I'm Sorry, I Can't Be Perfect
.
.
.
Aku masih hidup, namun aku nyaris tak bernafas. Karena aku mendapat waktu sementara dia mempunyai kebebasan. Sementara aku terjaga, sedangkan dia terlelap. Apa yang harus kulakukan ketika bagian terbaik diriku adalah selalu dirimu? Dan apa yang harus kukatakan ketika diriku semuanya tersendat dan kau baik – baik saja? Aku hancur berkeping – keping.
(The Script - Breakeven)
.
.
.
"Zitao!" panggil Luhan dengan membentak.
"Ya eonnie. Ada apa?" tanya Zitao dengan lembut.
Luhan menarik lengan gadis yang lebih tinggi dari dirinya itu dengan kasar dan membawanya ke kamar mandi. Luhan menghidupkan air begitu saja. Membiarkan air dari kran yang deras jatuh mengalir ke lantai kamar mandi hingga menimbulkan suara.
"Ada apa eonnie?" tanyanya bingung dan juga kaget dengan tarikan kasar Luhan.
Gadis bermata rusa itu menjambak rambut panjangnya dengan kasar. "Agh .. ah .. appo eonnie." rintih Zitao kesakitan.
"Dengarkan aku! Besok aku akan berangkat ke Paris untuk bekerja selama seminggu disana. Dan kau! Jangan pernah dekati Sehun! Perlakukan dia seperti biasa, seperti saat aku di rumah ini. Apa kau mengerti itu!? Arasseo?!" tanyanya dengan membentak.
"Ah, iya .. ya eonnie. Aku mengerti eonnie. Iya. Aku mengerti." ujarnya dengan menahan sakit.
"Jika kau melanggarnya, kau akan tahu akibatnya!" ujarnya kasar lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Air kran masih mengalir dengan deras. Layaknya air itu, air matanya membasahi pipinya yang agak tirus itu. Isakan demi isakan lolos begitu saja dari mulutnya. Dan sepertinya hanya air itu saja yang menjadi saksi bisu betapa dirinya bertahan untuk cinta bertepuk sebelah tangannya selama ini sampai sekarang.
"Hiks .. aku bertahan .. dan akan selalu bertahan .."
.
.
.
Cinta adalah apa yang aku lakukan sendiri
Cinta hanyalah meninggalkan air mata
Ini payah, cinta yang bodoh
(Hyorin - You Make Me Go Crazy)
.
.
.
"Suamiku, aku akan berangkat ke Paris besok." ujar Luhan memecah keheningan makan malam di ruang makan itu. Sehun menatap Luhan dengan tatapan agak kaget dan tak percaya, sedangkan Zitao hanya menunduk, menyembunyikan segala rasa yang ditanggungnya.
"Wae? Kenapa tak memberitahu padaku terlebih dahulu? Kenapa begitu mendadak? Berapa lama?" tanya Sehun yang menyiratkan bagaimana perhatiannya pria itu pada istri pertamanya.
Mimik muka yang Zitao sembunyikan semakin masam, 'Oppa, kau begitu khawatir pada kepergian Luhan eonnie. Kau pasti sangat mencintai Luhan eonnie. Apa kau pernah mengkhawatirkan aku walaupun hanya 1% dari 100%?' batinnya sedih.
"Seminggu. Kenapa kau begitu khawatir? Bukankah ada Zitao? Dia kan istrimu juga." ujarnya sambil tersenyum palsu. kemudian melirik sebentar Zitao dengan pandangan tak suka. Mendengar penuturan Luhan, Tao mendongakkan kepalanya terkejut.
"Bagaimana Zi, kau mau menjaga Sehun oppa untuk eonnie-mu yang cantik ini kan?" tanyanya dengan siratan mata meremehkan.
"Ah, itu .. eung, iya eonnie." ujar Tao dengan nada gugup yang menyelimuti kalimatnya.
"Anak pintar." ujar Luhan masih dengan tersenyum bak malaikat.
Meletakkan garpu dan sendok yang ia pegang, Sehun menatap dingin. "Aku selesai makan." ujarnya kemudian meninggalkan ruang makan dan masuk kekamarnya-kamar Sehun dan Luhan-.
Betapa hancur hatinya melihat sikap yang ditunjukkan oleh pria yang ia cintai padanya. Ia sangat hancur. Sangat.
