WIH! ADA APDET! SAYA BISA APDET TEPAT WAKTU, RUPANYA?! #DOR

iya, mengingat sekarang ini apdetan fic saya paling cepet setengah bulan/lebih.. hiksu. eniwei, di sini ada yg baca versi inggrisnya juga? saya masukin beberapa adegan ekstra di sana.. tapi ga penting2 amat jg sih, tambahannya :3 #shot

Animelovers21- iyaaa sambil saya nulis chapter 2, saya mikir.. saya kok rada nyesel yah bikin para kisedai jadi genderbended? padahal kayaknya lebih seru kalo mereka tetep jd cowok.. soalnya saya kyknya lebih demen yaoi harem deh.. orz apa saya bikin versi non-genderbended jg yak?

Lylia00- yah, saya emang payah dalam naming sense orz makanya saya tulis para member kisedai dengan nama keluarganya masing-masing..

Wiwit-tjankilisan- xD ini apdetannyaaa~

etto.. saya jg mo curhat inih.. di chapter 1 saya cerita kalo saya jg bikin fic Kurobasu versi dongeng? itulah.. ternyata ada author laen yg punya ide gitu. sama2 red riding hood ama snow white pulak QAQ saya bingung mau post juga pakaga.. saya takut dikira plagiat TT^TT

enjoy and review?

Basketball Which Kuroko Plays (c) PUNYA GUEEEE! PUNYA GUEEEEEEEEEEEEEEEE! *dikebiri*


Kalau boleh jujur, Kise tidak percaya bahwa Kuroko adalah guru.

Kuroko terlihat seperti anak seusianya, minimal anak SMP.

"Um… aku sedang menjalani tugas sebagai guru praktek dari Universitas Tokyo jurusan pendidikan tahun ketiga."

Kuroko terlihat begitu kurus dan lemah.

"Hobiku bermain basket."

Dan Kise berusaha untuk tidak tetap pada pendiriannya yang mengatakan bahwa Kuroko bukanlah guru.

"Dan mulai hari ini sampai setahun ke depan, aku akan menjadi guru olahraga sekaligus wali kelas kalian. Mohon bantuannya, semua."

Kuroko bukan guru.

Namun, kenyataannya, Kuroko berdiri di depan kelas Kise. Menjelaskan peraturan di kelas dan menanyakan pendapat anak-anak sekelas mengenai tugas piket. Mewanti-wanti agar mereka boleh aktif selama tidak menimbulkan masalah karena mereka adalah tanggung jawabnya. Semakin dilihat, sikap Kuroko membuktikan bahwa dia adalah guru.

Dia terlalu imut untuk menjadi guru!

Sementara itu, Aomine masih memerhatikan Kuroko. Dia masih setengah tidak percaya bahwa 'orang itu' adalah wali kelasnya. Lebih cocok menjadi adiknya atau adik kelasnya.

"Pelajaran olahraga dimulai besok. Nah, untuk teori, buku cetak yang akan kita pakai adalah…"

Saat mengambil salah satu buku dari tumpukan buku yang berada di atas mejanya, dia kehilangan keseimbangan. Buku-bukunya berjatuhan. Dia sedikit panik, walau ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.

Terlalu ceroboh dan imut untuk menjadi guru.

Midorima membetulkan letak kacamatanya. Matanya sedikit melotot begitu melihat sosok yang sedang merapikan buku-bukunya. Sosok itu berdeham, kemudian menjelaskan tentang buku teori yang akan mereka pakai dan di mana mereka bisa mengambilnya.

'Aku hanya memperhatikan buku itu. Buku teori itu penting untukku. Aku tidak memerhatikan Kuroko-sensei, kok'.

Menipu diri sendiri.

Murasakibara, untuk pertama kalinya, tidak mengeluh saat jam pelajaran.

Biasanya, dia berharap jam pelajaran cepat-cepat berakhir, karena saat jam pelajaran, dia tidak diperbolehkan makan snack. Tapi, sekarang dia melupakan apapun tentang makanan. Yang di pikirannya hanyalah wali kelasnya—

'Kuro-chin sensei terlihat enak'.

—oke, lupakan.

Dan tak ada yang tahu maupun yang mau tahu apa yang di dalam pikiran Akashi saat memerhatikan wali kelasnya itu.


"Kise-chaaan~"

Bel pulang sekolah telah berdering. Masing-masing anak yang mempunyai jadwal latihan klub hari ini langsung bergegas pergi ke ruangan klub masing-masing, tak terkecuali para siswa kelas 1-2 yang rambutnya berwarna warni itu.

