Tales of the Steel Flower Princess


[Jumpa lagi dengan saya, Kaien-Aerknard! Chapter 2 'Tales of the Steel Flower Princess' updated! Jadi bagaimana cerita sebelumnya? Apakah cukup meng-entertained readers sekalian? Ini adalah reply untuk review di chapter 1:

1. PyroMystic: sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah menjadi first reviewer untuk cerita ini XD Ah, saya sengaja mengambil 'Yun-Yun' sebagai nama panggilan Zhao Yun dari OC saya begitu juga 'Xu-Xu' sebagai nama panggilan Xu Yin dari Zhao Yun. Sekali lagi, terima kasih atas reviewnya ^^

2. Zephyrus: sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas review dari Anda. Wah... rupanya fanfict saya kesalahannya cukup banyak ya? Hahaha... terima kasih karena sudah mau mengkritik kekurangan dari fict saya ini. Baiklah saya akan perbaiki kesalahan saya. Jika masih ada kesalahan, silahkan dikritik dan maklumi karena saya masih author pemula hehehe. Ah ya mengenai beberapa typo itu, kadang saya mengetiknya terlalu cepat sehingga tidak menyadari typo itu. Maafkan saya ^^ Akhir kata, terima kasih untuk kritik dan sarannya.

3. ShiYu and Aristashia: Wah... makasih untuk review dan pernyataan likenya ya ^^ Dan seperti yang ShiYu-san inginkan, ini updatenya! Enjoy!

4. Black Roses: salam kenal juga dan enjoy chapter 2 nya ^^ hahaha

Yak, sekian pesan dari author ini. Langsung saja... to the story!]


Disclaimer: I don't own the DW character. I just own the story, oc and oc's weapons. That's all.


Chapter 2: Start of a New Life

[Changshan, 7.00 a.m]

Chip! Chip! Chip!

Aku mendengar suara burung pipit berkicau dan kadang ayam jantan berkokok, menandakan matahari sudah terbit dan ini saatnya untuk bangun. Aku membuka mataku dengan perlahan dan memang benar, keadaan kamar menjadi terang oleh sinar matahari yang masuk melalui jendela yang berada di kiriku. Aku duduk di atas kasur, menguap sekali lalu menengok ke arah kanan, menemukan Zhao Yun sudah tidak ada. Tikar dan selimut yang ia gunakan untuk tidur sudah dibereskan.

"Kemana Yun-Yun?" Aku bertanya dalam hati dan menguap sekali lagi.

Aku turun dari kasur, merapihkan selimutku lalu berjalan keluar. Aku melihat Ibu Zhao sedang duduk sambil menyulam. Ia menyadari keberadaanku dan langsung menyapaku.

"Pagi, Xu Yin. Bagaimana tidurmu semalam?" Ia bertanya dengan senyum di wajahnya.

"Baik. Aku tidak ada masalah dengan tidurku." Aku membalas. "Oh iya, dimana Yun-Yun?"

Hah! Heyah!

Heh? Suara itu... suara Yun-yun kan?

"Yun sedang latihan bela diri di bukit belakang sejak tadi pagi."

"Oh, baiklah." Aku hendak pergi ke bukit yang berada di belakang rumah tetapi Ibu Zhao menyuruhku untuk mengganti bajuku terlebih dahulu sehingga aku pergi ke kamar dan mengganti bajuku dengan pakaian yang digunakan oleh orang-orang disini.

Setelah aku selesai mengganti pakaian, aku langsung pergi ke bukit belakang dan menemukan Zhao Yun sedang berlatih menggunakan tombak kayu. Aku mengamatinya dari jauh. Ia mengayunkannya dengan sangat lihai, bagaikan seorang ahli tombak. Ia memutarnya ke kiri dan kanan secara bergantian, lalu mengangkatnya ke udara dan dibanting sekuat tenaga. Aku memandangnya dengan takjub dan berjalan ke arahnya sambil bertepuk tangan. Zhao Yun menyadari kehadiranku langsung menghentikan latihannya dan menyapaku.

"Pagi, Xu-Xu."

"Pagi, Yun-Yun!" Aku melambaikan tanganku sambil berjalan ke arahnya.

"Mau ikut latihan bela diri bersamaku?" Ia bertanya dengan ramah.

"Loh? Aku tidak bisa menggunakan tombak. Mengangkatnya saja belum tentu kuat."

Ia tertawa mendengarnya. "Tapi wajar juga ya... baiklah kalau begitu, aku mau berlatih lagi."

