=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Hate Haze Writerblock

Story © Necro Antharez / Nekuro Yamikawa

Vocaloid © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies

Genre : Fantasy / (Undetermined yet)

Rate : T

.

.

.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Apakah aku mengalami demam musim panas yang akhir-akhir ini sering diberitakan? Apakah halusinasi berkepanjangan adalah salah satu indikasi bahwa aku terjangkit demam tersebut? Tubuhku memang terasa seperti barbeque di udara terbuka ini, namun aku yakin aku masih sehat dan segar bugar. Yah, kesampingkan kenyataan jika tubuh ini sedikit kaku karena jarangnya bergerak di luar ruangan. Meski begitu aku yakin secara garis besar aku tidak apa-apa.

Namun fenomena macam apa ini?

Pertama-tama adalah aku menemukan seorang cosplayer berdandan ala seorang diva dunia maya bermilyar fans tergeletak di tengah aspal jalanan. Gadis bernuansa turquoise tersebut mengenakan atribut yang begitu detail bahkan wajah dan suaranya pun membuatku merasa mustahil untuk percaya.

Seperti yang beberapa saat lalu ku katakan, dia seperti Hatsune Miku asli yang keluar dari PV live konser. Aku dan dia sempat bersitegang akibat kesalah-pahaman yang membuatku harus mendapat predikat mesum darinya. Ayolah, dari sudut mana wajah ini tampak mesum? Sungguh, memperoleh sebutan seperti itu apalagi dari seorang gadis manis sepertinya membuat duniaku sempat mengalami goncangan gempa hebat meski hanya sekejab.

Lalu tak lama berselang, makhluk yang hanya hidup dalam khayalanku menampakkan diri di hadapan kami berdua. Mengatakan hal-hal tidak masuk akal sambil tertawa, tentang "Miku di depanku adalah asli" dan "permintaan yang pernah ku buat".

Saat itulah ku sadari bahwa gadis yang sejak tadi bersamaku rupanya menyadari keberadaan lelaki berambut pirang tersebut, yang mana sangat mustahil karena dia hanya proyeksi dari sosok tak nyata di dalam kepalaku.

"ZORA MIKU EKISENTORIKKU FYUUCHAA NAITO!"

Dan sekarang, ku lirik gadis berambut teal yang tengah duduk di samping kananku dengan sebelah alis berkedut. Kepalanya berayun kesana kemari sambil memasang tampang gembira dan tampak bersemangat. Headset yang dia kenakan saat ini terhubung dengan salah satu port USB di notebook ku. Dari barisan toolbar di bawah layar, muncul sebuah notif kecil yang hanya ditampilkan kurang lebih lima detik. Tepatnya dari software winamp yang ku putar.

Tulisannya adalah 'ZOLA MIKU ECCENTRIC FUTURE NIGHT', sebuah lagu dari seorang Komposer yang terkenal akan lagu-lagu bertema 'Night Series', samfree. Karya terbaru yang dia rilis pada 4 juli 2013 lalu. Musiknya sangat nikmat untuk ku dengar, membuat imajinasiku tentang opening sebuah anime mengapung-ngapung di dalam kepala.

Terlebih kombinasi memukau antara KYO, YUU, WIL dan Miku. Jujur saja, jika aku diminta untuk memilih siapa saja karakter laki-laki favorit, aku akan secara lantang menjawab dengan nama mereka bertiga. Mereka seperti potongan puzzle yang perlu ada di antara koleksi voice bank Vocaloid. Suara mereka bertiga adalah suara yang memang seorang penyanyi laki-laki harus memilikinya. Entah apa sebutan yang pantas, yang pasti mereka jauh lebih baik dari Vanan'ice yang terkesan grup homo akibat lagu "Imitation Black", khususnya si Shota Kagamine. Jika dia manusia, aku akan sangat prihatin dengan nasib bocah itu di mata para fans-nya.

