Chapter 2

This Is So Unfair

winter and bunnytofu

T for this chapter

EXO Crack Couple

Warn; boys love


"Kim Jongin, jadilah kekasihku."

.


.

"Hyung, kau mengenal orang itu tidak?"

Donghae menoleh ke sumber suara, ia menatap Sehun bingung. Tak biasanya Sehun menanyakan tentang seseorang. "Hun-ah, kau tersengat listrik lagi? Berapa watt kali ini?" Penuturan dari Donghae membuatnya sedikit kesal. Dan itu juga bukan jawaban yan Sehun inginkan. "Aku hanya bercanda adikku, kau bertanya apa tadi?" Sehun mendengus, ia tidak menjawab pertanyaan Donghae dan langsung saja jalan mendahuluinya.

Donghae yang melihat kelakuan aneh Sehun itu hanya tersenyum. Dia rasa adik kesayangannya ini sedang dilanda suatu perasaan yang baru untuknya. Donghae menyusulnya kemudian ia menepuk pundak Sehun pelan, "Maksudmu Kim Jongin itu kan? Aku tau kau menyukainya. Menurutku, segeralah kau katakan perasaanmu itu padanya. Ku dengar dari si ketua club drama itu, tak lama lagi ia akan pindah dari universitas ini." Jelas Donghae panjang lebar. "Banyak orang mengatakan ia memang tak terlihat menaruh perasaan spesial pada orang-orang yang ia kenal. Tapi banyak juga yang mengincarnya untuk di jadikan kekasih. Seperti Luhan dari fakultas olahraga. Beberapa kali aku melihat Luhan mengobrol dengannya dan mencari tau tentangnya." lanjut Donghae.

Sehun menelaah setiap perkataan Donghae. Ia berpikir mungkin perkataan Donghae ada benarnya juga. Sehun harus segera menyatakan rasa suka- ah, mungkin cintanya itu. "Oh ya, malam ini club drama mengadakan pesta keberhasilan mereka di restoran yang berada dua blok ke kanan dari arah rumahmu. Mungkin kau bisa menunggunya di dekat situ."

"Baik hyung, terima kasih banyak atas semua info yang kau berikan."

"Dan jangan lupa kau bujuk Jongin untuk tidak pindah! Si ketua club itu selalu saja berceloteh karena tidak rela kalau Kim Jongin pindah."

"Ya, akan aku usahakan hyung. Doakan aku."

.


.

Pria itu terkejut bukan main, benar-benar baru kali ini ada seseorang yang menyatakan cinta-atau mungkin masih obsesi- padanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi Oh Sehun lah yang menyatakan hal tersebut pada Jongin.

"Aku tau ini terlalu cepat, yang kurasakan ini bukan obsesi. Dan aku-"

"Aku menerimanya, aku mau jadi kekasihmu."

Sehun menatap Jongin tak percaya. Ia pikir ini adalah sebuah mimpi. Sehun mengira kalau Jongin ingin bercanda atau bermain-main dengan perasaannya. Sehun menatap Jongin, "Kau yakin?" tanya Sehun pelan. Yang ditanya hanya mengangguk, kemudian ia menjawab, "Untuk saat ini aku memang tidak menaruh rasa padamu. Tapi aku berjanji akan mencoba menyukaimu mulai dari sekarang." Jongin tersenyum manis. Baru kali ini Sehun melihatnya tersenyum seperti ini. Yang Sehun ketahui Jongin hanya tersenyum seadanya.

Saat itu, Sehun merasa sangat-sangat bahagia sampai tanpa sadar ia memeluk Jongin dengan erat. Jongin yang merasa kaget karena perlakuan tiba-tiba itu hanya dapat membalas pelukan Sehun.

Setelah berpelukan mereka saling menatap satu sama lain. Menikmati setiap momen yang baru saja terjadi sampai Jongin yang teringat pada sesuatu. Jongin merogoh saku celananya. Sehun yang bingung hanya bisa menatapnya penasaran. Saat Jongin mengeluarkan ponselnya.

"Apa ini pesan darimu? Maaf aku tidak membalasnya, kukira itu seseorang yang salah mengirim pesan."

