Nightmare
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
This story is mine !
Genre : Horror, Romance, Mystery, Crime
Rate : T
Warninng : Gaje, AU, miss typo, abal – abal, maybe OOC, dan segala kekurangan lainnya !
Don't Like Don't Read
Happy Reading !
000
000
Chapter 2
000
"Sakura-chan !"
Begitu Sakura melangkah memasuki ruang kelasnya, ia langsung disambut sebuah suara cempreng milik temannya.
"Ada apa Naruto ?" tanya Sakura sambil memandang bosan pemuda yang sedari tadi cengar – cengir di depannya.
"Boleh aku melihat tugas Akutansimu, Sakura-chan ? Keterlaluan sekali si Asuma itu memberikan banyak soal. Aku saja hanya bisa mengerjakan sebagian…"
"Setidaknya biarkan aku duduk dulu, Naruto." Sakura berjalan melewati Naruto dan mengabaikan ocehan pemuda berambut jabrik tersebut.
Setelah Sakura sampai di tempat duduknya–baris kedua dari depan, persis di sebelah jendela yang menghadap ke halaman belakang–ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul coklat.
"Kenapa tidak menyalin punya Hinata saja ? Dengan senang hati ia akan memperlihatkan tugasnya." kata Sakura sembari mengecek kilat semua jawabannya.
"Maunya sih begitu. Tapi Hinata-chan belum datang –ttebayo !" ucap Naruto yang sedang mencoret – coret ujung bukunya dengan pensil.
Sakura melayangkan pandangannya ke seluruh kelas, dan benar saja, Sakura tak menemukan gadis dengan surai indigo dimanapun. Ia melihat teman – teman sekelasnya yang tengah mengobrol santai atau mengerjakan PR seperti Naruto.
"Baiklah Sakura-chan, aku pinjam dulu ya !"
.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Sakura berjalan merendengi langkah sahabatnya, sekarang sudah jam istirahat pertama.
"… Kau tahu kan seperti apa dia ? Padahal aku kan mengharapkan sesuatu yang romantis, seperti bunga atau cokelat…"
Ia tidak benar – benar mendengarkan perkataan Ino, pikirannya melayang ke mana – mana. Sakura hanya sesekali menjawab 'Ya', 'Oh', atau 'Hmm' jika ada jeda. Maka, ia bingung ketika sahabatnya yang berambut dirty blonde itu sudah tak ada di sebelahnya lagi.
Sakura menoleh ke belakang dan mendapati Ino berdiri beberapa meter darinya, ia terlihat kesal.
"Ada apa ?" Sakura mendekati Ino dengan wajah innocent yang tidak dibuat – buat.
"Kau tidak mendengarkanku, forehead." Jawab Ino ketus, ia melipat tangannya di dada.
"Maafkan aku…" desah Sakura.
"Kau sekarang menjadi aneh Sakura." lanjut Ino sambil ikut – ikutan mendesah.
Sakura masih memproses pertanyaan Ino di dalam kepalanya–Ah, sejak kapan ia telmi begini ? Akhirnya ia mengucapan sesuatu–"Terima kasih… ?"
Oh, sial.
Ino memutar kedua bola matanya, "Ck, sudahlah." kemudian ia menyambar lengan Sakura dan setengah menyeretnya ke tempat tujuannya tadi–toilet cewek.
"Aku jadi penasaran apakah Sai menganggapku kekanakan… Sungguh, harusnya aku yang mengatakan hal itu padanya…"
Sementara Ino meneruskan curhatannya mengenai Sai-pacarnya dari kelas Sastra-Sakura menggerutu dalam hati.
'Apakah semua orang yang berambut pirang selalu begini ? Cerewet dan terlalu santai ?' batin Sakura agak sebal.
…
Ino segera menghambur masuk ke salah satu bilik begitu sampai di toilet. Beda dengan Sakura yang hanya mencuci tangannya di wastafel.
Setelah selesai membasuh tangannya, ia mengeringkannya di hand dryer. Kemudian Sakura mencuci tangannya lagi, lalu mengeringkannya. Ia cuci lagi, lalu dikeringkan lagi.
Sungguh kurang kerjaan.
Akhirnya Sakura mengamati wajahnya sendiri di depan cermin besar yang ada di toilet tersebut. Wajahnya sudah lebih baik daripada waktu pagi tadi. Hanya saja, kantung mata hitam itu sangat mengganggu pemandangan.
