"Sasuke-kun?!"
Sakura benar-benar tidak menyangka jika Sasuke akan muncul. Bahkan, pria itu mengacungkan pistol yang entah di dapatnya dari mana.
"Oh, Uchiha."
Sasuke menarik tangan Sakura untuk bersembunyi di belakang tubuhnya. Danzo hanya tersenyum dan meletakan gelas yang dipegangnya.
"Aku tidak menyangka jika aku akan kedatangan tamu tak diundang."
"Jika kamu ingin meniduri seorang model, lakukan pada yang lain. Jika kamu ingin melakukannya pada Sakura, aku akan membunuhmu."
"Membunuhku? Aku seorang perdana menteri, Uchiha-san. Aku bisa saja menghancurkan perusahaanmu yang megah itu."
Dor!
Sebuah peluru meluncur dan mengenai bahu Danzo. Pria paruh baya itu memegangi pundaknya.
"Sialan kau Uchiha!"
"Itu peringatan, tua bangka." Sasuke melepas jasnya dan memakaikannya pada Sakura. "Jika aku melihatmu masih menghubunginya, aku akan membunuhmu!"
"Aku yang akan membunuhmu, Uchiha Sialan!"
Sasuke tidak memperdulikan sumpah serapah yang diutarakan Danzo dan memilih untuk membawa Sakura keluar dari kamar hotel laknat itu. Sakura masih shock dengan apa yang terjadi padanya.
"Sasuke-kun, tunggu dulu!"
"Diam dan kita akan bicara nanti." Sasuke mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menghubungi seseorang. "Aniki, aku sudah membawa Sakura bersamaku."
.
.
.
.
.
.
.
You
.
.
.
.
.
.
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke
.
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR ATAU ADEGAN DI DALAMNYA, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN!
Selamat membaca!
oOo
Tokyo, 6 tahun yang lalu.
"Oi, Teme!"
Seorang pemuda melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah barunya dan memandang sekelilingnya. Seorang pemuda berambut kuning merangkulnya dengan erat.
"Kau sombong sekali tidak datang ke upacara pembukaan, Teme bodoh!"
"Aku ketiduran."
"Cih. Padahal kau seharusnya memberi sambutan sebagai siswa yang mendapatkan nilai paling tinggi."
Sasuke melirik Naruto dengan malas.
Dia masuk ke sekolah yang biasa saja, berharap tidak akan ada yang mengganggunya. Pengalamannya di sekolah menengah pertamanya, dia selalu menjadi kejar-kejaran para wanita di sekitarnya.
Dan dia merasakan hal itu akan terulang ketika melihat beberapa siswi berteriak kepadanya. Menyebalkan sekali.
Masuk ke dalam kelasnya, Sasuke duduk di bangku paling belakang. Dia memandang sekelilingnya. Matanya tertuju pada seorang gadis berambut merah muda yang duduk memandang jendela. Di telinganya terpasang headset.
Entah berapa lama dia memandangi gadis itu, dia merasa tertarik dengan aura yang dipancarkannya.
.
"Namaku Haruno Sakura dan aku berasal dari Hidden Leaf School."
"Selanjutnya." Kurenai membaca daftar nama yang dipegangnya. "Uchiha Sasuke."
Sasuke bangkit dari duduknya dan beberapa pasang mata memandanginya. Banyak yang kagum, banyak juga yang tertarik. Siapapun tidak akan berkedip melihatnya.
"Uchiha Sasuke, Mangekyu school."
"Mangekyu School?"
"Bukankah itu sekolah yang bagus?"
"Aku dengar dia peraih nilai tertinggi."
"Sughoii, kenapa dia masuk ke sekolah biasa seperti ini?"
Sasuke mendudukan dirinya kembali dan memandang gadis berambut pink itu memandang kearahnya. Dia baru menyadari, jika gadis itu memiliki emerald yang sangat indah.
.
.
"Sakura! Ayo kita makan siang!"
Sasuke yang sedang memasukan bukunya menolehkan kepalanya ke pintu. Sakura tersenyum dan membawa kotak bekalnya sebelum menghampiri gadis berambut pirang. Gadis itu lumayan cantik, dengan rambut pirang dan mata aqumarine miliknya. Tetapi, entah mengapa dia tidak tertarik pada gadis itu.
