I Have A Dream © Kim Minra
I just use the name of Super Junior members into my story's character. It's just a fiction, so, it is not a fact. Understand?
Yes
And if you finding some typo, understand the situation, please. And I hope, you would give me some comment about the typo's.
And let me show the story.
.
.
.
Enjoy it
.
.
.
Jika papan nama itu tak ada di kemeja bagian dadanya, maka ia menggenggamnya erat. Sangat erat bahkan kebal dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk telapak tangannya oleh sudut-sudut benda padat itu. Menggenggamnya sarat akan rasa murka, kebencian yang yang amat sangat. Tapi, entahlah.
Aktivitas yang tak asing ini mungkin sudah mampu menjawab semuanya. Lagi-lagi ia berjalan menuju suatu tempat di sekolah itu. Tempat yang akan terkuak sendiri nantinya. Namun, yang membuat penasaran adalah apa yang membuatnya seperti ini? Kegiatannya ini sama sekali tak absen dari bangun-tidurnya. Hanya langit malam yang tahu. Hanya lampu di sudut ruangan yang tahu. Hanya Tuhan yang tahu.
Krieeeett
Begitu keras terdengar decitan pintu itu. Keras karena keheningan yang tercipta dan tak ada yang bisa mengusiknya. Serangga malam pun bisa dihitung jari. Dan jari-jari lentiknya yang tertutup kain itu melepaskan gagang pintu berwarna emas di hadapannya. Ia lalu berjalan pelan masuk ke dalamnya.
Tatapan tajam tak lepas dari rautnya. Lalu, ia menduduki kursi mewah yang di hadapannya sebuah meja yang penuh dengan kertas-kertas tersusun rapi. Masih menggunakan kain itu untuk menyentuh barang-barang yang diinginkannya. Mengambil sebuah pulpen lalu menorehkannya di atas salah satu kertas tak bersalah.
Dengan tinta hitam itu ia menulis beberapa kata yang dirangkai menjadi satu kalimat. Tak ingin meninggalkan jejak, ia masih memakai kain itu untuk menyentuh suatu benda. Kemudian pergi dengan santainya, bibirnya terangkat naik menyunggingkan seringai yang tak diketahui apa artinya.
.
.
.
Gadis itu tersenyum seperti tak ada yang terjadi sebelumnya. Ia menyapa teman-teman yang lalu-lalang di sekitarnya. Menebarkan senyum ceria dari wajahnya yang merah merona. Sungguh manis. Namun, manis senyumnya tak semanis hatinya saat ini. Masih ada sisa-sisa goresan luka di hatinya. Dan ia sangat pandai menyembuhkan luka-luka itu entah dengan cara apa.
Kaki-kaki jenjangnya mulai melangkah pelan menuju pemuda yang tak asing―Kim Jong Woon. Menatapnya sangat lembut, memperhatikan setiap inci yang ada pada tubuh pemuda itu―yang sedang menggores pensil di atas sebuah buku tebal.
"Aa, ehem, Jong Woon-ssi, kau sudah sarapan pagi ini?" tanyanya saat ia tepat berada di samping pemuda itu.
Ia tidak menjawab, hanya menutup buku yang entah apa di dalamnya. Dan kemudian menatap tajam Kim Ryeowook. Ryeowook hanya bisa bersikap biasa―meskipun sekuat tenaga ia menahan rasa ketakutannya mengingat kejadian yang belum lama ini.
"…"
"Kau selalu saja menggangguku." gumam Jong Woon. Nadanya begitu dingin. Ia mengalihkan pandangannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.
Ryeowook memperbaiki letak rambutnya, seragamnya dan kemudian tersenyum manis. Saat itu Jong Woon memalingkan wajahnya dan langsung menangkap senyum manis Ryeowook.
"…makan bersamaku?" tawar Ryeowook masih dengan senyum manisnya.
"Apa yang kau lakukan?" tiba-tiba saja Jong Woon beranjak dari duduknya. "Kau membuatku ingin muntah, jangan halangi jalanku." Sedikit mendorong lengan Ryeowook, Jong Woon memasukkan kedua tangan di saku celananya lalu keluar dari kelas itu.
"Ish, dia belum berubah. Setidaknya dia menyentuhku, hahaha."
.
.
.
Terlihat semua murid berkumpul di depan ruang kepala sekolah. Ryeowook yang melihatnya langsung saja ikut dalam kumpulan orang-orang itu. Berusaha mengetahui apa yang terjadi. Ia melompat-lompat kecil untuk melihat kejadian di dalam ruang kepala sekolah. Tapi nihil. Ia terlalu pendek untuk bisa melihat di atas orang tinggi yang berdiri di depannya.
Ia menghela nafas lalu pergi dari tempat itu. Namun, salah satu murid keluar dari kerumunan, langsung saja ia menghampiri gadis yang bergigi kelinci―yang diketahui adalah sahabatnya.
"Sungmin-ah? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah sumringah.
Gadis yang bernama Sungmin itu menstabilkan nafasnya lalu mencoba untuk berbicara. "Ehem, tadi salah satu guru masuk ke ruang kepala sekolah, tapi yang ia temukan adalah kepala sekolah tergeletak pingsan di dekat kursinya. Dan setelah mencari tahu, ada sebuah kertas di atas mejanya."
"Hm, kertas?"
"Ya, di situ tertulis seperti ini 'kau jangan terlalu santai, aku melihatmu di manapun kau berada'," ia menghirup nafas sejenak. "tapi, aku tidak tahu maksud dari tulisan itu."
