Summary : Untuk apa aku hidup? / Untukku! / Mengapa selalu kau? / Karena aku takdirmu! / Jangan pernah mendekatiku! / Jangan pernah meninggalkanku./
Pairing : Sakura H. x Sasuke U.
Rate : M
Genre : Friendship, romance, humor, hurt/comfort (maaf jika banyak typo, hehe)
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING : 00C, alur gaje cerita buatanku, lebay (mungkin), author masih pemula (maklumi), untuk yang sengaja maupun yang tidak sengaja membaca fanfic abal-abal ini tolong komen ya *0* (plak).
/
/
You're the source of my life, forefer!
/
/
Don't like ? Don't read !
Itadakimasu
/
/
/
/
"Sasori-kun." gumam Sakura mencoba bangkit.
Rasa nyeri muncul begitu saja diseluruh tubuhnya, ia sempat meringis dan memegang bahunya. Rasanya ia baru saja mengalami hal terberat dalam hidupnya, kembali, mata Sakura memperhatikan dimana ia berada, sampai saatnya…
"Sakura, sedang apa kau berada didanau saat hujan seperti ini?" tanya Sasori khawatir.
Sakura sadar, kini ia sedang berteduh disebuah pohon Oak besar ditepi danau. "Ano, aku, hanya ingin mencari kalungku." Jawab Sakura.
Sasori mengernyitkan alisnya, "Kalungmu?"
Sakura mengangguk, "Hadiah ulang tahun Ino untukku, tak sengaja aku meninggalkannya disini, dan berniat menemukannya." Jelas Sakura menunduk.
Sasori menghela napas panjang, "Dan untung saja aku lewat sini, melihat sosok tergeletak mencurigakan akupun langsung menghampirinya." ujar Sasori. "Ternyata itu dirimu." Sambungnya.
Sakura tersentak, ia baru ingat beberapa waktu lalu mengalami hal yang begitu buruk. Ada yang mengganjal dipikirannya, bukankah saat ia masuk kedunia Sasuke sudah berminggu-minggu yang lalu, terus mengapa saat dirinya kembali kedunia nyata waktunya masih sama saat pertama kali kemari? Apa benar hanya mimpi?.
"Kau kenapa, Sakura?" tanya Sasori khawatir saat Sakura memegang kepalanya sendiri.
"Akh, tidak apa-apa." jawab Sakura seraya tersenyum.
Sasori menatap Sakura penuh arti, "Sebaiknya aku antar kau pulang, bisa sakit kalau berlama-lama dengan bajumu yang basah kuyup itu." ujar Sasori seraya memakaikan sweater-nya pada Sakura. Sakura hanya mengangguk lemah dan menuruti Sasori yang membopongnya.
Tanpa Sakura sadari, sosok yang masih tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri kini mulai menggerakkan anggota badannya. Tangan kekarnya mengepal meremas rumput dengan kuat, "Saku-ra."
/
/
/
/
Chapter 2
You?
/
/
/
/
"Sakuraaaa, apa yang terjadi?" Begitulah kekhawatiran sang Ibu saat melihat putri semata wayangnya pulang dalam keadaan basah kuyup.
Sakura pun mencoba menenangkan Ibunya lalu mulai bercerita –minus tragedinya terjebak dalam dunia Iblis itu. jika mau diceritakanpun Ibu Sakura tidak akan percaya.
"Untung saja Sasori menemukanmu, jika tidak kau~" perkataan sang Ibu terpotong oleh helaan napas Sakura.
"Iya bu, lagipula aku kapok datang keDanau itu." tutur Sakura dengan wajah sebal.
Ya, kapok datang ketempat misterius itu dan berinteraksi dengan makhluk biadab didalamnya yang entah apa makhluk apa mereka. Toh, tujuan awal Sakura keDanau itu untuk mencari kalung pemberian Ino, tapi malah dihadiahi tragedi menyeramkan –yang masih Sakura ragukan nyata atau sekedar mimpi.
Dan sudah diduga, besok sahabatnya itu akan menceramahinya mati-matian karena kecerobohannya sendiri.
"Lalu, dimana Sasori?" tanya Ibu Sakura bingung.
Sakura menoleh kebelakang –kearah pintu. "Dia bilang sedang buru-buru, ingin berangkat keKlinik untuk mengambil berkas." jawab Sakura datar.
Sakura memang salut pada kekasihnya itu, kekasih yang hampir mendekati titik sempurna dalam hidupnya. Meski terkesan sederhana, namun ia begitu mandiri. Menyangkut penampilan? Jangan ditanya, ia adalah pangeran dari mantan sekolahnya -yang merupakan sekolah Sakura, Konoha High School. Mantan? Tentu saja pemuda beriris Caramel itu adalah alumni terpandang disekolah Sakura.
Sakura sendiri menjadi kekasihnya saat ia pertama kali masuk kesekolah itu, saat masa Orientasinya dan Sasori-lah yang menjadi Senior pendamping Sakura. Bisa ditebak dengan cinta lokasi mereka sampai akhirnya menjalani hubungan sampai saat ini.
Namun terkadang, kesibukkan Sasori bisa membuat dirinya sama sekali tidak bisa bertemu atau sekedar kencan. Sakura hanya bisa bersabar dan menunggu, menunggu kepedulian Sasori agar kembali memperhatikannya.
Sakura kembali menghela napas dan mencoba merileks-kan tubuhnya didalam Badthub, dengan Aromatic spa floral lavender –yang merupakan kesukaan Sakura dan Ino saat berendam seperti ini. Aromanya begitu natural dan menenangkan pikiran barang sejenak saja.
Emerald-nya kembali menutup dan mencoba menikmati kenyamanan yang menggelitik kulit porselennya. Namun kembali, Sakura mengingat hal yang sangat ingin ia lupakan. Meski hanya Siluet Pemuda itu, tapi tetap saja Sakura merasa risih. Pemuda itu, yang telah memaksa Sakura terkurung bersamanya dengan segenap kebingungan yang ada. Kenyataan bahwa Sakura menganggap itu semua hanyalah mimpi tidak membuatnya tenang.
Cklek. Setelah selesai berendam, Sakura memutuskan untuk berbaring diatas tempat tidur. Baju tidur hangatnya membuat Sakura sedikit demi sedikit merasa rileks dan semakin melemaskan otot-otot ditubuhnya. Lalu ia sempatkan untuk menatap keluar jendela.