Ia mulai mengayunkan tombak kayunya lagi setelah kalimat itu selesai ia ucapkan. Aku berjalan ke arah sebuah pohon yang tidak jauh dari tempat ia berlatih dan duduk di sana. Sambil menikmati udara pagi yang sejuk, kulihat Zhao Yun yang terus mengayunkan dan menusukan tombaknya. 10 menit telah berlalu dan Zhao Yun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia meletakkan tombaknya di atas tanah lalu duduk di sebelahku. Ia mengusap keringat di wajahnya dengan tangannya lalu menghela nafas.

"Eh, kenapa sih kau latihan seperti itu? Hanya hobi saja atau apa?" Aku bertanya karena heran terhadapnya. Masa anak kecil diperbolehkan untuk berlatih senjata. Seharusnya kan tidak boleh. Apalagi meski senjata ini dari kayu, ujungnya mungkin setajam yang dari besi. Bisa melukai orang lain kan?

"Kalau kau mau hidup di dunia ini, kau harus bisa bertarung." Itulah balasannya.

Aku tidak mengerti apa yang ia maksud. Aku menatapnya, mengangkat alis kananku dan kembali bertanya dengan penuh keheranan. "Hah? Memangnya sekarang sedang terjadi apa? Konflik? Bukannya seharusnya sudah damai-damai saja?"

"Hah... rupanya kau belum tau ya? Aku dengar kalau ada seseorang yang meramalkan akan terjadi pemberontakan terhadap kekaisaran sehingga aku memutuskan untuk melatih diri sebagai persiapan jika sewaktu-waktu pemberontakan itu terjadi." Ia mengambil nafas sebelum melanjutkan penjelasannya. "Aku ingin menjadi seorang jendral yang bisa melindungi keluargaku, kaisar dan juga rakyat Han."

"Loh? Kaisar?"

"Yah... Kaisar Dinasti Han kita ini."

"HAAAH?!" Aku membelakkan mataku sambil berteriak padanya. "Dinasti Han?!"

"Iya. Jangan bilang kau tidak tau."

"Masa?!" Aku kembali berteriak sehingga Zhao Yun menutup kedua telinganya dengan tangannya karena suaraku yang cukup keras.

"Iya. Masa kau tidak tau?" Terlihat ekspresi bingung terlukis di wajahnya.

Jadi... aku berada di zaman Dinasti Han?! Pantas saja mereka tidak tau tentang baju yang kukenakan dan tentang Beijing! Aku lalu memegang kedua bahunya dan mengoyangkan Zhao Yun. "Serius kau?!"

"A-aku serius... Xu-Xu. T-tolong j-jangan goncang-goncangkan b-badanku lagi! Pu-pusing...,"

"Oh maaf." Aku melepaskannya dan ia memegang kepalanya.

"Se-sepertinya aku melihat 5 naga kecil terbang berputar-putar mengelilingiku...," Ia berkata dengan lemas sebelum akhirnya pingsan.

"Wah! Yun-yun!" Aku langsung panik dan menggoncangkan badannya lagi. "Bangun!" Aku melihat ke kiri dan kanan dengan panik dan menemukan seember air dingin di dekat kami. Karena terlalu panik dan pikiranku sudah lari kemana-mana, aku langsung mengambilnya dan menyiramkan air didalamnya ke Zhao Yun. Ia langsung sadar dan melompat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan maksud untuk mengeringkan wajahnya.

"Wah! Kau gila, Xu-Xu!"

"Ma-maaf! Ha-habisnya aku khawatir...," Aku mulai menangis. "Aku kira Yun-Yun sudah mati!"

[Zhao Yun's P.O.V]

"Xu-Xu! Jangan menangis!" Aku langsung memeluk Xu Yin dan menenangkannya supaya tidak menangis lagi. "Tenanglah. Aku kan tidak mungkin mati semudah yang kau kira." Aku mengelus rambutnya dan terus menenangkannya. "Sudah, sudah. Aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir."

Setelah beberapa saat, Xu Yin sudah mulai tenang dan akhirnya berhenti menangis. Hidungnya menjadi merah dan pipinya basah oleh air matanya. Aku menghapus air mata yang masih tersisa dengan ibu jariku dan tangan kiriku mengelus rambutnya.

"Jangan menangis lagi ya, Xu-Xu!" Aku tersenyum lebar dan kelihatannya sangat berefek terhadapnya.

Ia tersenyum balik padaku. Senyum manis itu membuat ia tampak sangat lucu. Tanpa disadari, tanganku mencubit kedua pipinya.

"Yun-Yun! Sakit!"

