MAYBE IN HELL, THERE IS A HEAVEN
CHAPTER TWO.
thirteenthblack's request.
cerita dan tokoh fic ini bukan punya author, terjemahan hak penuh author.
dilarang copy cat dan mengklaim terjemahan ini punya orang lain.
thanks to coppertears karena sudah ngasih ijin buat translate fic ini.
link to the original fic: coppertears. livejournal 7748. html (hapus spasinya ya)
at last, enjoy!
.
.
Senja meluapkan sinar oranyenya ke dalam awan, dan Jongin bertanya-tanya mengapa mereka berhenti. Baekhyun mengistirahatkan keningnya pada pundak Jongin selama beberapa detik.
"Ada apa?" Jongin bertanya pada Jongdae sembari melirik kesana kemari untuk memeriksa bahwa tidak ada pengawal yang mungkin menghampiri dan memukul mereka.
"Kita akan bertemu Kris," jawab Jongdae, memfokuskan pandangannya pada barisan yang ada di depannya.
Jongin mendengar nama Kris beberapa kali dalam percakapan Chanyeol, Yixing, dan Kyungsoo. Yang ia tahu hanyalah bahwa Kris adalah pemimpin pasukan ini serta orang yang bertanggung jawab untuk memindahkan mereka ke perkemahan tak bernama. Kenyataan bahwa ia ada di tempat ini, saat ini, membuat Jongin ketakutan dan penasaran di saat yang sama.
"Istirahat di tempat!" bentak Tao, postur tubuhnya begitu tegak seakan-akan ia dibuat oleh kawat.
Tubuh Jongin merespon perintah yang diberikan dan ia berdiri tegak, menatap lurus ke depan walau ia tak dapat melakukan standar baris-berbaris yang benar. Ia mendengar gumaman para pengawal di sekitarnya, dan di ujung penglihatannya, ia menangkap sosok pria jangkung berambut pirang. Bintang-bintang bergelantungan di seragamnya, bercahaya di tengah-tengah sinar mentari yang suram.
"kenapa mereka begitu kurus?" tanya Kris, dan Jongin merasa bahwa suara Kris sama beratnya dengan Chanyeol namun lebih kasar dan parau. "Kita punya cukup makanan, kan?"
"Ya, tapi beberapa tawanan mencuri hampir semua jatah makanan dan kabur," jawab Tao datar. Jongin meremang mendengar kebohongan tersebut namun ia hanya dapat menggigit lidahnya.
"Benarkah?" Kris mengangkat salah satu alisnya dan menatap Tao selama beberapa saat. Tao tak goyah sama sekali. Sebuah percakapan seperti sedang terjadi dalam tatapan tersebut, dan Kris memutuskan untuk mengganti topik dengan sebuah kerutan di wajahnya. "Kau tidak bilang kalau ada banyak wajah-wajah cantik disini, Taozi," ucap Kris dan Tao terlihat seperti tak bernafas lagi mendengar panggilan tersebut.
Mata Jongin terbelalak ketika ia melihat Kris menarik Luhan ke depan. Beberapa hari ini, Luhan tampak seperti kehilangan daging yang melekat di tubuhnya, dan Jongin hanya dapat meneguk rasa simpatinya pada laki-laki tersebut. Luhan berdiri dengan kedua tangan terperangkap dalam borgol besi. Kulit pucatnya bukanlah hasil dari kehancuran ataupun kekerasan, namun sebuah pikiran memuakkan muncul di kepala Jongin ketika ia mengingat bagaimana cara Tao memuji Luhan cantik.
Berbagai kemungkinan berkobar-kobar di kepalanya ketika ia melihat mata Tao terbakar oleh kemarahan saat Kris mengitari Luhan dan melahapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku suka dia," ujarnya, sebuah senyuman dingin terukir di wajahnya. "Kurasa ia bisa menjadi—"
"Kau tak menginginkannya," ucap Tao, suaranya terdengar seperti suara cambukan. Jongin melihat Luhan menggerenyit. "Ia cuma sampah."
'Jadi kau belum selesai dengannya?" tanya Kris. Semua prajurit hanya dapat menahan nafasnya mendengar tuduhan tersebut.
Mata Tao menghitam layaknya batu bara. Kris mendorong kepalanya ke belakang dan tertawa; menyuruh Luhan untuk kembali bergabung ke dalam barisan. Ia kembali mengitari barisan tawanan perang, menatap mereka dengan mata yang sehitam dan sedalam mata Tao.
"Tenang saja, Taozi.." ucapnya. "Aku tak akan memilihnya. Namun mungkin..." dan Jongin menghirup nafas dalam-dalam ketika Kris berhenti tepat di depannya; menghirup dalam-dalam keinginan agar Kris kembali berjalan. Dunia tetap berdiri diam. "Mungkin aku akan memilihmu," Kris terdengar seperti sedang mencumbu perkataannya; ia mengaitkan jemarinya pada dagu Jongin dan membuatnya mendongakkan kepalanya. "Kau sedikit buruk untuk digunakan, tapi lumayan juga," nafasnya berhembus panas di wajah Jongin.
"Kris."
Letupan kemarahan memenuhi nada bicaranya ketika ia mengucapkan nama Kris, dan Jongin sangat yakin bahwa suara tersebut adalah suara Kyungsoo. Kyungsoolah yang berjalan menghampirinya, tangan mungilnya melingkari siku Jongin dan menariknya mendekat; Kris melepaskan Jongin dengan girang.
"Ah, jadi kau mengklaim yang satu ini, Kyungsoo mungil?" Kris menyeringai. "Wow, aku terkejut."
Kyungsoo tak menjawab, kukunya terkubur pada salah satu sisi siku Jongin. Jongin memfokuskan pandangannya pada kaki langit.
"Yah, kurasa aku akan merelakan yang satu ini karena kau tak pernah mengklaim seseorang sebelumnya. Aku pilih yang ini saja," ucap Kris, mengangkat bahunya sembari menunjuk Baekhyun. Jongin dapat melihat bahwa Baekhyun gemetaran walau tubuhnya berdiri tegak. Kris hampir saja menyentuh Baekhyun ketika Chanyeol menghalanginya. Mereka berdiri berdekatan, tangan Chanyeol terkepal di depannya.
"Ia sudah ada yang punya," geram Chanyeol pada Kris.
"Mmm, aku bisa melihatnya," kali ini, perkataan Kris tak lagi acuh pada setiap kedengkian yang ia terima. "Well, ia milikmu." Ia kembali berjalan, memperhatikan barisan yang tersisa, namun tak ada lagi yang menarik perhatiannya. Tetap saja, Kyungsoo tak meninggalkan Jongin sama sekali, ia tetap berada di sisinya sepanjang perjalanan. Begitu pula dengan Chanyeol, ia mengikuti langkah Baekhyun dengan tatapan dingin di matanya.
Ketika Jongin melihat kesana kemari untuk mencari Yixing, ia menemukannya berjalan tak terlalu jauh dari Jongdae.
"Apa yang terjadi tadi?" tanya Jongin ketika mereka beristirahat. "Apa yang Kris lakukan?"
"Kelihatannya ia sedang apa?" Jawab Kyungsoo ketus dan Jongin menarik dirinya menjauh. Kyungsoo selalu bersikap netral, bahkan ketika suasana hatinya sedang buruk, dan ini adalah pertama kalinya Jongin melihat Kyungsoo bersikap ketus. Reaksinya tak dapat ditebak, dan sepertinya Kyungsoo telah menenangkan dirinya sedikit dengan menekan jemarinya pada pelipisnya. "Jongin, kau adalah tawanan perang yang kebetulan berwajah tampan, dan Kris sedang mencari seseorang untuk menghangatkan ranjangnya." Kalimat tersebut penuh oleh kebencian.
