.
CHANBAEK AREA'S
.
THE PRINCE OF CONFINEMENT
Part II
.
Remake and translate from OGAWA Chise
Not 100% story from that manga. I edit it with my own words for easy to understanding.
Hope u enjoy this story^^
Sorry for any typos
~HAPPY READING~
.
-oOo-
.
.
-oOo-
.
Sinar udara pagi behasil membuat Baekhyun bangun dari tidur panjangnya. Ranjangnya begitu nyaman hingga ia malas bangun. Lelaki berwajah cantik itu menguap lebar dengan tidak indahnya dan mengangkat kedua tangan setinggi-tinggnya untuki melenturkan tubuh kakunya. Tak lupa tangan dan kakinya yang masih terpasang borgol membuatnya gerakannya terganggu. Untung saja rantai itu panjang, sehingga dia bisa dengan bebas berjalan-jalan, walau hanya dikamar.
"Selamat pagi, Tuan muda Baekhyun."
Di ujung pintu terlihat si penawan Baekhyun datang dengan membawa nampan. Pria itu begitu dewasa dan gagah dengan setelan rapinya. Itu sering membuat Baekhyun bingung, apakah pria itu tak gerah selalu mengenakan setelan lengkap seperti itu? Padahal ini adalah rumahnya.
"Chanyeol."
Baekhyun langsung memeluk lutut begitu Chanyeol sepertinya mau mendekat.
"A-apa yang kau lakukan?"
Entah apa yang akan Chanyeol lakukan, ini membuat Baekhyun ketakutan. Pria berpakaian formal itu membawa sebuah serbet putih dan sebuah pisau kecil. Jelas saja membuat lelaki mungil itu bergidik ngeri apalagi wajah Chanyeol saat ini sangat datar.
"Tolong tetap dalam posisi anda."
Chanyeol mendekatkan pisau kecil itu ke pipi Baekhyun.
Sret!
Tak disangka, ternyata Chanyeol mencukur bulu di jenggot Baekhyun yang mulai tumbuh.
Pria mungil itu langsung menghela napas lega dan memberi tatapan datar selama Chanyeol sibuk mengurusi bulu-bulu yang bersarang pada dagunya.
Beberapa saat kemudian sudah bersihlah dagu Baekhyun. Hasil pekerjaan Chanyeol tak perlu diragukan kerapianny.
"Kau tetap memperlakukanku seperti biasa."
Baekhyun memulai pembicaraan setelah melihat tingkah Chanyeol yang tak berubah setelah kejadian itu.
"Iya."
"Aku belum memaafkan perbuatanmu."
"Saya mengerti."
Kini Baekhyun duduk memeluk kedua lututnya di sofa kamarnya dan Chanyeol dengan setia berada di belakang Baekhyun menyisiri setiap helai rambut baby brown Baekhyun yang halus.
"Sekali lagi jika pertahananmu kacau, aku akan meloloskan diri dan melaporkanmu ke pihak berwenang."
"Saya mengerti, Tuan muda."
"Satu hal la-"
Sret!
"Maafkan saya."
Perkataan Baekhyun terhenti merasakan sentuhan Chanyeol di lehernya. Kelopak Baekhyun terpejam. Sentuhan Chanyeol tadi membuatnya teringat akan kejadian malam itu. Sepertinya Chanyeol juga merasakan apa yang Baekhyun rasakan, itu sebabnya pria itu meminta maaf.
Sejak saat itu, inilah perbedaan sikap mereka. Mereka merasakan suatu desiran tersendiri saat tubuh mereka bergesekan secara tidak sengaja. Maka dari itu, Baekhyun tahu jika Chanyeol berusaha menjaga jarak dengannya.
Sekarang Baekhyun sudah rapi. Chanyeol memakaikan Baekhyun kemeja dengan sebuah pita hitam sebagai hiasan di kerah kemeja putih polos Baekhyun.
"Anda sangat cantik, Tuan muda Baekhyun. Silakan kemari dan minum kopi anda."