Walau begitu, di tengah jalan, Momoi menghentikan langkahnya dan malah berbalik pada Kise.

"Momoi-kun? Ada apa?" Tanya Kise.

Momoi tersenyum. "Kise sudah ikut klub? Mau ikut klub basket putri?"

"Eeh…?" Kise memainkan beberapa helai rambut pirangnya. "Eng… belum sih… tapi aku belum tahu… belum ada klub yang membuatku tertarik."

"Kalau begitu, kita coba saja ke klub basket putri dulu!"

Kise tak punya pilihan lain. Lagipula, dia juga tidak ada kerjaan, dan siapa tahu ajakan Momoi memudahkannya untuk mengikuti klub apa. Plus, dia sedikit penasaran juga dengan basket, karena walaupun jago olahraga, dia nggak pernah mencoba memainkannya.

"Ngomong-ngomong, Momoi-kun ikut basket putra?"

Momoi menggeleng. "Nggak~ aku cuman berolahraga dengan fitness, tapi aku nggak bisa main basket, nanti cedera tanganku kambuh. Yaah, mungkin aku bisa mengajarkan teknik basket sedikit… mungkin aku bakal jadi manager sekaligus mata-mata?"

'Mata-mata?', tanya Kise dalam hati, namun tidak bertanya lebih lanjut.

"Ayo, kalau sekarang, masih bisa sempat mendaftar. Latihannya dimulai satu jam lagi, jadi para anggota bisa main-main dulu sebelum itu."

Kise mengangguk.

Gedung olahraga tidak terlalu jauh dari sana. Ada tiga gedung lapangan indoor—satu gedung terlihat lebih besar daripada dua yang lainnya, meski penampilannya dari exterior maupun cat terlihat sama saja—dan ketiganya untuk basket. Dan hanya lapangan paling besar yang diramaikan oleh anak-anak klub basket.

Dan Kise tertegun.

Di dalamnya, di lapangan indoor sebesar itu, hanya ada enam orang yang bermain, sementara seluruh anak-anak klub basket merapat ke pinggir. Bukan, bukan permainan three-on-three. Namun one-on-five.

Dan terlihatlah Aomine. Cewek berkulit tan yang telah mengganti pakaiannya dengan kaus lengan pendek biasa dan celana basket itu tengah mendribel bola melewati kelima orang lawannya, melompat, dan memasukkan dunk. Kelima lawannya seakan bukanlah apa-apa.

Saat bola berada di tangan lawan, dengan cepat dia men-steal bola itu. Merebutnya, dan mendribelnya hingga dihadang dua lawannya sekaligus.

Aomine hanya tersenyum girang sambil mendribel bolanya. Bola itu dipantulkan ke lantai oleh tangan kanannya melewati kaki kirinya, kemudian diterima tangan kirinya yang akan memantulkan bola itu kembali ke belakang untuk diterima tangan kanannya kembali. Terus dia lakukan hingga bola itu berakhir di tangan kirinya di belakang punggungnya.

Dan kemudian, dia melemparkan bola itu ke sembarang arah dengan pose mengoper bola.

Bola itu tentu saja berpindah tangan lagi. Tim lawan yang berhasil mendapatkan bolanya langsung mendribelnya ke arah sebaliknya, namun, lagi-lagi, digagalkan Aomine. Setelah mencuri bolanya kembali, dia kembali berlari ke arah basket lawan.

"Dia akan melakukan dunk! Kalian semua, hadang!"

Dan ternyata, di area basket lawan, sudah ada tiga orang yang menjaganya. Bahkan ketiga orang itu memiliki tinggi yang mendekati 190 sentimeter. Namun, Aomine tetap menyeringai dan menembak bola dengan pose asal.

'Tidak akan masuk!', batin hampir seluruh orang di lapangan indoor it.

Namun, kenyataannya, masuk.

"Oooh!" Semuanya terkagum-kagum melihat aksi Aomine, terkesima menyaksikan langsung formless shot ala Street Basketball milik Aomine. Tidak ada yang menyangka gadis slengean sepertinya dapat mengalahkan lima senior sekaligus sendirian. Semuanya kagum dengannya.

Termasuk Kise.

"…Momoi-kun, aku mau ikut basket!"


Generation of Miracles, sekumpulan anak-anak yang memiliki talenta basket yang handal dan hanya muncul sepuluh tahun sekali. Permainan mereka melebihi akal manusia biasa. Tangan yang begitu ahli. Raw skill yang luar biasa. Pelatihan yang ketat.