"Jadi apa yang dia maksud ketika dia mengatakan bahwa kau mengklaimku?" tekan Jongin. Hanya sedikit dorongan—sedikit dorongan dan ia akan mengetahui apa motif Kyungsoo.
"Aku mengklaimmu," ujar Kyungsoo sembari menyelendupkan sepotong roti ke tangan Jongin. "Aku mengklaimmu, menurutmu bagaimana?" matanya seolah-olah membakarnya—membakarnya supaya ia dapat melihat menembus jiwanya. Jongin merona.
Ia menunduk menatap potongan roti yang berada di tangannya. Kyungsoo mendesah dan menutupi tangan Jongin dengan tangannya, kulit putihnya tampak begitu kontras dengan kulit kecoklatan Jongin. "Tak usah kau pikirkan," ucapnya. "Aku harus mengatakannya."
"Tapi bukankah hal itu akan membuatku merasa lebih aman?" tanya Jongin spontan. Ia masih mendorong Kyungsoo, masih menggali-gali jawaban, dan kecurigaannya harus segera diperkuat atau disangkal.
Sebuah emosi tak bernama berkelap-kelip di mata Kyungsoo. Ia mendekat, mendekat, dan mendekat sampai jarak diantara mereka hanya dipisahkan oleh hembusan nafas. Hal tersebut membuat Jongin merasa sedikit pusing. Tatapannya turun ke bibir Kyungsoo kemudian kembali ke mata besarnya. "Apa kau ingin jadi properti Kris?" desis Kyungsoo. "Apa kau ingin menjadi budaknya, membersihkan kantornya siang malam? Apa kau ingin disetubuhi oleh Kris sampai darah mengalir keluar dari tubuhmu, sampai kau tak dapat berbuat apapun di atas lantai, sampai kau hanyalah seonggok tubuh yang membuatnya bosan dan akan dibuang begitu saja? Itukah yang kau inginkan, Jongin?"
Kesunyian berhembus di antara mereka. Jongin sadar bahwa beberapa orang tengah memperhatikan mereka. Walaupun mereka berbicara dengan volume pelan, mereka masih menarik perhatian orang lain. Akan tetapi Jongin merasa seakan-akan ia hanya bersama Kyungsoo. Seakan-akan mereka tengah mengendarai sebuah perahu yang dibiarkan berjalan ke perairan terbuka, jauh dari jangkauan orang lain.
"Tidak," ucap Jongin, perkataan tersebut terasa kering di bibirnya. "Tapi apakah menurutmu itu yang akan ia lakukan padaku?"
Kemudian, berbagai macam emosi mulai membuncah di tubuh Kyungsoo. Ia menarik diri menjauh, hanya sedikit, dan ia terlihat sangat lelah. "Ya," ia melepaskan tangan Jongin dan berdiri. "Habiskan makananmu."
Jongin masih mempunyai sebuah pertanyaan yang menggerutu di belakang kepalanya, sebuah pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab saat mereka mulai bersiap-siap: apa kau akan melakukannya?
Sesuatu di kepalanya mengatakan bahwa jawabannya adalah tidak. Namun ketika ia melihat langkah tenang Kyungsoo, Jongin tak begitu yakin.
Beberapa hari kemudian, Kyungsoo dan Jongin seperti bergabung menjadi satu tubuh. Kyungsoo tak pernah berjalan jauh darinya, memancarkan aura penuh keposesifan yang menjauhkannya dari pengawal lain dan membuat Kris tertawa saat ia melihat kedua laki-laki tersebut. Ia mendekati Jongin satu saat, matanya melahap prajurit yang terluka tersebut, dan Kyungsoo memberinya tatapan penuh peringatan yang begitu menghibur Kris. Ia menunduk dan membisikkan sesuatu pada telinga Kyungsoo, dan rona merah muda membuncah pada pipi Kyungsoo.
"Apa?" tanya Jongin ketika Kris kembali berjalan ke depan. "Apa yang Kris katakan?"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan mendorong Jongin kembali dalam barisan. "Tidak penting."
Ia semakin nyaman bersama Kyungsoo. Seiring berjalannya waktu, Jongin menyadari bahwa Kyungsoo tak pernah memiliki maksud buruk. Ia, Chanyeol, dan Yixing adalah para pengawal yang tak menyetujui tindakan Tao. Sering kali ia melihat mereka bertiga mengambil tindakan ketika Tao mulai bersikap keterlaluan; walaupun ia juga tahu bahwa mereka tak berdaya ketika bersama Tao. Ketika sang kolonel bermata hitam tersebut mengambil alih barisan tanpa adanya Kris untuk mengendalikannya, Kyungsoo menarik Jongin menjauh. Paling tidak ia punya kekuatan untuk melakukan hal tersebut; dan walaupun Tao memberikannya tatapan jijik, ia mengabaikannya. Jongin hanya dapat menundukkan kepalanya.
Ketika Kyungsoo merawat luka-luka yang mengotori tubuh Jongin, sesekali ia melirik laki-laki di balik seragam tersebut. Ia melihat laki-laki yang tidak suka menyiksa orang lain, laki-laki yang ikut berperang namun mencari kedamaian di saat yang sama, laki-laki yang menyelundupkan makanan pada prajurit yang membutuhkan. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi peliharaan Kyungsoo, mengapa Kyungsoo memutuskan untuk mengklaimnya, namun Jongin tak lagi curiga padanya.
Mungkin hal itu disebabkan oleh rona kemurnian yang terpancar pada tubuh Kyungsoo tiap kali ia berbicara agar Tao menghentikan pemunuhan masal yang dilakukannya. Mungkin hal itu disebabkan oleh bagaimana tangan Kyungsoo terasa begitu lembut pada kulit Jongin saat ia membubuhkan obat salep dan mengucapkan kalimat-kalimat menyejukkan tiap kali Jongin mengernyit kesakitan. Mungkin hal itu disebabkan oleh kebaikannya yang begitu kontras dengan posisinya dalam kemiliteran, topeng yang ia pakai tampak begitu dingin dari yang lain saat ia mencoba membantu prajurit-prajurit yang jatuh untuk kembali sehat.
Jongin bertanya mengapa? Dan ia tak pernah menemukan jawabannya; namun saat ini ia merasa bahwa ia telah menemukan jawabannya. Mungkin ia telah mengetahuinya sejak dulu.
Walaupun hal tersebut tak membuat segalanya menjadi lebih mudah.
Perhentian terakhir mereka sebelum sampai ke tempat tujuan adalah sebuah perkemahan yang tampak lebih baik dari perkemahan-perkemahan mereka yang sebelumnya. Terdapat sebuah gedung besar yang diisi oleh ranjang susun untuk para tawanan, dan roti yang dibagikan kali ini lebih segar dari sebelumnya. Selain itu, para tawanan juga mendapatkan semangkuk kecil sup. Akan tetapi, walaupun para tawanan dapat beristirahat dan melepaskan ketegangan mereka, meringkuk rapat seakan-akan terdapat pegas dalam tubuh mereka, mereka tahu bahwa ada sesuatu yang aneh. Ini hanya permulaannya saja.
Tepat setelah makan malam, Jongin mendapati dirinya ditarik menjauh oleh Kris. Ia mengumpulkan segenap keberanian yang ia punya, sadar bahwa Kyungsoo mungkin terlalu sibuk dan dia hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri. Perkataan Kyungsoo kerap terulang di pikirannya. Kris mengajaknya berbasa-basi dan Jongin hanya menjawabnya dengan satu kata, ia meningkatkan kewaspadaannya dan memastikan diri untuk tidak menurunkannya.
