Seorang remaja laki-laki memandang kuas yang sudah ia pakai melukis sampai berjam-jam lamanya sembari menyandarkan tubuhnya yang penat ke kursi. Sapphire nya memandang kearah lukisan tersebut dengan senyuman tipis terukir di bibirnya. Kedua tangannya menegakkan lukisan itu di atas meja lalu mundur, matanya riangnya sejajar dengan lukisan tersebut, tidak ada ilusi serupa bahwa sosok di lukisan sedang menatapnya.
Setelah beberapa kali mengkagumi karyanya sendiri, sang remaja akhirnya tak tertarik lagi dan mengembalikan perhatiannya pada kertas yang ada di atas meja. Dengan ragu ia menyentuh kertas itu-dia tak ingin melakukan apa pun yang bisa mengacaukan semuanya. Naruto memindai kertas itu dengan matanya, mencari pesan tersembunyi dari tulisan tersebut.
Tiba-tiba ia tersesat dalam kertas tersebut-ada sebuah keluarga, bintang-bintang, dan ikan-ikan koi mungil yang berenang di sekeliling pergelangan kakinya. Terlihat begitu bahagia dan bebas, mengingatkannya pada sebuah kegembiraan yang telah hilang dari kehidupannya.
Naruto memaksa matanya untuk tidak fokus, untuk melihat melewati imaji tersebut dan mengamati keseluruhan kertas. Tapi tidak ada apa-apa di sana. Jarinya menyusur di sepanjang pinggiran kanvas yang penuh noda cat. Sebelum ia kembali menatap kearah lukisan yang baru ia lukis. Sebuah lukisan yang memiliki makna mendalam dalam kehidupannya, secercah kebahagiaan.
Hidup menyenangkan.
Pada saat itu.
Sebelum kebahagiaannya terenggut.
Tanpa sadar, mata kirinya memancarkan aura suci yang sangat pekat. Meledak-ledak seperti sebuah jilatan api, mengancurkan rumah kecil tempat ia singgah sementara. Ia menyentuh lukisan tersebut dengan wajah sendu, mengusapnya dengan penuh kelembutan.
Akhirnya, Naruto menidurkan lukisan tersebut di ujung dinding. Naruto melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan setapak, matanya terpaku ke depan dan wajahnya datar. Ia tidak tahu betapa kebisuan dan rahasia mampu menggerogotinya dari dalam.
Anak-anak ayam berbulu kuning empuk yang baru ditetaskan berciap-ciap saat ia melewati kandangnya, lampu surya bersinar terang dan berada tepat di atas kepala, melenyapkan bayangan di jalan setapak yang berdebu. Kota berada cukup jauh di depannya sehingga meskipun ia bisa melihat orang mondar-mandir, ia tak bisa melihat wajah bereka dengan jelas sehingga ia tidak merasakan tatapan tajam mereka.
Naruto tetap berjalan, sampai ia menatap menemukan sebuah istana yang di tutupi oleh tembok besar. Mata sapphire sebelah kanannya memandangi apa yang bisa ia lihat. Sebuah senyuman puas pun ia tampilkan ketika telah sampai di mana tempat tujuannya. Namun dalam dua detik kemudian, mata sapphire itu berubah menjadi kosong ketika sebuah pedang menusuk perutnya.
Tetesan air berlumpur mengalir dari sudut kiri mulut Naruto, persis di tempat dia biasa melengkungkan bibir saat sedang menyeringai geli. Lumpur menggelincir di sisi wajahnya, mengumpul di pinggir pipinya dan jatuh berantakan ke tanah dibawahnya.
"Gabriel?"
Saat memberanikan diri untuk menoleh, Naruto tengah menatap ke atas. Memandang kearah wajah cantik Malaikat tersebut yang kini menggunakan sebuah baju zirah khas Surga.
"Setelah sekian lama, ternyata kau masih hidup Pendosa Besar"
Naruto hanya diam, ia hanya bergerak seperti biasanya. Melangkahkan kakinya seolah-olah luka yang ada di tubuhnya bukanlah apa-apa, kemudian tatapannya beralih dari depan ke Gabiel yang nyaris tak bergerak, di belakangnya. Naruto meluaskan pandangannya, melewati alang-alang dan bunga lotus di tepi yang jauh, matanya menyapu hamparan rumput baru berwarna hijau terang.
"Aku tak ada urusan denganmu…" ujar Naruto membalikkan tubuhnya, kembali menyusuri jalan setapak. Namun ketika ia merasakan Gabriel yang mengekor dibelakangnya, Naruto pun berucap. "Jadi kau ingin membunuhku"
"Kenapa tidak?"
Malaikat tercantik itu mengangkat bahu. "Kau sudah membunuh 'ayah' dan sekarang kau datang kembali, apa maumu sebenarnya?!"