Chanyeol tersenyum ramah memperhatikan sosok Baekhyun yang kini sudah rapi. Pesona Tuan mudanya dari dulu tak pernah berkurang, sudah sekian lama mereka tak bertemu, sosok Baekhyun begitu menawan dan bersinar. Paras manis yang begitu mendomisilin wajahnya, begitu elok digabungkan dengan tubuh ramping mungilnya. Sejak pertama Baekhyun tinggal disini, Chanyeol sudah memesankan beberapa pakaian formal untuk Baekhyun kenakan dan baru hari ini Baekhyun bersedia mengenakan kemeja dan celana kainnya. Tidak perlu mengukur berapa senti tubuh Baekhyun, Chanyeol sudah dapat mengira-ngiranya dengan tepat.
"Apakah kau tak apa-apa tidak kembali ke kantor? Apakah kau seorang bos?"
Baekhyun menyangga dagu dengan tangan kiri dan tangan kanannya sibuk menyuapkan strawberry shortcake kesukaannya, menatap Chanyeol malas. Dia heran mengapa selama ia terkurung disini, pria dihadapannya ini sepertinya tak pernah pergi ke kantor.
"Jika kau menelantarkan perusahaanmu dan hanya mengawasinya saja, perusahaanmu pasti akan jatuh."
Chanyeol menuangkan kopi di cangkir dan meletakkannya di hadapan Baekhyun.
"Tolong jangan khawatirkan masalah itu, Tuan muda. Saya tidak melalaikan tanggung jawab saya. Saya hanya bekerja dirumah. Apalagi saya juga mempunya karyawan yang berkompeten."
"Hmm."
Baekhyun tak membahas lagi perusahaan Chanyeol. Dia terlalu menikmati cake yang lezat saja. Apalah itu, berpikir tentang kehidupan orang lain membuatnya tambah pusing. Dia hanya sekedar basa-basi saja sebenarnya.
"Hmmph."
Baekhyun mengernyit mendengar suara tertawa yang ditahan dari seberang kursinya. Dia langsung mengarahkan pandangan aneh kepada Chanyeol.
"Apakah ada yang lucu?"
"Tidak. Anda masih saja meninggalkan strawberry untuk suapan terakhir. Kebiasaan makan anda masih sama. Saya hanya merasa-"
Awalnya Baekhyun terkejut ketika tahu Chanyeol masih ingat jelas kebiasaanya. Tapi amarahnya langsung saja memuncak dan berdiri menggebrak meja.
"Bodoh!" Pelipis Baekhyun berkedut kesal.
"Tapi… silakan minum kopi anda yang sudah saya buat dengan sepenuh hati, kalau membiarkan terlalu lama kopi anda akan menjadi dingin."
Chanyeol tak menanggapai emosi Baekhyun. Dia menikmati cairan pekat berwarna dark chocolate kesukaannya.
"Kau sangat mengganggu! Siapa yang menambahkan gula dan susu di kopiku?! Aku hanya meminum black coffee!"
Baekhyun menghentak-hentakkan langlahnya dan berjalan menuju ranjang.
Bruk!
Dia tidur tengkurang memeluk bantal dan membelakangi tempat Chanyeol duduk. Terdengar suara geraman seperti seekor anjing dari arah Baekhyun. Itu terdengar sangat menggemaskan jika tidak dalam suasana tegang seperti ini.
Mengapa aku membuang waktuku hanya untuk minum kopi dengan orang yang seenaknya sendiri menawanku? Aku sudah gila!
Lama kelamaan memikirkan Chanyeol, membuat ekspresi Baekhyun melembut. Dalam batinnya, dia meninkmati hidupnya yang seperti ini. Kehidupan dalam sangkar yang selalu terrurus dan dipedulikan, lebih baik daripada waktu ia bebas dan tak punya arah pulang. Tapi, Baekhyun tak bisa menikmati ini begitu saja. Karena pria yang memasukkan ia dalam sangkar ini akan selalu mengingatkannya dengan kenangan lama.
