"Okuda-san, kau yakin ponselmu tertinggal di rumah dan bukannya hilang di dalam kelas?"

Okuda berkata dengan memasang ekspresi wajah meyakinkan, "Ya, Sensei. Kurasa aku lupa membawanya."

"Baiklah, kalau begitu, pencarian akan dihentikan dan kau boleh kembali ke tempat dudukmu."

Okuda hanya mengangguk, lalu memulai langkah berniat menuju ke mejanya.

"Tunggu, Okuda-san," lanjut Koro-sensei, membuat gadis dengan mata sewarna bunga lavender itu menghentikan langkah.

Okuda menolehkan kepalanya ke arah Koro-sensei. "Ya, Sensei?"

"Hari ini kau tampak berbeda, semoga saja tidak ada masalah mengenai penampilanmu yang... errr..." Koro-sensei mengaitkan kedua tentakelnya dengan gugup. "Sangat memesona," pujinya.

Okuda tersenyum tipis. "Semoga, Sensei." Lalu ia meneruskan langkahnya dan memperdalam senyum semringahnya, mengarah pada laki-laki berambut merah api yang duduk di kursi paling belakang.

Semoga saja.


Karma, target on! oleh Angchin

Ansatsu Kyoushitsu hanya milik Yūsei Matsui seorang, ane hanyalah segelintir dari sekian banyak fans yang bertebaran di luar sana /plak.

KarmaNami, OOC(Yes!), Typo(maybe), Friendship, Romance, RnR, DLDR!

AN: Halo, minna-san! Maaf updatenya lama, sebenarnya saya sudah buat sampai bab 3 dari pertama bab 1 dipublish, saya males edit sama publishnya aja hehe. Maaf ya!


Bab 2: Jangan Buat Wanita Menangis, Karma-kun!

Nagisa Shiota mengamati dua pemandangan tidak biasa di depan matanya dengan bercampur perasaan skeptis. Pertama, Manami Okuda, salah satu murid perempuan di kelas 3-E yang biasanya berpenampilan eksentrik, kini tiba-tiba berubah menjadi gadis yang luar biasa cantik. Kedua, Karma, teman dekatnya yang biasanya tertarik pada hal-hal menarik misalnya seperti perubahan Okuda yang tiba-tiba, kini hanya bergeming memerhatikan seluruh murid lelaki mengerubungi meja Okuda.

Ada yang tidak beres, pikir Nagisa. Dan aku harus mencari tahu.

Nagisa bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati meja Karma, berhenti di samping laki-laki berambut merah itu dan bersandar pada sisi meja yang lain. Karena sekarang sedang jam istirahat dan hampir keseluruhan murid perempuan berada di luar kelas, Nagisa merasa leluasa untuk membicarakan topik yang sepertinya akan sensitif bagi Karma.

"Aku melihatmu berbicara serius dengan Okuda tadi," kata Nagisa langsung ke inti, membuat Karma mengalihkan perhatian ke arahnya.

"Aku hanya menggodanya," kata Karma mencoba mengelak. "Tidak serius, Nagisa-kun."

"Kau yakin?" tanya Nagisa ragu. "Tidak biasanya kau bersikap diam, kupikir—"

"Jadi kau ingin melihatku beraksi?" sela Karma tanpa ekspresi, namun dengan penekanan suara yang dapat didengar Nagisa. "Kau lihat saja, Nagisa-kun."

Nagisa berinisiatif menahan tangan Karma ketika dilihatnya teman dekatnya itu beranjak dari mejanya menuju ke sekumpulan anak lelaki yang tengah mengerumuni Okuda, namun ia mengurungkan niatnya karena menyadari sifat Karma yang suka bertindak nekat dan semaunya. Nagisa memerhatikan Karma membelah kerumunan itu dengan menyingkirkan murid lelaki lain satu-persatu, dan juga ketika Karma telah berdiri di depan gadis cantik bermata lavender itu.

