Masih di hari yang sama, entah kenapa langit disekitar apartemen tempat tinggal Kuroko dan Akashi sangat gelap. Padahal waktu menunjukkan kurang sepuluh menit pukul 9 pagi. Perkiraan cuaca yang disiarkan di televisi mengatakan bahwa wilayah itu akan di landa hujan lebat.
Nijimura masih terbaring di tempat tidurnya, menikmati hari libur yang datangnya sangat lama tetapi berlalunya sangat cepat. Dia masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur nyamannya. Lagipula, hari ini dia tidak perlu menyiapkan sarapan pagi karena adik bersurai baby blue kesayangannya sedang tidak ada dan sedang pergi berlibur bersama bos – Nijimura menolak mengakui Akashi sebagai tunangan Kuroko – dan beberapa teman Kuroko yang sudah dikenalnya. Nijimura agak menyesal tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Padahal hampir dua hari adik kesayangannya, Kuroko, membujuknya untuk ikut liburan bersama. Apalah daya Nijimura yang terpaksa harus menetap di apartemen sambil berharap esok tidak akan datang –mulai besok, jadwal Nijimura padat hingga beberapa minggu ke depan.
Minggu pagi yang tenang, meski Kuroko tak ada disini, batin Nijimura miris. Niigou juga tak ada, tinggallah aku sendiri, tiada yang menemani, lanjutnya makin miris lagi. Saat Nijimura hampir kembali berlayar ke alam mimpi, tiba-tiba dia merasakan firasat buruk. Hati kecilnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada adik manisnya. Dengan gerakan cepat Nijimura segera bangkit dari tidurnya. Kantuknya hilang dalam sekejap, dia lalu mengecek jam wekernya yang saat ini menunjukkan pukul 9 lewat 10 menit. Dengan segera Nijimura meraih ponselnya yang berada di sebelah jam weker di atas nakas. Dia lalu menekan tombol ponselnya dengan sangat cepat. Setelah itu, ponselnya dia lekatkan di telinga, menunggu orang di seberang sana mengangangkat panggilannya. Tetapi hingga panggilan ke lima, seseorang yang sedang dihubunginya sama sekali tidak mengangangkat panggilanya. Perasaan Nijimura semakin tidak enak. Kuroko, semoga kau baik-baik saja, harap Nijmura. Mencoba peruntungan, Nijimura kembali menghubungi nomor yang sama dan tersenyum lebar saat orang di seberang akhirnya menjawab teleponnya. Belum semenit Nijimura tersenyum bahagia, gantian keningnya yang berkerut bingung saat mendengar nafas Kuroko yang sedikit berat.
"Hah, hah, moshi-moshi? Hah, Nii-san?" sahut Kuroko sambil berusaha mengatur nafasnya.
Nijimura panik. Ada sesuatu yang terjadi pada Kuroko. Kalau tidak, tidak mungkin adik manisnya itu mengalami kesulitan nafas. Firasatnya buruknya mungkin benar. "Kuroko? Kau kenapa? Ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau ngos-ngosan seperti itu?"
Kuroko terdengar semakin kesulitan menghirup oksigen. "Nggak, Nii-san," jeda beberapa menit. Nijimura menunggu dengan panik. "Aku hanya butuh ke toilet segera," lanjut Kuroko akhirnya.
Otak Nijimura tiba-tiba bekerja tiga kali lebih cepat. Dalam waktu beberapa detik, dia menganalisis situasi dan kebiasaan Kuroko, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin berhubungan dengan kondisi Kuroko saat ini. Dan otaknya memperoleh satu kesimpulan, "Apa ini ada hubungannya dengan Akashi?" entah bagaimana otaknya bisa menyimpulkan hal seperti itu. Dalam hati, Nijimura berdoa agar apa yang dia simpulkan adalah kesalahan.
Tetapi saat tak ada jawaban apapun dari Kuroko selama lebih dari semenit, kokoro Nijimura seketika menjerit, Kami-sama. Selamatkan kepolosan adik manisku yang sedang bersama pria merah itu, Kami-sama.
Jeritan hati Nijimura terpaksa berhenti saat si adik bersurai baby blue berkata dengan terburu-buru, "Nii-san, aku benar-benar harus ke toilet. Sudah dulu, ya. Jaa."
Sambungan telepon tertutup. Tanpa membiarkan Nijimura mengucapkan kata 'Jaa' sekalipun. Entah kenapa, Nijimura merasa adiknya mulai tertular sifat tega dari bos merahnya itu.
Merasa hari minggunya diawali dengan sesuatu yang buruk –ini bukan karena Kuroko, tapi si bos merahnya– Nijimura telah kehilangan minat untuk kembali bertemu dengan kasur empuknya dan kembali berlayar ke alam mimpi. Dia lalu memutuskan untuk ke dapur dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri, perutnya juga sudah mulai mengeluarkan suara-suara protes minta segera diisi. Dengan gerakan lincah Nijimura memasukkan dua potong roti ke alat pemanggang, menyalakan mesin pembuat kopi, dan mengambil peralatan makan dari dalam lemari. Dia juga sempat mengambil susu dan sebuah apel dari dalam kulkas. Sambil mengunyah apel, Nijimura berjalan menuju pintu apartemennya dan mengambil koran yang dimasukkan lewat kotak surat. Nijimura kembali ke dapur, lalu mengabil secangkir kopinya yang telah siap dan dua potong roti panggang yang matang tepat saat Nijimura meletakkan piring di dekat pemanggangnya.
Dengan koran dilipatan ketiak, cangkir kopi yang telah dicampur sedikit susu di tangan kiri, dan sepiring roti panggang yang telah di olesi selai di tangan kanan, Nijimura berjalan menuju meja makan. Setelah duduk dan meletakkan barang bawaannya di atas meja, Nijimura menyalakan televisi dan mencari stasiun tv yang masih menyiarkan berita pagi. Sepotong roti telah ludes ditelan Nijimura, saat itu juga ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dengan malas Nijmura merogoh saku celana pendek selututnya untuk mengambil benda yang menganggu sarapan paginya itu. Nomor asing tertera di layar ponsel saat Nijimura berhasil membawa naik ponselnya ke atas meja. Setelah menekan tombol hijau, Nijimura kembali melekatkan ponselnya ke telinga, "moshi-moshi?"
"SHUUUUUUZOOOOOUUUUUUU! HEEEEEELLLPPP MEEEEEE!" teriakan histeris menyambut gendang telinga Nijimura tiba-tiba. Suara seorang wanita. Terlebih suara itu sudah sangat dikenalinya. Sudah dia duga, hari minggunya benar-benar menjadi hari yang buruk. Dan Nijmura memutuskan ini semua gara-gara pria bersurai merah menyala yang sedang berbahagia di sana.
_ Surat Lamaran : Extra Story _
SURAT LAMARAN : EXTRA STORY
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi-sensei
Story and OCs belongs to Miho Haruka
Rated: T+
Pairing: AkaKuro, etc.
Warning: BL, OOC, typo(s), gaje, OC, abal-abal, etc.
Genre : Romance, Friendship, little bit Humor
Summary: Cerita tambahan kehidupan Akashi dan Kuroko. Extra story dari Surat Lamaran/Badsummary/BL/
Story 1 : Otou-san!