Luhan menatap Tao meremehkan. "Hah! Kau lihat itu? Bahkan Sehun oppa tak mengharapkanmu sama sekali disini! Jadi, jangan berharap lebih padanya! Gadis bodoh." ujar Luhan dengan ketus dan segera menyusul suaminya.
Satu bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia mengalihkan pandangan matanya, mencoba menyembunyikan air matanya walaupun sebenarnya tak ada yang melihatnya. 'Benar. Luhan eonnie benar. Bahkan Sehun oppa tak mengharapkanku sama sekali, jadi aku tak boleh berharap lebih kan?" ujarnya sambil menyeka air matanya kasar.
.
.
.
Apakah kau pernah merasa seperti kau adalah satu-satunya yang ada di jalan?
Apakah kau pernah bertanya-tanya dimana semua pergi?
Apakah kau pernah merasa ditinggalkan?
Apakah kau pernah merasa sendirian?
Apakah kau pernah merasa seperti kau melangkah melewati garis?
Kemudian kau hanya berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?
Apakah kau pernah merasa, tubuhmu tidak tahu siapa kau?
Apakah kau pernah merasa gagal menyamar?
Aku, aku mendengar teriakanmu.
Dan aku, aku merasa sakit sepertimu.
Aku tahu, kau berusaha keras untuk membuat hal yang benar, untuk mengatasi perjuangan tak berujung ini.
Hanya saja jangan menyerah.
(Jayesslee - Failure In Disguise)
.
.
.
Luhan telah berangkat ke Paris, Sehun sendiri yang mengantarnya sementara Tao hanya diam dirumah, membersihkan rumah dan mengerjakan aktivitasnya seperti biasa. Bukannya ia tak menghargai Luhan, hanya saja ia tahu kehadirannya disana tak diinginkan oleh keduanya sama sekali. Ia cukup sadar diri dengan posisinya di dalam rumah ini.
Sehun masuk ke dapur tanpa berkata apapun. Dari wajahnya bisa ditebak kalau ia sangat tak menginginkan dirinya sekarang berada di dapur. Ia melangkah dengan tanpa ekpressi seperti biasa.
"Ah, oppa sudah pulang eoh?" tanyanya agak terkejut melihat Sehun yang sudah berada di dapur. Laki - laki itu hanya diam, ia terus berjalan menuju almari es.
"Oppa ingin apa? Oppa ingin minum?" tanyanya sambil membuntuti suaminya itu dari belakang.
Sehun diam, ia mengambil minuman botol dari kulkas dan meminumnya langsung tanpa mengindahkan dirinya.
"Bagaimana Luhan eonnie tadi? Apakah keberangkatannya lancar?" tanyanya.
Sehun membalikkan badannya menatap Tao, lalu ia memejamkan matanya sebentar. "Dengar. Aku tak bisa mencintaimu sampai kapanpun. Jadi, jangan berharap lebih dariku. Kau mengerti itu kan?" ujar Sehun dengan dingin, lalu pergi meninggalkan Tao dengan hati yang hancur.
"Aku tahu oppa, aku tahu. Kau tak akan bisa, tak akan bisa dan tak akan pernah bisa. Tapi, aku hanya ingin mencoba. Benar - benar ingin mencobanya." lirih Zitao.
.
.
.
Hari ini lagi, seperti diriku yang mengembara mencarimu.
Setelah menggambar dirimu sekian lama.
Aku mengubur dirimu dalam hatiku sekali lagi.
Apakah kau tahu kalau cintaku terus tumbuh?
Dan setiap hari, aku menghapus dirimu.
Mungkin karena kita tidak ditakdirkan untuk bersama.
Sebuah takdir diam-diam memerhatikan satu sama lain dari jauh, bahkan dari jauh.
Dengan bibirku yang terpaku menutup.
Dalam keadaan linglung, aku hanya memanggil dirimu.
(Yun Jung - Drawing You)
.
.
.
Pagi itu gerimis mengguyur bumi dengan irama pelan. Zitao sedang memasak untuk Sehun. Ia tahu hari ini suaminya akan ada jadwal padat, jadi ia ingin membuatkan bekal untuk suaminya itu.
Sehun baru bangun dari tidurnya. Ia keluar dari kamar sambil meregangkan tubuhnya sebentar.
"Ah .. oppa sudah bangun. Mandilah sekarang, aku sudah menyiapkan air panas untuk oppa mandi." ujar gadis itu dengan ceria, sedangkan Sehun tanpa babibu hanya melenggang pergi ke kamar mandi tanpa menghiraukan Tao yang menatapnya penuh kebahagiaan.
