The Golden Shiruken—

.

By : Ainesuna

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Warning! : T rated. Mungkin genrenya akan seperti ini di chap mendatang Family/Friendship/Adventure/Fantasy. Typo(s). Diksinya mbleret. Sumpah kalo baca bikin kita ketiduran sangking bosennya =.= dan bener-bener nggak sempurna *pundung*


.

Bab II : KETIKA ada orang baru

.


"hihihi... rumah ini milik Kaa-san." lesu—mereka semua kecewa.

"Ku kira apa... tentu saja ini rumah Kaa-san, iya tidak?" Itachi merengut. Sudah tidak histeris seperti sebelumnya.

Sedangkan Sasuke menghela napas berat, "hhhh..." bahunya lemas.

"Bukan. Bukan begitu, Itachi. Maksudnya ini milik keluarga besar Kaa-san." Mikoto menghentikan acara menyuapkan makanan kemulutnya. "Kau tau, kan. Kaa-san sebenarnya dari klan apa?"

"Yeah... Kurokawa*)." Jawab Itachi malas-malasan.

"Begitu! Ini milik klan Kaa-san!" Mikoto menekankan seluruh katanya.

"BENARKAH?!" Itachi mulai histeris lagi.

"Ya, dan kau... Sasuke, apa kau tidak menyukainya?"

"Hmmm... aku menyukainya." Sasuke mendelik, "tapi... rumah ini mengerikan..." kembali , dia merasakan hal aneh disekitarnya. Terasa begitu... begitu asing.

"Mungkin... kau akan menyukainya suatu saat nanti, Sasuke."

Yah, kuharap juga begitu, pikir Sasuke.

"Malam ini dan seterusnya, Itachi tidur di kamar depan. Ok, itachi?"

"Hn." Itachi hanya mengangguk. Dimana saja, asalkan ada buku, Itachi betah.

"Kaa-san akan tidur di kamar belakang." Guliran mata Mikoto kearah Sasuke, "Hm... dan jika kau takut Sasuke, aku menempatkanmu di kamar tengah. Adil, kan?" cerah.

"Yah... sedikit setuju. Tapi nanti, kalau jam berapa pun aku masuk kamar Kaa-san—dan mengganggu—tidak apa-apa, kan?" wajahnya memelas.

"Iyah..."

Kenapa mereka tidak tidur di latai atas? Rumah ini, kan memiliki 3 lantai—besar bukan? Keluarga Kurokawa memang jaya dulunya. Dan entah karena apa, tiba-tiba semuanya musnah karena di serang oleh sekelompok ninja bernama Akatsuki. Hmm... ninja? Tentu saja!

Kurokawa juga termasuk klan shinobi. Tapi, kenapa Sasuke dan Itachi tidak di didik menjadi seorang ninja?

Jawabnya, karena Uchiha Fugaku—ayah Sasuke dan Itachi, sekaligus suami Mikoto—meninggal. Bahkan sebelum beliau meninggal, kondisi keluarga kecil Uchiha ini lebih—jauh lebih baik dari pada sekarang. Setelah Fugaku, yang juga pemimpin Uchiha meninggal, seharusnya Itachi-lah yang mewarisinya. Tapi nyatanya tidak. Paman licik mereka, Madara. Dialah yang sekarang menguasai Uchiha. Begitu merumitkan sesudahnya. Mereka ditelantarkan, tak diperhatikan. Bahkan mereka dibuang. Bagaimana bisa hidup tanpa apa-apa? Apalagi Mikoto waktu itu sedang hamil besar anak keduanya, Sasuke. Betapa susahnya mereka.

Dan setelah itu, Mikoto tidak ingin anaknya menjadi ninja. Apalagi ninja yang bermarga Uchiha. Dia terlalu dendam dengan Uchiha.

Kelak nanti, jika Itachi benar-benar menjadi ninja bermarga Uchiha, dia akan dianggap kembali pada Uchiha. Dan Mikoto tidak—samasekali tidak menyukainya.

.

.

"Hoaaaammm!"