"Masih hujan." Gumamnya.
Sakura mencoba menutup mata dan menikmati suara guyuran hujan diluar sana, angin berhembus lembut memasuki celah jendela kamar. Ia tak pernah merasa setenang ini –sebelum tragedi didunia Sasuke tentunya.
Mengingat kembali tentang Pemuda Emo itu, Sakura merasa aneh.
Ia merasa Sasuke…mengikutinya? Entah bagaimana pikiran liar itu muncul, namun sebelum Ia kembali kemari, Sakura merasa ada sesuatu yang janggal.
Berpikir keras saat ini hanya membuat pening dikepalanya semakin terasa, karena itulah Ia memutuskan untuk tidur. "Oyasuminasai," Gumamnya entah pada siapa.
/
/
/
/
10.30 PM –Konoha High School
Sakura memutar bola matanya bosan, Ia menatap Ino sebal. "Sudah puas menceramahiku?" Tanya-nya seraya menopang dagu.
Ino menghela napas berat, berbicara selama duapuluh menit tanpa henti membuat bibirnya terasa berbusa. "Ingat, kau jangan pernah mengulanginya lagi." perintah Ino berdecak pinggang.
"Kau sudah mengatakan itu enam kali, Ino." ujar Sakura seraya memesan makanan.
Kini mereka berdua –Sakura dan Ino sedang berada dikantin sekolah, tempat yang biasanya dihuni ratusan siswa itu kini terasa hening, mungkin jumlah mereka bisa dihitung dengan jari. Kenapa? karena hari ini adalah hari dimana tim basket sekolah mereka bertanding. Dan hal itu sukses membuat –hampir seluruh warga sekolah menyaksikannya.
Bagaimana tidak, para pangeran sekolah yang mereka juluki itu adalah anggota tim basket sekolah mereka. Berpenampilan selalu keren, unggul dalam setiap bidang olahraga, dan selalu ramah terhadap Fansgirl-nya. Sebut saja Kiba Inuzuka, Shimura Sai, Nara Shikamaru, dan Sabaku no Gaara.
Yang paling terakhir itu –Sabaku no Gaara, adalah saudara sepupu Sakura, pindahan siswa terbaik dari Suna negeri pasir, bahkan pemuda bertato 'Ai' tersebut selalu mendapatkan peringkat satu disekolah ini. Dan seringkali Sakura memanfaatkan kepintaran Gaara untuk mengajarinya saat mulai menghadapi tes sekolah, dasar cerdik atau licik?.
Lalu kenapa Sakura dan Ino tidak melihat pertandingan itu? jawabannya adalah 'Malas'. Malas bersatu dengan para Fansgirl mereka yang brutal, malas berteriak-teriak, dan malas pula untuk sekedar jalan keGedung basket, namun tidak malas untuk hidup kan?.
Sakura mengaduk Strawberry juice-nya tanpa berniat meminumnya. Pikirannya masih berkelana entah kemana, tatapannya kosong.
"Sakura." panggil Ino.
"Hm?" respon Sakura –masih dengan posisi yang sama.
Ino kembali melahap Takoyaki-nya, "Itu, apa kau tidak mau mengikuti Festifal drama malam ini?" tanya Ino penasaran.
Pasalnya sekolah mereka sedang mengadakan Festifal tradisional besar-besaran, yang tengah berjalan sejak dua hari yang lalu. berbagai sekolah pun ikut serta dalam Festifal ini, salah satunya Drama yang akan diadakan nanti malam. Dan sudah diketahui, Sakura adalah gadis yang pandai ber-ekting karena dia juga anggota klub Drama, namun anehnya gadis merah muda itu malah tidak mau ikut.
"Drama-nya spontan lho Sakura, kau tidak harus menghapal dialog." ujar Ino. "Kau kan pintar jika ber-ekting dengan kata-kata sendiri." Sindirnya.
Sakura men-Dathglare sahabatnya ini, "Bukankah kau juga." balas Sakura. "Lagipula aku tidak ikut, karena aku adalah panitia Festifal ini." Sambungnya cuek.
Ino menepuk jidatnya, Ia baru sadar jika seorang panitia tidak boleh ikut serta. "Ngomong-ngomong," ujar Ino seraya mengambil sesuatu dari bingkisan kotak yang diam-diam ia bawa. "Aku ingin memberikan sesuatu padamu." Ujarnya seraya tersenyum.
Alis Sakura mengernyit, "Memberikan apa?"
Ino menyodorkan bingkisan itu pada Sakura –bingkisan bercorak Starwberry nan imut. "Ini, sebagai ganti hadiah ulangtahunmu yang hilang kemarin." ujar Ino menjelaskan.
Sakura menerima bingkisan itu dengan enggan, "Tapi Ino, hilangnya kalung itu kan karena kecerobohanku, kenapa kau malah…" perkataan Sakura terpotong oleh Ino.
"Jangan protes, aku kan sudah janji akan menggantinya." ujar Ino tegas.
Senyuman pun berkembang dibibir Sakura, meskipun cerewet, menyebalkan dan seenaknya, tapi Ino adalah sahabat terbaik bagi Sakura. "Terimakasih banyak, Ino." Ujarnya seraya membuka bingkisan itu.
"Akh kau ini, bicara seperti orang yang baru mengenalku saja." kekeh Ino.
Sakura segera membuka kotak bingkisan itu –ukurannya cukup besar namun terkesan mungil dan imut. Emereald Sakura membulat tak kala melihat benda berbulu putih itu. "Waaaah, Taddybear dalam tokoh Barbie yang aku suka." ujar Sakura berbinar-binar.
"Aku pikir jika menghadiahkan BarbieDoll-nya kau tidak akan suka, jadi aku hadiahkan temannya." jelas Ino menopang dagu.
GREP. Tiba-tiba Sakura menyergap Ino dan memeluknya erat. "Terimakasih, Ino." Ujarnya senang.
"I-iya, ta-pi lepaskan aku, se-sak." pinta Ino terbata-bata.
Dengan segera Sakura melepaskannya. "Ehehehe, maaf."
Ino mengambil pasokan udara dengan cepat, pelukan sahabatnya itu bagaikan monster, sungguh luar biasa. "Oh ya Sakura, setelah acara Festifal selesai nanti malam, tolong temani aku berkunjung kerumah Shikamaru ya?".