"Yo, Teme." Naruto merangkul bahu Sasuke. "Ayo kita ke kantin."
Pemuda berambut emo itu tidak menjawab. Dia memandang kearah gadis berambut pink itu pergi bahkan hingga hilang dari pandangan matanya.
"Sakura-chan, ya?"
Sasuke memandang Naruto yang kini menunjukan senyuman menyebalkan di matanya.
"Jangan pura-pura tidak tahu dan menyangkal, Teme. Dia memang cantik, kan? Apalagi dengan rambut sepundak miliknya."
Tidak menjawab, Sasuke bangkit dan berjalan keluar kelas.
"Ayo dobe, aku lapar."
Naruto mengangkat bahunya sebelum mengikuti langkah Sasuke menuju kantin.
.
.
Sasuke merasa bosan dengan rutinitasnya. Tidak ada yang menarik dan hidupnya terasa sangat monoton. Onyxnya kemudian memandang Sakura yang duduk sembari mendengarkan musik.
Gadis itu tidak banyak bicara dan membuatnya merasa penasaran. Sakura bukan tipe orang yang suka-suka cari perhatian seperti beberapa teman-teman sekelasnya.
Jam istirahat makan siang berbunyi, Sakura bangkit dari duduknya dan membawa kotak bekalnya keluar dari kelas. Sasuke mengangkat satu alisnya, tidak biasanya Sakura keluar sendiri untuk makan siang. Biasanya Sakura selalu bersama dengan Yamanaka Ino.
"Oi, Teme! Kau mau kemana?!"
Sasuke tidak menjawab dan melangkahkan kakinya keluar dari kelasnya. Dia mengabaikan panggilan Naruto yang memiliki suara yang cempreng.
Dia terus memandang Sakura yang melangkahkan kakinya menuju atap sekolah. Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa Sakura hanya seorang diri.
Onyxnya bisa menangkap Sakura duduk sendirian dan membuka bekalnya. Sepertinya gadis itu tidak menyadari kehadirannya.
"Hn."
Sakura menolehkan kepalanya. Dia benar-benar terkejut melihat ada orang lain selain dirinya.
"Uchiha-san?"
"Kenapa sendirian?" Sasuke mendudukan diri di samping Sakura. "Bukannya kamu biasanya bersama dengan Yamanaka itu?"
"Oh, Ino sedang sakit. Jadi aku makan sendiri." Sakura memandang Sasuke. "Uchiha-san sendiri, sedang apa disini?"
"Kau terlalu kaku, Sakura." Sasuke memandang awan yang bergerak pelan. Rasanya begitu lembut. "Aku hanya ingin ketenangan. Di bawah ramai sekali."
"Ah- souka."
Tidak ada yang berbicara satu sama lain. Sakura menggigit bibirnya, dia tidak menyukai situasi seperti ini. Tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Uchiha-san mau?" Sakura menyodorkan bekalnya.
"Hn. Aku tidak lapar."
Kruyuk!
Sasuke menyumpah serapah dalam hati ketika mendengar suara perutnya yang terdengar begitu keras. Sasuke merutuki perutnya yang memalukan seperti ini.
"Jangan berbohong, Uchiha-san." Sakura tertawa. "Kau Tsundere sekali."
Sebuah tangan menyodorkan cumi tepat di depan hidung Sasuke. Pemuda berambut emo itu memandang Sakura.
"Kamu mau tidak?"
Sasuke melahap cumi yang disodorkan Sakura dan merasakan dadanya berdesir.
oOo
"Kaa-san."
Mikoto yang sedang membuatkan sarapan menolehkan kepalanya. Itachi yang sedang memakan sarapannya juga ikut menolehkan kepalanya.
"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Mikoto.
"Apa Sasu bisa mendapatkan bekal makanan?"
"Hah?"
.
.
Sasuke memandang Sakura yang bangkit ketika Ino berdiri di depan pintu kelas mereka. Matanya terus memandang kemana Sakura pergi sebelum bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana, Teme?" Naruto memandang Sasuke.
"Toilet."
Naruto tidak bodoh. Mana mungkin ada orang ke toilet membawa kotak makan siang?
.
