Kamichama Karin © Koge-Donbo

Fic © Haruka Hitomi 12

Warning: semi-OOC, typo(s), AU

.

Haruka Hitomi 12 proudly presents...

_The Thief of Love_


.

Kazune Kujyou berjalan santai di tengah gugurnya dedaunan oranye khas musim gugur itu. Ia merapatkan jaket biru yang ia kenakan dan sesekali menggerutu kesal kala kakinya tenggelam diantara tumpukan daun-daun kering yang sudah selesai disapu dan dikumpulkan. Tapi setidaknya satu hal baik di musim ini, tidak adanya serangga. Yah, mungkin hanya sesekali terdengar suara jangkrik—tapi setidanya jangkrik tidak terlalu suka memasuki pekarangan manusia secara terang-terangan. Dan satu lagi hal baik, liburan musim dingin hari pertama sudah dimulai dan akhirnya tahun ajaran baru di musim semi nanti yang artinya adalah kelas baru akan segera dimulai juga—lelaki itu hanya berharap Kami-sama tidak berniat menggoreskan takdirnya untuk sekelas dengan kerumunan wanita berisik yang menyebut diri mereka adalah fans-nya. Tahu begini, dulu aku akan lebih memilih masuk sekolah khusus laki-laki. Setidaknya pula, nilai rapornya bagus—seperti biasanya. Sehingga itu juga lumayan melegakannya.

Kazune tahu ia akan kembali pulang telat karena ia keluyuran lagi di jam selarut ini—dan lagi-lagi ia akan kena omelan Kazusa karena tidak mengikuti makan malam. Tapi setidaknya di hari pertama liburan musim dingin yang agaknya tahun ini lebih dingin dari tahun kemarin, ia ingin bersantai sejenak—orang lain mungkin lebih memilih berbaring di sofa depan perapian dengan senampan kue jahe dan minuman hangat—sebagai pilihan dari kata 'bersantai' di musim dingin. Tapi, menurutnya, bersantai yang tepat adalah berkeliling di kota sampai benar-benar puas.

Tokyo di sore larut ini agak sepi. Jatah liburan sudah diberikan sehingga lagi-lagi pastinya orang akan lebih memilih untuk berlibur dan bersantai bersama keluarga—mungkin hanya beberapa orang yang memiliki daya tahan diatas rata-rata atau kebutuhan tertentu sehingga lebih memilih untuk bekerja demi beberapa keping yen. Dan pikirannya tertuju pada peristiwa tempo hari. Demi uang, orang memang akan melakukan apapun. Bahkan mencuri—tak peduli itu lelaki atau perempuan.

"Siapa namanya? Hana... Hazo... Hanazono—"

"Hanazono Karin. Itu namanya."

Kazune sedikit menaikkan alis ketika seorang gadis bersurai gelap dengan rambut dikuncir dua ikal berdiri disampingnya diatas jembatan penyeberangan disalah satu sudut pusat kota Tokyo itu. Ia menatap Kazune sekilas dengan sorot matanya yang dingin. "Pencuri terkenal di daerah ini. Kau kenal dia?" tanya gadis itu lagi.

Kazune balas menatapnya sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke depan, "Tidak. Apa urusanmu?"

"Tidak ada," balas sang gadis, "Aku hanya sedikit bereaksi saat mendengar kau menyebut nama Hanazono. Kalau dia tidak mencuri dariku mungkin aku takkan peduli dengan namanya. Tapi ia telah mencuri sesuatu yang berharga dariku."

"Oh."

"Ya, jadi aku mohon bantuanmu, jika kau bertemu dengannya, tolong laporkan polisi dan beritahu aku. Ini kartu namaku, permisi." Gadis itu beranjak dari sana. Derap langkah kakinya yang dibalut boot selutut bergema di alas jembatan yang terbuat dari kayu itu. Kazune hanya mengerutkan dahi memandang kepergian gadis yang memang sama sekali tidak diundang itu. Ia membaca tulisan yang tertera di atas sebuah kartu nama yang diberikan gadis itu.

"Karasuma Rika."

.