Sakura menoleh pada Ino –dengan Taddybear yang kini ia peluk. "Mau apa kesana?" tanya Sakura bingung, bukankah letak kediaman Pemuda berkuncir itu cukup misterius?
Akh, maksudnya begini. Kediaman Shikamaru adalah tempat dimana Clan Nara tinggal. Sebuah Manshion tradisonal yang masih melekat disana, letaknya lumayan jauh dari tempat tinggal Sakura dan Ino, bisa ditempuh dalam jangka waktu tigapuluh menit menggunakan bus, jika berjalan tentu akan memakan waktu satu jam penuh.
Shikamaru sendiri adalah siswa terbaik setelah Gaara disekolah, Pemuda yang kerjaan-nya hanya tidur disetiap pelajaran. Namun dengan IQ diatas rata-rata, mampu membuatnya menyandang gelar sebagai The Best Of Nara. berlebihan kah?.
Namun pertanyaannya, mengapa Ino ingin berkunjung kesana? apalagi pada malam hari.
"Umm ano, aku…" ujar Ino malu-malu. "Aku ingin bertemu dengan orang tua Shikamaru."
Alis Sakura semakin bertaut, "Menemui orang tua Shikamaru? untuk apa?" Tanya-nya bingung.
Ino memainkan jemarinya dibawah meja, "Itu, karena Shikamaru menyuruhku." Jawabnya dengan rona merah.
Sakura memiringkan kepalanya, "Iya, tapi untuk apa?" tanya Sakura penasaran.
Ino masih menunduk, ia merasa kini wajahnya memerah bak kepiting rebus. Apakah kini saat yang tepat mengatakannya pada Sakura?.
"Ayolah Ino, jangan membuatku pena~"
"Karena aku akan bertunangan dengan Shikamaru!" ujar Ino dalam satu hembusan napas.
Sakura bergeming, mulutnya menganga sempurna. Sedangkan Ino menatap Sakura ragu, Ia tahu ini salah, sebelumnya Ia juga tidak memberitahu Sakura tentang hubungannya dengan Shikamaru selama ini, Ino masih belum siap.
Sakura memegang kepalanya –dengan ekspresi yang tak elit sama sekali. "APAAAAAA?"
/
/
/
/
Hembusan angin yang begitu lembut membuat pepohonan Sakura ini menggugurkan setiap kelopak bunga-nya. Musim semi, sejak dua hari yang lalu telah memasuki bulan musim semi, tak jarang setiap orang yang melihat pemandangan ini begitu takjub melihatnya. Meskipun begitu, tak ada satu orangpun dari mereka yang berani mendekati keindahan itu, kenapa?
Ditengah tenangnya suasana ini, terlihat sosok Pemuda yang tengah tertidur diatas sana –diatas batang pohon sakura. Menumpu tangan kanannya diatas lutut yang ditekuk, rambut Bluedongker-nya terlihat bergerak seirama dengan arah angin, juga mata yang tertutup.
"Wangi bunga sakura." Gumamnya pelan. Perlahan Ia membuka mata, dan terlihatlah Onyx yang begitu pekat nan tajam, namun mampu mengikat siapapun yang menatapnya.
Onyx itu menatap lurus kedepan –danau yang menjadikan dirinya ada didunia ini, yang juga mempertemukan dia dengan sosok wanita berambut merah muda itu. Tangannya mengepal saat menyadari ketidakhadiran sosok itu, yang juga Ia sadari, Ia begitu egois untuk memilikinya kembali tanpa mempedulikan perasaannya. Namun, waktu yang ia tunggu sudah begitu lama, begitu lama sampai hati ini tak akan tahu ujung dari kesetiaan cintanya.
Pemuda beriris Oynx itu berdiri tegap, angin nan lembut itu menyibakkan jubah hitam miliknya. "Aku akan menemukanmu." Gumamnya lalu menghilang -lenyap bagaikan tertiup angin.
/
/
/
/
19.00 AM –Konoha High School
Cahaya warna-warni menghiasi setiap tempat disekolah ini, lampion dari ukuran kecil sampai yang besar dengan corak yang berbeda. Beberapa menit lalu pertunjukkan kembang api telah membuka acara Festifal ini, dan makhluk didalamnya-pun telah berhamburan untuk sekedar menikmati suasana.
Kostum yang mereka pakai begitu serentak, yaitu Yukata untuk wanita dan Tuxedo untuk para laki-laki, tak dapat membedakan umur dan asal sekolah mereka masing-masing, malam ini mereka begitu kompak. Sama halnya dengan dua Gadis yang tengah berjalan mengelilingi setiap pojok sekolah –yang ditempati berbagai kedai. Dari kedai makanan, permainan, aksesoris dan lainnya.
"Sakura, kau serasi sekali sih dengan Yukata itu." ujar Ino mengembungkan pipinya.
Gadis berambut pirang itu merasa iri dengan Yukata Sakura, bercorak bunga Sakura dengan aksen warna merah muda tentunya. Juga ditambah dengan Make up natural, rambut sebahunya digulung rapi dengan jepitan bunga nan mungil. Tidak heran jika gadis bersurai merah muda itu tampil cantik dengan sangat original.
Berbeda dengan Ino dan kebanyakan siswa wanita lainnya, mereka berdandan layaknya menghadiri acara pernikahan. Dandanan yang begitu Glamour dengan Make up yang begitu mencolok, namun hal itu malah membuat mereka terlihat ke-Ibuan. Bahkan Ino yang sebenarnya adalah gadis Fashion pun sama, baginya 'Lebih mencolok lebih cantik'. Tidak dengan Sakura, baginya tampil natural apa adanya sudah cukup –lebih tepatnya malas untuk berdandan.
"Ini Yukata pemberian Ibuku." jawab Sakura sekenanya.
Ino memutar bola matanya bosan, "Bukan itu maksudku, dandanmu itu lho, selalu pas walaupun tak begitu mencolok." Ujarnya sebal.
"Itu namanya takdir." balas Sakura –kembali melahap kue Dango ditangannya.
Ino kelewat sebal dengan jawaban Sakura yang apa adanya, ia memilih untuk menghampiri kedai yang menjual Aksesoris kerajinan tangan. Mata Blesapphire Ino berbinar saat melihat berbagai cincin dengan aksen yang bermacam-macam. Tangannya mengambil salah satu cincin itu lalu memakainya.
