Chapter dua update! Terima kasih bagi kalian yang sudah dengan sabar menantikan kelanjutan dari fic gajeku ini. Oke, waktunya membalas review yang tidak login~
::
::
puchan : ini udah lanjut, arigatou~
ms . x : ya akan kuusahakan, tapi sepertinya sulit buatku membuat bagian yang feel-nya kerasa~ Arigatou review-nya.
LavenderBlueSky : ini udah, tentu bisa dong~ nanti di tamatnya akan dijelaskan~ Arigatou sudah review~.
Sipoy : haha, ini sudah~ Arigatou~
Wirna : kalau penasaran tetap ikuti kisah ini ya~ Arigatou~
Oke, segitu saja dariku~ Yang login akan kubalas lewat PM.. Selamat membaca~
::
::
"Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aoi Kami, kenapa kamu melakukan kesalahan itu? Bagaimana bisa kau membiarkan hal itu terjadi? Padahal kamu adalah orang yang kupercaya, maafkan aku. Tapi aku harus menyegelmu"
"Tunggu! Tunggu! Aku tidak sengaja melakukannya A.."
"Hentikan! Sudah waktunya. Maafkan aku"
"Tidak! Tunggu sebentar! Ayah!"
.
.
.
"Perasaan ini. Perasaan kesepian ini. Akankah akan segera berakhir? Selama ini, aku selalu menunggumu. Datanglah kemari sekali lagi, sadarilah keberadaanku. Keluarkan aku dari sini"
•¤• Blue Devil •¤•
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
Genre: Romance, Fantasy & Friendship
Pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
Rated: Teen
::
::
"Ini dia paketnya" seru Hinata dan mengeluarkan paket tersebut dari dalam tasnya dan meletakannya di atas meja Sakura.
"Loh? Kenapa paketnya belum Hinata-chan buka?" tanya Sakura. Bisa-bisanya paket yang membuat dirinya penasaran dan sudah pasti Hinata lebih penasaran dari pada Sakura belum dibuka.
"Hehe, kemarin rasanya aku sibuk sekali sehingga tidak memiliki waktu untuk membuka paket itu" Hinata duduk di bangku di depan Sakura. Sebelum itu ia sudah meletakan tasnya di kursi miliknya yang sebenarnya.
"Hoo begitu. Kalau begitu boleh dong Hinata-chan buka?" seru Sakura lagi mengusulkan. Hinata menatap Sakura, lalu ia mengangguk. Tangannya ia dekatkan pada paket tersebut dan dengan perlahan membuka pembungkus coklat itu supaya tidak rusak.
Akhirnya pembungkus coklat itu telah sepenuhnya terbuka, tak disangka ternyata masih ada kotak lagi di dalamnya. Hinata lalu membuka kotak tersebut dan mengintip ke dalamnya. Lalu di menarik keluar plastik yang ada didalamnya dan setelah sepenuhnya terlihat, senyum mengembang di wajah putih Hinata.
"Wah! Hinata-chan! Tak menyangka aku ternyata dirimu adalah orang yang beruntung dari sekian banyak orang itu!" Sakura memukul mejanya. Tanpa ia sadari ia sudah bangkit dari persinggahannya.
"Aku beruntung" Hinata masih tidak mempercayai hal itu. Ini sungguh hal yang luar biasa menyenangkan bagi Hinata. Sebuah kalung yang sangat indah, bersinar jika mengenai pantulan cahaya matahari.
"Mau kubantu memakainya?" tanya Sakura lagi dan diberi anggukan oleh Hinata. Hinata mengeluarkan kalung tersebut dari dalam plastik dan menyerahkannya kepada Sakura. Lalu Hinata berbalik supaya Sakura mudah memakaikannya.
Sakura pun melakukan ritual seperti seorang pria memakaikan kalung kepada gadis yang dicintainya. Tapi sekian lama Hinata menunggu, kenapa kalung tersebut tidak nampak di depan wajahnya? Hinata pun berbalik melihat apa yang sedang Sakura lakukan dengan kalungnya.
Hinata melihat, tampaknya Sakura sedang kebingungan. Oleh sebab itu Hinata menanyakan ada apa. "Ehehe, aku tidak tau cara memakaikannya padamu Hinata-chan" dengan tawa pelan Sakura kembali menyerahkan kalung tersebut kepada pemiliknya.
