Kuroko no Basket

By Fujimaki Tadatoshi

STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis

SETTING: School, Forest, Mansion, City

MAIN CHARACTER:

Akashi Seijuuro, Kuroko Tetsuya, Mayuzumi Chihiro

SUPPORTING CHARACTER:

Ogiwara Shigero, Midorima Shintaro, Kise Ryouta, Kagami Taiga, Himuro Tatsuya, Haizaki Shougo , Furihata Kouki, Dll.

READ AND REVIEW

~Happy Reading~

.

.

.

KEESOKAN PAGINYA

Akashi menggeliat kecil di atas kasur nya, tubuhnya terasa lemas dan tenggerokan nya begitu terasa kering. Ia pun memutuskan untuk bangun lalu berjalan menuju dapur untuk mendapat segelas air. Hari ini sekolah dilibur kan oleh kepala sekolah dan murid-murid tidak diberitahu alasan nya.

"Apa yang terjadi semalam?"

Hentikan ! Mayuzumi-kun!

Akashi menginggat lagi kejadian semalam.

"Mayuzumi,? dan juga.." Lirih nya.

Akashi pun juga mengingat kelopak mawar biru yang membungkus diri nya.

"Tetsuya!" Ketus Akashi.

"Tunggu, ini jadi seperti teka-teki yang belum sempurna.." Akashi berpikir kemudian ia memutuskan untuk mandi dan berniat untuk memulai investigasi nya sendiri.

Bunyi alarm menandakan waktu untuk sarapan sudah siap. Akashi memakai almamater dewan keamanan milik nya dan kemudian keluar dari ruangan nya. Ia berjalan sambil melamun menuju ruang makan. Pagi itu Akashi merasa sangat lapar, namun makanan yang telah tersedia di meja sama sekali tak membuat nya bernafsu makan bahkan sama sekali tak disentuh nya. Ia merasa ingin makan yang lain yang bisa memuaskan dahaga nya.

'Haus?'

Pikir Akashi yang menyadari perubahan pada dirinya. Ia sekarang merasa sangat haus, namun sudah berkali-kali ia minum air tetap saja rasa haus tersebut tidak hilang. Akashi kemudian berjalan kehalaman sekolah untuk menghilangkan kegelisahan nya.

"Akashi-kun." Sahut seseorang dari belakang nya.

"Oh—Tetsuya," Akashi agak terkejut karena baru kali ini ia tak menyadari kehadiran pemuda itu.

"Ada apa?" Tanya nya , namun Kuroko tak menjawab. Ia malah menyerang Akashi dengan melemparkan tangkaian bunga mawar biru yang memiliki ujung yang runcing pada Akashi. Pemuda merah itu pun menangkis dengan balok kayu yang ia temukan didekat nya.

"Tetsuya, apa maksudmu ini?" Ketus Akashi. Tanpa Akashi sadari jika pemuda itu sekarang bukan lah diri nya, Pupil mata Kuroko terlihat memancarkan cahaya ungu yang terang. Kuroko maju mendekati Akashi dan di tangan nya muncul katana yang pernah di pakai Mayuzumi untuk menyerang Akashi. "Hentikan Tetsuya!" Seru Akashi, sejujurnya ia tak berniat melawan Kuroko jadi ia hanya menangkis segala serangan.

"Kenapa kau masih hidup? Ah tapi tak perlu dijawab karena aku akan menghabisimu sekali lagi." Kata Kuroko dengan suara yang berat, tentu saja hal itu akhir nya menyadarkan Akashi jika itu bukanlah diri Kuroko.

Buaagghh!

Akashi menedang perut Kuroko, alhasil pemuda biru itu terpental beberapa meter dari Akashi.

"Aku tahu, itu bukan kau Tetsuya." Ujar Akashi.

"Aku tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi, tapi jika terpaksa aku akan menghabisi mu." Akashi kembali mengeluarkan pedang dari telapak tangan nya sebagai senjata.

"Menghabisi? Kau pikir kau siapa !" Pekik Kuroko. Ia kembali bangkit dan menyerang Akashi, namun tindakan nya tersebut gagal saat Akashi memeluk tubuh nya.

"Aku tahu aku takkan bisa menghabisi mu, itu karena aku... menyukaimu Tetsuya." Bisik Akashi ditelinga Kuroko. Gerakan Kuroko pun melemah dan kesadaran nya kembali.

