aku melakukan ini karena bukan hanya sekedar bersetubuh, tetapi aku tahu ada perasaan lain yang belum bias ku ungkapkan. Aku tak suka melihat air matamu, aku benci melihat isakanmu. Aku tahu kau sakit dan begitu pula denganku, aku mencintaimu. Tetapi ada sebuah dinding yang harus aku hancurkan demi mendapatkanmu seutuhnya, bukan hanya pemilik sah tubuhmu, begitu pula dengan hatimu. Tunggulah, aku akan datang dan menjadi pangeran yang akan meraikmu dari kelamnya palung yang aku ciptakan.

Disclaimer : ?

Genre : romance, hurt/confort

Rated : M

Pair : Haehyuk

Warning : OOC, OC, bahasa maksa, Typo(s) d.l.l

Don't like

Don't read

Enjoy

.

.

.

NONE SENSE? (DON'T NAIVE)

.

.

.

Author POV

Donghae melangkahkan kakinya dengan langkah gusar, ia sama sekali tak menyukai ini. Tinggal di satu apartement dengannya? Ide macam apa itu. Ini sudah sangatlah keterlaluan. Donghae tak menyangka akan seperti ini. Ia berdesis kesal kemudian meludah di sembarang tempat sembari masih melangkah dari koridor apartementnya menuju apartementnya bersama dan juga menjadi apartement Eunhyuk

Eunhyuk hanya mendengus resah menunggu Donghae yang pulang sudah sangat terlambat ini. Ia kembali mendongkakkan wajah manisnya menuju jam dinding yang terus saja berdetak setiap detiknya, meninggalkan detik demi detik keresahan Eunhyuk akan diri Donghae

"ini sudah jam setengah dua belas malam, mengapa ia belum kembali?" gumam Eunhyuk masih menatap kearah kearah jam dinding yang sama sekali tak memberi kejelasan akan apa alasan Donghae pulang seterlambat ini. Padahal biasanya Donghae hanya akan pergi paling lama selama satu setengah jam jika ia sedang bersama Henry. Apa mungkin Donghae berkencan dengan Henry? Apa mungkin kini Donghae tengah bercinta dengan Henry? Pikir Eunhyuk berkecambuk tak tenang, ia sedang gelisah, memikirkan Donghae apalagi pemikirannya yang berkecambuk membuatnya semakin takut, takut jika Donghae akan mencampakannya karena Donghae telah memiliki Henry, walaupun Eunhyuk tahu pada awalnya Donghae sama sekali tak mencintai Henry dan menerima perjodohan tersebut sebagai rasa formalitas saja. Akan tetapi cinta siapa tahu? Persaan orang siapa yang bisa mengerti selain orang itu sendiri dan Tuhan. Bahkan Eunhyukpun ragu akan ia mengenal Donghae sepenuhnya akibat hal ini. Sungguh, jikalau pada awalnya ia menginginkan Donghae yang melepaskannya, tetapi tidak seperti ini. Tidak mencampakannya seperti pelacur yang sesungguhnya. Mengingatnya membuat dada ini terasa sesak, jantung ini berdenyut sukar, seolah ini adalah detik-detik kematianmu. Eunhyuk yang merasakan mimpi buruk ini sendirian, walaupun hanya dibenaknya saja, tetapi bayangannya terasa begitu nyata, sangat nyata. Bahkan Eunhyuk dapat merasakan sakit hatinya secara langsung.

Ia menunduk lesu, merasakan kepalanya pening, ia dilema dengan semua ini. Ia takut Donghae akan benar-benar mencampakannya. Apa ini cinta? Tetapi mana mungkin ini cinta? Ia tidak boleh jatuh kepada perasaan itu dengan Donghae, dengan orang yang tak akan bisa menjadi miliknya, miliknya seutuhnya, hanya sebatas sahabat, hanya sebatas itu. Tidak lebih, walaupun Eunhyuk tahu hati Donghae bukanlah milik Henry, terdahulunya. Tetapi bagaimana sekarang? Bagaimana jika Donghae kini telah memiliki persaan lebih dari sekedar formalitas dengan Henry, perasaan yang Eunhyuk takuti akan mempenjarai dirinya dalam jerat Donghae, dan dalam palung ketidak berdayaannya kelak?

