Gedung tua yang terletak dipedalaman hutan Tokyo itu begitu terlihat kelam, suara burung gagak yang begitu nyaring serta gelapnya suasana tak membuat gentar seorang pemuda bermata Onyx yang kini melangkah tanpa keraguan sedikitpun kedalam bangunan yang tak berpenghuni itu. Langkah pelannya begitu menggema tatkala dirinya menjajaki tangga yang sudah rapuh disana-sini. Hingga decitan pintu yang dibuka pelan olehnya menyadarkan Sasuke bahwa dirinya tengah terpancing hingga ia baru menyadari kini dirinya berada dalam pengawasan sosok misterius yang malam sebelumnya telah meminum darahnya rakus. Sesosok pria bebadan besar dengan ramput hitam panjang yang telah membisikan sesuatu sebelum dirinya terbawa alam bawah sadarnya saat itu. Sebuah perkataan yang begitu mengundang dirinya.

'Jika kau ingin tahu masa lalumu, datanglah kegedung tua dihutan Tokyo, Sasuke.'

Mengigit bibir bawahnya cemas, kini Sasuke merasa sangat menyesal telah pergi tanpa berpikir panjang hanya karena perkataan yang membuat dirinya penasaran setengah mati.

Harusnya ia sadar, bisa saja sosok itu memang tengah merencanakan sesuatu yang buruk terhadapnya. Namun disisi lain ia juga sangat penasaran dengan masa lalu serta mimpi-mimpinya yang tak pernah bisa lepas menjerat kesadarannya

"Akhirnya kau datang juga Sasuke.."

Ucap sosok yang kini keluar dari tempat peristirahataanya dan melangkah mendekati Sasuke. "Selamat datang dirumahku."

"K-Kenapa kau tahu namaku ?"

"Tentu saja aku mengenal baik putra dari Mikoto." Balas sosok tersebut sambil mengarahkan tangannya pada helai hitam Sasuke. Namun belum sempat tangan kekar itu menyentuh ramput itu, Sasuke sudah lebih dahulu menghindar dan melangkah mundur menjauhi sosok mengerikan tersebut.

"Jangan takut, Namaku adalah Madara..

"… dan aku adalah kakak dari ayah kandungmu yang bernama Fugaku.."

Tak ayal, hal itu sukses membuat Sasuke terkejut seketika. kilasan memory sempat terbesit dalam kepalanya, berputar-putar cepat bagaikan kaset rusak yang akan segera rusak. Mencengkram kepalanya kuat, Sasuke bergumam pelan disela-sela kesakitannya. "Tou-san…" ucapnya lirih.

"Kau mengingatnya bukan ? aku yakin sekarang pasti ingatanmu sedit demi sedikit telah kembali…"

Madara melangkah kembali mendekati Sasuke, mengelus pipi putih itu dengan lembut dan kembali berucap. "Pejamkanlah matamu, maka kau akan tahu kebenaran dibalik mimpi-mimpimu.."

Seperti terbius, Sasuke pun menutup matanya perlahan. Menuruti perkataan sosok misterius yang mengaku pamannya. Entah apa yang merasuki Sasuke, dirinya begitu menurunkan kewaspadaannya sedari tadi hanya karena rasa ingin tahunya tentang masa lalunya.

Kilasan masa lalu yang terus saja membayangi dalam mimpi-mipinya, serta rasa takut dan sedih yang begitu merasuk kedalam jiwanya hingga paling dalam.

Telapak tangan besar milik Madara bergerak menuju kepala Sasuke, mengeluarkan sesuatu yang bercahaya hijau kebiruan tepat diatas kepala Sasuke. Hingga yang terjadi berikutnya adalah teriakan Sakit Sasuke yang begitu menggema didalam bangunan tua tersebut.

Sasuke mencengkram kepalanya kuat, rasa sakit yang begitu menusuk membuat ia jatuh menghantam lantai yang kotor. Ia merasakan seperti terbawa kedalam pikirannya yang hitam, begitu dalam hingga yang ia rasakan hanyalah kegelapan disekitarnya.

…..

