Disclaimer : Bleach doesn't belong to me.

Warning : Skip the typos you'll find. OOC, maybe.

Minna-san! Ini dia ch 2. Enjoy! :D

Chapter 2 :

A Hidden Truth

.

.

Shinigami on The Gallows

Kuchiki Rukia merasakan ada sesuatu yang lain. Bukan karena bentuk bulan yang berubah ataupun sesuatu yang berbeda dalam kandungan udara malam itu. Namun, eksistensi sang pemuda di hadapannyalah yang membuat Rukia merasa kurang nyaman.

Kedua sosok di sini tengah duduk bersimpuh dengan meja bundar kecil sebagai pembatas jarak mereka. Dua cup ramen instan tersaji di hadapan keduanya –masih dengan asap khas bumbu yang mengepul. Tak pernah sekali pun dalam hidup Rukia, merasakan makan malam yang sebegini canggungnya. Hanya berdua dan tanpa pembicaraan.

Mungkin Rukia tidak akan terlalu kaku jika yang sedang bersamanya itu adalah teman atau keluarganya. Ia juga mungkin tidak akan begitu waspada jika pemuda ini hanyalah seorang manusia biasa. Kenyataannya, gadis itu tengah berhadapan dengan sesosok shinigami.

Padahal Rukia sama sekali tidak pernah memikirkan apalagi merencanakan bahwa dirinya akan bertemu dengan mahkluk yang berbeda dimensi dengannya itu. Tapi mengapa begitu mudah sang shinigami ini masuk dalam kehidupannya? Tenanglah, Rukia. Ini mungkin hanya sementara. Ini mungkin hanya kau saja yang sedang bermimpi. Walau Rukia tahu tidak ada mimpi yang senyata ini, tapi Rukia masih berharap bahwa ia memang sedang terbuai bunga tidur dan belum terbangunkan sampai sekarang.

"Apa aku mengganggumu?"

Ya, shinigami itu berbicara pada Rukia. Tentu saja Rukia merasa terganggu dengan kehadirannya. Tapi bukan hal tersebut yang terucap dari mulutnya.

"T-tidak sama s-sekali," bohong Rukia.

"Apa kau memang tidak banyak bicara?"

"T-tidak juga."

"Kenapa dari tadi kau hanya diam?"

"S-sebaiknya cepat d-dimakan. Tidak enak jika s-sudah dingin," ujar gadis mungil itu –mengabaikan pertanyaan retoris sang shinigami bersurai senja.

Rukia lalu beralih pada ramennya sendiri. Ini mungkin akan meminimalisir pembicaraan yang akan terjadi di antara mereka. Untunglah tidak ada tugas dari sekolah yang harus dikerjakan, jadi ia bisa segera tidur setelah menyelesaikan makan malamnya. Rencana yang bagus untuk menghindari shinigami malam ini.

"Ku-kukira aku akan langsung tidur saja. K-kau bisa beristirahat di sofa itu kalau kau mau. S-selamat malam," ujar Rukia seraya beranjak lalu membuang cup ramen yang sudah kosong itu ke tempat sampah. Berbeda dengan ramen satunya yang belum disentuh sama sekali oleh si pemilik.

Sebenarnya ia tidak tega membiarkan shinigami itu tidur di sofa malam ini. Tapi tidak ada tempat tidur lain yang bisa digunakan di apartemen kecilnya itu karena tempat ini memang dirancang seperti sebuah kamar yang hanya dikhususkan untuk satu sampai tiga orang. Berhubung tidak ada orang lain yang tinggal dengan Rukia, jadi ia hanya mempunyai satu set single bed untuk dirinya saja.

Ketika Rukia akan mencapai pintu kamar tidurnya, suara bariton sang shinigami menghentikan langkahnya.

"Aku ingin bicara denganmu."

"S-sebaiknya besok saja. Ini s-sudah malam."

"Aku ingin bicara sekarang."

Tidak ada pilihan lain. Rukia membalikkan lagi tubuhnya lalu duduk di tempatnya semula.

"A-apa yang ingin kau b-bicarakan, Kurosaki-san?" Rukia mengawali pembicaraan.

"Orang tuamu. Dimana mereka?" tanya shinigami bermarga Kurosaki itu.

"M-memangnya kenapa?"

"Aku hanya ingin tahu. Kau tidak memajang foto keluargamu di sini. Apa kau memang tidak mempunyai keluarga?"

