Misfortune Girl
Disclaimer: Kishimoto Masashi
Story idea: Fynlicht
Genre: Romance and Crime(maybe?)
Warning!
OOC, AU, Typos, dan masih banyak lagi kesalahannya. Baik di sengaja maupun tidak.
Main pair: Uchiha Sasuke & Haruno Sakura
Main Chara: Haruno Sakura dibantu kawan-kawan
.
Kapitel 1
.
.
.
Seorang gadis berlari tergesa-gesa menembus keramaian kota. Tujuannya stasiun. Bibirnya terus merapal satu kata.
"Gawat!Gawat! Gawat!" serunya sepanjang jalan, sesekali emeraldnya melirik jam tangannya.
Bukan tanpa alasan dia berlari ditengah keramaian sepert iitu. Masalahnya kalau tidak seperti itu dia akan benar-benar terlambat ke sekolah. Salahnya juga sih kenapa tidak bangun pagi. Mau menyalahkan jam weker? Seingatnya jam wekernya sudah berdering pagi sekali. Siapa coba yang melempar weker hingga hancur berkeping-keping? Apa dia tidak tahu cara mematikan Weker yang baik dan benar? Hah… pada intinya kesalahan ada pada dirinya. Ingatkan Sakura untuk berterima kasih pada Anjing milik tetangga yang terus menyalak pada Kucing di atas atap. Sehingga kebisingan itu membangunkan Sakura dari tidur nyenyaknya.
Begitu bangun, dia terkejut melihat jam wekernya yang telah hancur. Untuk mengetahui waktu dia mencari-cari ponselnya. 07.35 yang tertera pada display ponselnya. Matanya membelalak. Tanpa pikir panjang, dia berlari ke kamar mandi. Karena tidak memperhatikan langkahnya, dia menginjak serpihan jam wekernya. Alhasil, jeritan indah menggema di apartmen minimalis itu.
Akhirnya, setelah Sakura melalui berbagai macam halangan dan rintangan, dia sampai di sekolahnya dengan selamat. Meskipun sudah terlambat setengah jam, dia tetap nekat masuk sekolah tanpa memikirkan resikonya. Harapannya hanya satu, sampai di kelas dengan selamat
Namun, nasib berkata lain. Anko-sensei bukanlah guru yang bisa diajak kompromi. Masalahnya akan panjang jika berurusan dengan beliau. Dan hal itulah yang menimpa Sakura kini.
"Detensi sepulang sekolah dan dilarang mengikuti pelajaranku selama seminggu!" semburnya pada Sakura.
Setiap hari, adalah hari yang buruk bagi Sakura, karena kesialan selalu menimpanya. Namun tidak ada yang lebih buruk dari berurusan denganAnko-sensei. Sepertinya Dewi Fortuna belum berpihak padanya.
*~ Fynlicht~*
"Kenapa bisa sampai terlambat? Seperti bukan dirimu saja."
"Semalam aku lembur," jawab Sakura sambil menyeruput susu kotaknya.
Saat jam istirahat seperti ini Sakura lebih senang menghabiskan waktunya di atap sekolah bersama sobat blondinya, Yamanaka Ino.
"Hah, kau pasti sedang sial berurusan dengan Anko-sensei!" ucap Ino sebelum melahap telur gulungnya.
"Bukankah setiap hari aku selalu sial? Bukan sesuatu yang anehkan?" sahut Sakura malas.
"Bukan sial, tapi kurang beruntung!" Ino meralat kata sial yang Sakura ucapkan, berusaha menghilangkan raut sedih diwajah sobatnya itu. Pembicaraan mengenai 'kesialan' memang selalu membuat Sakura murung.
"Itu sama saja!"
"Bersabarlah! Mungkin Kami-sama sedang mengujimu dan akan memberikan reward kalau kau berhasil melewati ujian-nya!"
"Ya, mungkin saja… haha…" tawa garing meluncur dari bibir sang gadis musim semi itu.
Setelah itu, topic pembicaraan pun berganti. Setidaknya, kali ini wajah Sakura kembali cerah. Melupakan sejenak kesialannya dengan candaan kecil bersama Sahabatnya, Yamanaka Ino.