Kazune tahu bahwa Kazusa pasti akan mengamuk seperti yang terjadi seminggu lalu saat ia pulang terlambat tanpa ijin, melewatkan makan malam dan tidak membawa 'hadiah' apapun untuk adiknya itu. Sehingga kali ini, lelaki itu memutuskan untuk membawakan setidaknya satu kotak penuh cake untuknya.

Baru saja akan memasuki sebuah toko roti, langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang bermantel cokelat kelabu berdiri di depan kaca toko roti yang akan ia masuki. Dilihat dari bagian wajah dan rambutnya, ia seperti seorang lelaki. Tapi kalau dari postur tubuhnya, ia lebih terlihat seperti seorang wanita. Mengendikkan bahu—merasa itu bukanlah urusannya, Kazune berjalan melewatinya dan membuka pintu kaca itu sampai matanya menangkap sepasang iris giok yang ditutupi kacamata hitam yang tengah memandang sendu kedalam toko roti.

"Kau Hanazono?" Dan ia merasa pertanyaan itu meluncur sendiri dari mulutnya. Orang itu terkesiap dan ia bersiap untuk segera lari tapi itu sebelum Kazune dapat meraih pergelangan tangannya. "Aku hanya ingin bicara dan aku bukan polisi atau orang yang akan melaporkanmu pada mereka."

Ia dapat merasakan rasa lega yang orang itu tunjukkan lalu Kazune menarik tangannya ke dalam toko roti. Dari sikapnya, ia semakin yakin kalau gadis itu adalah Hanazono Karin. "Bukankah kau—"

"Ya," Kazune memotong perkataan gadis itu, "Aku yang kemarin."

"Ah ya, benar, aku takkan bisa melupakan rambut pirangmu Kujyou-san," Karin tersenyum kecil, "Terimakasih banyak atas kebaikan hatimu dan adikmu untuk tidak melaporkanku—tapi, aku tak lagi mencuri kok! Aku sudah berjanji pada kalian bukan? Setidaknya... hari ini aku mencoba mencari pekerjaan yang lebih layak untukku."

Kazune bergumam singkat sambil meraih sebuah nampan putih yang disodorkan oleh seorang wanita yang berdiri di bagian kasir. Ia meraih sebuah penjepit dan menjepit sebuah cheese-cake di salah satu rak dimana berbagai jenis roti khas musim-gugur-menjelang-musim-dingin tersusun berderet-deret. "Pekerjaan apa?" tanyanya kemudian.

"Aku... mencoba menyembunyikan identitasku dengan menyamar seperti seorang lelaki—memang berhasil, tapi, karena aku masih di bawah umur, kafe itu menolakku untuk bekerja paruh waktu sebagai pelayan disana," terang Karin.

"Hanazono, berapa umurmu sebenarnya?" tanya Kazune lagi tapi kini pandangannya tertuju pada Karin—bukan lagi pada tumpukan cheese-cake yang ia beli—kesukaan Kazusa. Gadis di depannya mengangkat alis sekilas, "Hm? Aku masih berumur enam belas tahun."

"Kau apa?!" Kazune berseru terkejut, lelaki itu tak pernah menyangka akan ada seorang gadis berusia enam belas tahun yang keluarganya terlilit hutang dan harus menjadi pencuri dan menjadi buronan hampir satu prefektur, "Umurmu masih enam belas! Kenapa tidak sekolah? Dasar bodoh!" Karin mengerucutkan bibirnya lalu meninju bahu Kazune sehingga lelaki itu meringis, "Sudah kubilang, aku tak punya uang! Kalau saja ada, tentunya aku ingin sekolah dan aku tak mau jadi pencuri!"

Kazune mengomel tak jelas sebelum akhirnya ia menghela nafas dan berucap, "Ambillah roti yang kau mau untukmu dan bibimu." Ia sempat melihat Karin membelalakkan matanya tak percaya. Tapi sebelum gadis itu sempat mengajukan protes, Kazune kembali menyelanya, "Ambil saja."

.

"S-semuanya... tiga ribu lima ratus yen." Karin tahu gadis yang berada di kasir berbeda dengan wanita yang tadi menyambut mereka saat memasuki toko. Gadis ini tentunya lebih muda. Rambutnya berwarna tosca dan ia mempunyai sepasang manik hazel selembut madu yang menawan. Mungkin yang tadi itu ibunya...

