Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Warning: OOC, Typo (s), EYD masih terus belajar

'Kau siapa?' kata-kata Sasuke tersebut terus terngiang di fikiran Sakura, raut wajah Sakura menunjukkan bahwa Sakura kesal dengan kata-kata tersebut.

"Cih apa maksud dari pertanyaan 'kau siapa?' dia benar-benar melupakanku atau hanya ingin mempermainkanku?" dengan kesal Sakura menggenggam erat beberapa kertas yang berada ditangannya.

"Ishhh Sakura!" panggil seseorang yang langsung menyadarkan Sakura dari fikiran kacaunya.

"Itu laporan yang kuberikan bukan untuk kau remas seperti itu!" Lanjut orang tersebut sambil mengambil kertas-kertas yang berada di tangan Sakura.

"Gomen Hinata" kata Sakura sambil melipat kedua tangannya di meja dan setelah itu meletakkan kepalanya diatas kedua tangannya. Hinata hanya menarik nafas melihat sikap Sakura.

"Sepertinya di ruangan ini hanya aku saja yang berda dalam keadaan normal" kata Hinata.

Mendengar perkataan Hinata, Sakura mengangkat kepalanya dan langsung memutar kepalanya untuk melihat kondisi sekitar dan Sakura menemukan fakta bahwa saat ini kondisi ruangan sepi, biasanya di ruangan ini banyak dokter magang yang berkumpul untuk membicarakan masalah pekerjaan namun kali ini diruangan tersebut hanya ada Sakura, Hinata dan Ino yang duduk di bangkunya sambil melamun entah apa yang difikirkan Ino.

"Ino-chan! apa kau sedang mengenang malam indahmu dengan Shikamaru?" tanya Sakura sedikit meledek.

"Hoo, jadi semalam ada yang habis berkencan?" tanya Hinata ikut meledek Ino, sementara yang diledek menghembuskan nafas berat.

"Aku sudah tidak menjalin hubungan lagi dengannya!" seru Ino sambil mengambil beberapa data dan berniat pergi keluar ruangan, namun sebelum berhasil pergi Sakura dan Hinata sudah lebih dulu menarik Ino dan mendudukkannya di bangku dan siap untuk menginterogasi Ino.

"Isshhh kalian!" kesal Ino karena di perlakukan seperti itu oleh sahabatnya.

"Kau putus dengannya?" tanya Hinata memulai interogasi.

"Hey Hinata, mereka bahkan belum menjalin sebuah hubungan bagaimana bisa dikatakan putus!" seru Sakura sedikit memberikan penjelasan pada Hinata, sementara Hinata hanya mengangguk tanda mengerti.

"Bukankan semalam kau mengatakan bahwa dia tampan, baik dan juga dari keluarga terhormat, lalu kenapa kau menghentikan kencan butamu dengannya?" tanya Sakura penasaran.

"Belikan aku cheese cake, maka aku akan menceritakannya pada kalian." Kata Ino santai dan langsung dijawab kompak oleh Hinata dan Sakura "Setuju!" dengan penuh semangat.

"Justru karena dia tampan, baik dan juga dari keluarga terhormat makadari itu aku harus mundur" kata Ino memulai ceritanya.

"Kau tau apa yang dia katakan padaku semalam?" tanya Ino sedikit frustasi, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Hinata dan Sakura.

"Dia hanya bilang maaf karena untuk saat ini dia hanya bisa bersikap baik kepadaku dan memperlalukanku selayaknya wanita terhormat lainnya, dia bilang jika aku menginginkan cintanya maka aku harus menunggunya karena dia hanya memiliki satu cinta." Ino menghembuskan nafas berat.

"Lalu kenapa dia harus datang pada kencan buta itu jika dia tidak bersedia memberikan cintanya?" tanya Hinata penasaran

"Dia datang hanya untuk menjaga cintanya, dia sudah memiliki kekasih namun keluarganya tidak menyetujuinnya dan untuk melindungi wanita tersebut dia datang ke kencan buta, dia bilang dia juga tidak mau melukaiku maka dari itu dia memberi tau masalahnya kepadaku."