Tap Tap

Suara langkah kaki yang begitu keras masuk kedalam gendang telinganya, membuat ia terbangun ditengah kegelapan kosong. Tidak mengerti dengan situasi yang tengah dialaminya, Sasuke pun mencoba mencari sumber suara yang mungkin akan mengarahkannya keluar dalam kegelapan ini.

Tap Tap Tap

Suara itu semakin terdengar jelas dalam pendengaran Sasuke. dengan cepat ia pun berlari mengikuti suara itu, hingga tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya terang yang begitu besar dan membawa dirinya pada sebuah tempat yang tak asing. Sebuah tempat yang sering kali muncul dalam mimpinya.

"Hiks… Okaa-san bangun…hiks…"

Mengarahkan pandangannya kesudut ruangan, Sasuke melihat sesosok anak kecil yang sedang menangisi ibunya yang tergeletak dilantai, sesosok anak kecil yang menurutnya begitu mirip dengannya.. ah tidak, Sasuke yakin itu adalah dirinya saat kecil.

"Sa-su Cepat larilah..Uhuk…pergilah yang jauh…"

"T-Tidak mau ! aku ingin bersama Okaa-san..hiks.."

"Lari Sasuke.. Okaa-san mohon pergi dari sini…"

"Hiks…hiks…"

Hatinya berdenyut sakit, wanita yang ia panggil Okaa-san itu adalah ibunya.. dan melihat ketidakberdayaan ibunya membuat ia ingin sekali memeluk dan melindunginya. Mengambil langkah lebar, Sasuke pun setengah berlari menuju ibu dan dirinya yang kecil berada.

Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara muncul dari balik kegelapan malam.. sebuah suara yang juga tak asing bagi pendengaran.

"Ternyata kau belum mati ya Mikoto sayang…"

Tepat dari arah dibelakangnya sesosok pria bermata merah dengan taringnya yang runcing muncul dan melangkah mendekati ibunya berada, melewati dan menembus raganya yang transparan.

"Syukurlah kalau begitu, aku bisa memberikanmu hadiah…."

Dari pencahayaan sinar bulan yang masuk melalui sela-sela jendela besar ia melihatnya…

Begitu terlihat jelas… mata merah itu… taring tajam itu…. Serta tatapan membunuh yang begitu meyesakkan adalah ..

"N-Naruto.." Ucap Sasuke lirih.

Tubuhnya lemas seketika, tepat dihadapannya sesosok misterius yg menjadi mimpi buruknya selama ini adalah orang yang sama dengan pria yang dicintainya. Seorang pria dewasa yang kini tengah mengarahkan pedang kerarah ibunya.

Raut wajah Sasuke terlihat sangat terpukul, perasaannya kini bercampur aduk. Ia sama sekali tak menyangka orang yang selama ini merawat serta satu-satunya orang yang ia cintai adalah sosok mengerikan yang selalu muncul dalam mimpinya.

"T-Tidak.. kumohon jangan mendekat, Sasuke cepat larilah…"

Ditengah kegundahannya, Sasuke tersentak kaget setelah sadar bahwa dirinya masih berada diruangan ini. Ia pun kembali menatap Naruto dengan pandangan terluka.

"Kenapa kau menjauhkan dia itu dariku hmm ?" Sasuke terus menatap kejadian terebut dengan pandangan kosong. "Lihatlah apa yang kubawa…"

BRUKK

"KYAAAA.."

Hingga Sasuke melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Naruto melempar sebuah kepala dari sesosok pria yang ia yakini adalah ayahnya. Seketika saja rasa mual dan lemas menyerangnya. Merasa pijakannya semakin tak bertenaga, ia pun jatuh terduduk diatas dinginnya lantai.

Jeritan pilu dari ibunya membuat ia semakin ingin menghilang seketika. Ia sungguh tidak sanggup untuk melihat lebih jauh semua ini… bahkan gemetar ditubuhnya semakin menjadi tatkala ia melihat orang yang dicintainya mengarahkan pedang tepat pada leher ibunya.

"Nah, sekarang giliranmu untuk menyusul…."

"Kau tau aku sudah bosan dengan darahmu itu."

"Dan kini aku menemukan seseorang yang lebih lezat dari dirimu.."

….