Sasuke memang tidak berniat ke toilet. Dia melangkahkan kakinya menuju atap sekolah dan melihat Sakura sedang berbincang dengan Ino. Sakura tersenyum lebar dan itu membuat senyuman tipis di wajahnya. Dia selalu suka melihat senyuman itu.
"Ino, itu dia Uchiha-san." Sakura tersenyum. "Kemarilah Uchiha-san."
Ino tersenyum dan membiarkan Sasuke duduk bersama mereka.
Berbagai percakapan mereka lontarkan dan Sakura merasa harinya lebih berwarna.
.
.
.
"Bukan begitu caranya, Sakura." Sasuke menyentil dahi Sakura.
Sakura mengusap dahinya sebelum merengut kesal. Dia kembali mencoba mengerjakan soal Fisika dihadapannya dan kembali merengut kesal.
"Aku tidak bisa mengerjakannya, Fisika itu susah."
"Fisika susah karena kau tidak memahaminya." Sasuke memandang Sakura. "Ayo kerjakan lagi sampai kamu bisa."
Beberapa teman sekelas mereka mulai berkasak-kusuk. Mereka sudah tidak heran melihat bagaimana Sasuke dan Sakura berdekatan secara intim seperti itu.
Setiap kali mereka bertanya perihal hubungan keduanya, mereka menjawab bahwa tidak ada hubungan spesial diantara mereka. Tetapi, melihat kedekatan keduanya membuat mereka semua semakin curiga.
Sakura juga tidak tahu, sejak kapan mereka menjadi sedekat ini. Dia juga tidak tahu, sejak kapan dia memanggil Sasuke dengan nama depannya. Semua mengalir begitu saja.
"Sakura, sampai kapan kamu mau disana!" Ino berdiri di depan pintu kelas dan meletakan tangannya di pinggang.
"Aku akan kesana." Sakura bangkit dari duduknya dan mengambil kotak bekalnya. "Aku akan makan siang. Sebaiknya kamu segera makan siang jika tidak ingin sakit, Sasuke-kun."
Sasuke memasukan semua peralatan tulis milik Sakura ke tempatnya sebelum bangkit dari duduknya. Gadisnya itu sangat ceroboh juga teledor. Dia selalu meninggalkan barang-barangnya begitu saja dan membuatnya harus memberesi semuanya.
Setelah selesai menyelamatkan semua barang-barang gadisnya. Sasuke berjalan menuju kantin dan mengabaikan pandangan menggoda beberapa siswa dan siswi.
"Lihat itu siapa yang datang."
Kantin menjadi ramai disertai dengan suara siulan yang menggema ketika Sasuke muncul. Pemuda itu mengambil sebotol ocha dan meminumnya.
"Pesankan aku ramen, dobe."
"Kau tidak membawa makan siang, Sasuke?"
"Hn. Kaa-san sedang sakit dan aku lupa meminta Sakura untuk membawakanku bekal."
Naruto datang membawa ramen milik Sasuke dan pemuda berambut emo itu segera menyantapnya. Pembicaraan semakin seru dengan bertambahnya jumlah siswa yang ada di kantin.
"Aku ingin sekali meniduri Ino." Kiba buka suara. "Melihat bodynya saja sudah membuatku nafsu."
"Whoah.. kau gila, Kiba. Yang aku dengar, Ino sudah memiliki kekasih."
"Bagaimana denganmu, Neji?" Suigetsu meminum soft drinknya.
"Aku sudah beberapa kali meniduri Tenten."
"Kalau aku sudah meniduri-" Naruto menutup mulutnya ketika dirinya merasa akan salah bicara.
"Meniduri siapa? Hinata?" Neji memandang Naruto dengan pandangan membunuh miliknya.
"Bu-Bukan." Naruto menyilangkan tangannya. "A-Aku belum pernah menyentuhnya. Sungguh!"
Juugo menatap Sasuke yang memakan ramennya dengan tenang.
"Bagaimana denganmu, Sasuke?"
"Hn, entahlah."
.
.
"Brrr.. dingin sekali."
Sakura mengusap tubuhnya yang terasa dingin. Bulan Januari memang musimnya suhu dingin sekali. Hidungnya bahkan memerah karena suhu yang terlalu dingin.