*~ Fynlicht~*
TENG TENGTENG
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Pertanda buruk bagi Sakura. Membuatnya tetap di tempat duduk sambil membenturkan kepalanya keatas meja. Sementara temannya berhamburan keluar kelas dengan wajah gembira karena akan kembali kerumah. Sakura menunggu panggilan sang guru killer dengan pasrah. Tidak ada yang bisa membantunya tidak terkecuali sobatnya.
"Maaf, Sakura! Aku tidak bisa membantumu. Semoga kau beruntung, jaa~," begitalah yang Ino ucapkan sebelum diapulang. Membiarkan Sakura terpuruk sendirian. Hanya helaan nafas yang ia lontarkan, berharap ketenangan datang, hah…
.
.
.
TAP TAP TAP
Sakura melangkah menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi. Tujuannya ke ruanng guru.
Menghela nafas
Menghela nafas
Menghela-
GUBBRAAKK
"Ittai, ittai…." Bagaimana bisa dia terjatuh dengan begitu mudahnya? Percaya tidak kalau dia tersandung kakinya sendiri? Tapi, itulah yang terjadi. Kau ceroboh, Sakura!
Ia berdiri, menepuk pelan roknya yang agak kotor dan memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit merosot.
Setelah itu, ia berlari menuju ruang guru. Ck, seharusnya dia tidak usah berlari seperti itu. Berjalan saja jatuh, apalagi kalau berlari. Sesukanya sajalah…!
.
.
.
Mata emeraldnya membelalak kala mengetahui hukuman yang diberikan sensei killer-nya itu. Selain di larang mengikuti pelajaran Fisika selama seminggu, 500 soal menunggu untuk ia kerjakan dalam sehari untuk kemudian dikumpulkan besok pagi! Benar-bena rmimpi buruk.
"Karena kau siswa yang pandai dan berprestasi, kau pasti bisa mengerjakan soal-soal itu dengan cepat. Besok pagi, harus sudah ada di mejaku! Kuharap kau tepat waktu. Untuk keterlambatan selanjutnya tidak akan kutolerir! Bisa saja beasiswamu dicabut. Kau tidak mau kan kalau sampai itu terjadi?"
Sakura mengangguk.
"Kalau begitu, kerjakan tugasmu dengan baik!"
"Hai'," jawab Sakura dengan lemas. Dalam hati ia menangis dan merutuki kebodohannya yang terlambat di jamnya Anko-sensei. Ingatkan Sakura agar besok bangun lebih pagi.
*~ Fynlicht~*
"Hah~" helaan nafas lelah meluncur dari bibir Sakura. Ya, benar-benar hari yang melelahkan. Ia belum bias bernafas lega karena tugas untuknya menumpuk menunggu untuk dikerjakan.
Seharusnya, sepulang sekolah ia bekerja part time di sebuah minimarket dekat stasiun. Namun, karena hukuman dari senseinya, ia terpaksa izin. Untung bosnya orang yang baik, jadi ia diperbolehkan untuk tidak masuk kerja.
Tidak bisa ia bayangkan kalau sampai dipecat karena hal itu. Hidupnya pasti akan lebih sulitlagi. Apalagi mencari pekerjaan di kota besar macam Konoha tidaklah mudah. Jadi, wajar kalau ia bersyukur karena Kami-sama masih baik padanya.
.
.
.
Sudah empat jam Sakura berkutat dengan rumus dan angka. Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Perutnya tiba-tiba saja berbunyi. Ah, benar juga sejak pulang sekolah ia belum makan apa-apa. Karena bahan makanan habis, dia memutuskan untuk belanja ke toko 24 jam yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Gadis bermarga Haruno itu memang hidup sendiri. Dia yatim piatu –begitulah pikirnya-. Dia menganggap orang tuanya sudah Sakura masih 'menganggap' mereka yang jahat itu sebagai orang tuanya. Kenapa jahat? Orang tua macam apa yang tega membuang anaknya ke panti asuhan? Ya, sejak usia 6 tahun dia dibuang ke panti oleh orang tuanya. Alasannya karena menurut mereka, Sakura adalah sebuah kesalahan, anak pembawa sial yang membawa mereka pada kesialan.
