"Besok TK libur. Besok juga hari libur Eren. Jika kau ada waktu, bisakah kau berkunjung ke rumah kami?"

Apa-apaan ini? Levi bisa datang dengan mudah dan tak perlu menanyakan alamat ataupun jam senggang mereka. Levi pernah tinggal di kediaman Jaeger. Berkunjung ke sana sesekali atas permintaan Eren pun bukan hal asing. Tapi diundang secara formal begini, rasanya amat aneh. Belum lagi, besok hari Sabtu. Levi sudah bilang kepada Erwin dan Armin, dia akan berkunjung ke apartemen mereka.

"Levi?"

Levi menatap Grisha yang masih menunggu jawaban.


TENGOK KE DALAM

Chapter 2

Kohan44


"Kenapa kau tidak berkunjung ke sini setiap pagi?" Erwin mengikat dasinya sembari menonton Levi di dapur. "Eh, tapi tidak usah. Kau bisa membunuhku dengan kebahagiaan tiap pagi. Hahahaha"

Levi menggeram, mengeluarkan sumpah serapah di antara gigi geraham yang saling beradu. Jika di sana tak ada Armin, sudah pasti Levi merealisasikan apa yang ada di kepalanya, seperti menendang bokong Erwin.

"Kalau aku ada kesempatan, kerah dan dasimu akan kubuat berantakan."

"Wow. Kau menggodaku?"

PRANG! Levi menyenggol wajan, sumpit di tangannya jatuh menggelinding berputar-putar ke arah yang tak bisa ditebak seolah memiliki kekuatan tersendiri, menghindar saat hendak ditangkap.

"Bukan berantakan yang seperti itu!"

"Aku suka pakaianku rapi. Tapi aku juga suka jika kau membuatnya berantakan."

"Duda mesum, kau ingin kubuat tidak bisa masturbasi seumur hidup?"

"Berhenti masturbasi, tapi ejakulasi di dalammu, hmm.. bagus juga kedengarannya."

PRANG!

"AW! Levi!"

Erwin mengusap-usap keningnya yang amat sakit terkena lemparan sumpit besi.

"Kau punya nyali mengatakan hal sekotor itu padaku, hah?"

"Ayolah, buat apa bertingkah seolah-olah kau masih perawan." Erwin berlalu, duduk di sebelah Armin di kotetsu. "Hei, Levi, apa kau punya pacar sekarang?"

Levi datang dari dapur membawa nampan makanan. Satu per satu mangkuk dia turunkan ke meja.

"Aku tidak pernah tahu siapa pacarmu." Erwin melanjutkan. "Tunggu, apa kau pernah pacaran?"

"Cepat makan dan berangkat bekerja." Levi menyodorkan semangkuk nasi ke hadapan Armin.

"Seumur hidupmu, kau masturbasi sendirian?"

Dengan itu, Levi tersedak, membuat Armin khawatir dan cepat-cepat menuangkan air untuk Levi.

"Apa itu topik yang tepat untuk obrolan di atas meja di hadapan putramu?"

"Hmm, apa kita perlu bicarakan tentang masa depan Armin? Emm, terdengar seperti kita orangtuanya."

Kau memang orangtuanya, Erwin.

Sabtu pagi di apartemen Smith, satu dari beberapa kali sarapan yang berbeda akhirnya selesai. Sabtu pagi yang tak biasa tapi menyegarkan. Erwin terburu-buru meninggalkan apartemen dengan dasi yang terikat rapi, peralatan dapur sudah berada di posisinya masing-masing dalam keadaan bersih, dan TV yang biasanya sudah menyala, kali ini mati. Armin duduk bersebelahan dengan Levi setelah membantunya membersihkan seisi apartemen.

Jika anak ini bukan Armin, Levi tidak akan duduk di sini. Jika anak ini anak biasa yang tak pernah datang ke TK Jaeger, Levi akan masih di apartemennya, melakukan pembersihan besar-besaran. Satu dari sejuta anak yang harus menjadi anak Erwin adalah Armin Smith. Levi tak bisa memanggilnya 'heh bocah', 'hey', 'kau', 'itu', 'eh', tapi...

