The Spinning World
Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Pair : SasukexSakura
Rated : Teen (T)
Warning : typo, bad diction, out of character, read summary first then if you don't like, don't read!
.
Chapter 2 :
.
.
.
Sakura's POV
Aku menatapnya melalui celah pintu kamar mandi, ia masih di sana. Walaupun tak melihatku, namun tak ayal membuat wajahku memanas. Bagaimana bisa aku keluar dalam keadaan yang hanya dibaluti sehelai handuk? ! Apalagi 'dia' adalah seorang lelaki, dia pasti akan terpesona dengan tubuh indah nan modisku ini!
Aku terlonjak kaget saat onyx-nya menatapku dengan tatapan datar, sama seperti biasanya. Aku yakin semburat merah kini menghiasi wajahku. Namun aku sedikit kesal dengan tatapannya yang sama sekali tak berubah itu, apa dia benar-benar tak nafsu padaku?! Dan … Arrggh! Apa yang kubicarakan?! Bukankah aku harus bersyukur jika ia tak nafsu padaku?
"Sampai kapan kau mau berdiri dengan tampang bodoh di sana?" Perkataannya seketika menghentikan pergolakan batinku. Perempatan siku-siku muncul di pelipis kananku, apa dia bilang tadi? Bodoh?! Berani sekali dia?!
"Bajumu ada di sana," katanya seraya menunjuk sepasang baju dan rok yang telah dilipat dengan rapih di atas meja. Dengan kikuk, aku melangkahkan kakiku menuju meja tersebut, sambil mencoba untuk tak bertatapan mata dengan Sasuke.
"Bi-bisa kau keluar?" pintaku dengan nada pelan, namun aku yakin dia mendengarku.
"Tidak." Aku menatapnya kesal. Bisa-bisanya dia menolak permintaanku dengan tatapan datarnya yang sangat menyebalkan itu!
"K-kau…" Aku menggeram kesal, mencoba untuk menahan emosiku yang bisa meledak kapan saja. Aku menghembuskan nafasku dengan berat, mencoba bersabar. Sasuke itu benar-benar menyebalkan!
Aku mendongak menatapnya saat tiba-tiba ia berdiri, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, ia melangkah melewatiku. Aku sekali lagi menggeram kesal, sebenarnya apa maunya pantat ayam sialan itu?!
Setelah ia keluar dari ruangan tempatku berada, aku segera melepas handukku dan memakai pakaian yang terletak di meja kecil tadi. Aku menatap pantulan diriku di cermin, baju ini sangat pas untukku. Baju lengan panjang berwarna senada dengan warna bola mataku, serta rok hitam selutut dengan corak berwarna putih. Simple, tapi aku suka pakaian ini. Setelah sekian lama mengagumi keindahan diriku, aku melangkah menyusul Sasuke keluar ruangan. Namun tak ada siapapun di sana, lagi-lagi aku sendirian. Bayangan akan kematian orang tuaku melayang-layang di kepalaku. Tanpa sadar, air mataku kembali jatuh, dengan cepat aku mengusapnya. Aku bodoh. Aku tidak boleh menangis lagi…
Aku keluar menuju koridor hotel. Masih tak ada Sasuke di sana, sebenarnya dia kemana? Kenapa dia meninggalkanku sendirian? Tega sekali dia!
Aku terus berjalan, sampai tak sadar aku menuju lift dan turun ke lantai bawah. Di bawah, aku menemukan Sasuke di meja resepsionis. Aku memicingkan mataku, menatap Sasuke yang mengeluarkan dompetnya dan membuka dompet berwarna hitam tersebut. Mungkin Sasuke ingin membayar untuk kamar hotel tempatku tadi. Aku terbelalak saat melihat banyak lembaran uang di dalam dompetnya, dan juga banyak kartu kredit di dalam dompetnya. Heeeh?! Apakah ia benar-benar Sasuke si miskin?
Aku tersentak saat ia juga menoleh melihatku. Oke, aku ketahuan membuntutinya sekarang, pasti wajahku memerah lagi. Sungguh memalukan bersikap seperti ini di depan Sasuke!