Ia dibawa ke sebuah gedung tempat para pengawal beristirahat, dan Kris menyadari kerutan di wajah Jongin. "Oh, tenang saja," ia berkata dengan suara seraknya. "Aku hanya mengantarmu ke pemilikmu," Kris tertawa, dan bulu kuduk Jongin berdiri seketika saat ia tahu apa maksud Kris sebenarnya. Ia tak memiliki kesempatan untuk menyanggah sebab Kris telah mengetuk pintu gedung tersebut dan Kyungsoo membukanya, berbalut t-shirt putih sederhana dengan celana jeans karena waktu tidur akan segera tiba. Ia menatap Kris dengan muram.
"Ada apa?" tanya Kyungsoo, alisnya menyatu.
"Kukira kau ingin sebuah hadiah," jawab Kris, dan kerutan pada wajah Kyungsoo semakin mendalam. Kemudian Kris mendorong Jongin ke dalam pelukan Kyungsoo dan laki-laki yang lebih mungil mengerjap terkejut, tersandung-sandung kembali ke kamarnya. Sebelum Kyungsoo sempat berkata apapun, Kris telah menutup pintu kamarnya. Ia bahkan mengunci pintunya.
Ia melepaskan dirinya dari Jongin dan menggoyang-goyangkan daun pintu kamarnya pasrah. Mereka telah dikunci. "Kris!" Ia berteriak sembari mengetuk-etuk pintu kamarnya dengan keras.
"Nikmatilah!" Kris berteriak balik, dan mereka dapat mendengar suara tawanya saat ia berjalan menjauh.
Kyungsoo berbalik ke arah Jongin dan menjatuhkan dirinya pada sebuah kursi. "Maaf," ucapnya sembari menyisiri rambutnya. "Kris.." ia tak menyelesaikan kalimatnya, malahan, ia menghela nafas panjang.
Jongin mengerutkan keningnya. Kyungsoo selalu bersikap tenang, mungkin terkadang keras, namun ia tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Melihat betapa rentannya ia sekarang membuat hatinya sakit, dan sebelum ia dapat berkata bahwa tempat ini bukanlah tempatmu, ia berlutut di depan Kyungsoo. Jongin mengulurkan tangannya dan mengelus dagu Kyungsoo. Kyungsoo mengerjap ke arahnya, bibirnya terbuka oleh keterkejutan.
"Kau tampak lelah," Jongin terlena oleh betapa lembutnya pipi Kyungsoo. "Kau perlu istirahat."
"Aku—yeah, ini karena perjalanan panjang yang kita lakukan," jawab Kyungsoo tergagap-gagap. Kemudian, seakan-akan ia tak dapat lagi menatap wajah Jongin, ia memalingkan mukanya. "Kau juga lelah. Kita semua lelah."
"Kyungsoo."
"Apa?" tanya Kyungsoo, rasa frustasi mengalir dalam nada bicaranya. Dadanya naik turun seiring dengan hembusan nafasnya.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Tidak ada," jawab Kyungsoo. "Kau tak harus melakukan apa-apa, Jongin. Tidurlah." Ia mengangkat tangannya dan melepaskan jemari Jongin dari dagunya. Akan tetapi hal tersebut tak membuat Jongin berpaling dari fakta bahwa Kyungsoo gemetaran.
"Ada apa, Kyungsoo?"
"Tak ada apa-apa, Jongin," Kyungsoo bersikeras. "Demi Tuhan, Jongin, tidurlah."
Jongin memikirkan hal ini untuk beberapa saat. "Tapi bagaimana denganmu?"
"Jangan khawatirkan aku," ucap Kyungsoo. "Khawatirkan dirimu sendiri."
Dan Jongin tak lagi menunggu perkataan Kyungsoo selanjutnya, tak tahu jika perkataan itu akan keluar dan dibiarkan menggantung di udara begitu saja. "Aku tak bisa tak mengkhawatirkanmu kalau kau bersikap seperti ini."
Ia mendengar helaan nafas Kyungsoo, marah dan tak percaya. Mereka saling bertatapan, mengingat-ingat wajah satu sama lain, merencanakan berbagai cara untuk membuat situasi ini tidak lagi canggung. Kyungsoolah yang pertama kali memalingkan wajah, menatap ke arah hal-hal lain selain Jongin; jemarinya terkepal gugup.
"Kau kurang tidur, Jongin. Kau bisa memakai ranjangku."
Jongin kelelahan. Ia kelelahan dan mungkin lebih lesu dari biasanya, namun ia tahu bahwa ia bersikap jujur. "Aku masih sadar, Kyungsoo," ujarnya, "dan aku sungguh-sungguh dengan perkataanku."
"Jongin," ujar Kyungsoo, suaranya kini berubah menjadi potongan-potongan gema. "Jongin, tolong. Jangan membuat hal ini menjadi lebih sulit. Tidurlah."
"Kalau begitu tidurlah denganku," usul Jongin tegas, ia bahkan tak bertanya-tanya bagaimana ia mendapat keberanian untuk mengatakan hal tersebut. Ia mengangkat Kyungsoo dari tempat duduknya dan membawanya ke ranjang, namun Kyungsoo tetap bertahan di tempatnya.
"Apa—apa yang kau katakan?" tanya Kyungsoo. "Lepaskan aku, Jongin, aku tak akan—"
Dan Jongin tak tahu mengapa malam itu ia begitu muak dengan semua kebohongan Kyungsoo. Ia muak dengan dalih dan perasaan yang dibiarkan berdebu. Dalam hitungan detik, ia mengapit Kyungsoo pada dinding. Ini pertama kalinya Jongin merasa sangat kuat, dan ia bergerak mendekat ke arah Kyungsoo hingga jarak diantara mereka hanya tinggal satu inci. Jongin tenggelam dalam mata kecoklatan Kyungsoo.
"Kenapa?" tanya Jongin pelan. "Apa kau takut akan sesuatu?"
Kyungsoo terkejap dan menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Kalau begitu, buktikanlah," ucap Jongin. Ia berdiri terlalu dekat dengan Kyungsoo. Saking dekatnya, hidungnya pun dapat menyentuh kening Kyungsoo. "Tidurlah denganku."
Ketika Kyungsoo mulai berbicara, suaranya terdengar parau. "Aku tak bisa."
"Kenapa tidak?" Jongin kebingungan; ia mencoba menguraikan emosi yang terdapat dalam tubuh Kyungsoo.
"Bukankah sudah jelas?" Kyungsoo hampir terdengar kesakitan. "Setelah semua ini, bukankah sudah benar-benar jelas?"
Jongin begitu bodoh karena ia tak memahaminya, ia masih tak memahaminya, dan jawaban Kyungsoo bisa berarti hal yang lain—
Namun Jongin tak diberikan kesempatan untuk memikirkannya karena Kyungsoo menyentakkannya ke lantai dengan kasar, dan Jongin mengerang saat bibir Kyungsoo menyatu dengan bibirnya. Tangan-tangan mungil berkobar pada kulit Jongin saat mereka masuk ke dalam t-shirtnya, menyusuri garis dan bidang tubuhnya. Jongin mendapati dirinya kesulitan bernafas dibuatnya.