"Kau benar, aku yang membunuh-Nya" Remaja itu mengangguk. "Tapi kau tak pernah tahu kalau dia juga yang telah menghidupkanku"
"Apa maksudmu?! Mana mungkin aku percaya dengan perkataan pendosa sepertimu" Rahang Gabriel menegang, kedua pedang cahaya tercipta di kedua tangannya. "Lebih baik kau mati!"
Gabriel melangkah cepat menyusuri jalan setapak dan pandangan marahnya tertuju pada Naruto. Dapat terlihat jelas kalau iris biru milik Gabriel telah berubah menjadi salib putih. "Matilah…"
…dan Naruto menarik pedang yang ada di punggungnya. Menyabetkannya secara miring kearah dimana Gabriel sudah memfokuskan kekuatannya untuk menghunus dadanya.
"Kamu takkan pernah bisa membunuhku, Hime-chan"
Duar!
Desclaimer © Masashi Kishimoto ( ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)
.
.
.
The Deadly Sins © Draco
.
.
General Warnings: Strong!Naru, Smart!Naru, Overpowered!Naru, Typo, Abal, Suram, Klise, etc
.
.
.
Genre : Adventure,
.
.
.
Rating : M
.
.
.
Peringatan Keras!
-Jika tidak suka tidak usah dibaca, OK!
.
.
.
"Apa yang ada di dalam tubuhku…"
"…adalah bukti kalau aku adalah seorang pendosa yang besar"
.
.
.
Draco, in!
.
.
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung.
'Blablabla' = perkataan dalam hati.
Raihlah dengan tanganmu
Chapter 2
Gabriel membuka kedua matanya yang terasa sangat perih seperti telah berjam-jam terkatup rapat. Baru saja ia ingin berbicara tentang apa yang terjadi, matanya membelalak kaget saat melihat sosok yang menjadi lawannya itu tengah makan di atas meja yang menghadap kearahnya.
"Sebelum kau menyerangku, sebaiknya pakai dulu pakaianmu"
Begitu dia berhasil berdiri, matanya melirik kearah tubuhnya yang tak terbalut sehelai benang pun dengan mata bergetar. Ia tanpa sadar telah menjerit sampai suara itu keluar dari tenggorokannya. Ia berbalik dan menutup tubuhnya dengan selimut yang ada di atas kasur, lalu menatap tajam kearah sosok tersebut yang masih tenang-tenang saja di tempatnya.
"K-k-kau…!"
Dengusan puas terdengar dari hidung Naruto ketika remaja itu telah menyelesaikan makannya. Remaja itu berbalik lalu melangkah ke lemari pakaian, mengambil beberapa helai pakaian lalu memberikannya kepada Gabriel yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kalau ingin mandi silahkan, aku telah membeli beberapa pakaian dan ada di lemari. Aku akan pergi sebentar" Naruto berkata tanpa menunggu jawaban, namun rasa lelah tiba-tiba menyerang Naruto, membuatnya merasa lemas dan mengantuk. Mata remaja itu tertutup ketika rasa kantuk semakin menguasai dan mengirimnya ke alam tidur. "Hooaamm… oyasumi"
Gedebuk!
Masih di rundung rasa malu karena orang lain telah melihat tubuhnya, Gabriel pun terlalu sibuk ber'kyaa-kyaa' ria di balik selimuti sama sekali tidak tahu kalau apa yang ia lakukan telah menjebak dirinya sendiri dalam situasi sekarang. Masih dalam keadaan wajah merona, Gabiel pun turun dari ranjang sebelum masuk ke kamar mandi.
Ketika air shower yang dingin bertemu wajahnya, barulah otak Gabriel mengalami konsleting ketika ia mencerna peristiwa barusan.
'Kyaa…!' Malaikat tercantik di Surga itu keramas dengan begitu ganasnya, seakan mencoba untuk melupakan peristiwa yang tadi membuatnya malu seumur hidup. Merasa bahwa semua itu sia-sia, Gabriel dengan cepat menyabuni tubuhnya dan cepat-cepat membilas, lalu langsung melompat ke bak mandi yang menimbulkan suara ceburan nyaring. Ia menenggelamkan wajahnya yang merona itu kedalam air hangat sampai beberapa menit.
Setelah beberapa menit berendam, ia segera keluar dari bak dan bergerak ke balik tirai untuk mulai mengeringkan tubuhnya. Dengan handuk yang kini terlilit di dadanya, Gabriel membuka pintu kamar mandi dengan agak pelan sambil memandang sekeliling untuk tidak mendapati adanya pengintip. Tapi ia hanya mendapati sosok musuhnya yang sedang terlelap dalam tidurnya dan sedikit mengigau.
Gabriel pun langsung menghampiri lemari, lalu memilah beberapa pakaian yang tergantung di sana. Wajahnya bersinar cerah saat menemukan sebuah dress berwarna putih selutut dengan beberapa corak, namun harapannya kembali dirundung rasa senang ketika ia menemukan sebuah topi santai dan gelang yang cukup menawan.
Gabriel mematut-matut di depan cermin.