Sehun membaca pesan yang tertera di ponsel Jongin. '...Aku menyukaimu sejak lama,...' Sehun menatap rangkaian kata tersebut sedikit lama. 'Jadi ada seseorang yang lebih dulu menyatakan perasaannya. Tapi Jongin bilang ia tidak membalas pesan itu?'. Jongin menunggu jawaban Sehun. Jongin pikir Sehun terlalu lama membacanya atau malu untuk mengakui kalau itu dirinya.

"Sehun, tadi aku bertanya apa ini pesan darimu?". Sehun menggeleng, "Itu bukan dariku. Aku tidak menyukaimu dari lama. Kau tau kan kita baru berkenalan saat selesai drama tadi siang?" Sehun sedikit menjeda, "Dan kurasa aku tau siapa yang mengirim pesan itu." Jongin kembali membaca pesannya. Benar juga kata Sehun pikirnya. Ini bukan pesan darinya. Lalu ini pesan dari siapa?

"Ini pesan dari Luhan."

Penuturan Sehun seakan menjawab pertanyaan yang baru saja Jongin tanyakan sendiri itu. "Kau tau dari mana?" tanya Jongin penasaran. "Itu mudah. Apa kau tidak merasa kalau Luhan selalu berada didekatmu? Hyungku bilang kalau Luhan memang menyuakimu sejak lama. Dan dari info lain yang kudapatkan, Luhan banyak mencari tau tentang dirimu. Mungkin saja ia mengetahui nomer ponselmu untuk mengirim pesan ini." jelasnya. Jongin yang mendengarnya hanya manggut-manggut.

"Jongin, sebaiknya aku pulang dulu. Ini sudah terlalu larut untuk berkunjung. Dan-"

Sehun mengecup kening Jongin sekilas.

"-terima kasih telah menjadi kekasihku."

Sehun segera meninggalkan Jongin, tak lupa ia melambaikan tangannya pada Jongin. Sedangkan Jongin hanya menatapnya tak percaya. Bagaimana tidak? Baru kali ini ia di cium seorang pria-meski hanya di keningnya- yang baru saja menjadi kekasihnya itu. Tak mau berlama-lama di luar, akhirnya Jongin masuk ke dalam flat-nya.

Jongin merebahkan tubuhnya di samping sang adik yang ternyata sudah tidur pulas. Kejadian yang baru saja ia alami terus berulang di otaknya. Banyak pertanyaan yang sempat muncul untuk Sehun. Mulai dari mengapa Sehun bisa menyukainya, lalu mengapa Sehun terlihat serius berhubungan dengannya, dan masih banyak lagi. Dan bodohnya Jongin baru menyadari kalau besok adalah hari terakhirnya di universitas itu. Tadi ia juga mengatakan akan berusaha menyukai Sehun.

'Bodoh.' rutuknya. Apa kata Sehun nanti kalau ia tidak di perbolehkan untuk tinggal disini lebih lama. Apa Jongin harus membujuk kedua orangtuanya hanya demi Sehun?

'Tidak salah kan kalau dicoba?'

Ya, besok Jongin akan berusaha membujuk kedua orangtuanya untuk memperbolehkannya tinggal di flat kecil ini lebih lama lagi. Toh Jongin sudah bisa hidup mandiri tanpa asuhan lebih dari orangtuanya.

'Tapi kenapa aku begitu bersemangat membujuk orangtuaku demi Sehun...?'

'Apa aku mulai menyukainya?'

'Apa ini yang dimaksud dengan cinta pada pandangan pertama?'

'Aish ada apa dengan diriku?'

Jongin terus saja menanyai tentang dirinya sampai rasa kantuk itu pun datang. Dan pada akhirnya Jongin tidur menyusul adiknya ke alam mimpi.

.


.

Bagian bumi yang Jongin tempati sudah berputar kembali menghadap matahari. Tak lupa sinar matahari yang hangat masuk melalui celah-celah jendela Jongin yang masih tertutup itu. Panca indra Jongin yang memang tidak bisa menutup jika ada sedikit cahaya akhirnya terpaksa membuka. Jujur, ia masih sangat-sangat mengantuk. Perlahan tapi pasti ia bangun dari ranjang empuk miliknya. Jongin mengusap matanya sebentar agar dapat melihat lebih jelas lalu ia bergegas menuju kamar mandi. Hari ia tidak boleh terlambat masuk, pikirnya.