Menurutnya, jika ia berdiam diri seperti itu, ia terlihat muram. Maka, Sakura mencoba tersenyum. Ah, senyumnya seperti dipaksakan. Sama sekali tidak cocok.
Ia mencoba tersenyum lebih lebar lagi. Tapi hasilnya pun sama saja. Apa sih, yang membuat ia terlihat seperti ini ?
"Apa yang kau lakukan Sakura ? Melakukan senam wajah, hah ?" suara Ino mengagetkan Sakura. Ternyata tanpa sadar, ia telah mencondongkan diri ke arah cermin.
Ino hanya terkikik geli melihat Sakura yang salah tingkah. Ia baru menyadari bahwa perbuatannya tadi sangatlah konyol.
Ino merogoh sakunya dan mengluarkan sebuah lipgloss warna peach. Ia lalu mengoleskannya pelan – pelan pada bibirnya.
Sekarang Sakura merasa aneh, bulu kuduknya berdiri dan ia merasa hawa semakin dingin. Ia melirik Ino yang mulai bersenandung kecil.
Sesaat hening, hanya terdengar suara Ino yang sekarang menyanyikan sebuah lagu-Sakura tak yakin pernah mendengarnya-sebelum suara air mengucur deras ketika Sakura membuka keran di depannya. Ia membungkuk dan membasuh wajahnya.
Ia mendongak dan apa yang dilihatnya hampir membuatnya jantungan. Sakura melihat sosok berambut merah marun dengan jubah hitam berjalan di belakangnya. Dari kanan ke kiri. Sesuatu menetes – netes dari wajahnya.
"Ino…" Sakura memanggil nama sahabatnya dengan ketakutan, ia berbalik sambil mencengkeram pinggiran wastafel.
Tak ada siapa pun di belakangnya, tapi Sakura belum merasa lega, ia masih merinding.
"Ino… Ayo kita keluar…" pinta Sakura lirih. Tatapannya bergerak ke arah cermin lagi dan ia langsung terhuyung mundur hingga menabrak dinding.
Ino yang seharusnya berdiri tepat di sebelahnya menghilang, digantikan dengan seorang wanita mengerikan. Rambut hitamnya panjang hingga menyentuh lantai. Wajahnya yang bersimbah darah sudah tak utuh lagi. Salah satu matanya menggantung keluar dari rongganya-sedangkan yang mata yang satu menatap Sakura dengan marah.
Jubah hitamnya compang – camping. Wanita itu mengulurkan tangannya yang sudah membusuk ke arah Sakura dan mendekatinya. Lampu yang mulai berkedap – kedip semakin menciutkan nyali Sakura yang sekarang sudah terduduk di lantai yang dingin.
"Ino… Tolong…" Sakura sudah menangis saking takutnya. Tapi ia masih bisa menyadari sebuah keanehan, wanita itu seperti kesusahan mendekati Sakura-seolah ada yang menahannya. Tapi ia tak begitu peduli, toh makhluk itu bisa mengambil nyawanya kapan saja…
Wanita itu mengeluarkan geraman murka, ia melayang semakin dekat dengan Sakura.
"Ino…" Sakura merintih lagi ketika ia mencium bau yang amat busuk, ia memejamkan matanya. Makhluk itu sudah sangat dekat dengan Sakura.
"In-SASORIII !" Sakura yang sudah akan memanggil Ino lagi, berubah pikiran di tengah – tengah perkataannya dan malah meneriakkan nama Sasori-nama yang tiba – tiba melintas dalam pikirannya.
Sakura mendengar makhluk itu mengeluarkan lengkingan yang memekakkan telinga. Sontak Sakura langsung menutup telinganya dan merapat lagi ke arah dinding.
Hawa pelan – pelan mulai menghangat lagi. Batin Sakura pun mengatakan sudah tak ada apa – apa lagi. Tapi ia tak mau bergerak walau hanya sesenti, apalagi membuka matanya. Sakura terlalu ketakutan dengan makhluk halus yang tadi.
SBYURR…
KLEK !
Suara toilet yang tersiram air dan bunyi pintu yang dibuka memasuki indra pendengarannya, tetapi Sakura tetap bergeming.
"Apa yang kau lakukan di situ Sakura ?" kali ini, suara Ino yang bernada heran membuatnya terlonjak kaget. Pelan – pelan ia membuka matanya dan mendapati Ino sedang berkacak pinggang sambil menunduk ke arah Sakura.