Ada rasa kecewa dalam diri Hinata, Hinata melihat-lihat kalung tersebut. Jujur saja, sebelumnya Hinata tidak pernah menggunakan aksesoris sehingga dia tidak tau cara menggunakannya. Akhirnya Hinata memutuskannya untuk menyimpannya kembali ke dalam tasnya, untuk kapan-kapan ia tanyakan kepada kakak sepupunya atau ayahnya barang kali mereka tahu cara memakainya.
"Terima kasih atas bantuannya Sakura-chan, sebenarnya aku juga tidak tahu cara menggunakannya sih" Hinata tersenyum polos.
"Kita ini memang mirip Hinata-chan!" Sakura ikut tersenyum bersama dengan Hinata. Mata Sakura menatap ke langit, ia menyadari sesuatu. Mungkin hari ini akan ada hujan besar.
"Nee, Hinata-chan. Langit mendung. Apa kamu bawa payung?" tanya Sakura kepada Hinata yang menatap ke arah jendela.
"Hm.. Dapat dikatakan aku lupa membawanya" tidak biasanya bagi seorang Hinata tidak membawa benda yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga kalau saja hujan akan turun.
"Bagaimana dong Hinata-chan? Nanti kita pulangnya bagaimana?" Sakura masih saja terus menatap ke arah luar.
"Mungkin kita akan menunggu sampai hujannya reda" benar-benar tipikal Hinata sekali menjawab sesuai dengan yang ada di pikirannya.
"Nee Sakura-chan, dari pada membicarakan hujan yang belum tentu terjadi. Bagaimana dengan keadaan sweater-mu?" Hinata menatap Sakura, Hinata yakin Sakura sudah merelakan benda tersebut.
"Ah~ Biarkan saja, Huatchi" udara di luar sekolah yang mendung dengan jendela kelas yang terbuka tentu membuat Sakura merasakan kedinginan. Apalagi dengan cuaca yang tidak mendukung seperti itu.
"Sakura-chan, kenapa tidak memakai sweater yang lain?" Hinata kembali bertanya.
"Aku belum ada waktu untuk membelinya, dan aku sudah terlanjur suka dengan sweater itu" Sakura hanya bisa tertawa renyah mengingat saat-saat ia menyerahkan sweater-nya tersebut.
"Haa begitukah.. Tapi kan.."
"Kyaa! Lihat itu!" mendengar kegaduhan yang tiba-tiba melanda kelas mereka, Hinata menghentikan percakapan mereka.
Hinata dan Sakura melihat ke arah para siswi lain yang berkumpul di satu tempat seperti segerombolan burung yang berebut mengambil makanannya. Hinata dan Sakura menatap satu sama lain, tanpa memperdulikan itu mereka kembali berbincang.
"Kyaa! Sasuke-kun!" Sakura langsung tersentak mendengar nama tersebut diucapkan. Ia langsung keringat dingin. Jangan-jangan dia sedang mencari pemilik sweater tersebut. Bisa saja dia marah karena dengan seenaknya ia meletakan benda itu di atas tubuhnya. Atau dia akan balas dendam karena tidak membangunkannya saat ia sedang tertidur diatap.
"Tenang Sakura-chan" mendengar Hinata membisikkan itu, Sakura mencoba untuk merelaksasikan dirinya. Jangan tegang, jangan tegang, tetap tenang Sakura. Sakura sedikit mengintip ke arah ambang pintu memastikan bahwa orang tersebut benar-benar Sasuke.
Ntah yakin atau tidak, tapi Sakura merasakan sepertinya pria beririskan onix tersebut tengah menatapnya. Tidak mau ambil pusing Sakura langsung menatap ke arah lain.
"Kyaa! Sasuke-kun! Sedang mencari apa disini?" salah satu gadis berambut merah menggunakan kacamata dengan semangatnya mendekati Sasuke.
"Berisik!" gadis itu langsung sweatdrop, ia langsung pundung dipojokan dan dengan tidak etisnya ia memainnkan jari terlunjuknya di lantai.
