Life Story

By

Han

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other..

Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Family.

Genderswitch/GS!

.

.

Chapter 1 : Friend?

.

.

Sudah lebih dari 10 menit Kyungsoo merasakan punggungnya panas. Ia tidak suka berada di pusat perhatian. Apalagi saat dimana ia bersama dengan seorang pria. Ya, Kyungsoo tadi berniat mengantarkan payung dan jaket yang beberapa hari lalu dipijamkan padanya. Dan Kyungsoo hampir mengurungkan niatnya saat melihat si pemilik payung dan jaket tengah dikerubungi banyak orang. Sampai pria itu memanggil Kyungsoo, hingga akhirnya Kyungsoo membatu di pintu kelas 1-A—kelas yang bersebelahan dengan kelasnya.

Dan sekarang, Kyungsoo sedang duduk berhadapan dengan pria yang memiliki telinga lebar, dan yang beberapa hari lalu memperkenalkan dirinya sebagai Park Chanyeol.

"Terimakasih atas payung dan jaket yang kau pinjamkan, dan maaf aku baru bisa mengembalikannya sekarang." kata Kyungsoo, baru saja ia ingin berdiri namun gerakannya terhenti saat lagi-lagi pergelangan tangannya di tahan. Kyungsoo menatap tak suka pada genggaman tangan itu, tapi sayang pria bernama Park Chanyeol sama sekali tak mengindahkan tatapan mematikan Kyungsoo.

"Bahkan aku tidak yakin kalau kau akan mengembalikannya, Do Kyungsoo.."

Kyungsoo terdiam. Ia hanya menatap datar Chanyeol yang menyunggingkan senyumannya. Kyungsoo berusaha untuk tidak tertarik dengan senyuman atau tatapan Chanyeol yang terlampau lembut itu. Namun sayang, bagian terdalam tubuhnya begitu tenang hanya dengan melihat senyum dan tatapan itu.

Dengan cepat, Kyungsoo kembali berdiri dan membungkuk. "Sekali lagi terimakasih,"

Kyungsoo dengan terburu-buru meninggalkan Chanyeol, sedangkan Chanyeol tersenyum kecil seiring menghilangnya Kyungsoo dibalik pintu kelasnya.

.

Life Story

.

Mungkin mulai saat ini, dimana ada Kyungsoo pasti ada Baekhyun. Gadis itu selalu menempel pada Kyungsoo saat jam istirahat atau pulang sekolah. Bukannya Kyungsoo tidak senang, hanya saja ia risih dengan keberadaan Baekhyun yang disisinya. Ia jadi mengingat kejadian pagi tadi, dimana ia menjadi pusat perhatian karena bertemu dengan Chanyeol. Kali ini, hal yang tadi pagi kembali terjadi. Kyungsoo merasa menjadi pusat perhatian. Memang dalam arti sebenarnya, bukan Kyungsoo yang diperhatikan, melainkan Baekhyun si gadis ber-aura cerah yang terkenal disekolahnya.

Kyungsoo menghentikan gerakan sumpitnya saat merasakan punggungnya terdorong beberapa gadis ataupun pria yang mengerubungi meja makannya. Padahal meja makan ini terletak paling ujung, Kyungsoo sengaja memilih tempat ini karena ia tidak ingin bergabung dengan orang-orang yang duduk di meja tengah. Dengan keras ia menggebrak meja kantin. Membuat semua orang yang ada disana menatapnya kebingungan, begitupun dengan Baekhyun. Namun, mengerti kondisi yang terjadi Baekhyun merasa bersalah pada Kyungsoo. Ia langsung meninggalkan meja makan, dan menyusul Kyungsoo yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan tempat itu.

"Kyung! Kyungsoo! Tunggu!" Baekhyun memanggil nama Kyungsoo berkali-kali, tapi Kyungsoo sama sekali tidak ingin berbalik atau melirik ke belakang.

Baekhyun rasanya ingin menangis saja karena di abaikan oleh Kyungsoo. Baekhyun hanya ingin bersahabat dengan Kyungsoo—ya, itu saja. Tapi kenapa Kyungsoo sulit sekali digapai?