Kesampingan ocehanku di atas. Tetap saja, aku tidak akan mendengarkan musik apapun selama mengetik. Hal itu hanya akan mengacaukan konsentrasi dan ketenangan yang ku butuhkan. Alasan itu juga lah yang menuntunku untuk mendatangi taman ini di siang terik. Anak kecil juga tidak akan bermain di jam-jam seperti ini. Sehingga aku bisa menikmati semilir angin yang berhembus mengikuti hukum 'udara panas dan dingin' ─menurut pelajaran sains.

Namun, aku ulangi lagi, apa ini?

"kako mirai tataeru you ni

nanatsu iro kagayaku umi ni

sai wa nagerareta"

Tanpa mempedulikanku yang menatapnya tajam, dia terus bernyanyi dan bergumam mengikuti irama lagu di telinganya. Tangan kanan menggenggam sebuah kaleng soda, tangan kiri menjaga keseimbangan headset supaya tidak jatuh dari kepala.

Di sebelah kiriku, lelaki tadi ikut meramaikan suasana dengan suara seruputan bibirnya yang menjijikkan. Dua-duanya memejam mata menikmati kegemaran masing-masing. Sedangkan aku? Harus mengalami proses kenaikan suhu badan menuju titik lebur.

"TIDAK BISAKAH KALIAN DIAM?!" Ha, meletus juga diriku pada akhirnya. Miku sedikit menjerit kaget dan tuan rakus menyemburkan isi mulutnya. Suara ku barusan pasti lebih lantang dari toa pengeras adzan di masjid sebelah, sampai-sampai bisa menusuk telinga yang bebal akibat tersumpal headset.

"ADA APA BERTERIAK-TERIAK?! BUKANKAH KAU SETUJU UNTUK MEMINJAMKAN DAFTAR LAGU DI DALAM NOTEBOOK USANGMU ITU!" jaga bicaramu! tak peduli kau diva atau apa, orang yang sudah kerasukan emosi seperti ini tidak akan pandang status dan kasta. Aku memang berbaik hati dengan mempersilahkanmu mendengarkan secuil koleksi lagu-lagu yang kau nyanyikan di dalam memory benda ini, itu juga karena….

"Hei mata satu, kau sedang membawa notebook bukan?"

"Panggil saja aku Kurone, sebutanmu itu membuatku merasa seperti sesembahan penganut berhala saja. Mengerikan. Kau tahu!"

"Terserah, pokoknya sebagai ganti rugi karena mencari kesempatan di saat aku tidak sadarkan diri, kau harus memperbolehkanku mendengarkan koleksi lagu-lagu di benda yang kau bawa."

"H~a~a~a~h, merepotkan saja. Oke-oke!"

Tetapi sepertinya itu adalah kesalahan fatal. Jadi sekarang, apa aku juga perlu menambal bibir ketusmu itu dengan sebatang tunas daun bawang? Bukankah kau sangat menyukainya?

Coba pahamilah posisiku sekarang. Sudah hampir melebihi sepuluh jari jumlah cerita fanfiksi yang membusuk di akunku saat ini. Meski jumlah review dan favorite serasa tidak sebanding dengan usahaku, tetapi mendapati cerita yang menggantung di angan-angan saja, bukan hanya orang yang telah membaca saja merasa kecewa, aku pun merasa terbebani secara tak langsung.

Cerita berseri seharusnya memiliki akhir jelas, bukan lenyap tak berbekas di tengah jalan. Seorang teman pernah berkata 'bukankah semua itu sangat disayangkan?'. Tepat sekali.

Karena di mana ada awal harus ada akhir.

Lalu mau bagaimana lagi, isi kepala ini terlalu mudah mendidih ketika digunakan untuk mencari bahan tulisan. Ujung-ujungnya semua menguap. Kosong melompong terpantul jelas di wajah yang bengong. Dan di saat aku tengah berjuang mati-matian seperti ini, kalian berdua malah berkonspirasi.