Mata Sasuke terus menatap ke arah orang yang ia cari, tak mau ambil lama ia langsung memanggil orang tersebut. "Hei kamu gadis berambut pink, kemari!" seru Sasuke, matanya tetap tertuju pada wajah gadis yang ia maksud.
"A.. Aku? Kyaa Sasuke-kun! Tak kusangka kau mencariku!" Sasuke kini yang menjadi sweatdrop, bukan gadis dengan rambut panjang itu! Tapi gadis berambut sebahu dengan warna seperti permen karet dan mata indah seperti emerald! Kenapa yang datang gadis berambut pink sepinggang dengan bibir tebal? Sasuke shock.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran, kenapa perempuan-perempuan itu begitu berisik sih? "Bukan kau, tapi gadis yang berada di dekat jendela itu" Sasuke menunjuk Sakura, gadis yang sedari tadi berusaha menganggap bahwa orang yang dikaguminya tidak ada itu kini menengok.
"A.. Aku?" Sakura menengok menunjuk dirinya dan membalas perkataan Sasuke dengan gagap. Sakura merasa ia akan mati di tempat kalau sampai ia dimarahi oleh Sasuke.
"Iya, kemari!" kini Sakura benar-benar bingung. Ia menatap Hinata, Hinata juga sama bingungnya dengan dirinya.
"Bagaimana ini?" Sakura bertanya pada Hinata, ia sungguh benar-benar takut. Orang yang selalu ia pandangi dari jauh itu kini untuk yang kedua kalinya akan bisa berada di dekatnya.
"Tidak apa" Hinata meyakinkan Sakura, semuanya pasti akan baik-baik saja. Sakura mengangguk, ia dengan perlahan, sangat perlahan mulai berjalan mendekati Sasuke. Seperti seekor siput atau kura-kura saja.
"Terlalu lama" Sasuke berjalan menuju Sakura dan langsung memegang tangan Sakura dan langsung menariknya pergi.
"Kira-kira ada apa ya?" Hinata berbatin dalam dirinya.
::
::
Sasuke membawa Sakura ke tempat yang ia yakin tidak akan suara ribut di sana-sini. Tentu saja tidak jauh dari kelas Sakura, tetapi tempat yang tenang untuk mengatakan sesuatu.
"A.. Ada apa sebenarnya ini Sa.. Sasuke-san?" kegugupan Sakura kembali menjadi-jadi di kala Sasuke membawanya ke tempat yang sepi seperti itu.
"Ada yang mau kukatakan padamu" dengan wajah datarnya, Sasuke mengambil sesuatu dari balik jas seragamnya. Hingga akhirnya benda tersebut telah keluar dari jas seragamnya.
"I.. Itu.. Swea.."
"Hei kalian! Waktu istirahat sudah selesai! Dan kau siswa disana! Kenapa kau ada disini? Ini sekolah bagian timur! Tidak ada siswa yang boleh kesini!" ternyata mereka ketahuan! Salah seoarang dokter UKS sekolah mereka melihat mereka berdua. Dengan kesal guru yang baru saja pergi ke toilet itu berjalan menuju Sasuke dan Sakura.
"Cih! Mengganggu saja!" Sasuke kembali memegang tangan Sakura dan menariknya kembali pergi ke tempat lain.
"APA YANG KAU KATAKAN? HEI! JANGAN KABUR!"
::
::
"Kalau disini pasti aman" Sasuke menutup pintu ruangan tersebut. Ruangan yang memiliki dinding-dinding seperti langit. Ya, kini Sasuke sudah membawa Sakura menuju atap sekolah.
"Ano.. Sasuke-san" Sakura kembali gugup.
"Ah iya, benar" Sasuke kini berwaja datar lagi, wajah datarnya itulah yang menunjukkan sifat cool-nya. Itu yang membuat banyak gadis menyukai pemuda berambut raven tersebut.
"Swe.. Sweater-ku"
"Ini, kukembalikan" seru Sasuke datar dan menjulurkan tangannya ke arah Sakura. Sakura melihat sweater-nya dan mengambilnya dari tangan pemuda itu.
"Ke.. Kenapa Sasuke-san bisa tahu kalau ini milikku?" rasa penasaran menjelajar di benak Sakura. Ia sedikit berharap, ia banyak berharap! Ia sangat berharap! Sasuke juga memperhatikan dirinya sama seperti dirinya memperhatikan Sasuke.