Kalau mengingat hal itu, Sakura pasti menangis. Namun, sejak tiga tahun yang lalu, saat ia memutuskan untuk tinggal sendiri, ia sudah membuang masa lalunya. Dan sudah terbiasa dengan kesialan yang selalu menimpanya. Justru aneh kalau ia tidak mengalami kesialan. Ia juga tidak keberatan kalau teman-teman menyebutnya Misfortune Girl. Yang terpenting mereka tidak menyakiti Sakura. Ia bersyukur teman-teman SMA-nya tidak seperti teman-teman SMP-nya yang selalu menyakiti dan membully-nya. Setidaknya kesialannya berkurang karena ia sudah tidak menjadi sasaran pembullyan lagi. Ah, sudahlah! Yang penting sekarang isi perut dulu.
Setelah membeli beberapa bahan makanan, Sakura mampir dulu ke kedai Ramen yang ada di samping toko.
"Jii-san, Ramennya satu!" ucapnya pada Teuchi jii-san, pemilik kedai.
"Silahkan!" ucap Teuchi jii-san sambil meletakkan semangkuk Ramen ke hadapan Sakura. Setelah mengucapkan terima kasih, ia mulai menikmati Ramennya.
"Itadakimasu!" serunya.
'Malam dingin seperti ini paling enak memang makan Ramen hangat! Yummi...!' serunya juga dalam hati.
Setelah menghabiskan seporsi Ramen, Sakura membayarnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu, ia melangkah pulang.
*~ Fynlicht~*
Di malam selarut ini, jalanan dekat apartmennya memang selalu sepi. Namun, Sakura tidak takut, karena daerah sekitar apartemennya adalah zona aman. Jadi, dia tidak perlu khawatir ada pria-pria pengganggu ataupun hantu?
"Ukh...kh...uuh..."
Seharusnya begitu.
Sakura menghentikan langkahnya begitu mendengar suara rintihan dari arah gang sempit nan gelap itu. Bulu romanya berdiri begitu mendengar suara itu.
Seharusnya, ia langsung mempercepat langkahnya agar segera sampai ke apartemennya. Bukannya malah menuju gang sempit dimana suara rintihan itu berasal. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Semakin jauh melangkah, semakin jelas suara itu terdengar, membuat Sakura yakin kalau yang merintih itu manusia bukan hantu atau dengan semakin jelasnya siluet seseorang bersandar di ujung gang itu.
Seorang kakek tengah bersandar di dekat tong sampah memegang bahunya. Kacamata yang dikenakannya sudah retak dan terlihat jelas wajah tuanya yang tengah menahan sakit. Melihat itu, Sakura mempercepat langkahnya. Ia yakin, kakek itu butuh pertolongan.
"Jii-san? apa yang Jii-san lakukan disini? Dan... astaga! Lenganmu berdarah!" Sakura memekik kaget saat melihat bahu kakek itu berlumuran darah. Kakek itu terus meringis. Sakura ingat, tadi ia membeli beberapa obat dan perban untuk perlengkapan P3K. Dan tanpa pikir panjang lagi, ia mulai mengobati bahu kakek itu. Namun, tangannya ditepis dengan kasar.
"Pergi!" seru kakek itu dengan sedikit terengah.
"Tapi... Lukanya..."
"PERGII!" teriak sang kakek.
"Demo... a, ano... apa ada yang bisa kulakukan untuk membantumu? Apa anda ingin aku menelopun keluarga anda? Atau Ambulance? Rumah sakit?" Sakura ngotot ingin menolong kakek itu. Ia mengambil ponsel dari sakunya.
"Berapa nomor..."
"Tidak perlu!" ucap sang kakek dengan masih terengah. Ia memandang Sakura dengan tatapan sayu.
"Apa ...hah... kau benar-benar...bisa menolongku?" tanya kakek tersebut susah payah.
"Tentu saja! Akan kupanggil Ambulance, bertahanlah, Jii-san!" jawab Sakura yakin, lalu ia menghubungi pihak rumah sakit agar segera mengirimkan Ambulance ke daerah tersebut.
"Sudah kubilang itu tidak perlu! Lagipula... sebentar lagi aku akan mati." Ucap Kakek pasrah.
