Nyaaaaa….!

Kembali lagi dengan fic KakaSaku. Entah kenapa saya semangat update lagi gara-gara review dari Kak Awan Hitam dan Lhyn Hatake yang buat saya benar-benar semangat. Dua orang senpai yang telah membawa virus KakaSaku pada saya ini, bener-benar penyemangat.

Lalu big thanks juga buat Cyfz Harunoo yang udah setia mereview setiap fic saya. Saya terharu. Terus buat Riichan LuvHiru yang ternyata penggemar KakaSaku juga dan menyukai fic Kak Awan ma Lhyn juga, salam kenal yah…

Untuk yang mereview udah saya balas ke PM masing-masing.

Hn….sebenarnya kecewa juga karena respon fic chapter awal sedikit sekali. Tapi tak apalah, semua yang mereview minta dilanjutkan dan bilang ceritanya menarik. Makanya di lanjutkan…

Ok lah… langsung ajah. Harap di review walaupun ceritanya mungkin membosankan.

*puppy eyes, ~ ditendang*

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

Disclaimer : Biarpun saya sujud-sujud di kaki Masashi-sensei juga saya gak bakal dikasih hak ciptanya. Hweeeee….*nangis gaje ditendang ma Masashi-sensei*

Summary : Dua keluarga. Dan timbul konflik pada masing-masing keluarga. Akankah konflik pada dua keluarga ini terselesaikan atau justru masing-masing mencari tempat pelarian?

Genre : Drama, Hurt/Comfort. Little Romance

Pairing : KakaSaku. Other : SasuSaku, KakaHina

Rated : T

Warning : AU, OOC, many Typo dan abal plus gaje.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

Chapter 2

.

6 tahun kemudian…..

"Ayo bangun, pemalas," seru seorang wanita ada pria di atas ranjang yang masih bergelut dengan selimut tebalnya berwarna biru. Enggan bangun.

"Ukhhh," erang si pria, saat sang wanita membuka tirai jendela apartemen mereka di lantai 12 itu. "Sakura, tolong tutup lagi. Aku masih ingin tidur," kata pria yang berambut hitam itu dan berbentuk pantat ayam.

"Tidak bisa. Cepat bangun, Sasuke-kun. Hari ini bukannya kau ada rapat dengan pemegang saham yang lain? Kau bisa terlambat, tahu!" jawab si wanita berambut pink pada suaminya, Sasuke Uchiha dan mulai menyibakkan selimut yang menutupi Sasuke.

"Kyaaaa….," teriak Sakura, sang wanita saat Sasuke menarik tangannya, sehingga ia jatuh di ranjang mereka yang empuk itu. Sementara Sasuke dengan cepat menindih tubuh istrinya itu.

"Kapan kau membeli gaun ini? Kau tahu, lekuk tubuhmu terlihat dengan jelas, dan kau seksi sekali," ujar Sasuke dengan nada menggoda.

"Sa…Sasuke-kun, berhenti bicara seperti itu. Gaun ini sudah lama kubeli, aku baru memakainya sekarang. Lagipula, tadi malam kan kau pulang tengah malam, jadi tidak melihat aku memakai ini," jawab Sakura dengan nada gugup dan wajah merona. Ya, ia sadar kalau gaun hitamnya yang terbuat dari bahan tipis ini membuatnya seksi.

"Hm…bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" tawar Sasuke dengan senyum menyeringai.

"….,"

"….,"

'Bruak'

"Aw, sakit, Sakura," pekik Sasuke yang telah sadar didorong oleh Sakura dan sekarang ia telah terkapar di atas lantai kamarnya.

"Itu akibatnya, Pervert. Pagi-pagi sudah minta yang aneh-aneh. Cepat mandi. Jika kau berani mengganggu lagi sekarang, kau tidak akan dapat jatah sarapan, Sasuke-kun," seru Sakura setengah berteriak dan mulai bangkit dari ranjangnya. "Semakin berumur, semakin mesum saja,"

"Aku belum berumur, Sakura, dan umur kita baru 29 tahun. Masih muda, jadi wajar saja tingkat mesumnya masih tinggi," jawab Sasuke yang masih mengusap bokongnya yang sakit tadi.