"aku harap, apa yang aku pikirkan tidak akan pernah terjadi" jahat? Ya, sangat jahat. Apa yang Eunhyuk lontarkan dari bibirnya sarat akan kesan jahat dan keji. Ini menjijikkan, dimana seseorang mendoakan agar orang lain tak bahagia. Itu sangat keji, tetapi, mana yang lebih menyakitkan? Hal tersebut ataukah Eunhyuk yang memang merasakan sakit ini sejak terdahulu? Sejak pertama kali Donghae menyetubuhinya? Saat ia memberikan Donghae kebebasan untuk menjamahnya demi Donghae tidak kembali ke kehidupan kelamnya? Mana yang lebih sakit daripada hal demikian? Ia mengorbankan semuanya demi Donghae, dan juga sang eomma yang juga sangat menyayangi Donghae melebihi dirinya? Kini, salahkan Eunhyuk mendoakan hal demikian? Masihkan Eunhyuk termasuk seseorang yang keji dan menjijikkan? Apakah dalam hal ini Eunhyuklah yang salah karena mendoakan hal demikian? Tidak, ia tidak salah. Eunhyuk sewajarnya mengatakan hal demikian, mengapa? Karena Donghae haruslah bertanggung jawab akan semua yang ia lakukan. Ia harus bertanggung jawab akan tubuhnya yang sejak tiga tahun lalu ternodai oleh tubuh Donghae, keringat Donghae, saliva Donghae bahkan sperma Donghae. Ya Donghae harus pertangung jawabkan hal demikian. Walaupun Eunhyuk bukanlah yeoja yang mencari tanggung jawab sang namja akan kehamilan sang yeoja. Tidak seperti demikian, ini terlebih demi persababatan mereka dan eommanya yang begitu mencintai Donghae.

Memikirkan hal demikian, memaksa Eunhyuk harus beranjak menuju toilet untuk menenangkan dirinya, menenangkan dirinya dari segala hipotesa yang menghampiri benaknya tentang Donghae dan Henry, hipotesa yang hanya akan membuatnya terluka dan semakin membuatnya tak ingin Donghae beranjak dari sisinya barang semikrometerpun tidak.

Eunhyuk berjalan begitu pelan, setiap langkahnya berbanding lurus dengan cabang-cabang pohon yang daunnya sarat akan hiotesa-hipotesa dan konsekwensi negatif antara Donghae, dirinya dan Henry. Hingga kini ia sampai di depan pintu kamar toilet. Ia meraih knop pintu tersebut kemudian membukanya perlahan sangat perlahan hingga decitan dari pintu tersebut menginterupsi keheningan yang tercipta di tempat ini. Kembali Eunhyuk segera beranjak menuju wastafel, menghidupkan keran kemudian membasuh wajahnya yang terlihat sangat lusuh akibat ini, wajahnya seketika pucat jika Donghae tak berada di sisinya, wajah yang menunjukkan kebutuhannya dengan Donghae, ia sadar kini ia sama sekali bukan apa-apa tanpa Donghae, bahkan Donghaelah seberanya yang memberikan kehidupan untuk Eunhyuk.

Eunhyuk menundukkan kepalanya dan membasuhnya dengan air bersih yang mengalir tanpa beban dari lubang keran, Eunhyuk hanya tersenyum kecil mendapati hal demikian, kemudian mendongkakkan wajahnya, wajah yang tampak semakin tirus dan juga tubuhnya yang semakin kurus, ia tersenyum meremehkan dirinya, pantulah bayangan wajahnya yang terlihat begitu lusuh, hanya karena ketidak hadiran Donghae untuknya, hanya karena keterlampatan Donghae yang membuatnya resah. Ia sedikit tersenyum geli saat melihat tubuhnya, tubuhnya yang putih susu hanya terbalut kemeja putih berlengan panjang sedikit transparan milik Donghae dan ia kenakan begitu kebesaran, hingga mampu menutupi sepertiga pahanya yang hanya mengenakan under wear saja. Ia tak memakai celana karena memang malam ini begitu panas bahkan ac yang ia nyalakan tidak mampu untuk mengusir rasa panas ini. Mengapa ia mengenakan pakaian Donghae? Memangnya kemana pakaiannya? Alasan terbesar karena Donghae yang selalu mengingatkannya untuk menggabungkan pakaian mereka, jadi mengambil pakaian siapa saja, di lemari tersebut adalah sah-sah saja hukumnya.

Beberapa menit menatap tubuhnya, Eunhyuk mendengarkan bantingan pintu yang sangat keras, pintu apartementnya. Begitu sangat keras hingga mampu terdengar sampai ke toilet di dalam kamarnya dengan Donghae, padahal jarak antara pintu tersebut dengan kamar mereka lumayan jauh, membuat Eunhyuk dengan cepat beranjak menuju sumber suara. Tanpa mengeringkan wajahnya terlebih dahulu.

Donghae membanting pintu tersebut tanpa berpikir tentang apa dia akan mengganggu ketenangan penghubi apartement lain, bisa dibilang tentangga mereka, akan tetapi pada kenyataannya tidak, ia sama sekali tidak perduli dengan hal demikian, rasa kesal bercampur kecewa telah menyelimutinya, kesal akibat permintaan kedua orang tua Henry yang sungguh ia tak mampu untuk menyanggupinya. Terlebih ia tak ingin meninggalkan sahabatnya yang begitu ia butuhkan, bahkan melebihi dari yang Eunhyuk tahu tentang sebutuh apa Donghae akan dirinya. Sedangkan kecewa dengan tindakannya yang terlihat sangat pengecut. Mau bagaimana lagi? Ini bukanlah jalan pengecut, ia hanya ingin menjaga perasaan orang tuanya dan orang tua Henry, bukan malah sebaliknya, jika mereka menganggap Donghae memberikan harapan kepada mereka. Untuk mencintai Henry sepenuhnya. Ia segera beranjak menuju balkon yang terletak dibelakang apartement mereka, balkon yang menyambungkan dengan balkon kamar mereka, akan tetapi Donghae sama sekali tidak berniat beranjak menuju kamarnya, karena kini ia harus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa menolak akan Henry yang tinggal di apartementnya, terlebih hal terbesarnya karena Eunhyuknya, Eunhyuk yang hanya miliknya.

