Power of Love
.
.
.
Uchiha Itachi, Sabaku no Temari
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR ATAU ADEGAN DI DALAMNYA, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN! DLDR!
Selamat Membaca!
oOo
Itachi menolehkan kepalanya. Dia terkejut melihat salah satu temannya ada disini.
"Yahiko? Apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku mengantarkan mereka membeli es krim. Merepotkan sekali."
Memandang Yahiko dengan pandangan tidak percaya. Otaknya yang jenius berfikir.
"Maksudku, siapa yang sakit?"
"Oh." Yahiko menyadari pertanyaan Itachi. "Ibu mereka bekerja disini."
"Istrimu?"
"Yah, sebentar lagi." Yahiko menggaruk pipinya yang memerah.
"Paman Yahiko! Aku ingin es krim itu!" Itazuna menunjuk es krim yang dia inginkan.
"Bersabarlah, dasar anak nakal!" Yahiko memandang Itachi. "Aku senang bertemu denganmu, sampai jumpa, Itachi."
Itachi tersenyum dan memandang interaksi ketiganya. Yahiko begitu menyatu dengan Itazuna maupun Itazura, dia merasakan dadanya terasa sesak. Kenapa dadanya terasa sesak?
Itazura menolehkan kepalanya kearahnya dan merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak. Mata itu seperti mata miliknya. Tajam, tetapi bercahaya dan menyenangkan. Dia yakin, Itazura sebenarnya adalah sosok yang ramah. Dia seperti melihat duplikat dirinya.
Tidak ingin memikirkan apapun, dia membayar makanannya dan berlalu menuju kamar rawat ibunya.
Melangkahkan kakinya, Itachi bisa mendengar suara ibunya berbincang dengan seorang wanita. Terdengar sangat akrab dan membuat Itachi penasaran. Saat membuka pintu ruang rawat ibunya, dia hanya bisa terpaku di tempatnya.
"Oh, Itachi." Mikoto tersenyum. "Temari-chan datang untuk mengambil sampel darahku."
Temari memandang Itachi, sekilas dia bisa melihat keterkejutan di wajah Temari. Tetapi, Temari dengan cepat menguasai keadaannya.
"Lama tidak berjumpa, Itachi-kun." Temari tersenyum seadanya. "Bibi, sebaiknya aku kembali bekerja. Rasanya tidak baik terlalu lama disini, bibi."
"Iya, terima kasih banyak, Temari-chan."
Itachi hanya terdiam ketika Temari melewatinya begitu saja. Dia memandangi ibunya. Mendudukan dirinya di salah satu kursi, dia membiarkan ibunya tenggelam dalam buku yang dibacanya.
Melihat Temari membuatnya terkejut, dia sama sekali tidak menyangka jika Temari akan datang kembali. Dia pikir, calon menantu yang dikatakan ibunya kemarin bukan Temari, tetapi wanita itu benar-benar ada disini.
Jadi, Temari bekerja di rumah sakit? Dia benar-benar etrkejut melihat perubahan pada diri wanita berambut keemasan itu. Dulu, Temari tidak secantik ini, tetapi dia menemukan Temari begitu cantik dan memukau.
Tetapi, ada sesuatu yang mengusiknya. Entah mengapa, dia tidak suka diabaikan begitu saja oleh Temari. Secara tidak langsung, Temari mengabaikannya. Entah sejak kapan, dirinya menjadi egois seperti Sasuke?
Dia sudah memiliki Ino, seharusnya diabaikan seperti itu oleh Temari tidak membuatnya gusar. Tetapi melainkan sebaliknya. Menggelengkan kepalanya, Itachi meneguk sodanya.
"Itachi, ada apa?" Mikoto memandang putranya.
"Tidak ada apa-apa, kaa-san."
.
.
.
"Kalian ini merepotkan sekali."
Itazura naik ke dalam mobil diikuti oleh adiknya. Itazuna sibuk memakan es krimnya sedangkan Itazura terlihat lebih diam dari biasanya. Entah mengapa, ada sesuatu yang mengganggunya ketika matanya menatap mata paman yang ditemuinya tadi.