_ Surat Lamaran : Extra Story _
Sinar matahari yang terik, angin yang sepoi-sepoi, udara yang cukup panas, suara deburan ombak yang menenangkan, dan pasir putih yang halus. Pantai. Ya, saat ini rombongan berlibur Akashi dan Kuroko sedang menikmati indahnya pemandangan pantai milik keluarga Akashi. Pantai ini terbuka untuk umum, hanya ditutup jika ada acara khusus keluarga Akashi. Dan karena hari ini Akashi tetap membiarkan orang lain mengunjungi pantai keluarganya, jadi saat ini pantai sedang ramai pengunjung. Mereka hampir tidak kebagian tempat. Tetapi bukan keluarga Akashi namanya jika tidak mendapat perlakuan khusus, beberapa buah payung besar yang baru dibuka di tempat pilihan Kuroko, dekat dengan warung jajanan makanan dan terletak agak di ujung pantai. Poin plusnya adalah, tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa keluarga saja yang membentangkan tikar lengkap dengan payung besarnya.
"Tetsu, tikarnya aku bentang disini saja?" tanya Aomine. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan segera berpetualang mencari gadis-gadis cantik yang mirip Mai-chan di sepanjang pantai.
"Ya, tolong ya. Aomine-kun," balas Kuroko.
"Kuroko-cchi, box minumannya aku letakkan disini ya-ssu?" tanya Kise. Dia sedikit kewalahan. Bukan karena box besar berisi minuman di kedua tangannya tetapi karena kumpulan gadis yang sedang berebut menariknya sedang bergerumul di belakangnya.
"Ya. Dan Kise-kun, setelah itu, bisakah kau pergi ke suatu tempat hingga beberapa jam kedepan? Atau minimal setelah kau membereskan masalahmu itu. Aku tidak ingin ada keributan disini. Seijuurou-kun harus berisitirahat dan menyegarkan dirinya. Onegai nee, Kise-kun," pinta Kuroko.
Kise memasang wajah sedih, membuat kumpulan gadis di belakang segera menatap sinis ke arah Kuroko. Mereka tidak terima cowok tampan dan manis di depan mereka jadi sedih karena cowok – setelah cukup lama manatap sinis Kuroko, pandangan mata mereka seketika berubah menjadi memuja, shock melihat wajah manis cowok, atau cewek?, yang menjadi penyebab sedihnya Kise – bersurai baby blue di seberang sana.
Tatapan mata kumpulan gadis yang berakhir setengah sinis setengah memuja itu seketika ciut setelah mendapat glare mematikan dari sosok pria tampan dan menawan tetapi sedikit menakutkan yang bersurai merah menyala di belakang Kuroko.
"Kise-kun," suara Kuroko kembali terdengar.
"Tapi, Kuroko-cchi," protesan Kise terhenti melihat tatapan manik biru langit Kuroko. "Baiklah-ssu,"sahut Kise akhirnya. Dia lalu pergi bersama kumpulan gadis yang tidak henti-hentinya merebutkan dirinya.
"Anoo, Tetsu-kun?" panggil Momoi tiba-tiba saat Kuroko baru saja mengambil duduk di atas salah satu tikar yang sudah dibentang Aomine. "Aku ingin ke ruang ganti dulu, ya," pamit Momoi. Sedetik setelah Kuroko mengangguk, dengan cepat Momoi segera berlari menuju ruang ganti yang untungnya tidak terlalu jauh. Dia sudah sangat gerah dan ingin segera memakai baju renang barunya. Mungkin saja Kuroko jadi terkesima padanya, atau setidaknya memuji pakaian renangnya. Meski sudah dapat dipastikan itu hanya angan-angan.
"Kuro-chin, Kuro-chin!" kali ini Murasakibara. Karena masih tetap berdiri, wajahnya jadi terhalangi payung.
"Ada apa, Murasakibara-kun?"
"Takoyaki-chan di toko itu sejak tadi memanggilku," sahut Murasakibara. "Aku boleh ke sana, kan?"
Kuroko berpikir sejenak. Teman masa kecilnya ini memang tidak bisa mengabaikan makanan jenis apapun. "Boleh, tapi tidak boleh berlebihan makannya. Koki Seijuurou-kun sudah membuatkan kita bekal."
"Roger!" jawab Murasakibara lalu segera pergi ke warung takoyaki yang ditunjuknya tadi.
Kini tempat mereka sepi. Momoi belum kembali dari ruang ganti, Aomine dan Kise pergi entah kemana, Murasakibara baru saja memesan porsi kedua takoyakinya, dan Midorima sedang berburu lucky item di toko pernak-pernik di pintu masuk pantai.
Tempat yang cukup sunyi ditambah dengan suasana yang mendukung, sungguh sangat pas bagi Akashi dan Kuroko. Tidak butuh waktu lama untuk Akashi mengambil langkah. Tanpa membuang-buang waktu, dia segera membaringkan kepalanya di pangkuan Kuroko dan seketika mendapatkan posisi yang nyaman. Dunia serasa milik Akashi dan Kuroko. mereka berdua merasa nyaman satu sama lain. Terutama Akashi, sudah lama dia ingin berbaring di pangkuan Kuroko seperti saat ini. Kuroko juga seperti tidak mempermasalahkan tingkah Akashi yang baru kali ini berbaring di pangkuannya di tempat umum. Kuroko sibuk memandang laut di depannya sedangkan Akashi sibuk memandang wajah Kuroko.
"Tetsuya," panggil Akashi.
"Ya, Seijuurou-kun?" sahut Kuroko.
Akashi terdiam sejenak, berapa kalipun dia mendengar Kuroko memanggil nama kecilnya, selalu berhasil membuatnya bahagia dan jantungnya berpacu semakin cepat. "Tetsuya," pangil Akashi lagi.
"Iya, Seijuurou-kun?" sahut Kuroko lagi. Kali ini dia mengalihkan pandangannya menatap wajah Akashi dan terpaku saat melihat pantulan dirinya di kedua manik dwiwarna Akashi.
Hal yang sama terjadi pada si surai merah. Setelah bertatapan selama beberapa detik, tangan Akashi menarik leher Kuroko mendekat ke arahnya. Dan sedetik kemudian, bibir keduanya telah merapat, Akashi bahkan dengan leluasa menginvansi rongga mulut Kuroko. Erangan pelan lolos tak tertahankan. Ini ciuman kesekian kalinya hari ini. Menit terus berlalu, tetapi Akashi masih belum mau melepaskan ciuman mereka. Sedangkan Kuroko mulai kehabisan nafas, wajahnya sudah memerah sepenuhnya, surai baby bluenya juga mulai acak-acakan akibat ulah jari jemari Akashi. Salah satu tangan Kuroko hanya bisa meremat kaus putih Akashi dan tangan yang satunya lagi digunakan untuk menumpu badannya.
"Nggh, Sei… kunh," Akashi tidak menghiraukan panggilan Kuroko dan masih menikmati kegiatannya. Dia tidak peduli pada beberapa orang yang terdiam memperhatikan mereka. Sudah dibilang kan, dunia serasa milik Akashi dan Kuroko saja saat ini.