"Sebenarnya kau itu ingin menulis apa sih?!" bukan urusanmu. Tak perlu bertanya seperti itu jika rambu merah masih menyala di kepalamu. Melihat tipe gadis sepertimu, pasti hanya kritikan pedas yang keluar nantinya. Cerita ini saja belum usai, aku tak mau bibit-bibit imajinasiku ini mati setelah susah payah ku semaikan hanya karena kritik-kritik tak karuan.

Ku tatap gadis itu lebih tajam dari sebelumnya. Kami sempat beradu cahaya kilat dari sorotan mata masing-masing, seperti dalam adegan pertempuran ultraman melawan monster raksasa di setiap episode tayang.

Pada awalnya kami berdua unggul, tapi tak butuh waktu lama bagiku untuk mengambil alih jalannya pertempuran ini. Setelah beberapa jeda, bayangan di mana ultra-Miku kehilangan tenaga karena terlalu lama di medan laga tergambar di kepalaku. Lampu indikasi berbentuk huruf "Y" di dadanya berkelap-kelip, berubah warna dari hijau menjadi merah.

Lalu, cukup dengan sekali sentakan dan dia pun akhirnya jatuh juga.

"BLEGAR!" ya, sesekali seorang ultraman perlu merasakan kekalahan juga bukan? jika tidak begitu, jalan cerita akan monoton dan membosankan.

"Hu-Hu…"

Eh?

"HUEEEE!"

WTH?!

"HUEEE! HUEEE!"

Sial. Mengapa malah jadi begini? Tiba-tiba saja pandangan tajam itu melembek ─yang mana ku kira itu adalah tanda di mana kemenangan sudah dalam genggamanku─ namun begitu cairan bening mulai melumasi kelopak matanya…

Sepertinya akulah yang tumbang kali ini.

"Mekarabin!" entah mengapa aku seperti mendengar suara demikian. Bukankah itu adalah jurus dari Dejiko dari planet Digi-charat?* ─saat dia menggunakan sepasang matanya untuk menembakkan cahaya penghancur yang mampu membuat jejak seperti kawah sepanjang jarak jangkaun pertikel pijarnya ketika dilesatkan sejajar dengan tanah.

"HUEEE! HUEEE! HUEEE!"

"Wah wah wah, kau raja tega juga ya," komentar dari makhluk lain yang tadinya hendak ku hajar, namun terselamatkan oleh gencatan senjata antara aku dan Miku.

"Argh!" ku acak rambutku yang sudah tak jauh beda dengan semak belukar akibat berkali-kali ku garuk meski tidak gatal. "Baik-baik, aku minta maaf atas sikapku barusan! Sekarang bisakah kau diam?!"

"…" He? Langsung diam?

"Tetapi," Oh tidak, aku mulai tak menyukai ini. Kau tahu alasannya? Itu karena tiba-tiba sebuah senyuman licik melengkung menghiasi wajah imutnya yang sedikit bulat.

Mata itu… tatapan seperti seekor hamster hendak menerkam biji matahari* itu…

mengapa wanita selalu menggunakan kelemahan mereka menjadi sebuah senjata di saat yang sangat krusial?!

"Traktir aku dulu!" sambil menodongkan jari dia mulai menuntut ganti rugi untuk kedua kali. "Haagen Danz rasa daun bawang!" Sudah ku duga pasti akan begini.

Yang benar saja?! Apakah perasaan wanita itu sebegitu mahalnya? Sekali rengek mintanya tidak tanggung-tanggung. Bukan hanya merek terkenal, namun cita rasa yang dipilih tidak kalah mencengangkan. DAUN BAWANG! Dengar itu, DAUN BAWANG! Orang bodoh mana membuat es krim dengan rasa demikian? Mengapa dia tidak beli sendiri saja? Bukankah dia sang diva, tentu berdompet setebal tembok beton, bukan? Permintaanmu itu tak jauh berbeda seperti menyuruhku memintal buih lautan menjadi permadani. Mustahil level maksimum!

"Kalau tidak mau, aku nangis lagi loh… hiks… hiks…" ancaman macam apa itu?!