Sasuke berdiri di sampingnya lengkap dengan baju hangatnya. Nafas mereka sama-sama menghasilkan embun karena dingin. Sasuke melirik tangan Sakura yang dilapisi sarung tangan sebelum menggenggamnya.
Gadis berambut merah muda itu melirik tangannya yang terasa hangat sebelum merasakan pipinya yang menghangat. Mereka memang tidak mengatakan perasaan yang ada di hati mereka masing-masing. Tetapi yang mereka tahu, mereka saling menyayangi satu sama lain dan itu tidak perlu dikatakan.
"Mau mampir, Sasuke-kun? Diluar dingin sekali, mungkin kita bisa membuat coklat hangat." Sakura memandang pemuda dihadapannya.
"Hn, boleh."
Sakura membuka pintu rumahnya dan membiarkan Sasuke melepas sepatunya sebelum melangkahkan kakinya masuk.
"Permisi."
Sakura menghidupkan lampu dan meletakan tasnya. Dia berjalan menuju dapur untuk menghangatkan air.
"Butuh selimut, Sasuke-kun? Mau aku buatkan makanan?" tanya Sakura.
"Apa saja."
Sakura berkutat di dapur dan membiarkan Sasuke mengobrak-abrik rumahnya. Sasuke memandang sekeliling kediaman Haruno dan memandang banyaknya foto milik Sakura yang ditempel di tembok.
"Kemana orang tuamu?" tanya Sasuke.
"Kaa-san dan Tou-san ke Korea untuk berlibur. Katanya mereka ingin memberiku adik." Sakura meletakan secangkir coklat hangat dihadapan Sasuke. "Padahal itu tidak mungkin, aku sudah dewasa."
"Itu bisa saja, kan." Sasuke menyeruput coklat hangat buatan Sakura.
"Bagaimana rasanya? Enak?"
"Hn." Sasuke merasakan energinya kembali terisi. "Bagaimana jika kita memberi mereka cucu yang lucu saja?"
"Apa?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya. "A-aku tidak mau melakukan seks sebelum menikah."
"Jika begitu, kita bisa bermain aman." Sasuke mengangkat dagu Sakura. "Aku janji, semuanya akan baik-baik saja."
.
.
"Hiks.. aku harus bagaimana, Ino."
Ino memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya. Dia merasa benar-benar terkejut dengan apa yang diceritakan oleh sahabatnya.
"U-ulangi sekali lagi!"
"Aku sudah melakukannya dengan Sasuke-kun dan sekarang aku hamil."
"Kau gila! Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?!" Ino nyaris menjerit. "Aku tahu jika kamu menganut kebebasan, tetapi kamu sudah berjanji padaku untuk menjaga kesucianmu hingga kamu menikah nanti. Dan sekarang aku merasa gagal menjagamu. Aku tidak menyangka jika ketakutanku akan menjadi kenyataan."
"A-aku harus bagaimana?"
"Katakan padanya yang sebenarnya." Ino memandang sahabatnya. "Aku akan mengantarkanmu, ayo."
Mereka berjalan menuju kantin dan menemukan Sasuke sedang berkumpul bersama teman-temannya. Sakura menggigit bibirnya dan memegang perutnya yang terasa sangat tegang. Dia yakin, bayinya pasti meraskan kegelisahannya.
"Sasuke, bagaimana dengan dirimu dan Sakura?" tanya Suigetsu.
"Aku sudah melakukannya dengan Sakura."
Suara siulan dan sorakan terdengar keras.
"Bagaimana rasanya, Sasuke? Apa sama dengan wanita-wanitamu itu?"
"Hn, rasanya sangat nikmat. Miliknya menjepit milikku dan dia masih perawan."
"Masih perawan?! Kau berhasil mendapatkan emas, Sasuke!"
"Lalu, bagaimana hubungan kalian?"
"Entahlah." Sasuke menerawang jauh. "Tetapi aku masih belum bisa serius dengannya."
Sasuke menolehkan kepalanya dan menemukan Sakura berdiri tidak jauh dari mereka. Dia bisa melihat sorot terluka di mata Sakura dan itu membuat dirinya bangkit dari duduknya.
"Sakura!"