"Ahaha... bagaimana tidurmu tadi, Itachi?" tanya sang bunda.

"Yah... lumayan nyenyak. Jika memang dia tidak menggangguku setiap menitnya." Sinis.

"Dia? Sasuke?" tiba-tiba Mikoto terlihat panik, "Ohya, dimana Sasuke?"

"Dia tidur. Tadi malam, dia terus-terusan tanya padaku, Kaa-san. 'Itachi-nii, kau sudah tidur?' atau 'Itachi-nii sudah bermimpi?' bahkan 'Itachi-nii! Jangan tidur!' —hhh~" kata Itachi panjang lebar sambil meniru gaya Sasuke—yang ketakutan—tadi malam.

"Kalau begitu, 1 jam lagi. Kaa-san tunggu di ruang makan, yah?"

Itachi mengangguk. "Hn."

.

.

"Kaa-san, bagaimana kalau rumah ini diberi penerangan yang lebih?" Sasuke bergidik, "Ini mengerikan..."

"Hihihi... kau ini, Sasuke. Ada-ada saja. Kau takut?" Mikoto membelai lembut rambut hitam Sasuke—sedikit mengingatkannya tentang Fugaku.

"Tidak, hanya... um... ini kurang terang. Ya! Kurang terang!"

Seseorang membawa segelas air, duduk di sebelah adiknya. Meneguk pelan dan matanya sinis kembali, "Bilang saja takut, kenapa harus bohong."

"Aku tidak bohong!" Sasuke berkelit.

"Lalu, siapa yang tadi malam suruh jagain? Siapa yang tadi malam suruh 'itachi-nii, jangan tidur!' Siapa, hm?"

Lengkungan bibir Sasuke terbentuk, masih berkelit dengan alasan bodohnya. "Aku ini takut gelap, tau?!"

Melihat kedua anaknya yang saling memajukan wajahnya, menepis semua alasan, Mikoto angkat bicara, "Sudah! Hihihi... kalian ini lucu. Seperti ini saja di ributkan. Sasuke, kalau kamu takut, tidak apa-apa. Itu wajar, kamu kan masih kecil. Memangnya lilin di kamarmu mati? Atau kurang banyak?"

"Kurang banyak dan pasti tidak mati!" tuduh Itachi.

"Argghhh—sudahlah, aku ingin main."

"Tunggu, Sasuke. Apa kau but—" Mikoto mencegah.

"TIDAK!" marah. Itachi hanya mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan sifat adik kecilnya.

.

.

"Itachi-nii, main keluar, yuk!" ajak Sasuke, pulih dengan penyakit ngambek-nya.

"Mau kemana? Keluar, katamu?" masih tidak meninggalkan jejak setiap kata di bukunya. "Yang benar saja..."

"Memangnya yang benar apa?" Sasuke nampak kesal, "Dari pada disini!"

"Disini? Sini..!" Itachi menyuruhnya duduk di sofa sampinya—sedikit berdebu. "Duduk manis disini, lalu, aku akan memberimu buku cerita yang bagus!" Itachi mengutek-utek rak buku kecilnya. "Ini dia..." gumamnya.

"Hhh~ cerita?" Sasuke memutarkan bola matanya, dia tidak terlalu minat dengan ratusan kata-kata yang berderetan seperti kereta.

"Ya! Coba baca yang satu ini! Lihat, aku yakin anak-anak normal seusimu pasti suka. Dulu-pun aku menyukainya..."

"Tch... fantasi." Keluh Sasuke saat membaca judul buku yang diberikan Itachi.

"Memangnya kau tidak menyukainya?" Itachi prihatin—adiknya tidak menyukai hal yang biasanya paling disukai anak-anak sukai. Bukan lagi normal.

"Ahh~ membosankan!" desah Sasuke frustasi.

"OK! Tapi apa yang bisa kita lakukan diluar? Mencari cacing? Kulihat di halaman depan banyak tempat lembab, pasti banyak cacing—"

"Kita bisa melakukan hal yang lebih berguna dari pada menangkap cacing. Kita potongi saja hutan itu!"