"Maaf Akashi-kun—" Ringis Kuroko sebelum semua pandangan nya menjadi gelap.

"Tetsuya?!" Panggil Akashi sambil melepas pelukan nya, ia menyadari Kuroko telah pingsan.

"Tahan disana !" Titah seseorang dari balik pepohonan, ia juga menodongkan pistol dan kemudian muncul orang-orang berpakaian serba hitam masuk dari gerbang sekolah, mereka semua menodongkan senjata pada Akashi dan Kuroko.

"Ada apa ini?" Ketus Akashi.

"Serahkan pemuda itu dan kau boleh pergi." Jawab pemimpin dari orang-orang itu.

"Tunggu ! memang siapa kalian dan mau apa kalian dengan Tetsuya?" Seru Akashi, ia tetap menjaga Kuroko yang tak sadarkan diri dalam dekapan nya.

"Kami Exorcist, kami diperintahkan untuk memusnahkan iblis disekolah ini." Ujar pria itu lagi lalu memerintahkan pasukan nya untuk membawa paksa Kuroko.

"Tunggu, apa bukti nya ? kalian tak bisa menangkap nya begitu saja." Akashi tak terima jika Kuroko dibawa orang –orang tidak jelas itu. Namun usaha nya terhenti saat kepala sekolah menginterupsi,

"Serahkan Tetsuya pada mereka Seijuuro !" Suara itu memerintah nya.

"Kepala sekolah..." Keluh Akashi dengan mata tak percaya, semua teman sekelas nya juga hadir disana mendukung keputusan kepala sekolah.

"Kami sudah melihat sendiri bagaimana dia menyerangmu tadi bodoh, jadi berikan saja." Haizaki menyela.

"Haizaki, tapi bukankah kalian—" Akashi jengkel, ia berpikir sejenak dengan keputusan selanjut nya.

"Aku sudah peringatkan padamu sebelumnya kan Seijuuro." Tambah kepala sekolah. Akashi pun teringat dengan ucapan kepala sekolah sewaktu dalam mimpi nya.

"… atau 'mereka' akan datang"

Kata-kata 'mereka' dalam mimpi itu dimaksudkan untuk para Exorcist rupa nya. Akashi jadi tambah tidak mengerti maksud dari semua kejadian ini. Dengan berat ia menyerahkan Kuroko pada para Exorcist. Teman-teman nya memuji perbuatan Akashi namun ia tak menggubris satu pun pujian tersebut. Wajahnya terlihat datar.

Akashi kembali keasrama nya dan ia sempat bertemu dengan Ogiwara di jalan. Baru ia sadari bukan hanya dia yang merasakan kehilangan, Ogiwara yang merupakan teman terdekat Kuroko bahkan sudah dianggap sebagai kakak nya sendiri pasti merasa sedih juga. Akashi kembali dengan wajah muram kekamar nya di tengah terik nya matahari sore yang menembus jendela.

.

.

.

"Seijuuro, ada yang ingin kubicarakan.." Sahut kepala sekolah sebelum Akashi memasuki pintu ruangan nya.

.

.

Flashback

100 tahun lalu…

"Nee~ nii-chan, kenapa aku tidak bisa sepertimu?" Sahut si kecil Kuroko dari belakang Mayuzumi.

"Sepertiku? Memangnya aku ini seperti apa Tetsuya?" Jawab Mayuzumi, ia mencubit pipi gembul Kuroko.

"Aku serius Nii-chan" Dahi Kuroko mengkerut. Mayuzumi pun terdiam, Kuroko ikut terdiam dan merasa bersalah karena takut menyakiti hati kakaknya karena tingkahnya.

Diwaktu yang lain..

"Nii-chan.." Panggil Kuroko di tengah kantuk nya karena terbangun dari tidur di tengah malam. Ia melihat kakak nya dengan sosok yang berbeda, sayap hitam muncul dipunggung Mayuzumi dan pupil mata Mayuzumi bersinar terang. Mata itu menatap dingin ke Kuroko dan perlahan menghampirinya. Mayuzumi menundukkan kepalanya lalu tangannya mengusap-usap pipi Kuroko.

"Nii..." Si kecil itu memanggil lirih.

