Ah, Itoshii no Kazekage-sama!

Naruto © Kishimoto Masashi

.

.

A/N: I wanna say thanks to the people who have given me reviews. Skyesphantom, Guest, Baby Kim, Nana Kazuki, AishaMath, qyu-chan, Natsuya32, Richa Kenzeira, and kushu-chan thank you so much! This is for everyone. I hope you will like this. Please Enjoy…

Chapter 2: "Tidur."

Gaara mengerjap-ngerjapkan matanya lalu meremas kepalanya. Tubuhnya dengan gontai berjalan menuju kursi. Sambil meraba-raba, Gaara mencari pegangan untuk menompang tubuhnya yang terasa limbung.

'Pening' Pikirnya.

Saat mencapai kursi, ia cepat-cepat merebahkan diri di kursi Kazekage. Sambil memijat pelipisnya Gaara menutup kedua bola matanya. Tengkuknya terasa tegang. Dan kepalanya pening sekali.

"Tok tok tok!" ketukan pendek itu membangunkan istirahatnya yang singkat.

"Masuk!" Gaara menarik punggungnya dari senderan kursi. Duduk dengan tegap seperti biasanya.

Seorang pria paruh baya datang. Membawa tumpukan kertas ke mejanya. "Kazekage-sama, ini adalah laproan hasil rapat kemarin. Para menteri meminta anda mempertimbangkan kembali kebijaksanaan tentang eksport dan import untuk bulan depan."

Gaara memincingkan matanya, membuat kedua alis kasat mata itu terlihat mengerut. 'Tidak kelihatan' keluhnya saat kedua matanya tidak dapat menangkap dengan jelas deretan huruf-huruf yang terasa kabur.

"Masukan ke dalam tas." Gaara mengalihkan pandangan pada pria paruh baya itu.

Pria itu mengangguk. Kedua tangannya langsung sibuk memasukan sedikit demi sedikit tumpukan laporan ke dalam tas.

"Kazekage-sama," Panggilnya di sela aktivitasnya. Gaara menoleh sebentar, memperlihatkan pandangan ada-apa?

"Sepertinya anda harus bergegas pulang. Cuaca tampak sedikit buruk hari ini." Ujarnya.

Dan benar saja, langit telah benar-benar mendung. Keadaan diluar jauh lebih gelap dari jam yang semestinya.

"Sepertinya akan ada badai nanti malam." Pria paruh baya itu meletakkan tas di meja kerja lalu menunduk hormat. "Saya permisi tuan." Katanya kemudian menghilang dibalik pintu.

Setelah pintu tertutup Gaara kembali menyesakkan punggungnya ke sandaran kursi. Menyenderkan kepalanya ke tembok di belakang kursi. Menghela napas panjang. 'Ah, rasanya tidak pernah sesakit ini.'keluhnya.

Gaara telah mencoba berulang kali memejamkan matanya. Mencari tahu bagaimana cara menghilangkan pening yang semakin hari telah membuat badannya tambah lemas dan tidak bertenaga. Matanya sudah terasa sangat berat, tapi ia tetap tidak bisa benar-benar beristirahat. Bukan karena ia sibuk, oke mungkin ia memang benar sibuk tapi yang jadi masalah utamanya adalah karena ia tidak tahu bagaimana caranya beristirahat atau lebih tepatnya tidur!

Secara teknis yang ia tahu ketika kakak-kakaknya terlihat letih sehabis kerja maka mereka akan menutup matanya dalam beberapa jam lalu kembali pulih saat matanya membuka kembali. Dan mereka sebut proses menutup mata itu dengan tidur.

Sejatinya Gaara adalah manusia istimewa. Dulu, saat rubah ekor satu masih tersegel didalam tubuhnya, Gaara tidak pernah diijinkan tidur itulah mengapa ia benar-benar tidak punya petunjuk sama sekali tentang bagaimana beristirahat. Kalau dulu tidak masalah ia tidak tidur, karena chakra rubah ekor satu dapat membantu Gaara menstabilkan kondisi tubuhnya meski tanpa beristirahat. Tapi empat tahun lalu shukaku keluar dari tubuhnya dan Gaara sekalipun tidak pernah tertidur. Untuk beberapa tahun pertama Gaara masih bisa mengatasinya, ia menggunakan seluruh pegendalian chakranya agar ia bisa meningkatkan produksi darah dalam tubuhnya sehingga dia bisa tetap segar walaupun tidak tidur. Namun semua itu pasti ada batasnya, dan kini Gaara benar-benar merasakannya. Tubuhnya semakin terasa lemas dan pening. Gaara hampir tidak bisa menopang tubuhnya sendiri jika ia terlalu lama berdiri atau duduk dan berdiri tiba-tiba. Matanya sering terlihat gelap dan sakit. Otot-ototnya terasa tegang. Seringkali juga konsentrasinya sedikit buyar dan ia merasa frustasi karenanya.