"Oh, maaf." Aku langsung melepaskan cubitanku dan mengelus pipinya. "Tapi aku akui, wajahmu yang mengemaskan itu membuatku ingin mencubit pipimu lagi." Aku tertawa terbahak-bahak dan menerima sebuah jitakan pelan di dahiku. "Aduh!" Aku mengusap-usap dahiku dengan tangan kananku. "Nakal ya kau." Aku menegurnya. Ia hanya tertawa kecil dan aku hadiahi dia dengan sebuah cubitan lembut di pipi kirinya. Aku berbalik dan mengambil tombakku yang tadinya aku letakkan di tanah. "Jadi, Xu-Xu, mau berlatih bersamaku?"

"Eh? Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri.

"Iya." Aku mengangguk sekali. "Jadi, kau mau?"

Ia tampak berpikir sebentar dan menerima ajakanku. Aku langsung menariknya dengan semangat dan mulai melatihnya. Aku meminjamkan tombak kayu milikku karena pada saat ini, aku hanya memiliki sebuah tombak jadi ya... harus kupinjamkan agar ia bisa berlatih menggunakannya.

"Nih, biar aku beri contoh dulu. Perhatikan baik-baik ya."

Aku memasang kuda-kuda bertarung lalu mengayunkan tombakku ke kiri. Aku memutar-mutar tombakku ke atas, kiri, kanan, depan dan belakang lalu melompat berputar 270 derajat sambil mengangkat tombakku lalu membantingnya ke tanah. Aku menatapnya dan melihat bahwa Xu-xu memerhatikanku dengan takjub sampai-sampai mulutnya terbuka seakan-akan seperti orang yang melihat sesosok err... Dewa?

"Wah... Hebat...," Ia memuji.

"Jadi, kau mau mencobanya?"

"Boleh boleh!" Ia bangkit dan berjalan ke arahku dengan penuh keantusiasan. Aku memberikan tombakku padanya dan begitu ia mencoba mengangkatnya, ia tidak sanggup dan menjatuhkannya. "Yah... aku tidak kuat mengangkatnya. Aku belum pernah mengangkat benda yang berat seperti ini."

Aku menepuk bahu kirinya. "Sabar saja. Ini baru pertama kalinya kan kau memegang benda seperti ini? Tidak perlu tergesa-gesa kok. Santai saja." Aku menghiburnya.

"Baiklah!" Ia mengangguk dan semangatnya kembali berkobar lagi. Heh... dasar Xu-Xu.

"Kita coba dulu dari dasar kalau begitu." Aku melihat ke kiri dan ke kanan dan menemukan sebuah tongkat kayu tergeletak di dekat sebuah pohon. Aku berlari dan mengambil tongkat kayu itu lalu memberikannya kepada Xu Yin. Setidaknya tongkat ini lebih ringan dibanding tombak kayuku.

"Kau coba dulu mengangkat benda yang ringan seperti ini." Aku menyerahkan tongkat itu ke Xu Yin. "Coba ayunkan ke arah manapun yang kau sukai."

Ia menerimanya dan langsung mengayunkannya. Tetapi ia masih belum bisa mengendalikan arah ayunannya dan masih terpengaruh oleh berat pada ujung tongkat itu sehingga secara tidak sengaja tongkat itu hampir memukul kepalaku. Aku menghindari ayunan tongkat itu dengan menunduk dan langsung menghentikan Xu Yin agar ia tidak kembali mengayunkan tongkatnya ke arahku. Aku menghela nafas lega.

"Kurasa kau harus mulai dari dasar yang paling dasar." Aku menyarankannya.

Ia pun terlihat menyetujuinya sehingga aku melatihnya dari dasar. Mulai dari mencoba mengangkat tongkat itu dengan benar, menjaga keseimbangan dan lain-lain. Satu jam sudah terlewati dan ia sudah mulai bisa mengendalikannya. Ia melompat dengan girang dan mulai mencoba memutarkan 'tombak'nya itu dengan gerakan seperti yang kuperagakan. Melihatnya, aku juga langsung mengambil tombakku dan berlatih bersamanya.

"Tusuk ke dapan!" Aku menusukkan tombakku ke depan dan ia mengikutinya.

"Balik!" Aku berbalik sambil memutarkan tombakku dan lalu membantingnya.

Ia juga melakukan hal yang serupa tanpa ada kesalahan sedikitpun. Aku memberinya komando dan aba-aba sambil memutarkan tombakku ke dapan, kiri, belakang, kanan dan atas. Ia kembali mengikutinya dan terlihat mulai lancar dengan gerakan itu.