"Dari warnanya saja aku juga tahu siapa pemiliknya" ah benar, Sakura jadi sedih. Benar juga, sweater yang ia kenakan warnanya sama persis dengan warna rambutnya. Kalau diperhatikan, siswi-siswi yang memiliki sweater warna itu tidak ada yang lain selain Sakura.
"Terima kasih" Sakura menunduk, ia langsung berjalan menuju pintu keluar dari atap tersebut. Sasuke memperhatikan hal itu.
"Mau kemana?" tanya pemuda tersebut.
"Mau kembali ke kelas" kata Sakura lirih. Dilihatnya Sasuke, Sasuke yang selalu dikaguminya kini berada dekat dengannya, disampingnya. Ingin rasanya Sakura melompat kearahnya dan memberikan pelukan sekencang-kencangnya yang membuat tulangnya remuk.
"Tidak boleh"
"Eh?"
"Karena aku sudah berbaik hati padamu mengembalikan benda itu, kamu harus menemaniku disini"
::
::
Benar seperti apa yang dikatakan Sakura, tepat saat mereka pulang sekolah, hujan turun dengan derasnya. Di dalam bagian paling depan sekolah, sebelum mereka keluar dari tempat itu, mereka berdua sama-sama menatap ratusan butiran air yang turun dengan derasnya.
Menunggu hujan berhenti sepertinya percuma saja. Mereka merasa sampai langit menggelap, hujan tersebut tidak akan mereda. Mereka menatap ke arah langit, sulit untuk melihat awan dengan air yang begitu banyak.
"Kira-kira kapan hujan berhenti ya" seru Sakura, ia sudah terlihat begitu bosan. Sudah setengah jam mereka menunggu disana. Tidak ada yang dapat dilakukan kecuali menunggu di tempat itu. Sekolah sudah mulai sepi karena sudah banyak yang pulang. Beruntung sekali mereka yang membawa payung di saat seperti ini.
Dewi Fortuna sepertinya tidak memihak pada mereka hari ini. Hinata menghela nafas, hujan-hujan begitu udaranya jadi terasa dingin. Memikirkan tentang hal itu, Hinata jadi teringat sesuatu.
"Oh ya, Sakura-chan"
"Iya?"
"Maukah kamu menceritakan kejadian saat kamu bersama dengan Sasuke?" Hinata penasaran, setelah kejadian Sakura ditarik paksa oleh Sasuke. Sakura tidak kembali lagi ke kelas sampai jam pelajaran sudah berakhir.
"Eh?" Hinata melihat wajah Sakura sedikit memerah, sepertinya telah terjadi sesuatu yang membuat Sakura seperti itu.
"Jadi.. Ada apa?" tanya Hinata lagi.
"Sebenarnya.. Saat aku berkata pada Sasuke kalau aku ingin kembali ke kelas. Dia menahanku, katanya, temani aku disini" Sakura malu-malu menceritakannya.
"Jadi sweater-nya sudah dikembalikan ya? Tak kusangka orang seperti Sasuke mau melakukan hal itu" seru Hinata dan kembali menatap ke arah langit.
"Hehe, aku pun tidak menyangkanya" Sakura tertawa, dan ikut menatap arah pandangan Hinata.
"Lihat Sakura, hujannya sudah mereda. Ayo kita segera pulang" seru Hinata dan menarik tangan Sakura pergi menjauhi sekolah mereka.
::
::
"Baru juga beberapa meter dari sekolah, tapi hujan sudah kembali deras" Sakura merasa kesal, hujan itu mau menjahili mereka berdua apa? Sehingga membiarkan mereka berdua pulang telat seperti itu. Menyebalkan.
"Sabar Sakura-chan, nanti juga pasti mengecil lagi kok" mereka berdua kini tengah berada di sebuah toko buku. Dari pada bosan menunggu di luar, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam dulu.
Mereka menuju ke bagian yang menjual majalah-majalah. Selagi menunggu hujan, mereka habiskan waktu membaca buku. Hinata melihat majalah yang Sakura perlihatkan padanya beberapa hari lalu. Sedangkan Sakura sedang berada di tempat yang lumayan jauh dari tempat Hinata berada sambil melihat-lihat buku.