'BUAK'

Kali ini sebuah bantal besar tepat mengenai wajah Sasuke. Tadi dipukul, sekarang malah dilempar. Ukh…mimpi apa dia semalam. Istrinya pagi-pagi sudah bertingkah seperti monster.

"CEPAT MANDI, SASUKE-KUNNNNN! KAU BAU," jerit Sakura keras dan membuat Sasuke lari terbirit-birit masuk kamar mandi.

.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Ohayou, ayah," seru seorang bocah laki-laki berumur sekitar 6 tahun, bermata onyx dan berambut perak yang lucu sekali.

"Ah…Ohayaou, Hikaru. Kemarilah, jagoan," sahut pria yang dipanggil ayah oleh Hikaru, Kakashi Hatake pada anaknya dengan Hinata itu.

"Ayah lama sekali berpakaian. Aku saja sudah selesai dari tadi," kata sang anak pada ayahnya yang tengah merapikan tata letak dasi yang dipakainya itu. Sedangkan sang anak, memperhatikan aktivitas ayahnya sambil duduk di tepi ranjang ibu dan ayahnya.

"Gomen, Hikaru. Tadi ayah agak telat bangun. Lagipula kau kan dibantu sama Bibi Ayame, jadi kau curang," sahut Kakashi dengan senyum khasnya yang membuat para wanita mungkin tepar. *termasuk author, PLak*

"Benar juga sich, tapi tadi pagi juga aku mandi sendiri tanpa bantuan Bibi Ayame," jawab Hikaru dan mulai berguling-guling di ranjang oarangtuanya. Ayame adalah pembantu dirumah Hatake, usianya masih muda tapi ia sangat sayang pada Hikaru dan juga terampil.

"Oh ya ayah, kapan bibi Hanabi dan paman Konohamaru datang mengunjungiku lagi?" tanya Hikaru yang sudah mulai duduk lagi.

Kakashi yang telah bersiap, mendekati anaknya dan berlutut di tepi ranjang agar sejajar dengan anaknya yang sedang duduk. " Dengar, Bibi Hanabi tidak akan mungkin mengunjungimu tiap hari. Ia sekarang sudah punya kehidupan sendiri, bukan mengurusi Hikaru lagi, apalagi Bibi Hanabi baru saja punya anak," jelas Kakashi dengan sangat pelan agar anaknya mengerti.

"Oh…maksud ayah, Yuki?" sahut Hikaru yang menatap mata ayahnya yang persis dengan matanya.

Kakashi mengangguk dan tersenyum lagi. Hanabi memang sudah menikah dengan Konohamaru 1 tahun yang lalu, dan baru sebulan yang lalu Hanabi melahirkan anak perempuannya, Yuki.

"Paman Konohamaru jahat, membawa bibi Hanabi pergi dari sini," celetuk Hikaru yang lagi-lagi ditanggapi oleh senyuman Kakashi.

"Itu sudah hukumnya. Setiap perempuan harus tinggal dengan suaminya, ibumu juga kan begitu,"

"Fuh…untung saja aku laki-laki, jadi aku tidak akan meninggalkan ayah. Aku akan tetap bersama ayah, bukan seperti ibu yang meninggalkan ayah dan aku terus," omel Hikaru.

"Hush….jangan bicara seperti itu pada ibumu, Hikaru. Ibu pergi untuk pekerjaannnya, dan demi Hikaru juga," Kakashi terlihat menasihati anaknya.

"Tapi ayah, ibu keterlaluan. Baru seminggu yang lalu pulang dari Paris, tidak tahunya 3 hari yang lalu ibu menelpon kalau ibu di London. Ibu pergi tanpa bilang-bilang ayah. Sebenarnya rumah ibu disini atau kantornya sich…" keluh Hikaru dan membantah perkataan ayahnya. Walaupun baru berumur 6 tahun, tapi ia sangat cerdas dan pandai mengkritik hal yang tidak disukainya.