"Apa wanita yang dia cintai merupakan gadis miskin?" tanya Sakura

"Tidak, mereka dalam status yang sama hanya saja ada konflik keluarga yang membuat mereka harus berpisah, tapi sebenarnya hingga saat ini mereka masih menjalin hubungan, Isshhh benar-benar membuatku kesal!" lanjut Ino sambil menggertakkan kakinya ke lantai.

"Apa kau akan balas dendam?" tanya Sakura sedikit ragu.

"Hey Sakura kau fikir ini sebuah drama huh!" seru Ino sambil menjitak kepala Sakura.

"Isshh akukan hanya bertanya!" kata Sakura kesal, melihat tingkah kedua sahabatnya yang seperti anak-anak membuat Hinata tertawa.

"Hinata apa kau menertawakan hidupku Huh!" seru Ino tidak terima melihat Hinata yang tertawa.

"Hmm sensitif sekali." Kata Hinata dan segera menghentikan tawanya.

"Lalu apa keputusanmu?" tanya Hinata

"Tentu saja mencari pria lain, lagipula perasaanku belum terlalu dalam untuknya aku hanya bersimpati dengannya karena kurasa Shikamaru pria yang sangat baik, Huh! aku bahkan tidak percaya ada pria yang rela berkorban demi cinta, kufikir itu hanya ada pada sebuah drama." Ino tersenyum pada sahabatnya untuk memberi tau bahwa dia baik-baik saja.

"Kau benar-benar seperti malaikan!" kata Hinata sambil memeluk Ino bangga, sementara Sakura juga tersenyum lebar dan merasa bangga memiliki sahabat yang sangat baik.

"Lalu bagaimana denganmu Sakura?" tanya Hinata segera setelah melepaskan pelukannya dari Ino.

"Aku?" tanya balik Sakura pura-pura tidak mengerti.

"Hey meskipun kau bodoh tapi tidak perlu kau tunjukkan dengan jelas Sakura!" seru Ino meledek.

"Ishh dasar!" seru Sakura sambil menjitak kepala Ino, sementara yang di jitak hanya menatap tajam yang menjitak.

"Aku bertemu dengannya." kata Sakura memulai ceritanya.

"Benarkah? Dimana?" tanya Ino penasaran.

Baik Ino maupun Hinata sudah tau betul dengan apa yang Sakura maksud, meskipun mereka tidak terlalu tau secara jelas kisah Sakura dengan pria tersebut secara detail namun yang Ino dan Hinata yakin dia yang Sakura maksud adalah satu-satunya orang yang sangat penting bagi Sakura dan selama ini Sakura tidak berhenti untuk menunggunya.

"Di ruang UGD, semalam dia menjadi korban dari kecelakaan beruntun, semalam aku menjaganya dan menunggunya sadar, tapi saat dia sadar dia tidak mengenaliku, padahal saat kecelakaan dia tidak mengalami luka yang parah pada kepalanya." Sakura sedikit menggigit bibir bawahnya menandakan bahwa dia sangat kecewa

"Apa kau sudah bertanya dan menjelaskan semuanya?" tanya Hinata ikut prihatin mendengar cerita Sakura.

"Tidak sempat karena aku tiba-tiba mendapat panggilan darurat dari UGD dan saat aku mendatangi kamarnya lagi ternyata kamarnya sudah dijaga ketat dan tidak sembarangan dokter bisa masuk."

"Biklah kalau seperti itu, ayo kita temui cinta pertamamu itu!" seru Ino semangat sementara Hinata juga mengangguk mantap tanda setuju.

"Sudah ku bilang bukan, tidak sembarangan dokter bisa masuk ruangannya apalagi hanya dokter magang seperti kita."

"Kau lupa siapa aku hah? Ayahku termasuk orang penting di rumah sakit ini, sudahlah percaya pada kita saja!" Kata Ino meyakinkan Sakura sambil menarik Sakura paksa.


"Yak! Apa tidak ada cara yang lebih terhormat huh?" tanya Sakura kesal.