Tiba-tiba Baekhyun tersandung kakinya sendiri, hingga akhirnya ia tersungkur dengan lutut yang jatuh lebih dulu. Ia meringis karena lututnya terasa perih. Baekhyun terduduk di lantai koridor kelas, entah kenapa di koridor ini jadi sangat sepi. Padahal Baekhyun berharap ada orang, ia ingin minta bantuan, karena kakinya lemas sekali akibat terjatuh.

"Kau tidak apa?" seseorang berjongkok di hadapan Baekhyun. Baekhyun melongo saat melihat siapa yang berjongkok di hadapannya. Dia—Park Chanyeol.

"Chanyeol?"

"Eo? Baekhyunie?" Chanyeol yang memang tidak melihat siapa gadis yang duduk itu juga melongo saat melihat ternyata Baekhyun.

"Kau bisa menolongku?" tanya Baekhyun agak memohon. Chanyeol kemudian tersenyum, ia mengangguk. Tanpa berkata lagi, tubuh Baekhyun langsung terangkat ke atas. Dan Baekhyun reflek mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol.

"Terimakasih, Chanyeol.." bisiknya di telinga Chanyeol, membuat Chanyeol kembali mengangguk.

Namun, Chanyeol ia harus mengangguk karena senang atau tidak.

.

Life Story

.

Kyungsoo buru-buru menuruni anak tangga. Tepat saat bel pulang berbunyi, Kyungsoo langsung keluar dari kelas. Ia tidak berlari, hanya saja ia mempercepat langkahnya. Dan semua ini ia lakukan agar Baekhyun tidak berada didekatnya. Untung saja, sore ini tidak seperti sore-sore beberapa hari yang lalu. Kalau iya, Kyungsoo pasti akan terjebak bersama Baekhyun yang super cerewet itu. Dalam langkahnya yang semakin cepat, akhirnya Kyungsoo sudah melewati gerbang utama sekolahnya.

Ia berbelok ke kanan, menuju halte untuk segera pulang ke rumah. Seiring langkah Kyungsoo yang perlahan memelan, Kyungsoo mencuri-dengar beberapa gadis yang sedang berbicara. Ada sekitar tiga gadis, dan mereka berjalan didepan Kyungsoo. Kyungsoo ingin mendahului mereka, namun ia urungkan saat mendengar namanya disebut-sebut.

"Aku tidak mengerti jalan pikiran Baekhyun, kenapa juga dia terus bersama Kyungsoo. Padahal gadis itu 'kan sangat pendiam, bahkan tatapannya itu menyeramkan."

"Kau benar. Seharusnya Baekhyun bisa memilih teman dengan benar. Apalagi, aku dengar-dengar Kyungsoo itu bukan anak baik-baik. Ia tinggal sendiri, tak ada satupun orang yang mengetahui dimana keberadaan keluarganya."

"Ya, Baekhyun memang aneh. Baekhyun tentu saja bisa mendapatkan teman yang sama populer seperti dirinya. Dan Kyungsoo, ia tidak pantas berteman dengan Baekhyun."

Kyungsoo menghembuskan nafas pelan, kemudian ia menengadah. Matanya terasa agak panas, tapi ia tidak boleh begitu saja menjatuhkan airmatanya yang berharga. Walaupun jarak Kyungsoo dan gadis-gadis itu sekitar 2 meter, tapi Kyungsoo jelas mendengar apa yang mereka bicarakan. Kyungsoo terluka—jujur saja. Apalagi mereka membicarakan tentang keluarga Kyungsoo.

Hei—tidakkah itu privasinya? Apa oranglain berhak ikut campur?

Baru saja Kyungsoo ingin berbalik. Namun ada yang menghadangnya, lagi-lagi pria tinggi bertelinga lebar bernama Park Chanyeol.

"Kau mau kemana? Halte disana," tunjuk Chanyeol. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat sorot mata tajam Kyungsoo mengarah padanya.

"Bisakah kau tidak selalu muncul dihadapanku? Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau bisa selalu muncul disaat seperti ini? Aku—cih!" Kyungsoo memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak sanggup meneruskan kalimatnya.