"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya menghampiriku. Aku menggaruk tengkukku dengan kikuk, bingung mencari jawaban atas pertanyaan Sasuke. Namun Sasuke nampaknya tak menghiraukannya dan menarik tanganku keluar hotel, membuatku sedikit tersentak karenanya.
"E-eh? Kita mau ke mana?" tanyaku gugup. Jangan-jangan … dia mau mengajakku ke tempat yang tidak-tidak?!
"Mencarikanmu tempat tinggal," jawabnya enteng. Aku mengerutkan alisku heran.
"Tempat tinggal? Bukannya tempat tinggalku di hotel itu?" Ia sama sekali tidak memedulikan kicauanku dan tetap menyeretku ke suatu tempat. Kami menyusuri gang-gang sepi dan sempit, gang itu kotor, sampah berserakan di mana-mana, membuatku sedikit jijik. Apakah … Sasuke tinggal di sekitar sini? Tidak. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat dan keras, Sasuke punya banyak uang tadi, mana mungkin ia tinggal di sini!
"Kau tidak mampu membayar hotel itu?" Kyaa! Tidak! Bukan ini yang mau kukatakan! Aku harusnya mengatakan 'Kita sebenarnya mau ke mana?' Tapi kenapa kata-kata mengejek yang kukeluarkan?!
Aku menghela nafas lega saat Sasuke tak meresponnya, hati kecilku berharap bahwa dia tak mendengar pertanyaanku tadi. Semoga, karena hanya dia yang bisa kuandalkan saat ini! Kami memasuki sebuah kawasan perumahan, bukan perumahan elit, menurutku perumahan ini sederhana. Rumah-rumahnya sederhana dan tidak terlalu luas. Kami berhenti di depan sebuah rumah dengan cat putih, rumah yang terkesan sempit, namun cukup luas untuk satu orang penghuni. Desain rumah ini biasa-biasa saja, tapi aku cukup menyukainya.
"Aku akan tinggal di sini?" Sasuke mengangguk. Kami memasuki rumah tersebut, barang-barangnya cukup lengkap, namun berdebu, pertanda bahwa rumah ini sudah lama tak berpenghuni. Aku menatap sekeliling, ada televisi, kulkas, dapur, satu kamar, satu sofa kecil, dan sebuah kamar mandi. Benar-benar porsi satu orang(?)!
"B-berdebu…" gumamku saat mencolek televisi-nya dan melihat jariku berdebu.
"Kalau begitu bersihkan," ucapnya dan menyerahkanku sebuah sapu yang entah darimana ia dapatkan. Aku memandangnya dengan tatapan cengo, bersihkan?! Meskipun sempit, namun pasti akan sulit untuk membersihkan rumah ini!
"Apa tidak ada pembantu?" Sasuke mendengus.
"Jangan samakan rumah ini dan rumahmu dulu." Sasuke mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berada di sudut ruangan. "Sekarang bersihkan," perintahnya masih dengan wajah datar. Aku memandang sekeliling, err … mulai dari mana yah? Setelah sekian lama berpikir, akhirnya aku mulai membersihkan rumah itu.
.
.
.
"Fiuuhh…"
Aku menyeka peluh yang mengalir melalui pelipisku. Tubuhku terasa pegal, aku sangat lelah!
"Bagus." Aku menatap Sasuke kesal.
"K-kau…" Aku mengepalkan tanganku. "Seharusnya kau juga membantuku! Wajah papan!" Tudingku marah. Dia benar-benar tidak punya hati! Membiarkanku sendirian membersihkan rumah ini sementara dia duduk bersantai sambil mengutak-atik ponselnya! Apa dia benar-benar tidak punya niat balas dendam denganku?! Dia ingin membunuhku perlahan-lahan, heh?!
