"...Selamat atas pertunanganmu dengan Seo."

Mengapa jadi begini?


.

.

.

[ Ketika Lonceng Berbunyi ]

the continuation

Assassination Classroom (c) Matsui Yusei
Special fic for Asano Gakushuu's Birthday 2016

Sakakibara Ren x Asano Gakushuu

.

Warning:
OOCness (well... yang fanatik IC tolong jauh-jauh ya, ku tak menerima protes soal OOC), NTR AND PHO warning, misstypos, messy POV, acak-acakan, gatal-gatal pershojoan, gakuchuu's qoqoro is fuwafuwa like a cotton candy. Btw walaupun rate T saya agak ragu (?) sebenernya sih mau dimasukin ke M tapi ga jadi lah #oi dan terakhir: GOMBAL!
Don't like please don't read!

.

Dengarlah, sayangku, awal dari segalanya, juga akhir dari segalanya.

.

.

.


...

"Kami mengharapkan kebahagiaanmu. Yah, melihat dirinya yang sekarang, Seo pasti mampu mewujudkannya."

Bibir bawah didesak oleh deretan gigi, mungkin tak lama akan meneteskan merah kentalnya. Pandangan yang kian mengabur ia elakkan dari tatapan siapapun, terutama Sakakibara, yang notabene kekasihnya sampai detik ini. Begitu getir senyum sang pujangga, bagai payung rusak yang dipaksa mengembang , susah payah membekukan hatinya demi kebahagiaan sang kekasih. Namun Asano paham betul, segalanya tersampaikan lewat jemari yang ia genggam, yang begitu dingin lagi gemetar.

"Ng, itu... Sakakibara."

"Jangan mengkhawatirkanku, Araki. Koyama juga." Lengkung yang jelas sekali dipaksakan itu masih setia di sana, berusaha meredakan pahit dalam mimik ketiga sahabatnya. "Aku yakin, aku dapat mempercayakannya pada Seo. Ia orang yang baik."

Strawberry blonde ditepuk singkat. Sakakibara mendengus, kemudian mengusap ametis redup sang kekasih yang seakan dapat mencurahkan hujan kapan saja.

"Ada apa sih, wajahmu itu? Tidak seperti dirimu saja. Ngomong-ngomong, acaranya pada akhir Januari, bukan? Aku akan datang, jangan khawatir."

Sakakibara Ren adalah pihak yang paling benci, sekaligus paling hapal jadwal pernikahan kedua sahabatnya.

"Ditambah lagi... Kalian berdua akan pindah ke Amerika, ya. Pasti asyik ya, tinggal di luar negeri. Walau mungkin jadi agak sepi, sih."

.

Jelas sepi, karena aku takkan dapat menjumpaimu lagi.

Bahkan bayi pun mengerti itu.

.

"Tapi memang, akan lebih mudah jika kalian menetap di sana, ya. Seo sudah berpengalaman tinggal di sana, ditambah kalian berdua mahir berbahasa Inggris... Lagipula, jika akan melanjutkan di Harvard, itulah opsi terefisien, ya."

.

Kau tahu berapa lembar kertas yang telah terbuang, berapa diksi yang telah kupelajari, berapa sekon telah kulewati—yang kini percuma saja berkat titah egois dua kepala keluarga?
Ambisiku untuk terus melangkah bersisian denganmu di universitas yang sama kini kandas sudah.

Apa dosa kami hingga harus dipisahkan? Wahai Tuhan, Engkau tega sekali.

.

.

.

Botol sake kosong dibanting keras, tak hirau dengan serpih tajam beling yang mengoyak kulit kakinya. Asano Gakushuu, tersangka perusakan barang barusan, masih tegak di sana, dengan nafas naik turun. Kedua ametisnya nampak nanar.

"H-Hei, Asano-kun... Mengapa tiba-tiba..." Sakakibara berujar cemas dan refleks mendekap sang kekasih, membawanya jauh dari jangkauan kepingan beling. Kedua telapaknya bersaksi, betapa bising pacuan jantung serta hela nafas sang strawberry blonde.