"Hutan?—OK! Hutan rumput liar, kan maksudnya?!" Itachi antusias. "C'MON!"

.

.

Mereka mencari peralatan berkebuh seperti biasanya di gudang belakang rumah tua itu, tapi tidak ada. Di dapur, nihil. Kamar mandi? Ngelantur. Ruang bawah tanah? Gelap—Sasuke takut. Kamar? bodoh! Mencari alat berkebun di kamar? yang benar saja. Ruang tamu? Oh~ tidak!

"Hhh~ Sasuke, kita belum melakukan apa-apa selain memutari rumah keren ini! 2 jam terakhir." Itachi mulai jengkel.

"Kalau tidak ada di rumah, pasti di luar rumah!" Baka! Sasuke, Itachi tau dia masih kecil. Ucapan bodoh yang seharusnya menambah kejengkelannya kepada adik kecil ditahan.

"Yah, itu pasti!" Itachi menunjuk sebuah gubuk tua dekat gudang.

Sasuke rasa ini bukan ide yang bagus jika mereka mencarinya di tempat seperti itu. Lalu? Daripada mati berdiri tidak melakukan apa-apa. Lebih mending Sasuke membunuh rasa takutnya.

Glek... Sasuke menelan seperempat ludahnya, berharap-harap cemas dengan keadaan menegangkan bagi anak berusia 9 tahun. "Itachi-nii, kau saja yang masuk. Ya?"

"Hah? Sendiri? Yang benar saja. Aku juga takut." Itachi melanjutkan, "Kau takut, aku takut. Kita takut. Kalau kita takut, berarti kita tidak usah kesana." Itachi menunjuk-nunjuk gubuk tua itu. "Bagaimana kalau sekarang kita kembali ke kamar? tenang, aku tidak akan menyuruhmu kembali ke kamar suram-mu!" Itachi mendelik melihat ekspresi Sasuke.

"Lalu ap–"

"Baca buku cerita!" Itachi histeris.

.

.

"Kau punya berapa buku seperti ini?" tanya Sasuke mengalihkan perhatian dari deretan kata-kata aneh yang sebenarnya tidak dia baca.

"Uhmm... waktu aku seusiamu, 300 buku mungkin." Jawab Itachi bangga.

"Lalu, apakah kau sudah membaca semuanya?" Sasuke kembali bertanya.

"Yah—hari tanpa membaca itu tidak asik." Secara tidak langsung Itachi menjawab pertanyaan Sasuke.

"Kalau aku jadi nii-san, pasti kertas-kertas ini sudah ku jadikan bola kertas mainan. Kan asik main bola..." Sasuke membuang buku yang diberikan oleh Itachi ke sembarang arah.

"Hhh~ tidak boleh ada yang memperlakukan bukuku seperti itu! Sasuke, keluar!" Itachi marah besar. hey—hey... kita tau Sasuke hanya bercanda.

DERR!

Pintu kamar Itachi tertutup rapat.

"Ada apa denganku tadi, aku keceplosan..." aku Sasuke. "Hhh~ lalu apa yang akan aku lakukan sekarang?"

Dia teringat sesuatu, seseorang yang hanya melintas di matanya pagi ini. Mikoto?

"Dimana Kaa-san?" gumaman-gumaman aneh keluar dari mulut bocah 9 tahun.

.

.

Dia mencari-cari Mikoto ke kamarnya, tidak ada. Entah kesambet apa, dia menceri ke belakang rumah, di dekat kebun tomat—dan sedikit tanaman liar di dekat pagar.

"Kaa-san!" teriak Sasuke, menyadari seorang wanita berambut hitam, juga bermata yang sewarna.

"Ahh~ Sasuke, kukira kau bersama Itachi!"

"Memang iya, tapi tadi." Sasuke mendekati Ibunya, meniti sebuah papan yang menutupi lubang besar yang kegunaannya belum diketahui.

"Hati-hati... lubangnya cukup dalam, jangan sampai terpeleset!"