Omong-omong tentang masuk, ia jadi ingat masalah kepindahannya hari ini. Ia bimbang, harus kah ia pindah mengikuti orang tuanya. Atau membujuk orang tuanya agar dapat tinggal lebih lama disini. 'Aku akan menelfon orang tuaku setelah ini' batin Jongin.

Setelah selesai mandi dan merapihkan diri, Jongin segera mengambil ponselnya. Ia mengetik beberapa nomor di ponselnya. Nomor tersebut adalah nomor ibunya.

"Halo, ibu?"

"Jongin," ucap ibunya di seberang sana "bagaimana? Sudah membereskan segala kebutuhan dan barang-barangmu?"

Jongin menjeda panggilannya lalu ia mengedarkan pandangannya ke seluruh flat-nya. 'Hampir semuanya sudah aku bereskan...'. "Aku belum sepenuhnya membereskan semua barang bu, maafkan aku." Ucapnya sesal.

"Ah sepertinya kau memang tidak berniat untuk ikut pindah ya?"

Jongin menautkan alisnya bingung, "Tentu aku ingin ikut pindah bu, hanya saja..."

"Hanya saja kau tidak mau membuat sedih teman-temanmu, benar bukan?" sambung ibunya. Sungguh, mengapa ibunya selalu bisa menebak apa yang akan Jongin katakan seperti halnya ia sedang berbicara dengan adiknya, Taeoh. "Bu, aku sangat tidak ingin mengecewakan ibu hanya karena aku menolak kepindahan kita."

"Tenang Jongin-ah, ibu tidak kecewa padamu. Ayahmu pun begitu," Jongin hanya diam mendengarkan ibunya yang sedang berbicara itu. "jika kau tidak ingin ikut pindah tidak apa, lagi pula kau sudah terbiasa hidup sendiri tanpa kami."

Jongin tersenyum lega mendengarnya, jadi ia tidak perlu bersusah payah membujuk orang tuanya. Buktinya sang ibu mau melepaskannya saat ini untuk tetap tinggal disini. "Terima kasih bu, aku sangat sayang padamu dan ayah."

"Kami juga menyayangimu Jongin. Oh ya, tolong bangunkan Taeoh, ibu tau dia belum bangun dari tidurnya. Kami akan sampai beberapa saat lagi." Ucap sang ibu sambil sedikit tertawa mengenai adiknya yang sangat suka tidur itu.

"Tentu bu, akan aku bangunkan sekarang. Aku akan menutup sambungannya." Setelah berucap, Jongin benar benar mematikan sambungan telefonnya. Jongin beranjak menuju adiknya yang sedang tidur itu. Ia menatap sayang pada adiknya. Apa kata adiknya nanti kalau nyatanya ia tak ikut pindah bersama orang tuanya.

"Taeoh-ya ayo bangun, sebentar lagi ayah dan ibu akan datang."

"Uuh sebentar lagi hyung~" igau sang adik yang kemudian kembali menarik selimutnya. 'Sudah kuduga' pikir Jongin kemudian ia segera mengangkat adiknya itu-beserta selimutnya- menuju kamar mandi. Taeoh yang masih dalam keadaan setengah bangun itu merengek pada sang kakak, "Aku kan sudah bilang sebentar lagi. Kenapa hyung tetap mengankatku?" Jongin yang mendengarnya mendesah pelan, kemudian ia menurunkan adiknya di kamar mandi. "Sebanyak apapun aku membangunkanmu dengan cara seperti itu, kau tidak akan pernah bangun." Katanya lalu meninggalkan Taeoh dari kamar mandi. Dan tak lupa juga Jongin meneriakinya, "Jangan mandi terlalu lama. Ayah dan ibu akan datang tiga puluh menit lagi."

.


.

Benar saja, setelah Jongin dan Taeoh sarapan bersama, kedua orang tua mereka pun datang. Jongin yang baru saja mencuci piring langsung bergegas membukakan pintu. "Ayah, ibu, masuklah." ucap Jongin senang. Ayah dan ibunya Jongin sedikit terpukau saat masuk dan melihat flat kecil milik Jongin yang bersih dan rapih. Mereka kira semua anak laki-laki itu sama saja. Memiliki tempat yang sedikit berantakan, kotor atau yang lainnnya. Tapi sepertinya Jongin bukan salah satu dari sekian banyak anak yang seperti itu. Jongin nyatanya suka bersih-bersih.