Baekhyun terlalu menikmati renungannya hingga ia tak sadar bahwa sudah tertidur nyenyak.
Chanyeol perlahan menutupi tubuhnya sebatas perut. Tidurnya sangat nyenyak masih dalam posisi awalnya yang tertelungkup memeluk bantal.
Duk!
Tuk!
Wajah Baekhyun sangat tenang ketika tidur. Mata mungilnya tertutup lembut dan bibirnya sedikit terbuka.
Tangan Chanyeol terulur menuju kerah kemeja Baekhyun tapi niatnya batal melihat pergerakan dari Baekhyun.
"Hmm?"
Pandangan mata Baekhyun masih tak fokus. Penglihatannya masih buram.
"Maafkan saya, Tuan muda. Apakah saya mengganggu tidur anda?"
Tangan Baekhyun mengucek matanya untuk mendapatkan fokus pandangan yang jelas.
Terlihat sosok Chanyeol berdiri sedang melipat selimut yang digunakan Baekhyun tadi.
"Tak apa. Ada suara berisik diluar sehingga membuatku terbangun."
"Iya. Kami sedang sibuk untuk persiapan acara penyambutan besok. Besok kita akan kedatang Tuan dan Nyonya besar yang sudah kembali."
Tatapan mata Chanyeol sibuk merapikan selimut tanpa menyadari mata sipit Baekhyun yang membulat. Tubuh Baekhyun langsung terpaku diranjang, tapi ia berhasil mendapatkan kesadarannya kembali.
"Hah? Kau bicara apa? Apakah kau baru saja memukul kepalamu?"
Dahi Baekhyun berkerut seolah tak mengerti perkataan yang dimaksud Chanyeol. Jika Chanyeol memanggil orang yang datang itu 'Tuan' dan 'Nyonya', itu berarti yang akan datang adalah orang tua Baekhyun. Baekhyun sama sekali tak punya niatan untuk bertemu kedua orang tuanya. Kurang ajar sekali Chanyeol, tak memberi tahunya jauh hari jika orang tuanya akan datang.
"Sejauh ini, saya telah membantu keuangan mereka. Sekarang waktunya Tuan muda juga kembali kerumah. Semua akan kembali seperti semula. Kalian bertiga bisa tinggal bersama-"
"Kau telah membodohiku, berengsek! Aku tak sudi melihat wajah mereka lagi! Cepat usir mereka!"
Walaupun Baekhyun terlihat sangat marah dan berteriak, tapi Chanyeol sama sekali tak menanggapai. Chanyeol terus saja memasang ekspresi ramah dan tersenyum tulus.
"Mengapa? Mereka akan selamanya menjadi orang tua biologis anda, Tuan muda. Tuan dan Nyonya besar akan sangat senang melihat anda sudah tumbuh menjadi dewasa seperti sekarang."
Orang tuanya itu sudah tak ia anggap semenjak mereka membuangnya di rumah pamannya. Chanyeol tak mengerti perasaannya. Chanyeol tak mengerti penderitaannya selama ini. Baekhyun menggigit ujung bibirnya, tak terima dengan keputusan Chanyeol yang mengundang orang tuanya kembali kerumah. Baekhyun hanya menggeram memberi tatapan tajam kepada Chanyeol yang berjalan keluar kamarnya.
.
-oOo-
.
Pintu kamar telah Baekhyun kunci dari dalam. Ia mengikat erat pintunya dengan tali dan selimut yang ia dapat di kamar, menghiraukan ketukan dan panggilan Chanyeol dari luar pintu. Menurut Baekhyun, lebih baik mengunci diri di dalam kamar dari pada bertemu orang tuanya.
Tak merasa lelah Chanyeol mengetuk pintu kamar Baekhyun, walau tak ada balasan dari dalam.
"Tuan muda Baekhyun, tolong buka pintunya."
Chanyeol menghela napas, nampan yang ia bawa sepertinya sia-sia.
