Ya sudah, mau bagaimana lagi? Tugas tetaplah tugas meskipun ditinggal oleh pemiliknya; Profesor Shin.

"Yuk, ke perpus." Ajak Mingyu. Aku sedang membereskan peralatan tulis yang berserakan di atas meja. Aku suka mengeluarkan apa saja yang ada di dalam tasku, hehehe. Aku berdiri dan segera menyusul Mingyu yang sudah berada di depan. Aku akan mengerjakan tugas Profesor Shin lebih cepat supaya aku bisa pulang bareng Taehyung sunbae. Duh, aku malu mengakuinya, tapi, aku sangat excited menunggu jam pulang hari ini.

"Jeon, ngerjain bareng, ya."

Aku menoleh ketika pundakku terasa ditepuk seseorang. Ah, itu Jaehyun, salah satu temanku juga. Aku belum mempernalkan dia, ya? Tapi, tidak sekarang, oke. "Oh, mau bareng? Silahkan." Jaehyun mengangguk kemudian merangkul leherku dan berjalan bersama.

Ketika sampai di perpustakaan, aku melihat Yugyeom dan Seokmin sedang dalam pembicaraan serius. Sepertinya begitu, karena mereka tidak menyadari kehadiranku. Jaehyun entah sudah kemana saat aku menghampiri Yugyeom dan Seokmin.

"Lagi seru, nih."

"Eh, Kookie." Seokmin menampilkan senyum lebarnya. "Apaan, sih!" Aku tidak suka dipanggil seperti itu, terlalu anak kecil menurutku. Kan, aku sudah duapuluh; tidak pantas lagi dipanggil dengan sebutan lucu itu.

Yugyeom menarik lenganku, "Sini duduk. Mau ngerjain tugas Prof. Shin, kan?" aku hanya mengangguk sambil mengeluarkan laptop dari dalam tas. "Kamu di sini, Jeon. Aku cariin tadi."

Aku menengok ke atas. Ups, lupa. Aku meninggalkan Jaehyun. "Iya. Sini," dan saat itu tatapanku bertemu dengan Seokmin yang berada di depanku. Aku melihat raut tidak suka dari wajah Seokmin. Dan begitu juga dengan Yugyeom, aku diam-diam meliriknya. Tatapannya sama dengan milik Seokmin. Aku menghela napas pelan. Aku tahu mereka berdua tidak suka dengan Jaehyun—dan aku tidak tahu alasannya.

Kami berempat mengerjakan tugas dengan diam. Suasanya sedikit canggung, atau hanya aku saja yang merasakan? Yugyeom dan Seokmin benar-benar mengacuhkan Jaehyun saat dia bertanya. Jadi hanya aku yang menjawab; perwakilan dari kedua temanku yang mogok bicara itu. Saat aku melihat jam yang menunjukkan pukul setengah tiga sore, aku segera merapihkan buku dan peralatan tulisku. "Sudah selesai?" Yugyeom bertanya padaku. "Sudah." Jawabku dengan masih merapikan barang-barang. "Aku duluan ya," Aku memakai tas dan menyalami ketiga temanku.

"Hati-hati, Kookie!" Aku kembali berbalik untuk menjitak kepala Seokmin. Masih saja memanggilku seperti itu. Huh!

Ketika aku keluar dari gedung fakultasku, langit terlihat masih sangat cerah. Musim semi terbaik untukku. Aku berjalan santai menuju gerbang kampus. Fakultas berada di sebelah timur dari pintu masuk kampus, dan aku harus berjalan sekitar 600 meter jika ingin menuju gerbang. Masih pukul setengah tiga lebih lima menit; sepertinya tak mengapa jika aku menunggu Taehyung sunbae lebih dulu.

"Jeon Jungkook!" Aku segera menghampiri Profesor Kim, salah satu dosen di jurusanku. Wajahnya kaku, seperti ada hal yang sangat mendesak. "Iya, Prof. Ada apa?" tanyaku. Professor Kim menghelaku berjalan bersamanya. "Ada kerjaan. Kebetulan saya melihat kamu." Aku meringis mendengarnya, "Kerjaannya kayanya banyak, Prof."