"Ini tidak ada hubungannya denganku, Nona Haruno." Ia beranjak dari kursi dan mendekatiku. T-tunggu … apa yang ingin dia lakukan? D-dia ingin menyerangku?! Benar juga! Kami hanya berdua saat ini! Dia mesum! Seharusnya aku tak semudah itu mengikutinya ke tempat asing ini! Tidaaaakk! Dia terus mendekatiku! Bagaimana kalau aku hamil muda?! Aku menyilangkan kedua tanganku di dadaku seraya memberinya tatapan tajam.
"Apa yang mau kau lakukan?!" tanyaku galak. Namun ia terus mendekatiku, aku menutup mataku, takut dan gelisah kini kurasakan.
Ceklek!
Eh?
Aku membuka mataku, kulihat ia berada di sampingku sekarang seraya membuka pintu yang berada di belakangku. T-tunggu, jadi … ia hanya mau membuka pintu?
"Ekspresimu berlebihan." Dia mendengus menahan tawa. Wajahku memerah, pasti dia saat ini menertawaiku dalam hatinya! "Hindari pikiran negatifmu tentangku," katanya seraya melangkah melewatiku.
"Kau mau ke mana?" cegahku.
"Pulang," jawabnya singkat. Pulang?! Berarti dia tak tinggal di sini bersamaku?
"Eh? Berarti … aku harus tinggal di sini sendirian?!" Dia mengangguk. Gila! Ini benar-benar gila! "Kau gila! Membiarkan seorang gadis tinggal sendirian di rumah ini! Bagaimana kalau ada hantu? Atau pencuri? Perampok?"
"Itu urusanmu," ujarnya dan melenggang pergi, meninggalkanku dengan wajah cengo. Tega sekali dia! Dia benar-benar balas dendam padakuuuuuu!
=…=
Ting… Tong…
Aku membuka mataku dengan pelan, mengganggu sekali tamu itu! Memangnya dia tidak tahu kalau aku baru tertidur sejam yang lalu?! Dengan malas, aku melangkah membuka pintu, dan mendapati seorang wanita berambut coklat. Siapa lagi ini?
"Anda Nona Haruno Sakura?" tanyanya tersenyum ramah, aku mengangguk.
"Ini ada kiriman untuk anda," katanya dan menyerahkan sebuah dos padaku, aku mengangguk dan menutup pintu saat wanita itu pergi. Aku membuka dos tersebut, isinya semua pakaianku, termasuk seragam sekolahku.
Ting… Tong…
Siapa lagi itu?! Aku sekali lagi membuka pintu dan mendapati wajah tengil Sasuke dibalik pintu.
"Kirimannya sudah datang?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Sekarang mandilah, dan kita akan berangkat sekolah bersama." Wajahku memerah. I-ini sebuah ajakan?
"Tidurmu nyenyak?" Aku memberinya tatapan tajam. Memangnya dia tidak lihat kantung mata berwarna hitam yang bertengger manis di wajah manisku ini?!
"Aku sangat ketakutan. Jadi tidak bisa tidur," jawabku tanpa memandangnya. Dia tak merespon lagi dan duduk di sofa. Aku juga tak menghiraukannya lagi dan bergegas mandi.
.
.
.
Kami telah sampai di sekolah. Aku berjalan memasuki gerbang dengan Sasuke, aku risih dengan orang-orang yang menatapku dengan pandangan meremehkan, dan ada juga yang memandangku kasihan. Apa-apaan ini?!
Aku melihat ke samping. Sasuke sudah tidak ada, cepat sekali dia menghilang! Dan tega sekali dia meninggalkanku sendirian! Jahat! Dia jahat! Tapi … aku juga dulu sangat jahat padanya. Aku menunduk, dadaku terasa perih saat mengingat perlakuanku pada Sasuke dulu.
"Heh, jadi ini Nona Haruno yang malang itu…" Aku mendongak, menatap seorang gadis berambut merah, kalau tidak salah, namanya … Tayuya!
"Aku dengar, Haruno dibantai bersama pelayan-pelayannya, kasihan sekali kau." Aku memandangnya marah. "Hahahaha! Kau kenapa, heh? Ingin menantangku?"
Brruukk!