Saat merasa tumpuan tangan kanan Kuroko melemah dan Kuroko hampir kehabisan nafas, Akashi baru melepaskan ciuman lama mereka. Dia sibuk memperhatikan wajah Kuroko yang sudah merah padam akibat perlakuannya. Setitik air mata kembali menghiasi sudut mata Kuroko. Ekspresinya jauh lebih menggoda Akashi dibandingkan pagi tadi.
"Kurasa kita bisa melanjutkan yang tadi pagi disini, Tetsuya." Kalimat Akashi membuat wajah Kuroko semakin memerah, belum lagi belaian tangan Akashi di pipi kiri Kuroko yang semakin membuat Kuroko terbuai. Sejak Akashi melamarnya, Kuroko semakin sensitif ketika disentuh Akashi.
Dengan gerakan cepat Akashi membalik posisi mereka. Sekarang dirinya di atas dan Kuroko yang sudah kehilangan sebagian besar tenaganya berada di bawahnya. Akashi mulai meraba bagian perut Kuroko sebentar lagi tangan itu akan menelusup ke balik kaos Kuroko yang juga berwarna putih. Akashi yakin sekali mereka bisa melanjutkan kegiatan mereka pagi tadi. Sudah tidak ada penganggu. Teman-teman – budak-budak – nya sudah pergi entah kemana, Akashi tidak perduli. Yang penting sekarang tinggal mereka berdua. Calon kakak sepupu iparnya yang keras kepala itu juga tidak ada. Benar-benar tak ada lagi penganggu. Kecuali –
"Kaa-chan? Tou-chan? Kalian sedang apa?" suara anak kecil tiba-tiba terdengar dan menginterupsi kegiatan Akashi dan Kuroko.
Ah, benar juga. Akashi melupakan keberadaan anak itu. Karena usul anak itulah hari ini mereka berlibur ke pantai. Padahal menurut rencana liburan Akashi yang sempurna, liburan di pantai ini akan mereka lakukan besok lalu sorenya mereka akan menaiki kapal pesiar milik keluarga Akashi dan bermalam disana satu malam. Dan karena anak itu, rencana sempurnanya gagal. Tapi bukan Akashi jika tidak memiliki rencana sempurna lainnya sebagai pengganti.
"Kaa-chan?" sahut anak itu lagi karena tidak mendapat respon dari kedua orang tua – angkat – nya.
Kuroko tak bisa menjawab. Dia sepertinya masih setengah sadar dan sangat tidak menyadari keberadaan anak bersurai semerah Akashi berdiri di dekat mereka. Merasa Dewi Fortuna masih disisinya, Akashi segera mengedarkan pandangannya ke arah kerumunan orang yang ternyata sejak tadi memperhatikan dirinya bersama Kuroko. Pandangan mematikan di arahkan ke kerumunan orang yang seketika berlarian membubarkan diri itu. Sesaat kemudian seringaian mengiasi wajah Akashi. Dari sekian banyak penonton tadi, sudah ia duga salah satu teman – budak – nya juga berada disitu. Dan saat kepala berwarna hijau tertangkap oleh manik dwiwarnanya, maka sudah dapat dipastikan si target tak bisa melarikan diri.
"Shintarou," panggil Akashi.
Tanpa menunggu perintah, Midorima dengan kecepatan cahaya segera membawa Kanagi menjauh dari wilayah Akashi dan Kuroko.
Akashi kembali menyeringai. Midorima memang tidak pernah mengecewakannya. Tidak sia-sia dia memperkerjakan Midorima sebagai sekretarisnya hingga beberapa bulan yang lalu.
"Seijuurou-kun?" panggilan Kuroko mengalihkan perhatian Akashi. "Apa Kanagi-kun tadi kesini? Aku sepertinya mendengar suaranya."
Sekali lagi, Dewi Fortuna masih berada disisi Akashi. Terlambat sedikit saja Midorima membawa Kanagi pergi, maka dapat dipastikan dia kembali harus menunda keinginannya yang sudah dia tahan sejak tadi pagi.
Akashi tersenyum simpul. "Tidak, itu hanya perasaanmu saja. Sejak tadi dia terus bersama Midorima, kau tak perlu khawatir," sahut Akashi sedikit berbohong. Lalu seringai kembali hadir untuk kesekian kalinya. Manik dwiwarnanya menatap Kuroko intens dan lagi-lagi membuat Kuroko merona. "Kita lanjutkan yang tadi."
_ Surat Lamaran : Extra Story _
"Paman Midolima, kenapa paman membawaku pelgi?" tanya Kanagi polos setelah mereka sudah berada cukup jauh dari wilayah Si Raja Iblis.
Kening Midorima berkedut mendengar Kanagi menyebut namanya. Terdengar seperti Mido ada Lima. Menghela nafas pelan sambil menaikkan kacamatanya, Midorima memasang pose angkuh. "Seharusnya kau bersyukur aku menjauhkanmu dari bahaya nanodayo. Bukan berarti aku peduli padamu nanodayo."
Kanagi hanya menatap bingung ke arah Midorima, tidak mengerti apa maksud orang dewasa di depannya. Tidak lama, hanya beberapa detik menatap Midorima, perhatian Kanagi teralihakn oleh sesuatu yang berjalan miring tak jauh dari tempatnya. Dia merasa tertarik. Matanya berkilat antusias. Midorima yang melihatnya hanya mengkerutkan dahi tidak mengerti. Dia lalu mengikuti arah pandangan Kanagi yang sedang melihat kepiting berjalan menjauhi mereka. Lalu entah apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah ledakan kecil terdengar sangat dekat dengan Midorima dan di dekat kepiting yang sedang diamatinya dengan Kanagi ada asap mengepul yang keluar dari tanah.
"Apa itu tadi nanodayo?" gumam Midorima sedikit kaget.
"Yah, tidak kena! Aku masih kalah jago dengan Papa," rutuk Kanagi sedikit kesal.
Midorima mengalihkan pandangannya. Manik hijaunya seketika terbelalak saat melihat benda yang sedang dipegang Kanagi dengan kedua tangan mungilnya. Tangan yang sejak tadi memegang dengan lembut benda lucky itemnya hari ini seketika mengepal dengan kuat. Untungnya lucky item berupa bola basket kecil itu terbuat dari karet jadi tidak akan rusak.
"Hei! Apa yang kau pegang itu nanodayo?!" tanya Midorima berusaha tenang.
Kanagi menatap heran ke arah Midorima lalu ke arah benda di tangannya. "Ini?" tanya Kanagi polos sambil mengarahkan ujung benda yang dipegangnnya ke Midorima. "Ini pistol. Papa membelikannya padaku saat ulang tahunku yang ketiga."
Midorima masih terlihat tenang di luar, tetapi sesungguhnya di dalam dia sudah sangat panik dan segera ingin memanggil petugas keamanan pantai. "Letakkan benda itu kembali ketempatnya nanodayo," perintah Midorima sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Memastikan tak ada orang lain yang melihat pistol yang dibawa Kanagi.