"Memang!" Dan sekarang Profesor Kim terlihat sangat bahagia. Aku yang terlihat merana. Aku sudah menduga sebanyak apa kerjaan yang dimaksud Profesor Kim. Begitu sampai di ruangan Profesor Kim, aku langsung disuguhi tumpukan map dan berkas-berkas yang aku tidak tahu apa isinya. "Saya minta tolong, sebutkan nama-nama mahasiswa yang ada di sini," Profesor Kim menunjukkan berkas itu. "Sama nomor induk mahasiswa. Oh, dan dari fakultas mana. Mengerti Jeon Jungkook?"

"Iya, Prof."

Dan dimulailah 'petualangan'ku bersama Profesor Kim di ruangannya ini. Semoga saja Taehyung sunbae mau menungguku, dan semoga saja Profesor Kim tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pekerjaan ini.

.

.

.

Duh! Aku telat! Aku telat!

Sekarang sudah jam lima sore. Aku mengutuk pekerjaan Profesor Kim yang terlalu banyak sehingga aku telat pulang. Telat makan. Dan telat… Ya ampun! Aku lupa ada janji pulang bareng dengan Taehyung sunbae!

Bagaimana ini?

Aku segera berlari menuju gerbang kampus. Berharap jika Taehyung sunbae masih mau menungguku. Tapi, aku yakin sekali jika Taehyung sunbae tidak akan…

"Taehyung sunbae?" aku tanpa sadar menyerukan namanya begitu kulihat tubuh Taehyung sunbae yang sedang bersandar pada pinggiran gerbang. Dia sedang mendengarkan lagu dari headset yang menutupi telinganya. Aku berhenti beberapa meter dari jaraknya. Terdiam sebentar untuk mengagumi ciptaan Tuhan yang Dia kirimkan melalui Taehyung sunbae. Sinar matahari sore menyorot tubuh kurus tapi tegap Taehyung sunbae yang berdiri menyamping. Aku seperti melihat lukisan mahakarya yang sangat indah. Taehyung sunbae tetap tampan dnegan ikat kepala yang selalu dia pakai. Garis wajahnya yang terlihat jelas karena sinar matahari, aku meraup banyak kenangan dari Taehyung sunbae hari ini. Aku akan menyimpan sosok Taehyung sunbae hari ini untuk diriku sendiri.

Tiba-tiba Taehyung sunbae menengok dan tersenyum manis kearahku. "Oh, sudah pulang?" Aku menunduk malu, tidak enak hati dengan Taehyung sunbae. "Jadi pulang bareng?" Dan begitu kuangkat kepala, aku sedikit terhuyung karena jarak Taehyung sunbae yang terlalu dekat denganku. "I, iya. Ayo pulang, sunbae."

Taehyung sunbae sekali lagi tersenyum padaku, aku menahan napas. "Yuk," Taehyung sunbae langsung menarikku. Sentuhan tangannya tanpa sengaja memberikan sengatan listrik kecil untukku. Ini, untuk pertama kalinya, aku bersentuhan dengan Taehyung sunbae! Salah satu imajinasiku yang bahkan aku tidak berani memimpikannya. Tapi, lihat sekarang! Taehyung sunbae duluanlah yang memegang tanganku. Ya Tuhan, deg-degan gini.

"Naik motorku tidak masalah kan?"

"Hah?" Aku tidak sadar sudah dibawa ke area parkir. Dan sekarang kami berdua sudah berdiri di samping motor besar Taehyung sunbae. "Eh, iya gak apa-apa, sunbae." Taehyung sunbae melepaskan genggaman tangannya, dan aku langsung merasakan kekosongan. Sunbae, pegang lagi tangaku, dong.