Kazekage punya banyak kerjaan setiap hari. Walau fisiknya hanya duduk tapi otak berpikir keras. Makanya, saat konsentrasinya tidak baik Gaara merasa susah. Bukan hanya pekerjaannya yang terbengkalai, konsentrasi juga merupakan kunci pengendalian chakranya, makanya ketika konsentrasi itu pecah, Gaara akan benar-benar dalam bahaya! Seluruh tubuhnya mungkin akan langsung ambruk dan ia tidak bisa bergerak semilipun…em apa ya istilahnya? Tak sadarkan diri?

Gaara telah berusaha menjaga konsentrasinya dengan tidak membuat dirinya terlalu sibuk memikirkan hal sepele. Tapi kadang, ada juga saat ia strees memikirkan cara untuk 'tidur'. Ia telah berjam-jam memejamkan matanya namun tubuhnya sama sekali tidak mengalami perbaikan malah kadang tambah parah. Ia juga telah mencoba memijit-mijit otot kakunya untuk membuatnya tenang dan santai tapi yang ada daftar kerjaan malah tiba-tiba melintas di otaknya hingga membuat ia terpaksa menjejali konsentrasiinya dengan pekerjaan lalu lupa tujuan semula.

Apa yang harus ia lakukan? bagaimana menemukan 'tidur'? ia bahkan tidak pernah tahu tidur itu rasanya seperti apa?! Lantas gimana ia tahu ia telah sampai pada tidur atau tidak?!

Gaara menajamkan indranya saat radarnya merasakan chakra Matsuri perlahan-lahan menjauh dari gedung sekolah. Dengan cepat ia mengambil tas yang berisi laporan dan buru-buru keluar dari ruangan.

Diluar, matahari telah sepenuhnya hilang di langit. Angin berhembus sedikit kuat dari biasanya. Membuat pasir berterbangan.

"Gaara-sensei!" Sebuah pekikan datang dari arah gerbang Akademi Suna Gakure.

Yang berteriak adalah seorang gadis yang beberapa tahun lebih muda darinya. Kepalanya tertutup tudung dengan syal yang melilit hingga ke hidungnya. Menyisakan mata yang telah ia lindungi dengan kacamata.

Gadis itu berlari kecil kearahnya. Lalu matanya terlihat menyipit seakan sedang tersenyum. "Selamat sore." Sapanya. Gaara hanya mengangguk kecil tanpa mengatakan apapun. Tangannya meraih tas si gadis lalu berjalan di depannya.

Gaara berjalan santai, berusaha menyamakan irama langkahnya dengan Matsuri meski mantan muridnya itu berjalan di belakangnya. Ia tiba-tiba berhenti saat bagian belakang jaketnya ditarik, Gaara menoleh.

"Gaara-sensei tidak perlu mengantarku sekarang. Cuaca sangat buruk hari ini. akan sangat berbahaya jika sensei mengatarku terlebih dahulu." Katanya.

"Siapa yang akan mengantarmu?" Tanya Gaara. Keningnya berkerut. Bingung.

Matsuri jauh lebih bingung lagi, "Eh?" gumamnya. Mata Masturi spontan mengarah ke tas kerjanya yang dibawa Gaara. "Lalu tasku?" Telunjuk Masturi mengarah pada tangan Gaara yang tengah menggenggam tas Matsuri. Pandangan Gaara jatuh pada tangannya sendiri. Lalu ia angkat tangan yang satunya lagi. Tangan yang tengah menenteng tumpukan laporan hasil rapat.

Kedua alis Matsuri terangkat. Lalu mengerut. "Kenapa dengan tas itu?" Tanyanya.

"Besok kau libur?" Gaara bertanya balik.

