Chapter 2, enjoy it!
Warning: AU, Yaoi, OOC...ah sisanya tahu kan?
Disclaimer: males ngulangnya
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Kesedihanmu adalah kesedihanku. Aku ada untukmu, tapi tidak berlaku sebaliknya. Kau tidak ada untukku. Perasaan ini mungkin hanyalah perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, tak apa. Aku sudah bahagia karena aku bisa mencintaimu.
IoI
Gilbert menunggu seseorang yang ingin di temuinya di depan rumah orang tersebut. Sudah berminggu-minggu ia menunggu untuk melakukan hal ini. Ia harus melakukan hal ini, demi Matthew. Setelah sekarang ia tahu ada apa sebenarnya dengan Matthew, ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Hari sudah gelap tapi Matthew tak kunjung muncul, tapi Gilbert tetap sabar menanti. Ia sudah menyusun semua rencananya yang awesome dengan matang, ia tidak boleh gagal.
Ketika ia melihat ke depan, ia melihat Matthew sedang berjalan ke arahnya. Wajahnya tampak murung dan menunduk ke bawah. Rambutnya yang berwarna kecoklatan dengan poni di tengah, terlihat menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang keunguan tanpa sedih dan kosong.
Namun, ketika matanya bertemu dengan sepasang mata Gilbert, yang dilakukan Matthew adalah berbalik dan lari. Gilbert yang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi segera mengejar Matthew. Matthew bukanlah orang yang atletis jadi tidak butuh waktu yang lama bagi Gilbert untuk menyusulnya.
Dengan cepat, Gilbert menarik tangan Matthew agar laki-laki berkacamata tersebut berhenti berlari. "Matthew!" panggil Gilbert keras.
"Aku sudah bertemu dengan Alfred," serus Gilbert lagi, membuat Matthew yang tadinya siap melawan Gilbert menjadi terdiam di tempat.
"Benarkah…?" tanya Matthew tidak percaya.
"Ya, aku sudah bertemu dengannya. Alfred sudah memberitahuku semua tentangmu. Termasuk bahwa orang tuamu meninggal karena kecelakaan mobil, benar kan?" tanya Gilbert dengan seringai sombong. Matthew terdiam di tempat, tidak mampu mengatakan apapun.
"Aku tahu kalau mereka mengalami kecelakaan saat kalian pulang dari taman bermain. Selama ini kau selalu menyalahkan dirimu sendiri. Kau selalu berpikir 'ini adalah salahku, seandainya aku tidak ingin pergi ke taman bermain', benar kan?" tanya Gilbert lagi.
"Tidak bukan…," gumam Matthew pelan. Badannya gemetaran dan ia tidak mampu menatap Gilbert.
"Tidak, ini semua salahmu, Matthew! Salahmu! Ini semua salahmu!" seru Gilbert kencang, ia menarik kerah mantel Matthew dan berteriak di depan wajahnya.
"Dengar ya, ini semua salahmu, Matthew! Ini semua salahmu!"
"Tidak! Jangan berkata seperti itu!"
"Ini semua salah! Aku akan mengucapkannya ratusan kali, ini semua salahmu!"
"APA MAKSUDMU BERKATA BEGITU PADA MATTHEW!"
Gilbert terkesima mendengar teriakan Matthew dengan nada yang sama sekali berbeda. Tapi, kemudian seringai muncul di bibirnya. Memang ini yang ia inginkan, ia sengaja melakukan ini, agar ia keluar…
"Apa maksudmu, hah! Kenapa kau berkata begitu pada Matthew!" seru Matthew yang tampak seperti orang lain, balik mendorong Gilbert ke tanah.
Semuanya terlihat sedikit aneh, rambut Matthew yang terlihat acak-acakkan entah kenapa terlihat lebih pendek dari biasanya. Poninya yang biasanya berada di tengah kini sudah berubah ke pinggir karena rambut Matthew yang berantakan. Matanya yang tadinya ungu dalam gelap seperti ini tampak seperti biru, seperti sebuah ilusi. Matthew benar-benar berbeda tampak seperti orang lain…
"Akhirnya kau keluar juga, Alfred," seru Gilbert puas.
Flash Back
Gilbert tidak pernah menyangka, bahwa Matthew memiliki sisi yang lain, dirinya yang lain, yang sangat membencinya dan selalu berniat memisahkan dirinya dengan Matthew.
