Ino yang mendengar Sakura pingsan setelah melihat Sasuke berciuman dengan gadis lain langsung melesat menuju ruang kesehatan sekolahnya, ia tidak menyangka Sasuke tega membuat sahabatnya yang sudah menderita karena sakit yang di deritanya menambah penderitannya dengan sakit hati yang pemuda itu berikan, tapi well... semua bukan salah Sasuke karena Sasuke tak tahu menahu tentang penyakit Sakura...
"Sakura-chan ka-kau sudah sadar,"ucap Hinata lirih melihat Sakura sedikit demi sedikit membuka kelopak matanya.
"Sakura kau sadar?"teriak Ino dari arah pintu ruang kesehatan.
Sakura mengerjap kedua kelopak matanya berkali-kali kemdian melihat ke segala arah, di ruangan itu hanya ada kedua sahabatnya dan juga kekasih mereka masing-masing, tapi dimana kekasihnya... dimana Sasuke-nya?
'Waktuku disini sudah tidak lama lagi... Sasuke-kun'.
Kokai
.
.
.
.
Kokai
Disclimer : Om Masashi Kishimoto
Author : Hanna Hoshiko
Rated : T
Genre : Romance
.
.
.
.
Warning :
Maaf kalau fic ini tidak memuaskan karena saya tergolong Author baru...!
Cerita Abal, gak jelas, banyak typo,OOC (Sesuai kebutuhan cerita), AU, dsb.
Mohon RnR yaa minna..!
Kalo gak suka boleh gak dibaca kok...
Update setiap hari Minggu minna-san ^_^
Perhatian :
Cerita ini hanyalah fiksi, bila ada kesamaan alur, watak tokoh, atau apapun itu... itu dilakukan dengan ketidak sengajaan oleh author.
.
.
.
.
Kokai
.
.
.
.
Setelah mendengar bahwa adik kesayangannya tiba-tiba pingsan di sekolahnya, Sasori tidak memperdulikan bahwa ia sebentar lagi akan rapat atau apapun itu yang terpenting sekarang hanyalah adik kesayangannya itu, beberapa waktu lalu sahabat adiknya bernama Naruto, dia sahabat adiknya yang paling berisik dari semua sahabatnya, menelponnya mengatakan bahwa Sakura jatuh pingsan.
"Sasori-kun, kau akan kemana? Sebentar lagi kau akan ada rapat!"teriak Konan-sekretarisnya-yang melihat Sasori berlari meninggalkan ruangannya begitu saya.
"Ck, persetan dengan rapat lebih penting adikku."umpat Sasori pelan.
Dengan cepat Sasori menancapkan gas mobilnya menuju salah satu sekolah ternama di Konoha, tepatnya SMA Konoha Gakuen. Wajah babyface miliknya sekarang benar-benar memancarkan aura kekhawatiran yang tidak enak.
Tak sering siswi sekolah yang melihat Sasori menjerit kecil, gadis mana yang tidak kenal seorang Haruno Sasori? Bisa dibilang hampir tidak ada, ia adalah pembisnis terkenal di Konoha, sering muncul di majalah bisnis maupun hingga majalah fashion sekalipun.
Dengan tidak sabar Sasori membuka paksa pintu ruang kesehatan, semua mata yang berada di dalam tampak terkejut dengan tindakannya, akhirnya ia bisa bernafas lega melihat adiknya sudah siuman kembali.
"Sakura... kau baik-baik saja?"tanya Sasori pada Sakura yang merengut kesal padanya.
"Aku tebak, saat tadi Naruto menelpon mengabarkan aku pingsan, nii-chan langsung meninggalkan pekerjaan nii-chan di kantor iya 'kan?"tanya Sakura manja pada Sasori.
"Gomen,"ucap Sasori kecil.
"Sudah ku bilang, aku pasti sanggup bertahan... hanya sebentar lagi nii-chan."gumam Sakura lirih.
Sedangkan Naruto dan Sai yang tidak mengerti akan situasi yang berada disini mulai bingung karenanya, berbeda dengan kekasih mereka yang hanya bisa memandang sendu ke arah Sakura. Tapi bukan Naruto namanya jika ia tidak bertanya dan malah mati penasaran.