Tubuhku terhempas ke belakang, sakit. Perutku sakit sekali saat ditendang olehnya. Aku bangkit dengan perlahan, hendak membalasnya, namun … kenapa tubuhku terasa kaku?
"Orang-orang melihatmu bersama Sasuke berangkat ke sekolah. Kau tidak punya malu juga yah, mendekati Sasuke setelah apa yang kau lakukan padanya dulu." Aku tersentak. Perkataannya seketika menusukku. "Kalau aku jadi Sasuke, aku akan balas dendam padamu. Dan kalau aku jadi kau, aku sebaiknya bunuh diri saja!" Emerald-ku membelalak. "Kau tidak pantas hidup! Kau sudah yatim piatu! Kau miskin sekarang! Sekarang kaulah sampah sekolah ini!" Cukup. Air mata ini tidak dapat kutahan lagi.
"A-" Aku mengepalkan tanganku. "Aku bukan sampah!" Tayuya memandangku marah.
"Kau berani sekali melawanku!"
Plaaak!
Sekarang aku merasakan sakit di pipiku, tamparan Tayuya cukup keras, membuatku terpental di lantai. Aku menatap sekeliling dengan pandangan buram akibat air mata. Aku melihat Shion dan Karin tersenyum sinis menatapku. Me-mereka…
"Shion … Karin…" gumamku. Shion dan Karin mendekatiku seraya tersenyum sinis. "Tolong aku!" pintaku pada mereka.
"Tolong? Hahaha! Kau bercanda?" Mataku membelalak melihat sifat mereka. Ada apa dengan mereka? Bukankah mereka temanku? Bukankah teman akan menemani kita di saat suka dan duka? Tapi kenapa mereka…
"Kau sudah miskin Sakura, dan kami bukan temanmu lagi!" ucap Shion sarkastik. Aku menatapnya tak percaya.
"Apa yang terjadi pada kalian?!" teriakku marah dan sedih. Aku sangat kecewa pada mereka. Hatiku mencelos saat melihat perilaku mereka saat ini.
"Ini sifat asli kami, Sakura, kami hanya menginginkan uangmu saja," jawab Karin dingin.
"K-kalian…" Aku perlahan berdiri. Namun Shion mendorong pundakku, membuatku jatuh kembali.
"Lebih baik kau tetap berlutut seperti itu!" perintahnya padaku, Karin bahkan mengambil ancang-ancang untuk menamparku, membuatku memejamkan mata.
PLAAAK!
Aku tertegun saat membuka mataku dan mendapat Sasuke menepis tangan Karin. Karin nampak menatap Sasuke kaget, bukan hanya Karin, Shion, Tayuya, dan orang-orang yang berkumpul menyaksikan adegan ini kaget saat Sasuke melindungku.
"Sasuke!" Sasuke menatap Karin dingin. "Berlagak jadi pahlawan, heh?! Kau sama saja seperti Sakura!" ejek Karin. "Kalian hanya orang-orang terbuang!"
"Kau boleh mengejekku, tapi… " Sasuke menatap Karin dengan tatapan yang lebih tajam dibanding sebelumnya. "…jangan menyentuh Sakura." Aku terbelalak. Aku dapat merasakan aura Sasuke semakin gelap. Ini … Sasuke melakukannya gara-gara aku? Hanya untuk melindungiku? Mataku terasa panas, aku menyesal. Aku sangat menyesal…
"Jangan menatapku seperti itu!" Karin menatap Sasuke marah. "Memangnya kau siapa?!" Sasuke merogoh kantongnya, mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu pelajarnya dari dalam dompetnya dan memperlihatkannya pada Karin.
"Uchiha Sasuke." Karin terlonjak kaget, Shion, Tayuya, dan orang-orang di sekitar juga terlonjak kaget. "Dan tak akan kubiarkan siapapun menyakiti Sakura!" gertak Sasuke dingin. Aku bahkan ikut kaget, Uchiha … klan nomor satu itu? Klan paling teratas mengalahkan klanku? Sasuke … dia … Aku memegang kepalaku yang terasa sakit. Aku sangat pusing menghadapi semua kenyataan mengejutkan yang datang bertubi-tubi ini.