Eunhyuk kini sampai di ruang tamu mereka, ia melihat kesekeliling akan tetapi tidak menemukan sosok yang ia cari. Kemana Donghae? Bukankah orang yang membanting pintu tersebut adalah Donghae? Tetapi mengapa Donghae tidak ada?

Eunhyuk diam sejenak kemudian kembali mencari sosok Donghae dengan memperlebar jarak pandangnya, ia tersenyum pada akhirnya saat sosok yang ia cari tengah berdiri membelakanginya, sosok yang membuatnya resah kini tengah berdiri dengan pakaian yang sedari tadi ia kenakan, sebelum meninggalkan Eunhyuk, untuk bertemu dengan Henry, mengingat kejadian tersebut. Eunhyuk hanya tersenyum kecut, ini masih terasa sulit untuknya.

Ia segera beranjak menuju tempat Donghae berpijak, berdiri tepat di sebelah Donghae dan menatap wajah sang sahabat yang tengah menerawang wauh, entah kemana Eunhyuk sama sekali tak tahu, yang ia tahu hanyalah Donghae yang tengah memikirkan sesuatu akan tetapi Eunhyuk tak tahu apa itu.

"kau baik-baik saja?" lama mereka dalam keheningan, Eunhyuk pada akhirnya melontarkan kalimat tanya tersebut. Hanya kalimat tanya ringan yang mampu membuat Donghae tersadar dari lamunannya, Donghae segera menatap Eunhyuk yang hanya menatapnya khawatir. Dari sudut pandang Donghae, ia tersenyum, Eunhyuknya begitu indah, sangat indah. Dengan rambut dengan poni yang basah dan dengan beberapa tetes air yang masih membasahi wajah, leher dan kerah kemeja yang ia kenakan, leher jenjangnya yang masih terhiasi tanda kepemilikan Donghae, dan Donghae menyukainya, semakin kebawah Donghae melihat kemeja itu hanya mampu menutupi tiga perempat paha Eunhyuk, membuat sisanya terekspose begitu bebas. Akan tetapi Donghae tahu, jika dirinyalah yang hanya bisa melihatnya. Dan bukan orang lain.

Puas menatap paha putih Eunhyuk yang terekspose, Donghae kembali melihat wajah manis sang sahabat yang tengah digurat rasa khawatir akan dirinya. Mata yang selalu ia bisa merasakan bayangannya secara seutuhnya. Sangat bening dan sangat sendu. Donghae menyukai mata ini, akan tetapi ia tak suka guratan kesedihan dan ketidak berdayaan yang sahabatnya ini tunjukkan. Ingin sekali ia melepaskan jerat jeruji yang tengah mempenjara sahabatnya dari dasar palung laut hatinya, dari ketidak jelasan hubungan mereka, mengingat ini bukan hanya sekedar sahabat. Dan masing-masing mereka mengetahuinya walaupun mereka tak mengatakannya secara spesifik apa, bahkan mereka tidak pernah mengatakan kalimat tersebut.

"nde, aku baik-baik saja" terang Donghae memberi sebuah ciuman ringan di kening Eunhyuk, membuat Eunhyuk harus memejamkan matanya, menikmati sentuhan Donghae yang terasa di kulit putih susunya yang sensitif.

"mengapa kau pulang terlambat?" Eunhyuk masih menatap mata Donghae, dalam, seolah ingin mencari jawabannya sendiri. Tanpa Donghae mengatakan kebohongan apa yang ingin ia ungkapkan. Donghae mengetahuinya, dan tidaklah mungkin ia akan membohongi orang yang menatap matanya dengan permata drkbrown yang mampu menguncinya dalam jerat orang ini. Bahkan Donghae sengaja tidak akan pernah ingin untuk beranjak dari pesona yang mampu meluluhkan hatinya dan tak mampu membuatnya berpaling lagi.