"Pokoknya, jangan berbicara begitu lagi pada ibumu. Ayo berangkat, nanti terlambat ke sekolah," sahut Kakashi dan menggendong anaknya dan bersiap mengantar anaknya.

.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Sakura, bisa kau menjemput ibu di bandara nanti? Ibu nanti datang dari Amerika. Hari ini aku ada peninjauan proyek, jadi aku tidak akan sempat menjemput ibu," Sasuke berbicara pada Sakura dengan mulut penuh kare tomat. *makanan apa itu? Karangan author*

Sakura menghela napas melihat tingkah laku Sasuke yang seperti anak kecil, "Baiklah, akan kujemput. Jam berapa?" tanya Sakura yang mengolesi rotinya dengan selai strawberry.

"Jam 3 nanti. Apa tidak mengganggu jadwal mengajarmu? Hari ini kan hari pertama kau mengajar" tanya Sasuke yang sekarang sedang meminum jus tomatnya. * serba tomat*

"Tidak kok. Lagipula sekolah sudah bubar jam 2. Oh iya, apa Itachi-nii tidak ikut bersama ibu kali ini?" jawab serta tanya Sakura .

"Tidak. Itachi-nii sedang sibuk di Amerika. Lagipula anak dan istrinya kan disana," jawab Sasuke dan bersiap pergi. "Aku pergi dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik," Sasuke bangkit dan menuju ke pintu untuk turun.

"Ehm…kau lupa sesuatu, Sasuke-kun?" tegur Sakura dan bersandar di pintu.

"Oh iya," satu kecupan ringan mendarat di bibir Sakura yang setiap hari Sasuke lakukan sejak mereka menikah. " Aku tidak lupa kok, tadi aku cuma mengujimu,"

"Pembohong," sahut Sakura yang dibarengi senyum Sasuke.

.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Hari ini kakek akan menjemputmu. Lalu kakek akan ke bandara bersamamu. Kita akan menjemput ibu hari ini. Ayah akan langsung ke bandara nanti," ujar Kakashi pada Hikaru. Mereka sudah sampai di sekolah Hikaru. Konoha Elementary School.

"Ibu akan pulang hari ini? Kenapa ayah tidak memberitahuku? Aku sudah tidak sabar. Yatta…," teriak Hikaru senang sampai membuat mobil yang mereka naiki bergetar.

"Itu kan buat kejutan. Tadi pagi, ayah memang sengaja gak bilang-bilang. Nah, ayo turun. Sebentar lagi bel masuk, kan?"

"Ya sudah. Aku pergi dulu ayah…. Nanti jangan terlambat ke bandaranya, yah. Aku sayang ayah. Sayang sekali," kata Hikaru dan mencium pipi Kakashi.

"Ayah juga sayang padamu. Nah, jagoan. Jangan nakal di sekolah," sahut Kakashi yang mengacak-ngacak rambut perak Hikaru.

"Tentu ayah. Dada…," Hikaru membuka pintu mobil dan melompat turun. Setelah itu Ford milik Kakashi meluncur dengan mulusnya di jalanan Konoha.

.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

Sakura's POV

Hari ini hari pertama aku bekerja. Setelah berusaha membujuk Sasuke, akhirnya aku diijinkan juga bekerja. Fuh…leganya. Selama aku menikah dengannya, aku jadi Ibu Rumah Tangga alias IRT. Bayangkan saja betapa itu sangat membosankan, kalau aku tidak bekerja, lalu apa gunanya gelar keguruanku ini? Akhirnya melalui proses yang panjang, aku pun bekerja, seperti impianku dari dulu.

Kenapa aku memilih menjadi guru? Ada dua alasan. Alasan pertama, karena memang aku memegang titel keguruan. Sarjana pendidikan. Yang kedua, aku ingin dekat dengan anak-anak. Karena itu aku mengajar di sekolah dasar ini. Pasti anaknya lucu-lucu, dan aku akan terlatih merawat dan membimbing anak-anak yang ada disini.

Saat ini jika dilihat dari kasat mata, hidupku dan Sasuke sempurna. Kami bahagia, saling mencintai dan pernikahan kami bisa bertahan selama 6 tahun, ini luar biasa menurutku. Tapi, jika diteliti baik-baik, ada yang kurang dalam hidup kami.