"Armin,"

Armin mendongak ke arah gurunya. Matanya mengedip beberapa kali tanpa arti. Melihat raut polos itu, Levi sadar meskipun Armin bukan salah satu muridnya, Levi tidak akan pernah bisa memanggilnya 'eh'.

"Ini bukan pertama kalinya aku mengunjungimu di hari Sabtu. Apa di hari sabtu kau tidak pernah mandi?"

"Daddy," jawabnya dengan lidah yang Levi tahu ada sesuatu yang berbeda di lidah itu dibanding anak-anak lain di TK Jaeger. Tak peduli seberapa sering Armin berbicara, atau sebarapa banyak hari berlalu membawanya menjadi lebih tua, Armin selalu terdengar memiliki kata-kata cadel bayi. "Almin nunggu Daddy. Mandiin Almin."

Oh, iya, benar... Setelah Erwin tiba di apartemen, Levi tak tahu apa yang mereka lakukan, karena Levi selalu lekas pulang.

"Nah, Armin, Daddy-mu terlalu sibuk di pagi hari. Jadi kau harus belajar mandi sendiri."

Levi beringsut mengambil handuk yang dia ingat persis itu handuk yang sama ketika Armin masih berusia dua tahun. Armin berjingkrak-jingkrak, berlarian mengelilingi Levi sambil berseru hore! Mandi dengan Sensei! berulang-ulang.


Pada hari Senin...

"Maaf, saya seharusnya mengabari anda."

Levi membungkuk dan tak berhenti sampai Grisha memintanya.

Grisha menarik nafas panjang, tak bisa berkata tidak apa-apa, tapi juga tidak bisa tidak menganggap ketidakhadiran Levi di hari Sabtu bukanlah masalah. Eren masih tutup mulut dan lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Bukan hanya itu, Mikasa jadi kurang istirahat karena berjaga di depan pintu kamar Eren, merayu dan menunggunya keluar untuk makan. Sekarang, bukan cuma mengurangi porsi makan, Eren juga melewatkan beberapa waktu makan. Grisha membutuhkan Levi untuk mengatasi ini.

"Hari ini, sepulang dari sini, kau senggang?"

Jawabannya jelas, kan? "Saya tidak bermaksud kasar, tapi dari hari Senin sampai Jum'at, saya ada tambahan jam kerja di tempat lain." Tidak, Levi tidak berbohong. Melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan disebut bekerja, karena jika hal itu menyenangkan, tentu itu namanya bersenang-senang. Aku bekerja kepada Erwin Smith tanpa dibayar materil.

"Kau bekerja di tempat lain?" Grisha tersontak mengulangi kalimat Levi. "Apa gaji di sini tidak cukup untuk menutup tagihan apartemenmu?"

Pak Tua, kau tahu apa soal kebutuhan hidup? "Lancang jika saya berkata begitu. Gaji di sini menolong saya untuk bertahan hidup."

"Lalu apa? Apa aku juga tidak boleh tahu kesibukanmu di hari Sabtu dan Minggu?" kening Grisha mengkerut. Dari balik kacamata bulat itu, Levi menemukan mata yang dibakar rasa ingin tahu. Levi ingin katakan, aku merawat anak temanku. Dia duda. Polisi super sibuk. Cuma libur di hari Minggu. Iya, dia macam laki-laki brengsek dan homo. Aku membantunya di hari Sabtu. Sebenarnya aku tak ingin, tapi kau tahu Armin, aku tak bisa mengabaikannya. Pak Tua, hari Minggu adalah hari penting. Kau tak tahu berapa banyak debu bertumpuk di kolong rak sepatu, atau yang hinggap di gorden jendela. Kau butuh lebih dari 5 jam pembersihan.

"Saya rasa setiap orang memiliki privasi yang tidak ingin diketahui orang lain."

Grisha menurunkan tatapannya. Kedua sikunya turun dari meja. Matanya tak kembali menuju Levi. Grisha bergerak-gerak seolah mencari sesuatu transparan yang mudah berpindah tempat. Bibirnya terbuka-tutup kecil berulang-ulang. Saat kacamatanya berkilat, setetes keringat turun dari keningnya, Levi tahu ada yang ingin diutarakan Grisha. Apapapun yang ingin disampaikan, nampaknya hal itu berat bagi Grisha.