"Banting!" Kami berdua secara bersamaan membanting tombak kami ke tanah.

"Yay! Aku mulai bisa! Hore! Hore!" Ia kembali melompat dan berteriak dengan girangnya. Aku hanya tertawa melihatnya.

"Nah, coba dengan tombak kayu sekarang."

"Baik, shi fu!" Ia meletakkan tongkatnya di atas tanah dan aku memberikan tombakku padanya. Tidak seperti saat ia pertama mengangkatnya, kali ini ia sudah bisa mengangkat tombak itu dan langsung bisa menyesuaikan berat tombak itu.

"Coba ayunkan seperti tadi."

Ia langsung melakukan semua gerakan tadi dengan cepat dan mengulangnya sekali lagi yang ia akhiri dengan sebuah bantingan yang cukup kuat. Aku menepuk tangan dan memujinya.

"Kau memang hebat, Xu-Xu!" Aku memujinya sambil mengacungkan ibu jariku. "Kau pasti akan menjadi seorang jendral yang sangat hebat nantinya!"

"Ah... itu belum seberapa." Wajahnya sedikit memerah dan ia menundukkan kepalanya.

Aku hanya tertawa-tawa melihat tingkahnya dan menepuk bahunya. "Nah, latihan hari ini kita sudahi dulu ya. Kau pasti sangat lelah."

"Tidak! Aku malah merasa lebih bersemangat!" Ia berkata dengan semangat membara. "Nanti sore latihan sekali lagi ya. Kumohon, shi fu~" Ia merengek.

"Baiklah." Aku menepuk kepalanya dan mengusap rambutnya.

"Zhao Yun! Xu Yin! Tolong bantu ibu mengangkat jemuran!" Ibuku memanggil. Kami langsung berlari ke arahnya dan membantu ibuku mengangkat jemurannya. Sungguh, hari ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan karena aku mendapatkan seorang teman latihan baru. Hahaha.

To Be Continued...


Kaien-Aerknard: Huft... Ternyata mengetik itu memang melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Okay, Xu Yin dan Zhao Yun~

Yin dan Yun: Ya, kakak?

Kaien-Aerknard: #wink

Yin dan Yun: Okay~ Mind to RnR, ge ge dan jie jie readers? :D


Author's Note: Seperti biasa, kalau ada typo dan mungkin kesalahan bahasa, tolong diberi tau ya. Review, saran, komentar dan kritik Anda bisa membantu author untuk memajukan gaya cerita ini. Terima kasih sudah membaca dan terima kasih lagi bagi mereka yang sudah meng-review. ^^


~Finishing Note ~

1. Xu-xu adalah nama panggilan dari Zhao Yun untuk Xu Yin yang bernama lengkap Yang Xu Yin. Sementara Yun-yun adalah nama panggilan dari Xu Yin untuk Zhao Yun. Seperti yang tertera dalam review dari PyroMystic, memang biasanya anak kecil dipanggil dengan 'xiao' atau 'a' lalu namanya. Contoh: Xiao Yun. Tetapi kenapa saya pilih Xu-xu dan Yun-yun? Menurut saya, nama panggilan seperti ini lebih lucu saja hahaha ^^

2. Shi fu artinya guru. Tapi 'shi fu' ini adalah guru yang mengajari seni bela diri.

3. Dinasti Han adalah sebuah dinasti besar yang didirikan oleh Liu Bang alias Han Gao Zu. Dinasti ini umurnya kurang lebih 4 abad dan hancur setelah Cao Pi menurunkan kaisar dan meresmikan berdirinya Wei, mengakhiri zaman Dinasti Han dan sejak saat itu, Tiongkok terbagi menjadi 3 yaitu Wei di utara, Shu di barat dan Wu di selatan yang kemudian disatukan oleh keturunan Sima. Dinasti Han terbagi menjadi 2 yaitu Han timur dan Han Barat. Kaisar terakhirnya adalah Han Xian Di.

4. Zhao Yun atau Zhao Zilong adalah orang yang berasal dari Changshan, Zhengding. Ia adalah salah seorang dari Wu Hu Jiang dan salah satu jendral yang berperan besar dalam berdirinya Shu. Zhao Yun adalah seorang jendral yang sangat setia pada Liu Bei. Peristiwa yang paling heroik adalah pada saat ia menyelamatkan A Dou (anak tungggal Liu Bei dengan nama asli Liu Shan) di Changban, Dangyang. Ia meninggal pada tahun 229 tetapi tahun kelahirannya masih misterius. Banyak yang memperhitungkan ia lahirnya tahun 168.