"Apakah kalian semua bodoh, teman-teman?" cibir Karma sembari tersenyum miring memandang Okuda. "Apa yang kalian harapkan dari gadis lugu ini?" Karma mengangkat dagu Okuda dengan tangan kanannya sehingga membuat gadis itu mendongak menatap wajahnya. "Apa kalian tidak menyadarinya? Kanzaki-chan bahkan jauh lebih baik, karena Okuda-chan hanya terlihat memesona ketika melepaskan kacamata dan kepangan rambutnya. Tetapi kita semua tidak tahu bagaimana gaya berpakaiannya di luar."

"Benar juga," sela Okajima sembari mengelus dagunya dengan sebelah tangan. "Dadanya bahkan kalah jauh bila dibandingkan dengan milik Kanzaki-chan dan juga Bitch-sensei."

"Kurasa Okuda-san memang cantik," sambung Maehara. "Tetapi penampilannya masih standar."

"Sepertinya aku tidak jadi mengajaknya berkencan," bisik Isogai ke telinga Sugino. "Kau saja, Sugino."

"Tidak, kau saja," tolak Sugino. "Kanzaki-san pasti lebih menyukai bisbol."

Dan cibiran para murid lelaki mengenai penampilan Okuda terus berlangsung di dalam kelas selama beberapa detik hingga mereka memutuskan untuk membubarkan diri dan beralih ke meja Kanzaki.

"Sebenarnya apa maumu, Karma-kun?!" bentak Okuda, seketika menepis tangan Karma dari dagunya. "Aku benci dirimu!" Ia berdiri dari kursinya dan berlari meninggalkan ruang kelas.

Nagisa, yang sedari tadi hanya diam memerhatikan kejadian tersebut, merasa yakin bahwa ada yang tidak beres pada otak Karma. Ia memandang Karma yang sedang berdiri menyeringai. Bukan gaya Karma-kun bila menjahili anak perempuan, pikirnya. Apalagi sampai membuatnya menangis.

...

Okuda ingin menangis, tetapi menurutnya menangis hanya berlaku bagi orang-orang yang lemah, dan ia tidak mau terus-menerus dipandang lemah. Jadi, ia hanya mengedip-kedipkan kedua matanya agar tidak ada air mata yang keluar, alhasil, hal itu malah membuat matanya semakin memerah.

Kenapa Karma-kun tega mempermalukanku di depan mereka? Ia membatin.

Okuda mengepal erat kedua tangannya. Ia benci membayangkan dirinya hanya mampu berlari ketika penghinaan yang ditujukan kepadanya tengah berlangsung, benci pada kenyataan Akabane Karma harus berperan di dalam skenario kehidupannya.

"Hmm, kukira angsa mungil itu sedang menangis."

Okuda memutar tubuhnya, seketika memandang laki-laki berambut merah di hadapannya dengan tatapan bermusuhan.

"Ternyata sedang meratapi penampilannya, eh?" lanjut Karma memprovokasi.

Tetapi Okuda tidak ingin terpancing provokasinya lebih jauh, karena ia tahu jika ia terlalu banyak menampakkan emosi, hal itu malah akan membuat Karma senang. Jadi, Okuda segera mengubah pelototannya menjadi senyum ceria dan berusaha terlihat sesantai mungkin—seakan-akan tidak pernah terjadi konfrontasi apa pun di antara mereka.

"Menangis?" cibir Okuda dengan mendengus. "Sayangnya aku bukan anak kecil berusia lima tahun yang suka bermain kuda poni, mungkin kau saja yang seorang pengecut sehingga bisanya hanya membuat wanita menangis, Karma-kun?"

Karma terkekeh. "Semakin cepat waktu berlalu, kau semakin menarik, Okuda-chan." Karma memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan mendekati Okuda dan berhenti dengan jarak sepuluh senti di hadapan gadis itu. "Lidahmu tajam juga, ya?"

Okuda menunduk dengan memicingkan kedua matanya sejenak. "Teori tidak penting, Karma-kun," balasnya, kemudian membuka matanya lagi dan menengadah ke arah wajah Karma. "Tetapi demonstrasi. Akan kutunjukkan padamu kalau penampilanku bisa lebih baik dari Kanzaki-san."