"Kau benar-benar sayang pada tempat ini ya, Jongin. Tempat ini sangat bersih." Puji tuan Kim, ayah Jongin. Jongin yang menerima pujian itu hanya tersenyum malu, "Tentu aku sayang pada tempat ini. Itu karena kau yang memberikannya." Balas Jongin. "Kurasa itu sebanding dengan permohonanmu waktu itu, Jongin. Dimana ayahmu saat itu menolak untuk menyewa tempat ini, takut-takut kau tidak bisa mengurusnya dengan benar," ucap sang ibu yang sangat bangga pada Jongin, anaknya. "tapi kau membuktikannya sekarang. Kau benar-benar bisa merawat tempat ini." Tambahnya.

"Sepertinya ada yang terlalu sibuk memuji seseorang." Semua menoleh saat kalimat itu terlontar dari mulut sang adik. Taeoh menyilangkan kedua tangannya dan bibirnya mengerucut imut. Ketiga orang itu tertawa melihat aksi kesal anak termuda mereka. Jongin merangkul adiknya, "Apakah aku perlu memujimu juga?" tanya Jongin yang dibalas dengan anggukan semangat oleh adiknya. "Semester ini kau juara kelas kan? Selamat untukmu adikku sayang." Jongin berucap sambil mengusak rambut adiknya itu.

Setelahnya, keluarga kecil itu menyempatkan diri untuk berbincang sebentar. Mengingat kalau Jongin tidak ikut pindah. Awalnya Taeoh sangat-sangat tidak setuju karena kakak kesayangannya itu tidak ikut pindah. Ia terus saja merengek pada ibunya dan tetap bersikeras ingin tinggal bersama Jongin di flat-nya. Sampai akhirnya sang ayah membuat perjanjian dengan Taeoh, 'Kau boleh tinggal bersama kakakmu setelah lulus sekolah menengah atas. Dan ayah harap, kau bisa satu universitas dengan Jongin, kakakmu.'

.


.

Jongin mengantarkan Taeoh dan kedua orang tuanya menuju mobil di parkiran flat-nya itu. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Taeoh terus menggembungkan pipinya. Terlihat ia benar-benar tidak ingin meninggalkan Jongin. Tentu dirinya juga merasa sedih karena tidak lagi bisa tidur berbarengan dengan adiknya itu.

"Ingat Jongin, kau harus sehat selalu. Jika ada waktu luang mampir lah ke rumah." Kata sang ibu yang kemudian memeluk anaknya itu. Jongin mengiyakan kata ibunya tersebut, ia juga bilang akhir tahun nanti akan berkujung karena sedang liburan. Sekilas Jongin melihat wajah masam adiknya yang berada di dalam mobil lalu ia mendekati adiknya itu. Ia mengelus kepala adiknya sayang, "Aku telah berjanji pada ibu untuk berkunjung akhir tahun nanti. Dan kau tidak boleh terus seperti ini Taeoh-ya. Kita juga masih bisa berbincang lewat telefon. So, jangan sedih lagi, oke?" Taeoh yang mendengarnya mengangguk antusias dan setelah itu juga keluarga Jongin pergi meninggalkannya dari lingkungan flat tersebut. Tak lupa Jongin melambaikan tangan ke arah mereka.

.


.

Hari ini Sehun berniat menjemput kekasih barunya. Penampilannya sangatlah rapih hari ini, sungguh tidak biasa bagi orang-orang yang mengenal Sehun. Biasanya Sehun hanya berpenampilan seadanya saat pergi ke kampus. 'Ini memang bukan kencan, tapi aku harus tetap terlihat memukau di depannya' pikir Sehun.

Omong-omong tentang pertemuan pertama setelah menyatakan rasa cintanya, Sehun baru ingat kalau ini adalah hari terakhir Jongin tinggal di daerah ini. Bodoh, pikirnya. Mengapa ia bisa lupa kalau hari ini harusnya ia membujuk Jongin untuk tidak ikut pindah bersama keluarganya.

'Bodoh kau Oh Sehun...'