"Tetsuya, sepanjang hidup kakak.. tidak pernah kakak rasakan bahagia selain bersama dirimu." Bisik Mayuzumi.Saat itu juga lah terakhir kali Kuroko merasakan Mayuzumi sebagai kakak nya sendiri. Semejak itu Mayuzumi menghilang entah kemana.

Satu tahun kemudian wajah Mayuzumi muncul dalam pencarian karena pembunuhan massal yang dilakukannya pada warga sipil. Warga sipil itu adalah orang-orang yang membangun sekolah tempat Akashi berada sekarang.

.

.

"Apa dia tidak terima karena rumah nya di bangun dengan sekolah ini?" Tanya Akashi menyela cerita kepala sekolah. Kepala sekolah diam sejenak.

"Aku tidak tahu, tentu kau sudah mendengar cerita tentang Cursed Twins bukan?" Balas kepala sekolah. Akashi tertegun. Ia menginggat kembali waktu di kelas saat ia melihat Kuroko yang terkejut saat mendengar kata itu.

"Jangan-jangan..." Seru nya sambil berdiri dari bangku nya.

"Benar, Mayuzumi dan Tetsuya adalah tokoh yang diceritakan, mereka adalah ke 2 pemuda dari cerita 100 tahun lalu." Jelas kepala sekolah, Akashi tak bisa percaya semua itu.

"Tidak mungkin, Tetsuya saja masih berusia tujuh belas tahun dan juga—"

"Apa? Kau mau bilang jika Tetsuya dan Mayuzumi bukan kembaran?" Ketus kepala sekolah.

"Bagaimana anda bisa tahu secara detil cerita ini kepala sekolah?" Sarkas Akashi.

"Karena aku ayah mereka." Jawab kepala sekolah enteng.

"A-ayah.." Akashi tambah tak percaya.

"Lalu kenapa anda biarkan Tetsuya tertangkap? Apa anda merencanakan sesuatu? Dan kenapa anda tak menghentikan Mayuzumi?" Tanya Akashi dengan bertubi-tubi. Kepala sekolah terdiam.

.

.

.

Sementara itu dimarkas Exorcist..

"Bagaimana Tatsuya?" Kagami sebagai assisten menyahut.

"Dia memiliki darah iblis yang berbahaya, selevel denganmu Taiga." Jawab Himuro lalu menoleh ke Kagami.

"Apa maksudmu aku juga berbahaya hah?" Jitak kan Kagami mentok dikepala Himuro, membuat si raven jengkel. "Aku tidak sedang bercanda Taiga!"

"Tapi, setelah ku teliti lagi ada yang tidak beres dengan nya." Kata Himuro tiba-tiba.

"Ho? Tidak beres? Maksudmu seperti apa?" Tanya Kagami.

"Saat di teliti lebih lanjut, data menunjukkan bahwa ia sudah hidup sejak seratus tahun lalu." Jawab Himuro, dan lagi-lagi kepalanya kena jitak oleh Kagami.

"Ahahaha, itu tidak lucu Tatsuya, kau lihat kan dia tidak seperti kakek-kakek" Ucap Kagami sambil tertawa,sementara Tatsuya mulai kesal dengan kebodohan saudara nya itu.

"Maksud ku dia itu VAMPIRE !" Ketus Himuro hingga membuat Kagami berhenti tertawa.

"E-eh kau serius ya " Ucap Kagami dengan wajah yang sok polos, kemudian suara lenguhan terdengar dari dalam penjara iblis yang di buat oleh para Exorcist tersebut.

"Dia bangun !" Adu Kagami.

.

.

.

Kembali keruang kepala sekolah

"Sei, ada yang ingin kuberitahu lagi" Ucap kepala sekolah sebelum Akashi pergi. Pemuda itu hanya menolehkan kepala nya.

"Saat ini kau juga menjadi ancaman para Exorcist, meski kau berhasil merebut kembali Tetsuya kau pasti akan musnah jika terkena senjata mereka." Kata kepala sekolah, Akashi mendengus.

"Aku bukan iblis." Akashi melanjutkan langkahnya.

"Kau memang bukan iblis. Tapi saat ini jiwa dan ragamu adalah Vampire!" Lanjut kepala sekolah, Akashi terhenti sesaat didepan pintu tersebut. Dia diam tanpa kata, ia ingat dengan kejadian pagi tadi, dimana ia sangat merasa haus dan kini rasa haus itu pun masih mengerogoti tenggerokan nya.

"Tapi—aku tak punya keturunan Vampire" Balas Akashi mencoba tak peduli.