"K-kau … jangan berbohong!" tuding Karin kesal. Sasuke hanya tersenyum meremehkan.
"Ada apa ini?!" Aku menatap Tsunade-sensei yang menghampiri kami, para siswa-siswi membuka jalan pada kepala sekolah cantik itu.
"Tsunade-sensei!" ucap Karin terlonjak kaget. Tsunade menatap kami marah.
"Mereka yang memulai," ucap Sasuke datar. Sasuke kemudian membantuku berdiri, dan hendak meninggalkan Karin dan kawan-kawannya.
"Bohong! Kau berbohong!" Karin masih tak mau kalah. "Tsunade-sensei!! Dia berbohong 'kan? mana mungkin dia seorang Uchiha!" Tsunade tampak terkejut, namun kemudian tersenyum dan menatap Sasuke.
"Akhirnya kau mau membuka identitasmu…" Perkataan Tsunade disambut tatapan bingung dari semua orang. "… Uchiha Sasuke."
.
.
.
"A-aw!" Aku meringis kesakitan saat Hinata memberi antiseptic pada luka di lututku akibat dorongan Tayuya tadi. Hinata refleks melembutkan pergerakannya untuk mengobatiku. Aku menatap Hinata dengan pandangan heran, aku pernah menyakiti dia, tapi kenapa dia malah membantuku untuk menyembuhkan lukaku sekarang?
"S-Sakura-chan … sudah selesai," ucapnya dengan wajah memerah. Aku mengangguk sekilas, dia hendak berdiri, namun segera kutahan.
"Kenapa kau membantuku?" tanyaku bingung. Hinata hanya tersenyum lembut seraya berkata.
"Karena Sakura-chan butuh bantuan sekarang…"
"Aku pernah menyakitimu," ucapku. "Aku tak butuh belas kasihan!" Aku membuang wajahku. Tidak, bukan ini yang harusnya kukatakan. Aku harusnya mengucapkan terimakasih padanya yang telah bersedia membantuku. Kenapa egoku masih muncul di saat seperti ini?
"Ini bukan rasa belas kasihan, Sakura-chan…" Hinata masih menyunggingkan senyum manisnya. "Aku hanya membantumu, sebagai seorang teman." Aku refleks menoleh pada Hinata.
"Omong kosong!" sergahku. Jauh dilubuk hatiku, aku merasa bahagia dan terharu mendengar perkataan Hinata.
"Kau sebenarnya punya banyak teman Sakura-chan, kaulah yang tidak membuka hatimu untuk mereka." Aku mendengus, teman? Aku tak percaya lagi dengan kata-kata itu! Karin dan Shion telah mengkhianatiku.
"Kau cerewet juga," dengusku. Hinata hanya terkekeh kecil, aku tertegun menatapnya. Ternyata dia sungguh manis. "Tapi, terimakasih…" gumamku pelan. Gengsiku cukup tinggi untuk mengatakannya dengan suara keras. Namun aku yakin dia pasti mendengarnya.
"Sama-sama." Dia tersenyum ramah. Kemudian pamit pergi karena bel telah berbunyi. Aku sendirian di atap. Sasuke-pantat-ayam-menyebalkan-sok-misterius itu 'hilang' tanpa jejak. Tega sekali dia meninggalkanku sendirian, mentang-mentang aku sedang kesal padanya.
"Yo." Aku terlonjak kaget saat dia tiba-tiba berada di belakangku. Sejak kapan dia di sana?! Kenapa aku tak mendengar langkah kakinya atau aura keberadaannya?! Apa dia hantu?!
"S-sejak kapan kau di sini?!" Sasuke tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya melangkah melewatiku. Aku menatap punggungnya, entah kenapa, sekarang aku menjadi sedikit 'minder' berada di dekatnya. "Kenapa selama ini kau menyembunyikan identitasmu?" tanyaku penasaran.
"Hanya ingin saja," jawabnya singkat. Aku mengerucutkan bibirku, tak puas dengan jawabannya.