"Ne, Sebenarnya ada apa dengan Sakura-chan?"tanya Naruto dengan suara melengking, membuatnya mendapatkan pelototan gratis dari Ino.
"Na-Naruto-kun... be-belum saatnya, su-suatu saat pasti a-aku beri tahu."sahut Hinata untuk memusnahkan rasa pensaran kekasih hyperactive-nya itu.
Naruto hanya bisa merenggut kesal mendengar sahutan dari kekasihnya itu, "Hinata-chan~ 'kan aku penasaran."ucap Naruto kesal.
"Hinata sebaiknya kau bawa rubah jelek itu keluar saja, jika ia terus berada disini pasti akan merepotkan."ucap Ino sedikit dengan nada mengejek pada Naruto.
Dengan susah payah Hinata membawa keluar Naruto dari ruang kesehatan sekolah mereka, Ino juga sudah keluar bersama kekasihnya, ia tak mau menganggu kakak beradik itu.
"Apa yang membuatmu begini?"tanya Sasori serius.
"T-tidak ada, hanya saja kepalaku mendadak pusing dan semuanya menjadi gelap,"jawab Sakura gugup.
"Jangan mencoba membohongiku Haruno Sakura, aku mengenalmu tidak satu hari dua hari tapi sejak dirimu di lahirkan oleh Kaa-san,"ucap Sasori serius, ia akan menjadi serius jika menyangkut nyawa adiknya ini.
"Nii-chan, sudah kukatakan tidak ada."bantah Sakura lagi.
"Mana bocah Uchiha itu, aku tidak melihatnya disini... apa dia yang membuatmu terbaring disini?"tanya Sasori agak sedikit geram sebenarnya melihat mata adiknya perubah sendu saat ia menyebut marga kekasih adiknya itu, ia yakin dan pasti tidak salah bahwa yang membuat adiknya terbaring disini adalah bocah Uchiha itu.
Adik kecilnya itu tidak kunjung menjawab membuat dugaannya pada bocah Uchiha itu semakin kuat, "Apa yang sudah ia lakukan padamu?"tambah Sasori lagi dan membuat Sakura semakin gugup.
"Tidak ada, Sasuke-kun sedang ada keperluan."bela Sakura.
"Hingga tidak dapat melihat kekasihnya sendiri yang sedang pingsan, ku pikir bocah Uchiha itu masih waras dengan otak jenius miliknya itu kecuali bila bocah Uchiha itu sudah tidak mencintaimu lagi?"tebak Sasori dengan nada meremehkan pada Sasuke.
"Nii-chan hentikan! Sa-Sasuke-kun tidak begitu, kau memang menyebalkan nii-chan,"bentak Sakura pada kakaknya yang sedari tadi menjelekkan Sasuke di matanya.
"Baiklah, aku mengalah."ucap Sasori yang mulai melihat adik kesayangannya menunjukkan tanda-tanda kesal padanya.
"Kalian membicarakanku?"tanya orang, ralat pemuda berambut style pantat ayam dengan tatapan datar.
"Sasuke-kun!"lonjak Sakura girang.
Sebenarnya ia sedang sangat malas untuk bertemu dengan kekasihnya, kalau saja bukan paksaan dari duo kembar pirang itu-Naruto dan Ino-ia tak berniat untuk mengunjungi Sakura yang pingsan di depannya tadi, entahlah akhir-akhir ini dirinya begitu muak pada Sakura, mungkin faktor karena akhir-akhir ini juga Sakura selalu menempel padanya. Ia ingin mencoba hal baru... ia sedikit bosan pada kekasihnya.
Saat melihat Sakura tadi pingsan di depannya, hatinya kecilnya ingin sekali membopong Sakura ke ruang kesehatan tapi apalah ego-nya terlalu besar dan mengalahkan hati kecilnya sendiri, membiarkan Naruto yang menggendong Sakura-nya ala Bridal style, ingin sekali ia memberikan Naruto pelajaran karena sudah seenaknya menyentuh Sakuranya tapi lagi-lagi ego-nya sudah mengalahkan hatinya sendiri.
Sebelum ia menampakkan dirinya dihadapan Sakura, telinganya mendengar ribut-ribut kecil yang menyebut-nyebutkan namanya. Ia tahu itu suara kekasihnya dan... Suara setan merah itu tentunya, setan merah itu berani-beraninya mengejeknya, beruntung Sakura selalu ada untuknya, andai ia tahu tak selamanya Sakura akan selalu ada untuk dirinya.