"Aku hanya mengingatkan, sisanya bisa kau tanyakan setelah kau berhasil membawa Tetsuya kembali." Ucap kepala sekolah. Akashi menjadi sedikit ragu lalu menolehkan lagi kepala nya ke dalam ruangan, namun kepala sekolah sudah lenyap dari ruangan itu.

"Aku.. Vampire?" Akashi menunduk lemas. Sore itu tak ada seorang pun yang keluar dari kamar nya, Akashi sengaja membuat semua orang di asrama tertidur dengan sihir nya agar tak ada yang menghalangi nya untuk menyelamatkan Kuroko.

.

.

"Seijuuro ! " Panggil kepala sekolah lagi saat Akashi ingin meninggalkan gerbang. Pemuda itu pun menoleh.

"Jika kau ingin menyelamatkan nya pergilah, ikuti benda ini dia akan menunjukkan mu arah dimana Kuroko berada." Ucap kepala sekolah sambil memberikan benda aneh sepeti kelereng. Benda itu pun jatuh dari tangan Akashi kemudian menggelinding menuju utara. Akashi pun mengikuti nya sambil berterimakasih kepada kepala sekolah. Jarak sekolah dengan markas itu cukup jauh, Akashi menjadi kelelahan namun saat ia memutuskan ingin istirahat ternyata dia sudah sampai di tempat tujuan nya. Akashi pun segera bersembunyi di balik semak-semak saat ada dua orang Exorcist sedang lewat.

"Ini... Markas Exorcist." Desis Akashi. Setelah merasa keadaan sudah bersih ia pun menyusup masuk kedalam markas.

.

.

"Dimana kau Tetsuya?!" Lirih nya, karena ruangan yang gelap dan ia terburu-buru tanpa sengaja dia menabrak seseorang.

"Kau ! Penyusup!" Seru orang itu sambil ingin berteriak.

"ADA PENYU—" Pria penjaga itu tiba-tiba roboh sebelum selesai berteriak.

.

.

"Lain kali jika kau tidak mengajak ku lagi, akan kurebut pacarmu itu Ketua. " Ujar Haizaki sambil memasang pose sok keren nya. Dibelakang nya beberapa orang menyusul,

"Haizaki, Ogiwara, Shintaro , Nijimura-san juga ikut?" Akashi mengabsen, sementara Ogiwara hanya tersenyum.

"Haizaki memaksa ku ikut..." Jawab Nijimura.

"Aku hanya di minta mengawasi kalian." Midorima ikut menjawab.

"Aku juga ingin menyelamatkan sahabatku Akashi." Ogiwara ikutan. Akashi mendesah lelah.

"Tersrah saja, asal kalian bisa pulang dengan selamat kalian boleh ikut. " Ujar Akashi.

"Yosh!" Ogiwara bersemangat lalu tak lama berselang mereka mendengar ledakan dari lantai atas.

"Tetsuya! " Sergah Akashi. Para exorcist yang mengetahui ada penyusup segera menuju kearah mereka.

"Hei bodoh, cepatlah ketempat Kuroko. Kami akan urus disini" Ujar Haizaki.

"Iya, aku mohon bawa pulang sahabatku." Pinta Ogiwara.

Akashi mengangguk kemudian ia pun langsung berlari kearah ruang atas dimana suara ledakan itu berasal. Dengan insting yang dia miliki, dia membuka sebuah pintu berwarna merah disebelah kanan nya.

"Uhuk uhuk.. kenapa ini.. Tetsuya.. Tetsuya.. Apa kau disini?" Panggil Akashi. Ia berjalan dalam kepulan asap di dalam ruangan itu. Kuroko yang mendengar suara Akashi langsung terkejut dan khawatir.

"Akashi-kun jangan kemari. Asap ini adalah ra—"Kuroko tak sempat menyelesaikan perkataan nya karena lemas. Ia masih memiliki kesadaran, tangan nya mencoba meraih sesuatu. Mendengar suara Kuroko, Akashi langsung menutup hidung nya. Ia menemukan Kuroko yang tergeletak di lantai dan kemudian ia berlari menuju nya lalu membawa nya keluar ruangan. Setelah keluar tubuh Akashi ambruk dan pandangan nya semakin kabur karena asap tersebut sempat ia hirup.