"Jangan berkata seperti itu! Anda pasti selamat! Ambulance akan datang sebentar lagi."
"Kalau begitu, bisakah kau...uhuk... menyimpan ini untukku?" kakek tersebut menyerahkan sesuatu pada Sakura.
"Cincin?" Sakura mengernyit bingung. Kenapa malah memberinya cincin?
"Untukmu, jaga cincin itu baik-baik! Jangan sampai hilang dan jangan sampai jatuh ke tangan yang salah!" ucap sang kakek.
Dia menyematkan cincin itu ke jari manis Sakura lalu menggenggam tangan Sakura erat membuat tangan si pinky berlumuran darah. Sakura masih bingung. Kenapa jadi seperti drama tragedy sih? Pakai acara pasang cincin segala lagi. Apa Sakura sebegitu tidak lakunya sampai-sampai yang memberinya cincin malah seorang Kakek tua bukannya seorang pangeran berkuda putih? Kami-sama, lelucon macam apa ini?
Oh, hei! Bukan saatnya berpikir begitu! Kakek itu serius. Lihat saja ekspresinya yang penuh harap itu.
"Kumohon.." ucapnya lirih masih bisa ditangkap oleh telinga Sakura.
Sakura yang dasarnya tidak tegaan mengiyakan begitu saja.
"Baiklah, Jii-san. Akan kujaga cincin ini baik-baik. Aku janji!" serunya sambil mengeratkan genggaman sang kakek. Mendengarnya kakek itu tersenyum, senyum lega nan tulus.
"Syukurlah, dengan begini aku bisa mati dengan tenang."
"Jangan berkata seperti itu! Sebentar lagi Ambulance datang, bertahanlah!"
'DRAP DRAP DRAP'
Terdengar laju kaki yang semakin mendekat. Pandangan kakek itu berubah horror. Dia mendorong Sakura.
"Cepat! Lari!"
"Kenapa?" tanya Sakura bingung melihat kakek yang tiba-tiba panik.
"Cepat Lari! Pergi dari sini!
"Tapi..."
"Kumohon, pergi dari sini!"
"Tidak sebelum Ambulance datang!"
"Ck, keras kepala! Kalau begitu cepat sembunyi!" gerutu sang kakek.
"Sembunyi?" Sakura bertambah bingung. Tadi disuruh pergi sekarang disuruh sembunyi.
"Kumohon... cepatlah sembunyi!" akhirnya Sakura menuruti perintah sang kakek. Ia bersembunyi di balik tong sampah besar yang ada di pojok gang sempit itu.
Tidak lama kemudian, muncullah beberapa pria berpakaian jas hitam rapih dengan kacamata hitam membikai wajah mereka.
"Ketemu!" ucapa seorang dari mereka yang berambut putih panjang. Sebagian wajahnya ditutupi perban, seperti mumi.
"Serahkan cincin itu!" seorang lagi yang berambut hitam menghampiri sang kakek lalu merenggut kemeja bagian depannya. Sang kakek menyeringai.
"Kheh, kalau kubilang cincin itu tidak ada padaku, bagaimana?" iris hitam sang kakek terlihat berkilat menantang.
"kalau kau masih ingin hidup, cepat serahkan, Brengsek!" pria itu menarik kerah baju sang kakek dengan kasar.
"Cih, lebih baik aku mati dari pada harus menyerahkan benda itu pada kalian."
"Ck, keraas kepala!" gerutu pria itu, lalu mulai merogoh saku yang ada pada baju dan celana kakek tersebut. Namun, yang mereka cari tidak ada.
"Sudah kubilang, cincinnya tidak ada padaku." Ucap sang kakek tenang.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk mati!" pria itu mengarahkan moncong pistolnya pada sang kakek.
DOR. DOR. DOR.
Jerit kesakitan sang Kakek menggema di lorong sempit itu. Membuat Sakura yang mengintip dibalik tong sampah membeliakkan mata sambil menutup mulut untuk menahan pekikannya.
Tiba-tiba, pria itu mengarahkan moncong pistolnya ke tempat sampah yang digunakan Sakura untuk bersembunyi.
DOR.
