E―Epitome
.
"What kind of epitome that suitable for me?"
Akira meletakkan secangkir kopi di hadapan suaminya, menatap mata legam Itachi lekat-lekat.
Koran yang tengah ditekuni Itachi diturunkan, fokusnya teralihkan dengan pertanyaan Akira yang cukup menarik minatnya.
"Epitome, epitome …." Itachi mengulagi kata tersebut seperti tengah memantrai sesuatu. Matanya menjurus lurus-lurus ke mata kelam Akira di seberangnya. Wanita itu memangku wajah jelitanya dengan tangan kanan, pun menatap mata Itachi dengan penuh minat.
Itachi tetap berpikir dengan tenang sembari menyesap kopi hitamnya. Tiba-tiba saja pria muda ini terkekeh, menumbuhkan tanda tanya semu di atas kepala Akira.
"Aku sudah menemukan nama yang cocok. Tapi itu akan membuat aku―suamimu―terdengar brengsek."
"Apa, apa?" Akira menanggalkan bantalan tangannya, penasaran sekali.
"Proserpine."
"Dewi musim semi?" Akira tertawa, "Benar juga. Hades menculiknya dan membawanya ke dunia bawah tanah. Kau brengsek."
Akira tertawa-tawa melihat suaminya tidak mengindahkannya dan tetap menikmati kopi. Wanita ini kembali ke dapur, mengambil kembali teko kopi dengan uap mengepul bebas.
"Aku juga menemukan epitome yang cocok untukmu," ujar Akira sembari mengisi kembali cangkir kopi Itachi. Itachi memandangnya, bertanya-tanya.
Akira mengedipkan sebelah matanya, lalu mencium pipi sang suami.
"Ashura. Keren, 'kan?"
