WINTER ILLUMINATION
Cats : DBSK Member
Genre : Friendship (maybe), slice of life
Music : Winter Rose by DBSK, Stand By You by DBSK, Still by DBSK,
"Min. Min. Wake up, please..." Yunho masih saja berusaha sejak 3 menit yang lalu membangunkan tiang listrik hidup yang berstatus sebagai magnae-nya. "YA! SHIM CHANGMIN!"
Sedangkan yang menjadi objek masalah hanya menggeliat pelan sambil mengacak sembarangan surai kehitaman miliknya dan sebuah kalimat manis meluncur dari bibirnya.
"Hyung, suaramu terdengar fals saat berteriak tadi. Apa kau perlu latihan vokal dari ku?"
"Kau makin menyebalkan saja, Min."
"Apa itu pujian?"
Yang di susul tawa Changmin karena berhasil membuat Yunho kesal dan mulai melemparinya dengan barang yang ada. Van bergoncang akibat ulah mereka yang berakibat sebuah teguran dari sopir yang mereka.
"Aku tahu aku itu tampan. Apa lagi setelah bangun tidur. Perlukah aku memberimu sebuah foto ku agar bisa kau pandangi setiap hari?"
Melotot tak percaya atas kadar kenarsisan Changmin yang memasuki ambang rata-rata. Yunho merangsek ke arah Changmin dan menggerakkan tangannya seolah akan mencekik Changmin.
"Baiklah. Kau juga tampan hyung. Jadi, ada apa membangunkan ku dari tidur cantik ku?"
Cih! Tidur cantik dari mana? Sabarlah Yunho. Magnae-mu ini memang usil.
"Sebentar lagi kita akan sampai ke tempat. Pemandangan nya sayang untuk kau lewatkan. Coba lihat ke luar."
Disibaknya tirai jendela yang menutupi van dan mulai mengelap kaca yang berembun dengan siku nya. Dan sepertinya Changmin memasuki mode terpesona untuk saat ini.
"Biar ku tebak. Sesekali aku ingin memanfaatkan kejeniusan otak ku, hyung."
Yah sesukamu lah, magnae. Yunho mencoba menikmati perubahan ekspresi magnae yang sepertinya mulai menikmati perjalanan ini. "Prefektur Gifu, Distrik Ono..."
Sunyi sesaat. Tak ada tanda-tanda bahwa Changmin akan melanjutkan kalimatnya. Van masih melaju dengan kecepatan sama mulai memasuki jalanan desa yang penuh salju. Salah satu desa yang menjadi destinasi utama para wisatawan ketika di Jepang saat musim dingin. Changmin sepertinya masih mencari-cari informasi yang sesuai mengenai tempat ini di pikirannya. Namun tak kunjung ia temukan juga.
"Kau tahu atau tidak? Ini bukan permainan teka-teki, Changmin."
Yunho mulai memandang malas karena suasana yang hanya di liputi bunyi kendaraan saja, harusnya kan lebih ramai karena si-biang keributan sudah bangkit dari tidur 'cantik nya'.
"Jangan kau jawab, Yunho hyung. Aku tak ingin mempermalukan kemampuan otak ku di depan dirimu. Aish, kenapa otak ku menjadi berkarat seperti ini sih. Ayo Shim Changmin. Ingatlah~"
Pandangannya tak lepas dari jendela van yang kini mulai berganti pemandangan dengan hadirnya beberapa rumah yang terlihat seperti tengah berdoa di tengah hujan salju. Sinar matahari membuat tumpukan salju seolah-olah berkelap-kelip diantara pepohonan yang mulai menjarang. Yunho hanya bisa tersenyum kecil melihat kelakuan Changmin.
"Jika kau berkata seperti itu, artinya kau tak akan tahu, Min."
Changmin mendelik kesal pada Yunho yang kini malah sibuk memainkan tab-nya. Mengabaikan pandangan Changmin yang sepertinya merasa, agak diremehkan.