"Ck, kau terlambat bocah,"ucap Sasori geram.
Perbedaan umur mereka hanyalah berbeda enam tahun tapi Sasori selalu memanggil Sasuke dengan sebutan bocah, lain lagi dengan Sasuke yang seenaknya memanggil orang yang jauh lebih tua darinya, apalagi jika nanti orang itu adalah kakak iparnya dengan sebutan setan merah.
"Diam kau setan merah,"ucap Sasuke garang, ia merasa dirinya dihina dan diremehkan oleh pemuda berwajah babyface itu.
"Selalu saja begini, setiap kalian bertemu kalian selalu bertengkar."ucap Sakura kesal melihat kelakuan kekasihnya dan juga kakaknya.
"Hn, bagaimana keadaanmu?"tanya Sasuke datar.
"Baik, aku hanya kelelahan tadi."ucap Sakura menutupi penyakitnya.
"Imoutou-chan sepertinya aku sudah harus kembali, Konan sudah mulai menerorku,"ucap Sasori agak bersalah karena harus meninggalkan adiknya.
"Hati-hati Sasori-nii, jaa ne."
"Jaga adikku dengan benar bocah, sekali lagi aku menemukan adikku pingsan dan kau tidak ada disampingnya, maka kupastikan kau tidak akan boleh menemuinya lagi."ancam Sasori sinis pada Sasuke.
"Ck, dasar setan merah sialan."umpat Sasuke lirih.
Sebenarnya mendengar ancaman Sasori tadi sempat membuat hati Uchiha bungsu ini gentar tapi ia menutupinya dengan sifat sombong dan angkuh ala Uchiha-kecuali Itachi, kakaknya itu tidak sering-jarang memperlihatkan sifat angkuh yang biasanya Uchiha lain tunjukkan, kakak bodohnya itu selalu saja bersifat ceria seperti Naruto dan sangat jahil sangat bertolak belakang dengan dirinya 'kan? Tapi kenapa orang itu yang bisa menjadi kakaknya.
"Sasuke-kun sebenarnya apa yang tadi kau lakukan bersama Karin-san?"tanya Sakura lirih pada Sasuke yang bersikap cuek padanya.
"Mencoba hal baru,"ucap Sasuke singkat.
"Tapi... hiks... Sasuke-kun hiks... apa kau hiks... tahu apa yang kurasakan hiks... saat melihatmu melakukan itu bersama Karin-san?"Sakura sudah tak kuat untuk memasang topeng wajah ceria miliknya, kejutan yang kekasihnya berikan tadi sudah sangat membuat hatinya dilanda bencana dan berakhir di ruang kesehatan sekolah.
"Iie,"ucap Sasuke singkat, tak menyadari mungkin saja perbuatannya tadi dapat menambah stadium kanker yang tengah kekasihnya derita.
"Hiks... kenapa?"tanya Sakura pahit, Sasuke memilih untuk diam dan tak merespon ucapan Sakura.
"Kenapa... kau melakukannya, akan hiks... lebih baik jika kau meninggalkanku dan kau bisa hiks... melakukannya semaumu tanpa aku harus tersakiti seperti ini, aku bisa pergi darimu,"hati Sakura sesak membayangkan kejadian tadi, kepalanya kembai berdenyut ringan.
Greb.
"Kau tidak akan pergi kemanapun,"
Melihat Sakura begitu shock atas perbuatannya tadi membuat sudut hatinya yang tak pernah tersentuh gadis lain, berdebar sesak dan menyakitkan. Membuat semua anggota tubuhnya ingin merengkuh Sakura dalam pelukannya, membawa tubuh gadis itu dalam kehangatan pelukannya, memeluk Sakura seprti memeluk ibunya sendiri, sensasi yang tak Sasuke dapatkan dari gadis lain selain Sakura.
Lama Sasuke memeluk Sakura, Sakura nyaman dalam pelukan Sasuke hingga ia jatuh tertidur.
"Oyasumi, my Cherry."Sasuke menutup pintu ruang kesehatan dengan hati-hati.