"Kau yakin?" ucap Karma sembari memiringkan kepalanya, mengangkat tangan kanannya berniat memegang dagu Okuda.

Tetapi Okuda lebih dulu menangkap pergelangan tangan Karma sebelum berhasil menyentuh dagunya, menepisnya seketika. "Ya. Nanti malam, pukul tujuh tepat, di depan gerbang utama sekolah kita." Okuda berkata serius. "Kita bertemu di sana."

Karma mengangguk perlahan, lalu terkesiap—terlambat menyadari bahwa Okuda baru saja menepis tangannya.

"Bagus," lanjut Okuda dengan wajah datar. Ia memutar tubuhnya, dan kali ini, ia merasa bangga karena kini ia yang meninggalkan Karma yang masih bergeming.

Dan, walaupun sebenarnya Okuda tidak terlalu yakin dengan gaya berpakaiannya, tetapi ia akan membuktikan bahwa ia mampu berpenampilan menarik karena ia tidak ingin Karma terus meremehkannya.

Akan kutunjukkan padamu, Karma-kun! Ia bertekad. Karena targetku adalah mengubah sikapmu menjadi lebih baik!

...

Sudah lima belas menit sejak Karma menyandarkan diri pada besi tralis gerbang sekolah. Ia mengangkat sebelah tangannya dan memerhatikan jam yang melingkar di sana. Pukul tujuh lewat sepuluh. Bagus sekali, Okuda terlambat sepuluh menit, dan tentu saja gadis itu sudah merencanakan semua ini—mempermainkannya.

Tololnya, tadi saat di sekolah ia malah langsung memercayai kata-kata gadis itu tanpa berpikir panjang. Alasannya? Tentu saja karena ia ingin bertemu gadis itu lagi. Entah mengapa, tidak bertemu Okuda barang sejam atau lebih saja membuat hidup Karma dirundung kebosanan. Karena sekarang ia sudah menemukan mainan yang lebih menarik dari Koro-sensei, yaitu Manami Okuda.

"Baiklah," gumamnya dengan nada malas. "Besok aku akan menggencarkan pembalasan untukmu, Okuda-chan." Kemudian ia mengangkat kedua bahu, berbalik ke arah kiri jalan dan memulai langkah.

"Kau yakin ingin menyerah sebelum bertempur, Karma-kun?"

Seketika Karma memutar tubuhnya. Tanpa ia sadari, sebelah tangannya memegang gerbang besi—menahan keterkejutannya—seolah-olah kecantikan yang dipancarkan gadis yang kini tengah berdiri dengan jarak lima meter di depannya itu telah melumpuhkan seluruh sistem syaraf di tubuhnya.

Ya, laki-laki mana yang tidak terpesona melihat penampilan gadis itu—Manami Okuda—saat ini? Okuda mengenakan dress sepanjang paha yang sewarna dengan bunga lavender dari balik jaket beludru putih, rambut hitamnya digelung, wajah cantiknya dipoles bedak tipis, bibirnya merah cerah tertimpa cahaya lampu jalan, dan kaki mungilnya dihiasi sepatu kaca ber-hak tinggi.

Manami Okuda yang sekarang berada di hadapan Karma bukan lagi gadis kaku yang dilihatnya kemarin, karena kini penampilan gadis itu sudah hampir se-kaliber putri kerajaan.

"Aku melihatmu sangat terkejut, Karma-kun," kata Okuda dengan tersenyum—yang diartikan Karma sebagai senyum memikat. "Jadi, aku menang?"

Tetapi Karma tidak ingin sampai terpikat senyuman gadis itu. Ia berniat membalas gadis itu dengan sarkasme, namun entah mengapa otaknya serasa dibelenggu sehingga ia tidak dapat berpikir rasional, dan ini pertama kalinya ia kesulitan memikirkan kata-kata cerdas dan sarkastis.

Karena perubahannya yang tiba-tiba yang membuatku sulit memercayai ini, pikir Karma. Akhirnya ia memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menjernihkan kembali pikirannya. Dan usahanya membuahkan hasil, karena sebuah ide tiba-tiba mengalir bagaikan gletser di dalam kepalanya.