"Buku apa yang menarik ya?" Sakura memperhatikan buku tanpa memperhatikan sekelilingnya. Berjalan ke samping seperti kepiting, tetap fokus melihat tumpukan buku.
"Hm~" Sakura bergumam.
Bruk
Sakura menghantam seseorang, ia pun langsung meminta maaf tanpa melihat terlebih dahulu seperti apa orang yang telah ia tabrak tersebut.
"Sedang apa kamu disini?" suara itu, ia mengenal suara itu. Suara berat namun terdengar seksi(?) itu, tentu saja semua orang juga mengenalnya.
Sakura mengangkat kepalanya perlahan, "Sasuke-san" ucap Sakura. Ia masih terbengong. Kenapa seorang Sasuke bisa berada di suatu tempat yang sama dengannya? Ah benar, Sakura teringat. Seorang Sasuke, murid tercerdas di sekolahnya. Pasti dia sedang mencari buku pelajaran untuk ia pelajari.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku" tampang datarnya tetap merajalela di wajahnya. Seperti tidak memiliki ekspresi lain selain ekspresi yang satu itu. Atau mungkin Sasuke sangat menyukai ekspresi seperti itu sehingga selalu ia gunakan di wajahnya.
"Me.. Menunggu hujan berhenti" jawab Sakura gagap. "La.. Lalu. Sasuke-san sendiri?" lanjut Sakura kembali memberikan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan Sasuke sebelumnya.
"Baca manga" Sasuke menunjukkan sebuah manga yang berjudul Narto(?) pada Sakura. Sakura mengangguk, ada rasa tidak percaya juga bahwa Sasuke akan membaca itu. Padahal banyak orang berkata, orang yang nonton anime dan membaca manga adalah anak kecil.
"Anime dan manga bukan untuk anak kecil" seperti mengetahui apa yang ada dipikiran Sakura, Sasuke berkata seperti itu.
"Eh?"
"Jangan kamu kira animanga hanya diperuntukan anak kecil, karena ada animanga yang hanya boleh dibaca oleh orang yang cukup umur" tidak biasanya Sasuke berbicara panjang seperti itu.
"Sa.. Sasuke-san seorang otaku?" tanya Sakura, Sakura memiringkan kepalanya menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh seorang Uchiha.
"Bukan" jawab Sasuke singkat.
"Lalu?"
"Aku tidak membencinya makanya aku baca" Sakura mengangguk, kini ia mengerti. Benar saja, memang bukan untuk anak kecil sih. Habisnya dengan tidak sengaja saat ia terbangun malam hari dan menyalakan tv, ia melihat anime yang diperuntukkan untuk orang dewasa.
Saat itu Sakura benar-benar syok dan langsung mematikan tv-nya. "Lalu, apa Sasuke-san mengoleksi kaset manga atau cartoonitu?" Sakura kembali bertanya.
"Jangan samakan anime dan cartoon, mereka itu beda jauh" setelah itu Sasuke telah menghilang dari pandangan Sakura. Sakura tidak berani mengikutinya, akhirnya ia kembali berjalan menuju tempat Hinata berada.
"Hinata-chan!" Sakura berteriak dengan suara yang lumayan keras.
"Nona disana! Harap tidak ribut!" seorang petugas buku tersebut menunjukkan sebuah kertas peraturan yang ditempelkan di dinding.
"Maafkan aku" ucap Sakura dan dia kini sudah berada di samping Hinata. Hinata menengok, ia menutup majalah yang sedang ia baca dan meletakan ke tempatnya semula.
"Ada apa?" tanya Hinata.
"Tadi.. Tadi disini ada Sasuke!" Sakura menjerit pelan, kini Hinata tahu apa yang menyebabkan sifat Sakura seperti itu.
"Lalu.. Kemana dia?" tanya Hinata untuk yang kedua kalinya.
"Mungkin dia sudah pulang, karena setelah selesai berbicara dengannya dia langsung menghilang" ucap Sakura.
"Begitu ya" Hinata menatap ke luar jendela. "Sepertinya sudah mulai mereda, kita keluar sekarang yuk. Nanti keburu membesar lagi" Hinata mengajak Sakura, Sakura mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu nona yang ada disana" merasa mereka yang dipanggil, akhirnya mereka berdua menengok bersamaan.