"Hn." Sasuke mengangguk. Duduk di sebelah Ibunya, dia merangkul sebelah tangan Mikoto.

"Kaa-san, kenapa kau membaca?" polos, "bukankah membaca itu membosankan?" selalu seperti ini, cari perhatian.

Setelah menutup buku tebal yang sudah di baca setengahnya, dia menoleh. "Itu bagus..."

"Itachi-nii juga menyukainya. Dan... sebenarnya apa sih gunanya kertas-kertas itu?" ini polos atau bodoh?

"Itachi-nii suka membaca? Tentu saja. Memangnya Sasuke tidak suka membaca?" dia ibunya, sejak kecil memang tau apa yang disukai dan tidak disukai anaknya.

"Yah... menurutku itu hal yang membosankan."

"Aku dengar tadi, Itachi marah-marah, ya?" sukurin kau Sasuke, kedengeran sama mama mu!

"Hbbtt—ya!"

"Jangan merengut seperti ikan makarel, Sasuke. Em. Em**)" Mikoto menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tangannya berada di depan wajah.

"Uhmmm... Iya, Kaa-san. Aku tadi keceplosan. Bagaimana kalau nanti malam Itachi masih marah? Aku sendiri..."

"Apa kau butuh teman, Sasuke?" —bergidik—"Maksudku, teman seusiamu. Akhir-akhir ini, kau jarang sekali bermain dengan orang lain selain Itachi. Kau kesepian?"

Eng. Sasuke mengangguk.

"Yah—apalagi disini jarang ada orang lewat." Tetangga saja tidak punya!

Rumah ini dikelilingi oleh batang bambu. Dimana-mana. Setiap sudut halaman rumah. Kecuali bagian barat rumah ini, ada sungainya. Sungai yang dulunya masih kawasan klan Kurokawa. Sungainya berarus deras, jadi jarang ada yang pergi ber-MCK di tempat itu. Anak-anak? Dimana tempatnya anak-anak? Atau taman bermain untuk anak? Jauh sana. Di dekat sekolah akademi biasa. Jangan berharap sekolah disini seperti sekolah-sekolah di Konoha. Gakure satu ini, memang bukan lagi desa shinobi. Warga disini lebih menginginkan perdamaian, menghindari konflik antar ninja. Tapi kabarnya seorang salah satu dari legenda sannin berada di sini.

Memang mengerikan untuk warga desa. Dan itu hanya kabar, kita belum mengetahuinya. Apalagi disini sedang tak ada masalah-masalah berarti—mungkin hanya para petani di desa selatan sedikit kekurangan air. Bukan masalah-masalah penting. Untuk Orochimaru sendiri-pun, yang menyebarkan kabar bahwa dia ada di sekitar sini adalah salah seorang ninja chunnin dari Konoha. Waktu misi di desa ini untuk mencari tau tentang Neko-mahal yang hilang beberapa bulan terakhir. Tapi mereka bertemu dengan seseorangberambut hitam, berkulit pucat. Tangan-tangannya lemah—lumpuh.

Jounnin aneh yang bekerja di hokage mansion yang mengartikan bahwa dia adalah Orochimaru. Jounnin itu memang belum bisa membuktikan hal tersebut. Benarkah Orochimaru ada di desa mantan shinobi Kurokawa?

Kalau memang benar, Ini bahaya!

"Teman itu kan perlu. Ya kan, Sasuke?"

"Tentu!" wajahnya berubah aneh, "aku juga sudah bosan dengan Itachi-nii terus!"

"Ok, Ok! Memang dari dulu kau selalu bersama Itachi. Aku tau kau bosan..." Mikoto mengelus-elus rambutnya. Kaku.

"Uhmm... bagaimana kalau aku panggilkan teman untukmu?"

Sasuke semangat, "Benarkah?" tubuhnya menegang, "Hai, Hai. Aku mau! Aku mau!"

"Hehe... nanti yahh!"

.

.

"Itachi-nii! Kembalikan bajuku!" teriak Sasuke.

Yang di teriaki dari tadi hanya memasang wajah-polos-nya, "Apa?"