Sasuke berjalan dengan santai dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana seragam sekolahnya, gadis berambut merah dengan dua kancing kemeja yang sengaja ia tidak kancingkan untuk memperlihatkan belahan dada besarnya berlari ke arahnya, sedangkan Sasuke hanya memandang dingin ke arah gadis bernama Karin itu, sebetulnya ia hanya ingin bermain-main dengan gadis itu tidak lebih, sewajarnya hatinya akan tetap untuk Sakuranya.
"Sasuke-koi~, apa kita bisa teruskan yang tadi?"tanya Karin manja dengan memeluk lengan Sasuke, ia tak peduli delikan mata sebal dari gadis-gadis di sekitarnya yang notabene adalah fans Sasuke.
"Aku sedang tidak mood, menjauh dariku."ucap Sasuke tajam pada Karin.
"Apa ini karena gadis pink itu?"tanya Karin sinis.
"Ck, dasar gadis jelek itu,"ejek Karin.
Sasuke mendelik sinis ke arah Karin, gadis itu berani-beraninya menghina kekasihnya, meski ia akui ia juga seorang laki-laki brengsek tapi ia tidak akan terima bila kekasihnya dihina oleh seorang gadis yang tak tahu diri seperti Karin.
"Jaga ucapanmu, dia kekasihku. Cih dasar gadis tak tahu diri,"ucap Sasuke tajam membuat Karin bergidik ngeri.
.
.
.
^^ Hanna ^^
.
.
.
Sakura mengepaki semua pakiannya dan juga barang-barang pribadinya ke dalam koper besar berwarna soft pink miliknya, hari ini adalah hari pengumuman kelulusannya dan juga hari terakhirnya di Jepang. Sudah lima hari setelah ia memergoki Sasuke berciuman dengan Karin, setelah kejadian itu Sasuke tak pernah muncul di depannya, ia tak sanggup bila harus mencari Sasuke di seluruh penjuru sekolah, kondisi tubuhnya lebih penting daripada semuanya.
Inilah hari terakhirnya bersama Sasuke, bertambah hari wajah putihnya seperti tidak putih sewajarnya tapi bisa di bilang pucat dan menakutkan, mata hijau teduh miliknya yang dulu selalu bersinar sekarang sudah meredup, cahaya itu hilang ketika ia pertama kali mendengar bahwa dirinya mengidap penyakit kanker otak.
Setelah mendengar itu Sakura terus saja menangis dan tak mau bersekolah, ia beranggap hidupnya sudah tak lama lagi, tapi nii-channya berusaha menopang semua keluh kesah dan penderitaanya di pundaknya.
"Sakura apa kau sudah siap?"teriak Sasori dari lantai satu.
"Sebentar nii-chan!"jawab Sakura.
Sakura turun dari kamarnya, ke tiga kopernya sudah di bawa oleh supir mereka, rencananya ia akan berpamitan pada Sasuke nanti.
Gedung bergaya Jepang modern itu terlihat di penuhi oleh siswa kelas tiga, Ino melihat Sakura berjalan sendirian dari arah gerbang SMA Konoha Gakuen. Sedikit rasa prihatin saat melihat kondisi sahabtanya saat ini, wajah ayu-nya terlihat sangat pucat seperti mayat hidup, mirisnya lagi kekasih sahabatnya itu berubah menjadi seorang playboy.
Dua hari yang lalu ia melihat Sasuke berciuman dengan gadis berambut merah di belakang sekolah, saat itu ingin sekali ia memberikan pelajaran pada pemuda berambut pantat ayam itu, tapi kekasihnya melarangnya.
"Sakura, kita lulus!"teriaknya.
Sakura tersenyum melihat wajah Ino yang berlari ke arahnya, wajah itu pasti yang akan rindukan ketika dirinya berada di Amerika.
"Souka? Yokatta... Kalau begitu dimana Sasuke-kun?"Sakura melihat wajah Ino yang tiba-tiba saja berubah masam saat ia menyebut nama Sasuke.
"Aku tidak melihatnya sedari tadi tapi dia lulus,"ucap Ino bosan.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padanya, kau mau mencari bersamaku?"ajak Sakura tapi Ino hanya diam.
"Sekarang?"
"Kau akan meninggalkan kami sekarang, tanpa melewati prom night bersama kami?"tanya Ino memegang bahu Sakura erat.