Tersenyum amat lebar. Posturnya tenang dengan satu dua kali memutar-mutar tubuhnya untuk menggerakkan bagian bawah dress nya untuk bergerak, sesekali ia mengibaskan surai pirangnya yang bergelombang bak iklan shampoo. Yosh! Sudah selesai. Gabriel pun berjalan mendekat ke tempat dimana musuhnya tengah terlelap.
Ada niatan untuk membunuh remaja ini dalam benaknya, namun ia tak bisa melakukan itu. Entah kenapa Gabriel harus menahan emosinya saat ini, karena mungkin apa yang dilakukan oleh remaja itulah membuatnya menahan diri.
"…Kami-sama…"
Suara Naruto, yang entah kenapa sedang mengigau itu membangunkan Gabriel dari lamunannya. Matanya melebar ketika mendengar Naruto mengucapkan kata itu. Ia tidak boleh mengganggu maupun memberi reaksi apapun kecuali mendengarkan sedikit igauan remaja ini.
"…kenapa kau melakukan ini…"
Gabriel yang masih duduk bersimpuh di sebelah Naruto tidak menjawab. Dia hanya terdiam sambil menatap wajah tidur Naruto yang entah kenapa terlihat lucu, cuma perlu kurang dari lima detik untuk Gabriel mengelus pipi remaja tersebut. Dia hanya tersenyum simpul sembari mengingat kembali rantaian peristiwa yang pernah terjadi.
Berbagai asumsi dalam benak Gabriel berpacu cepat, kenapa?, pasti ada alasan di balik remaja ini melakukan semua itu pastinya. Ia tidak menemukan sedikitpun niat jahat dari wajah ini, semuanya hanyalah wajah yang berusaha untuk menahan beban yang ia tanggung selama ini.
Membunuh Kami-sama, menghentikan Great War, dan kini kembali muncul. Apa alasan itu semua?
Hening tercipta ketika Naruto secara tak sadar menggenggam tangan Gabriel dengan erat. Keadaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya remaja berambut perak itu menghembuskan napas dari mulutnya yang di iringi melonggarnya genggaman itu.
"…Hime-chan yah?" ucap Gabriel ketika ia mendengar panggilan Naruto kepadanya. "Panggilan yang bagus"
"Ukh" Naruto terbangun dari tidurnya dan memasang posisi duduk, mengucek kedua matanya dengan gerakan yang membuat Gabriel gemas. Seakan ia sedang melihat bayi mungil sedang bangun tidur. "Hmm, sepertinya kamu sudah mandi. Baiklah, aku ingin pergi"
"Tunggu" sahut Gabriel menarik tangan kiri Naruto, menghentikan langkah kaki remaja tersebut. "Kamu belum menjelaskan semuanya"
"Penjelasan?"
Gabriel mengangguk. "Kamu belum memberikan alasan kenapa kamu tidak membunuhku, melainkan membantuku. Padahal apa yang kamu lakukan di masa lalu itu berbeda dengan sifatmu yang sekarang. Seharusnya dengan memanfaatkanku yang sedang tak berdaya, kamu bisa membunuhku kan?"
"Aku tak ada niatan untuk membunuh, lagipula perlukah sebuah alasan untuk menolong seseorang?"
Gabriel tidak bisa buka suara. Saat ini dia sudah benar-benar tertegun sampai ia tidak menyadari kalau Naruto telah keluar dari rumah ini tanpa mengucapkan kalimat apapun. "Dasar…"
Naruto melangkahkan kakinya menyusuri sebuah pasar yang ramai, matanya tak henti-hentinya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu yang amat dicarinya. Sesekali ia berhenti hanya untuk bertanya tentang senjata yang tertancap di kota ini. Kemudian ia menghentikan langkahnya di sebuah kedai yang cukup ramai.
"Hee? Jadi tidak ada yang bisa?"
"Kalau begitu desa akan di landa kekeringan berkepanjangan?"
"Begitulah, tapi para orang kuat pun sudah mencobanya"
Setelah mendengar diskusi singkat tersebut, Naruto menahan keinginannya untuk menghela napas keras. Apakah para warga itu bodoh? Mereka takkan pernah bisa mencabut pedang legenda tersebut walau harus menyewa jasa para petarung sekalipun. Mereka hanya akan menghambur-hamburkan uang begitu saja untuk sesuatu yang tak pasti. Tidak, bukannya Naruto tidak menghargai kerja keras mereka namun pedang legenda miliknya itu cukup membuat orang mati, tapi desa ini… ah sudahlah, Naruto lelah jika harus membicarakan hal ini.
Naruto menyandarkan punggungnya ke sisi dinding kedai sambil memijit kepalanya. Kemudian ia menghembuskan napas pelan, untuk beberapa menit Naruto menyalakan sebatang rokok yang ia ambil dari kantungnya. Naruto berpikir sebentar, ketika pemikirannya sampai ke ujung, Naruto tiba-tiba mematikan rokoknya dan membuangnya begitu saja. Ia berlari menuju tempat dimana pedang legenda miliknya yang telah hilang semenjak Great War.