Kazune menyerahkan beberapa lembar ribuan yen, "Kau mendengar pembicaraan kami, bukan?" tanyanya tajam. Dan saat itu pula, jemari gadis bersurai tosca di depannya gemetar dan matanya menyorotkan rasa takut. "A-aku... aku... ya-yah... mungkin h-hanya sedikit..." jawabnya tersendat-sendat. Siapa yang takkan takut kalau kau dipelototi sorot mata yang begitu tajam seakan bisa membunuhmu kapan saja kala kau lengah?

Karin melebarkan matanya dan buru-buru membenahi topi yang menutupi hampir tiga perempat surai brunette nya. "Ma-maafkan aku! A-aku sangat lancang! Ini... ini a-akan jadi rahasia, a-aku bersumpah!" seru sang gadis bersurai tosca sambil membungkuk berkali-kali. Kazune menatapnya datar lalu menanggapinya dengan bergumam tak jelas sambil meraih kotak merah maroon berisi roti yang diserahkan gadis itu lalu berbalik ke arah pintu keluar.

Karin meringis melihat tatapan takut yang disorotkan oleh mata gadis itu. Ia lalu menundukkan kepalanya perlahan, "Maaf... a-aku tahu, seharusnya, seorang p-pencuri tak diperbolehkan masuk kesini..."

Gadis bersurai tosca yang mulanya menunduk itu mengangkat kepalanya lalu buru-buru menggeleng, "Ti-tidak! Tidak seperti itu sama sekali Ha-Hanazono-san! Banyak gosip buruk tentangmu diluar sana, tapi aku tahu, kau bukanlah orang yang seperti itu! Pasti kau punya alasan kenapa kau mencuri! La-lagipula, toko roti keluargaku ini terbuka untuk semua orang!"

"Aku bersumpah, a-aku tak mengam—"

"Iya! Aku tahu. Aku percaya pada Hanazono-san. Nah, cepat, pacarmu tadi sudah setengah jalan didepanmu..." dan Karin membelalak tak percaya saat ia melihat gadis bersurai tosca itu tersenyum manis padanya tapi sedetik kemudian ia berseru kaget.

"Pacar?! Pacar?! Siapa yang pacarku?! Dia... d-dia bukan pacarku!" Gadis tosca itu terkekeh-kekeh lalu mengangguk, "Begitukah? Ara, padahal kalian terlihat sangat cocok. Nah, terimakasih sudah berkunjung, datanglah kapanpun kau mau!" katanya sambil sedikit membungkukkan badannya sopan.

.

"Putri dari keluarga Yii di toko roti tadi sangat baik," gumam Karin sambil menggigit ujung roti belutnya. Ia memandang langit-langit apartemen sederhana miliknya dan bibinya. Kalau dihitung, sudah ada tiga orang yang begitu baik padanya dan sama sekali tak peduli dengan riwayatnya yang pernah mencuri. Kujyou Kazusa, walau hanya bertemu sekali, Karin yakin gadis itu sangatlah baik. Kujyou Kazune, walau sikapnya dingin dan kata-katanya agak kasar, lelaki itu memergokinya dua kali mencuri dan sama sekali tak melaporkannya. Dan yang terakhir—"Aah! Aku lupa menanyakan nama putri dari keluarga Yii tadi! Aku harus berkunjung ke toko rotinya lagi besok!"

Karin lalu mengerucutkan bibirnya dan ia mengomel tak jelas karena ia merasa dirinya begitu ceroboh. Gadis di toko roti tadi begitu baik padanya dan Karin hanya tahu marganya? Itu sangat tak sopan!

Gadis bersurai brunette itu melirik sebuah tas selempang berwarna karamel yang ia curi tempo hari lalu—hari dimana ia bertemu dengan Kazune dan Kazusa. dan karena ucapan Kazusa waktu itu, ia menjadi sedikit ragu untuk membuka tas milik seorang gadis muda yang dulu sampai mengejarnya sehingga ia harus berlari diatas atap mobil dan masuk ke mobil milik keluarga Kujyou. Memang yang ia inginkan hanya uang untuk membantu bibinya—sampai jam selarut inipun wanita itu belum pulang juga.