Di seberang pintu, suasana di dalam kamar sangat gelap. Baekhyun duduk di tepi ranjang sambil menggigit ibu jarinya. Pandangan matanya sangat gusar kala mengingat kejadian delapan tahun silam.
Chanyeol tak tahu tentang kehidupannya dulu dan pria itu bertindak seenaknya sendiri. Chanyeol tak tahu jika orang tuanya sudah membiarkannya bersama seorang paman yang dengan kurangajarnya memasukkan Baekhyun ke dalam dunia yang gelap. Pamannya lah yang mengajarkan ia bertindak kriminal dan kini sudah membuat Baekhyun menjadi terbiasa dan ketergantungan. Sudah terlambat jika orang tuanya itu mencarinya. Ia tak butuh bantuan orang tuanya jika pada akhirnya dirinya akan dibuang lagi.
Baekhyun terkejut sekilas melihat sesuatu dari balik jendela kamarnya. Dia berjalan mendekati jendela dan membuka jendela itu. Ketika ia menengok keluar jendela, diluar ternyata ada lelaki yang berdiri diatas tangga sadang mengecat permukaan luar tembok mansion.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Baekhyun bertanya pada pria yang sibuk mengoles tembok dengan kuas besar yang sudah tertempeli cairan berwarna yang kental.
"Mengecat ulang dinding."
"Iya, aku tahu… Rumah ini sudah tua, tidak mudah merenovasinya."
"Yeah, tapi pemiliknya menginginkan rumah ini cat ulang seperti masa kejayaannya dulu. Dia berkata bahwa dia sudah berjanji kepada Tuannya."
Ingatan Baekhyun berputar mengingat kenangannya masa lalu ketika dia dengan ceria melontarkan pengandaiannya di hari terakhir ia menginjakkan kaki dirumah ini.
"Hey, Chanyeol. Akan lebih baik jika kita nanti akan kembali tinggal bersama."
"Ya, Tuan muda. Hal itu pasti akan terjadi"
Chanyeol bodoh!
Butler bodoh!
Kau adalah orang yang bodoh, Chanyeol!
Mengapa dia menganggapi permintaan Baekhyun dimasa dulu itu sebagi sesuatu hal yang serius.
Ini membuat hati Baekhyun tak bisa mengelak. Hatinya tersentuh dengan kesetian Chanyeol yang masih setia mengabulkan permintaanya. Apakah selama ini Chanyeol berkerja keras hanya untuk dirinya?
.
-oOo-
.
Pagi pun tiba, Chanyeol membuka pintu kamar yang sudah tak di tali lagi oleh Baekhyun. Ternyata Baekhyun tak terlalu keras kepala, tapi pemandangan kamar sungguh tak terduga.
Jangan berpikir jika kamar menjadi berantakan kembali, itu salah. Yang ada Baekhyun duduk termenung ditepi ranjang tak bergerak sedikitpun. Kepala Baekhyun menunduk sehingga poni rambut Baekhyun menutupi ekspresinya yang terlihat suram.
Ditangan Chanyeol sudah ada satu stel pakaian formal yang siap Baekhyun pakai untuk acara nanti siang.
"Tuan muda Baekhyun. Tuan dan Nyonya besar akan segera tiba. Tolong ganti pakaian anda dengan pakaian yang sudah saya siapkan untuk anda."
Chanyeol berjalan mendekat kearah Baekhyun, dia berjongkok mensejajarkan posisi Baekhyun yang masih menunduk.
"Tak perlu." Lirih Baekhyun.
"Tuan muda." Chanyeol mendongak menatap wajah Baekhyun yang sendu.
"Jika kau menginginkanku untuk berganti pakaian, lakukanlah sendiri."
Melihat raut Baekhyun yang terlihat tak bertenaga, Chanyeol bergerak menuruti perintah majikannya. Dia mengeluarkan kunci dari saku dan membuka borgol Baekhyun.
"Tolong jangan mencoba melarikan diri."