"baru saja, orang tua Henry ingin berbicara denganku" Donghae akan memeluk Eunhyuk, akan tetapi kedua tangan Eunhyuk terlebih dahulu ia terusupkan ke dalam pelukan Donghae, membuat Donghae tidak bisa memeluknya. Donghae menatap Eunhyuk sembari mengernyitkan sebelah alisnya. Eunhyuk hanya menunduk, dan Donghae menatap keterpurukan Eunhyuk, kemudian menarik dagu Eunhyuk dan membersihkan wajah Eunhyuk yang masih basah akan air yang menempel dipori-pori kulitnya. Donghae menangkap mata Eunhyuk sama sekali tak menatapnya. Malah hanya menatap ke bawah saja. Dan Donghae mengerti. Ia sangat mengerti jika Eunhyuk tidak suka dengan dirinya yang mengatakan hal demikian. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia haruslah selalu jujur, jikalau akan menyakiti hati orang yang ia anggap melebihi segelanya. Tetapi ia yakin ia akan selalu bisa mengganti rasa sakit tersebut dengan perasaan yang lebih menyakinkan mereka. Perasaan yang masih dikuasai oleh ego dan kemunafikan. Tetapi hanya untuk saat ini, perasaan itu masih bisa mereka kendalikan. Tetapi suatu saat, mereka akan tahu. Sejauh mana perasaan mereka dapat bertahan dibawah kendali ego dan kemunafikan mereka, terlebih Eunhyuk yang masih sangat dilanda keraguan dan dilema akan Donghae, terlebih Eunhyuk selalu dihantui dengan bayangan Donghae dan Henry, juga ketika Donghae akan mencampakannya.

"mereka hanya menawarkan sesuatu. Tetapi tak perlu kau risaukan. Aku akan menolaknya, demi dirimu. Lee Hyukjae" terang Donghae membuat mata Eunhyuk berfokus padanya, menawarkan apa? Mengapa Donghae menolaknya demi dirinya, saat merasakan hal ini, Donghae mampu merasakan kebahagiannya. Semakin yakin jika sebenarnya kebahagiaan dirinya adalah dimana ia melihat kebahagiaan Eunhyuk. Ia melihat secerca harapan diwajah Eunhyuk dan Donghae menyenanginya. Hah, bagaimana mungkin takdir tega untuk memisahkan kedua insan yang saling membutuhkan ini dengan sebuah dinding yang harus ada yang menghancurkannya. Dan Donghaelah yang akan menjadi penghancur dinding tersebut. Mulai saat ini, Donghae akan berjanji untuk meruntuhkan dinding tersebut. Hanya demi Eunhyuknya, hanya karena Eunhyuknya dan untuk kebahagiaan Eunhyuknya.

"mereka menginginkan apa darimu?" kini Eunhyuk mulai berani menanyakan hal privasi Donghae lebih spesifik lagi.

"mereka menginginkan jika aku tinggal bersama Henry. Tetapi aku sudah menemukan jawabannya. Aku tak bisa meninggalkan kau sendiri disini" Donghae tersenyum kemudian memeluk kembali tubuh Eunhyuk yang hanya diam dalam pelukan Donghae.

Eunhyuk yang mendengar kalimat tersebut hanya bungkam, bungkam bukan berarti ia diam membisu. Ia hanya tak menyangka jika Donghae begitu memilihnya. Akankah ini perasaan hanya sekedar bersahabat? Apa ia sebenarnya terlah benar-benar terjerat oleh Donghae dan Donghae begitu sangat membutuhkannya? Ia menjadi bingung. Ragu akan semua ini. Ini hanyalah akan membuatnya semakin takut kehilangan sosok Donghae, walaupun kini ia akui ia memang tak menginginkannya. Bagaimana ini? Donghae bukanlah miliknya, dan ini bukanlah cinta. Tetapi, jika bukan itu lalau apa? Apa sebenarnya perasaannya ini? Akan Donghae? Akan Donghae yang selalu memilihnya dan menginginkannya seperti ini. Pantaskah dirinya disebut sahabat? Pantaskah dia akan hal itu? Ia hanya diam, merenungi semuanya hingga ia tak sadar jika Donghae tengah menatapnya dengan intens

"Hyukkie" Donghae memanggil Eunhyuk yang masih terlamun dalam lamunannya, Donghae yang melihat Eunhyuk sama sekali tak merespon apapun hanya tersenyum simpul kemudian mencuri sebuah ciuman dari bibir Eunhyuk, Eunhyuk yang merasakan sesuatu yang lunak tengah melumat lembut bibirnya mulai menyadari akan keadaan Donghae, Eunhyuk agak mendorong Donghae, mendapat tatapan kecewa dari Donghae.

"Hae, kumohon, mengertilah. Aku tengah lelah. Kau sudah melakukan ini tiga kali bukan?" Eunhyuk agak menahan tubuh Donghae, dan Donghae hanya mendesah kecewa. Ia hanya mengangguk paham membuat Eunhyuk tersenyum lembut karenanya. Kemudian menggantinya dengan sebuah ciuman singkat di kening Donghae.

"jika memang kau lelah, lebih baik kita tidur" Donghae tersenyum kembali kemudian menarik tangan Eunhyuk dengan lembut menuju kamar mereka, ia juga merasa udara malam tidaklah baik untuk kebaikan Eunhyuknya, terlebih jika Eunhyuk harus jatuh sakit dan hanya akan membuatnya khawatir akan keadaan Eunhyuk.