Cara Kyungsoo menciumnya begitu manis dan lembut, namun juga menghancurkan di saat yang sama. Mereka berciuman seakan-akan malam ini adalah malam pertama dan terakhir bagi mereka. Mereka telah membangun momen ini untuk beberapa waktu yang lama; mungkin mereka telah lama berjalan menuju momen ini semenjak pertemuan pertama mereka, dan Jongin mencoba untuk menyangkalnya selama ini. Jongin begitu ingin meleleh saat ini—hasrat menjadi sebuah aliran listrik dan Jongin ingin tenggelam didalamnya.
"Karena inilah, Jongin," ucap Kyungsoo di tengah ciuman mereka, bibirnya mengisap kulit leher Jongin. Jongin tak melakukan apapun untuk menghentikan desahan yang keluar dari mulutnya, dan ia menyentakkan kepalanya ke belakang. "Apa kau masih ingin aku menjelaskannya padamu?"
"Ya," erang Jongin sembari membubuhi pipi Kyungsoo dengan ciuman. "Di ranjang saja, tolong."
Kyungsoo berhenti. Ia menatap Jongin dengan tatapan yang terpenuhi oleh berbagai macam emosi, namun Jongin menangkap adanya kemesraan serta kegusaran dalam tatapannya. Ia tampak rentan lagi.
"Apakah kau..." bisiknya, emosi batin meluap dalam dirinya.
"Seberapa sering lagi aku harus meyakinkanmu?" pinta Jongin, dan kepercayaan diri kembali muncul dalam mata Kyungsoo. Kemudian, kemudian bibirnya kembali menyatu dengan bibir Jongin. Lidahnya bergerak menyusuri bagian bawah bibir Jongin, dan ia mendorong Jongin ke atas ranjang dengan kekuatan yang tak cocok dengan tubuh mungilnya.
Mereka telah terluka oleh peperangan. Jongin adalah seorang tawanan dan Kyungsoo adalah salah seorang prajurit yang menangkapnya, namun ia sadar bahwa Kyungsoo tak pernah menginginkan hal ini. Ia telah mencoba untuk bernegosiasi antar dua kubu dan ia gagal untuk meringankan kondisi para tawanan. Dan mungkin, mungkin kedua tangan mereka telah ternodai oleh darah, mungkin tak akan ada akhir bahagia yang dapat ditemukan di tempat ini. Namun Jongin akan mengambil malam ini; ia akan mengambil segala kesempatan yang ia punya.
Dan Jongin tahu bahwa Kyungsoo akan melakukan hal yang sama.
Ia terbangun oleh bibir lembut yang menempel erat pada tubuhnya, harum tubuh Kyungsoo memeluknya bagaikan kulitnya sendiri. Jongin melingkarkan lengannya pada pinggang Kyungsoo dan menekan tubuh mereka berdua berdekatan. Tak ada jarak di antara mereka, yang ada hanyalah dua hati yang menunggu waktu yang tepat untuk bersatu.
"Apakah ini..." suara Kyungsoo sedikit pecah ketika ia menemukan bekas luka yang menghiasi punggung Jongin. Luka itu berada dimana-mana, menciptakan sebuah jalan menuju mimpi buruk tiap kali Jongin memejamkan matanya. Tetap saja, ia merasa aman, puas bahkan, bersembunyi di bawah selimut bersama Kyungsoo.
"Yeah," ucap Jongin sembari mencium kelopak mata Kyungsoo. "Luka ini kudapat saat seseorang mencoba kabur dari perkemahan untuk pertama kalinya." Ia menahan pasang surut memori yang datang setelahnya, mencoba menghapus gambaran akan tumpukan mayat yang dibiarkan membusuk di tengah tenda.
Kyungsoo mengerutkan keningnya, tidak senang. "Berbaliklah," ujarnya.
"Kenapa?"
"Aku ingin melihatnya." Kyungsoo menatapnya. Terdapat sesuatu dalam mata Kyungsoo yang membuat Jongin menuruti perkataannya; ia membalikkan tubuhnya supaya punggungnya berhadapan dengan Kyungsoo.
Jongin hampir saja lupa bernafas ketika bibir dan lidah Kyungsoo mulai menyusuri bekas luka di punggungnya. Kyungsoo mencengkram bahunya.
"Kau sempurna," gumam Kyungsoo, dan ketika sesuatu yang basah mengalir pada lukanya, Jongin menyadari bahwa ia menangis. Kyungsoo menangis untuknya, dan ia merasakan urat nadinya mulai berdenyut keras.
"Kyungsoo?" ujarnya. "Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu namaku? Kenapa aku?"
"Kenapa bukan kamu?" bisik Kyungsoo, dan ia membubuhkan ciuman pada leher Jongin.
Jongin mencibir. "Ayolah, Kyungsoo." Ia dapat merasakan sebuah senyuman terukir pada bibir Kyungsoo.
"Aku telah mengenalmu jauh sebelum pasukan kita menangkap pasukanmu," akunya. Ia mulai menggosok-gosok kulit Jongin. "Maksudku, siapa yang tidak mengenalmu? Kau termasuk prajurit termuda dan terbaik dalam pasukanmu. Tiap kali aku bernegosiasi dengan Joonmyeon, aku memperhatikanmu berdiri tepat di belakangnya, siap untuk melindunginya kapan saja."
"Tapi kenapa aku tak pernah menyadari keberadaanmu?" tanya Jongin. Ia ingat bahwa ia ditugaskan untuk menjadi pengawal Joonmyeon, senantiasa berjaga penuh waspada akan serangan yang dapat dilancarkan musuh kapan saja. Ketegangan selalu berada di puncaknya selama keadaan tersebut dan tak seorang pun mencapai kata mufakat.
"Terlalu fokus," Kyungsoo tertawa. "Kau terlalu fokus pada para pengawal yang menjagaku, aku ragu apakah kau pernah memperhatikan prajurit yang sedang bernegosiasi dengan Joonmyeon."
"Benar juga," ucap Jongin sembari membalikkan badannya menghadap Kyungsoo lagi. Air matanya telah mengering. Yang tersisa hanyalah gemilang kebahagiaan pada mata Kyungsoo.
"Apa kau pernah berpikir untuk kabur?" tanya Kyungsoo sembari menyisiri rambut Jongin.
Jongin terpaku. "Apa?"
Kyungsoo menggigit bibirnya. "Karena aku pernah," gumamnya. "Aku selalu merenungkannya. Semenjak Kris melemparkan tanggung jawab pada Tao sepanjang perjalanan, aku ragu mengapa aku menjadi bagian pasukan ini. Sering kali aku berpikiran untuk pergi, namun... sesuatu membuatku tetap tinggal." Itu kamu, matanya seolah mengatakan hal tersebut, namun ia tak juga menyuarakan pikirannya.
"Itu pekerjaanmu," Jongin merasa tak berdaya. "Aku tak mengatakan bahwa siksaan ini benar, hanya saja—"
"Aku tahu, aku tahu," ujar Kyungsoo sembari memalingkan mukanya. "Aku seorang perwira, seharusnya aku tak berpikiran seperti ini," ia mendesah. "Kau adalah prajurit yang lebih baik dariku, Jongin. Kau lebih berdedikasi daripada aku."
"Tak usah terlalu dipikirkan," bisik Jongin sembari menyapu poni yang menutupi mata Kyungsoo. "Okay?"
Kyungsoo mendengung namun ia tak merespon.
Disini, di dalam kegelapan, Jongin berpikiran untuk kabur. Namun kemudian, ia memikirkan konsekuensinya. Konsekuensi akan harga dirinya yang tak akan membiarkannya menyerah, dan akan bagaimana ia tak senang memikirkan kepergian Kyungsoo.
Ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terlelap.