Kanagi mengikutinya tanpa protes dan malah bertanya-tanya apa yang salah dengan benda yang dibawanya. Sepertinya Papanya belum memberitahukan Kanagi bahwa benda itu bukan benda yang bisa dibawa sembarangan orang. Setelah meletakkannya kembali ke dalam tas, Kanagi dipaksa untuk menatap wajah Midorima.
"Ingat ya, benda itu berbahaya nanodayo. Tidak boleh dibawa sembarangan orang kemana-mana nanodayo. Itu bisa melukaimu dan orang lain nanodayo. Lagipula, –" Midorima berusaha menyampaikan pemahaman umum itu kepada Kanagi dengan bahasa yang mungkin bisa dia mengerti.
Sementara itu, dari kejauhan Momoi, Aomine, Kise, dan Murasakibara melihat tingkah Midorima yang sepertinya berbeda dari biasanya itu. Mereka lalu mendekati Midorima dan Kanagi dari arah yang berbeda-beda. Sebenarnya mereka ingin kembali ke tempat istirahat mereka, tetapi entah kenapa hati kecil mereka meneriakkan alarm bahwa ke sana sama saja dengan mati. Jadilah mereka berkumpul di tempat Midorima berdiri saat ini.
"Midorin, ada apa? Kau sepertinya sedang marah," tegur Momoi. Sambil menepuk pundak Midorima yang tepat seperti dugaannya, otot-ototnya sedang kaku.
"Halo, Kanagi-cchi!" sapa Kise sambil mengajak Kanagi tos dan dibalas oleh Kanagi. "Yeah!"
Midorima menghela nafas lagi. Entah apa salahnya hari ini, padahal menurut Oha Asa dia tidak terlalu sial dan zodiaknya berada diurutan ketiga dari atas, dibawah Sagitarius dan Aquarius. Tapi sejak pagi Midorima selalu merasakan pahitnya kehidupan, dia berharap manisnya segera datang. "Anak ini membawa pistol nanodayo," sahut Midorima sambil menaikkan kacamatanya.
Keempat orang dewasa disana memandang Midorima dan Kanagi bergantian. Setelah beberapa detik mereka memandang Midorima dengan pandangan kasihan dan pandangan meremehkan, bahkan ada pandangan seperti mengatakan kau-sudah-gila-dia-masih-anak-anak.
"Periksa saja tasnya nanodayo," sahut Midorima tidak terima.
Keempat orang tadi saling berpandnagan. Berdiskusi dengan isyarat mata. Keputusan diperoleh beberapa detik kemudian, ditandai dengan Momoi yang duduk mensejajarkan tingginya dengan Kanagi. "Kana-kun, Bibi bisa lihat isi tasmu sebentar?" tanya Momoi dengan suara manis yang biasa dia gunakan untuk menghadapi anak-anak.
Lagi-lagi tanpa protes, Kanagi menuruti permintaan Momoi dan memberikan tas hitam kecilnya pada Momoi.
"Kana-kun tunggu disini sebenatar ya," sahut Momoi lagi. Setelah itu, kelima orang dewasa berbeda warna surai itu segera membentuk lingkaran tak jauh dari tempat Kanagi berdiri. Mereka lalu mengadakan inspeksi dadakan isi tas Kanagi. Aomine ditunjuk untuk membuka tas itu, alasan yang mendasarinya adalah karena dia salah seorang petinggi di kepolisian. Dengan perlahan, Aomine membuka tas Kanagi. Masing-masing menampilkan ekspresi yang berbeda saat melihat isi tas kecil itu, tetapi ada dua ekspresi yang sangat nyata tergambar, shock dan takut.
Ini anak, anak siapa/-ssu/ nanodayo?!, batin kelima makhluk warna warni itu.
"Masih tidak percaya nanodayo?" sahut Midorima. Sekarang saat semuanya jelas, tak ada lagi yang menatapnya seperti beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak percaya," gumam Momoi.
"Dia sebenarnya anak siapa-ssu?" tanya Kise takut-takut.
"Selama itu tak bisa dimakan, aku tidak peduli," sahut Murasakibara cuek sambil mengunyah Yakisoba terakhirnya.
"Ini bukan barang sembarangan. Hanya orang-orang tertentu dan yang memiliki jabatan tinggi di kepolisian yang bisa mendapat izin memiliki ini. Aku punya beberapa di rumah. Dia beneran bukan anak Akashi, kan?" tanya Aomine mulai ragu dengan keyakinannya sendiri mengingat kekuasaan keluarga Akashi. Memperoleh benda seperti itu bukanlah hal yang tidak mungkin di dunia bawah.
Isi tas yang menjadi pokok permasalahan kelima orang bersurai warna warni ini adalah sebuah pistol – yang digunakan Kanagi tadi –, dua buah pisau besar yang khusus untuk perang, beberapa rakitan yang masih setengah jadi, peluru cadangan, dan sebuah note. Di laci tas yang lebih kecil, mereka menemukan sebuah buku dengan sampul warna warni, satu-satunya hal yang membuat mereka bernafas lega. Awalanya begitu sebelum Kise yang penasaran membuka sampul buku itu dan menemukan tulisan '101 Cara dan Taktik Membunuh'. Saat manik kuningnya membaca tulisan itu, Kise kembali bergidik dan tanpa sengaja membuang buku itu tepat mengenai wajah Midorima.
"Dia bukan anak Akashi nanodayo. Hal itu pasti nanodayo. Anak itu sempat menyebut 'Papa' sebelum aku menegurnya nanodayo. Bukan berarti aku peduli nanodayo," sahut Midorima saat suasana tiba-tiba sunyi.
Setelah lagi-lagi menggelar diskusi lewat tatapan mata, kelima orang itu kembali menghampiri Kanagi dan memutuskan untuk bertanya langsung padanya.
"Kana-kun, dari mana kau dapat benda-benda yang ada dalam tasmu?" tanya Momoi.
"Meleka hadiah ulang tahunku dari Papa," jawab Kanagi.
"Lalu buku ini-ssu?" kali ini Kise yang bertanya.
"Mama membeliku buku itu sebelum telbang ke Amelika belsama Papa," jawab Kanagi lagi. "Tapi aku belum sempat membacanya."
Terdengar helaan nafas lega. Syukurlah, anak ini masih bisa diselamatkan, batin beberapa orang disana. Mereka juga sudah yakin 100 persen Kanagi bukan anak Akashi dan Kuroko.
"Sekarang bagaimana? Kita harus segera memberitahu Akashi kalau Tetsu memungut bocah berbahaya," tanya Aomine. Di belakangnya Satsuki dan Kise sedang mengembalikan tas Kanagi beserta isinya.
"Aku tahu itu, hanya saja waktunya belum tepat nanodayo," jawab Midorima. Sebagian fokusnya dia arahkan untuk memikirkan jalan keluar. Dia mengabaikan Aomine yang menatap bingung ke arahnya. "Kalian tidak merasakan alarm bahaya nanodayo? Kembali ke tempat istirahat sekarang bisa jadi istirahat selama-lamanya nanodayo!" Midorima kembali terbayang seringaian Akashi beberapa puluh menit yang lalu.