Tentu saja Sakura merasa kesal karena Sakura kira Ino akan menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk bisa memasuki ruangan Sasuke tapi nyatanya Ino dan Hinata hanya menggunakan cara orang bodoh menurut Sakura.

"Isshhh ini cara terbaik, lagipula aku tidak mungkin menggunakan nama ayahku, dengar Sakura! Aku dan Hinata akan mengalihkan perhatian penjaga tersebut dan setelah itu kau segera masuk keruangan tersebut dan ingat manfaatkan waktu dengan baik!" printah Ino mantap

"Hinata! Kau hanya cukup pura-pura pingsan saat di depan mereka dan selanjutnya biar aku yang mengurus!" printah Ino pada Hinata dan mendapat anggukan mantap dari Hinata.

"Let's go!" seru Ino tanda bahwa misi dimulai, semantara Sakura masih ragu, tentu saja ragu karena mengingat mereka masih berstatus magang yang artinya mereka bisa kapan saja di keluarkan dari rumah sakit ini.

Meskipun begitu melihat kedua sahabatnya yang yakin untuk membantunya membuat Sakura juga tidak ingin menyerah, bagaimanapun caranya Sakura harus tau alasan Sasuke meninggalkannya dan bahkan melupakannya.

Benar saja begitu Ino dan Hinata bisa mengurus penjaga yang berada di luar ruangan Sasuke dengan segera Sakura berlari dan tanpa ragu membuka pintu ruang rawat Sasuke dengan tergesah-gesah

"Sasuke!" seru Sakura begitu memasuki ruang rawat Sasuke. Sedetik kemudian Sakura membelalakkan matanya kaget melihat keadaan di ruangan tersebut yang tidak hanya ada Sasuke melainkan ada keluarga dan bahkan dokter senior yang saat ini sedang mengecek kondisi Sasuke.

Keadaan mengagetkan juga tidak hanya dirasakan oleh Sakura melainkan oleh seluruh orang yang berada di dalam ruangan Sasuke, semua orang yang berada dalam ruangan terus menatap Sakura tanpa kata.

"Kenapa kau berada disini? Ini bukan wilayahmu!" kata dokter senior memecahkan kesunyian.

"Eh" Sakura bahkan bingung harus menjawab apa, Sakura berusaha menggunakan otaknya untuk mencari alasan namun sia-sia saja, Sakura benar-benar tidak memiliki alasan yang pas, Sakura hanya bisa mengutuk dirinya yang sial bahkan alasan untuk segera berlari keluar dari ruangan saja Sakura tidak memilikinya.

Sakura menatap Sasuke berharap Sasuke akan menolongnya namun sia-sia saja Sasuke hanya diam sambil terus menatap Sakura dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

"Hontou ni gomenasai." Sakura hanya bisa mengatakan kalimat tersebut sambil membungkukkan badannya.

"Ada apa dengan rumah sakit ini Huh? Benar-benar tidak memiliki aturan" kata satu-satunya wanita paruh baya yang berada di ruangan sambil mengalihkan pandangannya dengan sikap yang merendahkan Sakura.

"Cepatlah keluar!" lanjut wanita paruh baya tersebut, mendengar perintah tersebut membuat Sakura segera membalikkan badannya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan Sasuke.

"Tunggu!" seru Sasuke tiba-tiba yang tentu saja langsung direspon oleh Sakura.

"Bisakah kalian yang keluar dan tinggalkan aku berdua bersamanya!" kata Sasuke dengan nada yang sangat serius, tentu saja hal ini membuat seisi ruangan tidak hanya merasa kaget namun juga bingung dengan apa yang difikirkan Sasuke

"Apa kau bercanda Sasuke?" tanya wanita paruh baya tersebut masih tidak percaya dengan apa yang di dengar.

"Hn! Aku memiliki urusan penting dengannya" mendengar kata-kata Sasuke, dengan segera semua orang yang berada di ruangan tersebut meninggalkan Sakuran dan Sasuke berduaan saja.