Ia sangat terkejut saat melihat Matthew keluar dari ruangan pemeriksaan dengan wajah masam. Seharusnya kini ia sedang diperiksa pamanya tentang penyakit aneh yang membuat ingatannya terhapus. Tapi, kenapa ia keluar begitu cepat? Kenapa….bahasa tubuh, tatapan mata dan caranya berjalan, Matthew terlihat sangat berbeda….
"Matthew, ada apa? Kenapa kau keluar begitu cepat? Matthew!" panggil Gilbert, tapi tidak diperdulikan oleh Matthew yang terus berjalan dengan cueknya.
Ia mengejar Matthew yang entah kenapa jalannya sangat cepat. Tapi, dipanggil seperti apapun Matthew tidak menoleh ataupun bereaksi terhadap panggilannya. Saat Matthew sebentar lagi keluar dari rumah sakit, dari pintu yang jarang digunakan oleh pasien-pasien lain karena berbeda arah dengan letak pintu utama…..
"Alfred…," panggil Gilbert, setengah ragu tapi cukup keras sampai Matthew mendengarnya.
Matthew berhenti berjalan, membuat debaran jantung Gilbert semakin kencang. Dan, akhirnya mata Gilbert membelalak saat ia mendengar Matthew bertepuk tangan lalu tertawa.
"Wah…ternyata kau pintar juga ya?" katanya, Matthew berbalik dan menatap Gilbert. Saat itu, di mata Gilbert yang ada bukanlah Matthew, tapi orang lain…orang lain yang berjalan dan berbicara dengan tubuh Matthew.
"Kau benar, aku adalah Alfred," kata Alfred sambil tersenyum, namun membuat Gilbert merinding.
"Selama ini, Matthew bukan kehilangan ingatannya karena penyakit, tapi karena diriku. Jika aku muncul, maka Matthew akan tertidur begitu pula sebaliknya. Aku adalah kepribadian Matthew yang lain, tapi ia tidak tahu akan hal itu," jelas Alfred.
"Dan aku sangat membencimu," tambah Alfred. Gilbert terkesima dan terkejut bukan main saat Alfred meninju perutnya dengan keras, hingga membuat Gilbert tersungkur ke lantai.
"Aku ingin kau pergi dari sisi Matthew," kata Alfred. Gilber dengan wajah meringis kesakitan, berusaha melihat Alfred. Tidak mungkin ia melakukan itu, ia sangat mencintai Matthew…
"Gilbert, hubungan kita sampai di sini saja, maafkan aku," Gilbert terperangah melihat air muka Alfred sudah berubah, serta nada suaranya…Matthew?
Lalu, Alfred tertawa membuat Gilbert tersentak dan merinding….dia…dia sama sekali tidak normal. Dan dengan itu, Alfred pergi berlalu meninggalkan Gilbert yang terpana dengan semua yang terjadi.
Flash Back End
Alfred terdiam namun tidak bisa dialihkan dari rasa amarah yang memenuhi dadanya. Betapa kejam laki-laki brengsek yang selalu ia benci ini kepada Matthew. Betapa teganya ia mengatakan semua perkataan menyakitkan itu pada Matthew!
"Apa maksudmu melakukan semua ini, hah!" bentak Alfred. Ia menarik kerah baju Gilbert yang berada di bawahnya.
"Agar kau keluar! Kau harus tahu, Alfred! Matthew harus ikut pengobatan, kau harus bekerja sama denganku!" seru Gilbert.
Alfred terkejut namun amarahnya semakin terbakar mendengar hal itu. Itu artinya…itu artinya….
"Kau ingin aku menghilang, hah!" seru Alfred marah.
Gilbert menatapnya tajam. Ya, Matthew harus menjalani pengobatan untuk menghilangkan kepribadian Alfred dari dalam dirinya. Semua ini tidak normal. Sama sekali tidak baik untuk Matthew….
"Ya, kau harus menghilang agar Matthew bisa sembuh!" balas Gilbert.
"Kalau aku menghilang, siapa yang akan melindungi Matthew! Matthew membutuhkan aku dan aku akan-"
"TIDAK! Matthew bukan anak kecil lagi, ia sudah tidak membutuhkanmu lagi. Yang kau lakukan sekarang hanya membuat Matthew bersedih, apa kau tidak tahu itu!" seru Gilbert memotong perkataan Alfred.
Alfred terdiam sejenak.
"Itu semua karena kamu!" balas Alfred tidak mau mendengarkan perkataan Gilbert.