Naruto sampai di tempat itu cukup cepat.
Naruto memandang sekelilingnya dengan satu alis tertaut, sebuah bangunan memutari halaman seperti aula outdoor yang sudah di penuhi oleh ratusan penduduk. Naruto sudah siap mengambil pedang miliknya lagi ketika ratusan penduduk di sekitar menatapnya. Naruto membatalkan niatnya ketika melihat wajah dari para penduduk yang begitu menyeramkan jika di lihat. Kulitnya berubah menjadi warna ungu, rambut mereka terlihat berantakan dengan beberapa hewan bersarang di kepalanya, lantas yang paling menonjol adalah bola mata yang menyisakan putihnya saja. Kini di hadapannya tak ada bedanya dengan zombie.
Naruto tidak sempat berkata apa-apa sebelum puluhan penduduk melompat kearahnya. Dengan dengusan keras, Naruto berbalik dan melompat tinggi lalu menapak di atas atap untuk menghindari terjangan makhluk-makhluk sialan tersebut. Mata Naruto turun untuk melihat para zombie yang kini saling bahu membahu untuk menggapainya, beberapa di antara mereka terjatuh karena tak kuat menahan topangan walaupun sebenarnya Naruto tak yakin apakan mereka benar-benar mampu mencapainya.
Kemudian tangan kirinya yang bebas berkelebat menggenggam Sword of Meliodas yang ada di punggungnya, sebuah pedang patah dengan gagang berbentuk naga yang biasa ia bawa. Lalu tangan kanannya yang terkulai santai di samping tubuh telah memancarkan aura berwarna hitam keunguan pekat yang langsung merubah langit menjadi gelap dengan seketika.
"Darkness"
Setelah sekali lagi mempertimbangkan semua pilihan yang ia punya, Naruto akhirnya memutuskan hanya ada satu jalan keluar yang bisa ia ambil sekarang. Dia menyiapkan kemungkinan terburuk saat melihat zombie-zombie itu sudah berjarak dua meter dari tempatnya.
Naruto mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi untuk melakukan tebasan. Namun tangannya terhenti seketika saat sebuah tangan halus menyentuh pergelangan tangannya.
"Apa kamu ingin membunuh para penduduk itu?!"
Dengan wajah datar, Naruto menatap kembali kearah zombie-zombie yang sudah semakin dekat dengannya, terutama satu tangan yang sudah menggenggam genting. "Yah, ada yang salah dengan itu?"
"Kau! Apakah kau tidak tahu kalau perbuatanmu itu-"
Naruto menghentakkan tangannya dengan keras. "Kau tahu apa?! Mereka takkan pernah bisa menjadi manusia kembali!" Iris sapphire nya tergerak memandang kearah langit hitam. "Mereka terlalu bodoh untuk menyadari kalau pedang itu berbahaya, dan inilah dampaknya karena mereka tetap bertahan. Pedang itu akan menghapus cahaya dalam hati seseorang dan membuatnya tenggelam dalam kegelapan, lalu mencuci otak mereka hingga tak ingat lagi siapa itu teman, keluarga bahkan pasangannya"
Gabriel tertegun sesaat, mata birunya melihat pedang itu. Gabriel langsung bisa menebak kalau pedang itu memanglah bukan pedang sembarangan, walaupun dia masih tak mampu berkata pasti karena kekuatan dari remaja ini membuatnya tak bisa melihat jelas spesifikasi pedang tersebut.
"…mereka hanya mengingat penderitaan yang pernah mereka alami, berulang dan terus berulang sampai mereka berubah menjadi gila. Karena tak kuatnya fisik untuk melawan cahaya yang dipancarkan oleh pedang tersebut, kini fisik mereka telah berubah menjadi zombie yang sebenarnya." Naruto memotong genting yang berjarak beberapa centi dari tempatnya, membuat para zombie itu terjatuh dan harus memulainya dari awal. "Tapi di dalam mulut mereka yang terus bergumam sesuatu, sebuah permintaan akan pertolongan"
"Kalau begitu bukankah tak ada alasan untuk tidak membunuh mereka?" tanya Gabriel masih berpegang teguh dengan pendiriannya, bagaimanapun juga Gabriel tak bisa berdiam diri jika ada pembunuhan yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. "Pasti ada jalan keluar untuk mengatasi hal ini, bukan?"
Naruto mendengus. "Huh, jangan terlalu berharap pada sesuatu yang tak pasti. Bukankah mereka seperti daun yang kering, siap untuk di gugurkan"
"A-aku tahu. Tapi kamu pasti bisa mengatasi semua ini" Gabriel menatap Naruto lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca. "Biarpun kamu seorang Pendosa Besar, tapi itu bukan berarti kamu tidak memiliki hati!"
Naruto menundukkan kepalanya dalam-dalam. "…kegelapan telah merampas hatiku"
"Bohong! Jika kamu memang tidak memiliki hati, lantas apa alasanmu tidak membunuhku?"