Setelah semua orang meninggalkan Sasuke dan Sakura kondisi ruangan sangat sepi, tidak ada yang memulai pembicaraan dan sibuk dengan fikirannya masing-masing.

"Kau bilang Kau memiliki urusan penting denganku?" tanya Sakura ragu-ragu untuk memecahkan keheningan, sementara yang ditanya masih terus menatap Sakura hingga membuat Sakura merasa tidak nyaman.

"Tidak ada! Itu hanya kata-kata yang mungkin akan kau ucapkan" jawab Sasuke santai masih dengan tatapannya yang lurus kearah Sakura.

"Sasuke apa kau benar-benar tidak ingat denganku? Atau itu hanya caramu menghindariku?" tanya Sakura dengan tatapan yang sedikit tidak terima dengan sikap Sasuke.

"8 tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan dan kurasa kau tau penjelasan selanjutnya." jawab Sasuke namun kali ini Sasuke tidak lagi menatap Sakura dan mengalihkan pandangannya kearah jendela yang sedang turun hujan.

Mendengar jawaban Sasuke, Sakura rasa jawaban itu sudah cukup untuk semua pertanyaan yang ingin Sakura tanyakan, dan saat ini Sakura sangat tau apa yang harus dia lakukan.

Sakura tersenyum, bukan sebuah senyum yang tulus melainkan senyuman yang sangat dipaksakan untuk menutupi perasaan kecewa yang Sakura rasakan, tidak hanya kecewa Sakura juga merasa sakit pada hatinya bagaimana tidak bertahun-tahun Sakura menunggu Sasuke dan sekarang harus menerima fakta bahwa Sasuke bahkan sudah melupakan dirinya dan semua tentangnya.

Perasaan yang rumit yang dulu Sakura rasakan saat menunggu Sasuke tiba-tiba hilang begitu saja dengan sebuah kalimat yang Sasuke ucapkan, saat ini Sakura bahkan tidak memiliki alasan lagi untuk bertemu atau bahkan alasan untuk menyebut nama Sasuke.

"Arigatou." Kata Sakura pelan sambil membungkukkan badannya dan bersiap untuk pergi tidak hanya pergi dari ruangan ini tapi juga pergi dari kehidupan Sasuke, bukannya Sakura ingin menyerah begitu saja pada fakta namun Sakura tahu betul dimana posisinya saat ini.

"Kau harus menikah denganku!" kata Sasuke yang terdengar lebih kepada sebuah printah, mendengar ucapan tersebut membuat Sakura terdiam dan berusaha mencerna kata-kata Sasuke dengan baik.

"Kau sedang melamarku?" tanya Sakura bingung karena tidak yakin dengan ucapan Sasuke.

"Tidak!" jawab Sasuke santai

"Lalu?" Sakura mengernyitkan alisnya semakin bingung.

"Anggap saja sebagai sebuah penawaran" jawab Sasuke, medengar perkataan Sasuke membuat Sakura tersenyum kecut. Meskipun Sakura masih menyukai Sasuke namun saat ini Sakura sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menikah dengan Sasuke karena semuanya sudah berubah.

"Tidak terimakasih" kata Sakura pura-pura santai dan segera berjalan menuju pintu keluar.

"Tunggu!" seru Sasuke yang berusaha menghentikan Sakura.

"Aku hanya butuh bantuanmu!" seru Sasuke sekali lagi yang berhasil menghentikan Sakura.

"Kenapa harus aku?" tanya Sakura

"Karena kau mengenalku!"

"Bagaimana jika apa yang aku ucapkan selama ini kepadamu merupakan sebuah kebohongan?" tanya Sakura, sengaja membuat Sasuke tidak yakin dengannya.

"Air matamu tidak mungkin sebuah kebohongan, aku bahkan masih ingat bagaimana kau sangat khawatir denganku saat aku pertama membuka mata setelah kecelakaan." Mendengar jawaban Sasuke membuat Sakura tidak berniat sama sekali untuk membalasnya.

"Bukankah kau sudah lupa dengan masa lalumu lalu kenapa memilih seseorang dari masalalumu?" tanya Sakura.