"Ren... Kau tidak peduli padaku? Apa sesungguhnya... Tak setitikpun perasaanmu tertuju padaku?"

"E-Eh?" Sepasang emerald terperanjat. "Apa maksudmu, tentu saja aku—"

"Aku tidak mau tahu lagi."

Entah sejak kapan, nada setegas itu tak pernah lagi tertangkap gendang telinganya. Dan ia kembali menampakkan wujud di tengah cekaman sunyi ini. Sakakibara sendiri menolak untuk memercayai pendengarannya.

Mengapa... Ia marah padaku?

Pintu dibanting keras. Masih beruntung papan kayu malang itu tidak senasib dengan botol sake yang hancur mengenaskan. Namun tetap saja, sangat jelas kalau Asano tengah hilang kendali oleh kobaran amarah—seseorang harus menghentikannya.

"Asano..."

"Hei, hei, Sakakibara, kau tidak boleh begitu." Alis kehijauan Araki bertaut sementara caramel gelapnya menyerang emerald, "Sama sekali bukan kalimat cerdas untuk mengelabui Asano. Kalau kau berkata seperti itu, hanya akan meninggalkan kesan cuek."

"Tidak mungkin! Maksudku bukan—"

"Aku tahu, sangat tahu seakan itu perasaanku sendiri, sampai muak rasanya. Namun bukan kalimat seperti itu solusinya. Kau sendiri tahu ini sangat mendadak, tak heran ia cemas dan pikirannya tak stabil." Decak singkat mendahului lanjutan kalimat, "Mestinya kau bersyukur aku menahan diri untuk tidak meninjumu."

Kh.

"Pikiranku pun kacau, Araki! Lagipula, ini berawal karena kalian—"

"Mau kami mengatakannya maupun tidak, pertunangan mereka sudah terlanjur terjadi, dan akan disusul dengan pernikahan tak lama lagi. Dan kau malah membuatnya semakin stres seperti itu." tambah Koyama, memotong kalimat sang pujangga.

"Padahal aku sudah berhati-hati agar tak menyakitinya... Aku hanya ingin dia tak mengkhawatirkanku. Merusak kebahagiaannya adalah hal yang paling ingin kuhindari..."

"Dan kau telah melakukannya, cepak. Kejar dia sekarang juga, atau kau akan menyesal. Abaikan saja beling-beling itu, mereka urusan sang pemilik rumah."

.

.

.

.

.

.


Tatap muram ditujukan pada permukaan telaga pengrefleksi dirinya. Tanpa sadar, jarak yang cukup jauh telah ia capai selama berlari tak tentu arah. Celana olive yang membalut kakinya tercoreng noda di beberapa sisi, akibat kecerobohannya sendiri—jatuh bangun berulang kali. Dapat ia rasakan merah basah mengaliri bagian lututnya yang kini terasa perih.

Di mana ini? Jangan bilang... Gunung? Rumah keluarga Araki terletak di tepi bukit, jadi mungkin saja...

Ketika hendak meminta petunjuk dari konstelasi, yang ia dapati adalah angkasa muram yang mulai menitikkan air mata. Hanya rimbun hijau kehitaman sebagai penaung dirinya, tanpa berbekal senter atau apapun yang dapat menjadi pelita.

"Mau apa lagi..."

Asano duduk memeluk lutut, memalingkan pipi basahnya dari barisan pepohonan kokoh yang memandang iba. Mana sudi ia memamerkan wajah memalukan seperti ini, walau hanya gunung sepi yang dapat melihatnya.

Ya, hanya gunung sepi, satu-satunya.

Mungkin ada baiknya ia tersesat. Pas sekali, ketika ia ingin lari dari kenyataan yang menghimpitnya. Ingin rasanya menjauhi kumpulan orang—ya, karena setiap Asano menemui mereka, yang menyambutnya adalah seuntai kalimat kejam: 'Selamat atas pertunangannya.'

