Naruto bukan punya saya, dia milik pak masashi kishimoto.

Chapter 2 : Chance

.

.

"Hah, lelah sekali." Naruto bergumam pelan dengan bahu yang turun sedikit ketika Naruto menghela nafas. Kini dirinya berjalan di koridor dengan beberapa murid yang berjalan dengan arah yang sama dengannya, yaitu sebuah ruangan untuk mengecek jenis sihir setelah acara penyambutan murid baru selesai diadakan, yang mana membuat nya mengantuk ketika mendengar ucapan kepala sekolah yang baginya seperti nada pengantar tidur.

Tentang sihir, sihir terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sihir penciptaan, dimana sang pengguna bisa menciptakan sihir dari ketiadaan dengan elemen tertentu sesuai dengan elemen yang dimiliki sang pengguna. Sihir penciptaan memiliki empat macam elemen dasar, yaitu api, air, angin dan tanah. Dalam beberapa kasus, sihir penciptaan bisa mengabungkan dua elemen untuk menciptakan elemen lain yang lebih kuat.

Jenis kedua adalah sihir penguat, yang mana sihir type ini bisa menguatkan tubuh sang pengguna. Biasanya sihir type ini adalah seorang petarung jarak dekat ataupun seorang pendekar pedang.

Jenis ketiga dari sihir adalah sihir support, yang mana sihir ini bisa digunakan untuk menambah Mana seseorang, baik pengguna maupun orang yang ingin diberikan oleh pengguna.

Namun dalam kasus tertentu, ada juga yang bisa menggunakan dua diantara tiga jenis sihir dan ada juga yang bisa menciptakan sihir tipe lain seperti sihir demonic yang dimiliki oleh bangsawan gremory.

Memikirkan jenis jenis sihir yang pernah dibacanya di salah satu buku sihir membuat Naruto, yang masih berjalan di koridor terdiam sejenak ditempat. Dirinya masih bimbang untuk memasuki ruangan pengecekan tersebut karena dirinya tidak ingin mendengar berita pahit yang sudah dirinya ketahui. Meskipun dirinya sudah tahu bahwa dirinya tidak punya Mana yang menjadi pusat penciptaan sihir namun mendengar hal itu dari orang lain tetap saja membuatnya kecewa sekaligus sedih serta .. Trauma.

Kecewa karena dirinya tidak sama dengan orang lain.

Sebuah rasa sakit yang pedih tiba tiba menyerang dada yang dikatakan orang lain adalah tempat jantung berada. Sebuah perasaan yang sangat tidak mengenakkan bagi dirinya. Namun perasaan sakit itulah yang menjadikannya dapat bertahan hingga kini.

Sedih karena kembali memikirkan hal yang selama ini hendak dirinya singkirkan.

Naruto kembali meneruskan perjalanan nya dengan pandangan kosong kedepan sebelum akhirnya menabrak seseorang karena dirinya tidak melihat jalan didepannya. Ia membungkuk, masih dengan kesadaran yang tertelan oleh pemikirannya. "Maaf." Ia berucap singkat lalu berlalu pergi.

Dan trauma karena selalu diejek karena tidak memiliki sihir.

"Eeh, Naruto-san?" Suara yang pernah dirinya dengar dan terdengar dekat dengannya membuat Naruto terdiam sambil mengedipkan kedua matanya beberapa kali namun tidak merespon.

"Hallo, Naruto-san ?" Sebuah tangan kekar terkibas didepan wajah Naruto. "Naruto-san?" Suara laki laki itu terdengar lagi, namun kali ini terdengar cemas.

'Tangan siapa itu ?.. Eh ? Tangan ?'

"Lieeeee ..." Naruto tersentak lalu menjauh ketika melihat wajah seseorang dekat dengan wajahnya. "Ke-kenapa kau ada disini, Lee-san?" Ia bertanya dengan nada binggung karena masih belum sadar sepenuhnya.

"Harusnya aku yang bertanya itu, Naruto-san!" Lee berkacak pinggang sambil memandang tidak percaya pada Naruto. "Sebenarnya apa yang kau lamunkan Naruto-san ? Tahu gak, aku sampai cemas kau tahu."

"A-ah!" Naruto mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Matanya melirik ke sana kemari untuk menghindari tatapan menyelidik dari Lee. "Soal itu.." Mata Naruto bergerak kemari untuk menghindari tatapan Lee sebelum menghela nafas pelan sambil tersenyum, senyuman yang seolah kehilangan sesuatu yang berharga. "Tidak apa-apa Lee. Aku baik baik saja, terima kasih sudah mencemaskan ku."