"Masih belum, Okuda-chan," ucap Karma, yang mulai berdiri tegak dan kembali bersikap santai seperti biasanya. "Bagaimana kalau kau melepas jaket itu? Aku tidak bisa menilai penampilanmu jika kau masih mengenakannya."

Senyum di wajah Okuda perlahan memudar, gelagat tubuhnya tampak gelisah. "Tapi di sini dingin, Karma-kun." Ia beralasan.

"Hanya sebentar," kata Karma meyakinkan. Ia berjalan dengan memasukkan kedua tangan ke saku celana saat menghampiri Okuda. "Aku hanya ingin melihat penampilan sempurnamu," lanjut Karma berimprovisasi.

Okuda ragu sejenak, tetapi ketika melihat senyum tulus dan merasakan sebelah tangan Karma memegang pundaknya—yang seolah-olah meyakinkannya—membuatnya lebih percaya diri.

"Baiklah," akhirnya Okuda memutuskan. "Tetapi hanya sebentar saja, Karma-kun, di sini benar-benar dingin."

Karma mengangguk. Ia segera membantu melepaskan jaket beludru putih yang dikenakan Okuda, dan setelah jaket itu tersingkirkan sepenuhnya dari tubuh gadis itu, Karma menyadari kalau Okuda mengenakan dress tanpa lengan yang mengekspos bahu putih dan mulus gadis itu.

Seketika Karma menyeringai. Inilah saat yang tepat untuknya bermain dengan mainan yang sudah disuguhkan takdir kepadanya. Mainannya yang sangat cantik, mungil, dan angkuh. Karma sangat terobsesi pada mainannya sehingga ingin sekali membuatnya tunduk dan patuh. Tetapi pertama-tama ia harus mencari tahu titik-titik terlemah mainannya...

Di sini. Sekarang juga.

Karma mendekatkan wajahnya ke telinga Okuda. "Apa kau mulai merasa kedinginan, Okuda-chan?"

Okuda bergidik merasakan hembusan napas Karma di telinganya, kemudian ia menganguk perlahan.

"Memang harusnya seperti itu," Karma kembali berbisik. "Karena itu hukuman untukmu..."

"Hukuman?" Okuda mengangkat wajahnya, mengernyitkan alis melihat Karma tiba-tiba menjauhkan diri darinya.

Karma tertawa kecil. "Tentu saja hukuman karena kau telah membuatku menunggu," katanya, mengangkat tangannya yang memegang jaket Okuda dan semakin mengeratkan cengkeramannya pada jaket itu. "Nah, Okuda-chan, apa kau bisa mengambilnya dariku? Atau kau lebih memilih pulang dengan didampingi rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulangmu?"

Okuda mendesah tertahan, membelalakkan matanya. "Karma-kun, kau tidak bermaksud—"

Okuda berniat memprotes, tetapi terlambat, karena Karma segera memutar tubuh dan berlari meninggalkannya.

"Ayo kejar aku, Okuda-chan!" teriak Karma, yang semakin mengencangkan larinya menuju hutan di belakang sekolah. Karma tersenyum puas tatkala melihat Okuda mulai berlari mengikutinya, mengejarnya, masuk ke dalam perangkapnya.

"Karma-kun! Lihat saja, aku akan membalasmu!" gerutu Okuda dengan berteriak, yang berlari dengan langkah kesakitan dan mulai tertinggal jauh di belakang Karma.

Karma kembali meluruskan pandangan ke arah depan tubuhnya. Aku akan membuatmu terus berlari, Okuda-chan, pikirnya. Sampai hak sepatumu patah, dan setelah itu—

"Karma-kuuun!"

Karma tersentak. Ia segera menghentikan langkah dan menoleh ke arah belakang tubuhnya, mencari-cari sosok Okuda, namun yang dilihatnya hanyalah kegelapan malam. Ia jelas mendengarnya, suara itu... bukan ocehan jengkel ataupun gerutuan, tetapi jeritan! Okuda baru saja berteriak, pikirnya. Ia menjatuhkan jaket beludru putih yang dipegangnya, lalu kembali berlari menuju ke arah suara gadis itu menjerit.

