Chapter 2 : Wedding

.

.

.

.

Sekarang adalah hari yang paling penting, yaitu hari dimana mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka mengadakan upacara pernikahan di aula hotel yang disulap dengan sangat cantik dengan karpet merah di tengah nya, lalu di ujung karpet terdapat altar dimana seorang pendeta berdiri di sana. Gilgamesh yang sudah mengenakan jas putih rapi dan elegan, memiliki rasa gugup di dalamnya. Ia sesekali mengibaskan jasnya agar tetap rapi lalu menghembuskan nafas panjang. Sekretarisnya yang berdiri di sebelahnya sebagai pendamping mempelai pria hanya cengengesan melihatnya gugup.

Para pengawal yang mengenakan jas hitam memasuki aula, mereka berbaris di samping karpet bertanda sang pengantin wanita akan memasuki ruangan. Jantung Gilgamesh langsung berdetak kencang, akhirnya Arthuria akan menampakkan wajahnya.

Dua penggiring pengantin memasuki ruangan dengan buket mawar di tangan, setelahnya Arthuria pun memasuki aula dengan diiringi penggiring lainnya. Gilgamesh seketika terpaku akan sosoknya hari itu, seperti melihat bidadari surga tercantik yang pernah ada. Ia sampai rak bisa mengedipkan matanya sedikitpun. Gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah dan memiliki ekor yang panjang, dengan buket mawar merah ditangannya, wajah yang di polesi bedak dan berbagai makeup yang terlihat menyatu dengan bersihnya wajahnya yang ditutupi cadar transparan. Mahkota berlian mahal juga bertengger manis di kepalanya.

Tepuk tangan penonton memeriahkan acaranya. Arthuria melangkah pelan dengan sepatu yang tingginya minta ampun, tubuhnya yang pendek mengharuskannya untuk mengenakan benda terkutuk itu. Ia menatap wajah Gilgamesh yang berada di hadapannya, ia sangat kaget dengan semburat merah di wajah hingga telinga. Arthuria tertawa kecil di balik cadarnya. Ia pun sampai di hadapannya, Gilgamesh pun mengulurkan lengannya agar Arthuria merangkulnya, setelah baru menghadap pendeta.

"Ehem! Baiklah.. mari kita mulai upacara ini.." sang pendeta membacakan sumpah-sumpah untuk pasutri, dan membacakan ikhtiar pernikahan.

"Gilgamesh, atas nama Tuhan apakah kau akan menerima Arthuria Pendragon sebagai pendampingmu sehidup semati?"

"Ya, saya bersedia"

"Arthuria Pendragon, atas nama Tuhan apakah kau menerima Gilgamesh sebagai pendampingmu sehidup semati?"

"Ya, saya bersedia"

"Baiklah, dengan ini kalian sah menjadi suami istri.. sekarang pasangkan cincin pernikahan kepada pasangan Anda.." pendeta itu menutup kitabnya. Sekretaris Gilgamesh mengantarkan kotak cincin yang berisi sepasang cincin emas yang tak kalah indah dan mahal dari cincin pertunangan, ia menyematkan 1 cincin tersebut pada jari manis istrinya. Arthuria juga menyematkan cincin yang satu lagi padanya, lalu menggenggam tangan Gilgamesh dengan erat. Gilgamesh membuka cadar yang menutupi wajah cantiknya perlahan dan tampak jelaslah wajah sang istri yang sangat indah seperti baru saja keluar dari lukisan. Arthuria tersipu malu. Gilgamesh mengecup bibirnya lembut dan Arthuria membalasnya, ciuman yang sangat mesra itu disambut meriah oleh tamu undangan. Acara pernikahan itu menjadi sangat meriah ketika Gilgamesh menggendong Arthuria, membawanya kabur dari aula. Hal itu tidak ada dalam rencana pernikahan itu.

.

.

.

Gilgamesh membawa Arthuria ke kamar hotel yang sudah di rias dengan taburan mawar merah dan seberapa lilin dilantai, kamar ini sudah didesain khusus untuk malam pertama mereka sebagai suami istri.

"Apa-apaan itu tadi.. kita masih harus melakukan banyak hal setelah inu kan? Kenapa kau malah melenceng dari rencana?" Ujar Arthuria agak kesal. Gilgamesh tertawa sambil menurunkan Arthuria keranjang.

