A Letter to Unknown

chapter 2

Disclaimer: Tite Kubo

Ichigo membuat janji dengan gadis misterius yang tinggal di sebelah rumahnya. Dia yang selalu mencurahkan isi hati lewat surat yang diterbangkan dengan balon. Seperti anak kecil tapi itulah dia.. Tapi apakah gadis itu akan datang dan mengambil surat miliknya itu dari Ichigo.

RnR Please ^w^

Sudah tiga jam Ichigo menunggu, tapi tak ada pertanda bahwa gadis itu akan datang. Butiran air hujan mulai membasahi rambutnya. Ichigo bergegas mencari tempat berteduh. Bukan khawatir akan sakit yang membuatnya pergi, tapi ia takut tulisan di surat itu akan luntur. Ia menyelipkan surat itu di bawah bangku di sebuah halte, lalu kembali menunggu gadis itu di taman. Entah apa yang membuatnya menikmati nuansa dingin nan basah kala itu. Tapi ia senang bisa menunggu gadis itu.

Hujan terus turun dengan derasnya, tak terlihat kapan redanya. Ichigo memutuskan untuk pulang. Surat itu masih ia tinggalkan di sana, karena bila ia membawanya pulang pasti akan basah. Ia berjalan perlahan bersama dengan lelah dan kecewanya. Dalam hati ia berkata,"Apa surat itu tak lagi penting untukmu? Padahal aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat yang mungkin belum pernah kamu datangi. Ya, hanya itu..". Ucapnya dalam hati terhenti ketika ia melihat gadis itu berlari dengan pakaian yang basah kuyup oleh air hujan menuju rumahnya. "Hai!"sapa Ichigo. Tapi gadis itu ternyata sedang menangis dan ia tetap berlari acuh masuk ke dalam rumahnya."Kenapa lagi dia?"tanya Ichigo dalam hati. Ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya.

Malam tiba, hujan tak kunjung reda dan sebuah balon kembali jatuh di kebun Ichigo. Ichigo tak melihat surat itu dan dia terlalu lelah untuk membuka matanya. Sementara itu, gadis itu terus melihat ke arah kebun Ichigo. Ia berkata,"Apa aku benar-benar membuatmu kesal? Maaf, tapi ini sangat sulit bagiku. Andaikan aku lebih mempercayaimu.."

Mentari pun muncul dengan sinarnya yang agak redup, karna mendung masi tersisa di langit sana.

"Woaaah.. Haduh, hampir aja masuk angin gara-gara cewek aneh itu. Apa itu?"ucapnya yang terhenti melihat sebuah balon yang di bawahnya tergantung botol kecil berisi kertas. Ia bergegas mengambil kertas di dalm botol itu dan membacanya."Maaf. Wahahaha ternyata dia masih punya perasaan. Hah dasar.. Kenapa sih dia tidak bisa membuatku marah? Padahal menurutku itu sudah keterlaluan. Yah, biarlah." Ichigo lalu mengambil tiga buah batu dan memanjat ke atas pohon. Lalu ia melemparkannya ke arah jendela gadis itu.

Cletak..

"Hooy.. Momoka! Bangun!"

Tak ada jawaban.

Cletak..

"Hei! Bangun!"

Tak ada jawaban lagi.

Cletak..

"Momoka!"

Usaha Ichigo sepertinya sia-sia karna gadis itu memang tidak ada di rumah.

Tiga hari berlalu dan tidak ada satu pun balon yang jatuh di kebun Ichigo lagi. Ichigo akhirnya memutuskan untuk ke rumah gadis itu.

"Permisi,Bu. Apa Momoka ada di rumah?"tanya Ichigo pada pembantu di rumah gadis itu.

"Non Momoka sedang pergi ke rumah sakit."

"siapa yang sakit? Momoka?"

"bukan, adiknya Non Rukia. Dia demam tinggi gara-gara kehujanan. Sampai pingsan dua hari."

"Rukia hujan-hujanan? Bukan Momoka?"

"Non Momoka jarang keluar rumah. Apalagi sampai hujan-hujanan. Dia lebih ringkih dari Non Rukia. Biasanya Non Rukia nggak pernah sakit kalau cuma gara-gara kehujanan. Mungkin memang kondisinya yang sedang buruk."

"Di rumah sakit mana?"