"Apa kau semudah itu menyerah? Kau tidak ingin membuatku mengingatmu?" tanya Sasuke sedikit heran.

"Apa kau ingin agar aku membantumu mengingat masa lalumu?" tanya Sakura dengan nada yang sedikit bercanda.

"Iya!" jawab Sasuke tegas yang tentu saja membuat Sakura kaget dengan jawaban tersebut.

"Apa kau benar-benar ingin mengingatku?" tanya Sakura sedikit tersentuh dengan keputusan Sasuke yang ingin mengingat masa lalu.

"Tidak" lagi-lagi jawaban Sasuke membuat Sakura kaget.

"Lalu?"

"Aku memiliki alasan tersendiri kenapa aku harus mengingat masa laluku" jawab Sasuke, entahlah dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Baiklah! Untuk membantumu mengingat masa lalumu kurasa tidak perlu status pernikahan diantara kita"

"Aku butuh status tersebut, sebelum orang tuaku menjodohkanku dengan wanita pilihannya."

"Kenapa?" tanya Sakura penasaran.

"Itu bukan urusanmu!" jawab Sasuke santai karena tidak berniat mengeluarkan energinya untuk bercerita, mendengar jawaban Sasuke membuat Sakura tersenyum kecut.

"Baiklah jika seperti itu, maka semua hal yang berkaitan denganmu bukanlah urusanku lagi, kalau begitu aku pergi dulu!" seru Sakura dengan sedikit kesal.

"Aku tidak ingin memiliki istri yang nantinya hanya mengendalikan kehidupanku." Kata Sasuke langsung setelah mendengar ucapan Sakura.

"Lalu apa kau fikir dengan menikah denganku kau akan bisa mengendalikan hidupku?" tanya Sakura.

"Itu tidak masuk dalam tujuanku! Setelah menikah tidak akan ada yang berubah selain status kita dan aku akan memberikan semua kebutuhan dan keinginanmu." Kata Sasuke sedikit menyombongkan dirinya.

"Bagaimana jika aku tidak butuh itu semua? Apa kau akan melepaskanku?" tanya Sakura meremehkan Sasuke.

"Tidak! Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mau membantuku?" tanya Sasuke penasaran.

"Memohonlah!" Seru Sakura, mendengar ucapan Sakura sedikit membuat Sasuke kaget tidak percaya.

"Apa kau bercanda?" tanya Sasuke memastikan dengan sedikit tawa yang di paksakan.

"Kuanggap pertanyaan tersebut sebagai jawaban!" kata Sakura santai dan langsung membalikkan badannya berniat meninggalkan Sasuke.

"Aku mohon menikahlah denganku dan tolong bantu aku!" seru Sasuke dengan nada yang sedikit keras dengan harapan Sakura kembali membalikkan badannya, dan benar saja Sakura kembali menghadapkan badannya kearah Sasuke.

"Kabulkan tiga permintaanku." kata Sakura tiba-tiba.

"Hey Sensei, kau fikir aku bodoh dan bisa kau permainkan begitu saja huh? aku ini adalah seorang pembisnis yang sangat tau bagaimana liciknya dunia, tadi kau memintaku untuk memohon kepadamu dan sekarang kau memintaku mengabulkan tiga permintaanmu, kesimpulan dari semuanya adalah kau serakah karena pasti permintaanmu adalah harta, kedudukan…." Belum sempat meneruskan kalimatnya, Sakura segera menghentikannya dengan kata-kata Sakura.

"Permintaan pertama panggil aku Sakura, permintaan kedua apapun keadaannya kau tidak boleh melupakan namaku lagi yaitu Sakura dan yang ketiga tidak peduli apapun yang terjadi kau harus selalu mengingat namaku yaitu Sakura. Aku harap kau bisa mengabulkan tiga permintaan tersebut" kata-kata Sakura tersebut sukses membuat Sasuke terdiam dan entahlah apa yang difikirkannya yang pasti Sasuke sedikit merasa bersalah terhadap Sakura.