Chanyeol tiba-tiba menarik tangan Kyungsoo, mengajak Kyungsoo berjalan berlawanan arah dengan tujuan mereka. Kyungsoo hanya diam, ia menurut saja dengan ajakan Chanyeol. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah taman bermain. Begitu banyak anak kecil yang bermain disana. Ada yang bermain didalam bak pasir, ayunan atau berlarian. Chanyeol mengajak Kyungsoo duduk disebuah kursi kayu yang kosong.

Sekitar tigapuluh detik mereka duduk, Chanyeol membuka suara lebih dulu. Jujur saja, ia tidak bisa melihat seorang gadis yang murung.

"Kau bisa cerita padaku kalau kau ada masalah, Kyungsoo."

Tak ada jawaban. Kyungsoo diam.

Chanyeol menarik nafas dalam, kemudian ia mulai berbicara lagi. "Aku tahu, kau tidak suka ada oranglain yang mencampuri urusanmu. Tapi, aku disini karena memang aku tulus ingin menjadi temanmu. Kyungsoo, semua orang tidak bisa hidup sendirian, mereka pasti membutuhkan sandaran. Aku bisa menjadi tempat untukmu mencurahkan segala isi hatimu. Kyungsoo, kita bisa berteman.."

Perkataan Chanyeol yang panjang-lebar itu justru membuat tatapan tajam Kyungsoo semakin nyalang. Kyungsoo langsung berdiri dari tempatnya, tiba-tiba matanya berair. Dan sekarang pipinya sudah basah oleh airmata.

"Aku tak butuh! Kalau memang kau ingin berteman denganku, lebih baik kau menjauhiku! Aku sama sekali tidak ingin oranglain mencampuri kehidupanku! Urusi saja hidupmu sendiri, aku yakin hidupmu bahkan belum tentu lebih baik dariku," ucap Kyungsoo sakratis.

Chanyeol tercengang mendengar perkataan Kyungsoo. Perkataan Kyungsoo benar-benar menusuk hatinya. Ia menatap kepergian Kyungsoo dalam diam. Ia tiba-tiba merasa hampa saat mendengar ucapan Kyungsoo tersebut.

.

Life Story

.

Kyungsoo mendudukkan dirinya disebuah sofa yang sudah agak usang. Ia menyandarkan punggungnya pada badan sofa. Ia merasa sangat lelah sekarang. Ia kembali mengingat kejadian tadi sore, dimana dia memaki seseorang sampai sebegitunya. Kyungsoo sendiri tidak percaya ia bisa mengatakan hal itu pada Chanyeol, pasalnya Chanyeol adalah pria yang baik dan Kyungsoo dengan lancangnya berkata seperti itu pada pria sebaik Chanyeol.

Mata Kyungsoo terpejam. Dalam hatinya ia mengucap kata maaf pada Chanyeol, berharap bahwa Chanyeol akan mendengar permintaan maaf Kyungsoo.

Sekarang ia sudah berada dirumahnya, yang dikatakan beberapa gadis tadi sebagian besar memang benar. Kyungsoo tidaklah pantas mendapatkan teman, apalagi teman seperti Baekhyun. Ia terlalu buruk. Dan benar lagi kalau Kyungsoo hidup sendirian. Keluarganya? Entahlah..

Sejak Kyungsoo kelas 2 SMP Kyungsoo sudah mulai bekerja paruh waktu bahkan sampai sekarang Kyungsoo masih melakukannya. Dari hasil pekerjaannya itu, Kyungsoo akhirnya menyewa sebuah apartemen murah yang ada di pinggiran kota. Kyungsoo bersyukur bahwa dirinya bisa hidup sampai sekarang, bisa sekolah, makan dan sebagainya. Setidaknya ia tidak merasa kekurangan. Mungkin bisa disebut juga kalau Kyungsoo adalah anak yang beruntung. Setahun yang lalu, ada keluarga muda yang prihatin dengan keadaan Kyungsoo hingga akhirnya ia memberikan Kyungsoo pekerjaan dan tempat tinggal. Sampai akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk tinggal sendiri, maka disinilah ia sekarang. Di sebuah apartemen yang begitu sederhana.

Kyungsoo berhutang budi pada mereka, sampai Kyungsoo akhirnya mau bekerja di tempat usaha miliknya.