"Eren tinggal bersamaku setelah ibunya meninggal." Grisha memulai. "Tapi dia banyak menghabiskan waktu sendirian, karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku seorang ayah, Levi.."

Langsung saja ke inti, Pak Tua. Aku tidak berminat dengan ceritamu.

"Memilih Mikasa menjadi kakaknya memang jawaban yang tepat. Tapi Eren memutuskan pilihannya sendiri."

Oh, jadi begitu rupanya, kata Levi dalam hati.

"Sejak pertama kali orang-orang itu menyerahkan saya kepada anda, saya pikir saya dijual untuk diperbudak." Levi pun memulai ceritanya sebagai balasan. "Pekerjaan yang anda berikan, tidak pernah saya bayangkan walau hanya dalam lamunan. Bagaimana anda bisa yakin saya cocok dengan anak-anak? Bagaimana anda bisa mempercayakan putra anda sendiri kepada saya? Saya bisa menyimpan pisau di tempat yang tak bisa anda temukan. Anda tahu itu."

Grisha kembali menaikkan kedua sikunya, membiarkan dagunya bertopang di dua tangan tertutup. "Bukan aku yang memutuskan itu."

"Tuan, saya-"

"Aku bukan tuanmu. Kau tak memiliki tuan lagi, ingat?"

Levi tak pernah tak bisa tersenyum mendengar kalimat itu. Dulu, itu terdengar seperti lelucon garing yang tak bisa membuat siapapun tertawa. Kata-kata itu, cuma hinaan yang dibungkus lelucon oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan dunia, harta, dan kekuatan. Memuakkan. Mati terdengar lebih indah. Hari ini, Levi tahu, kata-kata yang sama bisa menghiburnya juga.

"Levi?"

Suara Grisha membangunkannya dari euphoria sesaat yang sulit dia buang.

"Ya, Pak?"

"Apa yang ingin kau katakan?"

Levi menggelengkan kepala. "Maaf, Pak. Saya tak tahu diri mengatakan hal semacam itu. Saya akan berusaha berbicara dengan Eren."


"Kau tinggal datang saja kan? Kedengarannya, Eren mudah dibujuk. Apalagi oleh orang yang disukainya."

Levi mendelik Erwin yang mulai tertawa bertopang dagu di atas sepeda. Apa semua ini terdengar lelucon baginya?

"Kenapa tidak kau saja, Erwin?" Levi membalas dengan suara dingin.

"Kenapa aku? Kami tidak saling mengenal."

"Kau polisi, melayani negara dan masyarakat."

"Oh, ada benarnya juga. Kalau begitu, kau harus kenalkan aku dengannya."

Levi meluruskan kedua lututnya. "Hm, mungkin." Jawabnya sekenanya.

"Kenapa kau tidak pernah membantu Hange dan Mikasa tiap ada kegiatan di luar kelas?" kata Erwin sembari memperhatikan beberapa anak yang dikejar induk ayam.

"Merepotkan."

"Apa? Aku kira kau suka merawat anak-anak. Armin betah sekali bersamamu."

Mungkin aku harus ikutan audisi aktor, Erwin. Aktor. Aku sempurna dalam hal ini.

"Nah, aku rasa setiap orang punya titik jenuh di tiap kegiatannya." Lengan panjang Erwin melintasi pagar semak, mendarat di kepala Levi untuk memberinya usapan lembut di kepala, menyalurkan energi. "Semangat ya, Sensei!"

Bersama satu dentingan lonceng, Erwin mengkayuh sepedanya, menyapa seorang warga yang tak dikenal kebetulan berpapasan dengannya. Erwin kembali berpatroli, sementara Levi masih duduk meregangkan kaki, menonton anak-anak dan berpura-pura tak menyadari seseorang tengah berdiri di sudut lain, diam memperhatikannya seperti seorang penguntit.

Eren Jaeger, singkirkan pantatmu dari hadapanku!