Anak. Ya, anak. Sudah 6 tahun kami bersama, kami belum juga dikaruniai anak. Entah kami yang salah atau Kami-sama memang belum mengijinkan, aku tidak tahu. Tapi aku bersyukur karena memiliki suami yang pengertian, karena sampai saat ini, ia tidak pernah mempermasalahkan masalah ini. Aku pun sudah memberi ide untuk memeriksa, tapi ia menolak dan mengatakan mungkin Kami-sama belum memberi kami rejeki berupa anak.

Kalau ditanya, iri kah aku? Tentu saja aku iri. Aku iri pada orangtua yang menggandeng tangan anaknya ke sekolah, aku iri pada orangtua yang dicium oleh anak mereka. Aku ingin merasakan hal yang sama. Tapi lagi-lagi takdir mengatakan hal lain. Aku ingin bilang Kami-sama tidak adil padaku. Tapi apakah aku pantas mengatakan padanya? Selama ini ia cukup adil padaku. Saat kedua orangtuaku meninggal aku justru tidak ditinggalkan sendiri, karena keluarga Uchiha merawatku. Lalu sekarang kehidupanku dengan si bungsu Uchiha itu sangat bahagia. Apa pantas aku mengatakan hal yang seperti itu pada Kami-sama?

Sakura's POV End

.

.

"Aduh….,"

Sakura segera terbangun dari khayalannya saat mendengar suara rintihan kesakitan. Ditolehkan kepalanya ke samping kanan, dan terkejut saat mendapati seorang bocah laki-laki berambut perak disampingnya itu terantuk batu. Sepertinya lututnya lecet.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura sambil berjongkok.

"Sa..kit.. Ittai…," rintih anak itu dan hampir menangis.

"Hei…jangan menangis… Kau kan cowok. Sepertinya kakimu lecet. Masih bisa jalan? Ayo tunjukkan dimana UKS nya, supaya aku bisa mengobatimu," ujar Sakura dan membimbing anak itu berjalan.

.

"Kenapa bisa jatuh? Pasti kau tidak hati-hati," ujar Sakura seraya mengobati luka lecet di lutut anak itu yang sudah duduk di pinggiran ranjang UKS.

"Aku hanya ingin berlari, tidak tahunya aku malah jatuh. Ittai," jawab anak itu dengan mata berkaca-kaca.

"Hei, tadi kan bibi sudah bilang, jangan menangis. Kau laki-laki, harus kuat. Memangnya selama ini kau tidak pernah jatuh?" tanya Sakura lagi.

"Aku ingin menangis bukan karena luka ini. Tapi cara mengobati Bibi yang tidak pelan-pelan, beda dengan cara mengobati ayahku," gerutu anak itu lagi.

Sakura menghela napas. Ya ampun…perasaan ia sudah lembut mengobati anak ini. Apa ayahnya benar-benar dengan lembut mengobatinya?

"Nah, sudah selesai. Yang tadi maaf ya? Ayo berkenalan. Namaku Uchiha Sakura. Salam kenal. Nah, anak manis didepanku ini siapa?"

"Namaku Hikaru. Hatake Hikaru. Salam kenal juga," jawab anak itu yang ternyata adalah Hikaru.

"Kau anak sekolah sini ya? Aku guru baru disini… Mohon bantuannya, Hikaru," ujar Sakura seraya tersenyum manis.

"Tentu. Jadi mulai sekarang Hikaru akan memanggil Sakura-sensei. Oh iya, Arigatou sudah menyembuhkan luka Hikaru, Sakura-sensei. Aku masuk kelas dulu," kata Hikaru dan melompat turun dari ranjang UKS dan segera berlari meninggalkan Sakura sendirian.

'Anak yang lucu dan sopan'

.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

"Iyah…ayah sudah di bandara sekarang. Pesawat ibu belum sampai kan?" Kakashi tampak terburu-buru. Ia berjalan sambil berlari, karena ia sudah terlambat setengah jam dari yang ia janjikan pada Hikaru.