Jongin berjalan keluar dari kamar Kyungsoo. Ia hendak bergabung kembali dengan tawanan lain ketika Tao menghampirinya. Sebelum ia dapat membungkuk untuk memberi hormat pada sang kolonel bermata hitam, Ia didorong ke dinding dengan keras. Tao terbakar oleh kemarahan dari ujung kepala hingga kaki, dan Jongin mengerang kesakitan ketika ia merasakan hentakan pada perutnya. Matanya berair.
"Kemana mereka pergi?!" semprot Tao, giginya memperlihatkan kekejaman yang sangat dahsyat dan hal tersebut membuat Jongin terguncang. "Katakan padaku, atau kupenggal kepalamu yang cantik—"
"Lepaskan tanganmu darinya."
Jongin tak dapat menggerakkan kepalanya, tidak ketika Tao menahannya dengan pisau menempel erat pada tenggorokannya; ia hampir saja menghela nafas lega ketika mendengar suara Kyungsoo dari kejauhan. Ia bertanya-tanya sudah berapa kali Kyungsoo datang menyelamatkannya di saat yang kritis. Aneh rasanya mengetahui bahwa Jongin tak pernah berterima kasih akan hal ini, namun kini ia melakukannya.
Tao melepaskannya dan Jongin terhuyung-huyung ke belakang, tepat ke pelukan Kyungsoo. Ia sempat melihat tubuh Kyungsoo berubah kaku ketika ia memperhatikan bekas sayatan di leher Jongin. Laki-laki yang lebih mungil berpindah sedikit dan membiasakan diri dengan berat badan Jongin di pelukannya.
"Kyungsoo," geram Tao. "Apakah otakmu juga dicuci?"
"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan," ucap Kyungsoo. "Aku juga yakin bahwa Jongin tak ada hubungannya dengan ini."
Tao menyeringai, mencoba menenangkan diri, namun Jongin masih dapat melihat kemarahan di mata Tao. "Chanyeol kabur," umumnya, dan hal tersebut membuat Jongin dan Kyungsoo terpaku di tempat. "Bajingan itu kabur semalam dan ia membawa seorang tawanan bersamanya." Tangan kanannya mulai bermain-main dengan pisau yang dibawanya.
Jongin tak dapat berkata apapun. Di satu sisi, Baekhyun dan Chanyeol aman—dari nada Tao berbicara, ia tahu bahwa mereka belum ditemukan. Di sisi yang lain, ia tak tahu mengapa Chanyeol memutuskan untuk mengkhianati pasukannya sendiri dengan mudah, tak peduli betapa keterlaluannya kolonel mereka. Hal tersebut membuatnya merenungkan percakapannya dengan Kyungsoo semalam.
"Kita tak tahu apapun mengenai hal ini, Tao," ucap Kyungsoo, pandangannya hampa. "Kris dapat memberikan kesaksian bahwa kita tidak keluar sama sekali dari kamarku semalam. Ia sendiri yang mengunci kita."
"Bukan itu alasanku kemari," ucap Tao, suaranya tedengar berbahaya. "Kau begitu lemah, Kyungsoo. Sebelum kau menyadarinya, sampah masyarakat ini," Tao hampir saja meludahinya. "Akan melingkarimu dengan jemari-jemari lentiknya dan membuatmu kabur seperti Chanyeol."
Mata Kyungsoo menyorotkan sesuatu yang tak dapat dilihat. Tangannya menggenggam tangan Jongin erat-erat. "Jangan panggil dia dengan sebutan itu," ucapnya. Perkataan Kyungsoo membuat bulu kuduk Jongin berdiri.
"Jangan panggil dia apa?" tanya Tao mengejek. "Sampah masyarakat? Apa kau lebih suka keparat? Bajingan? Bedebah? Brengsek—"
Lalu semuanya berubah menjadi kabur. Jongin merasakan tangan Kyungsoo menjauh darinya dan dalam hitungan detik, Kyungsoo menyerang Tao dan Tao terjerembab ke tanah, tangannya berusaha menahan darah yang mengalir dari bibirnya. Kyungsoo tampak belum selesai dengan perbuatannya, tangannya telah merogoh-rogoh sarung pistol di pinggangnya. Jongin dengan cepat menghentikan Kyungsoo dari aksinya.
Kyungsoo melepaskan Tao, wajahnya masih tampak dingin. "Begitukah kau memanggil Luhan?" bisik Kyungsoo. "Tak heran ia tak membiarkanmu menyentuhnya."
Tao mendongak, matanya meluapkan kebencian. Ia menyeka darah yang ada di dagunya. "Kau akan membayar ini," ancamnya.
Mereka saling bertatapan dalam waktu lama. Kemudian, Kyungsoo berkata, "Ingatlah bagaimana kau bisa mendapatkan posisimu saat ini."
Dengan marah, Tao berbalik dan berjalan menjauh.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jongin sembari memeriksa wajah Kyungsoo dari luka-luka yang mungkin menghiasi wajahnya. Kelihatannya Kyungsoo tak terluka sedikit pun namun hatinya masih berdegup kencang.
"Aku baik-baik saja.." tatapan Kyungsoo tampak muram. "Jadi Baekhyun dan Chanyeol benar-benar melakukannya.."
Jongin mengangkat alisnya. "Jadi kau telah mengetahui hal ini," ucapnya, dan dia tak tahu mengapa nada bicaranya terdengar seakan-akan ia menuduh Kyungsoo.
"Tidak secara rinci, tidak," ucap Kyungsoo sembari menggelengkan kepalanya. "Namun aku tak berniat untuk menghentikan mereka."
Alis Jongin berkerut. "Itu tidak benar—"
"Hanya itu satu-satunya kesempatan yang mereka punya," elak Kyungsoo. Matanya berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi lain dan ia merendahkan volume suaranya sehingga tak akan ada yang dapat mendengar mereka. "Dengar, aku tahu kau tak menyukai ide untuk kabur. Kau terlalu patuh pada integritasmu sebagai prajurit. Tapi Jongin, kita juga tak punya pilihan."
"Kita punya pilihan, Kyungsoo," ucap Jongin. Tubuhnya bergetar hebat, rasa panik menguasai dirinya. "Kita—"
"Tao mengincarmu!" semprot Kyungsoo, dan Jongin merasa seakan-akan ia didorong masuk ke dinding dengan keras. "Kau yang selanjutnya, Jongin. Ia akan bermain-main denganmu dan menyiksamu segera setelah aku mengalihkan pandanganku darimu. Dan yang benar saja, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi!"
Kalau begitu jangan alihkan pandanganmu dariku, pikir Jongin. Namun ia tak dapat mengatakan hal tersebut, tak akan pernah; ia tak bisa meletakkan beban ini di bahu Kyungsoo sendirian. Ia sadar bahwa rencana ini ditujukan untuk keselamatannya jadi ia menundukkan kepalanya dan mengangguk. Ia masih tak menyukai ide tersebut namun Kyungsoo ada benarnya juga.
"Okay," ujarnya sembari memejamkan mata dan menghela nafas. "Okay,"
"Kita tak akan melakukannya sekarang karena mereka akan berjaga lebih ketat dari sebelumnya setelah kaburnya Chanyeol dan Baekhyun." Ujar Kyungsoo sembari menangkup wajah Jongin. "Segera. Aku akan merencanakannya, kau hanya perlu bersikap normal."
Jongin mengangguk, namun perasaan aneh mulai merasuki dirinya. Ketika ia melihat senyuman hangat Kyungsoo, ia bertanya-tanya apakah hal ini akan menjadi sebuah awal, atau sebuah akhir.
Ia harus mempercayai Kyungsoo.