"Ada apa?" tanya Murasakibara yang ternyata ikut mendengarkan percakapan mereka. Dia juga ingin segera ke tempat istirahat mereka, yakisoba porsi terakhirnya telah ludes lima menit yang lalu.
Ide melintas di otak Midorima. "Murasakibara, coba kau lihat tempat istirahat kita dari sini nanodayo, " perintah Midorima. Tanpa mengerti tujuannya apa, Murasakibara melakukan perintah Midorima sambil sesekali menguap. "Apa yang sedang mereka lakukan nanodayo?" tanya Midorima.
Murasakibara terdiam melihat apa yang dilakukan Akashi dan Kuroko disana. Tidak jelas sebenarnya, karena lokasi mereka berjauhan. Lama Midorima dan yang lain menunggu jawaban dari Murasakibara. Hingga menit ke empat, "Kuro-chin dalam bahaya. Aku harus segera menolongnya," sahut Murasakibara antara panik dan marah.
"Kita belum bisa kembali nanodayo," putus Midorima mengundang pandangan bingung dari keempat makhluk lain di sekelilingnya. "Lebih baik menunggu mereka selesai dulu nanodayo." Midorima berbalik menatap ketiga temannya yang lain yang akhirnya hanya bisa terdiam dan berteriak dalam hati karena mengerti pesan tersirat dari pandangan mata Midorima. Tegarlah, kokoro. Semoga kau baik-baik saja, Kuro-chin/Kuroko-cchi/Tetsu/Tetsu-kun.
_ Surat Lamaran : Extra Story _
Kaos putih Kuroko telah tergeletak begitu saja tak jauh dari tubuh pemiliknya. Kaos milik Akashi juga sama. Kini mereka berdua hanya memakai celana kain selutut yang sepertinya sebentar lagi juga akan menyusul teman kaos putihnya. Kondisi Kuroko dan Akashi sudah sangat berantakan, tetapi setidaknya Akashi masih lebih mendingan dibandingkan Kuroko. Belaian jemari Akashi di atas perut Kuroko membuat Kuroko terlonjak pelan sambil meremat tikar di bawahnya. Jari jemari itu bergerak menuju bagian bawah perut Kuroko dan sedikit lagi akan menelusup ke balik celana biru Kuroko. Tetapi saat jari jemari milik si merah menyentuh karet celana biru, keberadaan seseorang menjadi tanda bahwa Dewi Fortuna sudah tidak berada disisi Akashi lagi.
Suara deheman pelan. Akashi masih bisa mengabaikannya meski kegiatannya terhenti sejenak. Berniat melanjutkan, suara deheman yang lebih keras kembali terdengar. Akashi kembali berusaha mengabaikan. Kesempatan seperti ini tak boleh dilewatkan hanya karena suara deheman entah milik siapa. Fokus Akashi masih pada apa yang sedang jemarinya sentuh, dia tidak menyadari bahwa kesadaran orang di bawahnya mulai kembali.
Deheman ketiga, stok kesabaran Akashi habis. Dengan aura membunuh Akashi segera berbalik dan melihat pelaku yang mengganggu dunia dirinya dan Kuroko saat ini. Manik dwiwarnanya sejenak terbelalak tetapi kemudian kembali seperti semula.
"Nii-san? Kenapa ada disini?" tanya Kuroko masih terbaring di tempatnya tidak ada niat untuk bangun. Lagipula, Akashi juga masih diposisi yang sama, tetap berada di atasnya. "Pekerjaanmu bagaimana?"
Nijimura tidak menjawab. Kedua manik hitamnya fokus menatap si surai merah dengan tatapan membunuh. Tatapan yang sama juga diberikan Akashi pada Nijimura. Jika diperhatikan, ada kilatan listrik yang membentang diantara mereka. Aura gelap dari tubuh mereka juga menguar dengan ganas membuat beberapa orang di sekitar sana tiba-tiba bergidik ketakutan.
"Nii-san?" panggil Kuroko. Dia sama sekali tidak terganggu dengan aura kedua orang di depannya. Seperti yang selalu terjadi, aura gelap Akashi tidak pernah menyentuh teritori Kuroko, begitu juga dengan Nijimura yang akhirnya bisa menguasai teknik itu setelah beberapa tahun berlatih keras.
Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Nijimura mengalihkan pandangannya dari Akashi. "Kuroko, kau baru saja lolos dari bahaya," sahut Nijimura. "Akashi, menjauh dari Kuroko."
Akashi tidak bergerak. Masih tetap dengan posisinya. Tak seorang pun bisa memerintah seorang Akashi. Nijimura harus tau itu. Walaupun dia akan menjadi kakak iparnya, tetap saja dia tidak punya hak memerintah Akashi seenaknya. Apalagi jika perintah itu adalah menjauhi Kuroko. Jawabannya sudah pasti tidak.
Pandangan meremehkan di arahkan Akashi kepada Nijimura sebelum Akashi mendengar suara debuman yang lumayan keras dan menemukan dirinya telah terduduk di atas pasir yang hangat. Apa yang baru saja terjadi? Akashi memandang Nijmura yang tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya menyiratkan pertanyaan yang ternyata dipahami Nijimura. Akashi melihat Nijmura menggeleng pelan sambil menghela nafas.
"Sudah kubilang menjauh dari Kuroko," gumam Nijimura yang masih bisa di dengar Akashi.
Saat Nijimura membawa pandangannya kembali pada Kuroko, Akashi juga mengikutinya. Ada yang aneh dengan Kuroko. Sejak kapan rambut baby bluenya jadi sepanjang punggung dan diikat twintail seperti itu? Lalu sejak kapan Kuroko memakai jeans belel dan baju kaos panjang berwarna merah muda itu?
Akashi berdiri dari duduknya dan berjalan menuju lokasi Kuroko. Dalam perjalanan yang hanya beberapa detik itu, otaknya yang sejak awal memang luar biasa encer telah berhasil mencapai kesimpulan dari situasi yang sedang terjadi. "Siapa kau?" tanya Akashi pada gadis yang saat ini sedang menggantikan posisinya tadi dan sedang berada di atas tubuh Kuroko.
"TETSU-CHAAAAAN!" panggil gadis itu sambil memeluk tubuh Kuroko yang sedang topless. "Lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan? Tidak berubah sama sekali kan? Kau masih Tetsu-chan yang dulu kan? Aku kaget sekali saat mendengar berita kalau kau sudah dilamar. Aku tau kita sudah berpisah lama dan beberapa waktu yang lalu aku juga masih ada pekerjaan di luar negeri. Tapi tidak mungkin kan kau sudah dilamar orang lain? Apa ini karena Shuzou? Ini karena Shuzou tidak bisa menjagamu dengan baik? Makanya sudah kubilang untuk ikut denganku saja! Shuzou tidak bisa menjagamu dari orang-orang jahat. Tapi kalau denganku, jangankan menyentuhmu, berada didekatmu saja, orang-orang itu akan kubunuh. Jadi apa kau sudah berubah pikiran dan mau ikut bersamaku?" ucapan gadis itu membuat Akashi terdiam, Nijimura lagi-lagi menghela nafas, dan Kuroko masih tetap berwajah datar.