"Itu bajuku, kan?!"

"Siapa bilang? Ini dulunya bajuku, Kaa-san itu pilih kasih, bajuku dikasihin ke kamu!" tuduh Itachi membawa nama ibunya.

"Heuh? Apa kau mau memakainya lagi?!"

"Aku tidak akan memakainya lagi~ ini juga sudah tidak muat buatku. Aku mau merobeknya. Untuk mengelap buku-bukuku. Mereka sudah sedikit berdebu."

"APA?!" baju biru lengan panjang, berleher tinggi itu menjadi baju favorit Sasuke dari dulu. Memang itu sebenarnya milik Aniki-nya, dia sudah mengincar baju itu dari pertama Itachi dan Kaa-san-nya membeli. Karena ukuran S waktu itu kosong, jadi, Sasuke berharap-harap suatu hari nanti mendapatkan baju idamannya.

Adu kekuatan tangan, tarik-tarikan, antara Itachi dan Sasuke-pun tak ter relakan.

CKLEEEK...

Suara serak pintu utama sepertinya terbuka. Mengehentikan kegiatan bodoh kakak-beradik. Mikoto.

"Itachi, Sasuke...!" panggil Ibu mereka.

"Ah~ Kaa-san!" Itachi mendekati Ibunya, masih berdiri di depan pintu.

Sasuke tak mau kalah, dia mulai mengadu, "Kaa-san, bajuku mau diminta Nii-san!" merengut,

"Ah?," Mikoto kaget.

"Tidak, Kaa-san. Aku hanya bercanda tadi–Eh, Hey!" Itachi melirik seseorang yang ada di belakang ibunya.

"Siapa dia, Kaa-san?" Sasuke angkat bicara.

"Yo!," sapa anak kecil yang berada di belakang ibunya, "Hajimemashite***)!"

"Ihihihi... sini masuk dulu..." kata Mikoto.

.

.

"Bagini, Itachi, Sasuke..." Mikoto menelan seluruh makanannya, "ini Naruto, dia anaknya teman Kaa-san."

Orang yang bernama Naruto itu hanya nyengir-nyengir bangga. Apa dia teman yang dimaksud Kaa-san?, pikir Saasuke.

"Dia teman kalian." Bingo Sasuke!

"Ahh~ salam kenal, namaku Itachi..." Itachi menyodorkan tangan kanannya.

"Hehehe... Naruto, salam kenal..." Anak berambut pirang itu menjabat tangan Itachi. Apa ya yang ada di pipi-nya itu? Tato? Kumis? Apa sih, ahh~ aneh lah.

Setelah Itachi, Sasuke juga melakukan hal yang sama seperti Aniki-nya. Berkenalan. "Jadi, sekarang Sasuke sudah punya teman. Iya-kan?" Mikoto tersenyum.

Sasuke merasa sangat bahagia melihat Mikoto tersenyum. Wanita itu memang murah senyum. Tapi semenjak meninggalnya Fugaku, senyumnya terasa sangat aneh. Tapi bukan untuk yang satu ini. Senyumnya terlihat tulus. Mungkin karna tidak akan lagi melihat dan mendengar Sasuke ketakutan di rumah barunya. Mungkin dengan adanya Naruto sedikit membantu meringankan penyakit Sasuke.

"Jadi, sekarang aku punya teman?" Sasuke tak bisa mempercayainya, ia punya teman? Hihi. "Aku bisa mainan bersama orang! Aku bisa bermain bola! Aku bisa tidur sekamar dengannya! Aku bisa terhindar dari buku cerita! Aku bisa senang! Aku bisa... aku bisa!" Sasuke mulai menggumam tidak jelas.

"Hihihiihiihhihiih... kalian ini lucu. Kaa-san juga senang bisa membuatmu senang!—dan kau Naruto" Mikoto melirik Naruto, "anggap saja aku ini ibu-mu, OK?"