"Hu-Hu…" oke! Hentikan, aku menyerah. Curang kau Miku, mengapa kau harus diciptakan dengan wujud yang begitu moe? Siapapun penciptanya pasti telah mendesain dia sedemikian rupa agar bisa menangkis kemarahan siapa saja dengan memiliki daya tarik maksimal seperti itu. Hanya manusia tanpa hati yang mungkin tega menyakitinya.

Eh, bukannya itu aku? Enak saja, aku punya alibi dan dasar yang kuat kenapa aku melakukannya. Dia gadis manja, seseorang perlu bersikap tegas untuk mengembalikannya ke jalan yang lurus dan benar.

"Kau berpikir seperti orang plin-plan,"

Huh?

"kau tadi berkata orang yang menyakitinya adalah mesin tanpa hati, tetapi sedetik kemudian kau berkata seseorang harus memberinya pelajaran."

KAU! Ku tatap Beelzebub seperti hendak melubangi kepalanya dengan sorot mataku. Meski bagaimanapun dia masih bagian dari buah pikiranku, kepribadian lain yang juga selalu ku gunakan untuk mengungkapkan setiap kalimat yang tak ingin ku ucapkan lewat mulutku sendiri. Seperti sindiran, hinaan dan sejenisnya. Yang kemudian aku akan bertengkar dengannya seolah dia orang lain yang harus disalahkan [Tahukah alasannya? Itu adalah ungkapan maafku secara tak langsung setelah berbuat demikian]. Artinya, dia memiliki akses masuk ke dalam isi kepalaku. Begitulah cara dia membeberkan apa yang ku pikirkan di sini.

Ku perhatikan sekali lagi Miku yang sudah pasti bisa menguping apa yang dikatakannya. Sekarang wajah bulat itu semakin parah sembabnya. Sial! Sepertinya aku harus bersiap menerima tambahan ganti rugi.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Apanya ide menakjubkan? Niatku untuk melanjutkan beberapa chapter dari sekian fanfiksi berujung menjadi acara mengasuh bayi. Di sebuah taman hiburan, kini aku harus menuruti setiap keinginan gadis manis yang langsung terlahir dalam usia 16 tahun dan tak kan pernah tumbuh dewasa atau pun menua meski empat digit angka di kalender terus berubah.

Mengabsen satu-persatu wahana yang ada, tubuhku ini diseretnya kesana kemari seperti boneka. Sekarang aku mulai berpikir dia mulai seperti Mayu sedangkan aku menggantikan posisi kelinci berkulit wol di tangannya.

Yah, setidaknya dia tidak membawa sebuah kapak atau berniat membedah dan menjahitku kembali.

"Sekarang kita coba yang itu!" titah sang ichiban o hime sama. Asal kau tahu, dia terus menerus berlarian di area yang luas dan penuh sesak ini. Aku tak habis pikir dari mana dia memperoleh tenaga dan stamina luar biasa tersebut? Aku sendiri sudah merasa letih, tetapi dia masih tidak menunjukkan tanda-tanda low-energy. Ini benar-benar absurd untuk seseorang yang tiga puluh menit lalu hampir matang di tengah jalan.

Pandangan malasku secara perlahan bergulir pada arah di mana telunjuk lentik itu menuding. Tak jauh dari tempat kami bertiga berada adalah sebuah wahana kincir raksasa yang cukup familiar. Syukurlah, akhirnya aku tak perlu lagi khawatir jantungku akan lepas seperti saat menaiki jet-coaster atau halilintar ─Aku tak mengerti jalan pikiran orang-orang yang mau mengeluarkan uang hanya untuk diombang-ambing di udara saat mengendarai wahana-wahana yang berpotensi mencabut nyawa tersebut.

Jika kau benar-benar Miku Hatsune, maka semua itu memanglah hal sepele. Kau bukan manusia seutuhnya. Tetapi pikirkan aku.

Secara estafet menikmati mesin pendongkrak adrenalin, jangan menjerit histeris jika sampai hal yang kan terakhir kau lihat duduk di sampingmu adalah mayat yang sudah kaku.