Mereka mengagumkan. Mereka keajaiban.

Kemudian, basket SMA Teikou memiliki dua pelatih.

Untuk basket putri, Kiyoshi Teppei. Pemain legendaris yang terkenal sebagai salah satu dari anggota Crownless General, para pebasket yang memiliki talenta yang bisa dibilang 'keajaiban'. Jika setahun saja lebih muda, merekalah yang akan disebut Generation of Miracles. Dan julukannya selain itu adalah Iron Heart. Selalu tenang dan tersenyum, namun memiliki banyak rencana di kepalanya. Namun karena suatu cedera, dia berhenti bermain sebagai pemain profesional dan menjadi pelatih di SMA Teikou.

Untuk basket putra, Aida Riko. Anak dari Aida Kagetora, salah satu anggota Generation of Miracles generasi pertama yang beralih profesi menjadi pelatih dan jejaknya diikuti oleh anak perempuannya yang satu ini. Sudah menjabat menjadi pelatih sejak masa SMA. Kemampuannya mengukur kemampuan seseorang dari lekukan otot tubuhnya, kreativitasnya mengatur menu latihan, serta kemampuan prediksi talenta para pebasket menjadikannya dipercaya untuk menangani para pemain handal yang juga berasal dari SMA terhandal, Teikou.

Namun, kalau hanya karena dua hal itu saja, belum komplit untuk membuat klub basket SMA Teikou menjadi klub bergengsi dengan anggota yang lebih dari seratus orang.

"Sayang, yaa, pelatih kita badannya tipis banget~ B cup, mungkin?" Komentar Momoi terang-terangan ketika muncul di lapangan indoor. Tak seperti anak-anak lain yang sudah berganti dengan kaus biasa dan celana basket, dia masih memakai baju seragam SMA Teikou.

Kemudian Riko menghajarnya sepenuh hati, tanpa menyadari anggukan super pelan dari pebasket putra.

Untuk latihan kali ini, kegiatan klub basket putri dan putra digabung. Mereka berdiri di tengah-tengah lapangan, menghadap pada Riko yang tengah memegang peluit yang tersambung dengan tali yang dipakainya mengelilingi lehernya.

"Oke, karena pelatih Teppei tidak bisa menghadiri latihan siang ini karena harus check-up ke rumah sakit, dia akan digantikan oleh Kuroko-sensei, guru olahraga kelas 1." Kata Riko.

"Bakal ada Kurokocchi-sensei?" Mata Kise berbinar-binar tanpa sadar. Aomine sedikit tertarik. Midorima meng-hmph ria. Murasakibara makan permen vanilla diam-diam sambil berkhayal tentang Kuroko. Sementara Akashi memperhatikan bangku kosong yang berada di belakang Riko.

"Tapi, beliau sudah izin pada saya kalau dia akan sedikit terlambat. Em, dan mungkin belum datang…"

"Um… saya…"

"Ya sudah!" Riko menepuk tangannya.

"Um, pelatih…"

"Nah! Kalau begitu, hari ini kita adakan perkenalan saja, ya?"

"Anu…"

"Lalu kita lakukan perkenalan lagi ketika Kuroko-sensei datang…"

"Anu, pelatih…"

Sebuah tepukan di bahu Riko. Riko langsung menjerit kaget dan melakukan tonjokan maut secara refleks. Sosok yang menepuknya langsung terjengkang ke belakang, terkapar di atas lantai lapangan basket indoor.

"KOROKO-SENSEI?! Aaah, maaf maaf! Tapi jangan muncul tiba-tiba dan ngagetin gitu dong!" Kata Riko panik, namun sempat-sempatnya memarahi Kuroko.

"Saya… sudah ada di sini sejak tadi…" Kata Kuroko sambil menunjukkan bangku yang rupanya sejak tadi dia duduki di sela-sela napas terakhirnya.

Setelah perkenalan, latihan dasar dimulai. Para putri berbaris menghadap ring utara di pojok selatan lapangan, sementara putra berbaris menghadap ring selatan di pojok utara lapangan. Mereka akan mendapatkan operan bola, mendribel, kemudian melakukan shoot pada ring yang mereka hadapi dari manapun mereka mau dan dengan shoot apapun yang mereka mau. Dunk? Lay up? Three-point? Jump shoot? Hook shoot? Fadeaway? Terserah. Kemudian mereka tangkap bola yang mereka lempar, berlari kembali menuju tempat semula mereka baris, dan mem-pass bola pada giliran selanjutnya.