Sulit rasanya bersikap normal jika terdapat rahasia-rahasia yang bermain-main di dadamu. Ketika Jongdae memberitahunya, dengan muka pucat pasi, tentang rumor mengenai kaburnya Baekhyun dan Chanyeol, Jongin tak memberitahunya bahwa mereka belum juga ditemukan. Sejauh yang ia tahu, Tao membohongi seluruh tawanan dengan mengatakan bahwa ia telah menembak mati mereka berdua.
Ia tak tahu bagaimana caranya mengucapkan selamat tinggal pada Jongdae. Bahkan sampai sekarang, ia masih berpikir bahwa meninggalkan teman yang ia dapat selama perjalanan ini tidak cocok dengan kepribadiannya, namun Jongin coba mengalihkan hal tersebut dengan percakapan tengah malam mereka. Ia tidak pernah bertanya apakah Yixing pernah berpikiran untuk membawa Jongdae kabur; subjek tersebut adalah subjek yang sebaiknya dibiarkan berkerut agar tak ada yang terluka.
Kyungsoo masih berkeliaran di dekatnya, matanya menatap waspada tiap kali Tao berjalan ke arah Jongin. Ia tak pernah memberitahu rencananya pada Jongin, bahkan ketika ia membawa Jongin kembali ke kamar. Namun sesekali Jongin dapat merasakan adanya urgensi pada sikap Kyungsoo, terlihat jelas dari sikapnya yang selalu sibuk dengan sesuatu, selalu terlihat tergesa-gesa. Jongin ingin membantunya, namun ia sadar bahwa tak ada yang dapat ia lakukan untuk Kyungsoo.
Hari demi hari telah berlalu di perkemahan. Mobil box kerap berdatangan dan semua orang terlalu sibuk dengan persiapan menuju tempat perhentian terakhir. Jongdae memberitahunya bahwa perhentian terakhir mereka adalah sebuah penjara dan bilik penyiksaan, dan Jongin mencoba untuk tidak membiarkan hal tersebut mempengaruhinya. Ia hanya menunggu, menunggu sinyal dari Kyungsoo, menunggu saat rencana mereka akan dijalankan.
Hal ini terjadi setelah makan malam. Jongin sedang berjalan masuk ke kamar Kyungsoo ketika seseorang menekan jari telunjuknya pada bibirnya. Jongin segera menyadari apa yang terjadi. Malam ini adalah saatnya; Kyungsoo menyelendupkan berbagai macam senjata pada kantong yang tersembunyi di dalam seragamnya, senjata-senjata lain ia masukkan ke dalam tas mungil yang tak akan memperlambat mereka.
"Apa kau yakin mengenai ini?" gumam Jongin ketika Kyungsoo memberikannya sebuah pistol. Sudah lama ia tak memegang sebuah senjata dan hal itu membuatnya kagum akan seberapa besar Kyungsoo mempercayainya.
"Ya," ujar Kyungsoo dengan keyakinan yang hampir mempesona Jongin. Hampir.
Kemudian, seakan-akan ia tak dapat menahan diri, ia menarik Jongin untuk sebuah ciuman yang panas, dan ia mengucapkan kata-kata yang tak dapat ia katakan keras-keras. Jongin mendengarnya, keras dan jelas; ia mendengar kata-kata yang dibiarkan tak terucap, perasaan yang ia balas, bahkan saat Kyungsoo menghisap luka memar di lehernya.
"Jongin, apapun yang terjadi," ucap Kyungsoo saat ia melepaskan diri dari bibir Jongin. "Apapun yang terjadi, ketahuilah bahwa aku tak pernah berhenti memikirkanmu." Jemari-jemarinya melingkar erat di sekitar pinggang Jongin. "Jika—jika kita tertangkap, jika mereka memberitahumu bahwa apapun yang kukatakan padamu tidaklah benar, jangan pernah mempercayai mereka. Percayalah padaku, Jongin, tak peduli apapun yang mereka katakan. Percayalah bahwa tak sekalipun aku pernah berbohong padamu. Tak pernah, Jongin, tak pernah."
"Aku percaya padamu," ucap Jongin, dan ia juga ketakutan, ia begitu ketakutan hanya dengan memikirkan bahwa ia akan terbakar. "Aku akan selalu mempercayaimu."
Mereka berdiri di tempat selama beberapa saat, kening saling bertemu satu sama lain, mata mencoba mengingat-ingat penampilan masing-masing. Menyimpan gambaran saat ini jauh di dalam pikiran mereka: lekukan di pipi masing-masing, bibir halus masing-masing, bulu mata lentik masing-masing, serta bekas ciuman di kulit masing-masing. Aku cinta kamu adalah kalimat yang tak mereka ucapkan, namun ketiga kata itulah yang muncul di ruangan sempit ini.
Kyungsoo menghirup nafas dalam. "Ayo."
Mereka berhasil melewati pengawal-pengawal yang berjaga, tertatih-tatih berjalan menuju hutan yang berbatasan dengan perkemahan mereka. Jongin tahu mereka masih jauh dari aman; ia dan Kyungsoo telah berusaha berlari secepat mungkin. Mili demi mili terlewati, jarak mulai tumbuh di antara mereka dan perkemahan, namun mereka masih belum setengah jalan dari tempat yang Kyungsoo perkirakan ketika ia mendengar suara gaduh di belakang mereka. Teriakan serta derap langkah kaki mulai terdengar, cahaya lampu mulai menerangi hutan tempat mereka berlari.
Jongin membuang jauh-jauh kegelisahan yang merasukinya. Ia dan Kyungsoo kerap berlari ke depan, kaki memukul-mukul lantai hutan di bawah mereka, mencoba menggapai kebebasan yang menunggu mereka di sisi lain hutan. Mereka sangat, sangatlah dekat—mereka hanya perlu menuju tempat pertemuan mereka, menuju mobil yang siap membawa mereka pergi.
Ia melihat Kyungsoo jatuh terjerembab ke tanah, melihat peluru yang menembus tubuhnya. Jongin berhenti dan berbalik ke arah Kyungsoo yang terjatuh, dan ia mencoba untuk menghentikan dirinya dari menangis saat darah menodai tangannya.
"Jongin, pergilah," ucap Kyungsoo, mencoba mendorongnya menjauh. "Pergilah!"
"Aku tak akan meninggalkanmu," ucap Jongin setengah berteriak. "Aku tak akan meninggalkanmu."
"Kau bilang kau akan mempercayaiku apapun yang terjadi," mata Kyungsoo menyorotkan keputusasaan. Pengejar mereka hampir sampai di tempat mereka. "Percayalah padaku Jongin, percaya saja dan pergilah."
Jongin tak bisa. Ia tak bisa, dan ia tahu bahwa Kyungsoo mengetahuinya karena ia memalingkan mukanya. "Maafkan aku," bisiknya.
Dan saat para pengawal mengepung mereka, ujung senapan mereka memukul tubuh Jongin, ia tak melepaskan pandangannya dari Kyungsoo. Begitu pula dengan Kyungsoo. Terdapat keributan yang menelan mereka utuh, sebuah hukuman yang tak lama lagi datang, namun yang Jongin lihat hanyalah cahaya di mata Kyungsoo. Ia melihat memori yang mereka bagi bersama, berbagai macam gambaran datang silih berganti di pikirannya, gambaran tak berujung akan siksaan yang mereka terima dan akan terus berlanjut.
Bintang-bintang di seragam Kyungsoo berkedip redup pada cahaya suram, dan seragam Jongin mulai tergores. Mungkin, di kehidupan lain, hal ini tak akan terjadi. Mungkin, di waktu yang lain, mereka tak akan terperangkap dalam keadaan yang sama. Jongin membiarkan pikiran tersebut terulang-ulang dalam pikirannya ketika kesadarannya mulai berada di ambang batas. Kyungsoo mulai melepaskan genggamannya dari tangan Jongin, dan ia dapat mendengar tawa mengejek Tao dari kejauhan.