Eunhyuk hanya membalasnya dengan anggukan kooperatif dan beranjak bersama Donghae menuju kamar mereka. Hingga kini mereka terlah terbaring di sebuah tempat tidur. Tempat tidur berukuran king size dengan bed cover yang telah terganti dengan bed cover berwarna putih dan biru dongker. Sangat nyaman dan akan semakin nyaman jika seseorang dapat mendekap erat di dalamnya seperti yang tengah Donghae lakukan kepada Eunhyuk yang sejak mereka berbaring dengan cepat Eunhyuk terlelap, Donghae hanya mampu memandang makhluk indah yang tertidur di lengannya sebagai bantal dan memeluknya erat ini. Ia tersenyum begitu tulus, mengelus surai redbrown Eunhyuk dan beranjak hingga mencium kening Eunhyuk. Ia tersenyum lama sangat lama hingga ia tak sadar telah menatap Eunhyuk begitu lama.

"kau begitu indah, mengapa aku terlambat untuk menyadarinya? Seandainya keadaan bisa di ulang. Mungkin kita telah bahagia tanpa ikatan yang menyiksa ini. Maaf, aku tak tahu apa kau akan terluka. Tetapi sungguh. Aku hanya belum bisa untuk memutuskan akan melakukan apa. Tetapi, aku berjanji akan membebaskanmu dari ketidak pastian ini. Aku berjanji, hanya untukmu" Donghae bergumam dan kembali mencium kening Eunhyuk yang pada akhirnya ia memutuskan untuk melumat dengan pelan kedua belah bibir Eunhyuk. Sebelum pada akhirnya ia terlelap dalam rangkaian bunga tidur yang mampu membuatnya melupakan sejenak masalah yang tengah menghadangnya.

Berbeda dari malam kenarin, kini Donghae tengah menatap kedua orang yang begitu ia kenal dengan pandangan yang bisa dikatakan dingin dan serius, sedangkan Eunhyuk hanya bisa bungkam dengan beberapa dokumen-dokumen pernting yang tak sengaja ia bawa. Ka kini Donghae tengah menepati janjinya akan kedua orang tua Henry akan apa yang mereka bicarakan kemarin.

Ya, kini mereka tengah menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah restoran yang tidak bisa dikatakan sederhana. Dan khusus di pesan oleh kedua orang tua Henry.

Kedua orang tua Henry begitu bahagia melihat sang calon menantu dengan keadaan yang begitu tampan dan sangat berwibawa sedangkan pandangan intens terpusat kepada Eunhyuk karena memang ini adalah kali pertama mereka bertemu. Akan tetapi demi menjaga image mereka sebagai seorang yang terpandang mereka berusaha menunjukkan sikan sesopan mungkin kehadapan Eunhyuk walaupun hanya akan dibalas dengan senyuman canggung oleh Eunhyuk.

Setelah keheningan sekian lama menginterupsi mereka, akhirnya appa dari seorang Henry mulai mengangkat dan membahas pembicaraan mereka.

"jadi, apa keputusanmu Donghae?" tanya appa Henry menatap Donghae serius bahkan eomma Henrypun tengah menatap Donghae penuh harap akan Donghe yang akan menyetujui dengan tawaran mereka.

Sedangkan Donghae sebelum menjawab, ia mendengus nafas pelan kemudian mulai angkat bicara akan apa keputusannya

"mianhae, ajjusi, ajjuma. Sepertinya aku tak bisa memenuhi harapan kalian. Aku meminta maaf dengan penuh hormat" terang Donghae mendapat tatapan kecewa dari kedua orang tua yang awalnya begitu berharap besar akan Donghae yang akan menyetujuinya

"mengapa? Mengapa kau menolaknya Lee Donghae?" ucap sang ajjuma terdengar begitu murka hingga Eunhyuk semakin menunduk mendengarnya. Ia merasa ia sebagai orang asing di dalam pembicaraan ketiga orang yang memang memiliki sebuah hubungan. Dan ini membuatnya semakin gugup. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa kecuali hanya diam. Ia hanya bisa melakukan itu dan tak mampu melakukan apapun lagi. Hanya ini.

"sadarlah ajjuma, waktu tiga bulan masih terlalu singkat untukku. Terlebih lagi aku tengah menata karirku di dunia perbisnisan. Dan aku masih membutuhkan banyak waktu untuk menerima semua ini. Semua tak akan baik jika dijalani dengan terburu-buru seperti ini. Aku harap ajjusi dan ajjuma mengerti tanpa aku mengatakan hal yang lebih intens dari ini" Donghae berucap sebelum menarik tangan Eunhyuk unuk ikut bangkit bersamanya. Sedangkan Eunhyuk hanya menatap Donghae bingung, akan tetapi pada akhirnya ia mengikuti apa yang Donghae inginkan dari sikap ia yang ikut berdiri bersama Donghae.

Sedangkan kedua orang tua tersebut hanya bungkam, mencerna perkataan Donghae sebelum mereka tersenyum makhlum. Memang, apa yang Donghae katakan memang benar adanya. Waktu tiga bulan memanglah terlalu singkat untuk hubungan yang mereka pikir masuk ke hal intim. Seseorang jikalaupun sudah dijodohkan akan tetapi untuk tinggal bersama itu masih saja menjadi hal yang tabu. Ya, mereka mengerti akan hal itu dan mereka memakhluminya.