"Baiklah, kita akan jalan-jalan!" Yahiko berucap dengan semangat.
"Kau tidak berubah, Yahiko. Tetap berisik." Nagato menimpali.
"Ne, paman." Itazura angkat bicara. "Teman paman tadi, namanya siapa?"
"Oh, Itachi maksudmu?" tanya Yahiko.
"Kau bertemu dengan Itachi?" Sasori memandang Yahiko.
"Ya, begitulah."
Sasori terdiam. Matanya memandang Nagato dan pria berambut merah itu mengerti apa maknanya. Itazura merasa aneh, dia merasakan sesuatu yang aneh antara paman Sasori dan paman Nagato ketika menyebutkan nama Uchiha Itachi.
"Paman Yahiko, aku ingin pipis." Itazuna merengek.
"Itazuna, kau benar-benar-" Yahiko tidak tahu harus mendiskripsikan betapa manjanya bocah laki-laki ini.
.
.
.
"Kita akan bertemu, Sai-kun. Tapi tidak sekarang."
Dengan ponsel di telinganya, Ino membalik ikan panggang buatannya. Dia sengaja membuatkan Itachi makan malam yang spesial, karena calon suaminya itu mengatakan akan makan malam di apartemen.
"Kapan, Ino? Aku merindukanmu, sangat."
"Aku tahu, bersabarlah." Ino menarik napas panjang. "Itachi-kun tidak ada lembur, jadi kita hanya bisa bertemu sesekali saja."
"Baiklah jika begitu."
Ino buru-buru mematikan sambungan telepon ketika mendengar suara pintu dibuka. Dia tahu, Itachi datang.
"Aku pulang." Itachi melepas sepatunya.
"Selamat datang, Itachi-kun." Ino tersenyum. "Aku sedang memasak ikan panggang."
"Hn. Kedengarannya enak." Itachi mencium puncak kepala Ino. "Sebaiknya aku mandi dulu."
Ino mengedip-ngedipkan matanya. Ada sesuatu yang aneh, tidak biasanya kekasihnya menjadi lebih pasif seperti itu.
Itachi sendiri langsung mengguyur tubuhnya dibawah guyuran shower. Otaknya terus menerus berfikir tentang kejadian yang dia alami hari ini. Temari.. Sabaku no Itazura.. Sabaku no Itazuna.. rasanya dia seperti melihat kemiripan antara dirinya dan Itazura. Tetapi, dia tidak bisa mendiskripsikannya.
Memegang dinding di depannya. Itachi berfikir. Dia akan meminta Kakashi untuk mencari tahu tentang Temari. Semuanya tanpa terkecuali.
.
.
Temari memandang pekerjaannya yang sudah selesai sebelum bangkit dari duduknya. Dia akan memeriksa kedua putranya sebelum beranjak menuju ranjangnya untuk tidur.
Itazura dan Itazuna tertidur dengan nyenyak. Dimatanya, dia seperti melihat dua orang malaikat yang membawa kebahagiaan bagi hidupnya. Jika bukan karena Itazura maupun Itazuna, dia tidak tahu apakah dia masih hidup sampai sekarang atau tidak. Karena kedua putranya adalah penyemangat bagi hidupnya.
Itazuna selalu menanyakan perihal ayah mereka padanya dan dirinya hanya bungkam. Berbeda dengan Itazuna, Itazura hanya mengamati dan diam. Dia bukan tipe yang to the point seperti adiknya.
Tidak. Temari hanya belum siap mengatakan pada keduanya tentang siapa yang menjadi ayah mereka. Meski suatu saat mereka mengetahuinya, dia hanya berharap bahwa kedua putranya tidak akan menuntut pertanggungjawaban dari ayah mereka.
Memastikan selimut yang menghangatkan kedua putranya sudah benar, Temari mengecup kening keduanya. Dia merasa bisa tidur nyenyak ketika kedua putranya sudah terlelap.