Ia ingin menghilang saja—baru pertama kalinya ia merasa sepahit ini.

.

.

"Kurasa aku mendengar isak seekor robin mungil kesepian di tengah gunung." Semak-semak terbelah, menampilkan sesosok pemuda jangkung bersenyum khas. "Aku menemukanmu, manis."

Sang 'robin' mengernyit.

"...Bukankah tak sepantasnya seorang pujangga muncul dari tengah rerimbunan? Kau nampak berantakan."

"Ups. Itu tidak benar, wahai robin, wajar saja jika diriku muncul dari balik rumpunan hijau, karena sesungguhnya aku seorang pemburu dalam penyamaran." Helai jingga diusap sayang, "Demi membawamu kembali ke sangkar."

"...Aku benci sangkar emas itu. Aku muak dengan kehidupan mewah, penuh pencitraan, formalitas. Ternyata kau memang ingin mengekangku, tak beda sama sekali dengan raja tiran itu."

Sang pemuda brunet menghela napas, kehabisan kata-kata.

"Asano, dengarkan aku."

"Tidak."

"Kumohon." Sakakibara menghimpit punggung Asano dengan dada bidangnya, "Ikutlah denganku, Gakushuu. Kita harus bicara empat mata."

"...Katakan saja sekarang kalau memang mau."

"Tidak, aku memprioritaskan kesehatanmu. Kau akan masuk angin jika terus berdiam diri. Dan jangan sangka aku tak menyadari goresan-goresan merah pada kakimu itu. Aku memarkir mobilku tak jauh dari sini, kita langsung pulang ke apartemenku."

"Setahuku, untuk mendekati targetnya, pemburu tak mengendarai—"

"Keras kepala seperti biasanya, ya." Sakakibara dengan sigap menggendong tubuh Asano yang lebih mungil darinya, menyusupkan lengan di bawah tempurung lutut serta punggungnya, sebelum ia mulai coba meronta. "Tenang saja, aku belum berniat untuk mengembalikanmu ke sangkar emas yang dingin itu."

Asano merengut kesal.

.

.

.

.


"...Sweater basah itu takkan bisa menghangatkanmu, 'kan?" ujar Sakakibara, menyodorkan selembar kemeja putih ke hadapan kekasihnya. "Mungkin agak kebesaran... Tapi setidaknya gantilah pakaianmu, aku juga akan membantu membersihkan lukamu."

Masih mengalihkan mata, yang diberi merebutnya kasar.

Sang pemberi mendengus, "Masih marah?"

"Tidak. Sama sekali."

"Begitu. Syukurlah." Sakakibara mengambil sweater lembab milik Asano untuk menjemurnya di pengering. "Aku takut kau masih marah denganku... Soal yang tadi. Karena percuma saja 'kan, mengajakmu bicara ketika emosimu masih meluap?"

Malas rasanya untuk menjawab.

"...Gakushuu." Kecup lembut mendarat di pipi kenyal sang strawberry blonde—yang masih berlagak tak peduli. "Ke ruang tengah, yuk? Aku sudah menyeduh rosemary untukmu. Sayang jika dibiarkan mendingin tanpa disentuh."

.

5 menit lewat sudah. Keduanya membisu seperti tengah menderita sakit gigi. Rosemary hangat diseruput pelan, sementara sepasang kaki jenjang yang terlipat menopang. Asano menikmati minumannya dalam diam.

"...Aku mencintaimu."

Ametis kembar mengerjap kaget, namun egonya terlalu tinggi untuk menampakkannya.

"Tolong jelaskan apa maksudnya."

"Meyakinkanmu. Sekaligus menjawab pertanyaanmu sewaktu di rumah Araki tadi, dengan sejujur-jujurnya. Sekarang tak ada lagi yang kusembunyikan, kau puas 'kan?" Sakakibara meletakkan cangkir miliknya di permukaan kaca, kemudian menghapus jarak satu meter di antara kedua insan. Membiarkan nafas hangat saling beradu.