"Kau masih ingin melihatku 'kan?"sebenarnya ia juga tak mau meninggalkan Ino tapi penyakitnya takkan mati dengan mudah, Sakura memeluk tubuh Ino erat meyakinkan gadis itu bahwa nanti ia pasti kembali seperti Sakura yang dulu.
Ino bilang belakangan ini Sasuke sering berada di halaman belakang sekolah, tentu Ino tak menceritakan bahwa Sasuke selalu berdua dengan seorang gadis disana, gadis tidak sama setiap harinya, Ino tak berani memberitahu Sakura tentang hal itu, ia takut Sakura shock mendengarnya. Mereka terus saja berjalan, mata hijau milik Sakura mendelik kaget saat melihat kekasihnya tengah berciuman dengan gadis terpopuler di sekolahnya-Shion.
Sakura merasa hidupnya terlampau miris untuk seukuran gadis sepertinya, sekarang ia mulai merasa sakitnya berganti pada hatinya sendiri bukan pada kepalanya. Butiran sebening kristal itu jatuh begitu saja dari kedua kelopak matanya, sama dengan halnya Sakura yang shock, Ino juga begitu, ia shock karena niatnya tidak memberitahu Sakura tentang kelakuan Sasuke, kini gadis itu bertambah melihatnya dengan kepala matanya sendiri.
"Sa-Sakura?"panggil Ino khawatir melihat wajah sahabatnya yang terlihat menakutkan, air mata itu terus saja turun dari kedua mata indahnya tapi gadis itu menampilkan senyum yang menakutkan diwajahnya.
"Hahahahaha..."tawa pahit Sakura akhirnya keluar dari mulutnya, hatinya remuk. Apa jika ia tidak ada di dunia ini mungkin ia takkan merasakan semua ini.
Mendengar Sakura mengeluarkan tawa yang menurut Ino sangat menakutkan, membuatnya tanpa ragu memeluk tubuh ringkih Sakura.
"Hiks... kumohon pergilah darisini dan hiks... lupakan Uchiha brengsek itu Sakura,"Ino menangis sambil memeluk Sakura yang masih menangis hebat.
"Hiks... melupakannya? Jauh hiks... darinya saja aku sudah sangat susah, hiks... apalagi aku harus melupakannya. hiks... itu mustahil bagiku,"
Sakura menyeka air matanya, "Kelihatannya Sasuke-kun sedang sibuk dengan kegiatannya, aku jadi tidak tega untuk mengganggunya. Kau bisa ucapkan salam perpisahanku padanya-jika itupun kalau dia mengingatku hihihihi, Sayonara Ino..."meski dengan tawa pahit setidaknya Sakura sudah bisa mempertahankan air matanya untuk tidak jatuh.
"Ck, jangan pernah mengatakan Sayonara padaku Forehead, aku tidak akan menerimanya."ucap Ino kesal pada Sakura.
Sebenarnya mereka masih jauh di halaman belakang sekolah tapi dari tempat Sasuke keberadaan mereka tidak bisa dilihat, hanya dari tempat Sakura dan Ino keberadaan Sasuke bisa terlihat dengan jelas.
"Uhm... kalau begitu aku harus ucapkan apa padamu?"tanya Sakura bingung dengan wajah innocent.
"Ucapkan Jaa ne saja untukku dan Hinata,"
Mereka berjalan menuju gerbang, Ino sengaja mengantarkan Sakura untuk yang terakhir kali sebelum kepergiannya ke Amerika, di jalan mereka bertemu Hinata dan Naruto-dia sedang mencubit kedua pipi tembem milik Hinata, setelah mendengar kata Ino bila Sakura sekarang sudah harus pergi mau tak mau Hinata juga mengantarkan Sakura sampai gerbang, sedangkan Naruto terlihat sebal pada kekasihnya karena Hinata tidak mau memberitahu Sakura akan pergi kemana.
"Arigatou mau mengantarkanku, Jaa ne Ino, Hinata-chan dan... Naruto no baka,"ucap Sakura dengan wajah sedihnya.
"Memang Sakura-chan akan kemana? Kenapa semua tidak ada yang mau memberitahuku?"tanya Naruto dengan berteriak sebal.