Kerutan di kening Matsuri bertambah 'apa pula maksud pertanyaan sensei ini?' Pikir Matsuri. Ia kemudian mengangguk kecil.

"Menginaplah di rumahku." Tegas Gaara.

Blush…

"EH?" Matsuri tersentak. Rona merah langsung menjalar di seluruh pipinya. "Ma..maksudnya?" Secara otomatis pikiran Matsuri melayang. 'me…menginap? Apa itu maksudnya ajakan untuk –?'

Pikiran Matsuri langsung terhenti saat Gaara membuka tas miliknya, memperlihatkan tumpukan kertas didalamnya, "Bantu aku memeriksa hasil rapat." Katanya sukses menghancurkan pikiran hina Matsuri.

"HAH?"

Jujur, ini adalah percakapan terpanjang antara Gaara-Matsuri beberapa bulan terakhir. Tapi masalahnya, kini Matsuri telah terkapar telak karena kaget. Matsuri… Matsuri…, emang kamu mikir apa?!

O.o

Kedua kaki Matsuri terlipat kaku. Tangannya saling bertaut dan wajahnya tampak gugup.

"Ano, sensei…" Panggilnya.

Gaara yang baru datang dari dapur dengan dua gelas teh mengangkat sebelah alisnya sebagai isyarat mendengarkan.

"Temari-sama dan Kankuro-sama kemana?" Tanyanya.

Gaara mengedarkan pandangannya kesekeliling lalu matanya berhenti pada kalender yang tergantung di sebelah barat dekat jendela.

"Tanggal 28, mereka sedang missi." Jawabnya.

"Sou ka…" Matsuri menganggukkan kepalanya, "EH?!" Jeritnya tiba-tiba. 'Itu berarti tidak ada siapapun di sini?!' Mata Matsuri melebar. "Ka..kapan mereka pulang?" Matsuri mencoba menepis pikiran-pikiran yang kemungkinan besar pasti ia pikirkan.

"Seminggu lagi."

Dan jawaban Gaara malah semakin menguatkan pikiran-pikiran itu. Cepat-cepat Matsuri menundukan kepalanya. Membuat dagunya hampir tenggelam di lehernya. 'kendalikan pikiranmu, Matsuri! Kendalikan! Kendalikan!' rapal Matsuri dalam hati.

"Hu –hujannya tambah deras ya," Ujar Matsuri membuka percakapan yang tidak penting

Gaara melirik ke arah Matsuri, mengangguk.

Hening.

"Sepertinya anginnya juga semakin kencang." Lanjut Matsuri. Makin tidak penting.

Kembali, Gaara hanya mengangguk. Lalu…

Hening.

Matsuri melihat tangan Gaara yang dengan lincah menyapu halaman demi halaman dari tumpukan kertas di meja. Gugup, Matsuri tidak tahu lagi harus berbicara apa. Keheningan ini membuat debaran jantungnya semakin terdengar keras saja. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi pada lembaran kertas di tangannya.

"Ne, sensei apa teh nya mau tambah lagi?" Tawar Matsuri melihat gelas milik Gaara yang telah kosong.

Gaara mengangguk kecil. Lalu kembali tenggelam dalam tumpukan laporan.

"Gaara sensei!" Suara gadis itu kembali terdengar, kali ini agak jauh. Tampaknya Matsuri masih di dapur.

"Ya?" Teriak Gaara.

"Bolehkah aku memasak untuk makan malam?" Tanyanya. Kepala Matsuri menyembul dari pintu ruang tamu.

"Hn." Jawab Gaara.

"Ne, Sensei apa kau suka sup lobak?"

Tangan Gaara berhenti. Kepalanya ia dongkakkan hingga Gaara bisa melihat wajah Matsuri dengan jelas. "Ya." Gumamnya. Lalu berdiri dari duduknya.

Hyuu…

Gaara merasa badannya benar-benar lemas. Tubuhnya limbung. Dan kepalanya sangat pening. Pusing.

"Se –sensei!" Panggil Matsuri cemas. "Apa kau sedang sakit?" Tanyanya. Dengan sigap, Matsuri membantu Gaara berdiri stabil. "Ne, sensei. Kau kenapa?" Ulangnya.

"Aku hanya sedikit lelah." Katanya. Lalu melepaskan pegangan Matsuri. "Aku akan mandi dulu." Dan ia berjalan dengan perlahan ke arah lantai dua.