"Pembohong besar." balas Asano ketus. Sakakibara tertawa kecil.

"Ketahuan, ya?" Pemuda brunet itu memamerkan barisan gigi putihnya, "Baiklah. Kau mau aku berkata dengan sejujur-jujurnya, begitu?"

"Pikir saja sendiri. Orang bodoh selain dirimu pun mengerti kalau aku menginginkan jawaban jujur."

"Jadi aku termasuk orang bodoh di matamu? Fufufu. Memang benar, jika dalam beberapa aspek, ya. Terutama jika harus menghadapi keegoisanmu."

"Adakah manusia yang tidak egois? Inilah yang namanya manusia, Tuan Sakakibara."

"Padahal di kampus kau berlagak seakan Dewa." Sakakibara kembali tertawa, mengacak helai strawberry blonde di hadapannya. "Bagaimana, kau siap mendengarkan? Jika tidak, aku akan menunggu."

Kepala diangguk mantap.

"Baiklah, ini dia. Dengarkan baik-baik."

Asano menghela napas, menjaga ekspektasinya tetap rendah. Yang ia yakini, Sakakibara akan kembali memberinya omong kosong yang terdengar manis, seperti yang biasa ia lakukan.

Namun tidak, ini melebihi ekspektasinya. Punggungnya yang lebih mungil didekap erat. Asano memekik sunyi ketika mendadak saja Sakakibara membawanya dalam pelukan.

"Aku mencintaimu, Gakushuu. Dirimu seutuhnya, baik fisik maupun hati, tanpa diragukan lagi. Asano Gakushuu seorang. Bukan orang lain, bukan seseorang yang mirip denganmu, bukan doppleganger. Asano Gakushuu, sosok pemimpin yang berarti bagi semua orang. Kekasih terbaik yang dapat kumiliki. Kekasih yang membuatku sungguh bersyukur dapat menyentuh, membelai, mendekap tiap inci ragamu dengan kedua tanganku. Aku merasa begitu beruntung telah menambatkan hati padamu."

panjang lebar.Tanpa bubuhan diksi manis yang biasa ditebar kepada gadis-gadis seantero kampus.

" Re—"

"Karena itulah—!" Belitan pada punggungnya menguat, sesak pun tak terelakkan lagi. "Aku tidak sudi menyerahkanmu kepada siapapun. Tidak Araki, tidak Seo, tidak akan. Sampai ajal mengetuk pintu pun, hati ini takkan rela melepasmu, Gakushuu."

Emerald yang sedari tadi tenang kini menampakkan riak.

"Karena itu, jangan tinggalkan..."

Gawat. Bahkan kini kedua tempurung lututnya tumbang, tak kuasa untuk bersikap tegar. Asano menggigit bibir—ametis indah kepunyaannya pun mulai bergetar resah.

"Akhirnya kau menangis juga, Ren. Sudah sepatutnya begitu... Sudah sepatutnya aku mendengarmu meraung pilu—" Ia mengedip beberapa kali, mengusir tetes air yang mengganjal sudut matanya.

"Maaf, maafkan aku, maaf... Aku tak berdaya untuk menolak ayahku, ia yang telah seenaknya merencanakan ini sejak awal... Memang sialan kakek tua bangka itu, mengadakan pertunanganku dengan Seo ketika kau tengah menjalani studi di Kyoto... Jelas sekali itu disengaja."

"Aku pun mengerti , karena ini sangat mendadak—bahkan kau sama sekali tak sempat menghubungiku. Kepala keluarga Asano memang liciknya luar biasa. Ini bukan salahmu, Gakushuu." Sakakibara mendengus,

"Namun, jangan terlalu menyalahkan ayahmu seperti itu. Sehebat apapun, seluruh insan suatu saat akan mencapai umurnya... Dan ketika saat itu tiba, aku yakin ia pasti berpikir 'lebih baik mempercayakanmu kepada yang lebih mapan', aku yakin tindakan yang ia tempuh didasarkan atas naluri seorang ayah..."