"kami mengerti" ucap mereka akhirnya membuat Donghae mengangguk,

"jika memang tidak ada hal yang ingin dibahas. Saya permisi, karena masih banyak hal yang belum saya selesaikan" ucap Donghae membungkuk hormat begitupun juga Eunhyuk, dan beberapa menit kemudian mereka beranjak meninggalkan kedua orang tua Henry yang masih berda di restoran tersebut.

"ini melelahkan" terang Donghae kini, ketika ia mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang memang menjadi kursi jabatannya. Sedangkan Eunhyuk hanya menggeleng pelan. Ia tak tahu harus mengatakan apa akan hal ini, akan tetapi ia juga tak ingin melihat Donghae yang akan memilih jalan seperti hal yang terdahulu sering ia lakukan.

"entahlah, aku tak tahu harus mengatakan apa tentang hal ini Hae. Ini terlalu rumit" terang Eunhyuk menggelengkan kepalanya, dan meletakkan beberapa dokumen-dokumen yang harus mereka selesaikan. Mendengar apa yang Eunhyuk atakan membuat Donghae menggeleng pelan. Iapun bingung harus melakukan apa. Ia ingin menolak akan tetapi sepertinya mereka belum mengerti jika sesungguhnya Donghae telah menolak semua ini.

Ia bukannya pengecut. Akan tetapi ia hanya ingin mereka menyadarinya tanpa Donghae mengatakan sepatah kata penolakan agar tidak menyakiti mereka.

"Hyukkie, izinkan aku nde?" terang Donghae pada akhirnya putus asa, ia sungguh tak mampu untuk menuntaskan masalahnya untuk saat ini. Ia tak tahu harus melakukan apa. Dan ia merasa semua ini membuat pikirannya membuntu. Eunhyuk tahu kemana pemikiran Donghae, dan ia hanya tersenyum simpul kemudian mengangguk memberikan Donghae akses untuk menenangkan dirinya. Memberikan apa yang Donghae butuhkan ketika ia tak mampu untuk menyelesaikan sesuatu.

Donghae hanya tersenyum. Akan pengertian Eunhyuk, kemudian menarik pinggang Eunhyuk agar mendekat dengannya. Sedangkan Eunhyuk hanya pasrah mendapat perlakuan seperti ini oleh Donghae.

Donghae kemudian membuka ikat pinggang Eunhyuk dan menurunkan resletingnya hingga membuat celana Eunhyuk menurun karena memang pada kenyataannya ukuran pinggang Eunhyuk tidaklah pas dengan lingkar pinggang celana tersebut, sedangkan Eunhyuk hanya berusaha memejamkan matanya merasakan tangan Donghae yang kini menelusup masuk kedalam under wearnya dan menurunkannya juga. Hingga kini Eunhyuk merasakan kejantanannya terekspose bebas, merasakan dinginnya ac yang menyeruak di dalam ruangan ini dan memaksakannya menahan ringisan akan kejantanannya yang merasakan desiran dingin dari ac.

Donghae yang melihat Eunhyuk yang sedemikian rupa hanya tersenyum, kemudian mengelus kejantanan Eunhyuk yang berkuran tidak terlalu besar dengan dua skortum yang menggantung indah disana juga dengan krutan-kerutan halus yang membuat ini terasa mengundang. Terutama untuk Donghae. Pemandangan tersebut memiliki kesan tersendiri bagi Donghae. Ia kemudian melau menggenggam dan mengelus kejantanan tersebut. Berefek akan Eunhyuk yang melenguh merasakan sensasi tersebut. Lagi, sensasi yang selalu membuatnya terbuai akan Donghae, akan setuhan Donghae dan Donghae mengetahuinya.

"engmh" lenguh Eunhyuk hanya dengan sedikit sentuhan saja, Eunhyuk memanglah namja yang cepat terangsang terbukti dari wajahnya yang kini memerah dan Donghae menyukainya, tidak hanya mengelus dan menggenggam Donghae juga berinisiatif membangunkan kenjantanan Eunhyuk yang pada awalnya tertudur hingga terangsang dan menegang.

"engmh, ah, Hae. Ngmh" ia melenguh begitu saja, sesungguhnya ia juga tak kuat untuk menahan lenguhannya, semuanya terasa begitu saja. Ia tak bisa menolak, ini memang salah akan tetapi demi Donghae ia rela melakukan hal ini, ia masih ingat dengan janjinya dan itulah alasan terbesarnya mengapa ia tak ingin menolak kehendak Donghae akan hal ini. Mendengar lenguhan Donghae membuat libidonya meningkat. Tak puas hanya dengan mengelus, menggenggam dan mengocok, kini Donghae berinisiatif untuk menggunakan lidahnya semi memanjakan kejantanan Eunhyuk yang memanglah ia anggap sebagai hal yang bisa ia lakukan mengganti kebiasaannya yang sering ia lakukan sebelum Eunhyuk memberikan dirinya.