"Ada apa?" Sakura berjalan menuju tempat pembayaran di toko itu. Hinata mengekor dari belakang, mengikuti arah Sakura melangkah.
"Ini, tadi ada yang menyuruh saya menyerahkan payung ini kepada nona" petugas tersebut pun memberikan sebuah payung berwarna hitam kelam, seperti warna langit malam yang tidak diterangi oleh bulan maupun bintang-bintang.
"Payung? Siapa kira-kira yang memberikannya?" Sakura bertanya, Hinata menatap Sakura dan petugas tersebut. Hanya itu yang dapat kini dilakukan olehnya. Habisnya, Hinata tidak tahu harus berkata apa sih. Makanya dia putuskan untuk diam saja, tidak mau mengganggu atau menyela di saat orang sedang berbincang.
"Hm.. Tadi dia bilang tidak usah memberitahukan siapa dirinya. Tapi kalau ciri-cirinya tak masalah kan? Toh payung itu juga pasti harus dikembalikan kepada pemilik yang sesungguhnya" petugas itu melanggar perkataan dari tuan atau nyonya payung tersebut. Lagi pula orang tersebut tidak berkata kalau dia tidak boleh mengatakan ciri-cirinya kan?
"Iya, tolong beritahu saya apa ciri-cirinya" seru Sakura lagi.
"Hm.. Coba kuingat-ingat dulu. Kalau tidak salah, seragam kalian hampir sama. Hanya saja dia laki-laki" jelas pertugas tersebut.
"Begitu, jadi aku dapat mengembalikan payung ini besok. Tapi itu tidak dapat membuatku tahu siapa pemiliknya" Sakura berkata seperti itu supaya pertugas itu mau memberitahukan ciri-ciri yang lebih dapat mengenali siapa empunya payung yang kini berada di tangannya.
"Bermata onix.." Hinata memiringkan kepalanya. "Berambut raven.." Sakura membelalakan matanya. "..Dan kalau tidak salah kuperhatikan, bentuk rambutnya seperti pantat ayam" tuntas sudah penjelasan dari petugas itu.
"Sasuke-san" batin Sakura dalam hati, kini ia tahu siapa pemiliknya. Ia tersenyum, lalu bersiap keluar. "Terima kasih" serunya dan menarik tangan Hinata keluar dari toko tersebut.
"Tunggu!" ucap petugas itu menahan kepergian Sakura dan Hinata. Mereka pun berhenti dan kembali melihat petugas tersebut.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Mau permen?"
"Tidak" jawab Sakura.
"Nona yang disebelahnya bagaimana?"
"Tidak, terima kasih" dan akhirnya mereka berdua keluar dari toko tersebut. Mereka menggunakan payung tersebut.
"Ternyata Sasuke itu baik ya Sakura-chan?" Hinata bertanya pada Sakura, sebenarnya Hinata tidak yakin kalau Sasuke type orang yang mau melakukan hal seperti itu.
"Sasuke memang baik, sangat baik" Sakura tersenyum. Mereka terus berjalan, kini hari sudah menggelap. Matahari senja sudah tidak menemani mereka berdua. Lampu-lampu jalan yang hanya dinyalakan malam hari kini tengah nyala benderang.
Hinata menatap jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam. Pantas saja langit-langit sudah menjadi gelap seperti warna payung Sasuke.
"Jam berapa Hinata-chan?" tanya Sakura, ia melihat Hinata melihat jam tangannya oleh sebab itu ia bertanya. Sudah kelupaan payung, ia juga lupa menggunakan jam tangannya. Bisa saja ia melihat jam pada handphone-nya, tapi sulit dengan satu tangan memegang payung dan satu lagi menggenggam tas.
"Setengah tujuh" jawab Hinata singkat.
"Pantas saja sudah gelap begini" seru Sakura, ia menatap langit.
"Lalu Sakura-chan, kapan kamu akan mengembalikan payung ini kepada pemiliknya" tanya Hinata. Hujan masih mengguyur kota Konoha walaupun tidak terlalu deras. Tapi tetap saja jika berdiri satu menit ditengah guyuran air tersebut tanpa menggunakan apapun dapat membuat mereka basah kuyup.