Meskipun Naruto berkata tidak apa apa, namun Lee tahu bahwa Naruto sedang memiliki masalah. Namun Lee tersenyum maklum. Tidak masalah kalau Naruto masih belum mau menceritakan masalahnya karena bagaimanapun dirinya baru tadi pagi bertemu.

"Oh iya, Naruto-san !" Lee berseru dengan mata berbinar binar, mengabaikan tatapan jijik dari murid perempuan yang berjalan melewati nya. "Aku tadi habis memeriksa jenis sihir ku. Dan kau tahu apa yang terjadi, Naruto-san?"

Naruto menyergitkan dahinya pertanda binggung. "Apa yang terjadi ?" Ia kemudian bertanya meskipun dirinya telah memiliki beberapa jawaban yang mungkin tepat dengan pertanyaan Lee.

'Tidak mungkin kan itu terjadi ? Karena tadi Lee-san berlari, bukan menaiki sapu terbang !'

"Aku memiliki tipe sihir penguat, Naruto-san!" Nada yang digunakan Lee terdengar sangat bahagia. "Keren bukan, Naruto-san?!" Lee tersenyum, menunjukkan dereten gigi putihnya yang berkilauan.

Naruto terdiam, tidak menjawab selama beberapa detik yang membuat Lee cemas. Apakah dia menyakiti Naruto ? Itulah yang ada dipikirannya. Namun senyum yang tercipta dari Naruto membuat segala pemikirannya salah. Setidaknya begitu. "Woah, bagus Lee-san ! Kamu mungkin akan jadi petarung terkuat Lee-san !"

Mendengar perkataan itu membuat Lee menangis terharu yang tentu saja membuat murid yang melewati mereka memandang jijik kearah Lee. "Hi-hiks, Naruto-san. Kamu ba-baik Hiks sekali !"

"Le- Lee-san ?" Naruto mundur satu langkah ketika melihat pemandangan yang membuat orang tak nyaman. Hal itu berlaku terhadap Naruto sehingga membuatnya memikirkan cara untuk menghindari keadaan tersebut. Dan sebuah ide tercetus dikepalanya. "A-ah maaf Lee-san, aku harus melakukan check up tipe sihir."

Naruto berjalan kesamping kiri Lee lalu berjalan pergi, namun ketika beberapa langkah melewati Lee yang telah berbalik kearahnya, dirinya berbalik lalu melambaikan tangan dengan senyum yang terlukis dibibirnya. "Sampai jumpa, Lee-san. Semoga hari mu menyenangkan !" Dan ia berbalik lalu berjalan menuju kearah pengecekan tipe sihir.

Lee melambaikan tangan kanannya dengan senyuman lebar terpampang diwajahnya. "Kamu juga, Naruto-san!" Dan Lee berbalik lalu berjalan pergi.

Senyuman Naruto berubah menjadi senyuman miris. Tatapannya yang tadi hangat berubah menjadi sedih. Sungguh, ketika dirinya mendengar ucapan Lee tadi membuatnya tersadar akan satu hal.

Apapun yang terjadi, dirinya akan sendiri.

Dimanapun itu, kapanpun itu.

'Kupikir kamu sama dengan ku, Lee. Kupikir kita bisa berbagi rasa sakit yang sama. Namun pemikiran hanyalah pemikiran. Nyatanya kamu berbeda denganku.'

.

.

.

Naruto keluar dari ruangan pengecekan tipe sihir dengan helaan nafas yang terdengar. Dia kemudian berjalan pergi untuk menuju ke arah kelas yang akan menjadi ruangannya untuk belajar.

Sepanjang perjalanan, Naruto terus memikirkan perkataan dari Sensei bernama 'Ariama Kyuudo', nama yang Naruto dapat ketika melihat tag name di dada sensei tersebut.

.

.

Flash back

'Aneh, biasanya setiap siswa punya jenis sihir didalam tubuh mereka," Ariama sensei menyergitkan alisnya ketika melihat layar komputer yang berjarak beberapa centimeter darinya. Ia kemudian berdiri kemudian melangkah menuju ke sisi kanan dari tempat Naruto terduduk di sebuah kursi dengan beberapa kabel yang menempel di kedua telapak tangan, dada kiri dan kanan lalu sebuah helm yang menempel dikepalanya.

"Apa mungkin alatnya rusak ya ?" Ariama menarik sebuah alat dengan kabel yang tersambung ke tubuh Naruto lalu melihat setiap inchi dari mesin tersebut. "MB masih berfungsi, CPU masih berjalan dengan normal lalu kabel pendeteksi masih berfungsi. Berarti tidak ada yang rusak." Ariama bertambah binggung mendengar fakta tersebut sebelum suara Naruto menyadarkannya.