Tak berapa lama, Kyungsoo merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat nama yang tertera di layar, kemudian langsung mengangkat panggilan tersebut. "Ya, eonni?"

"Ngg, tapi aku minta maaf. Hari ini aku tidak masuk bekerja, boleh? Aku sedang tidak enak badan," ucap Kyungsoo pada seseorang yang diseberang telepon. Terdengar helaan nafas dari sana.

"Terimakasih, eonni. Aku janji besok aku akan berangkat, aku tutup teleponnya ya. Annyeong."

.

.

Kyungsoo merasakan suhu tubuhnya naik. Ia membuka mata, tiba-tiba ia terbangun. Dan kepalanya sangat sakit. Ia kurang tidur akhir-akhir ini, yaa, karena pekerjaan dan tugas yang menumpuk di sekolah. Tenggorokan Kyungsoo rasanya kering sekali, ia segera mengambil segelas air mineral yang ada diatas nakas. Kemudian ia melirik jam dinding—masih pukul 3 pagi. Harusnya Kyungsoo tidur. Tapi dia tidak bisa. Tubuhnya menggigil. Sudah dipastikan besok Kyungsoo tidak akan masuk sekolah.

Kyungsoo merapatkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Hanya bagian mata yang terlihat dari balik selimut itu. Kyungsoo berusaha memejamkan matanya. Dan akhirnya ia kembali terlelap. Meskipun begitu, keringat dingin terus meluncur dari dahi hingga seluruh badan Kyungsoo. Sesekali bahkan ia merancau tak jelas.

Yaa, memang beginilah resiko hidup sendirian. Kyungsoo sudah biasa, dan Kyungsoo pasti bisa mengatasi hal ini.

—Alarm dari ponselnya berbunyi. Kyungsoo membuka matanya perlahan, sepertinya ia baru memejamkan matanya, tapi alarm pagi sudah membangunkannya.

Kyungsoo bangkit dari tempat tidurnya, meskipun sakit Kyungsoo tidak akan memanjakan dirinya hanya untuk tidur-tiduran di atas kasur. Ia harus membuat sarapan, setidaknya ia harus memakan sesuatu agar bisa minum obat. Kyungsoo memegang pinggiran meja dapur. Ia menggelengkan kepalanya, sakit di kepalanya benar-benar menusuk. Kyungsoo mengambil sepotong roti dan menuangkan susu ke dalam gelas. Ia kembali menuju tempat tidurnya, oh—tak lupajuga dia membawa sebutir obat sakit kepala untuk meredakan sakit di kepalanya itu.

Setelah meminum obatnya, Kyungsoo kembali merebahkan tubuhnya yang memang lemas itu ke atas tempat tidur. Ia sempat melihat jam dinding tadi, sudah jam 7 pagi. Ia harus kembali mengistirahatkan tubuhnya, agar malam nanti ia bisa bekerja. Bukankah kemarin ia sudah berjanji akan bekerja? Ia tidak boleh mengingkari janjinya.

.

Life Story

.

Kyungsoo mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan malas ia bangun dari tempat tidurnya, bergerak menuju pintu. Ia memutar gagang pintu, matanya yang sayu langsung terbuka saat melihat siapa yang ada di hadapannya kini.

"B-Baekhyun?"

Baekhyun juga tak kalah melebarkan matanya saat melihat kondisi Kyungsoo. Ia buru-buru mendekat dan memegang kedua pundak Kyungsoo. Gadis itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan Kyungsoo. "Kyung, apa yang terjadi? Kau sakit?" tanya Baekhyun.

Risih—Kyungsoo melepaskan tangan Baekhyun dari pundaknya. "Darimana kau tahu rumahku?"

"Itu tidak penting. Sekarang, kau sudah ke rumah sakit? Kau sakit, 'kan?"

"Bukan urusanmu, Byun Baekhyun. Kau pulanglah,"

"YA! Aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu sekarang, ayo kita masuk. Dan Jongin, tolong telepon dokter."