Naruto menggeser pandangannya kearah Zombie-zombie tersebut. Tangan kanannya yang masih di selimuti oleh aura berwarna hitam keungunan itu mengerat, sial! Malaikat ini keras kepala. Pandangan Naruto kemudian terganti, menatap kearah Gabriel dengan lurus tapi tidak menutup fakta kalau ia tetap memasang wajah datarnya. "…untuk melihat tubuhmu"
Dan duar! Wajah merah Gabriel segera meledak dengan asap yang keluar dari telinganya. Ekspresinya menjadi sebuah ketidakpercayaan, membuat Gabriel melupakan niatnya untuk menghentikan pembunuhan yang akan dilakukan oleh remaja ini. Langkah selanjutnya adalah ia mengambil satu langkah mundur dengan kedua tangan tersilang di depan dadanya. Matanya memicing tajam kearah Naruto. "M-mesum!"
"Hn, terserah" Seakan tidak peduli dengan hal-hal yang berbau bejat, Naruto menatap kearah zombie-zombie tadi dan bersiap menghabisinya.
…namun Gabriel menghentikannya lagi.
Memutar matanya dengan bosan, Naruto pun mendelik. "Apa lagi?"
"Jangan membunuh mereka, karena mereka adalah pengikut Tuhan yang masih setia. Kalau kamu membunuhnya…"
"Memangnya kenapa? Mereka hanyalah sekumpulan orang bodoh. Aku telah membunuh-Nya lalu buat apa mereka tetap setia kalau pada akhirnya kalian hanyalah memberi harapan palsu!" desisnya dengan nada tak percaya, giginya bergemertak sambil matanya memicing tajam. "Lagipula aku hanya seorang Pendosa Besar yang membunuh Tuhan, tak ada alasan lain untukku melakukan hal sekecil ini. Membunuh sudah menjadi bagian dari diriku-"
Plak!
Naruto menoleh, dan dibuat bingung mendapati bahwa tangan yang bersarang di pipinya. "…Hime-chan?"
"Kenapa… kenapa ada seseorang sepertimu, kamu bukanlah pendosa besar tetapi pembohong besar!" Gabriel melangkah maju sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Isak tangis dan sesegukan tertahan mulai terdengar di indera pendengaran Naruto, membuat remaja itu terdiam. "Aku tak tahu betapa kejamnya kehidupanmu, betapa kelamnya hatimu dan seredup apa cahayamu. Setelah apa yang terjadi pada hari ini, aku akhirnya tahu… aku tahu kalau kamu membohongi dirimu sendiri. Kamu takut untuk peduli terhadap orang lain, karena terlalu peduli akan membuat masalah. Itukah yang kamu maksud?!"
"Aku…"
"Aku belum selesai berbicara!" Hardik Gabriel memeluk remaja tersebut dan membenamkan di dadanya. "Untuk seseorang sepertimu, kamu tak pintar untuk berbohong tahu. Karena aku tahu… banyak sekali yang kamu rahasiakan, bahkan sampai dunia takkan tahu tentang hal tersebut."
Naruto hanya terdiam, cuma mendengar kata-kata yang terucap dari bibir mungil tersebut yang senantiasa tertangkap di indera pendengarannya.
"Kamu berniat ingin membunuh mereka karena kamu tak ingin bukan? Melihat mereka terjerumus ke dalam bahaya di balik layar, kamu itu selalu, selalu dan selalu saja mendahulukan keselamatan orang lain, seakan-akan kamu menganggap keselamatanmu itu bukanlah hal yang pantas di khawatirkan" Gabriel hanya mampu terpana ketika mengetahui hal ini, semuanya terungkap dari balik iris sapphire yang senantiasa menerima beban berat tersebut. Membuat hatinya terenyuh ketika melihat memori tentang sifat tanpa pamrih dan selalu tersenyum remaja ini ketika di hadapkan sesuatu. "Kamu selalu berpikir tentang akhir dari dunia ini karena kamu hidup di tengah penderitaan. Membuatmu ingin sekali menjadikan dunia ini berakhir dengan indah pada waktunya. Tapi aku tak suka… karena kamu mengorbankan dirimu sendiri untuk siap dibenci oleh seluruh dunia"
Naruto mendongak, dan dia takkan pernah bisa menyangkal bahwa hatinya sempat berhenti. Matanya menatap kosong kedepan ketika melihat mata biru langit itu menyimpan perhatian dan kekhawatiran yang saat ini ditujukkan pada dirinya seorang.
"White-kun." Dia berbisik pelan. "Aku mengerti kalau kamu tidak ingin membuat kami semua berada dalam bahaya. Tapi kamu harus sadar bahwa saat ini, kenapa… kenapa kamu sampai sebegitunya melibatkan dirimu sendiri?"