"Hm.. Aku juga bingung. Aku belum berani mengembalikannya. Kalau tidak lusa, mungkin minggu depan" keputusan yang salah! Itu sih terlalu lama!
"Tapi, apa itu tidak terlalu lama?" tanya Hinata.
"Aku sih berpikirnya begitu. Hehe" Sakura tertawa.
"Ini sebuah kemajuan pesat Sakura-chan, dulu kan kau hanya bisa melihanya dari jauh. Tapi sekarang sudah bisa berada sedekat itu dengannya. Pasti Sakura-chan senang kan?" Hinata tersenyum, Sakura ikut tersenyum.
Mereka terus berjalan menyusuri jalan menuju rumah mereka masing-masing. Sambil berbincang-bincang mengenai kehidupan mereka sehari-hari, hal yang disukai dan tidak disukai, apakah Hinata sudah memiliki orang yang disukainya atau belum. Pertanyaan itu sukses membuat wajah Hinata memerah, tapi Hinata belum menemukan orang tersebut.
"Lalu Sakura-chan, sepertinya rasa kagummu berubah menjadi rasa cinta"
"Eh?" Sakura terkejut. Ia sempat melompat ke samping. Tapi ia segera berbalik ke arah Hinata karena ia tidak ingin temannya itu kebasahan karena perbuatannya.
"Iya, Sakura-chan selalu berkata bahwa Sakura-chan mengaguminya. Tapi menurutku Sakura-chan sudah tidak mengaguminya lagi, melainkan mencintainya" Hinata kembali mengulangi kalimatnya.
"Cinta ya.." Sakura sedikit menunduk. Lalu ia angkat kepalanya lagi. "Sepertinya memang benar" Sakura tersenyum lebar, walaupun tidak selebar senyum lima jari.
Akhirnya mereka sampai di perempatan tersebut, sebuah toko barang antik terletak disana tentunya. Mereka terus berjalan, saat berbelok.
"Panggillah namaku, jangan membuat aku menunggu lebih lama lagi"
Hinata berhenti, melihat temannya yang berhenti Sakura pun ikut berhenti. "Ada apa? Kenapa berhenti lagi?" memang benar, sudah dua kali Hinata seperti itu. Berhenti si perempatan jalan tersebut.
"Aku merasa...
.
.
.
Seperti ada yang berbicara denganku. Seolah ia mengatakan panggil namaku" Hinata terdiam, ia gugup. Sudah dua kali ia mendengar suara itu, tapi saat ia berbalik menengok ke belakang tidak ada seorangpun disana.
"Heh? Apa.. Apa.. Jangan-jangan. Itu... Hantu?"
To Be Continue
(Ch. 2 end)
Selesai! Akhirnya bisa update juga, arigatou atas partisipasinya membaca fanfic-ku. Oh ya, apa kalian ingat dengan perkataanku yang berkata bahwa Naruto akan muncul pada chapter ini? Gomen, karena aku tidak dapat menepati kata-kataku sendiri.
Soal Sasuke yang suka animanga, tentu tidak masalah bagi kalian kan? Arigatou. Lalu soal manga yang dibaca Sasuke, jangan tanyakan kenapa aku memberi judul manga itu seperti itu ya~ Karena aku bingung mau menulis manga yang berjudul apa. Kalau kutulis judul manga-nya Naruto, nanti malah jadi kaya Naruto dalam cerita ini lagi. Hehe~
Beberapa chapter ini mungkin memang lebih terlihat pair SasuSaku, tapi kalau Naruto udah muncul, NaruHina pasti akan sangat banyak. Lalu dewa-dewi yang akan kupakai dalam cerita ini adalah dewa-dewi dalam Mitologi Yunani, bukan Romawi ataupun sejenisnya~ Oke, cukup sekian dariku. Sampai jumpa lagi~
Spesial Thanks To:
- huddexxx69
- Akira no Rinnegan
- uzugakure no satoy
- puchan
- ms . x
- aftu-kun
- Yukori Kazaqi
- kirei-neko
- LavenderBlueSky
- Sipoy
- Yui Kazu
- Hikaru-Ryuu Hitachiin
- Wirna
::
::
V