"Bohong." Sasuke manatapku penuh arti.
"Sejak SMP, aku selalu saja terkenal karena margaku," ujarnya memulai ceritanya. "Semua orang segan padaku. Fangirls bertebaran, tapi aku yakin mereka hanya mengincar hartaku." Aku menatapnya penasaran. "Jadi aku memutuskan untuk menyembunyikan identitasku saat SMA. Aku menyuruh kepala sekolah, para guru, serta para teman SMP ku tutup mulut soal ini. Kau lihat sendiri 'kan? Aku tanpa marga hanya pemuda miskin yang diremehkan." H-hei! Dia menyindirku yah?
"Tapi kau masih punya fangirls kan? Walaupun mereka tahu kau miskin," tuturku.
"Itu karena aku tampan." Heeeeeh?! Dia narsis! Aku akui dia memang tampan! Tapi dia sungguh narsis!
"Tapi kenapa kau membantuku?" lirihku. Aku tahu Sasuke memandangku saat ini. "Kenapa kau tak balas dendam padaku saja? Kau dan Hinata … kenapa kalian membantuku?!" Emosiku meledak. Aku tidak tahu kenapa aku marah saat ini.
"Aku … aku jahat pada kalian! Aku selalu saja menyakiti kalian! Dan kalian malah membantuku saat teman-temanku menjauh dariku!" Aku mengingat sifat Karin dan Shion tadi pagi, membuat hatiku perih. Air mata sudah merembes melalui emeradku saat ini.
"Apa gunanya teman seperti mereka?! Kenapa hidupku seperti ini?! Aku lebih baik mati bersama ayah dan ibuku!" amukku kesal. Aku menangis kencang, ego ku telah runtuh. Terserah Sasuke mau mengataiku apa, gadis cengeng lah, apalah, yang kupikirkan saat ini hanyalah meluapkan emosiku.
Greeep!
Aku tercenggang kaget saat Sasuke memelukku. Perasaan hangat menyelimuti tubuku saat ini. "Sakura yang kukenal bukan orang yang lemah seperti ini." Aku tertegun mendengar perkataannya.
"Kau seharusnya bersyukur, karena kau masih diberi kesempatan untuk hidup," ucapnya lembut. Aku masih menangis di bahunya. Ia memelukku erat, akupun membalas pelukannya. Seolah pelukan darinya dapat membuatku lebih tenang.
"Maafkan aku … hiks, maafkan aku Sasuke, maaf…" lirihku. Aku merasa hatiku telah terbuka padanya, Sasuke orang yang baik. Aku sangat menyesal saat ini, seharusnya aku tak membully-nya dulu.
"Ssst … tenanglah. Aku telah memaafkanmu." Dia melepas pelukannya dan menempelkan dahinya di dahiku. Wajahku memerah kala melihat wajah tampan Sasuke yang begitu dekat denganku. Sasuke mendekatkan bibirnya pada bibirku. Aku memejamkan mataku saat merasakan bibirnya menyentuh bibir tipisku. Ciuman pertama yang begitu lembut. Kehangatan lagi-lagi kurasakan, sepertinya … meski ini terlalu cepat, aku telah jatuh cinta pada Sasuke.
Sasuke melepas ciumannya, membuatku merasa agak kecewa. Namun aku tersenyum lembut. "Aku pasti akan membayarmu jika aku punya uang," ucapku pelan. Sasuke tiba-tiba melepasku, mata onyx-nya menatapku dengan tajam. E-eh? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Sasuke terlihat marah.
"Sampai kapan kau memperhitungkan segalanya dengan materi?" tanyanya dingin.
"A-aku … aku hanya ingin membalas kebaikanmu!" ucapku serak. Nyaliku ciut saat melihatnya marah, baru kali ini aku melihat Sasuke begitu marah.
"Cih, ternyata aku salah menilaimu." Sasuke membalikkan badannya dan meninggalkanku di atap sendirian. Aku tecenggang kaget, kaki-kakiku terlalu kaku untuk menyusulnya. Air mataku kembali jatuh, ini terasa lebih menyakitkan. Lebih menyakitkan dibanding saat Shion dan Karin mengkhianatiku. Aku terlalu lemas dan jatuh terduduk. Aku kembali menangis, aku sungguh cengeng. Tapi sungguh, ini terasa sangat menyakitkan.