"Kamu takut karena kamu berpikir akan kehilangan semuanya" Gabriel merenggangkan pelukannya, menatap kearah iris sapphire yang mampu membuatnya tenggelam. "Jika kamu kehilangan sesuatu yang besar, dan tak ada yang bisa menggantikannya, kau memang tak akan bisa menggantikannya dengan satu hal saja, bukan?" Gabriel berkata kembali, ia hanya menangkup wajah itu dengan kedua tangannya. "Jika kamu mendapatkan sepuluh hal penting, atau seratus hal penting bersamaan… itu sudah cukup membuatmu bangun!"
Mata Naruto melebar dan memancarkan sakit, seakan-akan apa yang dikatakan Gabriel itu benar. Tangannya terkepal erat saat ia merasakan kalau emosinya akan muncul kembali.
"Jika kau terkesan akan sesuatu atau kau tertawa dari dalam hatimu, tak akan ada yang memprotesnya! Dan jika ada yang keberatan, aku pasti akan menghajarnya!"
Naruto tertegun, matanya bergetar tak percaya. 'Kau benar… agar hatiku tergerak… dan tertawa dari dalam lubuk hatiku, menemukan sesuatu yang berarti dalam kehidupan. Aku ingin mendapatkan izin untuk semua itu' Tanpa sadar, air mata yang sudah tidak ia keluarkan selama seribu tahun lamanya kini mengalir, Naruto tak mengerti bagaimana dia masih bisa hanya menyunggingkan senyuman ketika sukmanya sudah dirundung rasa bahagia.
"Kalau kamu memang benar-benar ingin bertanggungjawab, maka mulai sekarang, kamu harus ada di sini untuk berjalan bersamaku"
"Hn?" Naruto memiringkan kepalanya sedikit kesamping dengan satu alis tertekuk.
Gabriel yang sempat lupa diri akan perkataannya pun langsung menundukkan kepala dalam-dalam sebagai usaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam dan begitu panas sampai dia yakin pipinya pasti sudah bersinar seperti api menyala.
"A-anu, a-aku…"
Naruto yang meskipun tidak tahu arti dari perkataan itu pun hanya tersenyum. Sehingga setelah mengheningkan suasana sejenak, mulut remaja itu terbuka untuk mengucapkan kata-kata pelan. "Rise of The Light"
Gabriel tak tahu kapan, tapi saat ia tersadar, Malaikat itu mendapati bahwa langit yang tadinya gelap pun kini telah memunculkan setitik cahaya. Yang lama kelamaan cahaya itu melebar dan menurunkan ribuan titik cahaya sebesar salju, perhatiannya hanya bisa terpaku ketika cahaya itu menyentuh tubuh para penduduk di bawahnya, semuanya terjadi seperti sedia kala membuat Gabriel memeluk remaja itu sebagai reflek kalau ia sedang bahagia.
Naruto tidak memberikan ekspresi apapun kecuali mendongak ke arah langit dan memejamkan matanya dengan senyum di wajahnya. Kata-kata apapun yang ingin ia ucapkan hanya bisa terlontar dari dalam benaknya, instingnya mengatakan kalau apa yang ia pendam adalah hal yang terbaik baginya saat ini.
'Mungkin selama ini, aku menunggu sesuatu yang seperti ini'
-Naruto's House, 19.00 PM-
Gabriel meraih kedua pipi remaja yang bertubuh sejajar dengannya itu dan menggerakkannya agar mereka kembali saling tatap. "White-kun"
Naruto mengerutkan dahinya. "Hn?"
"Ah, anu, soal itu…" Gabriel mengulum senyuman pahit yang tersungging di bibirnya. "Apakah benar memang kamu yang membunuh 'Ayah?"
"…" Naruto hanya diam lalu melepaskan kedua tangan Gabriel yang berada di pipinya. Ia menggerakkan iris sapphire sebelah kanannya untuk melihat sekelilingnya selama beberapa saat sementara Gabriel menggigit bibirnya, menunggu jawaban Naruto dengan khawatir. "Ada beberapa hal yang tidak bisa kukatakan tentang hal itu, lagipula jika kamu mengetahuinya tak mungkin semuanya percaya bukan?"
Dari sana, Gabriel terhenyak ketika menyaksikan senyuman yang ada di bibir remaja itu. Padahal ia sudah biasa menemukan senyuman yang cerah tersebut, namun entah kenapa saat ini Gabriel tak perlu bertanya untuk mengetahui kalau senyuman itu di hasilkan dari sifat tanpa pamrih remaja tersebut. Membiarkan semua orang membencinya hanya karena menyimpan satu rahasia besar, Gabriel tahu kalau menanyakan rahasia orang lain adalah hal tabu tapi ia juga tak bisa membiarkan remaja itu menanggung semuanya sendirian. Seakan-akan dirinya yang merupakan seorang Malaikat tidak mampu berbuat apa-apa.
Ketika Naruto telah menemukan apa yang ia cari, Naruto langsung memakai jubah berwarna hitam panjang sampai ujung kaki dengan ukiran api putih di pinggirnya. Baru saja ia ingin berniat pergi, sebuah tangan halus kembali menggenggam pergelangan tangannya.
