Tak ada respon dari lawan bicaranya, dia seraya berkata, "Apa kau mendengarku, Haruno ?"

Satu detik, Dua detik, Tiga detik ...

KYAA !

Terdengar teriakan yang keras dari arah ayunan, sontak membuat orang di sekitarnya menoleh ke arah mereka. Orang-orang berada dekat dengan mereka langsung ke asal suara teriakan tadi.

"Maaf, apa kau baik saja Nona ?" Tanya salah satu dari kerumunan orang memastikan, di jawab anggukan oleh Sakura. Berarti tidak terjadi hal-hal yang aneh. Sekarang mata orang-orang itu pindah mrnatap Naruto.

"Hei, bocah mesum kau akan kami beri pelajaran karena tindakanmu yang membahayakan wanita." Ucap datar pria itu.

"Ehh... maaf, mungkin kalian salah paham," ucapnya, "Aku tadi cuma membisikan seauatu ke temanku ini, ternyata temanku sangat kaget dan ya teriakan tadi terjadi. Hehehe."

Setelah mendengar cerita dari Naruto dan Sakura, akhirnya orang-orang itu segera meninggalkan mereka berdua.

"Maafkan, aku." Mendengar suara yang di hafalnya Naruto menoleh ke arah suara tadi dan mengganggukan kepalanya tanda dia memaafkan. Naruto segera meninggalkan Sakura di taman dan kembali ke pesta Sasuke.

Ternyata, pesta yang di buat Sasuke belum belum selesai padahal jam sudah menunjukan pukul 11.15 malam. Naruto menuju bar kecil yang telah di siapkan, dia memesan satu gelas vodka dan meminumnya sampai habis kemudian dia tambah lagi. Tak sadar kalau dia sudah mabuk berat karena dia meminum minuman keras terlalu banyak. Tubuhnya terhuyung, tapi ada tangan yang menahanya. Naruto menoleh lalu menatap orang tersebut dengan tatapan lelah, "Siapa kau ?" Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya kemudian dia jatuh pingsan.

"Merepotkan, sekali." Shikamaru menguap tanda sudah mengantuk. Kini Shikamaru membopong Naruto yang pingsan ke dalam kamar yang ada di hotel itu. Sakura yang baru masuk hotel, matanya menangkap kejadian Naruto yang pingsan dibawa oleh Shikamaru ke arah kamar. Lantas dia langsung menyusulnya ke arah Shikamaru tadi.

"Apa yang terjadi ?" Tanya Sakura, "Kenapa Naruto pingsan Shika ?" Lanjutnya pada Shikamaru.

"Seharusnya aku yang bilang gitu Sakura." Tegasnya. Karena saat Naruto kembali dari luar dia melihat Naruto menuju bar kecil yang ada di ujung Aula pesta dan meminum banyak vodka.

"Apa kalian di luar tadi bertemu atau berpapasan ?" Tanya Sasuke sekarang yang muncul di balik pintu kamar. Tentu saja pertanyaan itu ditujukan ke Sakura.

"Ya, kami bertemu."

Prisoner of Love

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Rating: T

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Pair: Uzumaki Naruto & Haruno Sakura

Summary : Harus kemana aku berlari, deritaku terasa tiada

henti. Mungkin kalau bisa melupakanmu. Mungkin aku tak seperti ini, aku terkurung

dalam tahanan cintamu. Aku terpuruk karena mu.

Warning: AU, OOC, Sadness and Sorrow

(maybe), Alur gak jelas, Typo(s), Sudut

pandan berbeda-beda, etc.

Chapter 2

Happy Reading

Keesokan paginya, Naruto bangun karena merasa ada yang menahan tubuhnya. Mengedarkan pandangan sebentar ke penjuru ruangan dan melihat apa yang menahan tubuhnya. Dia melihat ada tubuh wanita yang berada di sampingnya matanya melotot tak percaya. Terdengar erangan suara feminim dari samingnya kemudian Naruto menoleh seraya berkata, "Kau sudah bangun Haruno-san," Ucap Naruto, "Apa kau bisa melepas pelukanmu di tubuhku." Lanjutnya datar.

Otak Sakura sedang memproses apa yang baru di katakan Naruto tadi.

Satu detik, Dua detik, Tiga detik ...

"KYAA !" Teriaknya,

Ini seperti De Javu dan akhirnya yang kena dampak adalah sang pria kuning.