Satu butir timah panas berhasil dilontarkan dan menembus tong sampah berbahan besi tersebut. Untungnya Sakura berhasil menghindari peluru tersebut. Namun, tidak begitu berhasil, karena pipinya terserempet sedikit menyebabkan luka goresan di pipinya.
DORR. PRAKK. DOORR. TRAKK.
"Siapa disana? Keluar!"
Ketahuan, Sakura ketahuan. Ok, dia mulai takut. Suara pistol yang memekakkan telinga itu membuatnya menutup telinga rapat-rapat.
TAP. TAP. TAP.
Pria mumi itu berjalan ke tempat persembunyian Sakura. Sementara Sakura yang mulai ketakutan haya berdo;a semoga orang itu tidak membunuhnya. Dia belum siap untuk mati.
'kami-sama, Tolong Aku…!' jeritnya dalam hati.
DOR. PRAKK.
Peluru kekempat baru saja dilontarkan, kali ini disertai dengan jeritan pilu yang keluar dari bibir Sakura. Rupanya peluru itu berhasil menembus tong sampah lalu menembus kulit lengannya. Reflek gadis bermarga Haruno itu mencengkram lengannya.
Sementara itu, si pria mumi sudah berdiri dihadapannya. Pandangan sakura berubah horror. Dia benar-benar ketakutan.
"Gadis kecil, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, hm?" tanay si pria mumi. "―dan kenapa bersembunyi?" lanjutnya lagi denga nada sing a song.
Sakura yang sangat ketakutan itu tidak bias berkata apa-apa. Bibirnya kelu, tubuhnya bergetar hebat. Dia bias menangis kapaan saja.
"Sakura, LARII!"
Si kakek yang ternyata masih hidup itu berteriak menyuruhnya lari. Entah mendapat kekuatan dari mana, Sakura berlari sekuat tenaga melewati si pria mumi untuk keluar dari lorong sempit itu. Tujuannya tentu saja apartemennya. Dia ingin pulang.
Sementara itu, si pria mumi hanya diam di tempat. Tetapi mata satunya itu menyipit menatap gadis pink itu intens. Tepatnya jari sakura yang terselipka cincin. Mata satunya itu tiba-tiba melebar, lalu ia berteriak.
"KEJAR DIA! CINCINNYA ADA PADA GADIS ITU!"
*~ Fynlicht~*
Lari
Lari
Lari
Sakura terus berlari. Tak peduli denga kakinya yang sudah lelah. Tak peduli dengan luka di lengannya yang terus mengeluarkan darah. Juga tidak peduli dengan belanjaannya yang tertinggal. Yang menjadi prioritas utamanya sekarang adalah lari. Menyelamatkan diri dari orang-orang jahat itu.
Dia orang baik kan? Sakura gadis baik kan? Tapi kenapa sekarang ia seperti buronan yang lari dari kejaran polisi? Kenapa did ditembak? Kenapa Kami-sama senang sekali membuatnya berada dalam situasi yang buruk? Kenapa?
Padahal, dia tidak berniat buruk. Padahal dia hanya ingin menolong kakek itu. Padahal, menolong kan perbuatan terpuji. Tapi kenapa jadi seperti ini? Sebegitu bencinyakah Kami-sama padanya?
"Hiks.. Hiks.. huu… hiks.."
Sakura terisak sambil terus berlari. Mengingat kesialan yang dialaminya hari ini membuatnya menangis. Karena kesialannya hari ini tidak seperti biasanya. Kalau begini bukan kesialan lagi namanya, tapi kutukan.
"Hah.. hah…"
Akhirnya, setelah berlari sekuat tenaga ia sampai juga di apartemennya. Lalu Sakura menutup rapat pintu apartemennya. Kemudian, ia jatuh terduduk. Lelah, itu yang ia rasakan. Tubuhnya lemas. Lalu, ia menenggelamkan wajah di lipatan lututnya. Dia menangis tersedu.
"Hiks… huu… hiks… maafkan aku, kek… hiks."
Dia menyesal tidak bisa menyelamatkan sang kakek. Mungkin, dia juga jahat karena sudah meninggalkan seorang kakek yang tengah terluka begitu. Tapi, tidak ada pilihan lain kan? Setidaknya ia sempat meminta ambulance datang ke tempat itu.