"Tidak! Coba kau buka matamu, brengsek! Kau sengaja menghancurkan hubunganku dengan Matthew karena kau cemburu kan! Aku tahu kau cemburu!" bentak Gilbert, ia menarik kerah baju Alfred.
Alfred terdiam, cemburu jadi itu namanya…jadi selama ini dia cemburu….
"Semua yang kau lakukan sudah menyakiti Matthew, kau tahu! Aku tahu kau mencintai Matthew, tapi itu tidak mungkin, kenapa? Karena Matthew adalah kepribadianmu yang lain! Kau tidak akan bisa bertemu dengannya, tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa bicara padanya!" tambah Gilbert, ia bisa merasakan genggaman Alfred pada kerah bajunya mulai mengendur. Ia menarik dirinya bangkit dari tanah dan menarik kerah Alfred dengan kuat.
"Kalau kau memang mencintainya, kau harus bisa merelakan Matthew. Matthew sudah bisa menjaga dirinya sekarang, kau sudah bisa tenang. Aku tahu kau cemburu, bila kau tidak pergi maka kau akan terus merusak hubungan Matthew denganku…tidak, bukan hanya denganku saja tapi hubungan Matthew dengan orang lain nantinya. Jika begitu, Matthew akan terus bersedih, ia akan terus sendirian!"
Alfred terdiam, semua perkataan Gilbert seakan bergema di dalam kepalanya. Ia tidak bisa memikirkan apapun kecuali membayangkan Matthew yang terus menangis karena dirinya…karena dirinya selalu menganggu kebahagiannya…
Tapi, tidak…tidak mau….ia melakukan semua itu demua Matthew! Demi Matthew!
Alfred menepis tangan Gilbert dan segera menghindar dari sergapannya. Ia berlari sekuat tenaga, tidak menghiraukan panggilan Gilbert di balik punggungnya. Ia hanya terus berlari dan berlari sekuat yang ia bisa. Dadanya begitu sesak dan air mata mulai menggenangi matanya.
Matthew…Matthew…apakah benar ia hanya bisa membuat Matthew bersedih? Apakah benar selama ini Matthew menderita karenanya? Tapi…ia terlahir demi melindungi Matthew. Pada hari itu…hari kecelakaan mobil itu…Matthew yang terus menangis…hanya ia yang menghiburnya meski hanya melalui sepucuk surat…
Alfred segera memasuki bangunan kosong dimana ia selalu menghabiskan waktunya. Dengan tergesa-gesa ia segera memasuki satu ruangan kosong yang berisi bangku dan kursi. Namun, kakinya terantuk sesuatu di dalam gelapnya ruangan dan ia pun jatuh tersungkur di lantai, menyenggol kotak yang berisi surat-surat dari Matthew hingga semuanya bertebaran ke lantai.
Alfred segera bangkit dan melihat hamparan surat di depan matanya. Semua surat dari Matthew….
Ia membukanya satu demi satu, air matanya berjatuhan seiring semakin banyak jumlah surat yang ia baca.
Alfred, aku rasa aku menyukai seseorang…
Alfred, seseorang telah menembakku, aku tidak percaya! Apakah kau senang? Sekarang aku sudah punya pacar dan aku menyukai dirinya!
Alfred, aku mulai kehilangan ingatanku lagi, aku takut Gilbert membenciku
Alfred, Gilbert memutuskanku…aku kira aku sudah terbiasa ditinggalkan oleh orang yang kucintai tapi rasanya….sakit Alfred, sangat sakit. Aku sangat merindukannya meskipun aku sudah tidak bisa bersamanya lagi..
Alfred, rasanya sakit untuk berpisah dengan orang yang kau cintai….
Alfre memejamkan matanya, air matanya semakin jatuh mengalir deras dari matanya. Matthew….Matthew bersedih karena dirinya sudah menghancurkan hubungannya dengan pacarnya…
Meskipun Alfred tidak menyukai Gilbert, tapi Matthew sangat mencintainya….ia hanya cemburu dan sengaja merusak hubungan mereka…
"Matthew…apa yang sudah kulakukan?" gumam Alfred di sela-sela isak tangisnya.
"Maaf…maafkan aku….aku sudah melukaimu…Matthew," gumam Alfred lagi. Dengan mata penuh air mata, ia berjalan menghampiri cermin pecah yang ada di sudut ruangan.
Ia melihat refleksi dirinya dan air matanya mengalir semakin deras. Ia sangat mencintai Matthew, sangat mencintainya lebih dari siapapun. Rasanya selalu sakit karena ia tidak akan pernah bisa bersatu dengan orang yang ia cintai. Sakit sekali…apakah ini juga yang dirasakan Matthew saat berpisah dengan Gilbert?