"Pada saatnya Sakura pasti kembali kesini."ucap orang dari dalam mobil kini keluar, membuat rambut merah darahnya berkilau terkena sinar mentari.
"Lama tidak bertemu Sasori-nii, kami berdua titip Sakura padamu ya?"Ino berharap setelah ini Sakura akan bertemu pemuda yang jauh lebih baik dari Sasuke.
"Ja-jaga Sakura-chan baik-baik ya Sasori-nii,"sama halnya dengan Ino, Hinata berharap Sakura akan menjadi lebih baik di Amerika nanti.
"Semoga besok prom night kalian berjalan meriah ya, aku dan nii-chan pamit dulu, Jaa ne minna."
Mobil hitam milik Sasori terus membawa keduanya menjauh dari SMA Konoha Gakuen. Ino tidak bergerak dari tempatnya, sedangkan Hinata sudah di bawa kabur oleh Naruto entah kemana, ia masih belum rela Sakura meninggalkannya pergi, Sakura adalah salah satu sahabat kecilnya, gadis berambut musim semi itu sangatlah menderita, kematian kedua orang tuanya dulu hampir saja membuat Sakura melakukan percobaan bunuh diri, saat itu ia tak pernah tersenyum lagi mungkin hanyalah senyum palsu yang menghiasi wajah cantiknya, tapi beruntung gadis itu dulu menemukan penopang hidupnya setelah kakak lelakinya.
Saat beberapa bulan lalu ia di fonis mengidap kanker otak gadis itu seperti kehilangan nyawanya, tapi beruntung Sasuke masih berada di sampingnya, tapi sialnya nasib gadis cherry blossom itu sangat buruk, setelahnya kekasihnya malah terang-terangan selingkuh.
'Cepat kembali Sakura, kami disini akan selalu menunggu.'
Setelah mengucapkan satu kalimat harapan untuk Sakura, Ino berjalan masuk ke dalam sekolahnya. Ia tak sengaja berpapasan dengan Sasuke, pemuda itu hanya berwajah stoik andalannya.
"Ck, kau pasti akan ku buat merasakannya juga Uchiha."desis Ino lirih dan juga sinis saat ia berapapasan dengan Sasuke.
Sambil berjalan Ino terus mengetik pesan di dalam handphone touchscreen miliknya, detik berikutnya ia sudah menekan tombol send, ia melakukannya demi Sakura meski ia harus berbohong pun ia rela, meski pada akhirnya Sakura akan kecewa padanya ia rela. Apapun ia akan lakukan demi sahabatnya, ia tak sanggup untuk terus menerus melihat sahabatnya menderita seperti itu.
"Kita lihat siapa yang akan lebih menderita diantara kalian,"Ino memasukan handphone-nya ke dalam saku rok seragamnya.
Saat melihat kekasihnya, Ino kembali memasang wajah cerianya, disana juga ada Hinata dan Naruto. Sebelum ia melakukan apa yang telah ia pikirkan matang-matang kemarin, ia terlebih dulu membicarakannya pada Hinata, dan Hinata langsung mensetujuinya... Hinata juga sedih melihat se-miris itukah nasib sahabat bermabut pink-nya itu.
"Apa Ino-chan sudah me-memberitahunya?"
"Ya, semua ini harus berhasil, ngomong-ngomong Sai-kun apa setelah ini kau bisa mengantarkanku membeli gaun untuk besok?"Ino berjalan ke arah kekasihnya yang tengah tersenyum padanya kemudian menggandeng lengan Sai manja.
"Baiklah Ino-chan, kami duluan Naruto. Hinata-san. Jaa ne."
"Ne, Hinata-chan apa kau tidak ingin aku menemanimu untuk membeli baju seperti gadis gendut itu?"tanya Naruto dengan wajah polos miliknya.
Wajah Hinata sudah memerah mendengar ucapan kekasih hyperaktif-nya, "Le-lebih baik jika ki-kita berjalan-jalan di ta-taman Na-Naruto-kun."melihat Naruto menatapnya begitu membuat Hinata serasa akan pingsan dibuatnya.
.
.
.
^^ Hanna ^^
.
.
.
"Sakura... Haruno...?"
"Eh?"
"Mau jalan-jalan bersamaku?"
"Kau mengajakku?"