"Hari ini takdirku pulang bareng sama kamu, karna aku bawa dua helm!" Taehyung sunbae mengulurkan helm yang satunya lagi padaku. "Trims," Ya Tuhan, aku masih malu untuk menatap Taehyung sunbae. Aku menunggu Taehyung sunbae menaiki dan menyalakan motornya. "Ayo naik, Kook." Aku mengangguk dan segera menaiki motor besarnya Taehyung sunbae.

"Kamu gak takut naik motor kan? Kalau takut kamu bisa pegangan sama pinggang aku."

"Apa sih, sunbae." Aku memukul pelan pundaknya, meski dalam hatiku menjerit tidak karuan dan jantungku yang berdetak dengan keras. "Hmm, sunbae?" aku melirih. "Iya,"

"Maaf ya aku telat, sunbae jadi harus nunggu."

"Gak masalah. Aku senang bisa nunggu kamu, Kook."

Dan hanya dengan ucapan sederhananya aku merasa sangat bahagia. Aku perpegangan pada pinggang Taehyung sunbae, hanya berpegangan. Taehyung sunbae melajukan motornya dengan pelan. Saat mencapai gerbang depan, motor kami berpapasan dengan sebuah mobil. Aku langsung mengenali mobil itu sebagai mobil milik kakak laki-lakiku. Dan benar saja, begitu kaca mobil diturunkan wajah abangku langsung terlihat.

"Dek, sudah pulang? Bareng abang, ada ibu sama ayah di rumah."

Itu abangku. Namanya Sungjin. "Halo, abangnya Jungkook?" Aku terperangah begitu mendengar Taehyung sunbae menyapa kakakku lebih dulu. "Halo juga. Temannya Jungkook?"

"Iya!" jawabku cepat, dan aku tidak tahu kenapa aku harus menjawab 'iya'. "Cepet, dek. Ibu sama ayah kelamaan nunggu nanti."

"Tapi, bang,"

"Gak apa-apa, Kook. Sana bareng abangmu, nanti kelamaan."

Aku turun dari motor Taehyung sunbae dengan berat hati. Setelah menyerahkan helm yang kupakai, aku meminta maaf pada Taehyung sunbae. "Sunbae, maaf ya. Kita gak jadi pulang bareng lagi."

Taehyung sunbae hanya tersenyum dan mengelus rambutku. Perlakuan kecilnya lagi-lagi membuat jantungku sakit karena detakan yang keras. "Masih bisa besok, kan? Berarti hari ini takdirku salah. Hehehe."

Aku tersenyum, kagum dengan sifat Taehyung sunbae. Aku melambaikan tanganku pada Taehyung sunbae ketika sudah di dalam mobil. Dan Taehyung melakukan hal yang sama. Ya, sepertinya tidak pernah ada cara instan di dunia ini. Aku dan Taehyung sunbae hanya perlu bersabar. Karena sesuatu yang terburu-buru hasilnya tidak akan pernah bagus. Ya, hanya cukup sedikit bersabar.

"Abang kenapa pake dateng segala, sih? Jadi gak bisa pulang bareng gebetan kan!"

"Oh, jadi salah abang, gitu?"

Ih, Jungkook jadi keki.

To be continued

.

.

.

Yaaaaaaaah gagal pulang bareng lagi…

Terima kasih bagi yang sudah menyempatkan baca cerita ini~ * kasih ciuman satu-satu*

Yang sudah review, aku cuma bisa bales review kalian dengan chapter dua ini. Ada dua cast baru, yeaaaay. Dan abang Sungjin Day6 yang aku sayangi ini aku jadiin abangnya Jungkook. Coba, mereka mirip kan ya? Ya? Bilang mirip dong, soalnya aku diprotes sama bundanya kuki nih *senggol phylindan*

Jangan nebak-nebak jalan ceritanya ya, ikutin aja, nikmatin aja, bacain aja, cerita ini. Aku jamin kok, kalian bakal seneng. Hahahahaha.

Oke, terima kasih.

©naranari