Hai semuanya!
Makasih buat semua yang udah fave, baca, alert sama review crita ini...
thnks to...
FUYU-YUKI-SHIRO
DRAQUILL
NHL-CHAN
MINAKUSHI LOVERS
REIYKA
KITSUNEBI KURO HYUUGA
AND ALL SILENT READERS! :D
Nah, enjoy the chapter 2!
Warning! typo! dont like dont read!
CHAPTER 2
.
.
.
.
.
"Siapa nama anak itu?" tanya Naruto, mengerutkan kening. "Dia… dimusuhi kan? Sepertinya dia kesepian…"
"Namanya tidak tertulis di buku diari ini…" gumam Sakura. "Dia hanya menulis umurnya… Dia berumur sepuluh tahun ketika dia menulis di diari ini…" gadis mungil itu terus membolak-balik halaman buku yang usang itu. "Dia juga tidak menulis diari ini secara teratur. Lihat!" Sakura menunjuk tanggal yang tertera di halaman berikutnya. "Waktu sudah berlalu selama sebulan sejak hari itu,"
"Tidak apa, bacakan saja," ujar Naruto. "Aku penasaran akan nasib anak yang membenci Konoha itu, dattebayo!"
Sakura mengangguk. Setelah berdehem beberapa kali, dia mulai membuka mulutnya, "Musim panas, tanggal 3…"
.
.
.
.
.
Aku menggertakkan gigiku berkali-kali. Kujulurkan lidah dan kutarik nafas melalui mulutku. Dengan sikap tak sabar, aku mengipasi wajahku yang diselimuti keringat ini dengan kedua tanganku. "PANAS!" aku menjerit.
Inilah alasan kedua kenapa aku membenci Konoha. Konoha tidak seperti desaku, dimana masih banyak sekali danau-danau jernih yang bisa kugunakan untuk berenang. "Panas, panas!" aku berguling-guling di lantai rumahku. Kepanasan seakan-akan memakan isi otakku, membuatku tidak bisa berpikir lebih lanjut.
"Berisik, bocah!" seorang wanita gembul yang kira-kira berusia empat puluhan masuk ke kamarku. "Main di luar sana! Kau mengganggu!" bentak wanita yang sekarang menjadi pengawasku itu. "Dasar! Anak yang menyusahkan!" setelah mendengus, dia berjalan pergi sambil mengentakkan kakinya.
Aku beranjak dari lantai ini dan mengerutkan kening. Meski pun wanita itu sekarang menjadi orang yang bertanggung jawab atas diriku, tidak pernah sekali pun dia menunjukkan rasa prihatin padaku. Menatap mataku saja nyaris tak pernah.
Aku mendengus dan menatap kamar sempit dengan perabotan yang sederhana ini. Memang, aku hargai kebaikan Sandaime yang bersedia menyediakan rumah dan seorang wali yang bisa menjagaku. Tapi, aku lebih senang tinggal sendiri dibandingkan harus dibenci dan dimarahi setiap hari oleh wanita gembul itu.
"Nah…" aku mendesah. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Aku termenung, tidak bisa menjawab pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalaku ini. Sekarang, akademi memberi masa istirahat bagi kami semua supaya kami bisa mempersiapkan diri untuk ujian yang akan datang. Aku mendengus lagi. Aku tidak mengerti kenapa Konoha, salah satu desa terkuat di dunia ninja ini memberi ujian yang super mudah bagi para calon genin mereka.
Aku sudah bisa membuat bunshin ketika umurku masih tiga tahun.
Sambil mendengus lagi, aku membuka jendela dan melesat keluar dari kamar yang pengap ini. Aku melompati atap rumah satu per satu dan melesat tanpa tujuan. Kakiku terus berlari tanpa arah. Aku sengaja membiarkan pikiranku kosong selagi aku berlari. Aku hanya berharap supaya kakiku ini dapat membawaku pergi dari tempat yang sangat kubenci ini.
"Uzumaki-san!"
Seruan itu membuat kakiku berhenti berlari. Aku mengerutkan kening dan menatap sekeliling. "Sialan," gumamku ketika sadar bahwa aku sama sekali tidak tahu dimana aku berada.
"Uzumaki-san!"
Aku tersentak ketika mendengar suara yang memanggil namaku dua kali itu. Aku memutar kepalaku dan menoleh ke semua arah, mencoba menemukan sumber suara itu.