"B-Berhenti Naru… Hiks.. Jangan lakukan.." Permohonan lirih terus Sasuke ucapkan. Walaupun ia tahu suaranya tidak akan terdengar oleh orang tersebut. Namun rasa putus asa dan rasa sakitnya membuat ia terus maracau. Memohon kepada sang tercinta untuk berhenti. Hatinya begitu pilu..

….

"T-Tidak kumohon jangan Sa—"

BLESS

"O-Okaa-san…OKAA-SAN !"

Hingga sampai detik terakhir, ia melihat ketika sebilah pedang tajam itu menebas leher ibunya. Dan yang ia rasakan setelah itu adalah kegelapan yang langsung menyelimuti.

.

.

.

.

.

"Ngh..."

Suara lenguhan kecil terdengar..

Pemuda bersurai Dark Blue yang sedang berbaring diatas ranjang besar dengan sprai merah itu membuka kedua matanya perlahan. Sakit kepala yang mendadak menyerangnya membuat ia kembali merebahkan dirinya tatkala Sasuke ingin segera beranjak bangun.

"Kau sudah sadar rupanya."

"…..."

Diam

Hanya keheningan yang didapat oleh madara dari sosok muda yang merupakan keponakannya itu. Hingga kilatan ragu mulai tergambar pada wajah cantiknya, pemuda itu mulai membuka suaranya kembali. Membuat Madara memfokuskan pandangannya lebih intent.

" ….. Jika benar kau adalah pamanku, lalu a-apakah aku….." Ucap Sasuke terbata tanpa mampu untuk melanjutkan perkataannya lagi.

Seakan mengerti, Madara pun membalas pertanyaan Sasuke. Menghiraukan raut tak yakin keponakannya.

"Ya… Kau juga adalah seorang vampire sama sepertiku."

"Bagaimana bisa ! A-Aku selama ini bisa menjalani kehidupan manusia normal lainnya. A-Aku tidak mungkin.."

Sosok itupun semakin mendekat kepada Sasuke, meminimalisir jarak hingga kini tangan kekar Madara menyentuh kepala Sasuke dan turun menuju pipi putihnya.

"Itu karena Naruto yang telah menghapus ingatan dan menahan sisi Vampire mu, Sasuke."

"….. untuk apa.. kenapa dia melakukannya ! K-Kenapa dia tidak membuhku saja saat itu.." Racaunya hingga kedua tangan Sasuke kembali bergetar. Rasa sakit yang ia rasakan sungguh sangat menyakitkan. Ketika orang yang begitu ia cintai adalah sosok yang sama dengan pembunuh keluarganya.

"Itu karena dirinya sedang menunggu…."

"…..menunggu ?"

"Buah yang lezat tentu akan semakin menggiurkan jika telah matang Sasuke…" Ucap Madara dengan raut serius. "Kau adalah keturunan dari kaun bangsawan, dan darahmu yang manis itu, ia mengincarnya…"

"…T-Tidak mungkin." Balas Sasuke cepat. "Naruto tidak mungkin melakukan itu.. Hiks.. aku tidak percaya.."

Bayangan wajah Naruto yang tersenyum kini memenuhi pikiran Sasuke, perlakuan lembut, perhatian serta kasih sayangnya yang diberikan semenjak ia berumur 8 tahun tidak mungkin hanyalah sandiwara belaka. Ia sama sekali tidak mempercayainya. Tidak untuk satu ini..

….

"Ingatlah dia yang membunuh keluargamu Sasuke !"

"A-Aku.,."

"Ibumu, Ayahmu serta Kakakmu yang bernama Itachi telah dibunuh secara keji oleh orang tersebut."

Madara kembali membuka suaranya. Menghadapkan wajah Sasuke tepat kearahnya .

"Hiks.. Tidak.. Hiks.."

"Itu sebabnya aku berada disini… kita akan membalaskan dendam keluargamu…" Lanjutnya menatap dalam mata sehitam jelaga itu.

"…."

..

.

"Kau harus membunuh Naruto …"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Minta Review dong, Gapapa walaupun Cuma kata "UP"

Biar saya tahu masih ada yg mengharapkan kelanjutannya, karena mumpung masih libur saya usahakan Final chapternya akan di Update akhir bulan ini.

*Tampang melas*