"Habisnya aku tidak tahan ingin menyentuhmu dengan tampilan seperti ini.." sahutnya sambil mencium bibirnya dengan lembut, melumat hingga menarikan lidahnya ke rongga mulut tersebut hingga meninggalkan benang silva dari keduanya. Arthuria mendorong Bahu Gilgamesh dari hadapannya, ia ingin mengambil nafas segera.

"Hahhh.. padahal baru kemarin kita juga melakukan ini tapi kau tetap tidak sabar ingin melakukannya lagi.. aku jadi tidak menikmati pesta hari ini dengan makanan-makanan yang tersaji di luar.." keluhnya sambil membayangkan suasana pernikahannya dimana ia akan memakan seluruh hidangan itu dengan lahap, raut wajahnya saat ini berubah masam ketika tau malam ini ia akan menghabiskan waktu bersama dengan bercinta.

"Tenang saja.. ada satu cara agar kau bisa makan disini.." ujar Gilgamesh padanya.

"Benarkah?! Bagaimana?"

"Dengan ini.." Gilgamesh mengeluarkan penisnya tanpa ragu dan menyodorkannya ke wajah Arthuria, bahkan ia melakukannya sambil tertawa. Sontak wanita kaget sekali akan perlakuan itu padanya, rasanya ia baru saja dipermainkan.

"Masukkan ini kemulutmu.." pinta Gilgamesh padanya. Arthuria menatap penis yang terlalu dekat dengan wajahnya, tanpa berpikir panjang ia menurutinya dan mencoba memasukkan penisnya ke mulutnya. Gilgamesh tersenyum lebar akan sifat penurutnya, ia membiarkan Arthuria bermain dengan penisnya. Awalnya Arthuria menjilati seluruh permukaan penis itu dengan nafsu, ia pun berpindah ke buah zakar yang lembut dan memainkannya dengan lidah, menghisapnya hingga mengulumnya. Sepertinya Arthuria mulai menyukai dua buah bola itu.

Gilgamesh mengerang nikmat, lidah Arthuria membuatnya menjadi gila.

'Dia memainkan dua buah zakarku dengan sangat baik, padahal ia melakukannya hanya karena gemas.. ohhh aku akan menyemprotkan cairan semen ini keluar..' batin Gilgamesh berkecamuk. Setelah puas dengan buah Zakar, Arthuria mulai mengulum seluruh penis memasuki mulutnya, hingga ujungnya menyentuh kerongkongan. Gilgamesh tidak tahan akan sensasi enaknya, ia memegangi kepala Arthuria lalu menggerakkan pinggulnya menghantam wajahnya. Arthuria terbelalak dan sesak, penis yang besar dan panjang sudah memasuki kerongkangannya.

"Ohhh! Istriku! Ini sangat nikmat!" Seru Gilgamesh keenakan tanpa peduli kalau Arthuria tersendak. Setelah itu ia memuncratkan sperma langsung kekerongannya. Gilgamesh menarik penisnya keluar lalu memegangi mulut Arthuria yang berlumuran sperma, wajah memerahnya serta air mata yang menetes akibat tersendak membuatnya sangat erotis, wajah yang paling Gilgamesh sukai.

"Bagus.. sepertinya kau menyukai penisku.. bagaimana kalau kita mulai makan utamanya?" Gilgamesh menyingkap gaun Saber yang cukup besar dan panjang itu, jujur ia tak nyaman dengan gaun rumbai-rumbai yang menghalangi pandangannya, akhirnya ia memilih untuk membukanya saja. Melucuti pakaiannya hingga tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, Gilgamesh juga membuka seluruh pakaiannya. Arthuria merangkul kedua kakinya yang mengangkang, membuka jalan untuknya.

"Ya~ ❤ masukkan penis itu kedalam.." pintanya yang sepertinya sudah hilang kendali. Gilgamesh begitu bersemangat untuk melakukannya, ia mulai menggesekkan penisnya ke permukaan vagina yang sangat basah, lalu perlahan memasukkannya hingga semua bagian penis menghilang kedalam. Arthuria mendesah erotis dengan lidah yang terjulur keluar, air mata juga ikut mengalir. Gilgamesh membuat gerakan perlahan, menghantam pinggulnya dengan pelan.