"Ini di Shiragawa–go. Aku mengajak mu kesini, karena aku ingin kesini. Salju di sini adalah yang terbaik di Jepang. Makanannya, aku belum menemukan referensi yang cukup memuaskan. Bagaimana?"
Di akhiri penjelasan singkat dari Yunho hasil mencontek dari deretan huruf-huruf pada tab-nya.
"Kau curang, hyung! Kau mencontek, sedangkan aku hanya bermodalkan pikiran dan ingatanku. Dan tidak ada informasi mengenai makanan? Aku akan makan apa di sana nanti? Kau menyebalkan, hyung."
Sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menggembungkan mulutnya dengan alasan sebal pada Yunho, Changmin memfokuskan pandangannya pada wajah Yunho. Pandangan matanya seolah terkandung kalimat, 'tidak bisakah seorang Yunho lebih baik kepada adik kesayangannya ini?'
"Tenang saja, Min. Ku pastikan kau akan makan besar di sini. Lagi pula selama 2 hari ke depan akan ada festival tahunan."
"Hyung! Apa kita akan menginap di salah rumah-rumah itu? Apa namanya? Cari tahu di contekanmu itu! Bolehkah aku meminta uang saja padamu dan pergi membeli makanan sendiri?"
Celotehan Changmin tak putus memenuhi van, mengabaikan penjelasan Yunho mengenai makan yang biasanya bisa membangkitkan Changmin. Mereka mulai memasuki bagian desa lebih dalam. Deretan rumah yang semula jarang terlihat kini berjejer rapat antara satu yang lain. Di pisahkan oleh pagar yang di bentuk dari tumpukan salju. Tiba saat sore hari juga tak buruk, Yunho dan Changmin mendapatkan jam tidur dan jalanan desa terlihat begitu menarik.
"Rumah tradisional itu bernama gasshouzukuri. Kau lihat atapnya yang begitu panjang yang menutupi nyaris ¾ bentuk rumah? Itu karena desa ini salah satu tempat yang memiliki curah salju terbesar di dunia. Kita akan menginap di penginapan yang telah ku siapkan. Rumah-rumah itu yang akan jadi objek wisata kita. Mungkin besok kita akan berjalan-jalan ke sana. Gunakan uangmu sendiri jika ingin pergi makan sendiri. Posisi mu di sini adalah menemani ku. Mengerti?!"
Panjang dan lebar Yunho menjelaskan nya. Walaupun Changmin terlihat seperti tak mendengarkannya, Yunho tahu bahwa dia di dengarkan dengan baik. Sekali lagi Yunho memberikan afeksi positif kedalam jiwanya, bahwa wajah bahagia Changmin adalah alasannya. Alasan untuk banyak hal.
"Hari ini kau memang baik sekali, Yunho hyung." Tawa renyah Changmin.
"Aku selalu baik setiap hari, babo. Kau saja yang tak pernah merasakan kebaikan hatiku."
Ujar Yunho sambil membuka pintu van setelah berbicara sedikit kepada sopir dan membawa tas nya kemudian menutupnya tanpa berkata apa-apa lagi pada Changmin.
"Yunho Hyung! Jangan marah pada ku. Aku hanya bercanda!"
Teriak Changmin yang di susul dengan gerakan tergesa nya keluar dari van, mengejar Yunho yang berhenti beberapa meter di depannya yang sudah berbaur dengan para wisatawan yang lain.
Ada banyak kalimat yang sebenarnya tak perlu mereka ucapkan untuk mengungkapkan apa yang tengah mereka pikirkan. Hanya saja, dengan mengucapkan apa yang kau inginkan itu akan membuat perasaan lebih baik. Semoga saja semua akan baik-baik saja.
You know your truly love somebody,
when they hurt you so badly,
but you can think about it is time when they made you smile.
...