Sasuke mencoba untuk mengejar Sakura, tetapi gadis itu sudah berlari sangat kencang bersama Ino. Dia tidak tahu bagaimana mendiskripisikan perasaannya saat ini.
.
.
.
"Sakura, ada temanmu. Namanya Uchiha Sasuke."
Sakura membiarkan ibunya mengetuk pintu berulang-ulang dan dia tidak berniat untuk membukakan pintu kamarnya sama sekali.
"Maafkan bibi, Sasuke-kun. Sakura tidak menjawab sama sekali."
Setelah ketukan pintunya berakhir, kini ganti ponselnya yang bergetar tanda telepon masuk. Dia tidak peduli dengan siapa yang menelpon dan dia tidak berniat mengangkatnya.
Air matanya sudah berhenti dan dia tidak memiliki stok air mata lagi. Jadi yang dilakukannya sekarang hanyalah duduk sembari menekuk lututnya di depan jendela kamarnya. Pandangan matanya kosong dan dia tidak tahu sedang memikirkan apa.
Ponselnya terus bergetar hingga akhirnya jatuh ke atas karpetnya.
"Sakura, kamu bisa mendengarku?"
Suara Sasuke terdengar dari ponselnya. Rupanya pemuda itu menelponnya terus menerus dan ketika terjatuh tidak sengaja terangkat.
"Sakura, aku tahu kamu ada disana. Aku ingin kamu mendengar penjelasanku."
Sakura masih terdiam.
"Aku hanya asal bicara, Sakura. Aku benar-benar mencintaimu. Aku memang belum siap untuk ke jenjang yang serius, tapi percayalah. Aku sangat mencintaimu, Sakura."
"..."
"Sakura, jawab aku."
"..."
"Sakura, aku mohon. Jangan abaikan aku. Katakan sesuatu."
Sakura berjalan menuju ponselnya dan mengambilnya.
"Sakura-"
"Maaf, Sasuke-kun. Kita hanya sampai disini saja."
"Kau bercanda, Sakura! Sakura!"
"Aku sedang hamil, Sasuke-kun. Meski kita bersama dan kamu tidak serius denganku. Bukankah itu percuma?"
"Sakura, dengarkan aku-"
Klik!
Sakura membanting ponselnya.
"Selamat tinggal, Uchiha Sasuke."
oOo
Sakura membuka matanya dan napasnya terengah-engah. Dia seperti habis lomba lari dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Padahal dia sudah menyetel pendingin kamarnya supaya cukup dingin, tetapi sepertinya mimpinya membuatnya harus berkeringat.
Seingatnya, semalam Sasuke membawanya keluar dari hotel dan langsung memasukannya ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Itachi. Dia tidak tahu harus shock atau senang, jadi dia hanya diam saja.
Sesampainya di rumah, dia membeli beberapa kaleng sarsaparilla sebelum meminumnya. Rasa kantuk belum menyerangnya bahkan hingga pukul tiga pagi dan minumannya sudah habis.
Memegang kepalanya, Sakura merasakan kepalanya pusing. Mimpinya membuat jantungnya berdebar kencang. Mau apa lagi pria itu datang? Apalagi Sasuke menyelamatkannya semalam.
Mungkin dia harus mandi dan memakan sesuatu untuk bisa berfikir jernih.
.
.
.
.
Mebuki memasukan beberapa sayuran dan sesekali mengamati Sarada yang sedang menggambar diatas meja makan. Gadis kecil itu akan diam jika sudah diberi buku gambar dan segelas susu. Selagi cucunya itu tenang sejenak, dia akan memasak sarapan.
Tingtong!
Mebuki menolehkan kepalanya kearah pintu rumahnya ketika mendengar suara bel dibunyikan. Melepas apronnya, Mebuki mengusap rambut Sarada sebelum melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu bagi tamu yang datang.
Dan ketika pintu terbuka. Mebuki tidak bisa menahan keterkejutannya.
"Sasuke-kun?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Akhirnya update, yeay! :3 Saku nggak nyangka kalo banyak yang suka juga sama fict ini.. diluar dugaan sekali :3 dan Saku gabisa bales satusatu.. :3 but, arigatou nee, minna!
Etto, apalagi ya.. pokoknya, semoga reader suka.. sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