Jongin tak melepaskan tangan Kyungsoo selama pukulan demi pukulan yang mereka terima. Bahkan ketika mereka dibawa kembali ke perkemahan, tangan mereka masih bertautan.
Ia telah mengekspektasi hal ini.
Ketika dirinya dan Kyungsoo tertangkap, Jongin telah mengekspetasi hal ini. Namun hal tersebut tak membuatnya merasa lebih baik, hal tersebut tak dapat menahan rasa sakit yang menimpanya. Ia berhenti bertanya-tanya mengapa Tao lebih memilih untuk menyiksanya daripada membunuhnya—sekarang, semuanya sudah jelas. Tao ingin membalaskan dendamnya pada Kyungsoo.
Tali temali menjerat tangan serta kakinya, dan Jongin tergantung di udara, telanjang. Ia menggertakkan giginya ketika peluh keringat membasahi sayatan di tubuhnya. Darahnya menggenang di suatu tempat di bawah kakinya, dan Tao berjalan melingkarinya seperti seekor singa yang mengejar mangsanya. Terdapat sebuah cambuk di tangannya; cambuk tersebut terlapisi oleh darah Jongin yang mengering.
"Tubuhmu begitu menakjubkan," ujar Tao, mata hitamnya berkilau penuh hasrat. "Tak heran Kyungsoo begitu menyukaimu. Sayang sekali ia tak dapat menikmatinya lagi." Dengan sebuah gelak tawa yang membelit perut Jongin, Tao menguraikan cambukannya. Tak lama kemudian, ia mengibaskannya pada punggung Jongin.
Jongin menggigit bibirnya, rasa sakit yang diterimanya begitu menakjubkan sampai-sampai dapat mengubahnya menjadi seonggok daging yang tak berguna. Sebuah tangan menarik kepalanya ke belakang dengan keras, dan jerit tangis yang telah tersimpan dalam-dalam tak dapat menahan dirinya lagi. Senyum penuh kepuasan terukir di bibir Tao, dan Jongin tak dapat menghitung sudah berapa banyak cambukan menghiasi dirinya. Ia bahkan tak dapat berdiri tegak lagi. Tali-tali tersebut mengikis kulitnya.
"Dimanakah Kyungsoomu yang berharga sekarang?" gumam Tao di telinganya. "Kenapa ia tak juga datang menyelamatkanmu?"
Jongin memejamkan matanya dan berusaha mencari udara segar. Hal itulah yang membunuhnya, menghancurkannya: Ketidakpastian. Ia tak tahu apakah Kyungsoo masih hidup atau tidak. Yang ia ingat hanyalah cara mereka memisahkan dirinya dengan Kyungsoo, dan hal tersebut begitu menyakitinya lebih dari cambukan yang ia terima. Hal tersebut merasuki hatinya.
Akan tetapi, Jongin merenung, ia tidak yakin apakah ia ingin Kyungsoo tetap hidup jika ia mengalami hal yang sama dengan apa yang ia alami saat ini. Ia tidak ingin membayangkan Kyungsoo diikat seperti dirinya, tergantung di langit-langit, sebuah cambuk merusak kulit pucatnya. Ia tidak ingin memikirkan darah yang mengalir dari tubuh laki-laki yang lebih mungil, begitu pula dengan penyiksaan yang tak dapat ditanggung oleh tubuh mungilnya.
Jumlah pembelot lebih rendah daripada jumlah orang-orang yang lolos di dunia ini.
Entah bagaimana, Jongin pingsan. Ia hanyut dalam kenangan—Sehun tertawa saat ia berhasil mengenai semua target; ibunya menyetrika seragamnya; ayahnya berkata, aku sangat bagga padamu, Jongin; Jongdae menyanyikannya sebuah lagu pengantar tidur pada malam saat bintang-bintang telah lenyap; Baekhyun tersenyum aneh ke arahnya.
Kyungsoo, membalut kain kasa di pergelangan kakinya. Kyungsoo, menyelundupkan sepotong roti di tangannya. Kyungsoo, tangan hangatnya melingkari lengan Jongin, begitu protektif dan posesif. Kyungsoo, meneriakkan namanya, memejamkan matanya dan membiatkan mulutnya terbuka. Kyungsoo, Kyungsoo, Kyungsoo.
Jongin terbangun kaget ketika ia merasakan sesuatu yang dingin di tubuhnya. Tubuhnya yang terluka dibiarkan beristirahat pada sebongkah es. Ia tak dapat menahannya lagi, rasa dingin mengoyak kulitnya, dan teriakan demi teriakan melimpah keluar tiap kali bongkahan es tersebut menggores bekas lukanya. Ia tak dapat bernafas, ia tak dapat berpikir. Disini, ia meleleh menjadi jiwa yang menyedihkan; disini, tubuhnya telah rusak dan hancur, dan ia sudah tak tertolong lagi.
Kesadaran Jongin telah lenyap ketika ia dilempar kembali ke dalam sel. Tanpa ia sadari, Jongin mendapati dirinya meringkuk di sudut ruangan. Ia hanyut dalam mimpi buruk yang tak berujung.
Tangan lembut serta cahaya mentari membangunkannya dari mimpinya. Wajah Yixing berenang-renang dalam pandangannya dan Jongin hampir saja menangis lega. Ia menggerenyit ketika Yixing membubuhkan salep pada lukanya, menutupi tubuhnya dengan balutan perban.
Ia tak ingin menyeret Yixing dalam keadaan ini. Ia tak menginginkannya, jadi pertanyaan yang ia ucapkan adalah, "Bagaimana keadaan Jongdae?"
Tatapan Yixing terangkat naik ke arahnya, suram dan gelap. "Ia meninggal dua hari lalu." Suaranya terdengar lembut, namun Jongin dapat menemukan keputusasaan dalam nada bicaranya. "Ia sakit dan ia tak memberitahuku."
Jongin tak tahu harus berkata apa. Jongdae telah tiada. Suara kuatnya tak akan lagi menghancurkan kesunyian—ia tak akan pernah menjadi seorang penyanyi seperti yang idam-idamkan. Jongin merasa seperti tercekik, tenggelam dalam dukacita, sebab Jongdae merupakan salah satu diantara sedikitnya teman-temannya yang tersisa. Kini yang ia miliki hanyalah sebuah kesan akan laki-laki yang menjalin melodi di tengah dinginnya malam; seorang laki-laki, kuat dan baik dan bertalenta, tergelincir pada permukaan bumi sama seperti yang lainnya.
Ketika Yixing bangkit berdiri, Jongin menanyakan satu pertanyaan terakhir: "Bagaimana dengan Kyungsoo?"
Mendengar pertanyaan Jongin, sebuah kesedihan terpancar di wajah Yixing. Sebuah kesedihan yang menyebabkan hati Jongin sakit dibuatnya. "Kau tak ingin mengetahuinya."
Jongin dikeluarkan secara paksa dari dalam selnya saat fajar menjelang, ia sudah tak memiliki kekuatan untuk berjalan. Ia melewati bayangan-bayangan yang bercampur dengan dinding kotor. Besi-besi metal yang mengelilinginya memisahkan laki-laki tersebut dengan dunia. Jongin bertanya-tanya sudah berapa banyak nyawa yang terbuang sia-sia dalam sel ini. Para pengawal tak memberikannya petunjuk akan kemana mereka pergi.