"Tapi—"

"Tujuh tahun sudah aku menjalin hubungan denganmu tanpa persetujuannya. Cukup lama juga, ya. Aku sendiri kagum kita dapat bertahan—walau seberapa intens pun intervensi yang ayahmu itu lakukan. Kau ingat saat kita SMA, tepat pada minggu kedua bulan Februari, ia sengaja mengirimku sebagai perwakilan Tokyo untuk acara bulan bahasa di Kyoto? Dan ya, aku tahu ia menyita smartphonemu selama seminggu." Sakakibara mengusap belakang kepala Asano dengan lembut, sebagai bentuk afeksi.

"Namun cobaan yang ia berikan saat ini? Entahlah. Tapi tanpa diragukan lagi, aku pasti akan mengusahakan sesuatu."

"Ren, sesak—"

"Sesak?" Sakakibara membalas dengan senyum pahit, "Yang kau rasakan hanyalah seperseratus bagian dari lara yang kuderita."

"...Aku akan bertanggung jawab, ini salahku..."

"Terima kasih banyak sudah memikirkanku. Aku pun akan mengusahakan tindakan yang dapat mencegah pernikahanmu terjadi. Doakan keberhasilanku, ya?" Sebelah kelopak dikedipkan. Alih-alih membalas, Asano masih menggigit bibir bawahnya.

"...Lakukan, dan jangan kau berbohong lagi."

Sebelah alis ditekan. "Kapan aku pernah berbohong, sayang?"

"Baru saja kemarin kau berbohong kepadaku. Mengenai kuil mungil yang kita kunjungi. Berkebalikan dengan ucapanmu, kuil itu tak mengabulkan permohonanku, kau tahu..." Asano meremas sebal punggung yang mendekapnya. Kedua pipi dikembungkan, memperkuat protesnya pada sang kekasih.

Sakakibara sendiri malah bingung.

"Tak mengabulkan?"

"Sama sekali tak terkabul. Dewa sama sekali tak mendengarkan bisikanku."

Asano melipat tangan di dada. Sakakibara masih belum cerah dari kebingungannya. Kuil? Dewa? Tak mendengar—ah!

"Mungkin yang ia 'dengar' berbeda dengan yang kau bisikkan, Gakushuu." ujarnya simpel, membuat sang kekasih berjengit.

"Maksudmu?"

"Mungkin saja... Kau membisikkan A, namun Ia mendengar apa kata hatimu—yah, misalnya saja B. Karena Gakushuu, saat berdoa untuk diri sendiri saja, sikapmu masih tsundere."

"A-Aku tidak tsundere! Ayolah, jelas sekali aku berharap agar pertunangan ini dibatal—"

"Itu yang kau bisikkan, 'kan?" potong Sakakibara, menyentuhkan ujung telunjuk pada belah cherry kekasihnya. "Tapi apakah hatimu benar-benar mengharapkan itu?"

Asano tidak terima, tentu saja.

"Hah?! Yang benar saja, Ren, siapa juga yang tadi memelukku sambil menahan tangis, karena tidak ingin melepasku ke orang lain? Siapa, hah?!"

Tangan yang hendak kembali mendekapnya ditepis kasar. Sakakibara mendengus, ketika ametis kembar Asano memandangnya tak suka. Wajar saja, karena ia berkata seolah Asano hanya 'mengasihani'nya saja.

"Gakushuu, bukan begitu maksudku." Usap sayang dilancarkan. "Namun kurasa, yang hatimu benar-benar harapkan bukanlah pembatalan pertunanganmu dengan Seo."

