Tittle : When We Called It Love

Maincast : Super Junior Members, and another characters

Pairing : Donghae – Eunhyuk (jika saya menghendaki. Huahaha)

Rated : T (entah kalo ntaran berubah)

Summary : Eunhyuk benci dengan segala hal tentang masa lalunya. Semua masa lalu yang berhubungan dengan pertemuan, kesetiaan, perjanjian, dan... cinta. /"Hyukkie, bolehkah aku menemanimu?/ "Donghae ssi, kenapa pertemuan kita harus secepat ini? /

Disclaimer : All casts belongs to God and their parents. But this fanfict is, definitely, belong to me.

Warning : Maybe typo(s), no genderswitch. Kata-katanya mungkin sedikit kasar, makanya ratednya aku buat T.

Ini masih semacam Prolog gituh. Jadi yang sebelumnya masih opening yang very beginning, yang ini udah menjelang naikin tirai untuk pertunjukan. Hahaha maap kalo mubeng. Mianhe kalo mubeng, author kepinteran. Huahaha.

So, I really hope you enjoy this. Welcome to my Imagination World! Happy reading!

When We Called It Love –Opening Season–

Namja imut itu menatap jendela dengan pandangan menerawang. Pikirannya berpetualang menerobos masa lalu, memanjat kesedihan, menimbun keraguan, dan memukul kemarahan. Semua masa lalu yang indah, menyenangkan, berubah menjadi kelam dan tak ingin dibanggakan. Terasa idiot sekali, karena semua itu hanya dikarenakan seorang namja.

Namja sialan yang tidak bertanggung jawab

.

Turn around
Everynow and then I get a little bit lonely and you never coming around

Namja itu bahkan tidak pernah memberi kabar atas kepergiannya. Semua yang ada seolah-olah hilang tak kembali. Tentu saja, seolah-olah. Karena hatinya pun serasa masih bertaut

Turn around
Everynow and then I get a little bit tired of listening to the sound of my tears

Entahlah. Ia adalah seorang namja, maka tidak seharusnya ia menangisi namja sialan itu. Tapi entah kenapa semua terasa benar setelah ia menangis.

Turn around
Everynow and then I get a little bit nervous that the best of all the years have gone by

Masa-masa menyenangkan itu entah kenapa lenyap seketika saat semuanya berakhir. Ia tahu bahwa setiap pertemuan akan berujung perpisahan. Tapi, tidakkah perpisahan ini terlalu menyakitkan? Terlalu dramatis dan segala hal yang membuatnya terasa begitu absurd dan... tidak nyata.

Nothing I can do.
A total eclipse of the heart

Ia terjatuh –baru–kali ini, tapi sepertinya lubangnya begitu dalam. Ia ingin sekali bangkit... bisakah?