Levi bersiap, menit-menit pendek istirahatnya yang berharga akan segera sirna. Annie tak mau berhenti mengejar Berthold sampai dia berhasil melayangkan satu pukulan, dan anak-anak lain merengek meminta tambahan waktu mengobrol dengan Tuan Kelinci sampai Mikasa memelototi mereka dan akhirnya mereka menyerah, kembali ke ruang kelas. Pada saat itu, Levi sadar, Eren tak kunjung mendatanginya. Setelah diam mengintip, Eren pergi begitu saja.


To : Poni Aneh

Subject : Baca saja

Kau bisa berhenti menjadi penguntit dan bicara padaku.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Eren mengunjungi TK di jam-jam yang sama, tapi dia tidak membalas pesan yang dikirim Levi setiap hari. Levi pernah memergoki Eren tengah kena omelan Mikasa karena dia menyelundup ke dapur, mengendap-endap seperti seorang pencuri, menyenggol panci dan membuat beberapa bahan makanan tumpah. Padahal, dia bisa masuk layaknya orang normal dan menyapa siapapun yang ada di dapur. Levi belum tahu alasan di balik itu, jadi Levi masih bertingkah tak menyadari kehadiran Eren, dan lanjut berfokus mengupas kentang. Di hari yang lain, Levi menemukan rambut Eren menyembul di jendela kelas, mengintip Levi yang sedang mengajari anak-anak nyanyian baru, atau pada saat Levi dikerumuni anak-anak di lima menit istirahatnya, atau pada saat Levi mengobrol dengan Erwin. Semua itu, mengganggu. Eren sudah seperti penguntit sejati.

Ketika Levi berusaha berbicara padanya pada jam makan siang, Eren segera mengeluarkan ponsel dari tas, berbicara pada ponsel sekalipun ponsel itu tidak nampak mengeluarkan bunyi sama sekali. Di kesempatan yang lain ketika Levi dengan sengaja diam di gerbang sekolah di jam biasanya Eren datang, Eren berbelok, memutar arah dengan cepat begitu matanya menangkap Levi. Ada hal yang memang tidak beres, dan Grisha semakin gusar dari hari ke hari karena Levi tak juga datang berkunjung ke kediamannya.

"Kau tidak perlu datang sabtu ini. Armin baik-baik saja sendirian. Kau harus ke rumah Jaeger-san dan berbicara pada Eren." Adalah nasehat Erwin di suatu siang.

"Oh, begitu? Terimakasih. Aku yakin, Armin akan baik-baik saja. Karena kau menyiapkan segalanya untuknya." Termasuk makanan siap saji yang kau masak dari pagi untuk dimakan siang. Bagaimana bisa Armin makan siang dengan makanan dingin? Atau menghabiskan waktu seharian menonton saja? Sendirian? Kau ayah yang 'baik', Erwin. "Pasti Armin mati saat kau pulang."

"Bercandamu tidak lucu, Levi."


Sabtu pagi, Levi mengenakan jaket bertutup kepala dan menjingjing tas belanjaan, menaiki undakan tangga besi. Dia mengeluarkan kunci dari saku, membuka pintu seolah-olah pintu tersebut apartemen miliknya.

"Bagaimana dengan Eren?" pertanyaan pertama Erwin ketika Levi melongo di ruang tengahnya. Sudah sangat bisa ditebak apa yang Erwin katakan. Kata-kata semacam kau mengagetkanku! Ketuk pintu dulu! Astaga, ada apa berkunjung di pagi buta? Atau selamat datang! Tidak akan terucap lagi setelah Erwin memberikan kunci cadangan apartemennya kepada Levi.

"Dia bukan bayi."

"Oh, tolong ikatkan ini kalau begitu." Erwin menggantungkan sehelai dasi di lehernya, kemudian dia menyerahkan diri kepada Levi yang langsung menarik kerah kemeja Erwin naik.

"Kenapa kau tidak langsung mengenakan seragam polisi dari apartemen?"

"Hei, markas polisi itu tidak di apartemen. Kami punya pos sendiri. Dari situlah polisi seharusnya keluar."

"Merepotkan saja."