'Ayah ngapain aja sich? Ayah telat setengah jam kata kakek'

"Maaf, tadi dijalan macet soalnya. Sekarang kakek mana?"

'Ada, tapi kakek lagi liat-liat pramugari yang seksi'

"Baiklah, ayah akan segera sampai kesana. Jangan ikut-ikutan kakekmu, mengerti?"

'Baik ayah… sampai ketemu'

Tut..tut..tut…

Itulah pembicaraan singkat ayah dan anak yang saling menyayangi ini.

.

.

"Ibu, aku sudah di bandara. Ibu sekarang dimana? Maaf, aku telat menjemput ibu," ujar Sakura yang menelpon Mikoto Uchiha, ibu mertuanya. Ibu mertuanya menunggunnya dari 10 menit yang lalu.

'Tidak apa-apa. Ibu ada di bagian loket, pintu 10,' jawab yang diseberang.

"Baiklah, aku akan kesana, Ibu,"

Tut..tut..tut…

.

.

'DUG'

"Aw..," rintih Sakura pelan saat disadarinya kalau bahunya sedikit sakit karena disenggol. Yang menyenggolnya pun tersadar.

"Gomen. Tadi saya agak sedikit melamun, sehingga menabrak anda," ujar sang pria yang menyenggolnya menyadari kelalaiannya sampai membuat yang disenggolnya jatuh dan seluruh isi tasnya bertebaran kemana-mana.

"Tidak apa-apa, saya juga tadi mela…hei…kau yang waktu itu, kan?" pekik Sakura sedikit terkejut menyadari kalau orang yang didepannya yang notabene menyenggolnya tadi, tidak asing baginya.

"Maaf…tadi anda bilang apa?" saat ini Kakashi sudah membereskan semua barang-barang Sakura yang jatuh dan memberikan tas itu pada pemiliknya.

"Kau tidak mengingatku? 6 tahun lalu kita pernah bertemu. Waktu itu kau mencari ayahmu untuk mengabarkan istrimu sudah melahirkan," tukas Sakura yang tidak sabar ingin mendengar jawaban Kakashi.

Kakashi diam. Sepertinya ia sedang memutar memorinya kembali pada 6 tahun yang lalu.

"Ah…aku ingat. Kau si mempelai wanita itu, kan?"

"Hm… aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Bagaimana kabarmu? Dan sedang apa kau disini?" tanya Sakura.

"Kabarku baik-baik saja. Aku kesini pastinya untuk menjemput seseorang, tidak mungkin kan aku datang shooping? canda Kakashi. "Dan kau? Bagaimana?"

"Aku juga baik-baik saja. Pernikahanku bahagia. Arigatou buat sarannya dulu," jawab Sakura seraya menunduk pelan.

"Hahahaha….sudahlah. Tidak perlu sungkan," jawab Kakashi seraya tersenyum. Seperti biasa. Ia selalu tersenyum.

"Ah…bagaimana anakmu? Dia sudah besar, kan?" tanya Sakura lagi. Kali ini ia yang lebih aktif bertanya.

"Tentu. Ia tampan sepertiku dan juga lucu. Ah…jangan lupa, ia juga cerdas," jawab Kakashi dengan nada bangga.

"Hah? Kau tidak salah membandingkan anakmu denganmu? Sepertinya anakmu pasti lebih tampan daripada dirimu," ejek Sakura, sembari meremehkan.

"Tidak sopan," kali ini Kakashi yang mengulang perkataan Sakura 6 tahun yang lalu. "Bagaimana pun dia anak kandungku, pasti yang ada padaku, diwarisinya. Oh iya, kau mau bertemu dengannya? Anakku dan ayahku ada disana. Aku kesini ingin menjemput istriku dari London,"

"Ehmm…sebenarnya aku mau. Aku juga penasaran dengan anakmu, tapi Ibu ku sudah menungguku dari tadi. Ngobrol denganmu saja sudah menyita waktuku. Lain kali saja, ya?" jawab Sakura.