Ah, tentu saja. Paling tidak seharusnya Sakura mendengar bunyi pintu bilik toilet yang dibuka. Bukan Ino yang tiba – tiba berada di belakangnya dan tahu – tahu sudah berubah menjadi makhluk menyeramkan.
Sakura menghela napas panjang.
"Kau tidak apa – apa ?" Ino bertanya dengan agak khawatir dan mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura berdiri.
"Aku tak apa – apa." jawab Sakura-jawaban bohong sebenarnya- dan ia menerima uluran tangan Ino yang sekarang menatap Sakura tak percaya.
"Ayolah, Sakura. Ceritakan padaku." pinta Ino sambil menghentikan langkah Sakura yang menuju keluar toilet dengan terburu – buru.
"Kita keluar dulu dari sini." sahut Sakura singkat. Makhluk itu bisa langsung menampakkan diri begitu saja dan mengganggu mereka berdua.
"Oke deh." jawab Ino sambil mendengus. Akhirnya mereka meninggalkan toilet cewek-tempat yang akan dihindari Sakura sebisanya-dan berjalan cepat menuju kantin-dengan Sakura yang memimpin di depan-.
.
.
.
"Nah, sekarang ceritakan padaku Sakura !" seru Ino setelah mereka duduk di salah pojok kantin yang lumayan ramai.
"Aku tadi melihat… Hantu." ucap Sakura sambil menyesap Cola yang ia barusan ia beli.
"Oh." Sakura bisa melihat wajah Ino memucat, "Oh, yeah. Tempat itu memang berhantu." lanjut Ino.
"Benarkah ?"
"Kau tidak tahu, forehead ?" tanya Ino sambil memasukkan tusukan pertama takoyakinya dan menghela napas pasrah ketika Sakura menggeleng dengan polosnya.
"Katanya sekoah ini memang berhantu." perkataan Ino sukses membuat Sakura melongo.
"Berhantu ?" ulang Sakura tak percaya, "Oh. Wow. Ng… Hebat." kali ini giliran Ino yang menyernyitkan alisnya dengan heran.
"Apakah hantu itu melakukan sesuatu pada otakmu ?" sindir Ino membuat semburat merah muncul di pipi Sakura yang menahan malu karena jawabannya yang aneh.
"Ck, bukan itu maksudku Ino-pig. Sudah tiga tahun aku bersekolah di sini dan baru mengetahuinya sekarang," kilah Sakura, "Jahat sekali kau tidak memberitahuku." lanjutnya.
"Bukankah kau lemah terhadap hal – hal seperti ini ?" tanya Ino lagi.
"Tidak terlalu…" jawab Sakura. Kemudian hening, tak ada yang berkata lagi, kedua gadis itu larut dalam pikiran masing – masing.
…
Sakura merasa agak terganggu, sejak 5 menit yang lalu, gadis pirang di depannya mencuri – curi pandang ke arah dirinya terus. Seolah menunggu sesuatu akan terjadi.
Karena Cola yang ia beli sudah habis, Sakura tak bisa melakukan kegiatan apa pun untuk mengalihkan perhatiannya.
"Ada apa Ino ?" akhirnya Sakura memutuskan untuk bertanya. Wajah Ino langsung memerah.
"Aku… hanya penasaran." Ino menarik napas terlebih dahulu sebelum menjawab, "Kenapa kau tidak pingsan." lanjutnya.
"Pingsan ?" Sakura mengulang kata itu dengan heran.
"Yah… Biasanya jika ada yang didatangi makhluk itu, pasti akan pingsan-entah karena apa-."ucap Ino, "Tapi kau tidak pingsan." ia menekankan kalimat terakhir itu.
"Benarkah ?" Sakura merasa bingung.
"Apa yang kau lakukan ? Apa kau membawa semacam jimat pengusir setan ?" tanya Ino.
"Tidak…" Sakura berpikir sebentar, "Tapi aku melihat sesosok bayangan di cermin…"
Sakura bertambah bingung ketika melihat temannya itu terkekeh, "Tentu saja, forehead. Kau memang melihat bayanganmu sendiri di cermin." Ino terkekeh lagi, wajahnya merileks.
"Kau tahu ? Sasuke dari kelas IPA memandangimu terus." ucap Ino sambil mengedikkan kepalanya ke arah seseorang yang ternyata memang sedang menatap Sakura.
Sejenak kepala Sakura menoleh – noleh, sebelum atensinya tertuju pada pemuda berambut raven yang tengah duduk di kantin bersama gengnya-Naruto, Kiba, Neji, dan ia sendiri-memandang Sakura dengan aneh. Tatapannya kosong, tidak fokus. Sakura berbalik lagi menghadap Ino, ia bergidik.