"Disini! Disini!" suara itu kembali terdengar. Aku mengerutkan kening, mulai merasa kesal karena aku sama sekali tidak bisa menemukan sumber suara itu. Aku menengadah dan menatap pohon yang terletak tepat di belakangku. Aku memperhatikan pohon itu dengan lebih teliti. Kalau aku tidak salah, suara itu berasal dari pohon ini. Aku mempertajam pandangan dan mataku melebar ketika aku menatap anak berambut pirang yang sedang duduk dengan santai di dahan pohon. Cowok itu menyeringai semakin lebar ketika dia sadar bahwa aku berhasil menemukannya. "Hai!" serunya sambil tersenyum.
"Apa maumu?" tanyaku, ketus. Dia tetap tersenyum meski pun aku bersikap kasar dengannya.
"Sedang apa kau disini, Uzumaki-san?" tanyanya, melompat dari pohon dan berjalan mendekatiku. "Sedang mengelilingi Konoha?"
"Bukan urusanmu!" aku membalikkan tubuhku, hendak kembali ke rumah tempatku tinggal. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, kakiku berhenti bergerak. Aku terpaku secara tiba-tiba dan otakku berhenti berpikir.
"Jangan-jangan…" Minato Namikaze bergumam. "Kau tersesat?"
Darah langsung mendidih di mukaku, membuat mulutku terbungkam. Aku memutar kepala dan hendak membentak ke arahnya, namun kata-kata yang hendak kuucapkan itu langsung lenyap ketika aku melihatnya memegang sebuah bungkusan yang sangat ingin kumiliki sejak musim panas ini.
Bungkusan es krim.
"Kau… Itu…" aku bergumam. Mataku terpaku akan bungkusan bewarna biru cerah itu. "Kau dapat itu darimana?"
"Mmm? Ini?" Minato mengangkat bungkusan es krim itu. "Aku diberi oleh kakek yang tinggal di sana," dia menunjuk ke arah rumah yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. "Kenapa? Kau mau?" tanyanya sambil menyodorkan bungkusan itu.
Aku meneguk ludah. Ingin sekali tanganku meraih es krim yang disodorkan olehnya. Keringat yang membasahi wajahku ini memberitahuku untuk cepat-cepat meraih es krim itu. Tapi, aku tidak ingin menerima sesuatu dari orang Konoha. Aku meneguk ludah lagi, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"T-tidak perlu!" seruku pada akhirnya. "Aku bisa beli sendiri!"
Ingin sekali rasanya aku menarik ucapanku sendiri. Aku sama sekali tidak diberi uang oleh wali yang saat ini menjagaku. Dia sudah menyediakan rumah dan makanan untukku. Aku tidak mungkin meminta uang darinya. Aku hanya bisa menatap bungkusan es itu sambil meneguk ludah.
Minato membuka bungkusan itu, membuat mataku terbelalak. Apakah dia akan memakan es itu di depan mataku sendiri? Aku cepat-cepat membalikkan tubuhku, ingin pergi dari tempat ini. Lebih baik aku mati kepanasan daripada menyaksikan seseorang menikmati es di depan mataku sendiri.
"Nih!" Minato menyodorkan es krim itu ke arahku, membuatku tersentak. "Hari ini super panas, kan? Wajahmu merah padam begitu," dia menyeringai.
"Hei! Itu kan es krim punyamu! Aku tidak bisa menerimanya!" aku cepat-cepat menolak. Tapi, Minato hanya tersenyum sambil menyodorkan lengannya yang satu lagi. Mataku terbelalak ketika aku menatap es krim bewarna biru yang sama dengan yang dia hendak berikan untukku.
"Es krimnya bisa dipatahkan menjadi dua," ujarnya. "Jadi, kita bisa makan sama-sama,"
Aku hanya bisa terpaku menatap senyumannya itu. "Tapi… aku…"
"Begini saja!" Minato memotongku. "Bagaimana kalau sehabis makan es krim ini kau mengajariku jurus ninja? Anggap saja es krim ini sebagai imbalannya. Bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku terdiam dan tanpa kusadari, tanganku sudah bergerak ke arah tangannya. "Oke," gumamku sambil menerima es krim itu.
Minato tertawa dan memasukkan es krim ke dalam mulut. "Kita makan di atas pohon saja. Panas matahari akan tertutup karena daun pohon yang lebat itu." Dia melompat ke atas pohon dan aku mengikutinya. Tanpa kusadari, aku sudah duduk di sebelahnya. "Enak?" tanyanya, tersenyum. Aku menatapnya dalam-dalam dan mulai menjulurkan lidahku, mencicipi es krim yang sudah lama kuidam-idamkan ini.
Perasaan tenang memenuhi diriku ketika aku mencicipi es krim ini. Panas yang sejak tadi membara di dalam tubuhku padam seketika. Aku terdiam sambil terus menjilat es krim yang diberikan Minato. Sudah barapa lama, aku tidak menikmati makanan bersama teman.