"Se –sensei…" Gumam Matsuri khawatir.

O.o

Aroma masakan menguar tajam saat langkah kaki Gaara semakin mendekati dapur. Sudah lama sekali rasanya semenjak ia terakhir kali mencium aroma masakan rumah. Selama ini kakak sulungnya, Temari tidak lagi memasak. Temari terlalu sibuk mengurusi hubungan antar-Gakure. Ia jarang sekali berada di rumah. Sekalinya libur Temari lebih memilih tidur seharian. Lalu Kakaknya yang kedua, Kankuro tidak bisa diharapkan. Sebagai sesama lelaki, ia juga tidak pernah memasak sekalipun dalam hidupnya. itulah mengapa, dapur di dalam keluarga Sabaku no ini hanyalah sebuah hiasan saja. Pelengkap!

Makanan sehari-hari biasa diantar bibi Yin. Bibi Yin adalah pengurus rumah yang datang seminggu sekali untuk membereskan rumah dan dua kali sehari untuk mengirim makanan pada keluarga Gaara tapi hari ini nampaknya bibi Yin tidak bisa datang karena di luar sedang hujan badai.

"Sensei? Sudah selesai?" Tanya Matsuri. Wajahnya merona hebat saat melihat kearah Gaara yang kini memakai baju kaos berlengan pendek dan celana kain panjang. Gaya pakaian rumah yang belum pernah sekalipun dilihat oleh Matsuri.

"Un, Kalau kau mau mandi kau bisa pakai baju kakakku." Gaara mengucek rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat adegan ekslusif itu, Matsuri diam-diam meneguk ludahnya. Cepat-cepat ia palingkan pandangannya sebelum matanya terpaku.

"Terimakasih. Aku akan mandi setelah kita makan malam." Jawabnya.

Matsuri kembali tenggelam dalam kesibukannya membuat makan malam. Tangannya dengan luwes memasukan ini dan itu ke dalam panci hingga aroma harumnya semakin menggugah selera.

Gaara meneguk ludahnya. "Lobak?" Tanyanya tiba-tiba.

Matsuri mengangguk kecil. "Sayur lobak dengan irisan daging dan taburan kacang serta bawang goreng."

Matsuri tengah memasukkan irisan bawang merah ke dalam minyak dalam katel ketika Gaara membuka lemari es dan mengambil sebotol susu.

"Ting!"

"Sensei, bisa kau lihat nasi di ricecooker? Sepertinya nasinya sudah matang." Matsuri menunjuk pada ricecooker di samping lemari es yang telah berbunyi.

"Un," Gumam Gaara lalu membuka tutup ricecooker itu. "Matsuri, apa yang harus kulakukan?" Tanyanya bingung.

"Aduk nasinya, biar matangnya merata." Matsuri menyodorkan cukil nasi pada Gaara.

Gaara hanya melihat tangan Matsuri tanpa berniat mengambil cukil itu. "Bagaimana cara mengaduk nasi?" Gaara bertanya dengan polos.

Singg….

"HUAahahaha…." Tawa Matsuri pecah seketika.

Gaara mengerutkan keningnya, bingung melihat reaksi Matsuri yang malah tertawa lepas.

"Ah, Aku lupa kalau sensei adalah seorang tuan muda!" Ujar Matsuri "Coba lihat baik-baik tanganku." Matsuri kemudian meliuk-liukan tangannya.

"Ah, ya!" Gaara mengambil cukil nasi dan memperagakan gerakan tangan Matsuri. "Seperti ini?" Tanyanya.

Disampingnya, Matsuri tersenyum bangga. "Sip!" Katanya, lalu berjinjit sedikit untuk menyentuh rambut Gaara yang masih basah dan mengelusnya perlahan. "Pintar!" Lanjutnya.

Gerakan Matsuri terhenti ketika Pandangannya tertangkap oleh sepasang mata hitam Gaara. Rona merah langsung menjalar keseluruh wajahnya. Membuat napasnya terhenti secara mendadak.

Suara hujan mengalun lembut.

Adegan saling tatap itu telah berlangsung lebih dari dua menit ketika Gaara tiba-tiba memanggilnya, membawanya kembali ke alam nyata.

"Matsuri,"

"Hah, Ada apa?" Matsuri terperangah. Kaget.

"Gosong!" Ujar Gaara, membuat kedua alis Matsuri mengerut tidak mengerti.