Perlahan Chanyeol mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang sudah Tuan mudanya pakai sejak kemarin. Dengan lembut Chanyeol melepaskan kemeja itu dari tubuh Baekhyun, kini ia bergerak mengambil kemeja yang baru.
"Tolong rentangkan tangan anda."
Chanyeol memutar badannya, memakaikan kemeja Baekhyun dari arah belakang. Dikarenakan tubuhnya yang tinggi, ia sama sekali tak kesulitan untuk membenarkan posisi kemaja Baekhyun.
"Hey" belum mulai Chanyeol mengancingkan kemeja Tuannya, Baekhyun menoleh kebelakang kearahnya "… tidakkah melelahkan kau terus saja mengkhawatirkan akan menyentuhku?"
Ya, sedari tadi Chanyeol berusaha mengganti pakaian Baekhyun, ia sama sekali tak menyentuh seujungpun kulit putih Baekhyun. Chanyeol selalu berhasil menjaga jarak antara tanganya dengan tubuh Baekhyun agar tak menyentuh kulit lelaki mungil ini.
Mendengar perkataan Baekhyun, jelas saja Chanyeol terkejut. Ia terkejut sepertinya Baekhyun tahu apa yang ia rasakan. Dengan posisi Chanyeol yang berada di belakang Baekhyun dengan tangannya yang melingkar perut Baekhyun untuk mengancingkan kemeja itu dari bawah, posisi mereka seakan berpelukan tapi tak bersentuhan apalagi Baekhyun menoleh kebelakang menatapnya. Chanyeol berusaha sangat keras menjaga debaran jantungnya dan mencoba menjaga ekspresinya.
"Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan, kan? Kau boleh melakukan apapun sesukamu terhadapku~"
Aegyo Baekhyun sukses membuat Chanyeol mematung. Agyeo Baekhyun selalu saja berhasil membuatnya kelimpungan. Chanyeol langsung memalingkan wajahnya.
"Kau memang keras kepala."
Baekhyun menutup bibirnya dengan punggung tangannya, melirik centil kearah Chanyeol yang masih di tempatnya.
"Izinkan aku menjelaskan maksudku kepadamu."
Bruk!
Baekhyun berhasil membuat Chanyeol terbaring diranjang. Pria mungil itu menduduki perut Chanyeol dan dengan cepat merengkuh kepala pria bersurai hitam dibawahnya. Di dekatkannya kepalanya ke arah kepala Chanyeol.
"Kau terus saja menyingkir saat kau sesungguhnya ingin menyentuhku… tapi ketika kau melakukannya, kau hanya menggunakan jarimu! Kenapa waktu itu kau hanya menggunakan jarimu?! Kau sudah membuatku gila!
Rona merah begitu kentara di pipi Baekhyun. Perbuatan Baekhyun ini sukses membuat Chanyeol sangat tercengang. Tuannya benar-benar sangat agresif.
.
-oOo-
.
Ding Dong!
Ding Dong!
Di seberang pagar mansion mewah yang pagarnya tertutup rapat, terlihat sepasang suami istri yang berusia sekitar setengah abad. Mereka berdua berdiri menunggu balasan intercom dari dalam mansion, tapi setelah lama meraka memencet bel tak ada balasan sedikitpun.
"Huh? Ini aneh… tak ada seorangpun dirumah?"
Pria sebaruh baya itu berseru aneh saat menyadari tak ada yang membukakan gerbang.
Ding Dong!
Ding Dong!
Di tempat yang berbeda terdengar suara desahan yang memenuhi kamar.
Baekhyun terus menggerakkan tubuhnya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya dan menurunkannya dengan cepat, membuat kejantanan Chanyeol tepat menumbuk titik kenikmatan terdalamnya. Awalnya Baekhyun menaik-turunkan tubuhnya perlahan, tapi kecepatan bertambah saat ia berhasil menemukan sweet spot-nya. Ini membuat mereka berdua gila. Chanyeol yang bersandar pada board ranjang, terpesona melihat kecantikan Baekhyun yang terpancar saat kejantanannya berhasil membuat Baekhyun merasakan suatu kenikmatan yang tak terbayangkan.