Ah! Mengapa semua bisa menjadi seperti ini dan terlebih lagi, MENGAPA AKU MENURUTI SEMUA KEMAUANNYA?!

"Sederhana, itu karena dia cantik, manis, imut dan bersuara merdu." Kalimat tersebut dibisikkan tepat di telinga kananku. Pandanganku pun segera beralih sekilas pada seorang pengunjung yang sempat ku lewati saat Miku memaksa kedua kakiku untuk menyamakan jengkal langkah kakinya. Dia melirik padaku yang bersusah payah untuk menolehkan kepala, tersenyum malas sambil melambai-lambaikan sebuntal permen kapas di tangannya.

Tunggu saja nanti, Beelz. Awas kau yang beraninya tertawa di atas penderitaanku!

Sungguh, aku benar-benar benci dengan lalat itu jika dalam wujud manusia. Menurutku, Beelzebub dalam bentuk boneka lalat hijau itu lebih menyenangkan, karena aku bisa dengan leluasa menghajarnya kapan saja setiap kali dia berceloteh.

"Hei! Tidak bisakah kau berjalan lebih cepat sedikit?!" masih mencengkeram erat pergelangan tanganku, gadis ini kembali menggerutu sebal. Tubuhku sedikit terjungkal saat ku alihkan perhatianku kembali padanya yang sekarang sedikit menoleh kebelakang ─salahkan sebuah kaleng bekas yang tak sengaja ku injak barusan.

Sementara aku masih berusaha mengatur keseimbangan tubuh yang goyah, dia kembali melanjutkan kata-katanya "Aku tak mau lagi menunggu di barisan antrian hanya kare-" dan kalimatnya terhenti.

Huh? Ada apa dengannya?

Seperti ada sebuah kekuatan yang menekan tombol off gadis hiperaktif dan cerewet ini, saat itu juga dia tak bergerak lagi. Sedikit penasaran ada apa, aku melangkah di sampingnya dan mengamati wajah kemudian bergantian ke objek apa yang sedang dia lihat. Di sanalah, dua sosok, tepatnya sepasang pemuda dan pemudi, tampak sedang berdiri di sebuah stand.

Si pria mengenakan wig berwarna azure cerah. Jeans tipis, yang mana bisa ku kenali dari sepertiga betis hingga mata kaki akibat sisanya terhalang jaket jubah berwarna putih. Serta syal biru yang membuatku berpikir "orang gila mana lagi muncul di depan mataku dan ber-cosplay ala Kaito Shion di tengah udara yang bisa membuat keringatmu mengering?".

Sedangkan si wanita. Dia mengenakan semacam rompi abu-abu gelap dengan ornament serupa tabung-tabung tiup alat musik brass di atas dada yang sepertinya berfungsi sebagai pengait. Perutnya tertutup oleh terusan kaos hitam lengan pendek yang dia kenakan di balik rompi. Namun bagian pangkal paha dari kaki jenjang berbalut High boots kuning dan stocking hitam bisa sedikit kau lihat dari rok selutut yang terbelah menjadi dua dan hanya diikat oleh sepasang sabuk bercorak belang coklat-kuning dengan pola segitiga.

Jika aku boleh menjelaskan lebih detail lagi, dia memiliki tinggi semampai dan berbadan proporsional. Mengenakan headset yang berfungsi sebagai bando untuk rambutnya yang di cat sewarna gulali. Penutup lengan seperti yang dikenakan Miku. Dan ketika dia berbicara pada pria yang berpakaian mirip Kaito Shion tersebut, aku bisa melihat permata berwarna biru seukuran kenari menjadi hiasan kerah rompinya.

Baiklah, cukup, aku mulai kesulitan untuk mencerna segala hal yang terjadi di sekitarku hari ini. Aku tidak bodoh kau tahu, hanya saja tingkat kecerdasanku tak sanggup meraih keganjilan yang datang silih berganti. Ijinkan aku mengurutkan penampakan apa saja yang bermunculan sebagai antisipasi agar otakku tak mengalami malfungsi.