"Uchiha-san!"
"Sasuke! Panggil aku Sasuke-kun,"
"Sa... Sasuke-kun?"
"Kenapa?"
"Ti-tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
"Jangan membohongiku Cherry,"
"Kenapa melihatku terus?"
"Hn."
"Dasar peli kata."
"Dasar cengeng!"
"Berhenti mengejekku, dasar pantat ayam,"
"Aku lebih suka SA-KU-RA."
"Eh!"
"Watashi wa... anata ga suki desu,"
Sakura membuka matanya yang terpejam, ia masih berada di ruang tunggu bandara bersama-sama dengan semua koper miliknya dan Sasori, kakaknya sedang mengurus administaris mereka di lobi bandara. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa Sasuke akan mengejarnya, apakah benar Sasuke sudah lupa padanya dan juga semua kenangan mereka.
"Kau makan dulu? Pesawat kita akan berangkat satu jam lagi,"tawar Sasori, gadis disebelahnya juga melirik genit ke arah kakaknya.
"Apa kau sudah memberitahu Konan-nee tentang kepindahan kita?"
"Dia akan menyusul kita besok, dia sudah sering bersamaku di kantor. jadi tidak akan masalah meski aku tidak bersamanya seharipun,"kata Sasori enteng, Konan adalah kekasih Sasori. Rencanya mereka akan bertunangan di Amerika setelah ia sembuh dan lepas dari kanker.
"Kau ini."desah Sakura pasrah.
Sasori mengecek Smartphone miliknya, ia menemukan sebuah pesan dari nomor yang ia tidak tahu. Setelah ia membuka pesannya ia baru tahu bahwa pesan itu dari sahabat Sakura, saat membaca pesan yang baru saja ia terima wajah babyface-nya berubah menjadi antar marah,kesal, kecewa, dan sedih. Entah apa isi pesan itu, melihat wajah nii-channya yang selalu bertampang bodoh-menurut Sakura sekarang berubah menjadi serius membuat Sakura bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dilihat dan dibaca nii-channya di Handphone hitam metalik miliknya.
"Nii-chan?"panggil Sakura dengan alis berkerut tajam.
"Eh? Ap-apa?"
"Kita jadi 'kan untuk makan?"
Nuansa di dalam cafe sangatlah sepi, cafe bernuansa eropa ini sangat dekat dengan bandara hanya dengan jalan kaki lima belas menitpun sampai, pancake yang Sakura pesan masih belum habis.
"Ne, Nii-chan tadi kau melihat apa? Hingga wajah babyface yang selalu kau banggakan itu berkerut jelek,"ejek Sakura pada Sasori.
"Hn, tidak ada."ucap Sasori datar.
Sakura yakin pasti ada sesuatu di dalam otak bodoh kakaknya itu, kakaknya yang biasanya akan bertingkah layaknya badut jika bersamanya tapi sekarang kakaknya itu hanya diam dan bersikap datar mirip dengan sifat Sasuke.
"Onii-chan, kau pelit,"gumam Sakura.
Sebenarnya Sasori mendengar gumaman adik kesayangannya tapi apa yang harus ia beritahu 'kan padanya, toh adiknya juga sebenarnya sudah tahu bahkan adiknya lah yang mengalami kejadiannya langsung dan kenapa adiknya harus penasaran dengan itu semua, saat mengetahui semuanya hatinya benar-benar terasa terbakar api... jika bukan karena Sakura pasti dia akan langsung mengirim bocah itu ke neraka, meski pun resikonya ia harus terjun juga ke nereka apapun akan ia lakukan demi melihat adiknya kembali tersenyum.
"Nii-chan kita sudah terlalu lama disini, ayo kita kembali."ajak Sakura.
Tanpa menjawab pertanyaan adiknya Sasori beranjak dari kursinya, ia mengikuti langkah adiknya dari samping. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah menunggu dan menyembuhkan adiknya.
Waktu berjalan dengan cepat, Sakura dan Sasori kini tengah berada di dalam pesawat, duduk santai di tempat duduk mereka masing-masing, Sakura tidak bisa membohongi hatinya bila hatinya memang sedih karena Sasuke tidak mencarinya, apa setelah dirinya benar-benar pergi Sasuke akan bahagia, bila memang iya Sakura akan melakukannya.