"Bau Gosong!" Jelas Gaara.

"UA, BAWANG GORENGNYA!" Matsuri segera berlari pada bawang dalam katel yang malangnya telah berubah warna menjadi hitam legam.

"Maaf sen –!"

"BRUG."

Kata-kata Matsuri terputus, "–SENSEI!" Teriaknya. berlari menggapai tubuh Gaara yang tiba-tiba ambruk begitu saja.

"SENSEI!" Panggil Matsuri. Dengan cepat Matsuri menepuk pipi Gaara. Namun nihil, Gaara benar-benar tak sadar. Dia pingsan! Dan inilah pertamakali Matsuri melihat Gaara terkulai tak sadarkan diri.

"Tenang Matsuri."Gumam Matsuri mencoba menenangkan dirinya sendiri. Cairan bening telah menggenang di balik pelupuk matanya dan siap mengalir ke pipinya.

O.o

"…i"

"…sei"

"Sensei"

Sayup-sayup terdengar suara panggilan yang semakin lama semakin terdengar jelas.

"Tik!"

Setetes air jatuh ke pipinya. Membuat indranya kembali tersadar. Gaara mencoba mengerjapkan matanya.

"Sensei!"

Sebuah tangan mengelus-elus pipinya dengan lembut. 'Nyaman' pikirnya.

"Tik!"

Setes air jatuh lagi, kali ini ke bibirnya. 'Asin' Rasanya.

"Sensei… sensei…" Suara itu berulang kali memanggilnya. Suara yang terdengar sedih diantara isak tangis.

Menangis?

Mata Gaara bergerak perlahan. Ah, sepertinya konsentrasiku benar-benar telah pecah tadi. Pikirnya, sambil mengingat-ngingat apa yang sebelumnya terjadi.

Gaara merasa seluruh badannya mendadak mati. Lemas sekali hingga ia bahkan tak sanggup membuka kelopak matanya sendiri.

"Tik!"

Setetes air kembali jatuh. Kali ini jatuh di hidungnya.

Telinganya kemudian samar-samar mendengar suara isakan yang semakin melemah. Ah, diluar masih hujan. Suara gemerisik air pun mulai terdengar jelas.

"Sensei…"

Panggilan itu membuat Gaara sepenuhnya kembali ke kesadarannya.

"Tik!"

Setetes air mata yang kini jatuh tepat di mata Gaara. Membuatnya perlahan bisa membuka kelopak matanya.

Lewat cahaya yang masuk perlahan ke matanya, Gaara menemukan sesosok wajah Matsuri menatapnya dengan khawatir. Matanya memerah, dan air mata mengalir ke pipinya yang juga telah memerah sampai ke hidung.

Matsuri menangis? Pikir Gaara. Ada suatu letupan merangsek masuk ke dadanya. Membuatnya merasa hangat dan nyaman.

"Sensei… sensei… sensei…" Panggilnya. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras.

"Tik!" Air matanya kini jatuh ke pipi Gaara lalu turun ke lehernya.

"Adakah yang terasa sakit, sensei?" Tanyanya sambil menahan isak tangisnya.

"Aku hanya terlalu lelah." Jawab Gaara pelan. Kini kedua mata hitamnya telah sepenuhnya terbuka. Menyadari bagaimana poosisinya sekarang membuat ia kebingungan.

Kepalanya dengan sangat 'beruntung' tertidur di pangkuan Matsuri. Pantas nyaman.

"Syukurlah." Matsuri mengusap kening Gaara dan menyisir rambutnya dengan lembut. "Ayo pejamkan mata sensei!" komando Matsuri.

Gaara tidak tahu apa yang harus dia lakukan dalam situasi seperti ini. separuh dari jiwanya menyuruhnya segera bangkit, tapi dilain sisi ia ingin tetap seperti ini. Hangat dan nyaman.

Gaara hendak bangkit dari posisi memabukan ini, namun tangan Matsuri menahannya.

"Sensei terlalu lelah, tidur sebentar!" Titahnya. Mata Gaara terbelalak. Baru kali ini ada yang berani memerintahnya seperti ini. Nada bicara Matsuri mendadak tegas.

"Laporan." Pikiran Gaara mendadak teringat pekerjaan lagi.