"Bagaimana Sakura, cocok tidak?" tanya Ino menunjukkan jari manisnya.
Sakura yang masih melahap Dango hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Ino kembali berkutat untuk mencari cincin yang lebih cocok untuknya, sampai perkataannya mampu membuat Sakura tersedak.
"Bagaimana kalau cincin pertunanganku nanti, aku gunakan yang ini saja ya?" ujar Ino pada dirinya sendiri.
'Gelar Fashioner-nya mulai membuatnya aneh.' batin Sakura.
Tak terlalu memperdulikan tingkah sahabatnya itu, Emerald Sakura kembali menelusuri setiap kedai yang tertata rapi disetiap sudut sekolah. Seringkali ia melihat berbagai pasangan begitu bahagia malam ini, hatinya sedikit miris mengingat kebersamaannya dengan Sasori kini mulai sedikit renggang. Pemuda itu selalu disibukkan dengan pekerjaan dan jarang ada waktu untuknya –meski hanya sekedar kencan.
Sakura rasa Ino adalah wanita yang beruntung. Kebersamaannya dengan Shikamaru bukanlah main-main, bahkan laki-laki itu berniat akan meminangnya. Sakura pun ingin seperti itu –dengan Sasori, namun entah kenapa itu semua hanya akan menjadi harapan yang kosong.
Emerald-nya menangkap tiga sosok yang begitu mencuri perhatian seluruh tatapan wanita diFestifal ini. Dengusan napas Sakura terdengar saat menyadari siapa keTiga sosok itu, Kiba, Sai, dan Gaara. Mereka bertiga tampil dengan gaya yang err~ Sakura akui sangat tampan, dengan kemeja putih yang dibalut Tuxedo hitam. Tapi bukan itu yang membuat Sakura memperhatikan mereka, melainkan satu orang lagi yang tidak nampak.
"Dimana Shikamaru?" tanya Sakura pada keTiga pemuda itu.
Kiba meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala, "Dia bilang ada urusan penting, jadi tidak bisa hadir malam ini." Ujarnya datar.
"Shikamaru sedang membeli cincin untuk acara pertunagan kami, Sakura." bisik Ino pada Sakura.
Sakura melirik tajam sahabatnya ini, entah kenapa Ino selalu telat memberitahukannya hal sepenting itu. "Jadi itu alasannya dia tidak menjemputmu kerumahnya?" tanya Sakura saat ingat Ino memintanya untuk ditemani berkunjung kerumah Shikamaru. Ino mengangguk antusias.
Disisi lain Gaara sedang memperhatikan penampilan Sakura, sepupunya itu terlihat sangat elegan dengan penampilan yang sederhana itu. Namun mata tak beralis itu menyipit saat menyadari sesuatu yang kurang.
"Sakura, dimana Sasori-nii?" tanya Gaara.
Sakura menoleh pada Gaara, senyuman simpul ia tampilkan untuk menyamarkan kekecewaannya. "Dia sedang ada tugas dirumah sakit, jadi tidak bisa menemaniku."
Gaara tahu Sakura bohong, ia tahu betul sikap Sakura sejak kecil. Gadis itu terlihat kesepian akan statusnya dengan Sasori, padahal Gaara sudah berpesan pada Senpai-nya itu untuk menjaga Sakura baik hati maupun raganya. Namun karir membuat Sasori sedikit menjauh dari Sakura. Dan andaikan saja Gaara mencintai Sakura, sudah ia rebut gadis merah muda itu dari Sasori.
Gaara menghela napas berat, "Sakura, jika kau tak keberatan, berceritalah padaku tentang masalahmu dengannya." tawar Gaara.
Ino menyenggol lengan Gaara, "Kau tak menganggapku sebagai sahabat Sakura ya." selidik Ino.
Gaara mengangguk, "Aku memang meragukanmu, gadis berkuncir kuda." Ujarnya datar.
KRIEET. Ino menggertakan giginya kesal, "Namaku Ino, Pemuda tak beralis!" bentak Ino tidak terima.
Sakura, Kiba dan Sai terkikik geli melihat tingkah mereka berdua, dari dulu Ino dan Gaara memang selalu berbeda pendapat dan berkahir dengan pertengkaran juga ejekan.
"Sudahlah Gaara, kita harus segera menemui Kakashi-sensei." ujar Sai mengingatkan.
Gaara berdecak, "Ya, lagipula tak ada gunanya aku berdebat dengan gadis kuncir kuda ini." Ujarnya seraya melenggang pergi. "Aku pergi, Sakura."
Sakura mengangguk dan melihat kepergian mereka bertiga, matanya melirik Ino yang tengah menggeram kesal dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dasar, pemuda kutub tak beralis!" bentak Ino pada Gaara yang telah menjauh.
Sakura terkekeh melihat kekesalan Ino pada Gaara, "Ayo Ino, jangan sampai kekesalanmu itu membuatmu lupa berkunjung kerumah Shikamaru."
Ino menepuk jidatnya sendiri. "Kau benar, ayo berangkat sekarang." ajak Ino seraya menarik Sakura.
"Eh? tunggu dulu." tahan Sakura. "Masa kita menggunakan pakaian seperti ini?" tanya Sakura seraya melihat Yukata-nya.
Ino mendengus, "Oh ayolah, penampilan seperti ini bisa membuatku lebih anggun dimata mereka." Ujarnya menoleh pada Sakura. "Lagipula kita juga tak terlihat aneh kok, ini-kan malam Festifal terbesar diKonoha." Sambungnya kembali menarik Sakura.
Sekali lagi, Sakura mengalah untuk sahabatnya ini. Ia pasrah saat Ino menariknya keluar sekolah menuju Halte bus, meskipun langkah mereka dibilang lambat dan –ribet, tapi sepertinya Ino tak peduli, ia tetap menyingkapkan Yukata-nya sampai kelutut lalu berjalan cepat. Sedangkan Sakura berjalan dengan sesekali tersangkut bagian bawah Yukata-nya dan hampir jatuh.
Oh ya ampun, Sakura merasa dirinya kini seperti pengantin yang lari dari pernikahannya saja. "Ino, pelanlah sedikit, aku kerepotan berjalan dengan Yukata ini." pinta Sakura saat duduk dibangku bus samping Ino.