.
.
.
Aku pulang ke rumah kontrakanku. Sasuke masih mendiamiku hingga saat ini. Saat di kelas, ia sama sekali tak berbicara padaku, tak menghiraukanku seperti biasanya. Kini aku sendirian, tak ada lagi orang yang ingin menemaniku. Aku merunduk sedih, aku terduduk di pojok ruangan rumah kontrakanku ini dan menangis lagi.
Aku sekarang sadar betapa lemahnya aku sekarang. Bukan hanya Sasuke, aku tanpa marga juga hanyalah seorang gadis cengeng, lemah, dan sombong. Aku mulai mengerti jika orang-orang menjauhiku saat ini. Dulu aku adalah seorang gadis penindas yang menyebalkan, selalu meremehkan orang lain, padahal aku hanya manusia biasa yang kebetulan dilahirkan di keluarga mapan. Semua orang sebenanya sama saja, tak ada yang menonjol.
Kenapa aku baru menyadari ini saat hal buruk telah menimpaku?
'Sakura yang kukenal bukan orang yang lemah seperti ini.'
Aku menyeka air mataku, Sasuke benar, aku harusnya tidak cengeng. Aku harus menjadi kuat seperti Sakura yang dulu. Aku bangkit perlahan dengan perasaan yang lebih baik daripada tadi. Aku harus mencari Sasuke! Sasuke tidak boleh mendiamiku seperti ini! Dia yang menyadarkanku betapa kejamnya aku dulu, dan dialah yang harus menemaniku sampai akhir. Aku membuka pintu rumahku, aku harus menemuinya! Apapun yang terjadi, aku harus berbicara dengannya! Tak peduli jika dia nanti mengusirku, aku harus meminta maaf padanya!
Sasuke, tunggu aku!
.
.
.
Tbc
Yo! Sorry telat update, ada yang nunggu fic ini?#hening
Aku sebenarnya mau update kemarin, tapi nggak sempat T.T
Oke, saatnya balas review unlogin :
Guest :
Haaii…! Ini … ini…
Pokoknya baca aja ah! Aku nggak mau ngasih spoiler :3 #plaak
Thanks reviewnya yah! Review lagi ^^
Dhel a fey :
Yoooooo! Delaaaaaaaaa!#rusuh
Haha! Iya, klan Uchiha lebih tinggi :3 aku sebagai salah satu anggota klan uchiha merasa bangga xD
Thanks reviewnya yah :3 review lagi dooongg :3
Ayam berbulu pink :
Haaaiii :3
Udah kubilang, aku gak mau ngasih spoiler xD ini hanya threeshoots, jadi baca aja yaaaahh xD
Thanks reviewnya :3 review lagi yah xD
Tsurugi De Lelouch :
Hai kak Wulan :3
Haha, dunia pasti berputar xD kata-kata itu selalu kudengar dari salah satu temanku xD
Kalo dunia brputar, ya putar balik lagi XD#plaak
Thanks reviewnya kak Wulan :3 Review lagi yaaaaahhh xD
Kiki Takajo :
Haaaiii… ini udah lanjut :3
Thanks reviewnya, review lagiiii xD
Neko darkblue :
Haaaii :3
Makasih reviewnya xD review lagiii yaaaahhh! xD
Shintaiffah :
Hellooo~
Penasaran? Wah….#tersanjung
Makasih reviewnya :3 review lagi xD
Sonedinda :
Iya, Sakura kasihan T.T#plaaak
Makasih reviewnya :3 review lagiii
Arisaaoi :
Haaaiii :3
Tenang aja, Sakura bakal jadi baik kok xD
Anyway, thanks reviewnya :3 review lagiiii!
Udaaaahhh! :3
Sekarang, silahkan di revieewww :3
Arigatou!
Hany-chan DHA E3