Ryeowook mengangguk-anggunggkan kepalanya. "Lalu, kenapa kepala sekolah pingsan?"
"Nah itu dia, kau tahu bukan kalau ruang kepala sekolah itu selalu terkunci rapat, sedangkan pelakunya masuk tanpa meninggalkan jejak apapun."
Mendengarnya, Ryowook termenung. "Kalau begitu, aku ke kelas dulu. Terima kasih Sungmin-ah." ucapnya sambil membungkukkan badan. Sungmin pun begitu.
Setelah ia pergi meninggalkan Sungmin, ia berjalan lambat karena memikirkan kejadian tadi. Entahlah, kepala sekolah yang baru saja diresmikan satu bulan lalu itu terlalu cepat menggemparkan sekolah. Padahal, kepala sekolah sebelum ini tidak pernah mendapat masalah. Tapi, ia menghilang dan kemudian diganti dengan kepala sekolah ini.
"Hm…" Ryeowook mengangkat bahunya, serta melanjutkan langkahnya ke kelas. Koridor begitu sepi karena semua murid berkumpul di sana.
Tiba-tiba saja, ia mendengar keributan yang tidak jauh dari toilet. Ia pun berlari menuju toilet, tepatnya toilet pria. Saat ia sampai di depan pintu toilet, keributan itu mereda. Suara pemuda yang tidak dikenalnya terdengar mengomelkan sesuatu. Ia menempelkan daun telinganya di pintu itu.
Ceklek
Ia terkaget, seorang pemuda langsung saja membuka pintu itu. Ia hanya bisa menatap pemuda yang tidak dikenalnya sedang terengah-engah.
"A-apa yang terjadi?" tanyanya. "Wajahmu…" ia baru sadar kalau wajah pemuda itu lebam di sana sini.
"…" pemuda itu berlalu. Tidak menghiraukan pertanyaan Ryeowook. Namun, Ryeowook mengangkat bahunya. Tapi, belum selesai sampai disini. Ia kembali menempelkan daun telinganya di pintu itu. Sangat penasaran dengan sesuatu di dalam toilet pria itu.
Ia mendengar rintik-rintik air. Namun sekejap air itu berhenti. Ia memicingkan matanya. Semakin bersandar di daun pintu yang berwarna biru itu. Lalu mendengar langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. Semakin mendekat.
"Sedang apa di luar sana, penganggu?"
Deg
"…"
Suara yang tak asing itu terdengar menyahutinya. Dengan pergerakan lambat ia menjauh dari pintu itu. Entahlah, kali ini ia sangat takut. Kenapa Jong Woon bisa mengetahui keberadaannya di luar toilet?
"Berhenti di situ."
Ryeowook menelan ludahnya, kakinya pun sangat berat melangkah. Namun, bukankah ia sudah biasa di bentak oleh Jong Woon? Kenapa kali ini ia takut? Seharusnya, ia bersikap biasa saja. Perlahan peluhnya mulai turun di pelipisnya.
Ceklek
Semakin menundukkan kepalanya. Tak mampu menatap Jong Woon yang berada di depan pintu toilet itu. Ia meremas roknya karena gugup.
"Kenapa kau di situ?" nadanya yang dingin membuat Ryeowook semakin bergidik. Ia pun mengangkat kepalanya, mencoba menatap Jong Woon yang tengah memasang tampang jaim di sana. Tak lupa pula sebuah buku tebal yang berada di tangannya.
"A-aku…"
"…"
Ryeowook menghela nafas, mengembalikkan seluruh kekuatannya. Dan saat ini ia sudah memasang tampang biasa saja. Ia pun menatap Jong Woon dan kemudian tersenyum manis.
"Apa aku mengejutkanmu?" tanya Ryeowook.
Jong Woon membuang muka, tanpa basa-basi ia pergi meninggalkan Ryeowook.
"Tunggu aku!" ia kembali berjalan di belakang Jong Woon. Mengikutinya dan bersiap mengocehkan sesuatu. "Kupikir, tadi kau menyuruhku untuk menunggumu di depan toilet, bukan begitu?"
Jong Woon memutar bola mata bosan. Kenapa ini harus terjadi? Pikirnya.
"Aa, baiklah. Tadi malam aku mendengar langkah kaki di koridor. Saat itu, aku sedang menulis di perpustakaan. Namun, saat aku keluar, langkah kaki itu sudah hilang. Apa kau tahu siapa orang itu?" tanya Ryeowook.
"…" Jong Woon mengkerutkan keningnya. "Siapa yang mau mendengar cerita bodoh itu."
"Baiklah… tadi malam kau melakukan apa saja? Dengan siapa? Tidur jam berapa―"
Dug
"Akh―"
"Kau pikir aku suamimu? Jangan mengikutiku lagi."
Ryeowook memegang kepalanya yang menabrak punggung Jong Woon saat berhenti mendadak. Dan saat ia menengadah, Jong Woon sudah berjalan jauh di depan sana.
"Langkah kaki yang kudengar itu sangat mirip saat aku mendengar langkah kaki di toilet tadi. Ah, aku harap, ini hanya kesalahanku."
.
.
.
"Aku harus berhati-hati."
.
.
.
TBC
Thanks to you all for read and review my fanfcition. I know you waiting so long for this fiction. And because that, I am so sorry. Would you like to give me review again? Thanks.