Ino –yang tengah memandang keluar jendela bus, segera menoleh pada Sakura. "Entahlah Sakura, aku merasa sudah tidak sabar lagi." Ujarnya.
Sakura menghela napas lelah, meskipun kegiatan sekolah sudah membuat energinya terkuras. Namun apa daya jika sahabat kita meminta sesuatu pada kita bukan, apalagi hanya sekedar menemani. Ino adalah sosok yang baik, bagi Sakura gadis pirang itu sudah Ia anggap sebagai seorang Kakak, yang selama ini selalu melindunginya, membantunya, menasihatinya. Dan meskipun hanya sedikit, Sakura ingin merasa berguna bagi Ino. Seperti yang ia lakukan saat ini.
"Baiklah, aku mengerti." ujar Sakura pasrah. "Oh ya, kenapa juga harus kau yang datang kerumah Shikamaru? bukankah seharusnya laki-laki yang mengunjungi rumah wanita." tanya Sakura menopang dagu.
"Itu karena seminggu lalu dia sudah berkunjung kerumahku," jawab Ino cengengesan. "Sekarang giliranku." Sambungnya.
Sakura hanya ber'Oh' dengan wajah menunduk. 'Bahkan, aku atau Sasori-pun tak pernah melakukan itu.' batin Sakura sedih.
/
/
/
/
.SET. Bayangan hitam itu melompati satu persatu atap rumah dengan cepat. TAP. Dan berhenti tepat diatas tiang listrik nan tinggi itu. Onyx kelamnya menatap liar keadaan sekitar, tepatnya keadaan dibawah sana. Berusaha mencari sosok merah muda, namun tak kujung Ia temukan.
Untuk kesekian kalinya Ia mendengus kasar, tangannya Ia lipat didepan dada. "Dimana kau…" Gumamnya. "Sakura."
"Belum menyerah juga, eh?" Ujar seseorang dari belakang.
Sontak Ia-pun menoleh dan melihat sosok itu dengan jelas, terbang dengan kepakkan sayap nan hitam pekat –diterpa cahaya bulan yang terang. "I-Itachi? kenapa kau…" Ujarnya terbata.
"Ada disini?" sambung Itachi, "Seharusnya aku yang bertanya padamu Sasuke, kenapa dengan mudahnya kau bisa masuk kedunia ini." Ujarnya menatap tajam Sasuke.
Sasuke, mendengus kesal lalu membalikkan badan membelakangi Itachi, "Jika kau menyuruhku pulang, jangan harap aku mau menurutinya."
"Aku tidak bilang mau membawamu pulang," dengus Itachi. "Ayah menyuruhku untuk mengamati dunia ini." Ujarnya datar.
Perkataan Itachi sukses membuat Sasuke kembali menolehkan wajahnya, "Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, itu malah akan mengacaukan rencana." Ujar Itachi yang kini membelakangi Sasuke.
Sasuke menatap punggung sang Kakak. 'Ayah merencanakan sesuatu?' Batinnya.
"Tapi Sasuke, aku masih tidak setuju jika kau terus mengejar Sakura didunia ini." ujar Itachi dengan nada dingin.
Sasuke berdecih, tangannya mengepal kuat. Ingin sekali rasanya ia menghajar Itachi –tidak peduli dengan statusnya sebagai adik. Namun, kata-kata Itachi sukses membuat Sasuke mengurungkan niatnya, dan diam membatu.
"Ketahuilah, Sakura didunia ini belum tentu mencintai dirimu seperti dulu," ujar Itachi.
"Uchiha Sakura calon permaisurimu, sudah tiada dan cintanya pun sudah terkubur bersama raganya." Sambungnya datar.
Wajah Sasuke menunduk dalam, jauh dilubuk hatinya –terasa begitu sakit.
"Jika kau tetap mencoba memiliki Sakura didunia ini, berarti kau tidak bisa setia terhadap cinta Sakura, calon permaisurimu." ujar Itachi –dengan intonasi yang sedikit menaik.
"Kau tidak mengerti," gumam Sasuke menggertakkan giginya. "BETAPA SAKITNYA HATI INI SAAT MELIHAT SOSOK YANG SAMA DENGAN SAKURA YANG DULU!" teriak Sasuke kesal.
Itachi tersentak, wajahnya sedikit ia tolehkan kebelakang.
"Sejak kepergian Sakura, aku sudah mencoba melupakan semuanya." ujar Sasuke lirih. "Sampai saat itu, sosok Sakura dari dunia ini muncul dihadapanku." Sambungnya. Lutut Sasuke bergetar hebat, Ia tidak bisa menopang berat tubuhnya sampai akhirnya jatuh terduduk.
Tangan kanan Sasuke mencengkram kepalanya frustasi, Ia berdecih tak kala mengingat kesalahannya dimasa lalu. Haruskah Ia berhenti mengejar Sakura lalu jatuh terpuruk dalam kesendirian? meskipun ia mampu, dirinya pasti sudah hancur sejak dulu. tapi…
"Sasuke-kun, aku akan selalu mencintaimu."
Kata-kata itu, senyuman itu, semua yang ada pada dirinya, mampu membuat Sasuke melakukan hal diluar kendali. Ia tak mau melepaskan apa yang harus ia miliki sejak dulu, ya, hal yang pernah Ia buang percuma.
Itachi berdecih, "Buktikan jika kau bisa mendapatkan Sakura dari dunia ini." tantang Itachi.
Sasuke mendongkakkan wajahnya, menatap sosok Itachi yang masih memunggunginya.
"Jika tidak, aku akan menjauhkanmu dari Sakura didunia ini." tegas Itachi. "Selamanya." Sambungnya seraya mengepakkan sayap lalu terbang meninggalkan Sasuke.
Sasuke mengerti maksud Itachi, begitu juga dengan tantangannya. Sang Kakak hanya khawatir dengan posisi Sakura didunia ini –yang tidak tahu apa-apa tentang kesamaan dirinya dengan calon permaisuri Sasuke. Namun tetap saja, perkataan Itachi terakhir itu membuat Sasuke geram.
"Jika tidak, aku akan menjauhkanmu dari Sakura didunia ini." "Selamanya."
Pemuda Emo ini berjanji, akan membuat Sakura jatuh cinta padanya. Meskipun dengan cara Iblis.