"Justru karena itu, Kuroko dilarang ikut denganmu kan, Naomi," sahut Nijimura.
Alis si gadis bersurai baby blue berkedut, "apa kau bilang, Shuzou? Kau benar-benar harus diberi pelajaran, ya? Dan sudah berapa kali kubilang untuk memanggilku 'Naomi-oneesama' bukan? Kau sama sekali tidak menghargai orang yang lebih tua, ya? Akan aku laporkan ke orang tuamu!"
Nijimura mendecih pelan. "Tak perlu melapor ke orang tuaku. Memangnya kau masih anak-anak? Lagipula kau hanya beda dua tahun di atasku. Dan aku nggak mau memanggil 'onee-sama' pada orang yang sifatnya lebih kekanak-kanakan dibandingkan aku," tolak Nijimura. Alis Naomi semakin berkedut, wajahnya terlihat sangat kesal. Jauh berbeda dengan wajah seseorang bersurai baby blue lainnya.
"Sesak, Naomi-oneesama," sahut Kuroko yang saat ini sedang berada dalam pelukan beruang Naomi. Pelukannya sungguh menyaingi pelukan Kise dan Momoi.
Naomi terkesiap dan segera melepaskan pelukannya. Kedua tangannya kemudian meraih kedua pipi Kuroko dan membuat mereka saling bertatapan. "Suara datar ini! Ekspresi datar ini! Kau benar-benar tidak berubah! Masih Tetsu-chan yang dulu! Sekarang, ayo kemasi barang-barangmu dan ikut Onee-sama ke Amerika! Urusan dengan paman Tsuyoshi, biar Onee-sama yang bicara. Tetsu-chan tenang saja." Tangan Naomi beralih mengambil salah satu kaos putih yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Dengan cepat kaos itu sudah dikenakan oleh Kuroko. "Ayo!" ajak Naomi sambil menarik tangan Kuroko untuk berdiri dan mengikutinya.
"Onee-sama," sahut Kuroko masih tetap pada posisi duduknya.
"Naomi, kurasa kau bukan hanya harus berurusan dengan Kuroko-san," cegat Nijimura. Setelah aura membunuhnya hilang beberapa menit yang lalu, dia jadi bisa merasakan aura membunuh Akashi yang ternyata sangat mengerikan, pantas saja kelima orang itu tidak bisa berkutik melawan Akashi. Sejenak Nijimura merasa kasihan pada kelima orang teman Kuroko yang sekarang entah berada dimana itu. Dan saat ini Nijimura sedang memperhitungkan nasibnya selanjutnya. Sejak tadi dia tidak berani menoleh ke sebelah kirinya meski hanya untuk menikmati pemandangan pantai.
Saat ini di sebelah kiri Nijimura sedang berdiri perwujudan dari seorang Raja Iblis bersurai merah dengan aura membunuh yang menguar hebat. Dan perwujudan Raja Iblis itu sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari sosok gadis – bukan, wanita di depannya. Akashi benci terabaikan. Hanya Kuroko yang bisa mengabaikannya meski terpaksa membuatnya mengerahkan seluruh kesabarannya. Dan saat ini, orang lain selain Kuroko sedang mengabaikan keberadaannya yang absolut itu. Mungkin orang itu sudah bosan hidup.
"Apa maksudmu, Shuzou? Dan kenapa tubuhmu jadi kaku dan berkeringat seperti itu?" tanya Naomi bingung. Pandangan matanya beralih pada Akashi yang sedang balik menatap Naomi. "Siapa si pendek yang berada di sampingmu itu?" tanya Naomi.
"Dia benar-benar tidak sayang nyawa," gumam Akashi sambil menyeringai yang hanya bisa didengar Nijimura.
Nijimura semakin berkeringat dingin. Meski membenci Naomi, tetap saja Naomi adalah salah satu anggota keluarganya. Dia tidak ingin Naomi menjadi korban pembunuhan yang tiba-tiba beritanya muncul di koran besok pagi. Bagaimanapun juga dia harus menyelamatkan Naomi. Tetapi satu hal yang membuat Nijimura bingung. Kenapa Naomi tidak bisa merasakan aura membunuh Akashi? Jawabannya karena keberadaan Kuroko, otak Nijimura kembali berhasil memecahkan masalah dengan bekerja tiga kali lebih cepat.
"Naomi-oneesama, dia Akashi Seijuurou-kun. Bosku di kantor dan tunanganku," sahut Kuroko memperkenalkan Akashi dengan wajah yang sedikit memerah.
Naomi terdiam sambil memandang Akashi dari ujung kaki ke ujung kepala. "Jadi dia tunanganmu? Akashi Seijuurou ya? Hmm, " Naomi hendak melangkah menjauhi teritori Kuroko saat wajah Nijimura tiba-tiba berubah. Seakan meminta dirinya untuk tetap berada di sebelah Kuroko. Naomi hanya memandnag Nijimura dengan tatapan bingung, tidak mengerti dengan penyebab ekspresi Nijimura yang berubah menjadi seperti itu. Tetapi ketika dua langkah telah dia ambil menjauh dari Kuroko, Naomi tiba-tiba diserang aura membunuh yang sedetik kemudian dia sadari berasal dari pemuda yang dikatainya pendek tadi. Keringat dingin tiba-tiba mengucur dari keningnya. Tubuhnya juga serasa kaku dan tidak mau bergerak, seluruh bulu kuduknya berdiri. Apa-apaan aura ini? Siapa pemuda itu?, batin Naomi. Satu pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia lalu menoleh kearah Kuroko yang masih berekspresi sama seperti sebelumnya. Dan saat mengalihkan pandangannya kepada Nijimura, Naomi mendapatkan jawabannya. Dia boleh juga.
"Kau Seijuurou ya?" tanya Naomi setelah tubuhnya mulai terbiasa dengan aura membunuh Akashi.
Alis Akashi berkedut. Sekali lagi hanya orang tertentu yang bisa memanggilnya dengan nama kecilnya. "Akashi," sahut Akashi dengan penuh penekanan dan keabsolutan.
Naomi kembali dibuat tidak bisa bergerak. Dia sudah sering menghadapi bahaya dan berbagai aura membunuh, tetapi aura membunuh Akashi dan perasaan bahaya yang berasal darinya baru kali ini Naomi merasakan hal yang seperti itu. "Baiklah, Akashi," untuk pertama kalinya Naomi merasakan kekalahan hanya karena satu kata. "Kau boleh juga," Naomi setengah hati memuji.
Nijimura yang mendengarnya hanya bisa terbelalak sedangkan Kuroko tetap stay pada ekspresinya. Dari manik biru langitnya, Akashi tau kalau Kuroko sudah menduga hal ini sebelumnya. Akashi yang merasa Dewi Fortuna kembali ke sisinya, mulai sedikit meredakan aura membunuhnya.
"Tapi Tetsu-chan, bukannya kau menyukai anak-anak? Kalao menikah dengannya –"
"Daijoubu desu, Onee-sama. Aku menyukai Seijuurou-kun," potong Kuroko. "Sangat menyukainya."