Alfred menghapus air matanya dan menatap cermin lekat-lekat.
Dengan canggung dan ragu, ia perlahan mendekat ke cermin dan memejamkan matanya. Bibirnya menyentuh permukaan cermin yang dingin dengan lembut. Ia selalu membayangkan untuk bisa mencium lembut bibir Matthew seperti ini….tapi ia hanya selalu bisa melakukannya lewat cermin….
"Ukh…ha…," Alfred segera menyudahi ciumannya dan air matanya kembali mengalir deras…
Jika ia memang harus pergi demi Matthew, jika memang itu yang terbaik dan bisa membahagiakan Matthew…ia akan melakukannya…
Demi Matthew…ia akan melakukan semuanya. Bahkan meskipun itu artinya ia harus lenyap, bukan sekedar lenyap dari permukaan bumi ini, tapi juga lenyap dari ingatan orang yang sangat ia cintai….ia akan melakukannya…
Tapi, seandainya saja…seandainya saja…ia bisa bertemu dengan Matthew sekali saja…
"Alfred…"
Alfred terkejut dan menoleh ke sampingnya, matanya membelalak melihat sosok orang yang sangat ia cintai berada di sampingnya dan sedang tersenyum lembut padanya.
"Matthew…," gumam Alfred tidak percaya. Apakah ini mimpi…?
"Aku sudah tidak apa-apa, Alfred," kata Matthew, ia memeluk Alfred lembut, membuat laki-laki itu terperangah dan tidak percaya.
"Kau bisa tenang sekarang," kata Matthew lembut. Alfre memejamkan matanya, air matanya kembali terjatuh tapi sebuah senyuman hadir di bibirnya.
"Ya…aku mengerti…," jawab Alfred.
"Aku sangat mencintaimu…Matthew," kata Alfred, memeluk Matthew erat.
"Aku tahu…"
IoI
Aku ingin mati seperti ini, di dalam pelukanmu, diselubungi oleh kehangatanmu, di bawah sinar bintang. Aku selalu memimpikan saat ini, meskipun mungkin hanya aku seorang, yang selalu memimpikan untuk bisa bersama denganmu seperti ini. Aku tidak membutuhkan "cinta selamanya", yang aku inginkan saat ini hanya bisa bersamamu.
IoI
Gilbert melihat Alfred yang terbaring di lapangan rerumputan dengan wajah menatap mentari fajar. Dengan canggung Gilbert duduk di sampingnya.
"Aku ingin memberi tahumu sesuatu…," kata Alfred memecah kesunyian.
Gilbert menoleh melihatnya, Alfred kini bangkit dan duduk bersila di tanah.
"Kau tidak boleh lupa ya," kata Alfred. Gilbert mengangguk.
"Makanan kesukaan Matthew adalah hot cakes, dengan sirup maple."
"Nama beruang Matthew yang sebenarnya adalah Kumajiro, meski dirinya sendiri lupa akan hal itu."
"Lalu Matthew sangat suka pemandangan dari bukit di utara kota ini."
Alfred menoleh pada Gilbert yang semenjak tadi diam mendengarkan. "Kau tidak boleh lupa ya, awas kalau lupa!" ancam Alfred. Gilbert mengangguk.
"Maaf ya," kata Gilbert. Ia tahu, semua ini terasa kejam, terutama bagi Alfred. Ia mengerti apa yang dilakukan Alfred selama ini karena cemburu, semua itu wajar. Tapi, jika ia harus menghilang….
"Hei, kau ini laki-laki kan! Yang kuat dong!" hibur Alfred sambil tersenyum. Gilbert mengangguk lagi.
"Aku tidak akan lupa….tentangmu," kata Gilbert membuat Alfred terdiam.
Alfred menoleh dan memandang matahari yang terbit di ufuk timur. Kemudian senyum terpulas di wajahnya.
"Aku punya satu permintaan."
"Eh?"
IoI
Maafkan aku, Matthew, karena aku sudah membuatmu bersedih.
Terima kasih, atas semua waktu yang telah kau berikan untukku.
Terima kasih, karena kaulah aku terlahir di dunia ini, meskipun hanya dalam sepotong kepribadian yang rapuh.
Terima kasih atas semua.
Aku mencintaimu selamanya
By Alfred
IoI
Matthew menatap matahari yang terbit di ufuk timur di lapangan rumput bersama Gilbert yang duduk di sebelahnya.