"Apakah ada salah satu dari kalian yang ingin mengajukan diri untuk mempragakannya pada teman-teman kalian?" Tanya Riko.

"Pelatih, pelatih!" Kise melambaikan tangannya. "Aku ingin melihat Kurokocchi-sensei mempragakannya!"

Riko tersenyum kaku. Kuroko? Dia memang guru olahraga, tapi…

"Ah, tapi saya…"

"Hmm, menarik." Midorima membetulkan letak kacamatanya. "Aku ingin melihat sensei mempragakannya juga. Tak sulit untuk anda, bukan? Mengingat anda adalah guru olahraga." Katanya. 'Dan bukan berarti aku ingin melihatnya beraksi, ya!', tambahnya dalam hati.

Kuroko tak punya pilihan lain. Diambilnya satu bola basket. Didribelnya bola itu dari ujung lapangan satu ke ujung lapangan lainnya, dan dia bersiap untuk men-shoot…

"Kuroko-sensei, bolamu lepas!"

Hening.

Kuroko mengejar bola yang sudah menggelinding entah kemana. Didribelnya kembali bola itu, kemudian dilakukannya jump-shoot…

…bola memantul di ring.

Hening.

"…Begitulah caranya." Katanya sambil menoleh ke arah murid-muridnya, tentu dengan wajah datarnya.

Riko menghela napas berat. "Ya sudahlah, kita mulai saja!"

Peluit dibunyikan, tanda latihan dimulai.


"Ano, pelatih, apa anda sudah mengecek kemampuan pemain basket putra?" Tanya Kuroko sambil bersandar di dinding, walau matanya tak luput dari

"Sudah. Sudah kusuruh semuanya buka baju. Mereka rata-rata lumayan. Terutama Momoi, walau data-data yang kutangkap menunjukkan bahwa dia tidak terlalu pandai bermain basket, ototnya lumayan." Kata Riko. "Tentu saja kemampuanku tidak berlaku untuk pemain basket putri. Karena itulah, bagian putri kulimpahkan pada Kiyoshi dan kau."

"Hmm…"

Kini waktunya Aomine beraksi. Didribelnya bola itu tanpa cela, kemudian dia memasukkan bola dengan dunk.

"Aku rasa, Aomine-san bagus." Kata Kuroko.

"Heh. Kalau itu sih, aku sudah tau. Coba tadi kau tidak terlambat datang, tadi dia melawan lima seniornya sendirian."

"Hmm…" Kuroko sedikit terkejut, namun tentu tak mengubah ekspresi mukanya. "Dunk Murasakibara-san pun bagus… walau dilakukan dengan malas-malasan. Akashi-san juga bagus. Bolanya begitu mulus masuk ke dalam ring. Three-point Midorima-san juga bagus…" Komentar Kuroko.

Kise mengamati pemain perempuan sebelumnya. Gerakan dribelnya, caranya berhenti mendribel bola, cara kaki kanan dan kaki kirinya bergantian menapak ke lantai, dan caranya meloncat sambil melepaskan lemparan menuju ring ala lay up.

Kemudian, giliran Kise. Dia menerima operan bola tersebut. Didribelnya bola itu, kemudian dia melakukan lay up sama persis seperti pemain perempuan sebelumnya. Hanya ada beberapa orang yang menyadarinya.

"Kise juga sepertinya bagus, ya? Walau terlihat biasa saja." Komentar Riko.

"Tidak," Kuroko menggeleng. "Ini pertama kalinya dia menyentuh bola basket."

"Eh?" Riko menoleh.

"Wajahnya sebelumnya terlihat sedikit cemas. Lalu tanpa henti dia memperhatikan bagaimana anggota lain bermain basket. Dan gerakannya yang meniru pemain sebelumnya hanya menambah dugaanku bahwa dia sebenarnya tidak pernah bermain basket, dan mencoba belajar memainkannya dengan melihat cara orang lain bermain basket dan menirunya. Cara simpel yang mudah untuk belajar—meniru contoh."

Riko tertegun. Dia tidak tahu harus kagum pada siapa. Pada Kise yang bisa bermain basket pada permainan pertamanya, atau pada Kuroko yang dapat menjelaskan permainan Kise?

"Bagaimana kau…." Riko kehilangan kata-kata.

Kuroko tersenyum. Tipis. "Anggap saja aku senang mengobservasi orang-orang."


the end! *tepar* semoga gaada kesalahan ya..