"B-bukan begitu! M-maksudku, kedua o-orang tuaku meninggal d-dalam kecelakaan mobil dua tahun lalu."

"Benarkah?"

"Maksudmu?"

"Apa kau tahu bagaimana rupa mereka?"

"A-aku.. Aku kehilangan ingatan saat kecelakaan itu terjadi."

"Lalu?"

"S-setiap aku berusaha untuk mengingat wajah mereka, kepalaku langsung terasa sakit. Tapi aku masih memiliki seorang kakak laki-laki."

"Byakuya?"

"Da-darimana kau tahu?"

"Apa kau tahu dimana dia sekarang?"

"Nii-sama sedang bekerja di l-luar ne-negeri."

"Hah. Skenario yang sangat lucu," ujar sang shinigami sambil mendengus.

"S-sebenarnya, apa yang sedang k-kau bicarakan?" tanya Rukia yang mulai merasa ada sesuatu yang janggal.

"Apa kau benar-benar tidak ingat, Rukia?"

"I-ingat apa?"

"Buka bajumu!"

"A-apa?!"

"Kalau kau tidak mau, aku yang akan melakukannya," ancam si Kurosaki.

"I-ini p-pelecehan! K-kau tidak bisa seenaknya-"

Sraaat!

Iris amethyst itu membulat, sang empunya memekik. Pria shinigami ini telah merobek bajunya dengan tidak hormat –memperlihatkan bahu mungilnya yang...

"Bagaimana bisa kau mendapat luka ini?"

"I-ini.. Lu-luka ini a-adalah luka yang membekas saat kecelakaan mobil waktu i-itu," jawab Rukia sambil memperbaiki keadaan pakaian atasnya yang terkoyak.

"LALU DARIMANA AKU TAHU BAHWA KAU MEMPUNYAI BEKAS LUKA DI BAHU KIRIMU, HAH?! APA KAU BENAR-BENAR TIDAK MENGINGATKU? APA PARA SHINIGAMI SIALAN ITU SUDAH MEMBUANG SEMUA INGATANMU?!" marah Kurosaki itu akhirnya.

"Ku-kurosaki-san?" ujar Rukia takut-takut.

"COBALAH UNTUK MENGINGAT SEMUANYA, RUKIA!" teriak shinigami itu –lagi, sambil menngoncang bahu Rukia. "INGATLAH BAHWA KAU JUGA ADALAH-"

"Aaarggh! A-aku t-tidak bisa mengingat a-apapun," lirih Rukia sambil memegang kepalanya yang mulai terasa sakit. "A-aku, aakh-" Dan si gadis Kuchiki itu pun pingsan.

"Rukia? Rukia! Sial!" rutuk Ichigo –panggilan sang shinigami yang baru saja meluapkan emosinya ini.

Dengan cekatan, ia langsung mengangkat tubuh mungil Rukia dan membawanya ke kamar. Setelah membaringkan gadis itu di atas tempat tidur dan menyelimutinya, Ichigo meninggalkan kamar itu. Ia sempat menyesali sikapnya yang sedikit kasar tadi. Sangat kasar –lebih tepatnya. Ia harus meminta maaf pada Rukia setelah gadis itu sadar nanti.


Kini, Ichigo benar-benar ada dalam wujud shinigami. Dirinya yang sedang berdiri di atas atap apartemen Rukia terlihat sedang berpikir. Bukan sedang mewaspadai hollow terdekat atau apapun itu. Ia hanya sedang... memikirkan sesuatu.

Tiba-tiba saja Ichigo menyeringai ketika merasakan reiatsu yang sangat ia kenal mendekat ke arahnya.

"Kau memang tidak pintar menyembunyikan reiatsumu atau kau memang sengaja mengumbarnya?"

"Lama tidak bertemu, Kurosaki Ichigo."

"Kita bertemu setiap hari, Sensei."

Angin malam itu berhembus kencang menerpa kedua wajah shinigami yang tengah menatap lekat bola mata lawan bicaranya.

"Aku sudah tahu. Cepat atau lambat, kau pasti akan kemari."

"Ya, ya. Kau tahu segalanya, Ichimaru Taichō."

.

.

*Shinigami on The Gallows*

.

.

Soal matematika yang tersaji untuk Rukia kini, tak kunjung dikerjakannya. Padahal biasanya, ia sangat cekatan dan bersemangat jika sudah bertemu dengan soal-soal semacam ini. Gadis itu lantas menatap ke luar jendela dan dengan matanya yang besar itu, ia bisa melihat burung-burung berterbangan riang di atas langit.