Onyx-nya menatap lurus kedepan sana, harus kemana lagi ia mencari Sakura? bahkan tempat tinggalnya pun Ia tak tahu, bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami eh? tapi itu tak akan menyulutkan semangatnya.
Pandangan diatas bukit sana membuat Sasuke memikirkan sesuatu, "Itu kan, sebuah Manshion?" Gumamnya.
Memang kaget bagi Sasuke saat menyadari didunia Sakura juga memiliki tempat yang berbau suci seperti itu, Ia hanya berpikir didunia ini hanya ada benda-benda aneh dengan banyak gedung yang menjulang tinggi kelangit. Didunia-nya sendiri, Manshion seperti itu sangatlah dijauhi oleh kalangan makhluk kegelapan seperti Sasuke. Bagaimana tidak? dia hanya tidak mau kekuatannya lenyap karena mendengar atau melihat kertas dengan berbagai mantera yang selalu mengelilingi tempat itu.
Apalagi jika didunia seperti ini, Sasuke sama sekali tidak tahu menahu dengan apa yang dipasang diMashion itu. Namun entah kenapa, rasa penasaran telah cepat menjalari benaknya untuk mendekati tempat itu. Ia merasakan sebuah aura yang begitu dikenal, lemah namun terkesan hangat.
DEG! Onyx-nya membelalak sempurna, "Jangan-jangan." Ujarnya tidak percaya.
/
/
/
/
.TAP.
Langkah kedua gadis ini begitu menggema diantara pepohonan rindang ini, kesan gelap begitu menyelimuti namun masih tak sebanding dengan cahaya bulan. Meskipun begitu, suara menyeramkan seperti burung hantu tak luput dari pendengaran. Sesekali gadis bersurai merah ini bersenandung hanya untuk mengusir rasa takut.
De ja vu, Ia merasa tempat ini sama seperti tempat diDunia itu, yang selalu menemaninya dalam ritual melarikan diri dari Pemuda Onyx yang selalu membelenggunya. Meski keadaan disana lebih menyeramkan dan mencekam.
Sakura kembali menatap tangga yang kini sedang ia naiki, entah berapa anak tangga yang sudah ia lewati. Rasanya seperti pergi kesuatu kuil diatas sana, yang masih belum terlihat ujungnya. Ingin sekali Sakura berteriak pada Ino kapan ini akan berakhir, namun perkataan siPirang itu beberapa saat lalu membuat Sakura mengurungkan niatnya.
"Percaya atau tidak, jika sedang menaiki tangga sebanyak ini ditengah hutan lalu kau bersuara atau berbisik, maka sang penghuni tempat ini akan menghampirimu."
Tahayul, Sakura tahu itu hanya omong kosong agar kita menghormati budaya sendiri, namun ada kalanya keadaan menyeramkan ini mendesaknya untuk percaya juga.
Masih dengan menutup mulut, Emerald Sakura melihat sebuah gapura diatas sana. 'Akhirnya, sampai juga.' Batinnya lelah.
SET.
DEG! Sakura berhenti menaiki tangga saat menyadari ada Siluet hitam menyusup diantara pohon-pohon itu. Perlahan, Sakura memberanikan diri menoleh kesamping untuk memastikan –dengan keringat dingin dipelipis matanya. 'Aku tidak bersuara kan? tapi kenapa aku merasa takut seperti ini?' batin Sakura bingung.
Nihil, tidak ada apapun diantara pohon-pohon itu, Sakura pikir itu hanya bayangan awan yang berjalan tertiup angin. Untuk itulah ia kembali melihat keatas, disana Ino memandangnya bingung, seperti sedang bertanya 'Ada apa?'. Namun Sakura menggeleng lalu kembali melangkah.
TAP. Akhirnya, dengan napas yang sedikit terengah mereka sampai kepuncak tangga ini. Sakura mengelap keringat dengan punggung tangannya, lalu menoleh pada Ino yang juga sedang menyeka keringatnya.
"Apa kau mau tinggal ditempat ini, jika sudah menikah dengan Shikamaru?" tanya Sakura –masih dengan deruan napas.
Ino menggeleng, "Aku lebih memilih tinggal dirumah sederhana ditengah kota." Jawabnya.
Yah, sederhana namun berada dikeramaian, setidaknya itu lebih baik dengan mewah namun menyeramkan begini. Sekali lagi, bagaimana tidak? kini mereka disuguhi bangunan tradisional dengan tembok pembatas yang setara dengan tinggi satu rumah, dan Gapura besar bertuliskan 'Nara' plus penerangan yang minim, menambah kesan menyeramkan ditengah hutan seperti ini.
"Ayolah Ino, aku tidak kuat dengan uji nyali ini." ujar Sakura angkat tangan. Ia rasa perjalanan kemari bagaikan sedang menguji nyali, tanpa ada sedikit pemandanganpun yang bisa menenangkan hati.
Ino menarik Sakura mendekati gerbang, tak disangka ada dua Algojo yang tengah berjaga disana. "Permisi nona, ada perlu apa anda kemari?" Tanya salah satu dari mereka.
"Aku Yamanaka Ino." ujar Ino memperkenalkan diri.
Kedua Algojo itu tersentak saat mendengar penuturan Ino, "Maaf, Yamanaka-sama, silahkan masuk." Ujar keduanya membungkuk hormat.
Sakura merasa kabar tentang pertunangan Ino dengan Shikamaru sudah menyebar luas disekitar Manshion ini, yah setidaknya ini menguntungkannya juga karena diperlakukan sebagai seorang putri, mungkin.
/
~Skip time~
/
"Haaah." desah Sakura diatas tempat tidurnya –akh bukan, tapi kamar tamu, mengapa bisa?.
Karena ini bukanlah rumahnya, ia masih berada diKediaman Shikamaru. Sifat keteledoran Ino tak lepas saat ia tengah berbincang-bincang dengan orangtua Shikamaru, sampai tak sadar waktu sudah larut malam. Dan hal itu memaksa mereka berdua menginap ditempat ini. Untung untuk Ino dan tidak untuk Sakura, gadis pirang itu malah membiarkannya tidur sendirian dikamar tamu sedangkan Ino ditempat keluarga Shikamaru –minus Shikamarunya.