Ia menatap lekat kejantanan Eunhyuk yang kini tengah menegang sempurna, kejantanan putih bersih dengan kerutan halus tersebut terlihat berkedut-kedut memompa sperma dari kedua skortum Eunhyuk, dan mengeluarkan ujung yang memerah dan mengeluarkan cairan yang membuat Donghae menyeringai. Kemudian mengecum pelan ujung kejantanan Eunhyuk, membuat Eunhyuk semakin melenguh. Ia tak mungkin menahan lenguhannya yang akan membuat Donghae marah kepadanya, dan ia tak menginginkan hal itu.

"ah, H-Hae" ucap Eunhyuk menahan lenguhannya ketika Donghae memasukkan kejantanannya ke dalam mulut Donghae, ia merasa malu akan hal ini akan tetapi ia juga tak bisa mengelak akan sensasi Donghae yang hanya membuatnya melenguh merasakan semuanya. Akan tetapi sebelum mereka melakukan semua ini lebih jauh sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka yang membuat Donghae mendengus. Ya, suara baritone dari ponsel Donghae, suara dari panggilan sang kekasih, siapa lagi jika bukan Henry? Mengapa Henry selalu menginterupsi kegiatan mereka? Akan tetapi semua itu sama sekali Donghae hiraukan. Ia sungguh ingin menyelesaikan apa yang ia inginkan dan sesuai dengan keinginannya.

Tut

Tut

Tut

Ngiiiing

"mengapa ia tak mengangkat panggilanku?" geram seorang namja dengan wajah manisnya tengah mendengus sembari kembali mentouch lcd ponselnya dan kembali membuat sambungan dengan seseorang yang kembali tidak mengangkat panggilannya.

"tch, apakah hyung sesibuk itu hingga untuk mengangkat panggilanku saja begitu sulit?" Henry beranjak dari koridor kampusnya menuju ke parkiran hingga kini ia sampai di depan mobilnya yang terparkir rapi disana, sebuah mobil celica berwarna oranye redup begitu sangat megah dan menawan. Akan tetapi bagi Henry ini bukanlah apa-apa mengapa? Karena kini ia tengah dilanda perasaan yang begitu sangat. Ia ingin mendapatkan klarifikasi langsung dari Donghae yang mengatakan kepada orang tuanya jika Donghae menolak, dan membuat Henry tak terima akan hal ini. Ia ingin mengetahui langsung dan ia harus tahu itu langsung dari Donghae. Ini menyebalkan. Mengapa Donghae sama sekali tidak berubag selama ini? Bahkan lebih buruk daripada Donghae yang terdahulu.

"hyung. Tak tahukah kau jika aku begitu menginginkanmu?" Henry bergumam pelan sebelum mobil tersebut melaju menuju kantor Donghae guna mendapatkan klarifikasi langsung dari sang hyung yang begitu Henry inginkan bersanding bersamanya kelak.

"H-Hae, ang-kat telefonmu" Eunhyuk berucap begitu sukar ketika kini Donghae tengah mempermainkan kejantanannya di dalam kuluman Donghae, sedangkan Donghae yang mendengar perintah Eunhyuk yang demikian hanya menggigit dan mencoba sedikit menyiksa Eunhyuk dengan gerakan akan menelan kejantanan Eunhyuk, membuat Eunhyuk semakin melenguh karenanya. Donghae tak ingin jika Eunhyuk begitu menyaratkan sebuah panggilan. Apa yang penting? Itu hanya sebuah panggilan dan Donghae menganggapnya tidak penting.

Sudah enam kali, bahkan ini ketujuh kalinya ponsel Donghae berdering. Akan tetapi sang empu ponsel sama sekali menghiraukannya. Menikmati apa yang sedang ia nikmati lebih penting daripada harus menunda akibat sebuah panggilan dan itu berlaku untuk siapapun itu bagi Donghae.

"mh, enggmh. H-Hae ah" lenguh Eunhyuk semakin meracau kacau ketika Donghae yang semakin mempermainkan kejantanan Eunhyuk di dalam kulumannya. Jilatan, hisapan, telanan, dan gigitan-gigitan kecil bahkan dengan sengaja menggesekkan giginya di permukaan kejantanan Eunhyuk tak luput dari perlakuan Donghae akan kejantanan Eunhyuk, hanya untuk satu tujuan. Demi bisa merasakan sperma Eunhyuk yang selalu mampu membuatnya berpikir jernih. Masuk akalkah? Tetapi apapun bisa membuat pemikiran seseorang menjadi jernih.

Hingga kini, setelah setengah jam berlalu, akhirnya Eunhyuk bisa merasakan ejakulasinya untuk yang ketiga kalinya, dan ketiga kali itupula cairan sperma Eunhyuk tertelan oleh Donghae. Donghae begitu menikmatinya, hingga kini Eunhyuk akan kembali merasakan ejakulasinya yang keempat. Dan merasakan lelah akibat Donghae. Sedangkan Donghae masih setia merangsang kejantanan Eunhyuk agar cepat berejakulasi sesuai dengan harapannya.