Tetapi, baru Temari menutup pintu. Sepasang bola mata terlihat.
"Ne, Aniki." Itazuna memanggil kakaknya. "Sudah tidur."
"Hm.." Itazura menjawab tanpa membuka matanya. "Ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tokyo, 8 tahun yang lalu.
Temari menarik napas panjang ketika menatap notif di ponselnya. Baru saja, pria yang menjadi pujaan hatinya dan cinta pertamanya mengunggah sebuah foto. Foto pria itu dan gadis yang menjadi kekasihnya. Dadanya terasa sangat sesak.
Meski dirinya sudah berpacaran dengan banyak pemuda, tetapi entah mengapa tidak ada yang bisa menggantikan pria itu untuknya. Temari sangat mencintainya, hingga kepingan hatinya yang tersisa.
Itachi Uchiha. Teman semasa kecilnya dan entah sejak kapan dirinya sudah mulai menyukai Itachi. Mereka selalu berada di kelas yang sama sewaktu sekolah menengah dasar dan berpisah dari sekolah menengah atas hingga sekarang.
Temari mencoba mendekati Itachi. Namun pria itu seolah memberikan jarak padanya. Pria itu tidak pernah menganggapnya ada dan melihatnya. Pria itu tidak bisa melihat bahwa dia memiliki cinta yang tulus untuknya.
Sepuluh tahun sudah dirinya menunggu. Tidak. Di usianya yang kesembilan belas tahun, genap sebelas tahun dia menunggu pria itu. Dan pria itu bahkan tidak pernah memandangnya sama sekali.
Tidak mau ambil pusing dengan hubungan Itachi. Temari bangkit dari duduknya dan memandang keluar jendela kamarnya.
Kedua orang tuanya dan kedua adiknya sedang pergi keluar kota untuk acara keluarga. Dia tidak ikut karena ada mata kuliah yang menantinya. Sebenarnya, itu hanya alasan karena dirinya ingin berada di rumah sendirian.
Perutnya lapar dan dia sedang menjalani diet. Tetapi, dia belum makan seharian karena kesibukan yang dijalaninya. Mau bagaimana lagi, perutnya sangat sakit karena belum makan. Jalan satu-satunya adalah pergi ke supermarket terdekat dan membeli beberapa makanan untuk mengganjal perutnya.
Dengan payung yang menghalanginya dari air yang mengalir. Temari berjalan menuju supermarket terdekat. Menahan rasa dingin yang menusuk tubuhnya, Temari masuk ke dalam supermarket.
Mengambil keranjang belanja, dirinya mulai memilih beberapa makanan yang bisa dimakannya hingga beberapa hari ke depan. Memeluk dirinya sendiri, dia menunggu kasir menghitung total belanjaannya dan membayarnya.
Tepat saat menolehkan kepalanya ke belakang. Dia terkejut melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
"Itachi-kun?!"
.
.
Temari tidak tahu harus melakukan apa ketika Itachi ada di sampingnya. Hujan yang deras tiba-tiba mengguyur kota Tokyo dan menyebabkan Itachi terjebak di rumahnya.
"Ano.. biar aku buatkan ocha hangat." Temari meninggalkan Itachi di ruang tamu rumahnya dan berjalan menuju dapur.
Dengan tangan yang basah dan gemetaran, dia menyeduhkan teh untuk Itachi. Jantungnya berpacu dengan cepat dan tidak mau diajak bekerja saja. Menyedihkan sekali.
Membawa nampan berisi segelas ocha hangat, Temari menghampiri Itachi yang sedang duduk santai di ruang tamunya.
"Silahkan diminum, Itachi-kun."
Itachi tidak menjawab. Rasanya dingin sekali dan ketika ocha hangat buatan Temari itu diminumnya, rasa hangat mulai menjalar. Dia tidak tahu, jika ocha buatan Temari itu cukup enak.
"Terima kasih untuk ochanya." Itachi meletakan gelasnya.