"Apa yang kaulakukan padaku, menyingkirlah dariku dasar bocah mesum." Lanjutnya dengan kesal.

"Apa !" Suara Naruto meninggi karena dia di dutuh melakukan hal-hal aneh pada Sakura, "Seharusnya aku yang bilang seperti itu Baka-Haruno." Tegasya. Karena Naruto tidak mau di cap mesum. Nanti imej nya sebagai Artist terkenal bisa hilang atau lebih buruk lagi.

Naruto segera keluar dari kamar meninggalkan Sakura sendirian yang mematung karena mendengar ucapan Naruto tadi.

"Kau sudah bangun Dobe ?" Tanya seseorang di belakangnya. Merasa ada yang memanggil sebutannya langsung menoleh, "Teme... !" Pekiknya kaget. Sasuke kembali mengulang pertanyaan tadi, "Kau sudah bangun Dobe ?"

"Hn."

"Apakah tadi malam menyenangkan ?" Tanya Sasuke menahan tawa.

"Makaudmu, pestamu ya. Iya lumayan sih walaupun aku tidak mengikutinya sampai selesai." Jawab Naruto sekenaknya.

"Baka, bukan itu yang kumaksud."

"Lalu ?" Acuh tak acuh, karena dia sedang memikirkan kenapa gadis musim seminya bisa tidur dengannya.

Sasuke yang tau Naruto sedang berpikir langsung tertawa keras, "Apa yang kau tertawakan Baka-Teme ?"

"Ahh, maaf-maaf aku kelepasan tadi." Jawab Sasuke.

"Terserah."

Sakura keluar dari kamar Naruto tadi dengan pakaian seperti dokter segera ke arah dua orang yang Sakura kenal kemudian berbisik pada Sasuke, "Aku akan ke Rumah Sakit dulu Sasuke-kun, tolong jelaskan pada temanmu kenapa aku bisa tidur denganya. Jaa." Setelah berbisik Sakura segera melesat keluar hotel ke arah mobil enzo Ferrari pinknnya, tak lupa menatap Naruto dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Jadi ... bisa kau jelaskan semuanya Teme." Ucapnya dan memberikan penekanan pada kata 'Teme'.

Menunggu adalah hal yang tak di sukai oleh pria kuning ini untuk saat ini. Karena emosinya sedang menguasai pikirannya. Mau bagaimana lagi akhirnya Sasuke menceritakan semua yang terjadi setelah dia pingsan, dan menceritakan tentang Sakura.

Tapi itu tak membuat Naruto jadi memaafkan Sakura, karena dia meninggalkan Naruto dengan alasan yang tidak jelas, sekarang hatinya telah sakit dan menahan sakitnya karena Terpenjara oleh cintanya pada Sakura.

Aku selalu menantimu

Tapi semua itu tak seperti harapanku

Semua hanya sebuah kata

Rintih hatiku yang terpenjara cintamu.

Bagaimana caraku memaafkanmu yang telah menyakiti hati ini, hingga aku tak bisa pindah ke lain hati. Aku sudah terpenjara oleh cintamu. Aku sangat bingung sekarang, apa yang harus aku lakukan. Setiap melihatmu, hatiku rasanya sakit. Aku seperti tersihir olehmu agar aku tak pindah kelain hati, tapi kenapa... kenapa kau meninggalkanku begitu saja. Aku sudah muak dengan yang namanya cinta. Persetan dengan itu semua.

Sudah satu minggu saat mereka bertemu di pesta Sasuke. Sekarang Naruto kembali sibuk dengan jadwalnya menjadi seorang Entertaint dan Sakura sibuk berkutat dengan pekerjaanya yang baru sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit. Tepatnya Tokyo Hospital.

Entah kenapa Sakura begitu rinda pada sosok bocah kuning yang dulu telah ia khianati. Tapi itu kan demi masa depannya juga. Sakura juga merasakan sakit di hatinya saat bertemu kembali dengan kekasihnya dulu, yang sekarang sifatnya berubah drastis tidak seperti saat di Sekolah dulu, 'Ya semua orang bisa berubah Sakura.' Ucapnya dalam hati.