Pertama-tama, perkenalkan karakter khayal dari negeri penuh konflik antar manusia, monster dan dewa. Termasuk lawan tangguh incaran seantero player dikarenakan item drop-nya yang tergolong mewah. Sekaligus pet, asisten atau entahlah. Yang jelas dia adalah teman setia di dunia maya meski hubungan kami tak mencerminkan demikian. Beelzebub.

Lalu gadis manis di sampingku yang pasti bisa membuat setiap lelaki iri jika mereka tahu bahwa dia bukanlah sekedar proyeksi tiga dimensi. Diva dunia maya yang manja dan cerewetnya bisa dengan mudah membuatku secara absurd menurut tak berdaya, meski sebagian diriku masih belum bisa mengakui fakta tersebut darinya serta seluruh omong kosong ini. [Jujur, pasti ada yang salah dengan otakku.]

Dan yang terbaru. Dua karakter tambahan yang mewarnai hari di mana hukum pasti tak lagi berlaku dalam kesadaranku. Kaito Shion serta Luka Megurine, bersama-sama berjalan beriringan di dalam jangkauan radius sepuluh meter pantuan pengelihatanku.

Baiklah, apalagi yang bisa lebih kacau dari semua ini? Silahkan bagi siapapun yang ingin menambahkan. Terserah!

"Tidak jadi,"

Eh?

Setelah sekian jeda observasi gila, gadis bernuansa hijau aqua ini akhirnya kembali berbicara. Anehnya, sejak perjumpaan awal kami berdua, baru sekali ini dia berkata lirih. Ku toleh lagi dia, tapi dia terlebih dulu menjejakkan kakinya bahkan sebelum kepalaku berputar dari porosnya. Tentu saja, sekali lagi aku harus terhuyung-huyung akibat hampir terjungkal oleh kelakuannya.

Kau ingat? tangannya masih mengunci pergelanganku!

"Hoi-hoi, pelan sedikit bisa, kan?!" protesku tak terima.

"Berisik!" potongnya acuh, mempercepat langkah.

Hei seharusnya aku yang marah di sini. Badanku serasa remuk kau tahu.

"Kau itu kenapa?! Cemburu?!"

"Urusai!"

Dan inilah pelajaran pertama yang ku dapat jika kau harus menemani seorang tsundere ─atau mungkin himedere?untuk menyenangkan hatinya. Jangan pernah berkomentar apapun saat emosinya sedang tidak stabil, khususnya ketika lenganmu berada dalam cengkeramannya. Kenapa? Sederhana, dia akan dengan mudah memindahkan letak-letak tulangmu.

"Klak!" seperti ini. Dan tak perlu ku jelaskan hal lain tentang jeritanku yang bisa membuat balon-balon beterbangan akibat para pemiliknya terkejut.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

THANKS FOR READ

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

A/N : Author menyampaikan kembali rasa terima kasihnya atas kesediaan para pembaca yang meluangkan waktu dan kuota untuk menyelesaikan membaca fic ini. Dan karena lebaran baru lewat beberapa hari, maka Author juga menyampaikan segenap maaf kepada pembaca sekalian untuk semua kesalahan baik yang telah atau belum, juga yang saya sengaja atau tidak.

Hint :

*Digicharat : anime anak-anak yang lucu. Dulu pernah ditayangkan oleh channel spacetoon surabaya.

*tatapan seperti seekor hamster hendak menerkam biji matahari : Bagi yang pernah menonton iklan tahun 90an dari sebuah produk kacang kulit dengan logo burung kebangsaan negara kita sebagai maskotnya pasti tahu. Ini adalah plesetan. XD. #plak.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Kaito : "Kita..." [pucat]

Len : "Grub..." [pusing]

Gakupo : "HOMO...?!" [protes]

[adegan saling pandang satu sama lain]

Gakupo : "KAU SALAH! KAMI GRUB LESBIAN!" [dihajar semua korban genderbend dan body swap dari sebuah fanfic vocaloid milik author yang sampai sekarang ngaret. XD.]