Shiragawa-go adalah salah satu spot yang sangat menjanjikan untuk lokasi pemotretan. Rumah-rumah tradisional yang sengaja di pertahankan keaslian nya berjejer rapi. Pada event Shiragawa-go Light Up tahun ini jumlah wisatawan makin ramai saja.
"Aku lapar." Interupsi Changmin pada Yunho yang masih asik mengabadikan suasana yang ada dengan kamera nya.
Pada awalnya Changmin menikmati perjalanan ini karena wangi makanan langsung menyusup mampir pada indera penciuman nya, namun Yunho terlebih dahulu menyeretnya lebih jauh ke daerah event festival sebelum sempat Changmin menyapa makanan enak yang dalam bayangannya sudah berubah menjadi begitu menggoda iman untuk membantah Yunho.
"Hyung. Aku lapar." Rengek Changmin lagi.
"Hmm." Hanya itu untuk menjawab Changmin? Magnae merasa terabaikan.
"Hyung." Lagi. Changmin masih belum patah semangat mengajak Yunho makan. Di tarik kecil mantel Yunho. Memberikan tanda lebih. Pandangan mata Changmin begitu mengiba. Kenapa tak pergi sendiri saja, Changmin? Hanya membeli makanan kan? Sebenarnya bisa saja. Tapi sejak awal Yunho tidak mengizinkan Changmin kemana pun selain menemaninya tanpa alasan apapun, termasuk membeli makan. Sedangkan sepanjang perjalanan 3 jam di Shiragawa-go hingga pukul 6 sore Yunho belum mau berhenti di satupun tempat makan.
"Aku pergi sendiri saja. Aku lapar, hyung. Sampai jumpa di penginapan."
Akhirnya Changmin memutuskan untuk memisahkan diri dari Yunho dan memilih mencari makan sendiri. Changmin berlari meninggalkan Yunho. Bergabung dengan kerumunan wisatawan yang lain. Yunho hanya menatap punggung Changmin dari kejahuan.
"Aku tak tahu harus bersikap seperti apa jika nanti kau bertemu dengan mereka, Changmin."
Salju masih terus turun. Gelap semakin pekat merayapi dunia. Walaupun bintang tak ada yang terlihat tetap tidak mengurangi semarak malam ini. Lampu-lampu di sekitar rumah sengaja di nyala kan sehingga menambah kesan dramatis nya suasana. Changmin baru saja keluar dari salah satu tempat makan yang ketiga dia datangi. Dia benar-benar menikmati wisata kuliner kali ini. Kapan lagi dia akan mendapatkan kesempatan langka seperti ini?
Meskipun Changmin seorang superstar di Korea –dan di Jepang pun begitu- orang-orang tidak mengganggu privasi nya saat menjadi orang biasa. Mereka bersikap seolah tidak mengenalnya walaupun Changmin sadar sedari tadi ada beberapa orang yang mengikutinya diam-diam. Toh, ini memang sudah menjadi resiko nya ketika mengambil jalan menjadi seorang Idol. Juga resiko untuk siap di pisahkan dengan cara yang menyakitkan dengan orang yang sudah menjadi salah satu keping hidupmu.
Sambil membawa kamera, Changmin menyusuri jalanan bersalju. Seseorang di persimpangan jalan menarik perhatiannya. Langkahnya perlahan bergerak pada sosok misterius itu sebelum sebuah dering handphone mengusiknya.
"Moshi-moshi (halo)! Changmin sedang makan. Silakan hubungi beberapa saat lagi."
Sahutnya setelah melihat nama yang tertera di layar handphone.
"Ya! Changmin! Kembali ke penginapan sekarang. Ini sudah pukul 8 malam, jangan buat aku menghabiskan makan yang sudah banyak aku pesan ini. Kau masih sanggup menghabiskannya kan?"
Dan bla bla bla.. kalimat berikutnya tak tertangkap pendengaran Changmin. Semua fokus nya tertuju pada sosok di simpang itu. Temaram lampu memperlihatkan kepada Changmin siapa sosok orang yang sedang berdiri.