"Kau tahu, pada saat pengobatan aku memimpikan seseorang."
"Oh ya?" tanya Gilbert.
Matthew mengangguk. "Iya, saat ia ada di sampingku, aku bahagia sekali. Rasanya, ia adalah orang yang sangat penting bagiku…tapi aku tidak bisa ingat….," jawab Matthew.
Gilbert mengalihkan pandangannya ke matahari yang merayap naik ke langit jingga.
"Hei, aku tahu semua tentangmu lho," kata Gilbert mengalihkan pembicaraan. Matthew menoleh padanya, merasa penasaran.
"Makanan kesukaanmu adalah hot cakes, dengan sirup maple."
"Lalu, nama beruangmu yang sebenarnya adalah Kumajiro, meski kamu pasti lupa."
"Lalu kamu sangat suka pemandangan dari bukit di utara kota ini."
Matthew memandang Gilbert dengan tatapan tak percaya. Seakan baru melihat adegan sulap yang sangat spektakuler. "Darimana kau tahu semua itu? Aku tidak pernah memberitahumu kan?" tanya Matthew takjub.
Gilbert tertawa. "Nggak, kau nggak pernah memberi tahuku kok. Aku kan awesome he…he…he…, tahu darimananya…rahasia!" seru Gilbert membuat Matthew gemas sendiri karena penasaran.
"Oh ya, ini ada foto," kata Gilbert, ia mengeluarkan selembar foto hitam putih yang memang keahliannya. Matthew mengambil foto yang disodorkan pacarnya tersebut dan memandangnya lekat-lekat.
"Lho…ini aku kan? Kapan aku difoto seperti ini?" tanya Matthew tidak ingat.
Gilbert segera menolah ke arah lain. "Ah…aku lupa…"
Matthew kembali melihat fotonya. Itu adalah foto dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang sebuah hamburger, tapi tampak berbeda sekali…senyumnya…sinar matanya….
Setitik air mata jatuh ke atas foto tersebut, membuat Matthew terkejut karena itu berasal dari matanya.
"Lho…kenapa aku menangis?" tanya Matthew kebingungan sendiri. Tapi, air matanya tidak bisa berhenti. Entah kenapa foto ini membuatnya sedih dan kesepian. Kenapa?
Gilbert memandangnya dengan pilu. Ia hanya diam dan melihat Matthew menangis memandang selembar foto di tangannya.
'Hey, bahkan meskipun Matthew tidak mengenalmu, tidak mengingatmu, ia masih…menangis untukmu, Alfred,' kata Gilbert dalam hati.
End
Mau nangis? Silahkan, karena aku juga nangis pas nulis fic ini. Hehehe, hiks, srot. Apakah ada yang jijik? Ini masuk Self-cest ya? Aku sendiri nggak ngerti, tapi menurutku ini 'indah' lho. Aku nulis fanfic ini berdasarkan film Jepang yang judulnya Tokyo Shounen atau Tokyo Boy, yang main Horikita Maki. Banyak bedanya, pertama Maki itu cewek terus kepribadiannya yang lain itu 'cowok'. Tapi, sisanya sama. Sedih, tapi filmnya kurang bagus meski dasar ceritanya udah bagus.
Dalam beberapa bagian aku bedain, supaya lebih greget. Oh ya, kenapa Alfred bisa mencintai Matthew sedalam itu? Pada dasarnya, dalam kasus Multiple Personalitu Dissorder atau Kepribadian Ganda, munculnya kepribadian ganda itu adalah suatu bentuk pertahan diri terhadap suatu hal yang traumatis. Inti simplenya, kepribadian itu ada untuk melindungi kepribadian yang lain...meski nggak selalu begitu juga sih.
Kalau seseorang berganti kepribadian, maka kepribadian yang lain akan tertidur. Jadi, seperti ada beberapa orang hidup dalan satu tubuh tapi nggak saling mengenal. Ada yang namanya kepribadian utama, intinya yang emang utama, dan yang lain adalah pecahan-pecahannya. Kalau mau diobati, berarti yang akan hilang yang pecahan-pecahannya, atau kepribadian paling kuat.
Segitu aja? Masuk akal nggak sih? Aku nulis ini tanpa ngecek buku sih #di lempar sendal
Sebenarnya tadinya aku mau nulis fic lanjutan "Line Between Reality and Illusion" tapi malah jadinya ini, nggak apa-apa kan?
Review ya!