"Tunda dulu. Saat ini otakmu terlalu over. Istirahat sebentar ya." Bujuknya. Dan kesalnya jauh dilubuk hatinya Gaara benar-benar tidak kuasa kehilangan perasaan hangat ini. apalagi jari Matsuri yang menyisir rambutnya telah membutakan indra perasanya.

Hujan masih mengucur dengan deras malam itu. Bunyi air yang jatuh ke tanah terdengar sangat menenangkan. Perasaan hangat saat udara di luar terasa luar biasa dingin membuat Gaara tak bisa lagi melepaskan posisinya. Badannya yang bagai telah terpaku, berbaring nyaman di lantai ruang tengah yang hanya di alasi tatami dan tanpa penghangat ruangan. Meski begitu, tubuh Gaara –anehnya- terasa sangat hangat.

Tangan Matsuri membelai rambutnya. Tangan kecil yang lembut. Tangan yang entah bagaimana bisa membuat matanya tertutup begitu saja. Ah, lelah sekali. Pikirnya. Lalu gelap.

o.O

Mata itu tiba-tiba terbuka. Dan kedua bolanya yang hitam membesar saat melihat jam dinding yang menggantung di dinding.

Jam 10?

Kepala Gaara yang dulu selalu terasa pening kini telah membaik. Bahkan tubuhnya terasa jauh lebih segar. Gaara hendak berdiri dari berbaringnya ketika tidak sengaja matanya melihat wajah Matsuri yang tengah tertidur dengan pulas. Dengkuran halus terdengar seirama dengan hembusan napas yang teratur dan dalam.

Hujan masih turun. Tapi sekarang tidak terlalu deras.

'kruyuuukk…'

Ah, Gaara jadi teringat. Ia kan belum sempat makan malam. Ia juga jadi teringat, sebelum ia menutup matanya, ia merasa sangat yakin bahwa jam di dinding itu masih menunjuk pukul 7 malam. Tapi sekarang setelah ia membuka matanya tiba-tiba tiga jam telah berlalu begitu saja. Kenapa bisa begitu?

Kepala Matsuri perlahan semakin turun. Terus turun dan… ia terperanjat. Membuat kepala Gaara, yang tidur di pangkuannya, ikut tersentak. Matanya terbuka.

"Ah, sensei sudah bangun?" Sapanya begitu ia bertemu dengan mata Gaara.

Bangun? Apa itu berarti aku telah… tidur?

Kesimpulan itu melesat dengan cepat di otaknya. 'tidur' adalah sebuah permasalahan sangat besar bagi Gaara akhir-akhir ini. Ia tidak yakin apa itu 'tidur' atau bagaimana 'tidur', ia benar-benar tidak punya petunjuk apapun tentang rasa 'tidur'. Tapi perasaan yang baru yang tadi dilalui Gaara pun baru baginya. Jadi itu juga bisa menjadi kemungkinan bahwa ia tadi telah 'tidur'.

"Hn" akhirnya Gaara hanya mengeluarkan jawaban andalannya yang singkat, padat dan… ambigu.

Menyadari posisi yang agak sedikit… em apa ya disebutnya, intim? Pipi Matsuri merona merah. Jujur saja sedari tadi kakinya sangat pegal dan sakit karena kram. Tapi itu tak jadi masalah selama Matsuri bisa melihat wajah tidur Gaara untuk pertama kalinya. Ugh, bagai melihat malaikat tidur di pangkuannya, Matsuri bahkan hampir gila karena tidak bisa menghentikan senyuman di bibirnya.

Gaara tak juga beranjak dari posisinya. Wajah kakunya hanya terpaku pada langit-langit ruangan. Menerawang jauh, seperti tengah memikirkan sesuatu yang sangat rumit. Wajah yang penuh dengan beban dan permasalahan.

Dan posisi yang …intim ini terpaksa harus segera berakhir ketika perut keduanya, yang protes minta diisi, berbunyi hampir bersamaan. Memalukan memang, tapi tak masalah karena itu manusiawi.

"Sensei aku akan menghangatkan sayurnya sebelum kita makan. Tunggu sebentar!" Matsuri bangkit berdiri bersamaan dengan bangkitnya Gaara.

Lalu otak Gaara semakin jelas memikirkan sesuatu. Sesuatu yang rasanya… aneh?!

-TBC-

A/N: Dear readers, Thank you for reading guys. Any review will be highly appreciated. Thanks.