"Aku harus mengembalikan ini besok..." gumamnya sambil menaruh tas itu diatas meja di sudut ruangan. Tapi, sesuatu bergemerincing dari dalam tas itu sehingga ia berbalik untuk melihat apa yang terjatuh dari dalam tas itu. Sebuah kalung dengan liontin kaca sederhana di bagian ujungnya—sederhana tapi cukup indah. Karin menghela nafas menyesal. Bagaimana kalau kalung ini sangatlah penting bagi gadis yang waktu itu?

"Ini benar-benar harus kukembalikan besok pagi. Seluruhnya."

.

Seperti biasa. Jaket kelabu yang selalu ia pakai setiap musim gugur dan musim dingin setiap tahunnya, kacamata besar hitam, dan topi—untuk menyembunyikan rambut panjangnya. Karin menyusuri sisi kota sampai ia tiba di sebuah kantor polisi—tentunya ia tahu kalau saja polisi menemukan identitas aslinya, ia sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Tapi bagaimana kalau tas ini benar-benar penting bagi pemiliknya? Dan akhirnya ia beranjak dari apartemennya itu tanpa menyadari sebuah benda terpenting terjatuh diatas lantai.

.

"Aku ingin meminta anda menemukan pemilik tas ini," ucapnya pada salah satu polisi yang berjaga disana. Lelaki paruh baya itu mengamat-amatinya sampai akhirnya mengangguk.

"Dan dimana tepatnya kau menemukannya nak?" tanyanya. Karin membenahi topinya, "Di dekat stasiun—di peron kedatangan."

"Berarti kau dari daerah lain? Darimana?"

Kami-sama, tak bisakah pak tua ini berhenti menanyaiku seakan dia tahu kalau akulah yang mencuri tas ini dan berniat untuk mengembalikannya kepada pemiliknya?

"Dari Osaka."

"Benarkah? Jauh sekali! Apa yang kau lakukan di Tokyo? Ah, benar juga, ini musim liburan, benar begitu bukan nak?" tanya petugas itu. Karin hanya mengangguk dan bergumam tak jelas. "Kau baik sekali. Jarang ada orang yang masih pelajar mau bertindak jujur. Ah, tak ada yang hilang bukan?"

"Mana aku tahu, aku menemukannya sudah seperti ini." Kurasa aku akan lebih cocok menjadi seorang aktris yang bermain di berbagai film dan dorama.

"Baiklah, akan kami coba temukan pemiliknya. Terimakasih nak, belajarlah yang rajin di sekolah!" Karin mendumel tak jelas saat pria setengah baya itu tertawa-tawa sambil menepuk-nepuk bahunya cukup keras—seakan dia adalah anak sekolah dasar yang mendapat banyak petuah.

Asal dia tak mengetahui identitas asliku, maka tak begitu masalah...

.

Musim dingin memang benar-benar sudah dekat. Karin tak dapat sabar menantikan datangnya butiran kristal pertama yang jatuh dari langit. Salju memang indah, tapi dapat mematikan bila datangnya bersamaan dalam jumlah raksasa yang berton-ton beratnya. Dan kali ini, ia merasa bahwa ia harus membeli mantel baru—mantel cokelat ini tak dapat bertahan di musim dingin. Dan tetap satu yang menjadi kendala. Uang. Hanya uang.

Gadis itu—masih dengan dandanan anak lelakinya—duduk disalah satu bangku di taman kota sambil menerawang. Ia bertanya-tanya. Kalau saja kedua orang tuanya masih ada, akankah ia hidup bahagia dengan kebutuhan yang tercukupi? Ia pasti bisa sekolah seperti anak-anak lainnya, berbahagia. Bukannya mencari uang agar nyawa bibinya tak terancam macam ini. Maksudnya, ia bersyukur Kami-sama masih memberinya seorang bibi yang bersedia menampungnya. Hanya saja, sesekali, kala ia melihat beberapa orang berseragam sekolah di pagi hari, atau melihat Kazune atau Kazusa, ia ingin merasakan rasanya berada di sekolah, bertemu dengan banyak teman sepataranmu.

"Ah, kau kah Hanazono-san?" Karin mendongak dan ia tersenyum melihat sosok bersurai tosca dengan iris hazelnya yang lebih lembut dari madu menatapnya. Ia berdiri lalu mengangguk. Gadis tosca itu tersenyum lebar lalu keduanya kembali duduk bersebelahan.