Senyumnya memudar, ia menatap sayu punggung suaminya yang hilang dibalik pintu kamar mandi.
'Aku bisa bertahan. Kata eomma, cinta bisa tumbuh dengan seiringnya waktu. Setidaknya aku harus mempercayainya.' batinnya dengan tersenyum lemah.
[SKIP]
Sehun keluar dari kamarnya dengan dasi yang berada dalam genggamannya. "Chagia …" panggil Sehun.
Zitao begitu terkejut mendengar panggilan Sehun, 'Luhan eonnie pergi, yang berada di rumah hanya aku seorang. Apakah panggilan itu untukku?' batinnya bingung, kaget dan juga bercampur dengan kebahagiian.
"Lulu …." panggil Sehun lagi.
Dirinya tersenyum masam. "Bodoh sekali. Seharusnya aku sadar diri." gumamnya mengetahui kepercayaan dirinya yang begitu besar.
Tao berjalan pelan menghampiri Sehun yang kebingungan dengan dasinya.
"Lu .." panggilnya lagi, namun masih fokus dengan dasinya.
"Oppa. Luhan eonnie tidak ada." ujar Tao dengan pelan. Sehun menatap gadis itu sebentar, kemudian mendesis. "Ah, benar. Sial!" umpatnya karena menyadari kebodohannya.
"Mungkin aku bisa membantu oppa dengan dasi oppa." ia menawarkan bantuannya dengan menundukkan kepala.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri, sekretarisku juga bisa." ujar Sehun tak perduli dengan perasaan gadis itu, setelah mengatakan itu ia langsung meninggalkan gadis itu. Zitao membatu dalam posisinya.
"Oppa, makan dulu ya." ujar Tao sambil mencekal lengan kekar milik pria itu.
Sehun melirik lengannya yang dipegang oleh dirinya. "Ah .. maafkan aku. Aku tak bermaksud." ujarnya menyadari kesalahannya.
"Aku harus berangkat sekarang." ujar Sehun dengan dingin.
"Kalau begitu, bawalah bekal? Aku sudah memasakkannya untukmu." pintanya.
"Tidak perlu, nanti aku akan makan dengan klienku." jawab Sehun dingin dan pergi meninggalkan gadis itu lagi.
Matanya mulai berkaca – kaca, matanya yang sudah mempunyai kantung mata itu kini semakin terlihat membesar karena membengkak, ia terlalu sering melewatkan harinya dengan tangisan dan tangisan.
Ia menatap sedih punggung Sehun yang mulai menjauh.
"Oppa. Berapa banyak rasa kebencianmu padaku? Pada perjodohan ini? Dan pada pernikahan ini?" tanyanya dengan lirih.
~ TBC ~
.
.
.
.
Hehehhe #nyengirgaje
Maap ye gak panjang :v niatan sih mo panjangin. Tapi besok ajahlah :p
Ini ajah udah cukup xD plak #dilemparigolokreader
.
.
.
.
Bales review chapter pertama ah.
Yasota : T^T iye ane sesuju-lah. Tao sering banget kena bash. Aduuuh bias gue tuh gak bisa digituin xD plak. Wkwkwkk, samaan kalo gitu #ketawadevil
Shinlophloph : pokoknya pantengin ajah next chapter, mesti bakalan tahu. Bakalan dijelasin di chapter chapter berikutnya :v iye yang kemaren tuh baru prolog
MyGalaxyWYF : aku juga suka banget sama couple HunTao :* ya walaupun my baby Tao udah keluar :')
NisaRaflii : ini udah di next sayang :*
thedolphinduck : heheheh :v ya pokoknya tungguin ajah chapter chapter selanjutnya sampai habis ini cerita xD plak
bukan princess syahrini : hah! Gue aminin paling keras #tereakpakektoa berharap banget gak ada komentar pedes dan ngebash chara, aplagi uri baby Tao :'( makasih ya ^^
your fans : wkwkkkw, ini kayaknya gak panjang deh #digerebekmassa eh eh next chapter agak panjangan kok xD lol
Aiko Vallery : hehhe, iyeelaah ini udah dilanjut say :p
Jeon hyeun : hehhe, iya iya ^^ ini udah dilanjut
LVenge : siape yang mo dicincang :v hahha, ini mah aku dapet ilham bukan dari lagu simple plan, wkwkkw