Sakura, gadis baik kok.
*~ Fynlicht~*
Di sebuah ruangan yang gelap nan minim pencahayaan. Dua orang pria berlutut hormat pada seseorang yang tengah duduk di sebuah kursi.
"Jadi?"
Kedua pria yang berlutut itu menundukkan kepalanya dalam.
"Maafkan kami tuan. kami berhasil membunuh Tazuna, hanya saja…"
"Kalian gagal merebut cincin itu darinya, begitu?" Ucap pria yang membelakangi kedua orang itu.
"Maafkan kami, Tuan."
"Cincinnya telah jatuh ke tangan orang lain." kata si pria mumi.
"Bagaimana bisa? Siapa yang sudah merebut cincin itu? SIAPA?!" pria yang tengah duduk itu tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja. Iris emas bak ular itu menyipit.
Kedua orang yang berlutut itu menceritakan detail kejadiannya dengan tenang tanpa gagap sedikit pun, walau tengah berhadapan dengan tuannya.
"Siapa gadis itu? Apa cucu si tua Bangka itu?"
"Kami juga tidak tahu, tapi sepertinya dia orang awam, karena setahu kami Tazuna tidak memilik ikeluarga."
"Orang awam ya? Ciri-cirinya?"
Si pria mumi angkat bicara.
"Rambut pink sebahu dikepang dua. Usianya sekitar 17 tahun, memakai kacamata. Iris matanya hijau. Tazuna sempat meneriakkan namanya, Sakura."
"Hmph… hahahahaHAHAHAHA…."sang tuan tertawa bak psikopat. "menarik, benar-benar menarik! Kabuto!" panggilnya.
"Ya, Tuan." Seorang pria berambut perak yang diikat dan berkacamata mendekati sang Tuan.
"Cari tahu tentang gadis itu! Lalu, bawa padaku! Begitu cincinnya sudah kudapat, Bunuh gadis itu!"
*~ Fynlicht~*
DEG
'Besok pagi sekali, kumpulkan tugasnya padaku!'
Tiba-tiba saja terngiang suara Anko sensei yang membuat Sakura menghentikan tangisnya. Bukan waktunya menangis. Yang terpenting sekarang adalah membersihkan diri, mengobati lukanya, lalu menyelesaikan tugas dari Anko-sensei.
"Ittai.." Sakura meringis kesakitan saat mencoba berdiri. Ia baru sadar kalau lengan panjang bajunya sudah berlumuran darah. Ya ampun…
Normalnya, gadis manapun kalau tertembak timah panas pasti pingsan. Tapi Sakura tidak, malah masih bisa berlari sekuat tenaga seperti tadi. Yang jelas, keadaannya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
Setelah membersihkan luka dan mengambil kotak p3k, ia duduk diatas sofa. Baiklah, dia akan mulai mengobati lukanya. Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana cara mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya?
"Hah…" Sakura hanya bisa menghela nafas. Setelah lama berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk sementara membiarkan peluru itu bersarang di lengannya. Besok, dia akan ke Rumah Sakit. Sakura membebat lengannya dengan perban. Tentunya setelah dilumuri obat merah. Karena tidak tahan denga rasa sakit dan perihnya, dia menangis lagi.
Menenangkan diri, itu yang Sakura lakukan setelah mengobati lukanya.
Emerald-nya tertuju pada cincin yana melingkar di jari manisnya. Pemberian seorang kakek yan namanya puh dia tidak tahu. Beribu pertanyaan muncul di benaknya.
Sebenarnya siapa kakek itu? Kenapa orang-orang itu menembakinya? Dan kenapa mereka mengincar cincin ini? Memikirkannya saja sudah membuat Sakura pusing. Hah…
*~ Fynlicht~*
"Tuan, ini adalah data yang kuperoleh tentang gadis itu." Kabuto menyerahkan Ipad-nya pada sanag Tuan.
Pria beriris emas itu menyeringai setelah membaca data-data yang kabuto tunjukan.
"Haruno Sakura, ya? Mimpi burukmu baru dimulai." Ucapnya disertai tawa yang mengerikan.
*~ToBeCon~*