"Aneh." ujar Sakura sementara Ino tertawa kecil dan kembali melanjutkan ocehannya. Dan juga seperti biasa, Sakura tidak menghiraukan Ino.
Beberapa saat kemudian, Sasuke dan tiga orang sahabatnya beranjak meninggalkan kantin. Entah matanya menipunya atau tidak, Sakura melihat Sasuke tersenyum tipis kepadanya.
…
Sakura berjalan keluar dari gedung sekolahnya. Tugas sebagai ketua OSIS membuatnya pulang ketika hari sudah sore.
Ketika ia menuruni undakan depan, Sakura merasakan sesuatu jatuh tepat di belakangnya, membuat rambut pinknya berkibar. Dan sejurus kemudian, ia mendengar benda itu menabrak lantai keramik dengan suara keras.
BRAK !
Ia menoleh ke belakang dan menunduk ke bawah. Ada sebuah batu bata yang telah pecah berserakan. Jantung Sakura mencelos.
Apakah itu dimaksudkan untuk melukainya ? Siapa yang melakukannya ? Sakura bergidik jika membayangkan batu bata itu tepat mengenai sasaran yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Sakura mendongak ke atas, jendela di koridor lantai tiga terbuka. Jendela itu berada tepat di atasnya.
"Sakura !" ada seseorang yang memanggil namanya, dan Sakura melihat seorang menghampiri dirinya dari arah sekolah.
"Kau tidak apa – apa ? Tadi aku melihat seseorang yang mencurigakan di sekolah !" seru gadis itu. Tenten namanya, anak kelas IPA sekaligus temannya sejak SMP.
"A- Aku tidak apa – apa," jawab Sakura terbata, "Siapa orang itu ? Ke mana perginya ?" Sakura yakin orang mencurigakan itulah yang berniat mencelakakaan dirinya.
"Itulah, aku melihatnya berlari turun dari lantai tiga dan aku mengejarnya. Tapi orang itu memecahkan kaca dan melompati pagar belakang sekolah !" seru Tenten dengan gusar, "JIka aku bisa menangkapnya, wanita itu pasti sudah kubuat babak belur !" lanjutnya.
Sakura menyernyit, "Wanita ? Bagaimana kau tahu ?"
Tenten berpikir sejenak sebelum menjawab, "Postur tubuhnya dan… Cara jalannya. Aku yakin sekali ia seorang wanita."
Ia hanya mengangguk, "Kenapa kau belum pulang, Tenten ?"
"Kau sendiri ?" Sakura menyernyit mendengar jawaban–atau lebih tepatnya pertanyaan–dari Tenten, "Jawab dulu pertanyaanku, Tenten."
Tenten nyengir, "Aku hanya berlatih sebentar," ia berkata dengan malu – malu sambil menunjuk pedang kayu yang selama ini ia bawa, Sakura saja yang tidak memperhatikan, "Nah, aku boeh bertanya sekarang kan ? Kenapa kau belum pulang, Sakura ?"
"Yah, kau tahu, menjadi ketua OSIS menyita banyak waktuku," jawab Sakura, Tenten mengangguk mengerti, "Pulang bareng, yuk." ajak Sakura.
Mendadak Tenten merasa salah tingkah, "Tidak, Sakura. Maaf, aku belum selesai latihan. Guy-sensei pasti akan menghukumku jika ketahuan bolos." kata Tenten.
"Tak apa." ucap Sakura singkat meski ia mengeluh dalam hati. Bagaimana jika orang yang mencoba melukainya itu menyerangnya saat ia berjalan pulang sendirian ? Tenten kan bisa melawan orang itu untuknya.
Ah, bukankah ini tampak seperti 'memanfaatkan' ? Suara kecil dalam diri Sakura menolaknya.
Tapi wajar kan ? Ia hampir saja celaka dan ia ketakutan. Sakura membalas suara kecil tak mengenakkan itu.
Arah rumah kalian berbeda, kau mengigau, baka!
Jangan memanggiku baka, dasar baka !
Bagaimana jika Tenten yang menjatuhkan batu bata itu ?
Sekarang kau yang mengigau ! Tenten sahabatku dan ia tak akan melakukan itu !
"Hei, Sakura ?" Tenten memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Sakura lebih jelas, mencoba menyadarkan gadis bersurai pink yang larut dalam pikirannya sendiri.