Tanpa menunggu jawaban Kyungsoo, Baekhyun langsung mendorong Kyungsoo masuk. Ia tidak bisa melawan, karena tubuhnya memang sangat lemas saat ini. Jongin yang ternyata teman yang di ajak Baekhyun ikut masuk ke dalam rumah Kyungsoo. Ia segera menelpon dokter, seperti yang dikatakan Baekhyun barusan.

.

.

.

Baekhyun memperhatikan Kyungsoo yang sedang terbaring, ia baru saja di periksa oleh dokter dan di beri suntikan penambah vitamin. Mungkin karena memang tubuhnya yang lelah, akhirnya Kyungsoo terlelap. Baekhyun duduk di pinggiran tempat tidur Kyungsoo yang berukuran single, bahkan tempat tidur itu sudah terlihat sangat usang. Baekhyun memegang jemari Kyungsoo, begitu lembut. Rasanya hati Baekhyun sangat sakit melihat keadaan Kyungsoo yang seperti ini.

Ia tahu, sebenarnya Kyungsoo butuh seorang teman untuk tempatnya berbagi cerita. Dan Kyungsoo harusnya bisa lebih terbuka pada oranglain. Namun sayangnya tembok pembatas antara dirinya dan oranglain sudah ia buat dengan begitu kokoh. Baekhyun membutuhkan tenaga ekstra untuk menghancurkan dinding tersebut.

Baekhyun menghela nafas, kemudian ia keluar kamar dan melihat Jongin yang sedang memperhatikan sekeliling rumah Kyungsoo. Baekhyun juga ikut melihat-lihat isi rumah Kyungsoo. Rumah yang tidak terlalu besar. Di ruang tamu, hanya ada sofa sedang dan single beserta meja. Tidak ada televisi atau barang-barang eletronik lainnya. Oh, bagaimana bisa Kyungsoo hidup seperti ini? pikir, Baekhyun.

"Kyungsoo memang membutuhkan sosok teman," ucap Baekhyun pelan. Namun Jongin bisa mendengar ucapan Baekhyun, ya bagaimana tidak? Disini begitu sepi. Jongin mendekat ke arah Baekhyun.

"Kapan kau akan pulang?" tanya Jongin. Baekhyun menggelengkan kepalanya dan menatap Jongin tak suka. Jongin memang tidak punya perasaan, bagaimana bisa ia menanyakan hal seperti itu, padahal ia tahu kalau teman Baekhyun sedang sakit.

"Kau tidak lihat Kyungsoo sedang sakit?"

"Apa peduliku?" jawab Jongin acuh, "seharusnya kau sadar, Baek. Saat kedatanganmu tadi saja, kau tidak disambut baik olehnya. Untuk apa kau begitu memperhatikannya?"

Baekhyun terdiam. Yang dikatakan Jongin memang benar. Tapi, Baekhyun tidak ingin meninggalkan Kyungsoo begitu saja. Kyungsoo butuh seseorang untuk merawatnya.

"Kalau kau hanya kasihan padanya, lebih baik kita segera pergi."

"Apa maksudmu berkata begitu?"

"Baek, sedikit-banyak aku mengerti apa yang dirasakan Kyungsoo. Orang seperti dia sangat benci kalau dikasihani,"

"Aku tidak mengasihaninya, Jongin. Aku tulus ingin menjaganya,"

"Bukankah besok libur? Kita bisa kesini lagi nanti, aku tidak ingin kau dimarahi orangtuamu karena pulang terlambat," jelas Jongin. Baekhyun menghela nafas. Benar yang dikatakan Jongin.

"Baiklah, aku pulang. Tapi aku pamitan dulu dengan Kyungsoo,"

.

Life Story

.

Kyungsoo membuka pintu rumahnya, tak lupa juga ia membuka sepatu dan menaruhnya rapih di rak sepatu. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Kyungsoo baru saja pulang bekerja. Ia begitu lelah hari ini karena malam minggu tempat kerjanya akan sangat ramai. Kyungsoo menuju dapur dan menuangkan air mineral ke dalam gelas. Segera ia meminumnya hingga habis. Kyungsoo melihat isi dapurnya yang memang penuh. Ya, terisi penuh oleh makanan yang diberikan Baekhyun tadi pagi. Ya, gadis itu bertamu lagi ke rumah Kyungsoo.