"Apa—yang—kau lakukan? " Tanya Akashi terbata-bata, Kuroko tidak menjawab, ia berusaha merangkak menuju pintu ruangan tersebut.

"Ja-jangan menyebar." Desah Kuroko kemudian menutup pintu tersebut, kepulan asap beracun itu kini terkunci didalam, Kuroko segera mengambil nafas segar sebanyak nya dan kemudian ia kembali merangkak mendekati Akashi.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya nya pada Akashi yang sedang pusing sambil memegangi kepala nya.

"Hmm.. seharusnya..uhuk.. Akulah yang bertanya padamu.. Apa yang kau lakukan sebenar nya?" Ucapnya sambil memegangi kepala nya.

"Aku menyelinap ke laboratorium markas ini untuk membuat ramuan agar aku tak dirasuki lagi oleh Mayuzumi-kun, tapi ternyata aku gagal." Jawab Kuroko dengan wajah datar nya, Kemudian ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna putih lalu memasukkan nya kemulut Akashi.

"Teguklah" Titah Kuroko.

"Aku tahu ini pasti bukan racun, tapi apa ini?" Tanya Akashi sambil menelan cairan itu.

"Itu penawar." Jawab Kuroko lalu ia pun meneguk cairan yang sama. Tiba-tiba sebuah peluru panas melesat dari balik telinga kanan Akashi. Mereka berdua tertegun.

Deg!

Telinga Akashi terserempet peluru hingga darah nya mengalir dari goresan tersebut.

"A-apa itu?" Lirih Akashi, seorang lelaki sebaya nya berdiri didepan nya sambil menodongkan pistol kearah Akashi.

"Apa yang kau lakukan? Ingin menolong iblis?" Ucap Lelaki itu, ia memperhatikan almamater yang di kenakan Akashi.

'Dia murid makai ' Batin lelaki itu.

"Apa maksudmu?!" Balas Akashi,tangannya menahan agar darah yang mengalir tidak keluar banyak.

"Namaku Himuro, seorang Paladin, pemimpin para Exorcist dimarkas ini." Jawab lelaki itu.

"Aku tak peduli siapa kau.. tapi kalau kau mencoba menyakiti calon istri ku, aku tidak akan tinggal diam." Akashi menyeringai lalu mengeluarkan pedang nya.

"Akashi-kun, hentikan ! Himuro-kun dia tidak ada hubungan nya dengan ini, Lagipula tak ada untungnya kau membunuhku!" Kuroko membela. Himuro menatap tajam ke Kuroko kemudian senjata nya berubah arah ke Kuroko. "Bagaimana kau bisa keluar dari penjara itu?" Tanya nya.

"Aku bukan iblis Himuro-kun, penjara itu hanya penjara biasa bagiku." Balas Kuroko. Himuro terkejut.

Melihat keadaan yang jadi tidak jelas, Akashi memilih untuk tak mencari keributan.

"Sebaiknya kita pergi dari sini, kau pasti lelah." Ujar Akashi sambil mengendong Kuroko ala bridal.

"Tunggu, Kau mau kemana?" Seru Himuro, ia menembakkan beberapa peluru nya kearah Akashi yang sedang membawa Kuroko pergi. Walau sebenar nya Himuro hanya bermaksud untuk memberi peringatan.

"Akashi-kun, turunkan aku. Aku tidak ingin kau terlibat dan membahayakan dirimu seperti ini" Sergah Kuroko yang berada digendongan Akashi yang terus menghindar dari tembakan Himuro.

"Memang kenapa? Sudah kewajibanku untuk melindungimu Tetsuya.. dia mengincarmu, jadi aku harus membawa mu ke tempat yang aman" Akashi tersenyum,sebuah kejadian langkah memang dan itu membuat wajah Kuroko merona.

"Tapi Akashi-kun—" Kuroko terkejut saat Akashi berhenti mendadak. Ada pria lain yang kini menghadang mereka.

"Tatsuya aku disini!" Seru pria itu, tubuh nya menghalangi gerakan Akashi untuk pergi.

"Taiga!" Himuro terkejut kedatangan saudara nya tersebut.

"Apa kau kesini untuk mengincar Kuroko Juga." Sindir Akashi dengan tatapan tajam pada Kagami.

Orang ini...

Kuroko memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala Kagami. Akashi menyadari itu.

"Apa kau mengenalnya Tetsuya?" Tanya Akashi, saat itu juga Kagami menebaskan pedang nya ke Akashi.