"Oh— Apa Tenten ?" kata Sakura agak gagap, ia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena sempat – sempatnya berpikir konyol. Tetapi sempat terlintas dalam benaknya untuk bertanya, apakah memang Tenten yang melakukannya.
'Tidak,' Sakura membatin, 'Gadis itu tak mungkin menjatuhkan batu bata dari lantai tiga dan sudah berada di depanku dalam waktu 5 detik.'
"Hmm… Kalau begitu aku berlatih lagi ya Sakura. Jaa !" ucap Tenten sambil berlari – lari kecil memasuki gedung sekolah.
Sakura terdiam, mengamati punggung Tenten yang semakin menjauh sebelum berbelok di koridor. Ia menghela napas panjang. Sakura sangat lelah, ditambah dengan kejadian yang hampir menimpa dirinya barusan, ia ingin sekali menghempaskan tubuhnya ke kasurnya yang empuk.
Sakura menatap pecahan batu bata di depannya, lalu menghela napas sekali lagi, lalu berbalik menuju rumahnya dengan perasaaan mawas.
…
Gadis bersurai pink itu mempercepat langkahnya, ia tahu ada seseorang yang mengikutinya. Sakura bertaruh seseorang itu yang menjatuhkan batu bata untuk mencelakainya.
Ia berjongkok, berpura – pura mengikat tali sepatunya, lalu diam – diam menoleh kebelakang.
Sakura melihat, dalam naungan pohon birch yang besar, orang itu menatapnya. Meski wajah orang itu tak kelihatan akibat tudung jaket yang ia kenakan bersama topi, sungguh mencurigakan.
Bagi Sakura, orang itu terlihat seperti laki – laki. Ia pasti akan menduga seperti itu jika tak diberitahu Tenten sebelumnya.
Ia bergidik dan sedikit menyesali sesuatu, kenapa dia menyetop ekskul bela diri di sekolahnya sih ? Dalam benaknya sekarang Sakura mencoba mengingat – ingat gerakan – gerakan karate yang pernah diajarkan padanya, siapa tahu ia membutuhkannya nanti.
Sakura bangkit dan berjalan lebih cepat lagi. Ia tak berharap banyak pada ingatannya yang telah samar – samar, maka ketika ia berbelok ke salah satu gang, Sakura mulai berlari dan tak berhenti sebelum sampai di rumahnya.
Dirinya tahu bahwa orang tuanya pergi kerja dan tak pulang sebelum matahari terbenam, jadi ia mulai menutup semua pintu dan jendela lalu menguncinya.
Ia mengintip dari celah gorden di kamarnya yang berada di lantai dua. Kamar itu menghadap ke jalanan yang terlihat sepi di depan rumahnya. Sejauh ini ia tak melihat sesuatu yang mencurigakan di mana pun.
Beberapa saat kemudian Sakura baru beranjak dari tempatnya, takut ada sesuatu yang luput dari penglihatannya. Ia menyambar handuknya dan turun ke kamar mandi.
Sakura tak berniat berlama – lama di kamar mandi. Ketika ia membuka pintu kamarnya, sinar matahari sore yang kemerahan telah menelusup masuk dari celah gordennya.
Ia berjalan menuju tas ranselnya di sudut kamar, mengambil dua buku Geografinya, dan mulai mengerjakan PR. Tangan kanannya yang menggenggam pena bergerak lincah di atas buku tulisnya, hingga, setengah jam kemudian, dua halaman bukunya telah penuh oleh tulisan tangan yang kecil – kecil dan rapi.
Sakura membaca lagi hasil pemikirannya selama beberapa menit sebelum menutup semua bukunya. Ia termenung di depan meja belajarnya, Sakura merasa sangaaat bosan.
Tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan di luar. Salahkanlah dirinya yang memang agak menutup diri di sekolahnya. Tapi dengan adanya seseorang yang membuntutinya tadi, riskan sekali meski hanya berjalan – jalan di taman kompleks sebelah.
Kring… Kring… Kring…
Suara itu mengagetkan Sakura hingga hampir terjungkal dari kursinya. Ponsel yang berada di tas ranselnya berbunyi. Dengan degup jantungnya yang masih menggila, Sakura tidak berani bergerak sesenti pun.
Akhirnya dering ponselnya berhenti, disusul dengan bunyi 'bip bip' pelan yang menandakan bahwa ada pesan yang masuk.
Sakura mengambil ponselnya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Ada satu missed call dari Deidara, ia menyernyit, lalu membuka pesannya yang ternyata berasal dari orang yang sama.