"Aku juga berterima kasih untuk tumpangannya."
"Rasanya tidak baik, membiarkan seorang wanita pulang sendirian malam-malam."
Temari tidak menjawab, dia sibuk dengan degub jantungnya sendiri.
"Aku dengar, kamu sudah memiliki pacar."
"Yah, seperti itu."
Onyx milik Itachi melirik Temari. Gadis itu tampak cantik dengan rambutnya yang tergerai. Rasanya, Temari lebih menggemaskan saat malu-malu seperti ini. Karena biasanya Temari sangat galak dan membuat siapapun lari duluan.
Tetapi, ada yang berbeda dengan gadis di sampingnya ini. Temari lebih dewasa dan lembut. Gadis itu telah banyak berubah.
Dan meski gadis itu telah banyak berubah, entah mengapa hatinya tertutup untuk gadis itu.
"Itachi-kun," panggil Temari. "Dari dulu sampai sekarang, aku menyu- maksudku mencintaimu. Aku berharap, aku adalah kunci yang cocok untuk membuka gembok hatimu itu."
Itachi terdiam. Dia tidak tahu harus menanggapi kata-kata Temari dengan ungkapan seperti apa.
"Itachi-kun, jika begitu sentuh aku."
Mendengar suara bernada desahan itu, Itachi menolehkan kepalanya. Temari tampak manis dengan wajah yang memerah dan gairahnya langsung memuncak melihatnya. Rasanya, Temari berkali-kali lipat semakin cantik ketika menampilkan wajah menggemaskan itu.
"Aku tidak bisa."
Entah sejak kapan, suaranya menjadi lebih berat.
"Hanya sekali." Temari memandang dalam-dalam mata milik pemuda dihadapannya. "Aku tidak tahu, apakah aku bisa bersamamu atau tidak. Maka dari itu, biarkan kita menjadi satu. Hanya malam ini."
Itachi bagaikan buta malam itu. Dia mencium bibir Temari dan merambat hingga lehernya. Dan Temari hanya bisa mendesah sembari melingkarkan kakinya pada pinggang Itachi.
Suara desahan mereka lalu tertelan oleh suara derasnya hujan.
.
.
.
.
"Hoek!"
Temari memuntahkan semua sarapannya dan membiarkan ibunya mengetuk pintu kamar mandinya terus menerus. Ibunya sudah tentu khawatir dengan kondisinya.
Beberapa hari ini, dia selalu muntah setiap pagi. Dan Temari bukannya tidak tahu arti semuanya. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda panjang tipis.
Tespect dengan hasil positif.
Dia hamil.
Dan dia harus segera mengambil tindakan.
.
.
.
Itachi membuka matanya dan merasakan napasnya tak beraturan. Rasanya dia seperti baru saja berlari berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Sangat melelahkan.
Mengusap rambutnya, Itachi mengambil botol mineral yang ada di samping tempat tidurnya. Bercinta membutuhkan tenaga ekstra, maka dari itu dia menyiapkan sebotol air mineral sebelum bercinta dengan Ino.
Matanya memandang jam yang menunjukan pukul tiga pagi dan Ino yang tertidur di sampingnya. Setelah percintaan mereka, Ino biasanya akan tertidur lelap bersamanya setelah puncak kenikmatan mereka raih.
Dan Itachi memimpikan masa lalunya. Dia tidak ingin mengingatnya dan mimpi itu kembali hadir.
Dia hanya berharap pagi segera datang dan dirinya ingin menemui Temari.
.
.
.
.
Temari terbangun dari tidurnya dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Mimpi tentang masa lalunya membuatnya lelah. Meski dia tidak melupakannya, tetapi mimpi itu terasa sangat nyata. Seperti dia baru mengalaminya kemarin. Padahal, dia mengalaminya sudah bertahun-tahun yang lalu.
Suara bel membuat Temari mau tidak mau bangkit dari posisi duduknya. Masih pukul enam pagi dan kebanyakan warga Jepang belum terbangun. Ini masih terlalu pagi.