Armin dalam pangkuan Levi menonton ayahnya berangkat kerja. Tangannya terus melambai sekalipun ayahnya telah berbalik menjauh. Setelah Erwin tak bisa dilihat lagi, Levi membawa Armin ke dalam sambil berniat melakukan hal asyik yang mungkin disukai Armin minggu ini, sebuah ide yang sengaja dia cari dari jauh-jauh hari.


"Aku tidak mengira kau akan datang setelah matahari tenggelam."

Punggung Levi yang dulu terlalu berkarat untuk membungkuk, sekarang punggung yang sama melengkung dengan mudah di depan Grisha Jaeger.

"Saya harus merawat salah satu murid sekolah kita karena orangtuanya bekerja sampai malam."

Grisha menahan air mukanya dari perasaan terkejut, dan hanya mengangguk-angguk saja. "Semenjak aku membawamu kemari, kau banyak berubah, Levi."

Levi tertegun. Selain perubahan yang Grisha sebutkan, apa yang dikatakan Grisha terdengar bertolak belakang dengan apa yang diketahui Levi. "Terimakasih, Pak."

"Apa permintaanku kali ini terlalu berlebihan?"

Levi tidak lekas menjawab, tapi itu bukan karena dia tengah memikirkan sesuatu. Sebuah jawaban terbaca jelas di kepalanya. Jeda memanjang ketika Mikasa menyuguhkan minuman untuk mereka berdua.

"Ini apa yang saya bisa berikan untuk apa yang telah saya terima." Akhirnya Levi berkata.

"Baiklah," Grisha mendehem sembari menutup mulut, menutupi bibirnya yang tak bisa dia tahan turun dari senyuman. "Kau bisa naik. Dia di kamar."

Levi beringsut setelah satu bungkukan kecil. Mikasa masih berdiri di dekat kursi Grisha, matanya mengikuti kemana Levi pergi. Tak seorang pun dari mereka memberitahu dimana persisnya letak kamar Eren, mereka semua tahu persis.

"Mikasa,"

"Ya, Pak?"

Mendengar jawaban itu, Grisha mendongak dalam keterkejutan. Mata mereka saling bertemu, saling bertukar pikiran yang tak memiliki satu kesepakatakan, karena mata mereka tidak menyampaikan apapun selain tatapan dan keheningan.

"Alismu tegang sekali."

"Oh," akhirnya Mikasa terperangah, membuka mulut. "Maksud say—maksudku, ya, Ayah. Sedikit terbawa suasana kantor karena dia ada di sini lagi."

Grisha mengangguk setuju. "Aku lebih terkejut lagi kalian punya nama belakang yang sama tapi tidak saling mengenal."

Mereka berdua terperengah lagi ketika sebuah debum terdengar dari langit-langit. "Menurutmu, mereka baik-baik saja, Mikasa?"

"Apa aku perlu mengeceknya?"

"Tidak. Tidak perlu. Bahkan kalau Levi tak keluar dari kamar Eren sampai lewat jam 10, biarkan saja. Kita lihat besok pagi." Grisha beringsut dari kursi tanpa sekalipun menyentuh atau melirik teh buatan Mikasa yang masih mengepul. Tapi Mikasa pun tidak mempermasalahkannya. Kepalanya mendongak memperhatikan langit-langit dan lampu yang bergetar sambil mengira-ngira apa yang mungkin mereka sedang lakukan di atas.


TBC


Hallo!

Kohan lagi di sini. Terimakasih sudah membaca TKD Chapter 2 sampai akhir!

Oh, plot TKD memang mengusung romance mainstream karena terinspirasi dari kisah kaum gay di sekelilingku ^^, Selama ini, biasanya aku menulis romance dalam tragedy, misteri, atau bahkan horor. Hahahaha /sangat tidak romantis/

Kemungkinan ending ceritanya mungkin mudah tertebak, tapi dalam perjalanan menuju ending, saya harap kalian bisa menikmatinya seperti sedang menaiki bus dalam study tour ^^' /perumpamaan apa ini?/

/Han, kamu mulai formal lagi/

Jangan lupa klik tombol follow, dan isi kotak review!

Review adalah hal yang paling menyenangkan setelah selesai menulis! ^^ v

Sampai nanti~