"International Hospital ruang Tulip nomer 77,"jawab Bibi itu yang mengerti maksud Ichigo.

"Makasih, Bi! Saya pergi dulu, permisi."

"Hati-hati ya! Titip salam saya buat Non Rukia."

"Ya, Bi!"jawab Ichigo yang sudah berlari pergi.

Sesampainya di depan kamar Rukia, ia langsung mengetuk pintunya.

Tok..tok..tok..

"Silahkan masuk.."jawab seorang gadis dengan suara lirih yang terkejut melihat kedatangan Ichigo.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit?"

"Hehe.. maaf. Wah, bunga itu buatku?"

"Iya. Sebenarnya aku juga mau memberikan ini, tapi karna saat itu kau tidak jadi yaa.."

"Hei.. mana kembalikan! Itu suratku,"ucap Rukia sambil mencoba merebut surat dari tangan Ichigo.

"Kau tahu.. tidak kau tidak pernah tahu.. karna hari itu kau tidak datang,"ucap Ichigo dengan nada rendah.

"Kau menungguku? Berapa lama?"tanya Rukia panik.

"Sampai aku melihatmu pulang dengan keadaan yang sama denganku,"jawab Ichigo ketus.

"Itu..itu.. karna.."ucap Rukia yang terhenti karena bulir air mata mulai membasahi pipinya.

"Hei, kau kenapa?"tanya Ichigo lembut.

"Aku hendak menemuinya..tapi.. dia sudah pergi. Hitsu-kun..,"ucap Rukia yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia lalu memeluk Ichigo.

"Tenanglah.. Dia pasti kembali.."

"Iya, tapi butuh lima tahun untuk itu. Dia harus kuliah di sana.. Bagaimana kalau sampai hari itu aku kembali ragu padanya dan dia sudah menyukai seseorang selain aku?"

"Percayalah padanya, bila kamu memang benar-benar menyukainya. Aku paling tidak bisa melihat seorang gadis menangis seperti ini, ayolah kau pasti bisa, Momoka.."

"Ahahaha.. kau panggil aku apa? Momoka?,"tanya Rukia sambil tertawa.

"Apa ada yang memanggilku?"tanya seorang gadis yang baru saja masuk dengan gaun putih yang anggun.

"Kakak ada yang mencarimu"

"Dia?"

"Ah, bukan.. bukan.. jadi namamu benar-benar bukan Momoka tapi Rukia?"

"Coba kau lihat papan pasien di sana."

Ichigo beranjak lalu menggaruk-garuk kepalanya,"Aihh.. aku salah selama ini!"

"Kakak, tinggal dulu ya,"ucap Momoka tersenyum lalu pergi.

"Iya, kak. Hah, dasar.. Kenapa kau bisa mengira namaku Momoka?"

"Sudah lupakan, sekarang kau sudah lebih baikkan?"

Rukia menganggukkan kepalanya, lalu ia mencium bunga tulip warna kuning yang diberikan Ichigo.

"Hah, jangan bilang sekarang kau menyukaiku,"ucap Ichigo.

"Iya aku memang menyukaimu,"jawab Rukia yang membuat Ichigo terkejut dan membeku.

Rukia menyadari tingkah Ichigo. Ia lalu berkata,"Menyukaimu sebagai sahabat. Kau maukan jadi sahabatku? Hmm.. dengan begitu aku tidak perlu menerbangkan balon itu lagi."Ichigo dengan cepat menjawab,"Jangan.. kau tetaplah seperti dulu. Anggap saja kau tidak mengatakannya padaku tapi padanya. Aku yakin suatu hari nanti dia akan menyadari perasaanmu."

Rukia lalu berbaring dan merapatkan selimutnya ke badannya. Ia mulai menutup matanya.

"Wah, tidak sopan. Aku ini tamu. Malah kau tinggal tidur. Ya sudah aku pergi saja,"ucap Ichigo beranjak pergi.

Rukia menarik tangan Ichigo dan menggenggamnya erat. Ia lalu kembali menutup matanya.

"Baiklah. Aku akan di sini sampai kau bangun,"ucap Ichigo dalam hati sambil tersenyum lembut.

Ini adalah awal dari persahabatan mereka. Apakah Ichigo akan larut dalam perasaannya atau mengalah dan membiarkan Rukia bersama Hitsu? Let's read in chapter 3..

Makasih