Naruto mendengus pelan sebelum ia melirikkan matanya. "Apa lag-"
…sebuah kecupan singkat di pipinya membuat Naruto mengalami shutdown sesaat karena tak tahu harus menampilkan emosi apa, dan saat ia sudah sadar lagi, Gabriel telah mengukir sebuah senyuman teramat manis terpasang di bibirnya yang merah dan sedikit bengkak.
"Mmm, jimat keberuntungan?" ucap Gabriel sambil memiringkan kepalanya.
Naruto tidak menyahut. Remaja berambut perak itu hanya terus menatap Gabriel sebelum ia yang tidak tahu harus melakukan apa hanya tersenyum tipis dan tatapan lembut yang membuat Gabriel terenyuh karenanya. "Aku per-"
Dan hal itu harus di potong oleh suara perutnya yang tak bisa di ajak kompromi, Naruto hanya diam dan kembali terhanyut dalam pemikirannya sendiri. Ekspresi apa yang harus ia gunakan ketika dalam keadaan seperti ini?
Melihat ekspresi bingung bercampur sangsi di wajah Naruto, Gabriel cepat-cepat menarik lengan remaja itu dan mendudukkannya di kursi makan. "Kamu duduk di sini, aku akan memasakkan makanan untukmu. Oke?"
Masih bingung dengan pemikirannya, Naruto hanya mengangguk. Alih-alih mengutarakan apa yang akan ia makan, hanya tahu bahwa dia cukup duduk diam sambil menunggu apa yang dimasak oleh Malaikat itu untuknya. Namun rasa lelah yang tiba-tiba menyerang Naruto, membuatnya lemas dan mengantuk. Tanpa sadar Naruto telah membaringkan tubuhnya ke permukaan meja dan menutup matanya membiarkan dirinya tenggelam dalam bunga tidur.
Tak sampai lima belas menit, Naruto kembali bangun dengan dengusan puas yang terdengar dari hidungnya. Remaja itu berbalik lalu melangkah ke kamar mandi, bersiap untuk mencuci muka dan siap untuk pergi. Namun ketika di tengah perjalanan, otaknya tiba-tiba berputar cepat ketika melihat Gabriel yang berdiri di depannya dengan rambut basah dan kulit lembab, tubuhnya yang putih hanya dibalut oleh selembar handuk.
"Hn?" Naruto hanya menaikkan alisnya.
"Ah, White-kun." Dengan wajah yang merona, Gabriel langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghilangkan semburat merah yang memenuhi pipinya. "M-maaf, karena tubuhku penuh debu jadi aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. A-aku akan memasak saat ini"
"Hmm, tak perlu… aku akan pergi" Naruto menjawab tanpa emosi, meskipun tiba-tiba matanya terpejam menikmati aroma harum semerbak ketika ia melewati Gabriel.
"Tunggu dulu!"
…namun naas, ketika Gabriel berusaha menghentikan langkah remaja itu. Kakinya menginjak genangan air yang menetes dari tubuhnya, membuatnya terpeleset sedemikian rupa menabrak Naruto yang tengah membelakanginya. Hingga pada detik-detik tertentu hening sejenak karena keduanya masih terdiam dalam posisi yang terlihat sangat intim.
"Hmm, aku tak tahu kalau kamu lebih wangi di bawah sini" Ketika dia bicara lagi, suaranya terdengar seperti sedang berpikir keras, namun otaknya di sela ketika Gabriel langsung saja menghantamkan kepalan tangannya ke wajah remaja itu. Membuat kepala Naruto hancur dalam satu pukulan.
Dengan wajah merona pekat, Gabriel mengambil langkah mundur sambil memasang kembali handuknya yang sempat terlepas. Mata birunya mulai mengeluarkan air mata, entah itu karena ia mungkin tak bisa menikah? Atau karena Naruto yang telah kehilangan kepalanya.
"Aduduh, pukulanmu sakit juga. Rasanya tengkorakku seperti mau lepas" Naruto yang entah kenapa kepalanya sudah kembali pun kembali berucap, satu tangan ia gunakan untuk menggaruk rambut belakangnya. Kemudian matanya menatap kearah Gabriel yang masih merona sambil menatapnya, Naruto memejamkan mata sembari berkata pelan. "Aku tahu kamu terkagum karena aku abadi 'kan?"
"BUKAN BAKAA!"
…dan Naruto kehilangan kepalanya untuk kedua kalinya.
…: Draco :…
Seorang pria dengan rambut hitam dengan bagian depan berwarna kuning berdiri dengan satu tangan yang telah hilang, wajahnya mengukir senyuman tipis seakan keadaan dirinya yang sekarang tidak terlalu ia pedulikan. Postrunya tenang dengan tangan bersidekap, dan matanya tertutup sampai akhirnya terbuka.