Baekhyun menyangga beban tubuhnya di kedua lutut Chanyeol yang tertekuk keatas sedangkan tubuhnya terus bergerak naik turun. Kedua tangan Chanyeol membantu menjaga keseimbanngannya dengan memegang paha telanjang Baekhyun. Pakaian kemaja Chanyeol masih lengkap. Baekhyun hanya mengeluarkan kejantanannya dari celana panjang yang ia kenakan tanpa melepaskan keseluruhan celananya.
"Ahh…"
Baekhyun yang berkeringat dan menutup mata tepat diatasnya adalah pemandangan terindah selama hidup Chanyeol. Sama sekali tak terbersit dalam bayangannya akan melakukan sex dengan Tuan mudanya. Ya, walau tuan mudanya kini sudah berubah menjadi sosok dewasa yang begitu cantik dan sangat menggoda untuk saat ini dengan tubuh putih halus. Hanya ada kemeja putih yang tak terkancing menutupi sebagian tubuh langsing Baekhyun. Tubuh mungil Tuan mudanya terus bergerak secara teratur keatas kebawah mengenggelamkan kejantangannya yang berhasil membuatnya gila. Gila karena ia terus saja menahan desahannya.
Baekhyun menyentuh jas Chanyeol, ia berusaha melepaskan seluruh pakaian butlernya itu. Ia tak suka hanya dia yang telanjang. Sungguh pria dihadapannya ini sangat menawan. Tangan Chanyeol terulur, jarinya menyentuh dada rata Baekhyun.
"Ughhh!"
Baekhyun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Jangan sentuh aku! Sebentar lagi aku akan mencapai puncak!"
Baekhyun terus saja menggerakkan pantatnya dengan cepat. Titik kepuasannya sudah semakin dekat. Dia tak ingin Chanyeol menyentuhnya karena dia bisa langsung orgasme.
"Aku sudah tak kuat.. Cepatlah bantu gerakkan pinggulmu… ahhh sedikit lagi~ Yeolhh."
Chanyeol memegang pinggul Baekhyun dan menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan menusuk lubang Tuan mudanya dengan pasti.
"Ahhh!"
Pandangan mereka saling bertemu. Meraka sulit menggambarkan perasaan yang sedang mereka rasakan saat ini .
Tapi Baekhyun hanya ingin tatapan Chanyeol yang saat ini, hanya boleh diberikan padanya.
.
-oOo-
.
Drrrtt!
Sebuah ponsel bergetar diatas meja, membuat pemiliknya tersadar jika ada yang menelpon.
"Oh ini dari Chanyeol."
Itu adalah ponsel milik pasangan paruh baya yang memencet bel di gerbang mansion tadi, tapi saat ini mereka sudah berada di suatu restoran menikmati minuman hangat yang mereka beli.
"Apakah ini dengan Tuan dan Nyonya Byun?"
"Ya, benar. Ini siapa?"
Pria itu bingung mendengar suara berbeda dari biasanya saat meneripa panggilan telepon Chanyeol
.
Dari seberang telepon, Baekhyun bertelanjang dada menghadap jendela memandang pemandangan diluar mansion. Ditangan kanannya ada ponsel milik Chanyeol yang diam-diam ia ambil.
"Saya adalah temannya Chanyeol. Dia berpesan kepada saya agar membatalkan pertemuan hari ini karena dia sedang ada rapat dadakan."
Di kamar yang remang, tak terlihat jelas ekspresi Baekhyun. Sebenarnya dia juga tak tahu mengapa ia repot-repot menelpon orang tuanya itu.
"Oh, benarkah itu? Sayang sekali. Sudah lama sekali kami tak bertemu satu sama lain."
"Ya, sangat disayangkan. Dia menginginkan saya untuk bertanya, apa kabar kalian sekarang?"