"Min? Changmin? Kau mendengarkan ku?"
Sedangkan yang di sambungan telepon khawatir karena lawan bicara nya tak juga menyahut walaupun berulang kali Yunho memanggilnya. Khawatir? Tentu saja. Tak biasanya Changmin mengabaikan panggilannya.
"Changmin?" di ulanginya sekali lagi panggilannya. Namun nihil.
Changmin masih terdiam. Mendadak kakinya menjadi kaku sekali dan dingin yang sedari tadi diabaikan nya kini terasa begitu menusuk. Padahal ingin sekali Changmin menghampirinya. Ingin sekali. Waktu berjalan begitu lambat bagi Changmin saat ini. Tangan kanannya masih saja menggenggam handphone yang masih belum terputus sambungannya dari Yunho.
Kini, pandangan mereka bertemu. Seumur hidup, Changmin tak akan pernah melupakan pemilik iris mata itu. Mata doe yang selalu memancarkan rasa sendu. Angin berhembus, menerbangkan salju menghalangi Changmin untuk melihat sosok itu. Menambah penyebab mata Changmin yang mengabur dalam memfokuskan pandangannya selain air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
Kalimat yang ingin dia sampaikan pertama kali ketika melihat sosok ini adalah, 'Aku sayang padamu dan begitu merindukan mu, Jaejoong hyung.' Namun lidahnya begitu kelu untuk mengatakan itu dan makin sulit saja mengingat perpisahan mereka yang lalu. Perlahan, langkah kaki Changmin bergerak menuju sosok bernama Jaejoong yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. Meninggalkan sekelumit rasa takut yang menderanya, kemungkinan bahwa Jaejoong hyung-nya akan menolak dan tetap meninggalkannya.
Ada begitu banyak emosi yang tersampaikan dalam beberapa detik ini. Kepedihan dan kerinduan yang mendalam dari keduanya. Jaejoong masih di tempatnya. Menatap terkejut pada Changmin yang semakin dekat jaraknya. Terganggu dengan pandangan Changmin yang begitu mengiba padanya. Terlihat padanya, beberapa air mata lolos dari pelupuk mata Changmin. Ini terasa lebih menyakitkan baginya. Ingin sekali Jaejoong merengkuh adiknya itu kedalam pelukan dan menghentikan air mata yang tak sepantasnya keluar untuk seorang Jaejoong.
Jaejoong tahu ia merindukan Changmin. Sangat malahan. Begitu pun rasa rindu nya pada Yunho. Belum sempat Changmin melaksanakan niatnya untuk memeluk dan menyeret Jaejoong ke hadapan Yunho. Changmin kembali berhenti di jarak 7 meter sebelum mencapai Jaejoong dan mulai kehilangan kuasa pada tubuhnya ketika melihat siapa yang datang. Yang kemudian, Jaejoong sudah terlebih dahulu di tarik pergi oleh seseorang.
"Hyung! Ah~ akhirnya kami menemukan mu disini." Suara nyaring miliknya yang tak pernah berubah dengan uap yang keluar dari mulutnya.
"Ayo kembali ke penginapan, Jaejoong hyung. Aku di buat stress karena Junsu bersikeras tak akan makan jika kau tak pulang."
"Aku kan hanya khawatir pada Jae hyung."
Jaejoong hanya diam saja ketika di tuntun pergi. Dua orang yang baru datang itu tak menyadari sosok yang terpisahkan 7 meter. Ada seorang Changmin yang kini hanya bisa terduduk di tengah hujan salju. Sendirian.
...
Terima kasih kepada yang sudah me-reviewnya. Aku berencana akan melanjutkannya selama aku masih belum menemukan akhir yang sesuai dengan plot yang sudah aku bangun.
Maaf jika masih ada typo yang terlewatkan.
mohon reviewnya...