Kedua mata emerald itu tertutup rapat, kedua tangannya ia katupkan di depan dadanya, raut wajahnya hampir seperti menangis.
"Sayonara Sasuke-kun."
.
.
.
.
.
To be continued.
Author Talk :
Hari minguuuuuu! *teriak pakek toa* , makasih untuk semuanya yang udah nyempetin buat baca cerita aku apalagi yang udah susah-susah buat review, yang bisa di bilang masih jauh dari cerita-cerita author senior di Fandom Naruto, pertama ragu sih mau publish ni cerita soalnya waktu pertama ngetik aku gak dapat feel apapun disana, gak enjoy banget dan malah buat alurnya jadi kecepeten. Darisini saya udah mulai ngerasa enjoy buat nerusin cerita, meski saya sibuk ama tugas sekolah yang udah mulai padet lagi, tapi tiap waktu yang saya punya yang lagi longgar tentunya... saya nyempetin buat nyicil nerusin ngetik cerita meski sedikit paling gak saya udah bisa nepatin waktu apdate saya dengan jumlah word yang gak banyak ini, kayaknya sesi curhatan saya bakalan panjang mending saya potong buat chapter depan...
Balasan Reviews :
Shizu F : apdate paling lama hari minggu, terima kasih udah review senpai.
Hotaru Keiko : saya juga ngerasa kayak gitu moga di chap ini udah nggak ngerasa alurnya kecepeten, terima kasih review senpai.
Hanazono Yuri : Ok, ini udah'kan. Terima kasih udah review, follow, fav cerita aku senpai.
Mia Rinuza : panggil seenaknya aja, yang penting pen name aku hehehehe XD , ada sih karma tapi bukan Sakura yang ngasih. Terima kasih udah review senpai.
Febri Feven : ini udah lanjut 'kan, terima kasih udah review sama fav senpai.
Sacchan Silver FireFly : kilatnya pasti datang hari minggu, jadi saya apdate-nya cuman hari minggu deh XD. Oh ya nunggu-nya udah selesaikan? Terima kasih udah review sama fav ya senpai.
Amu B : Disni masih belum ada Sasuke yang nyesel, saya usahain chapter depan ada. Terima kasih udah review senpai.
Yoshikuni Ayumu : jangan nangis darah dong entar kayak Saskey lo hehehehe XD , udah apdate kan. Terima kasih udah review sama follow senpai.
Hikari Rin : Imoutouuuuuuuuu-chan XD *ck, gue udah mulai lebay nih* gue tunggu review lo chap ini ya Hikari^^ , terima kasih udah review Hikari.
Eysha 'CherryBlossom : berat? Emang mikul beras berapa kilo sambil ngomong cerita ini bagus plus bikin greget pula hehehe XD saya cuman bercanda, kalo di omong cerita ini bagus, saya cuman mikir sama nulis rangka ceritanya hanya lima menit dan pula lo... itu udah hari sabtu minggu-nya udah apdate, saya ngerasa itu waktu tercepet saya bikin rangka cerita tapi di luar dugaan cerita ini banyak yang respon dan suka... saya pikir cerita ini bakalan nggak ada peminatnya. Terima kasih udah review sama fav senpai.
Ichiru Pi : Ini udah apdate, terima kasih udah review Pi.
SasuSaku Fans : jitak saja saya ikhlas kok XD . untuk berapa chapnya saya masih belum tahu, terima kasih udah review ya senpai.
Sabel : ya saya emang sengaja chap awal dikit, terima kasih udah review senpai.
Gaby Rahaditya : Oke udah lanjut Oke? Terima kasih udah review senpai.
Thank's To yang udah follow tapi belom sempet review.
BlackWing123, NamikazeMinaru, MianaFazella, Jeremy Liaz Toner.
Thank's To yang uda fav tapi belom sempet review.
Titan-Miauw, BlackWing123, NamikaszeMinaru, Aishie Schiffer.
Buat yang belum di sebut disini saya mohon maaf banget, sekali lagi saya ngucapin banyak terima kasih buat dukungan atau saran, kritik-nya. Setelah baca jangan lupa tinggalkan jejak buat saya di kotak review minna-san..
Sampai jumpa minggu depan...
Jaa ne.