"Kami baik-baik saja…" terdengar suara mereka yang ceria di seberang telepon, menunjukkan suatu kebenaran yang tak perlu disembunyikan "… Kami membuka sebuah toko kecil di daerah Bucheon. Awalnya ini sedikit berat dan melelahkan untuk bangun pagi setiap harinya, tapi semua berjalan baik pada akhirnya. Suatu ketika saat anakku kembali disisi kami, aku yakin dia akan bangga dengan rumah barunya yang kami buat untuknya."
Baekhyun sedikit mengangkat setiap sudut bibir tipisnya. Tak ia sangka orang tuanya masih memikirkannya. Sebernarnya rasa rindu itu pasti ada, tapi ia tak ingin orang tuanya tahu seperti apa anaknya sekarang ini. Pasti orang tuanya sedih ketika anaknya menjadi seorang kriminal. Dia meningkirkan perasaan rindu itu jauh-jauh. Mengetahui orang tuanya sudah hidup bahagia, itu sudah cukup.
"Pasti begitu. Sabagai saran dari saya, anda tak perlu kembali ke mansion saja. Saya berharap… kalian berdua dapat menemukan kebahagiaan kalian sendiri."
"Kau…"
Pip
Baekhyun langsung mematikan panggilan telepon dan mematikan ponsel Chanyeol. Ia sudah tak kuat lagi berlama-lama berbicara dengan orang yang berada di seberang telepon.
.
-oOo-
.
Baekhyun meletakkan ponsel Chanyeol didekat secangkir kopi hangat berwarna pekat di meja. Suana tenang kembali tercipta, tapi ketenangan ini membuat Baekhyun merasa nyaman tinggal disini. Tubuhnya ia sandarkan pada bingkai jendela yang tertutup sambil melihat sosok yang tertidur pulas. Tidur Chanyeol terlihat sangat nyenyak dengan selimut menutupi tubuhnya, kecuali bahu telanjangnya. Asal kalian ingat, sejak Chanyeol memakaikannya kemeja tadi, Chanyeol melepas borgol Bekhyun dan saat ini pemuda mungil itu sama sekali tak mempunyai keinginan untuk kabur. Hidupnya terasa sangat tentram disini.
Baekhyun meraih kopi yang sedari ia abaikan dan sedikit mencicipi rasanya. Dahi Baekhyun berkerut merasakan rasa pahit di kopi yang ia minum.
"Uhg … aku benci black coffee."
.
-oOo-
-oOo-
.
TBC
.
-oOo-
-oOo-
.
.
Thanks for
SholikhatinF - hunhun - followbaek - biezzle - Guest - laraswu89 - SeiraCBHS - neli amelia - Honeybbh - Lussia Archery - CindyTamaraSL1 chika love baby baekhyun - kaisoo9394 - CBYH - xxbaekhyuneexx - achakim - Hyebinbaekyeolshipper - HoshinoChanB - wut - winter park chanchan - angelaalay - LoveB - fuyusky c- chan banana - fallen1004 - parklili - RDRD ChanBaek - Guest - CussonsBaekby – Fazamy
.
.
Note:
Pada bingung sama Chanyeol ya? Kkk
Di chap ini mungkin bisa memberi gambaran lebih jelas mengenai Chanyeol. Apakah masih ada yang bingung? #merasagalaujadiauthor :'(
Kalo belum tahu, tanya aja. Sebisa mungkin aku akan jawab di PM atau di next Chapter.
Aku ngerasa Chapter ini pendek banget ya? maafkan saiaaaa.. udah mentok mo nambah khayalan dibagian mana lagi... alurnya kecepetan kah?
Terimakasih atas dukungan positive dari kalian reviewer :* maaf g bisa balas satu demi satu #bow
Aku harap Chap dua ini tak mengecewakan kalian. FF ini three-shoot, jadi chapter selanjutnya adalah ending.
Kritik dan saran aku tunggu^^ jangan bosan ninggalin review ya :D
Love u all~