Dan ketika Temari membuka pintu apartemennya, dia terkejut melihat siapa yang datang.
"Gaara?"
.
.
.
"Kaa-chan?"
Itazuna mengusap matanya sembari berjalan menuju dapur. Matanya masih setengahnya terbuka dan dia bisa melihat dengan samar seseorang duduk di kursi makan.
"Oh, kamu sudah bangun, Itazuna."
Ibunya sedang memasak sesuatu dengan mengenakan apron dan rambut keemasannya diikat keatas. Dia tidak tahu apa yang di masak ibunya, tetapi yang dia tahu baunya sangat harum.
"Apa kabarmu, jagoan?"
Ketika matanya terbuka sepenuhnya. Barulah dia menyadari siapa yang ada disana.
"Paman Gaara?!"
Itazuna tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk adik dari ibunya itu.
Setelah mengetahui jika dirinya hamil, Temari memutuskan untuk pindah ke Tokyo. Meninggalkan kampung halamannya di Osaka. Dia tidak mungkin mengatakan pada orang tuanya perihal kehamilannya. Selain membuat kedua orang tuanya kecewa, dia tidak ingin memberitahu siapapun tentang ayah dari Itazuna maupun Itazura.
Hanya Gaara yang mengetahui perihal kehamilannya dan juga tentang kedua putranya. Tetapi melihat bagaimana ekspresi serius milik Gaara, dia tahu apa yang ingin dibicarakan adiknya.
"Apa paman membawa oleh-oleh?" tanya Itazuna dengan semangat.
"Apa yang ada di pikiranmu hanya makanan?" Gaara mencubit pipi Itazuna dengan gemas.
"Itazuna." Temari memanggil putranya. "Bangunkan kakakmu dan bersiaplah untuk berangkat sekolah."
Itazuna sebenarnya masih ingin bermain dengan pamannya. Namun, dia menuruti perintah ibunya dan menuju kamar mereka.
"Gaara." Temari memanggil adiknya. "Katakan alasanmu kemari."
"Apa mengunjungi nee-san harus menggunakan alasan?"
"Gaara!"
Gaara meneguk ocha hangatnya sebelum buka suara.
"Semuanya sudah mengetahui perihal Itazuna maupun Itazuna. Bangkai, ditutupi seperti apapun pasti akan tercium baunya."
"Lalu, bagaimana kaa-san dan tou-san?"
"Mereka marah besar, itu sudah pasti. Kankurou-nii saja sampai jantungan ketika mendengar berita ini."
"Aku sudah menduganya." Temari mendesah panjang. "Aku belum siap untuk menemui mereka, Gaara. Aku tidak tahu bagaimana murkanya kaa-san ketika mengetahuiku memiliki seorang anak."
"Kaa-san tidak akan marah, percaya padaku." Gaara memandang kakaknya. "Kalau kaa-san mau marah, itu hanya sebentar. Lalu, apa yang mau dilakukan? Semua sudah terlanjur, Itazuna dan Itazura sudah lahir, lalu mau apa? Mengusirmu? Jika Kaa-san dan Tou-san mengusirmu, mereka tidak akan menyuruhku kemari."
Temari mengaduk-aduk supnya. Hatinya menjadi sedikit gundah.
Suara bel membuat Temari menolehkan kepalanya. Gaara memandang pintu apartemen kakaknya sebelum bangkit.
"Aku akan bukakan pintu."
Gaara berjalan menuju pintu dan membukanya untuk tamu yang datang. Matanya nyaris melompat ketika melihat siapa yang datang.
"Itachi-nii?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Etto.. ini juga nggak disangka kalo banyak yang suka.. tadinya Saku pikir, untuk pair ini gak terlalu banyak.. tapi lumayan yang suka :3 oh ya, kalo updatenya kelamaan, maklumlah.. Saku sekali bikin dua sampe tiga cerita dan sekali update langsung semuanya.. :3
Sekian cuapcuap gaje dari Saku, sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