"Ah! Ah! Aaa! Kau menusuk ujung rahimku.. ahnnn!" Desah Arthuria bergema-gema ditelinganya. Wajah Gilgamesh sudah memerah, ia juga tak kuat saat vagina basahnya begitu menghisapnya kedalam.

"Uh! Arthuria.. kau sangat enak! Tapi ini masih kurang!" Gilgamesh mempercepat gerakannya, desahan Arthuria makin keras dan liar. Gilgamesh begitu kuat mengahatamnya, sehingga ranjangnya pun ikut bergoyang, wanita itu akan mencapai orgasme di buatnya. Gilgamesh pun menatap kedua manik emerald itu dengan pasti, seakan wajahnya menjadi serius.

"Arthuria.. aku ingin kau hamil.. aku ingin anak darimu.. ahh aku ingin segera punya anak.." ucapnya dengan nada yang serius walau pinggulnya masih bergoyang. Walau setengah akal sehat Arthuria sudah gila akan kenikmatan seksual ini, namun setengah warasnya masih menerima apa yang dimaksud suaminya. Ia pun tersenyum lebar, menerima permintaan yang ia juga ingin.

"Aku juga menginginkan anak darimu.. makanya tolong.. hamili aku.." sahutnya. Gilgamesh tersipu malu, ia memurukkan wajah merahnya dengan terus menghantam vagina terdalamnya hingga meleset dari leher rahimnya. Arthuria mendesah gila.

"Ahhh ahh ahh Gil~ ❤ ahhnn! Nnn ahhhhh" Arthuria mencapai orgasme duluan sebelum Gilgamesh mencapai klimaks.

"Ou! Sayangku.. vaginamu semakin sempit.. tapi ini makin enak.." Gilgamesh masih menggenjotnya, hingga akhirnya ia mengeluarkan cairan semen yang banyak kedalam rahim sang istri. Rasanya sangat lega sekali saat spermanya keluar dengan sangat banyak, Gilgamesh menghela nafas lega. Arthuria masih menggeliat, cairan panas itu membuat sensasi enak di vaginanya. Arthuria merangkul Gilgamesh, membuat rasa nyaman pada tubuhnya.

"Gilgamesh.. aku mencintaimu.." ujarnya lembut. Gilgamesh pun membalas pelukannya sambil tersenyum.

"Ya.. aku juga sangat mencintaimu.."

.

.

.

.

Acar pernikahan kedua dilakukan di panti asuhan dimana disanalah tempat pertemuan takdir mereka. Anak-anak panti sangat senang merayakan pernikahan itu, terlebih karena banyak hidangan dan berbagai hiburan yang sangat mereka sukai. Gilgamesh dan Arthuria saling bergenggaman tangan, menatap anak-anak dengan tatapan sejuk.

"Gil.. apa kau ingin punya anak?"

"Tentu saja aku ingin.. aku ingin anak yang banyak!" Sahutnya sambil menepuk kepala Arthuria. Wanita itu tersenyum lebar.

"Ngomong-ngomong, sepertinya kita belum mendiskusikannya sebelumnya.. ya karena kita buru-buru.." ujar Gilgamesh tiba-tiba.

"Eh? Apa itu?"

"Soal bulan madu kita" Arthuria tersipu malu, ia melupakan hal itu.

"Kemana kita akan pergi? Dubai? Paris? Australia?" Gilgamesh melemparkan seluruh pendapatnya. Arthuria makin bingung dengan itu.

"Kyoto?" Gilgamesh masih menyarankan, akhirnya Arthuria menepuk lengan Gilgamesh untuk berhenti menyarankan lebih jauh.

"Oke.. kita akan ke Kyoto.. kalau ke luar negeri, urusan kantor jadi terbengkalai.."

Dan setelah itu diputuskan mereka akan berbulan madu ke Kyoto.

.

.

.

TBC

.

.

Balasan review

Mashu Kry

"nice fic...jarang ketemu yg niat buat fic gilxarturia"

"Arigatou! Jarang ya? Ya saya dari tahun berapaan lupa emang udah cinta mati sama ini couple jadi saya akan serius mentamatkan fanfic ini.. terimakasih mashu udah jauh-jauh datang dari chaldea buat review fic nista AQ wkwk"

Cuma satu sih yang review tapi gak papa, ane tetap bersyukur :'))

Jyaa mata aimasho!