Naruto kembali nyengir-nyengir khasnya. Yah, itu dianggap 'ya' untuk Mikoto. Anak ini, Mikoto selalu mengingatkannya dengan Minato. Mantan hokage Konoha ke-4. Sang Yondaime hokage-lah orang tuanya—sayang, anak ini tidak tau siapa kedua orang yang telah membuatnya hadir di dunia ini. Dia sendiri. Benar-benar sendiri.

Ayah dan ibunya—Minato dan Kushina—telah dipanggil terlebih dahulu menemui pencipta. Untuk Naruto, aku yakin dia belum bisa mengingat apa-pun waktu mereka meninggalkannya. Terlalu kecil. Dan sekarang? Dia bahkan dikucilkan di Konoha. Membuatnya dijadikan anak yang wajib di benci #1 di desa lindungan daun.

Dan tapi, entah apa yang anak itu pikirkan. Dia selalu terlihat Ok Ok saja. Bahkan karena apa Mikoto melihatnya seperti ini? Membuatnya merasa senang, seperti dia mencintai dan menyukai kedua anaknya-lah yang hanya bisa lakukan untuk menebus hutang Mikoto terhadap Minato dan Kushina. Bukan sembarang hutang. Hutang nyawa!

.

.

"Teme!" panggil anak seusia Sasuke, berambut pirang. Memiliki coretan di pipinya yang khas.

"Teme?," Sasuke berusaha berpikir, "Panggil saja aku Sasuke. Kenapa kau memanggilku 'teme'?"

"Karena kau satu-satunya temanku!" Sasuke kaget. "Kau yang pertama! Kau lah yang pertama mau menjadi temanku!" cengirannya belum bisa lepas dari ke dua bibir Naruto. Walaupun kalimat ini diselipi berbagai tawa, tapi Sasuke tau. Naruto tidak bercanda.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Naruto sampai-sampai ia tidak mempunyai teman?

Sasuke mendekat. 2 anak berumur 9 tahun itu duduk bersebelahan di sofa berdebu milik klan Kurokawa. "Kenapa kau seperti itu?" Sasuke bertanya, ia sudah tidak lagi memikirkan baju yang direbutkannya dengan Itachi tadi. Benar-benar ia penasaran dengan teman barunya saat ini.

Ia juga ingat, Sasuke di kucilkan oleh teman-teman se-klannya karena Fugaku bukan lagi menjabat sebagai ketua klan yang terhormat. Padahal dulunya ia adalah orang paling disegani nomor #3 di klannya sendiri. Fugaku bukan lagi pemimpin, dia mati. Mereka tidak mau menjadi teman Sasuke. Selain itu, mereka juga egois. Keluarga terbuang. Para orang tua dari teman-teman Sasuke lama kelamaan menginginkan anaknya tidak lagi mendekati seorang mantan Uchiha. Walaupun begitu, Sasuke masih menyandang nama Uchiha jadi marga-nya.

'Buang saja marga Uchiha-mu!' itu tidak mudah!

Madara, pemimpin Uchiha sekarang ini, menginginkan Itachi dan Sasuke masih menggunakan marga Uchiha-nya. Mikoto? Itu terserah pada dirinya. Walau dia keluar dari Uchiha-pun, tak ada artinya bagi Madara. Kalau Itachi dan Sasuke? Madara tau, sebenarnya Sasuke dan Itachi ingin menjadi seorang ninja.

Ninja Uchiha memang selalu menjadi nomor satu di Konoha. Tidak kecuali Sasuke dan Itachi. Darah ninja mengalir dalam diri kedua anak itu. Fugaku-lah yang menularkannya. Sebenarnya itu terserah mereka. Menentukan jalan hidupnya masing-masing. Fugaku sebenarnya juga menginginkan kedua anaknya kelak nanti akan menjadi penerus uchiha yang bisa diandalkan.

Pertahanan dan kekuatan Uchiha di Konoha selalu menjadi perhatian. Tidak salah jika Hokage menjadikan klan Uchiha menjadi klan untuk keamanan desa. Memang pada dasarnya Uchiha adalah klan kuat. Fugaku menginginkannya? Itu dulu. Sebelum dia mati. Sekarang?