Sehun yang baru sadar tersebut langsung pergi terbirit-birit keluar rumahnya tanpa mengucapkan salam pada orang tuanya yang kebetulan akan berangkat kerja pagi ini. Orang tuanya yang melihat Sehun lari secepat itu-seperti terburu-buru- saling menatap bingung. Baru kali ini Sehun pergi keluar secepat itu, pikir mereka.

Untung saja pagi ini jalanan cukup sepi. Padahal, jam sudah menunjukan jam delapan lebih dua puluh tiga menit. Sehun masih terfokus pada tujuannya. Tujuannya sekarang adalah flat milik kekasihnya, Jongin.

Sehun hanya membutuhkan waktu sekitar enam menit untuk sampai ke flat milik Jongin. Saat ia baru saja memasuki parkiran flat tersebut, Sehun melihat kekasih barunya itu sedang melambai-lambaikan tangan ke arah sebuah mobil. Sehun terdiam sejenak. Ia sempat berpikir, apa jangan-jangan mobil lah yang nantinya akan membawa Jongin pergi. Atau mobil itu baru saja membawa barang-barang milik Jongin.

Banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Mau tak mau Sehun segera berlari lagi menuju Jongin.

"Kim Jongin!" teriaknya dari kejauhan. Jongin yang merasa di panggil pun menoleh ke arah suara tersebut. Tak disangka Jongin mendapatkan Sehun yang terlihat seperti orang yang sedang dikejar setan, dan itu aneh menurutnya.

Sehun yang sedang menetralkan nafasnya terlihat sexy di mata Jongin. Karena ia baru saja berlari lagi untuk menghampirinya. Sehun menyeka peluh yang berada di sekitar area wajahnya. Sesekali Sehun merunduk dan mengeluh capek karena ulahnya sendiri.

Jongin ingin sekali bertanya, 'Apakah kau habis berolahraga?' tapi pertanyaan itu agak aneh, melihat Sehun yang berpakaian rapih seperti seseorang yang akan pergi ke kampus. "Sehun-ah, a-ada apa?" Hanya itu yang bisa Jongin tanyakan.

Pria yang masih menunduk itu menggeleng pelan. Kemudian ia malah kembali melontarkan pertanyaan, "Bisakah kita berbicara di dalam ruangan saja?"

.


.

Si tuan rumah dengan telaten menyiapkan segelas minuman dingin. Kemudian sang tamu, Sehun, mulai menceritakan maksud kedatangannya pagi ini.

"Oh jadi seperti itu. Tanpa kau yang meminta pun aku sebenarnya tidak ingin dan belum siap pindah dari tempat ini." Jelas Jongin. Sehun yang mendengar perkataan Jongin itu akhirnya tersenyum lega. Jongin tidak jadi pindah dan berarti hubungannya dengan Jongin akan berlanjut terus.

"Apa alasanmu untuk tidak ikut pindah bersama keluargamu?"

"Hm.. mungkin karena aku masih ingin menuntut ilmu di universitas itu dan-"

Sehun mengerenyitkan dahinya bingung, "Dan apa?"

"Dan aku telah berjanji akan mencoba menyukaimu."

Sehun tertegun, pernyataan tadi seakan-akan telah membuat Jongin percaya sepenuhnya pada Sehun. Sepertinya pria itu memang ingin menjalani hubungan khusus yang seirus dengan Sehun. Tanpa sadar, Sehun bergerak mendekat Jongin kemudian ia memeluknya erat. Sehun melontarkan banyak ucapan terima kasih pada Jongin. Sedangkan Jongin, ia hanya dapat menerima pelukan hangat dari Sehun dengan senyuman sambil sesekali mengusap pelan punggung tegap milik Sehun.

.


.

"Oh lihat lah Hun-ah, aura aneh apa yang kau bawa pagi ini?"

Donghae baru saja mencibir Sehun. Masih pagi seperti ini Sehun sudah tersenyum tidak jelas di depannya. Di tambah lagi dengan tangannya yang sibuk mengelus-elus pipi putih mulusnya itu. Sampai-sampai, cibiran Donghae yang biasanya akan di semprot balik oleh Sehun malah di abaikan. "Aku sedang bahagia hyung, tolong jangan ganggu aku." Ucap Sehun baik-baik.