Teman?
Aku menatap anak berwajah cantik yang duduk di sebelahku ini.
Apakah dia temanku?
"Bagaimana rasanya?" tanya Minato, membangunkanku dari lamunan. Aku terdiam sesaat, tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.
Enak? Menyegarkan? Sejuk?
Aku tiba-tiba tertawa kencang, membuat Minato tersentak. Kenapa aku harus bingung untuk menjawab? Bukankah dia hanya bertanya apa rasa es krim ini?
"U-Uzumaki-san?" Minato memanggil namaku, mulai bingung.
"Maaf, maaf!" ujarku sambil tersenyum, membuat matanya tiba-tiba melebar ketika melihat senyumanku. "Rasanya manis,"
.
.
.
.
.
"Hebat! Jadi, kau sudah bisa menggunakan kage bunshin ketika usiamu delapan tahun?" Minato menatapku dengan kagum, membuatku merasa bangga.
"Tentu saja, dattebane!" aku menepuk dadaku. "Aku termasuk pengguna kage bunshin yang paling handal di kalangan semua sepupu yang seumur denganku!"
Mata Minato melebar. "Saudara-saudauramu juga bisa menggunakan kage bunshin?"
Aku mengangguk. "Klan Uzumaki memang punya cakra yang sangat besar. Jadi, tidaklah aneh jika aku bisa menggunakan kage bunshin," aku menyeringai. "Tapi, meski pun aku mempunyai jumlah cakra yang besar, aku tidak terlalu ahli dalam soal mengendalikan cakra."
"Wajar saja, cakra dalam jumlah banyak susah dikendalikan," ujar Minato.
"Tidak juga sih…" aku mendengus. "Para pemimpin klan Uzumaki sangat hebat dalam mengontrol cakra mereka yang luar biasa itu! Aku selalu ingin menjadi seperti mereka," aku tersenyum. Aku mengerutkan kening ketika sadar kalau Minato terus menatapku tanpa henti sejak tadi. "Kenapa?" tanyaku, bingung.
"Anu…" dia meringis. "Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum,"
Aku tersentak. "Benarkah?" tanyaku. "Teman-temanku selalu bilang kalau aku tertawa terlalu sering," gumamku sambil memutar-mutar stick es krim yang sudah habis kumakan. "Yah… aku sendiri tidak sadar kalau aku tidak pernah tersenyum lagi sejak datang ke Konoha…"
Kami berdua hanya terdiam sesaat. Aku tidak tahu harus bicara apa. Wajah teman-temanku muncul di kepalaku, membuat dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Aku… sedikit banyak mengerti apa perasaanmu…"
Aku menoleh ke arah Minato. "Mengerti?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Aku kehilangan kedua orang tuaku," Minato tersenyum pahit. "Mereka melakukan sebuah misi dan keesokan harinya setelah mereka meninggalkan rumah, aku mendapat kabar bahwa mereka sudah tewas,"
"Oh," aku mengangkat kaki dan memeluk lututku. "Pasti perasaan yang kau rasakan saat itu… sangat tidak menyenangkan…"
"Yah, begitulah," dia menyeringai. "Awalnya aku tidak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apa, tapi berkat teman-temanku, aku bisa sedikit terhibur," ujarnya. "Setidaknya, perasaan 'aku tidak sendiri' membuatku bertahan sampai sekarang."
Kami berdua kembali terdiam. Pada saat ini, aku ingin sekali menangis. Aku tahu kalau aku selalu menahan tangisanku di depan orang lain. Tapi, entah mengapa, ketika Minato memberitahu padaku tentang ceritanya ini, aku ingin menangis. Aku tahu, tidak mudah baginya untuk bercerita tentang orang tuanya yang sudah meninggal, namun dia tetap menceritakan hal itu padaku. Apakah dia melakukan ini untuk membuatku merasa lebih baik?
Aku tidak tahu.
"Hei, kau menjawab kalau kau ingin menjadi Hokage di masa depan, kan?" aku bertanya. "Kenapa?"
Minato terdiam sesaat. "Kenapa ya…" dia bergumam. "Aku ingin menjadi Hokage karena aku ingin melindungi semua orang yang ada di Konoha," dia tersenyum. "Aku sadar, bahwa sekarang banyak perang terjadi dan banyak orang yang kita sayangi meninggal karena semua perang itu…" Minato menarik nafas dalam-dalam. "Sejak kematian orang tuaku, aku memutuskan untuk menjadi Hokage dan melindungi banyak orang supaya tidak ada lagi orang yang harus terluka," anak berambut pirang jabrik ini tertawa.