"…jadi kau bagian dari Khaos Brigade, Vali?" Azazel tak memberikan ekspresi apapun bahwa suara tawa dari pemuda di depannya terdengar angkuh. "Dan pemimpin kalian… Ouroboros Dragon, Ophis. Organisasi Hitam yang bergerak untuk menguasai dunia, bukan begitu?"
"Memang benar kalau ketua kami adalah Ophis, tapi kami tak ada niatan untuk menguasai dunia"
"Souka…" Azazel mengangguk. "Kupikir kau bekerja sama dengan Katerea karena Tahta Raja kalian telah di curi"
"Di curi? Apa maksudnya?" Rias dengan tidak ketahuannya bertanya.
Vali yang mendengar itu pun mengangkat kedua tangannya sebatas dada, membusungkan dadanya dengan angkuh. "Namaku Vali Lucifer, dalam pembuluh darahku mengalir darah Raja Iblis terdahulu. Aku adalah cucu dari Raja Iblis berdarah murni dengan ibu seorang manusia" Dengan begitu, empat pasang sayap iblis pun muncul dari balik armornya.
Walaupun angin berhembus begitu kencang meniup, membuat rambut dan bajunya berkibar-kibar, ekspresi Azazel sama sekali nampak tidak takut atau panik. Pria dengan usia beratus-ratus tahun itu menyaksikan bagaimana ekspresi makhluk-makhluk di sekitarnya.
"Itulah sebabnya, dia secara kebetulan dapat menjadi pemilik Vanishing Dragon" Azazel tertawa pelan. "Keberadaanmu seperti lelucon saja"
"Meh, aku tidak peduli dengan hal itu. Jika aku bisa mengalahkan orang-orang kuat, kenapa tidak?" Vali melirikkan matanya kearah Issei yang sedang terdiam karena tak percaya dengan apa yang ia dengarkan. Dengan kata lain, Issei merasa bahwa rivalnya kali ini adalah Hakkuryuukou terkuat sepanjang masa sedangkan dirinya hanyalah iblis Reinkarnasi. "Tapi aku kecewa dengan rivalku saat ini, dia lemah… sangat lemah bahkan harus di tolong oleh Pendosa Besar untuk melawan Kokabiel."
"Sialan kau…!" Issei menggeram sambil memicingkan matanya.
Azazel terdiam sesaat ketika mendengarkan hal itu. "…Pendosa Besar…" Tiba-tiba matanya melebar dengan tak percaya. "Mungkinkah kau ingin melawannya?!"
Vali tertawa ketika mendengar mantan gurunya yang menebak tujuannya. "Kau benar, tapi mungkin saat ini tidak… kekuatannya sangat kuat, dulu pernah berpartner dengan Ophis untuk melawan Great Red ataupun Trihexa.666" Vali mengepalkan tangannya kuat-kuat dan mengangkatnya ke udara. "Tapi sayang, kami adalah saudara…"
Para pasang mata pun membulatkan matanya. "S-saudara…?"
"Seorang iblis dengan serpihan kekuatan kegelapan, ia menjadi yang terkuat di antara para iblis. Iblis yang berjalan di antara dua dunia dengan menggenggam kunci dunia menggunakan kehancuran…"
.
.
"…White Lucifer"
To be Continued~
A/N: Hmm, cuma mau mengatakan kalau Naruto itu memiliki regenerasi tingkat tinggi milik Ban (Nanatsu no Taizai), sehingga separah apapun lukanya ia tetap bisa sembuh. Dan mungkin lebih cepat daripada milik Klan Phenex.
Sebenarnya sih cerita ini beda dengan konsep awalnya, hamba awalnya mempertimbangkan kalau membunuh-Nya itu tidak mungkin dengan kekuatan kecil-kecilan. Akhirnya dengan sedikit memaksa, hamba memutuskan untuk mencampurkan Lucifer di sini. Tapi Hamba pikir ini yang terbaik daripada harus memasukkan doujutsu Rinnegan ataupun Sharingan…
Untuk hal pair, hamba memutuskan untuk dengan Gabriel. Jangan terlalu di pikirkan kalau Gabriel akan jatuh atau nggak, karena itu tergantung dengan karakter Gabriel itu sendiri. Dia juga Malaikat dengan hati yang cantik, pasti mampu mengusir pikiran-pikiran negatif dengan mudah.
Karakter Naruto, dia tidak tahu menahu mengenai nafsu. Kehidupannya cuma memikirkan cara bertarung ataupun bertahan hidup, ia tak punya waktu untuk berleha-leha dengan wanita. Sehingga ia memiliki kepribadian yang terkesan sangat polos.
Untuk julukan Pendosa Besar akan terkuak dalam beberapa chapter, dan terkuaknya jati diri Naruto yang sebenarnya.
Maaf kalau kata-katanya sulit untuk di cermati, hamba sadar kalau itu datangnya dari hamba sendiri.
Oke sampai jumpa di chapter selanjutnya, arigatou dan salam Ez-Life
-Hidup itu mudah, jangan di buat sulit-
Draco, out!