'Anak ini sudah gila' batin Donghae. Donghae pikir, Jongin benar-benar hebat. Hanya karena peryataan cintanya itu di terima oleh Jongin-tebakan Donghae- Sehun langsung berubah sedrastis ini. Sihir macam apa yang di pakai Jongin sehingga banyak sekali pemuda-pemudi yang sudi mendekatinya. Ya, meski hanya Sehun yang berani sampai tahap 'menyatakan perasaan'-nya.

"Hyung kau tau? Tadi Jongin mencium pipiku tepat disaat aku baru saja mengatarnya ke depan gedung fakultasnya." Sehun berucap sambil terus mengelus pipi mulusnya itu. Yang di ajak bicara hanya berdecih jijik-Donghae sedikit malu karena tingkah aneh Sehun- padanya. "Baru dicium di pipi saja sudah seperti itu. Dasar anak muda."

"Jadi kau sudah tua hyung?"

"Apa maksud-"

"Memangnya hyung sudah melakukan hal yang lebih dari itu? Kekasih saja kau tidak punya. Huh, sombong sekali." Oh, sepertinya si mulut pedas Oh Sehun telah kembali. Donghae merasa lega.

.


.

Kelas yang Jongin hadiri sudah selesai. Ponselnya bergetar dan berisikan pesan 'Tunggu aku di kantin fakultasmu. Aku akan menjemputmu disana.' Jongin tersenyum, pesan itu dari Sehun rupanya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Jongin segera pergi menuju kantin yang Sehun maksud.

"Kim Jongin kemarilah!"

Sebuah suara tertangkap oleh pendengaran Jongin. Dan itu adalah suara si ketua club, Junmyeon. Disana juga terlihat beberapa anggota yang sedang berkumpul bersama. Dengan senyuman yang mengembang lebar, Jongin menghampiri mereka semua lalu duduk tepat di sebelah si ketua. Baru saja Jongin ingin berbicara, Junmyeon sudah memotongnya.

"Ini adalah hari terakhir Jongin di fakultas ini, dan universitas ini. Kemarin Jongin bilang akan mengucapkan salam perpisahan untuk kalian semua hari ini." Ucap Junmyeon sedih. Semua anggota mendesah kecewa, ada pula yang hampir saja menangis karena perkataan Junmyeon. "Sungguh? Ya Jongin-ah, kenapa mendadak sih?" keluh Junhee dengan sedikit terisak. Hidungnya saja sudah terlihat memerah karena menahan tangisan.

Sungguh Jongin ingin tertawa terbahak-bahak. 'Kemana wajah tangisan yang memukau kalian saat di panggung huh?' batin Jongin sambil tersenyum-senyum. "Aish Kim Jongin! Apa yang lucu? Kumohon jangan pergi. Kau akan kuperbolehkan memanggil Juniel asal jangan pergi~"

"Jadi kalau aku tidak pergi aku bebas memanggilmu Juniel, begitu?" Junhee atau Juniel-Jongin bilang itu panggilan kesayangan untuknya- itu hanya dapat mengangguk lemah. Cukup Jongin saja yang boleh memanggilnya seperti itu. Karena menurutnya nama Juniel itu sangatlah aneh di pendengaran Junhee.

"Baiklah aku tidak jadi pergi."

"APA?!" teriak seluruh anggota sampai-sampai sang ketua juga ikut berteriak. Sedangkan Jongin? Ah, dia hanya duduk sambil bersandar manis pada sandaran kursi dan tak sengaja matanya itu menangkap sosok Sehun yang sedang berjalan mendekatinya.

"Jongin, apa maksud dari 'baiklah aku tidak jadi pergi' itu, cepat katakan!"

"Ya maksudnya aku memang tidak jadi pergi, bukankah itu susunan kalimat tunggal yang benar?"

"Ya- aish... masksudku, apa alasanmu tidak jadi pergi? Jelas-jelas kemarin malam kau bilang padaku akan mempersiapkan ucapan perpisahan?"

"Alasan ya..." kata Jongin pelan sambil kembali melihat Sehun yang kini sudah berdiri disampingnya. Para anggota melihat kedatangan Sehun dengan pandangan bertanya-tanya. Entah ide aneh apa tiba-tiba saja terlintas dipikirannya itu. Jongin bangun dari duduknya lalu menarik Sehun dalam pelukannya.

"Inilah alasanku tidak jadi pindah, Oh Sehun dan aku menjalin sebuah hubungan."


To be continued.