Naomi sempat terbelalak mendengar ucapan Kuroko. Baru kali ini Kuroko memotong ucapannya. Dan karena kalimat barusan, Naomi sadar apapun yang dilakukannya tetap tidak akan mengubah keputusan adik kesayangannya itu. Kuroko sudah terkenal dengan sikap keras kepalanya.
Ucapan Kuroko membawa dampak yang berbeda untuk dua orang pemuda yang saat ini sedang memandang dirinya. Akashi memandang Kuroko sambil menyeringai. Aura membunuhnya sudah lenyap tak berbekas – Naomi dan Nijimura sempat dibuat takjub karenanya –, mood buruknya sudah hilang, dan ekspresinya kembali seperti biasa tanpa ada ekspresi terselubung dibaliknya. Sedangkan Nijimura, dia hanya bisa menatap Kuroko dengan pandangan sedih. Adik kecilnya yang manis benar-benar sudah dewasa dan akan segera meninggalkannya. Sebenarnya dia masih belum siap melepaskan Kuroko, tetapi demi kebahagiaan Kuroko, Nijimura hanya bisa terus mendoakan keselamatan Kuroko pada Kami-sama.
"Huwaa!" pekikan anak kecil yang sangat dikenalinya mengalihkan perhatian Naomi. "Bibi Naomi?! Kenapa ada disini?!" pekik Kanagi mengagetkan Kuroko dan Akashi. Hal yang sama berlaku pada kelima orang yang mengikuti Kanagi. Mereka dibuat kaget oleh dua hal, pertama pekikan Kanagi dan yang kedua gadis bersurai baby blue di depan Kuroko.
"Chotto, Kana-chan? Sudah berapa kali kubilang untuk memanggilku 'Naomi-oneesama' bukan?" geram Naomi sambil mencubit kedua pipi Kanagi. Kanagi hanya bisa merintih kesakitan.
Nijimura menghela nafas lagi, "hentikan itu, Naomi. Lagipula kau sudah tidak muda lagi untuk dipanggil 'Onee-sama' oleh Akabane. Tahun ini umurmu kan sudah –"
Kalimat Nijimura dipotong dengan elitnya oleh gumaman dan glare mematikan dari Naomi. "Tetsu-chan, apa Kana-chan mendarat di tempat mu?"
"Mendarat/-ssu/ nanodayo?" sahut keempat mahkluk yang sejak tadi terus bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.
Naomi menghela nafas. Sungguh hari yang melelahkan baginya. Tiba-tiba menerima panggilan darurat pagi-pagi. Harus menghubungi musuh bebuyutannya sejak kecil – apalagi harus meminta pertolongannya, dan menempuh perjalan yang cukup jauh untuk sampai ke pantai ini, hanya untuk mencari anak kecil di depannya ini. Ditambah lagi Naomi harus terpaksa menerima kenyataan bahwa adik kesayangannya telah menjadi milik orang lain. "Dia terjun dari helikoper saat melintasi wilayah ini. Makanya aku segera diminta untuk mencarinya. Ini gara-gara pengasuhnya yang kelewat polos itu," Naomi mengakhiri penjelasannya dengan mendecih.
Aomine, Momoi, Midorima, dan Kise sweatdrop mendengar penjelasan Naomi. Belum lagi cara Naomi menjelaskan seperti itu bukan masalah besar, padahal seorang anak kecil berumur empat tahun baru saja terjun dari helikopter. Melihat pandangan teman-temannya, Kuroko hanya bisa berdehem meminta perhatian mereka dan berkata, "hal itu bukan hal yang baru dalam keluarga mereka."
Aomine, Momoi, Midorima, dan Kise kembali disadarkan bahwa di dunia ini masih banyak hal yang tidak mereka ketahui.
"Lalu, kau siapa?" tanya Momoi penasaran.
Naomi tersenyum mendapati diantara teman-teman Kuroko ada seorang gadis. "Aku Aoki Naomi. Kakak sepupu Tetsu-chan dan Shuzou. Kana-chan adalah keponakanku," sahut Naomi.
"Kakak-ssu? Aku kira adiknya-ssu," sahut Kise.
Mendengarnya membuat Naomi tersenyum manis meski sedikit merasa kesal. Nijimura hanya geleng-geleng kepala. "Jangan tertipu Kise. Walaupun wajahnya seperti itu, dia jauh lebih tua dari yang terlihat." Balasan dari kalimat Nijimura adalah jitakan keras di kepala.
"Shuzou? Kurasa sudah saatnya kita pulang. Aku juga sudah menemukan Kana-chan dan Tetsu-chan tetap tidak mau ikut denganku. Jadi, segera gendong anak ini dan bawa ke mobil!" dari suaranya, Naomi jelas-jelas sedang berusaha menahan amarahnya meski di kalimat terakhir sepertinya dia sudah tidak tahan. Tidak mau mencari masalah meski sebenarnya masih ingin berlama-lama di pantai, Nijimura segera menggendong Kanagi yang sedikit memberontak dan melangkah menuju parkiran.
Naomi memandang Akashi yang saat ini sudah berada di samping Kuroko. Cukup lama. Lalu pandangannya beralih pada Kuroko kemudian kelima temannya yang lain. Dia sedikit terkejut melihat mahkluk tinggi bersurai ungu. "Ternyata kau juga ada, Atsu-chan. Aku tidak menyadari keberadaanmu," lagi-lagi kalimat Naomi membuat Aomine, Momoi, Midorima, dan Kise sweatdrop, Murasakibara dengan tubuh sebesar itu tidak disadarinya, benar-benar manusia jenis apa Naomi ini?
"Terima kasih telah menjaga Kana-chan hari ini. Aku akan memberitahu orang tuanya dan menyuruh mereka memberi kalian semua hadiah. Terutama kau, Tetsu-chan. Aku akan meminta mereka memberikan hadiah yang banyak untuk mu. Oh iya!" Naomi meraih sesuatu dari dalam tas tentengnya. "Ini vanilla milkshake jumbomu," sebuah gelas berwarna putih ukuran jumbo keluar dari dalam tas Naomi, "ini vanilla rollcake mu," kali ini box kue yang lumayan besar yang keluar, "ini permen vanilla mu dan – lho? Aku lupa membawanya. Tetsu-chan, sisanya akan kukirim ke apartemenmu. Harus kau pakai ya!" ucap Naomi sambil menyerahkan sebungkus besar permen rasa vanilla. Kuroko sedikit kewalahan menerimanya, tetapi mampu teratasi dengan keberadaan Akashi di sampingnya yang juga membantu memegang kotak kue.
"Momoi-cchi," panggil Kise dengan suara pelan. "Seluas apa tasnya itu-ssu?" tanya Kise heran dan terkejut dengan semua benda yang keluar dari tas Naomi padahal ukutan tas itu tidaklah besar.
"Aku juga tidak tau, Kise-kun," jawab Momoi.