Tak peduli, Gadis itu begitu lelah dengan semua kegiatan hari ini, dimulai dari pagi tadi menyiapkan segala keperluan sekolah untuk Festifal, lalu mengantar Ino ke kediaman Shikamaru. Sampai berujung dirinya harus diceramahi sang Ibu saat meminta ijin untuk menginap disini. Piyama yang disediakan pihak keluarga Nara pun kini Sakura kenakan, mana mungkin Ia mau tidur dengan Yukata-nya.
Emerald-nya menatap langit-langit atap kamar tanpa ekspresi, entah kenapa saat Ia merasa kecewa dengan segala kesibukkan Sasori, tiba-tiba bayangan itu muncul. Bayangan sosok yang dulu membuatnya ketakutan, dan kini membuat Sakura merasa rindu? Kata-kata kasar, tatapan tajam itu, dan sikap seenaknya.
Meskipun ia merasa ini tidak pantas ia rasakan, namun jauh dilubuk hatinya ia mengakui itu semua benar. Ia merindukan sosok itu, "Sasuke-kun." gumam Sakura.
SREK. Sakura terlonjak bangun saat mendegar suara yang mencurigakan, Ia tak yakin jika ada pencuri yang menyelusup keManshion Shikamaru, bukankah yang berjaga adalah Algojo-algojo besar nan tangguh?.
Penasaran, Sakura memutuskan untuk memastikannya sendiri. Ia menghampiri asal suara itu –dari jendela geser samping kamar ini. Langkahnya membuat lantai kayu ini berdecit pelan, meski perasaan takut menjalari hatinya, namun Ia tetap memaksa untuk melihat dan…SREK. Sakura melihat keluar jendela dengan menolehkan wajahnya kesamping dan kekanan. Namun tak ada satupun yang mencurigakan, bahkan seekor kucing atau burung hantu diatas sana.
"Wah," kagum Sakura saat melihat langit yang kini bertabur bintang yang indah.
Telapak tangannya menumpu wajah yang ditengadahkan keatas, memandang bintang yang tak terhitung dengan membentuk sebuah garis vertikal dilangit. Penerangan yang minim membuat cahaya malam menjadi begitu terang, mungkin ini sebabnya ia tak bisa melihat bintang saat sedang berada dirumah –dengan begitu banyak cahaya lampu.
Sakura memejamkan matanya perlahan, "Andai aku seperti kalian yang selalu bersinar tanpa henti, mungkin hidupku juga akan lebih bercahaya." Ujarnya penuh harap.
"Mereka tidak akan terlihat bersinar, jika tidak ada gelapnya langit malam."
DEG! Suara Barithone dibelakangnya membuat Sakura tersentak, suara yang begitu ia kenal. Dengan segera, Ia tolehkan kepalanya kebelakang dan... "Ka-kau?"
/
/
/
/
"Shikamaru." panggil Ino seraya mengetuk pintu kamar kekasihnya itu.
Terdengar sautan didalam sana, tak lama kemudian pintu geser itu terbuka. "Ada apa Ino? kenapa kau belum tidur?" tanya Pemuda berkuncir itu –Shikamaru.
Ino memperlihatkan benda yang ia pegang, "Kau belum memberikan ini pada Sakura?" tanya Ino.
Shikamaru melihat benda yang tak lain jimat milik keluarganya, yang menjadi panutan agar selalu diberikan kepada pendatang yang menginap dikediamannya. Aturan turun-temurun itu dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak dinginkan, mengingat keluarganya memiliki pantangan kuat untuk berhubungan dengan hal-hal berbau gaib dan halus.
"Aku lupa," ujar Shikamaru seraya menguap. "Yasudah, sini biar aku yang~" perkataan Shikamaru terpotong karena Ino memaksanya kembali masuk kekamar.
"Kau tidur saja, biar aku yang memberikan ini pada Sakura." ujar Ino tersenyum. "Oyasuminasai." Ino melambaikan tangannya lalu melenggang pergi.
Shikamaru menatap sang kekasih, "Dasar,"
.Tap. langkah Ino membuat balkon Manshion ini berdecit pelan, pikiran gadis pirang itu masih belum lepas dari kekasihnya –Shikamaru. "Sikap pelupanya itu, apa bisa dihilangkan ya?" Gumamnya menopang dagu. "Haah, kebanyakan tidur sih."
Blueshappire Ino menelusuri setiap sudut Manshion ini, beberapa lampion besar menghias tembok pembatas itu. Alisnya mengernyit, merasa heran dengan sistem penerangan dikediaman ini. Terlihat dari luar begitu gelap dan mencekam, tapi dibagian dalam dibiarkan sangat bercahaya.
Tap. Ino berhenti melangkah saat mengingat letak kamar tamu yang dipakai Sakura, ia merasa ruangan disampingnya mirip dengan kamar yang Shikamaru tunjukkan untuk kamar Sakura, tapi kenapa terasa hening dan sangat gelap? apakah Sakura sudah tidur?.
/
/
/
/
"Lepaskan aku!" bentak Sakura, tangannya terus mendorong dada Pemuda yang tengah memeluknya ini.
"Aku akan lepaskan, jika kau berjanji tidak akan melarikan diri." ujar Pemuda tidak memperdulikan rontaan Sakura.
Sakura menghentikan tangannya, Ia tahu beberapa saat lalu Ia sempat merasa rindu pada Pemuda beriris Onyx ini. Namun entah kenapa Ia merasa hanya akan menjadi pengganti orang yang dulu mencintai Pemuda ini, Sakura tidak mau seperti itu.
Telapak tangan gadis itu berhenti tepat didada bidang sang Pemuda, "Kenapa harus aku yang menggantikannya." lirih Sakura. "Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan~"
"Karena kau milikku." ujar Pemuda itu –mengeratkan pelukannya.
Sakura mencengkram jubah Pemuda itu erat, Ia memang sudah tak tahan dengan sikap Pemuda ini, dia sangat egois. "Kau egois, Sasuke-kun!" bentak Sakura kesal.
BRUK. Sasuke mendorong tubuh Sakura sehingga keduanya jatuh diatas tempat tidur itu. Tangan dan kaki Sasuke telah mengurung Sakura dibawahnya. Dengan tatapan tajam Ia berkata, "Aku tahu itu, aku sangat egois." ujar Sasuke setengah berbisik. "Karena hidupku, memanglah untuk memiliki dirimu."