"Baiklah. Kita bisa bertemu lagi, kan?" tanya Kakashi kali ini.

"Tentu. Buktinya sekarang kita bertemu lagi, setelah 6 tahun, benar kan. Ya sudah, aku duluan, Ja ne…," Sakura lalu berbalik dan berjalan cepat lagi ke tempat Mikoto.

Kakashi pun berjalan dengan cepat juga, karena ia tidak ingin membuat Hikaru menunggunya. Apalagi dengan ayahnya yang pervert. Bisa-bisa anak kesayangannya itu tertular.

.

.

'Shit. Hampir saja aku lupa,'

Kakashi segera berbalik dan masih mendapatkan wanita pink itu sedang berjalan. Jarak mereka belum jauh rupanya. Segera dikejarnya wanita itu, karena jika ia berteriak maka ia akan menjadi bahan perhatian oleh semua yang ada di bandara yang ramai ini.

"Ah…permisi,"

Sakura berhenti dan mendapati Kakashi dibelakangnya. Ia menatap Kakashi kebingungan.

"Iya..ada apa, yah?"

Kakashi mengatur nafasnya yang agak tersengal-sengal. "Kita berbicara sudah seperti teman. Tapi kita belum berkenalan. Dan aku belum tahu nama anda. Jadi, nama anda siapa?" Kakashi menjulurkan tangannya, menanti Sakura menggapainya.

"Ya ampun. Itu yang ingin kulakukan sejak 6 tahun yang lalu. Sekarang aku pun lupa. Sakura. Uchiha Sakura. Salam kenal. Jadi anda?" tanya Sakura balik dan mulai membalas uluran tangan Kakashi, menjabatnya pelan.

"Kakashi. Hatake Kakashi. Salam kenal. Semoga setelah kita mengetahui nama masing-masing, ini bukan jadi pertemuan terakhir kita," ujar Kakashi.

"Aku pun berharap begitu, Kakashi-san. Tapi, hari esok, siapa yang tahu, kan?"

.

.

.

KUROSAKI KUCHIKI

.

'Hatake yah? Entah dimana, nama itu tidak asing bagiku. Ah, sudahlah. Mungkin aku yang salah menduga,' Sakura kembali berpisah dengan Kakashi setelah perkenalan singkat tadi.

Ketidaksengajaan sepertinya tidak pernah lepas dari pertemuan kedua insan manusia ini. Hatake Kakashi dan Uchiha Sakura. Ketidaksengajaan yang seakan menjadi benang merah dalam pertemuan mereka. Akankah ketidaksengajaan berakhir dengan kesengajaan? Hari esok siapa yang tahu?

.

.

TBC

.

Chapter ini kok rumit yah? Saya butuh waktu seminggu buat bikin rancangan pertemuan Sakura dan juga Kakashi.

Maaf kalau ceritanya agak membosankan dan belum masuk ke inti. Saya benar-benar minta maaf. Kak Awan, maaf gak bisa kasih yang terbaik. Konflik yang sebenarnya belum terjadi. Kak…aku tunggu lanjutan fic kakak yang Merpati Tak Pernah Ingkar Janji. Aku geregetan gara-gara kakak gak cepet update.

Lhyn, sesuai permintaanmu. Anak Kakashi aku jaga baik-baik. Sekarang kamu boleh pacari Hikaru. Tapi Hikarunya mau gak sama kamu? Masa anak 6 tahun mau dipacari. *Plak, ditampar Lhyn*

Ow ya Lhyn, aku tunggu Sensei To Life yang chapter 5 sekalian ma sequel 2nd Sakura. Jujur, aku juga geregetan ma endingnya. Aku kira ada adegan mesra KakaSaku. Cepet buat, kalau gak, nih…*Acungin parang ke leher Lhyn*

And buat Chfz Harunoo, makasih dah di fave. Aku tunggu kelanjutan All Memory On Flashdisk nya.

Pokoke makasih banget karena udah kasih respon yang bagus chap pertama. Saya janji chapter-chapter ke depannya tidak akan membosankan, dan fic ini akan saya update rutin.

Ya udah review berbentuk apapun saya nantikan.