Ketika mereka tiba di tempat terbuka, lutut Jongin terkikis pada tanah serta rerumputan, ia mengerti. Mungkin juga karena fakta bahwa ia melihat Tao, Kris, dan beberapa pengawal yang lain berdiri menunggu kehadirannya.
Jadi, ia akan mati dengan cara ini: menjadi tontonan banyak orang.
Ia dilempar tepat di depan Tao, dan wajah Jongin saling berhadapan dengan sepatu boots yang menendangnya tanpa belas kasih. Kemudian, Tao mengangkat tubuhnya, sengiran di wajahnya tampak begitu jelas. Ia bahkan tak mendengarkan perintah Kris yang mengatakan, Hentikan, Tao. "Aku punya sebuah kejutan untukmu," ucap Tao bahagia. "Kurasa kau akan menyukainya."
Jongin mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa, dan ia meludah tepat di wajah Tao. Mata kolonel jangkung tersebut menghitam dengan cepat, dan sebelum ia dapat menghabisi Jongin, tangan Kris telah menahannya.
"Cukup, Tao," ucap Kris tegas. "Apa yang kau lakukan sudah keterlaluan."
Tao menatap Jongin tajam, hal yang sama dilakukan juga oleh Jongin. Namun kemudian, kolonel dihadapannya tersebut mulai menenangkan diri. "Biarkan dia melihat kejutannya," panggilnya. Sebelum Jongin dapat menebak bentuk penyiksaan mana lagi yang akan ia dapatkan, tubuhnya diputar ke belakang, dan sedu sedan mulai timbul dalam tenggorokannya.
Kyungsoo mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya, kulitnya terhiasi oleh bekas luka memar dan sayatan. Ia memaksakan sebuah senyuman ketika ia melihat Jongin, cahaya bersinar terang di matanya, dan untuk beberapa detik Jongin berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kemudian Kyungsoo mengulurkan tangannya yang dibalas dengan sebuah pukulan keras Tao. Hal tersebut membuat Kyungsoo berteriak kesakitan bersamaan dengan rontaan penuh protes Jongin. Kris menghampiri Tao untuk mencegah laki-laki itu agar tidak bertindak lebih jauh.
"Pasangan yang bernasib sial," ejek Tao. "Begitu sesuai, begitu..." bibirnya tersungging oleh emosi yang tak dapat diartikan Jongin. "...memuakkan."
"Diamlah, Tao," sela Kris. Wajah Tao merengut mendengar omelan atasannya. Kris melepaskan Tao dan mendorongnya menjauh, dan tak lama setelah itu, ia memerintahkan para pengawal yang lain untuk pergi.
Hanya tinggal mereka berempat yang berdiri di kawasan ini, Tao menatap tajam dibalik tubuh Kris. Jongin dan Kyungsoo hanyalah seonggok tubuh yang tak dapat mengangkat dirinya naik dari tanah.
"Seharusnya aku tidak menyetujui hal ini," gumam Kris.
"Kau telah berjanji," ucap Tao, suaranya terdengar seperti sedang merengek.
Kris terdiam. "Berdiri," ucapnya, dan Kyungsoo menggerenyit saat ia mencoba bangkit; begitu pula dengan Jongin.
Sang kolonel bermata tajam menyelundupkan pistol ke tangan Kyungsoo dan Kyungsoo menatapnya, tak mengerti. Namun Jongin mengerti dan ia hanya dapat menelan ludah. Ia tahu ke arah mana hal ini akan berakhir. Saat Kris mendorong ujung pistol di tangan Kyungsoo tepat ke dada Jongin, Kyungsoo menyadarinya, dan ia mulai gemetaran.
"Jongin," ucap Kyungsoo, air matanya mulai menetes. Bibirnya gemetar dan Jongin begitu ingin memeluknya. "Jongin."
"Perwira Do, dengarkan perintahku," ucap Tao sembari menggosokkan kedua tangannya bahagia. "Siap, bidik."
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Tidak," ucapnya. "Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak."
Kris menjulurkan tangannya untuk mencegah Tao dari bertindak lebih jauh. "Diam di tempatmu," perintahnya, dan Tao merengus.
"Jongin, aku mencintaimu," bisik Kyungsoo, dan ia tampak begitu hancur.
Mereka tak akan pernah bisa disembuhkan, pikir Jongin. Mereka akan tak akan pernah bisa disembuhkan dan diselamatkan. Namun sebuah konsekuensi telah menunggu Kyungsoo jika ia tidak menuruti perintah atasannya, dan jika kematian Jongin dapat menjamin keselamatannya, maka hal tersebut adalah hal terakhir yang dapat Jongin lakukan untuk Kyungsoo. Satu-satunya hal yang dapat Jongin lakukan, dan hanya untuk Kyungsoo seorang.
"Lupakan aku," ucapnya sembari menggenggam ujung pistol di tangan Kyungsoo dan menahannya tepat di dadanya. Tangisan Kyungsoo pecah. "Lupakan segalanya. Lupakan fakta bahwa kau pernah mencintaiku, Kyungsoo. Lakukanlah."
"Aku tak bisa," Kyungsoo terisak-isak.
Jongin dapat mendengar suara klik di dekat mereka dan Tao telah mengeluarkan pistolnya. Ia membidik pistol tersebut tepat ke kepala Kyungsoo. Pemandangan tersebut membuat Jongin gelisah.
"Ini tak ada gunanya. Turunkan senjatamu, Tao," Kris menggeram namun Tao tidak menurunkan senjatanya.
"Ia punya senapan, Kris," ucap Tao, pandangannya teguh. "Jika ia membidik pistol itu ke arah lain, peluru ini akan menembus kepalanya."
"Kyungsoo," ucap Jongin, nadanya terdengar mendesak. "Kyungsoo, aku tak mencintaimu. Aku tak mencintaimu, okay, jadi lupakan saja aku!"
Kengerian muncul di wajah Kyungsoo. "Tidak," ia merengek.
"Aku tak mencintaimu," Jongin bersikeras. Ia mulai melantur namun ia tidak peduli. "Aku tak pernah mencintaimu."
Kyungsoo menggigit bibirnya dan ia tak bisa bernafas maupun melihat karena air mata yang kerap menetes. Akan tetapi, tatapan di wajahnya seolah memberitahu Jongin bahwa ia mulai mempercayai perkataan Jongin. Dan hal tersebut menyakitkan, hal tersebut membuat hatinya kesakitan, sebab Kyungsoo yakin bahwa Jongin tak akan menolaknya semudah itu.
"Perwira Do," suara Tao berdering di telinganya. Kris hanya dapat menatap tanah. "Perwira Do, tembak."
Kyungsoo memejamkan matanya, jemarinya turun ke pelatuk pistol. Jongin menyimpan baik-baik memori akan Kyungsoo saat ini di pikirannya. Tak ada gunanya, pikirnya sembari tersenyum masam. Lagipula, aku akan mati sebentar lagi.
Inilah dia, nafas terakhirnya di dunia. Ia memikirkan Sehun, Jongdae, Baekhyun—orang tuanya, dan juga tempat yang lebih baik daripada neraka ini. Tempat yang akan ia tuju sebentar lagi. Pikirannya melekat pada Kyungsoo.
Sebuah suara tembakan menghancurkan pandangannya.
author's note: haaaii, maaf lama banget dan hell, ini berantakan banget I am so sorrryy. but well, tinggalkan review dan jangan cuma jadi silent reader karena aku juga perlu tahu mana yang kurang ^^
sekali lagi, kalau mau request via line (id: jonginida) atau twitter ya(u/n: daisukais) thankyou!