Sakura memalingkan wajahnya dari Sasuke, Ia memang tidak berdaya jika Pemuda ini sudah bertindak. Namun ini terlalu kejam baginya, dia sudah menderita didunia Sasuke yang selelu menjeratnya, apakah didunianya juga akan sama?. Mengapa Pemuda ini selalu ada? DEG!
Sakura baru sadar akan sesuatu, "Ba-bagaimana kau bisa masuk keduniaku?" Tanya-nya menoleh pada Sasuke.
Sasuke menatap Sakura datar. "Karena aku mengikutimu." Jawabnya.
Sakura mengernyitkan alis, bukankah saat memasuki portal, Sasuke sudah Ia buat tersungkur ditanah?. Dan akh, Sakura merasa ada seseorang memeluknya saat tekanan energi portal itu bagaikan menghancurkan tubuhnya.
"Si Juugo bodoh itu membiarkanmu masuk kedalam portal yang biasa digunakan para penguasa kastil." ujar Sasuke –masih dengan posisi yang sama. "Jelas saja, kau kan manusia biasa jadi tidak dapat menahan tekanan portal itu, lalu kuputuskan untuk melindungimu, dan sialnya aku malah ikut keduniamu." Sambungnya seraya memalingkan wajah?.
Sakura melihat ekspresi Sasuke bingung, Ia rasa Pemuda ini berniat menyelamatkannya saat berada didalam portal itu. Tapi, apa benar seperti itu?.
"Seharusnya kau berterima kasih padaku." ujar Sasuke kembali menatap Sakura.
'Beterima kasih pada Iblis sepertimu? yang benar saja.' batin Sakura kesal.
.Tok. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamar-nya, Sakura pun menoleh kearah pintu lalu melirik Sasuke. 'Jika itu Ino, aku akan berteriak minta tolong agar Dia mau pergi dari sini.' batin Sakura. "Siapa?" tanya Sakura pada sang pengetuk pintu.
"Aku Ino, kau belum tidur Sakura?" ujar Ino diluar sana.
Bingo! Sakura akan berteriak minta tolong agar Sasuke pergi meninggalkannya, namun perkataan Sasuke membuat Sakura terdiam.
"Jika kau berniat minta tolong, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh temanmu itu lalu menghancurkan tempat ini." seringai Sasuke.
Sakura membulatkan matanya, Ia tahu Sasuke tidaklah main-main. Pemuda ini selalu membuktikan apa yang Ia katakan. Apa masih sanggup Ia menolak kata-kata Sasuke? dan membiarkan Ino terbunuh lalu tempat ini hancur? hah, dalam mimpi.
"Dasar licik! minggir kau." bentak Sakura kesal, lalu berjalan menuju pintu.
Sasuke menyeringai penuh kemenangan, Ia melipat kedua tangannya didepan dada lalu duduk dengan santai dipinggir tempat tidur. Onyx-nya tak lepas dari gerak-gerik Sakura, mulai dari bertanya pada temannya, lalu menerima sesuatu dari gadis pirang itu. Setelah mengangguk, Sakura segera menutup pintu lalu menyimpan benda yang diberikan Ino dimeja.
"Apa itu?" tanya Sasuke merasa curiga dengan benda itu.
"Kata temanku, ini adalah jimat agar terlindung dari makhluk halus." Ujarnya melirik Sasuke. 'Aku tak yakin jika dia makhluk halus.' batin Sakura.
Sasuke membelalakkan matanya, Ia tahu betul benda itu bukan untuk digunakan pada makhluk halus, melainkan makhluk kegelapan seperti dirinya. Namun sepertinya Sakura tidak mengetahui soal itu, jadi dia tidak usah khawatir gadis itu akan menggunakan jimatnya untuk menghilangkan kekuatan-nya.
Sakura kembali berjalan menghampiri tempat tidur, 'Jika saja aku bisa menggunakan jimat itu pada Sasuke, pasti sudah kulakukan sejak tadi.' batin Sakura geram.
Gadis itu lantas berbaring lalu membelakangi Sasuke, menutup seluruh badannya dengan selimut, berharap jika pagi sudah menjelang, sosok berambut pantat ayam itu sudah lenyap.
Rasa takut masih saja menghantui benak Sakura, bagaimana tidak? saat ini dia kembali satu ruangan –tepatnya satu kamar dengan Sasuke, yang jelas-jelas sangat ingin Sakura hindari. Lalu, jika Pemuda itu melakukan hal yang macam-macam pada dirinya sama seperti dulu, bagaimana? Dan jika ditolak, pasti akan lebih ganas.
Ketika berharap hal buruk tidak akan terjadi, ternyata semua itu pecah berkeping-keping saat merasakan sesuatu menyelusup dibalik selimutnya, dengan lancang memeluknya dari belakang dan meletakkan wajahnya dibahu Sakura.
Meski kesal dan hal ini selalu terulang sejak pertama bertemu dengan Sasuke, namun tetap saja detak jantung dan rona merah diwajah Sakura tidak bisa dihilangkan. Begitu pula saat hembusan napas nan hangat itu menerpa kulit wajahnya.
"Berharaplah, esok hari akan menjadi lebih baik dari ini." bisik Sasuke tepat ditelinga Sakura.
Sakura menutup matanya rapat-rapat, 'Kami-sama, apapun akan kulakukan asalkan bisa menjauh dari Pemuda ini.'
/
/
/
/
TbC
/
/
/
/
A/N : WARNING : Manshion yang aku maksud disini adalah tempat kediaman yang bersifat suci, seperti tempat beribadah dan sejenisnya.
"Ano minna-chan, gomen ne (_ _) ceritanya agak ngawur atau semakin gax jebo, atau gax seru, atau *Plak. Chibi terlalu posesif nih, habisnya Sasuke gax mau lepas dari karakternya yang ini, jadi semakin psikopat *Dichidori.
Chibi benar-benar menguras habis ide diotak chibi, kalau boleh, tolong minna-chan kasih saran buat chapter berikutnya ya? mau gax? Chibi tunggu ya ^^.
Ayoo tuangkan segala komentar kalian dan saran tentang sikap tokoh didalamnya, mau membuat sikap Sasuke jadi lebih gila? oke *diAmaterasu. Atau, mau buat Sakura lebih menderita? hayu-hayu jja *diShanaroo.
Yosh! semoga jadi lebih menarik lagi! Ganbatte minna-chan ^0^
Dewa Mata Nochi Hodo ^^