Seperti biasa, Rukia mengawali hari dengan meregangkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak ada hal yang aneh di pagi itu. Piyama yang ia kenakan masih utuh. Apa mungkin kejadian semalam hanya mimpi? Apakah Ichigo memang tak pernah ada? Tidak, tidak. Rukia lantas menengok ke kanan belakang dan mendapati seorang siswa berambut oranye yang tengah berkutat dengan soal di hadapannya. Shinigami itu masih ada ternyata.

'Apa yang sebenarnya terjadi?' Rukia membatin. Dirinya tak lagi tertarik untuk menyentuh soal yang harus ia kerjakan dan lebih memilih untuk melamunkan peristiwa tadi malam.

"Baiklah, sampai di sini dulu pertemuan kita hari ini. Jangan lupa, soal yang tadi selesaikan di rumah, ya!" ujar Ichimaru-sensei pada murid-muridnya. Rukia langsung tersadar dari lamunannya setelah Ketua Murid mengajak seisi kelas untuk memberi salam terima kasih pada sang guru.

Iris amethyst itu bisa melihat sekilas senyuman Ichimaru-sensei yang ditujukan padanya sebelum guru muda itu benar-benar menghilang dari balik pintu kelas.

"Maaf aku tidak menunggumu bangun untuk berangkat ke sekolah," sesal Ichigo yang kini telah berada di dekat bangku Rukia.

'Jadi semalam bukan mimpi?'

"Hei, Rukia?"

"I-iya. T-tidak apa-apa."

"Ya sudah. Ayo ke kantin."

"I-ini sudah waktunya istirahat?" tanya Rukia bingung.

"Apa kau tak mendengar bel istirahat tadi? Sudahlah, aku lapar. Ayo!" ajak Ichigo sambil menarik tangan Rukia.

'Benarkah dia Ichigo? Ia tidak pernah sebaik ini sebelumnya,' ujar Rukia dalam hati sambil menatap Ichigo yang tengah menggandengnya.

'Biarkan saja seperti ini dulu. Aku takkan memaksamu untuk cepat mengingat semuanya,' batin Ichigo. Ia merasakan tangan lembut Rukia yang membalas genggamannya, lalu tersenyum kecil dengan hazelnya yang masih tetap memandang lurus ke depan.


Kantin mulai penuh seiring dengan kedatangan para siswa yang kelaparan di Karakura High. Setelah mendapatkan beberapa buah kue manju, Ichigo mengajak Rukia untuk menghabiskan waktu istirahat mereka di atap sekolah. Kondisi kantin yang ramai agaknya membuat acara makan kue bersama terasa kurang nyaman. Yah, lagipula atap sekolah merupakan tempat pertama kali Rukia melihat Ichigo dalam wujud shinigami. Nostalgia, eh?

"Rukia..."

"A-ada apa?"

"Aku minta maaf," ujar Ichigo. Angin sepoi-sepoi siang ini menerpa lembut helaian rambut berbeda warna itu; hitam dan oranye.

"Tak apa, Ichigo," balas Rukia lembut. Dan.. ia baru saja menyebut nama Ichigo? Bukan Kurosaki dengan sufiks '–san' seperti biasanya? Napas shinigami tampan itu sempat tercekat sejenak, mendengar apa yang baru saja Rukia katakan. Setelahnya ia mengela napas lega sambil tersenyum tulus. Ya, ia yakin bahwa cepat atau lambat, Kuchiki Rukia akan mengingat siapa dirinya. Tinggal menunggu waktu saja sambil memanfaatkan kebersamaannya dengan Rukia sekarang.

"Rukia, apa kau tahu tempat yang bagus untuk dikunjungi di sini?"

"Umh, sepertinya Taman Karakura. Apalagi jika kau pergi ke sana pada malam hari. Ada air mancur yang bersinar di tengah taman," jelas Rukia –tanpa tergagap seperti biasanya.

"Aku ingin melihatnya. Apa kau mau menemaniku, Rukia?" pinta Ichigo.

"A-aa, b-boleh." Sial, gagapnya memang belum hilang.

.

.

*Shinigami on The Gallows*

.

.