Mikoto tidak terlalu menyukai profesi sebagai ninja. Penuh perjuangan dan tangung jawab yang tinggi. Yang sebanarnya Mikoto juga ingin anak-anaknya menjadi seseorang Fugaku 2 ataupun 3. Tapi—yah, sudah kubilang seperti sebelumnya. Mereka bersifat egois. Dan Madara memanfaatkan keegoisannya dengan lihai juga licik. Kabar dari Konoha terakhir adalah 'Uchiha mogok kerja'. Benarkah? Tidak ingin menyelamatkan desanya seperti dulu? Seperti yang dikatakan oleh Fugaku. Seorang mantan pemimpin Uchiha.

Sekarang Uchiha menginginkan kedudukan yang lebih dari pada sebagai klan pertahanan desa. Benar benar licik. Siapapun yang menjabat menjadi Hokage sekarang, dia pasti pusing berat. Mikoto juga seakan lari dari masalah sebenarnya. Masalah tentang kepastian klannya. Dia menginginkan Itachi dan Sasuke manjadi yang terbaik. Tapi selain ninja. Selain profesi licik itu. Politik-lah yang sekarang membumbui kekuasaan pemerintahan Konoha. Apalagi klan yang terpaling nekat, Uchiha. Segala hal dihalalkan oleh mereka.

Seperti halnya dengan Mikoto yang tidak ingin anaknya menyandang nama Uchiha. Itachi, anak keciil berumur 13 tahun itu itu juga selalu terpikir oleh masalah keluarganya. Terlalu kecil untuknya memikirkan masala orang dewasa seperti itu, memangnya apa yang bisa anak usia 13 tahun? Seorang anak mantan pemimpin klan yang terbuang, lagi. Hard to belive.

"Hm?" Naruto menengok ke samping, dimana Sasuke terduduk di sebelahnya. "Apa aku harus cerita tentang rahasiaku?" mata Naruto menyipit. Mungkin masih belum bisa mempercayai Sasuke. Seakan rahasia ini benar-benar sangat penting.

"Tentu saja! Kita kan teman," Sasuke memutar balik perkataan Naruto sebelumnya. "Mari kita saling tukar rahasia!" Sasuke menyarankan.

"Aku..." Naruto mulai bercerita. Kepalanya menunduk lesu. Berpikir keras untuk 'menceritakannya' atau 'tidak'.

"Aku seorang monster."

*) Kurokawa = (Black River). Ini enggak beneran lho yah. Mikoto bukan dari klan Kurokawa. Namanya aja Uchiha Mikoto, kok. Ai juga enggak tau, sebenere Uchiha marga Mikoto itu karena dia menikah dengan mbah Fugaku (yang emang dari Uchiha), atau karena adanya perkawinan satu klan. Jadi sama sama Uchiha. Kita buat OC aja yah nantinya...

**) Jangan merengut seperti ikan makarel. Em. Em. = kalimatnya ambil dari salah satu film romace dari Thailand. Yang, yah... film itu lesbian deh.

***) Hajimemashite = Senang bertemu. Dapet kata dari Sannin-Kai! GO SMANSA!


*TBC*


A/N (Ai Note) : Hola! Wkwkwk makasih yang sudah review *cium jauh* Ternyata bener nih, ada 3 yang nge-review *ganti profesi jadi paranormal karena bisa nebak-nebak* dan yah. ini nggak ada konflik yeh di chap ini. Biasa lah~ baru pengenalan. Dan WHAT?! Ini aneh =.="

Bagaimana? Mind to review? *w* plis, kasih kesempata Ai buat ngetik-ngetik gaje macam ini sebelum UTS DIMULAI! Tanggal berapa punya minna? Kalo Ai sih, 8 Oktober besok._. pokoknya REVIEW-in ini! Plisss... *kebanyakan omong ih, Ai.* chap ini banyak non-sense ya?._. oK! Ini kalo pas Ai edit ada 9 haleman, kebanyakan? :( lain kali Ai kurangin daah~ ;)