"Hei jangan buru-buru." Ujar nya menyela serangan Kagami.

"Mereka berdua adalah kedua anak Satan" Jelas Kuroko. Akashi mengingat sebutan itu.

"Hmm.. jadi rumor itu benar ya.. yah.. tidak ada cara lain.. Kupikir akan dapat keluar darisini dengan mudah." Akashi menurunkan Kuroko dari gendongan nya, pedang yang tadi disembunyikan kembali muncul. Mata nya yang semula berwarna merah berubah menjadi dwi warna dengan pupil ke-emasan. Itu cukup mengejut kan Kuroko.

Bu-bukankah itu? Vampire Hunter! Batin nya.

Kagami tersenyum senang melihat lawan nya mulai serius.

"Heeeh.. Aku akan menghabismu!" Ujar Kagami dengan semangat, api merah menyelimuti tubuh nya. Tak menunggu lama kedua pengguna pedang itu saling menyambit di udara. Membuat Kuroko sadar ke alam nyata lagi.

"Hentikan ! Yang kalian cari bukanlah aku, kalian tidak akan dapat apa-apa jika saling membunuh disini" Pekik Kuroko. Akashi dan Kagami tak mau mendengarkan, pedang mereka kembali beradu dan perlahan api merah yang ada tubuh Kagami menjalar ke pedang Akashi. Dengan cepat Kuroko menarik tubuh Akashi dari belakang hingga menjauh dari Kagami, sementara Himuro menghalangi gerakan Kagami.

"Sudah kubilang bukan Himuro-kun, jadi biarkan aku yang menangkap Mayuzumi-kun!" Sahut Kuroko, Himuro terdiam sambil menenangkan saudara nya.

"Apa kau.. Kuroko Tetsuya?" Tanya Himuro. Kagami sudah kembali tenang. Kuroko mengangguk pelan, Akashi juga sudah mulai tenang dan menyimpan kembali pedang nya. "Fufufu.. padahal baru mulai, tapi tak apa.. tujuanku kesini bukan untuk bertarung.. Ayo kita pergi Tetsuya." Akashi tak ingin menghiraukan lagi kedua Exorcist tersebut. Ia kembali mengendong Kuroko.

"Baiklah, akan kuserahkan padamu. Tapi aku tak bisa membantu mu jika itu diluar keterjangkauan ku" Sahut Himuro kemudian.

Akashi pun menghilang masuk kedalam hutan membawa calon istri nya tersebut.

"Tatsuya apa yang kau lakukan, dia itu iblis kenapa kau lepaskan!" Seru Kagami tidak terima.

"Sudahlah Taiga, Akan kujelaskan semuanya nanti." Balas Himuro sambil mengiring Kagami pergi dari sana.

.

.

"Akashi-kun, aku tahu dirimu itu kuat tapi jangan membahayakan diri mu lagi sebelum kau tahu bagaimana kekuatan musuh." Kuroko menasehati walau sebenar nya dia khawatir.

"Aku memang tidak tahu seberapa kuat nya dia, tapi aku juga tidak bisa hanya berdiam diri sementara kau dalam bahaya Tetsuya, bagaimanapun aku akan menggunakan kekuatan ku untuk melindungi mu." Jawab Akashi. Kuroko merasa pipi nya memanas.

"Oh ya Akashi-kun, apa kau ingin tahu sesuatu?" Tanya Kuroko dalam gendongan Akashi.

"Apa itu?!" Tanya Akashi.

"Saat itu, aku mendengar suaramu. Saat kau bilang kau menyukaiku, saat itu juga aku bisa sadar dari pengaruh Mayuzumi-kun" Jawab Kuroko.

"Aku sudah tahu itu Tetsuya." Akashi menyeringai. Kuroko kemudian menatap kembali wajah itu, pupil mata Akashi kembali semula. Ia merasa lega.

.

.

.

Kedua sejoli itu terlalu larut dalam lovey-dovey nya hingga melupakan hal yang tertinggal disana..

"Hee… Dia melupakan kita." Haizaki berkecak pinggang dengan wajah jengkel dari atap gedung Exorcist.

.

.

.

TBC

Saa.. Bagaimana dengan ini? Chapter 2.

Terlalu panjang yah?

Oke thanks buat yang udah baca, review, fav, and follown ya :D