Aku menatap Minato lekat-lekat. Cowok ini… benar-benar tulus ingin melindungi sesama. "Sebenarnya," aku mulai membuka mulut. "Ketika sensei bertanya apa mimpiku, aku dengan sengaja menjawab kalau aku ingin menjadi hokage perempuan pertama di Konoha," aku memejamkan mata. "Aku melakukan itu hanya untuk menarik perhatian anak-anak lainnya. Aku tidak punya keinginan untuk menjadi Hokage sama sekali," aku menyeringai ke arahnya. "Karena itu, aku akan mendukungmu untuk menjadi Hokage!"
Minato tersenyum lebar mendengar ucapanku. "Terima kasih!" serunya sambil meringis. "Oh ya, ajarkan aku kage bunshin dong!" pintanya, semangat.
"Oke!" aku menyeringai. "Aku akan melatihmu! Lagipula, aku sudah bilang kalau aku ingin membantumu untuk meraih impianmu!"
Aku menatap Minato lekat-lekat. Sekilas, aku tidak yakin kalau cowok berwajah cantik seperti dia akan menjadi Hokage. Dia terlihat lemah. Namun, siapa tahu…
"Oh ya, sebentar lagi kita akan menduduki ujian kan? Kau sudah belajar?" tanya Minato. Aku mengerutkan kening dan menggeleng.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang diajarkan sensei!"
"Kalau begitu, mau kuajarkan?" Minato tersenyum. "Aku ingin kita lulus bersama dan menjadi genin!"
Aku tertawa dan mengangguk. Menjadi genin bersama Minato? Pemikiran itu tidak seburuk yang kubayangkan.
"Ya sudah, ayo latihan sekarang!" aku hendak melompat turun dari pohon. "Oh ya, mulai hari ini panggil aku Kushina saja!"
Minato tersenyum lebar. "Baiklah, Kushina!"
Ketika kami berdua turun dari pohon, mataku menangkap sosok dua lelaki bertopeng binatang yang sedang bersembunyi di semak-semak. Aku mengerutkan kening. Sejak aku datang ke Konoha, sering sekali aku dibuntuti oleh orang-orang bertopeng itu.
"Hei, Minato," aku berbisik tanpa menggerakkan bibirku. "Lihat ke belakang secara perlahan-lahan,"
Minato menoleh ke belakang secara hati-hati. Matanya terbelalak ketika dia menatap sosok lelaki yang membuntutiku itu. "ANBU?" desisnya.
"Apa itu?" tanyaku.
"Mereka itu semacam ninja yang melakukan misi-misi rahasia yang berbahaya," bisik Minato. "Kau tidak akan tahu apa identitas mereka dan misi seperti apa yang mereka lakukan. Yang pasti, ANBU itu sangat misterius,"
Kerutan di keningku semakin mendalam ketika aku mendengar penjelasan Minato. Kalau begitu, kenapa mereka selalu menbuntutiku? Ada urusan apa mereka denganku?
Jika kupikir-pikir lagi, kenapa Konoha dengan sengaja menerimaku? Kenapa aku tidak diserahkan ke tempat lain? Aku masih ingat ketika aku menginjak kaki ke Konoha untuk pertama kali. Para pemimpin Konoha menatapku seakan-akan aku adalah seorang penjahat yang pada akhirnya berhasil mereka tangkap. Mereka tahu bahwa aku baru saja kehilangan semua keluarga dan teman-temaku, namun mereka tidak menatapku dengan tatapan kasihan sedikit pun. Aku memang tidak suka dikasihani, namun tindakan mereka sangatlah tidak normal.
Kenapa aku dikirim ke Konoha?
Kenapa para ninja misterius itu mengawasiku?
Aku sama sekali tidak tahu akan jawabannya.
"Kushina! Mau berenang dulu sebelum berlatih? Ada danau yang airnya dingin sekali, loh!" Minato berseru sambil menyodorkan tangannya. Aku menatap Minato dan perlahan-lahan, aku balas tersenyum. Anehnya, semua kegusaranku lenyap ketika aku menatap senyuman Minato.
"Danau? Tentu saja aku mau!" aku berseru sambil meraih tangannya, meremas tangannya yang hangat itu.
Pada saat ini, aku hanya ingin melupakan semua kegusaranku dan menghabiskan waktu bersama teman baruku ini. Aku tahu kalau pada saat ini, aku sudah mulai bisa menerima Konoha sebagai rumahku. Aku tidak tahu kenapa, mungkin Minato adalah sebabnya.
Tetapi, aku tidak pernah tahu bahwa kegembiraan yang kurasakan ini hanyalah kegembiraan sesaat.
TBC
Moga2 para pembaca puas sama crita ini...
sori kalau mengecewakan :P
mind to review? :)