Ia langsung mengambil sebaskom air hangat yang sudah diberik garam. Kyungsoo duduk di sofa dan segera mencelupkan kakinya ke dalam air garam tersebut. Setidaknya ini bisa mengurangi rasa lelahnya.

BUUK!

Kyungsoo yang baru saja memejamkan matanya dan menyandar pada badan sofa langsung menegakkan tubuhnya. Ia mendengar suara debuman keras didepan pintu rumahnya. Kyungsoo segera mengeringkan kakinya, dan berjalan menuju pintu. Ia mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu, namun ia tidak melihat apapun.

Penasaran, akhirnya Kyungsoo membuka pintu rumahnya. Ia melongok ke kiri dan ke kanan tapi tidak ada siapapun. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyentuh pergelangan kakinya. Tubuh Kyungsoo langsung bergetar, ia menoleh ke bawah. Dan matanya membulat seketika saat melihat seseorang terbarik disana. Kyungsoo berjongkok untuk melihat lebih jelas siapa orang itu.

"K-Kim Jongin?"

"Tolong aku.." gumamnya.

Kyungsoo pun segera membawa Jongin masuk ke dalam rumahnya. Ia menyingkirkan baskom dan mendudukkan Jongin di sofa. "Apa yang terjadi padamu Kim Jongin? Kenapa kau bisa ada didepan rumahku?"

"Maaf, tapi aku tidak tahu harus kemana lagi.." Jongin menarik nafas, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Tempat yang aku tahu disini, hanya tempatmu, maaf.."

"Lalu kenapa kau bisa babak belur seperti ini?"

"Ceritanya panjang,"

Kyungsoo menghela nafas, sebenarnya ia sangat lelah tapi ia juga tidak tega melihat Jongin yang babak belur. Kyungsoo mengambil baskom yang berisi air hangat beserta handuk kecil untuk membersihkan luka Jongin, tak lupa ia membawa kotak P3K.

"Ngg, Jongin.. apa kau bisa mengobati lukamu sendiri? Jujur, hari ini aku sangat lelah karena bekerja," ucap Kyungsoo. Jongin yang tadi memejamkan matanya, langsung menatap Kyungsoo.

Ia agak terkejut saat melihat Kyungsoo dengan pakaian—agak—sexy dan juga make-up di wajahnya. Seingat Jongin, Kyungsoo bukanlah gadis yang suka berdandan, dan juga bukan gadis yang suka berpakaian sexy—seperti ini. Mereka satu sekolah, meskipun bukan satu kelas. Lalu, Baekhyun juga sering menceritakan bagaimana Kyungsoo dikelasnya. Semua yang di ceritakan Baekhyun berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat sekarang ini.

"Do Kyungsoo, aku tidak salah lihat 'kan?"

"Apa?"

"Kau memakai pakaian sexy dan juga kau memakai make-up. Apa pekerjaanmu? Jangan-jangan kau bekerja di Klub malam? Dan kau.. ternyata wanita penghibur?" tanya Jongin, membuat wajah Kyungsoo memerah. Bukan malu, tapi ia menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun karena mendengar penuturan Jongin.

—PLAK.

Seketika, Jongin merasakan panas di pipi kirinya.

.

.

.

.

TBC

Hoho, makasih ya yang udah review, nge-fav, nge-foll cerita ini~~ :*

Aku nggak nyangka, sungguh!

Maaf, aku ngga bisa bales review kalian satu-satu tapi yang pasti review kalian sangat berarti banget buatku. /terhura/?

Oh, masukannya sangat berarti lho, yang nanya Hurtnya dimana. Itu tantangan tersendiri buat aku, haha. Apa kira-kira ini udah Hurt? Tapi yang pasti ini emang Hurt, gatau di Chap berapa-berapanya~~ xD

Dan tenang aja, ini Official Couple kok, seandainya ada Crack Couple, itu mungkin... rahasia xP

Aku KaiSoo dan ChanBaek shipper kok :D yaa, walaupun aku suka juga sama ChanSoo /digaplok. Satu lagi, kalau aku fast-update, anggep aja itu kebetulan xD

Sekali lagi.. aku terimakasih banget sama kalian...

Love you so muuuuuch :*

Han,