Karma terus berlari, memikirkan betapa senangnya ia bila menyaksikan sesuatu yang menarik pada diri Okuda—misalnya yang dilihatnya nanti adalah Okuda yang tengah meringkuk di balik semak-semak karena takut pada kegelapan. Namun, ketika Karma tiba di ujung jalan setapak yang merupakan pembatas antara hutan dan area sekolah... tubuh Karma seketika membeku, dan kini yang ada di dalam benaknya bukanlah kesenangan...

Melainkan penyesalan.

'Mungkin kau saja yang seorang pengecut sehingga bisanya hanya membuat wanita menangis, Karma-kun?'

Manami Okuda, kini tengah terduduk di tengah-tengah jalan setapak di antara kedua sisi jalan yang dipenuhi pepohonan. Ia menangis terisak, hak di salah satu sepatunya patah, kedua tangannya mengepal erat sisi bawah dress yang dikenakannya, dan ia menunduk menatap darah kental yang mengalir perlahan dari lutut sebelah kirinya. Ya, Gadis itu baru saja terjatuh.

Okuda terjatuh hingga terluka karena berlari mengejar Karma, gadis itu sampai menangis juga karena kesalahan Karma, dan Karma merasa semua yang telah diperbuatnya kini terhadap Okuda telah menjadikannya seperti seorang pengecut—pecundang sejati yang bisanya hanya membuat wanita menangis.

Karma tidak tahan melihat gadis itu menangis, karena hal itu malah semakin membuatnya dinaungi perasaan bersalah. Jadi, dengan langkah cepat ia mendekati Okuda, berlutut di hadapannya, merobek sisi depan kemeja dari balik jaket hitam yang dikenakannya, melilitkan potongan kain kemeja itu ke luka di lutut Okuda dan mengikatnya perlahan-lahan.

Tetapi isakan yang lolos dari bibir Okuda tak kunjung berhenti, justru rintihan kesakitan gadis itu semakin terdengar keras. Karma mencoba berpikir keras mencari cara lain untuk menenangkan gadis itu dan membuatnya diam. Dan pilihannya kali ini adalah menghilangkan jarak di antara tubuhnya dengan tubuh Okuda, melingkarkan kedua tangannya ke punggung dan pinggang Okuda, mendekap gadis itu dan sesekali mengelus lembut rambut hitam Okuda dengan telapak tangannya.

"Tenanglah," ucap Karma dengan nada lembut, berusaha menenangkan Okuda. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti tadi lagi, aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku berjanji."

"Tetapi kakiku sakit, Karma-kun," lirih Okuda, masih dengan terisak.

Karma menggigit bibir bawahnya, menyesali semua kegagalan usahanya untuk membuat gadis itu berhenti menangis. Hanya tersisa satu cara lagi, pikirnya. Ya, satu cara lagi. Satu cara yang menurut pemikiran logis Karma adalah cara yang sangat tidak efektif dan tidak masuk akal. Tetapi... tidak ada pilihan lain lagi baginya.

Persetan dengan akal sehat!

Karma segera melepaskan pegangan tangannya dari punggung dan pinggang Okuda, menangkup pipi Okuda dengan kedua tangan, mendonggakkan wajah gadis itu ke arah wajahnya. Seketika ia menempelkan bibirnya ke bibir Okuda, melumat gumpalan merah lembut itu, berusaha meredam isakan gadis itu.

Sial, umpat Karma dalam hati. Gadis ini benar-benar manis!

Bersambung...


AN; Hehe Bab ini gimana? Maaf kalau alur cepat dan kependekan, udah gitu updatenya lama pula. Habisnya Author punya banyak kesibukan di rumah dan kantor

Thnks untuk yang sudah review HaniShina, KaedeRin28 dan Hiki nolep XD. Ini sudah di update ya :)) thnks juga buat yg sudah fan n follow :))