Naomi menatap Akashi, "aku titip Tetsu-chan padamu. Bukan berarti kau sudah menerima persetujuanku. Aku harus mengetesmu terlebih dahulu. Dan, jika kau membuat Tetsu-chan menangis, kau akan terima akibatnya,"
Akashi tersenyum simpul. "Aku mengerti." Jawaban Akashi membuat teman-teman – budak-budak – nya terkena serangan shock. Baru kali ini Akashi bersikap seperti itu kepada orang selain Kuroko, Akashi sama sekali tidak marah atau tersinggung dengan ucapan Naomi yang terkesan meremehkannya. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat mereka tidak ada disini, begitulah pemikiran keempat orang itu. Dan tentu saja benar. Bahkan jika mereka berbuat kesalahan hari ini, tak akan ada hukuman bagi mereka. Ini karena ucapan Kuroko beberapa waktu lalu yang membuat Akashi memutuskan untuk membuang emosi negatifnya hari ini.
Naomi membungkuk sejenak, pamit. Tetapi sebelum berbalik, dia melemparkan sesuatu ke arah Murasakibara. "Kesukaanmu, makan setelah Tetsu-chan mengizinkannya." Setelah itu, Naomi meninggalkan rombongan Akashi dan Kuroko.
Aomine, Momoi, Midorima, dan Kise melihat apa yang baru saja Naomi berikan pada Murasakibara. Ternyata satu kotak maibou berbagai rasa. Melihatnya membuat mata Murasakibara berkilat senang. Dia lalu memandang Kuroko. "Kuro-chin~~"
Mengerti, Kuroko menggeleng memandang Murasakibara. "Setelah makan siang," sahut Kuroko. "Ayo semua sudah waktunya makan siang," ajak Kuroko sambil meraih keranjang berisi bekal mereka setelah meletakkan vanilla milkshakenya di tempat yang aman.
Mereka lalu menikmati bekal buatan koki mansion Akashi. Ditengah-tengah acara makan itu, ada satu pertanyaan yang menganggu Aomine sejak tadi.
"Tetsu, apa kau kenal dengan kedua orang tua Kanagi?" Kuroko memandang bingung. "Sebenarnya sejak tadi aku ingin mengatakan satu hal. Ini soal isi tas bocah itu." Ucapan Aomine didukung anggukan dari Momoi dan Midorima.
"Kuroko-cchi, jika kau lihat isi tas Kanagi-cchi, kau pasti terkejut-ssu. Isinya benar-benar bukan isi tas anak umur empat tahun-ssu!" lapor Kise.
Kuroko menelan makanannya. "Apa isinya pistol atau semacamnya?" tebak Kuroko yang direspon dengan pandangan shock dari keempat orang di depannya dan kerinyitan dari si surai merah di sampingnya. Sedangkan Murasakibara benar-benar tenggelam dalam dunianya bersama para makanan. "Itu wajar. Sama halnya dengan terjun dari helikopter tadi," lanjut Kuroko. Satu suapan kembali mengisi rongga mulutnya.
Semua orang memandangnya bingung, kali ini terkecuali Murasakibara seorang. "Kenapa kau bisa tau?" tanya Akashi.
Kuroko menoleh,t idak biasanya pemuda disampingnya ini tertarik dengan orang lain. "Sejak awal aku sudah menduganya. Wajahnya tidak asing bagiku, makanya tanpa sadar aku menangis. Lalu saat dia memperkenalkan namanya, aku jadi yakin."
"Apa maksudmu?" tanya Midorima.
"Dia anak salah satu keluargaku. Dan kenapa membawa senjata dan terjun dari helikopter itu hal yang wajar bagi keluarganya, karena kedua orang tuanya adalah sepasang pembunuh bayaran yang sepertinya cukup terkenal."
"APAAA?!" pekik Aomine dan Midorima, sedangkan Kise dan Momoi menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke rongga mulut mereka.
"Pembunuh bayaran?" ulang Aomine tak percaya.
Kuroko mengangguk kalem. "Lalu, Naomi-oneesama juga memiliki profesi yang sama."
Aomine, Momoi, Midorima, dan Kise seketika membeku. Mereka tidak habis pikir dengan silsilah keluarga Kuroko. Padahal mereka yakin sekali keluarga Kuroko adalah keluarga yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia bawah dan merupakan keluarga baik-baik, tetapi ternyata dalam keluarga Kuroko ada yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran. Dan Kuroko mengatakannya dengan wajah yang tetap datar seperti bukan hal yang luar biasa. Lalu karena Naomi tau makanan kesukaan Murasakibara, berarti Murasakibara juga mengenal Naomi. Melihat sikap Murasakibara yang tidak berubah juga merupakan salah satu bukti mereka sudah lama saling kenal. Murasakibara adalah teman masa kecil Kuroko dan Nijimura, berarti mereka berempat sudah saling berinteraksi sejak mereka masih kecil.
"Ayo lanjutkan makannya," ajakan Kuroko membuyarkan lamunan mereka.
Entah kenapa suasana di sekeliling mereka jadi awkward. Aomine, Momoi, Midorima, dan Kise makan dengan canggung.
"Kise-kun, ayam gorengmu habis. Ini aku tambahkan," sahut Kuroko.
"Arigatoo, Kuroko-cchi," balas Kise.
"Tetsu, ambilkan aku mie goreng disana," pinta Aomine yang kemudian mendapat sepiring penuh mie goreng dari Kuroko. Berkat Kuroko, suasana mulai kembali seperti semula.
"Kuro-chin, udang gorengku habis," sahut Murasakibara.
"Ini, Murasakibara-kun," ucap Kuroko sambil menyerahkan piring berisi udang goreng. Saat masih asyik melayani teman-temannya makan, Kuroko menoleh ke arah Akashi yang sedang mengamati ponselnya. "Ada apa, Seijuurou-kun?" tanya Kuroko.
"Naomi mengirimiku pesan," jawab Akashi.
"Kurasa Nijimura-niisan yang memberikannya. Dia pasti dipaksa lagi oleh Naomi-oneesama. Apa yang dia tulis?" tanya Kuroko lagi.
Akashi terdiam sejenak, kemudian seringai menghiasi wajahnya. "Bukan apa-apa, Tetsuya." Pandangan Akashi beralih dari ponsel ke arah teman – budak – nya yang bersurai hijau. "Shintarou, aku punya tugas baru untukmu." Midorima dengan cepat mengangguk, tau betul bahwa seringai di wajah Akashi saat ini cukup berbahaya jika diabaikan.
"Aku lupa mengatakan sesuatu. Ini soal perkataanku sebelumnya pada Tetsu-chan. Kau tau, Kana-chan lahir dari pasangan seperti kalian. Jadi hal itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Jika kau berminat, perintahkan dokter kepercayaanmu untuk menghubungi kontak dibawah ini.
Kontak : Dokter …. (08XXX….)
P.S : Kontak itu dari Mama Kana-chan, jadi pasti terpercaya.
P.S.S : Ingat aku masih belum mengakuimu!
'FIN'
_ Surat Lamaran : Extra Story _
Reply buat Lenrin soalnya nggak bisa lewat PM:
Iya, sesuatu banget XD.
Ini udah lanjut.
Hehehehe ^^
Thanks for your review, follow and fav. It's supporting me.
Otanjoobi Omedetoo, buat Tetsu-kun! /party/
Langgeng sama Seijuurou-kun, ya ^^
Keep reading my FF, nee. Dan semoga minna-san to senpai tachi tidak bosan membacanya.
So, mind to review?
TBC