"H-Hae, Lee Donghae" lenguh Eunhyuk pada akhir ejakulasinya yang keempat. Dan kembali Donghae menelan semuanya. Menelannya hingga tak tersisa barang sedikitpun. Jijikkah? Mustahil sekali jika berpikir Donghae akan jijik melakukan semua ini, mengingat ini sudah kesekian kalinya bahkan hampi setiap hari Donghae mampu merasakan sperma Eunhyuk. Masihkah pertanyaan jijik pantas ditanyakan? Jawabannya tidak.

"terimakasih" Donghae tersenyum menarik tengkuk Eunhyuk yang hanya bisa bernafas terengah-engah akibat lelah, penampilan mereka tidaklah berantakan, bahkan masih sangat sempurna hanya berbeda dengan celana Eunhyuk yang masih terlepas dan mengekspose kejantanannya yang kembali melemas akibat lelah menegang dan berejakulasi.

"setidaknya aku tak mati hanya karena skortumku yang habis menghasilkan sperma" Eunhyuk bergumam geram akibat perlakuan Donghae sedangkan Donghae tertawa pelan mendengar candaan serius Eunhyuk, Donghae kemudian membaringkan Eunhyuk di pundaknya sembari mengarahkan Eunhyuk agar duduk dipangkuannya. Ia tersenyum makhlum, merasakan aroma khas Eunhyuk yang begitu membuatnya terjerat.

"kau lelah?" Donghae bertanya sembari mengelus surai Eunhyuk yang begitu lembut.

"walaupun aku mengatakan jika aku lelah, tidak akan membuatmu puas hanya dengan sekali berejakulasi bukan? Lagi pula aku harus menyelesaikan beberapa hal dan itu demi kepentinganmu juga" Eunhyuk mulai beranjak dari pangkuan Donghae, dan berdiri di hadapan Donghae karena Donghae yang menahan salah satu tangannya. Donghae hanya tersenyum mendengarkan perkataan Eunhyuk yang begitu sangat benar adanya. Ia kemudian membenahi posisi celana Eunhyuk hingga terlihat begitu rapi dan dibalas sebuah ciuman dikeningnya yang diketahui pelakunya adalah Eunhyuk.

Sedangkan disisi lain, Henry tengah melangkah dengan acuh di sebuah gedung perusahaan, perusahaan Donghae. Ia melangkah seolah perusahaan ini adalah miliknya, ia tak memperhatikan beberapa bawahan Donghae yang menyapanya dengan sopan. Ini terlalu mebuang-buang waktu terlebih ia kini sedang begitu sangat geram dengan perlakuan Donghae kepadanya. Hingga kini ia sampai di sebuah pintu, akan tetapi sebuah perasaan menginterupsinya. Untuk membuka sedikit saja, memberikan celah bagi indera pengelihatannya dapat menangkap apa yang terjadi disana. Dan betapa hal ini semakin membuatnya geram. Ia menunggu, menunggu akan apa yang harus ia lakukan, menunggu dengan sabar dihadapan kedua insan yang kini tak menyadari akan kehadiarannya.

"terimakasih kau selalu berusaha untukku" terang Donghae menarik tangan Eunhyuk hingga menempel kepada mejanya dan ia genggam begitu erat, sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menarik dagu Eunhyuk dan menciumnya tepat dibibir Eunhyuk, membuat Eunhyuk harus memejamkan matanya untuk kesekian kalinya, demi menikmati perlakuan Donghae padanya. Yang tak mereka ketahui jika ada seseorang yang tengah menginterupsi keadaan mereka tanpa mereka sadari itu.

.

.

.

.

.

TBC/END/DELETE?

.

.

.

.

.

AN : sumpah ini mengecewakan, ceritanya ngga nyambng banget. Apa ini? Fanfic hancur macam apa ini? Maaf, ini buruk dan memalukkan. Saya tak tahu harus menulis apa. Saya tak sempat mengedit. Dan saya mohon. Maafkan saya atas ketidak pastian fanfic ini. Saya mohon maaf, akan banyak orang yang akan kecewa dengan hal ini. Tetapi sungguh. Maafkan saya

Sebenarnya fanfic ini chap 3nya lebih pertama selesai daripada chap 2nya, mustahilkah? Saya juga berpikir demikian.

Saya hanya menyarankah, sedikit promosi, tak tepat tempat bukan? Sungguh maafkan saya.

dan bagi yang mengharapkan orang ketiga, mungkin tidak akan ada mengapa? karena akan memecah belah plot, dan saya juga berusaha agar bagaimana jika fanfic ini tanpa pemeran ketiga dipihak Eunhyuk pun fanfic ini akan menarik.

Coba anda membaca fanfic saya yang "Just Like Now (believe me)" pertama baca fanfic tersebut tanpa alunan lagu dan yang kedua baca fanfic tersebut dengan lagu dari "christina Perri – A Thousand Year" dan jika kesannya berbeda, mohon komentarnya nde?

Chap 3 dari fanfic ini telas selesai, dan bagi yang berminat? Up date kilat itu tidak lah masalah.

Terimakasi :D

See you next chap :D