Central 46 Compound tidak seperti biasanya kali ini. Beberapa shinigami terlihat sedang mendiskusikan sesuatu dengan wajah yang serius. Kapten Komandan –Genryūsai Yamamoto, Kapten Divisi 6 –Byakuya Kuchiki beserta wakilnya –Abarai Renji, juga Izuru Kira –Wakil Kapten Divisi 3, berkumpul mengitari meja panjang yang ada di salah satu sudut gedung itu. Oh, tak lupa Kapten Divisi 12 –Mayuri Kurotsuchi, juga turut hadir dalam pertemuan kecil ini.

"Kenapa kalian bisa sampai lepas pengawasan pada Kurosaki Ichigo itu?!" tanya Yamamoto tegas, mengawali pembicaraan.

"Tidak ada yang tahu bagaimana cara ia pergi ke dunia manusia, Taichō," ujar Renji dengan hormat. "Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa ia pergi melalui Seireitei. Reiatsunya menghilang begitu saja."

"Kau terlalu banyak bicara, Abarai Renji," kata Byakuya dingin.

"Cukup. Apa kalian tahu hal apa yang mungkin dilakukan shinigami itu, hm?" tanya Kapten Komandan itu lagi dengan nada bicara yang lebih serius.

"Saya yakin, Ichimaru Taichō bisa mengatasinya." Kini, Izuru Kira yang berbicara.

"Dan ingatan Kuchiki Rukia tidak akan semudah itu kembali. Aku sudah mengaturnya dulu," ujar Kapten Divisi 12 itu yang mulai angkat suara.

"Ya, ya. Namun segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apa yang akan kalian lakukan?"

"Aku akan membawa shinigami itu kembali. Segera," tegas pimpinan Klan Kuchiki itu.

"Tidak. Kurosaki itu pasti tidak akan tinggal diam. Ini berbahaya jika Rukia sampai menyadarinya," sanggah Yamamoto.

"Saya kira, kita hanya tinggal menunggu laporan dari Ichimaru Taichō," ujar Wakil Kapten Divisi 3 itu –lagi.

"Ada sesuatu yang disembunyikan kaptenmu itu," sela Kurotsuchi.

"Maksud Anda?" tanya Kira bingung.

"Ini sudah beberapa hari semenjak shinigami itu pergi," ujar kapten bertopi ini. "Tugasku sama kaptenmu itu. Mengawasi Kuchiki Rukia di dunia manusia. Berpura-pura menjadi pengajar di sekolahnya."

"Lalu?" tanya shinigami berambut pirang itu lagi, tanda bahwa ia masih belum memahami pembicaraan Kurotsuchi.

"Apa kau tidak sadar kalau aku ada di sini sekarang? Itu berarti, hanya Ichimaru yang bertugas mengawasi Rukia."

"Dan apa yang salah dengan Ichimaru Taichō?"

"Bukankah aneh jika ia tidak melaporkan bahwa Ichigo telah berhasil masuk ke dunia manusia? Kita pun baru menyadarinya setelah Kurumadani merasakan reiatsu Ichigo di Karakura," Yamamoto menjelaskan. Ya, ini memang terasa janggal mengingat Gin Ichimaru yang ditugaskan untuk mengawasi Kuchiki Rukia di dunia manusia agar jangan sampai berhubungan dengan shinigami lain. Bukan tidak mungkin jika tujuan Ichigo datang ke sana adalah untuk menemui Rukia yang berarti, Ichimaru harus mencegahnya. Namun sampai sekarang, tak ada sedikitpun tindakan yang dilakukan kapten berwajah rubah itu.

"Baiklah. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan."

To be Continued

.

.

A.N.

Khukhuhku.. Readers jangan lupa ya kalau Kurotsuchi itu guru seni di Karakura High XD

Pasti banyak pertanyaan tentang ch ini, kan? Hehe.. Maaf membuat kalian bingung. Atau udah ada yang ngeh sama jalan ceritanya? Oiya, alurnya terlalu lambatkah? Gomenasai, Readers kalau ceritanya tidak memuaskan. Tapi, masih sudikah untuk meninggalkan review untuk fic ini? *bows

Balasan review untuk yg login sudah lewat PM, ya :') Untuk rukippe dan chappy ini update, tapi maaf ya kalau updatenya lama T.T terima kasih banyak untuk review-nya :")

Review kalian benar-benar jadi penyemangatku, lho :') Terima kasih untuk terus mengikuti fic ini *big hugs*

Salam hangaaattt,

Kazuko Nozomi~