000
From : Deidara
'Angkatlah teleponku sekali kali pinky, kenapa kau tidak ubah ringtonenya saja sih ? Besok kita jadi ke taman bermain, kan ? Aku kangen kau pinky :* '
000
Sakura setengah tak percaya isi SMS dari pacarnya itu. Deidara mengirimi pesan hanya untuk hal sepele seperti ini, huh ? Sungguh buang – buang pulsa– Tunggu, kenapa ia menjadi materialistis begini ?
Dan Sakura tak tahu ada acara ke taman bermain segala, tanpa sadar ia menggerutu dalam hati. Beruntung Deidara tidak menambah kata 'un' dalam SMSnya—jika itu masih bisa disebut sebagai kata, bagi Sakura itu hanya dua huruf yang aneh—seperti ketika ia berbicara.
Ia membaca kalimat pertama yang tertera di layar ponselnya itu beberapa kali. Apakah Deidara berpikir dirinya tidak melakukan cara itu ? Memang ringtonenya terdengar jadul– Tapi ketika ia menggantinya dengan lagu favoritnya, Sakura malah merasa semakin takut dan berbalik membenci lagu itu.
Dan saat Sakura sampai pada kalimat terakhir, wajahnya langsung merona merah. Sesaat ia menatap kalimat itu dengan senyum tersungging di bibirnya.
Sakura sudah akan menaruh ponselnya di meja, tapi ia sadar ia belum membalasnya. Maka, ia memencet tombol reply lalu mengetik beberapa kata untuk Deidara.
000
To : Deidara
'Kan sudah aku bilang, kau cukup SMS saja. Ke taman bermain ? Tapi semua kau yang traktir ! :p Aku juga kangen :* '
000
'Heh, konyol.' batin Sakura saat melihat apa yang sudah ia tulis. Tapi karena tak tahu akan menulis apa lagi, ia memencet tombol send dengan pasrah.
Setelah Sakura mengaktifkan mode silent pada ponselnya, ia mengambil iPod dan headset miliknya. Kini ia ingin sekali tidur dengan buaian musik klasik yang lembut.
Pertama – tama ia mendengarkan Bradenburg concerto karya Bach sambil bergulung di dalam selimutnya yang hangat. Beberapa saat kemudian musik pun berganti, Sakura mengenalnya sebagai Canon In D karya Pachelbel, tapi rasa kantuk belum begitu menyerangnya.
Musik berganti lagi, Symphony No. 40 Mozart, Sonata Opus 13 atau Beethoven Virus, Symphony No. 9 Beethoven atau Ode To Joy…
Sakura mulai merasa ia sudah berada dalam alam mimpi, kasurnya begitu empuk dan nyaman, ditambah angin semilir yang membelai wajahnya…
Tunggu– Angin semilir ?
PRAAANG !
Sakura langsung melonjak bangun, dan dua hal yang mengejutkannya saat ini bertambah menjadi tiga ketika ia tak sengaja menatap cermin yang tergantung di dinding kamarnya.
Ia melepaskan headset yang masih Keringat dingin sebiji jagung mulai membasahi wajah Sakura, sementara tiga hal barusan masih berputar – putar dalam benaknya.
Satu, ada angin misterius yang entah berasal darimana. Padahal Sakura yakin ia sudah menutup jendela dan pintu kamarnya. Dan ia sama sekali tak menyalakan kipas angin.
Dua, suara kaca pecah yang berasal dari sebelah kamarnya. Sakura ketakutan, apakah ada pencuri di ruang baca ?
Tiga— Dan yang terakhir, sekilas ia melihat sesosok berambut merah (lagi) yang balas memandangnya dari dalam cermin. Ketika Sakura berkedip, sosok itu telah lenyap.
Ia terpaku di tempatnya, dan setelah menimbang – nimbang sebentar, ia berpikir bahwa hal kedualah yang paling gawat.
Sakura menajamkan indra pendengarannya, kalau – kalau memang benar ada seseorang di rumah selain dirinya sendiri. Ia mulai beranjak dari tempat tidurnya, membuka pintunya dengan pelan, lalu mengintip keadaan di ruang baca.
"Oh !" Sakura terpekik kaget dan buru – buru melangkahkan kakinya ke ruangan di sebelah kamarnya.
000
000
TO BE CONTINUE
A/N : Apakah Sakura terlihat OOC ? Gomen lama update soalnya lagi nggak demen megang laptop*pundung*
Review, please ?