"Ada apa, Sensei ?" Naruto memandang Ariama binggung namun otaknya membuat beberapa spekulasi tentang keadaan sekarang. Namun, spekulasi tanpa fakta hanyalah opini jadinya Naruto bertanya kepada yang bersangkutan ketika mendengar nada frustasi di sampingnya.

"Apa kamu.. " Lidah Ariama mendadak keluh sehingga ucapannya tidak selesai. Namun sesuatu hal haruslah dikatakan karena mau disembunyikan bagaimanapun tetap akan terungkap."Apa kamu tidak punya Mana dalam tubuh yang menjadi bahan bakar pembuatan sihir?"

Naruto tersenyum tipis mendengarnya. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan terucap sehingga dirinya kini bisa lebih sabar mendengarnya meski fakta bahwa rasa sakit itu masih ada. "Kau benar, sensei."

Ariama tersenyum sedih ketika mendengarnya. Seseorang yang tidak bisa memakai sihir atau dengan kata lain tidak memiliki Mana dalam tubuhnya adalah seseorang yang paling menyedihkan. Bukan nya apa, namun segala hal didunia ini dilakukan dengan sihir, baik itu transportasi, pertempuran maupun dalam hal perekonomian. Dan fakta bahwa dirimu akan diejek bahkan lebih buruk seperti dicaci maki dan dibenci karena tidak memiliki Mana membuat Arima memandang sedih pada anak yang duduk dikursi pemeriksaan.

"Aku harap engkau sabar menghadapi cobaan itu. " Ucapan Ariama sangatlah ambigu namun Naruto mengerti maksud dari perkataan dari Ariama.

"Aku mengerti hal itu, sensei." Dan Naruto beranjak dari duduknya setelah melepas kabel yang berada ditubuhnya. "Kalau begitu, saya pamit dulu, sensei!" Ia kembali memakai baju yang tergeletak di meja disebelah komputer milik Ariama sebelum berjalan pergi dari ruangan tersebut.

"Namun aku tahu suatu metode," pernyataan ambigu lagi lagi dikeluarkan Ariama yang membuat Naruto terdiam dengan tangan yang berada beberapa centimeter dari knop pintu.

Hening beberapa detik sebelum akhirnya di pecahkan oleh suara Ariama. "Metode yang dapat membuat mu memiliki Mana namun metode tersebut sangatlah berbahaya." Naruto membalikkan tubuhnya cepat ketika mendengarnya.

"Cepat katakan padaku bagaimana cara metode tersebut bekerja!" Naruto berkata dengan cepat dan dengan nada menuntut. Tentu saja mendengar hal yang mustahil kau dapatkan menjadi tidak mustahil kau dapatkan adalah hal yang paling mengembirakan. Meski begitulah yang terjadi pada Naruto.

Ariama yang saat ini sedang mengetikkan sesuatu pada komputer tiba tiba mengeser kursi beroda miliknya kesamping kiri. "Lihatlah." Ariama menunjukkan sesuatu dengan mengerakkan kepalanya kearah komputer yang mana dituruti oleh Naruto dengan berjalan mendekat.

Metode pengambilan paksa Mana

Tulisan dilayar komputer itu membuat mata Naruto membola. Naruto tersenyum senang setelahnya.

"Akan aku lakukan !"

.

.

.

Hi, back with me again.

Ah, baru beberapa jam aku mempublish kan chapter pertama namun karena ide yang meledak dalam kepala membuatku menulis tanpa henti.

Apakah cerita diatas menarik ? Kalau iya tolong di comment, ofc aku butuh komentar yang dapat membuatku menyadari hal yang salah dalam ceritaku sehingga bisa kuperbaiki.

Lalu keuntungan kalian adalah kalian dapat membaca cerita yang bagus dari saya maupun author lain.

Saya sangat berterima kasih kepada anda Author-san yang menawarkan bantuan anda di PM tadi. Dan maaf saya tidak bisa memberitahu nama mu author-san karena saya tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun saya sangat sangat berterima kasih atas bantuan yang engkau berikan kepada saya.

Dan soal menambah bold dalam kata -san atau kata yang ambigu lainnya yang menjadi saran anda, saya mohon maaf untuk itu. Saya tidak bisa lakukan karena akan aneh ketika membacanya.

Contoh,

Lebih baik mana, antara :

Lee-san, dengan

Lee-san ?

Kalau memang lebih baik pake Bold maka saya akan memakainya.

Comment anda yang membangun akan saya hargai Reader-san.

Kalau soal pair, hm saya sudah mengantongi beberapa list.

Nah menurut reader-san, mau mini harem (2-4pasangan) atau single pair ?

Alamchengz out.