"Kau darimana Yii-san?" tanya Karin.

Gadis itu terlihat sedikit mengangkat alis, "Kau tahu nama keluargaku?"

"Er, aku melihatnya di papan yang terpajang di depan toko rotimu kemarin. Ja-jangan salah sangka aku menguntitmu dan keluargamu atau apa," ucap Karin. Gadis di depannya melongo lalu kemudian tertawa cukup keras. "Benar juga! Ha! Kenapa aku bodoh sekali! Aku Miyon Yii, dari toko roti keluarga Yii, salam kenal Hanazono Karin!"

Karin mengangguk lalu menggigit bibirnya, "Apa tak masalah kau ada bersama seorang pencuri disini?"

Miyon mengerutkan dahi lalu langsung menggeleng kuat-kuat, "Siapa yang bilang aku tak boleh duduk dan mengobrol bersamamu? Kau harus cerita kenapa kau menjadi seorang pencuri Karin! Kau tahu? Hampir satu prefektur mengenalimu dan mengejarmu! Yah, mungkin kalau kau mengambil dari orang-orang kaya mereka takkan sadar, tapi tentunya ada beberapa orang yang punya masalah tersendiri dengan tindakanmu ini!"

Karin mengangguk lalu menceritakan semuanya pada Miyon. Tak sampai sepuluh menit, Miyon mengangguk-angguk paham. "Dimana bibimu bekerja?" tanyanya.

"Di sebuah warung teh. Ia sering tak pulang karena warung teh itu melayani dua puluh empat jam. Tapi tetap saja, sekeras apapun kami berusaha agar dapat melunasi hutang, yakuza-yakuza itu tetap menaikkan bunganya per bulan. Aku harus bekerja, aku tahu itu. Tapi tak ada satupun yang mau memperkerjakan anak di bawah umur," ucap Karin.

Miyon terdiam. Ia tak berkata apapun selama beberapa setik sebelum akhirnya ia menepuk tangannya sekali dengan cukup keras sehingga Karin menoleh kearahnya, "Kau bisa kerja di toko rotiku!"

Karin menganga dengan manik gioknya yang membola, "Kau... gila..."

"Mou!" Miyon berdiri lalu berkacak pinggang, "Ayolah, ini ide bagus! Keluargaku akan sangat senang mendapat karyawan baru karena memang kami kekurangan karyawan. Apalagi saat malam natal dan tahun baru nanti! Toko akan sangat ramai sehingga kami pasti butuh bantuan lebih. Ayolah Karin, kau mau kan? Gajinya per bulan akan kami bicarakan tapi aku jamin itu adalah standar—bahkan mungkin bisa lebih dari standar!"

"A-aku... aku mau..." bisik Karin, "Tapi... apa yang akan terjadi kalau orang-orang tahu identitasku? Haruskah aku tetap menyamar sebagai seorang lelaki?"

Miyon tertawa kecil lalu mengambil sesuatu dalam tas selempangnya dan menarik topi yang dipakai Karin sehingga topi itu terlepas dan surai brunette nya yang panjang tergerai bebas. Gadis itu lalu menguncir pony-tail rambut Karin ke sisi kiri dan memakaikannya sebuah kacamata bulat besar—beberapa orang memang akan terlihat aneh bila memakainya, tapi Karin terlihat dua kali lebih manis.

"Nah! Untung aku baru saja membeli semua ini! Firasatku memang tak pernah salah kalau aku memang membutuhkan berbagai aksesoris ini! Ini semua untukmu. Kujamin, takkan ada yang bisa menyadari siapa kau sebenarnya!" seru Miyon sambil menyerahkan sebuah cermin lipat, "Sesekali, tampillah lebih feminim."

Karin terperangah dan ia menatap Miyon lalu langsung menerjangnya dengan sebuah pelukan, "Terimakasih... terimakasih banyak, terimakasih banyak! Aku akan bekerja dengan baik! Aku janji! Jika sudah punya uang banyak nanti, aku akan mengganti semua ini!"

"Yare-yare! Sudahlah. Nah, nah, ayo ke toko roti dan kita utarakan ini pada orangtuaku. Lalu kita ke rumahmu dan memberitahu ini pada bibimu. Semuanya akan berjalan mudah-mudah saja!"