"Ck—lalu apa?! Jangan berkata seolah kau tahu segalanya tentang—"

"'Semoga Ren tidak sedih', 'semoga Ren tidak menangis', benar, 'kan? Mungkin aku memang tak tahu apa-apa tentang dirimu, tapi aku—bukan hanya aku, tapi Seo, Araki, Koyama, juga semua yang mengenalmu tahu jelas: dengan egomu yang tinggi, kau takkan memohon mengenai apa yang kau inginkan. Kau anggap jika dirimu tak sanggup, siapapun takkan sanggup memenuhinya. Apakah aku salah?"

"Ukh—"

Asano tak kuasa untuk menyangkal. Hanya terduduk di sana, lutut disimpuhkan, mengepalkan kesepuluh jemarinya dalam diam. Mungkin... Sakakibara benar. Namun tetap saja, setitik hatinya tak dapat menerima hal ini. Bukan, bukannya Sakakibara, namun sikapnya yang seperti inilah yang tak dapat diterima oleh hatinya.

Ia tak lain hanyalah insan lemah yang berpura-pura kuat. Tak ada yang paham benar akan hal ini selain dirinya sendiri.

"Gakushuu, mintalah bantuan pihak lain. Jangan memikulnya sendirian seperti ini. Kau tahu kau tak sanggup melawan ayahmu itu, jadi mintalah bantuan pihak lain. Coba bicarakan baik-baik dengan Seo, misalnya. Atau aku. Saat ini, aku kekasihmu, 'kan? Tak salah untuk sedikit saja bersandar padaku, 'kan?"

Strawberry blonde ditepuk pelan berulang kali. Sang pujangga mendekap robinnya yang malang begitu erat.

"Jangan paksakan dirimu kemudian menderita seorang diri saja. Aku ada di sini untukmu, seperti yang dapat kau lihat. Jangan khawatir, aku akan segera bertindak, walau lawannya ayahmu sekalipun. Kita dapat melewati cobaan ini. Hilangkan murungmu, sayang."

"Aneh—" Yang lebih mungil mengusap sudut matanya yang berhias kilau setitik air, "Aku yang seperti ini merasa ketakutan."

"Inilah manusia, Gakushuu." ujar Sakakibara, mengembalikan kalimat Asano yang tadi tertuju padanya. "Kita akan melewatinya bersama. Itu pasti."

Dalam dekap erat sang pujangga, Asano Gakushuu terdiam seribu bahasa. Sekuat tenaga membendung hujan yang mengalir deras dari pelupuk mata. Sakakibara tersenyum lembut, melihat pemuda manis di hadapannya sudah menenang—dapat ia rasakan beban pada punggungnya berkurang, hingga keduanya dapat bersandar rileks macam sekarang.

Namun Sakakibara tak lantas melupakan hal yang harus ia lakukan.

Tapi untuk malam ini? Tak apalah jika keduanya tenggelam dalam kemesraan. Sedikit saja.

"Hei, Gakushuu."

"Ng?"

"Apakah dirimu merasa keberatan jika aku melakukannya dua malam berturut-turut?"


.

.

.

.

.

.

.


TUUUUUUT

Nomor yang anda tuju berada diluar jangkau—PIP.

"Mengapa kau tidak mengangkat panggilanku, Asano... Ke mana gerangan dirimu malam ini?"

Pigura mungil penyimpan kenangan kelima Virtuoso dibanting tanpa ampun.


.

.

.

.

Ketika Lonceng Berbunyi

[2/?]


a/n

cuma ini yang bisa dilanjutin selama penuh kesibukan. maaf kalau tak memuaskan :'( kiyoha seneeeng banget ada yang berbaik hati mereview...walau semua reviewnya berasa lawak wwww *sado*

berkat kemasoan dan demand antek antek (?) lain juga, seems KLB bakal dilanjutin sampai panjang, bukan cuma 2 chapter. gamau digantungin ya, kalian? :'''))) *yaiyalah* review akan dibalas di PM kalau udah sempet, yah? *menangisibebanhidup*

terima kasih sudah membaca!

kiyoha