Mobil enzo Ferrari berwarna merah melintas di jalanan dengan kecepatan 80 km/jam, terlihat pria muda dengan karakteristik rambut kuning jabrik serta mata berwarna biru sapphire melajukan mobilnya mengarah ke sebuah gedung besar berlantai 4 yang disebut juga sebagai Tokyo Hospital. Entah kebetulan atau sudah di gariskan takdir Sakura dan Naruto akan bertemu lagi.

Mobil yang di tumpanginya segera ia parkir dan menuju ke dalam lobi Rumah Sakit. Saat akan masuk ke dalam ruangan seseorang dia di sapa oleh yang dia kenal, "Hei, gaki.." Serunya dari belakang. Mendengar suara yang sangat dia kenal sesegera mungkin dia berbalik dan melihat orang itu. Wajah tampannya memancarkan kehangatan bagi orang yang di temuinya sekarang.

"Kapan kau kesini Naruto ?" Tanya orang itu.

"Baru saja Obaa-sama." Jawabnya.

"Memangnya sekarang tanggal berapa hingga kau datang ke sini ?" Tanya orang itu memastikan.

"29 Desember."

"Oh" kata itu saja yang keluar dari mulutnya. Tapi dia tak ambil pusing, mau tanggal berapa dia ke sini kan urusannya. Tsunade senang sekali kalau sering di kunjungi cucu satu-satunya itu.

Setelah memeriksa keadaan Naruto, Tsunade lalu memberikan hasilnya ke cucunya itu.

"Apa semakin parah atau membaik Obaa-sama ?" Ternyata cucunya tidak bisa membaca lembaran dokumen yang di berikan neneknya itu.

"Sepertinya hasilnya sama seperti bulan lalu, Naruto. Tapi ada kemajuan sekarang," Ucapnya, "Semoga kanker paru-paru mu cepat sembuh nak !" Lanjutnya kemudian.

"Ya, Obaa-sama."

"Ah ... iya gaki, aku akan mengenalkanmu pada wakil Rumah Sakit yang baru." Ungkapnya.

Naruto berkeliling sebentar di Rumah Sakit untuk menghilangkan rasa lelahnya. Dia melihat Direksi hamparan bunga-bunga di taman sebelah Rumah Sakit yang begitu indah.

Amazing !

Cuma kata itu yang cocok untuk sebuah karya Kammi-sama yang begitu menajubkan. Tiba-tiba ada seseorang yang berada di belakangnya, "Indahkan." Ucap seseorang itu.

"Hn."

"Apa, kau orang yang mau di kenalkan oleh Tsunade-shishou padaku." Candanya. Walaupun orang itu belum tau. Tapi di sisi lain lebih tepatnya Naruto, dia sangat mengenali suara itu. Tak di sangka dia adalah wakil dari neneknya.

"Kau tau, kenapa aku terus bertemu denganmu saat aku hampir melupakanmu sepenuhnya." Berbalik dan menatap orang itu.

Kaget ! Sudah jelas. Terlihat dari mimik wajah orang itu. Tapi kenapa dia bisa mengenali dirinya. Ah ... Sakura lupa kalau suaranya itu selalu di ingat kekasihnya itu.

Flashback

Memberi kejutan dengan cara menutup mata menggunakan tangan itu memang sangat romantis. Tidak semua orang bisa mengenali siapa yang berbuat seperti itu. Tapi bagi Naruto itu mudah ! Dia mengenali siapa yang sering melakukan hal itu, kekasihnya. Naruto dapat mengetahui dari suara lembut sang kekasih.

Sakura, diam-diam melangkah dari belakang Naruto untuk memberi kejutan padanya. Merasa ada tangan yang sudah menutupi kedua matanya, Naruto tersenyum saat mendengar suara mengatakan, "Sureprise."

"Tebak, aku ini siapa ?" Pintanya.

"Namikaze Sakura kan !" Candanya,

"Hei ... siapa yang Namikaze, aku masih Haruno tau." Kesalnya dengan menggembugkan pipinya. Uhhgg itu adalah moment yang paling manis serta menyakitkan untuk saat ini.

End Flashback

To Be Continued

Author Note: Hufft, akhirnya selesai juga chapter 2. Gomen kalau chapter 1 masih berantakan. Aku akan berusaha agar tidak terjadi kesalahan lagi. Terima kasih yang sudah review. Mungkin chapter depan itu klimaksnya. Maaf update agak lama karena kesibukan kerja. Ok ! Terima kasih dan reviewnnya

Semakin banyak review semakin mood saya lanjutin fic ini.

Review ... Review