.

.

TSUZUKU


Author's Note:

Saya... bejat. Saya bejaaaatt! Maaf karena baru updet, fic ini pasti sudah jamuran ya(?) haish, semoga chap ini sedikit memuaskan readers, saya memang payah dalam kekonsistenan! Memang sudah dalam proses, tapi prosesnya itu lho yang gak pernah selesai karena berbagai halangan! Hari ini saya tekad merampungkan semuanya! *lumayan, malam minggu bisa untuk ngetik* #gakpunyapacar,alasannyagituajabiargakkeliatankere :p

Nah, gimana chapter ini? Untuk ke depan, plot sudah ada. Sebenarnya ada kesenjangan sosial ya di fic ini. Mencuri tapi gak ditahan. Ya gimana, saya kasian sama Karin-chan nya. Eh, eh, dulu saya punya pikiran ni fic bakal discontinued dan akan saya delete. Tapi melihat readers yang sepertinya sangat ingin tahu kelanjutannya, maka saya lanjutkan. Saya juga gak tega kalo fic ini terbengkalai begitu saja.

Dulu, saya punya rencana mau bikin mereka jadi agen mata-mata aja. Jauh lebih keren kalo kemana-mana bawa-bawa pistol gitu. Tapi temanya pasti berat dan saya gak mampu nulisnya—juga saya gak bakat dalam genre adventure, action dan adegan darah-darahan. Saya malah takut sendiri #waks.-. Saya orangnya cukup mellow, jadi maklum saja ya kalau fic-fic saya yang lain juga lebih cenderung ke tema percintaan fluff.

Pendapat taruh di kolom review ya, semua jenis diterima, tapi pelis, mohon maklumnya bahwa saya pastinya takkan bisa updet dalam waktu dekat karena awal November try out persiapan UN sudah dimulai.

Oke, bales repiu dulu. Saya akan membalas bagi readers yang gak login. Yang login, cek PM, ne? Tapi maaf lho kalo ada yamng kelewatan...

Jamilah: Maap ya gak bisa kilat, tapi tetep lanjut nih! Makasih banyak!

Dci: Sudah lanjut~!

Guest: Pastinya lanjut, saya gak tega sama fic nya sendiri *puk,puk* maaf ya gak bisa kilat, otak sama waktu gak bisa kompromi(?) Aih, makasih ya, tapi kalo soal jadi senior, saya itu masih jauh dari kata sempurna, hehe :3 ganbatte mo, arigato!

Guest: Sangat mohon maaf karena chap 2 jauh sekali intervalnya, tapi ini akan tetap dilanjutkan. Ganbatte mo!

Andien Hanazono: Haha, makasi banyak ya, maaf chap 2 baru bisa updet sekarang, saya memang payah -_- ganbatte mo!

Yu: Pasti dilanjut kok, arigato!

Dhica: Ah, makasih banyak ya. Nah, ini baru bisa updet, maaf banget lho. Arigato sudah mereview!

Nuri: Haha, iya, ini dah updet tapi maaf ya, jaraknya waktu jauh sekali... gak kok, Karin gak nyuri lagi. Nanti konfliknya berkembang. Arigato!

Alya: Mwo? Kazune nyuri apaan? Nyuri hatiku ajaaa~~ #apabanget Haha,, iya, arigatoo!

fanTAOstics: iya, ni dah dilanjut. Yakuza itu bahasa jepang untuk preman atau perampok gitu lhoo,, hehe,, arigato sudah mereview!

Niza: iya, makasi banyak ya, chap 2 done!

Sanjaya: Yap, ini dah lanjut! Semoga puas ya~!

Andien Hanazono: Iya, nih, saya tugasnya bejibun. Ngetik chap dua aja pas UTS hari terakhir lho #maksa Maaf ya, kalao terlalu lama. Tapi pasti lanjut kok! Arigato atas semangatnya!

Chap 2 done! Maafkan segala kekurangan fic maupun author, tinggalkan review di tempatnya ya(?) maaf sekali lagi bila chap 3 agak lemot, tapi pasti akan tetap lanjut. Arigato gozaimasu!

.

.

Sincerely, Haruka Hitomi 12

Sabtu, 02 Nopember 2013