Tidak berniat menjawab dengan kata-kata, Sasuke hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

"Kau bisa keluar setelah memberikan nomor ponselmu" kata Sasuke sambil menyodorkan ponselnya kearah Sakura.

"Bagaimana jika aku menolak memberikan nomor ponselku?" tanya Sakura sedikit jual mahal.

"Bisakah kau turuti saja kata-kataku?" tanya Sasuke dengan sedikit kesal dan putus asa menghadapi Sakura yang cerewet.

Namun berbeda dengan Sasuke, mendengar ucapan Sasuke justru membuat Sakura tersenyum, Sakura merasa meskipun Sasuke lupa ingatan tapi kebiasaan Sasuke rasanya tidak berubah, Sasuke akan selalu mengatakan kalimat 'Bisakah kau turuti saja kata-kataku' jika sudah merasa kalah berdebat dengan Sakura.


Setelah keluar dari ruang Sasuke, Sakura memutuskan untuk menenangkan dirinya dengan pergi ke taman rumah sakit, meskipun dari luar Sakura terlihat santai namun yang sebenarnya Sakura rasakan adalah dirinya merasa sangat kacau.

Perasaan rumit yang dulu Sakura rasakan Saat menunggu Sasuke hilang begitu saja setelah mendengar penjelasan Sasuke namun saat ini perasaan itu tergantikan dengan perasaan yang semakin rumit.

Di satu sisi Sakura bahagia karena pada akhirnya semua tetap Sasuke bukan pria lain, namun disisi yang lain meskipun pria itu adalah Sasuke namun semua hal termasuk Sasuke sudah berubah dan bahkan semua diperumit dengan fakta dibalik pernikahannya dengan Sasuke.

"Sakura-chan!" panggil Ino dan Hinata kompak, mendengar panggilan tersebut Sakura segera membalikkan tubuhnya kearah sumber suara, dari kejauhan terlihat Ino dan Hinata yang sedikit berlari menghampiri Sakura.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Ino langsung pada inti permasalahan, berbeda dengan Ino, Hinata terlihat lebih tenang dan memilih untuk segera memberikan sebotol minuman pada Sakura daripada bertanya.

Tidak langsung menjawab Sakura lebih memilih untuk membuka botol tersebut dan meminum isinya hingga terlihat minuman tersebut berkurang setengahnya.

"Dia memintaku untuk menikah dengannya" kata Sakura setelah menutup kembali botol minumnya.

"HAH?" Ino dan Hinata benar-benar kaget mendengar apa yang dikatakan Sakura namun meskipun begitu mereka tetap terlihat senang mendengar berita baik tersebut.

"Selamat ya Sakura!" seru Hinata sambil memeluk Sakura.

"Apa kalian tidak ingin mendengarkan cerita lebih lengkapnya?" tanya Sakura, yang langsung direspon dengan tatapan bertanya oleh Ino dan Hinatapun segera melepaskan pelukkannya dan menatap Sakura penuh penasaran.

Melihat tatapan Sahabatnya itu akhirnya Sakura menceritakan apa yang terjadi sebenarnya dan tentu saja cerita Sakura direspon oleh Hinata dan Ino dengan penuh rasa ketidak relaan atas apa yang terjadi pada Sakura.

"Kenapa kau menerimanya?" tanya Ino sedikit kesal

"Meskipun kau masih sangat menyukainya seharusnya kau tidak menerima tawarannya tersebut!" kata Hinata penuh dengan penegasan.

"Sakura kau itu sangat berharga, kau berhak mendapatkan pria yang mencintaimu dan masa depan yang cerah, bukan masa depan yang penuh dengan ketidak pastian!" kali ini Ino yang mengomel tidak terima pada Sakura.

"Sakura seharusnya kau berfikir lebih jauh tentang hidupmu!" bentak Hinata.

"Aku tidak bisa mengabaikannya" kata Sakura pelan sambil menundukkan kepalanya, mendengar semua ucapan sahabatnya membuat Sakura ingin menangis karena sahabatnya benar-benar sangat peduli kepadanya.

"Aku bisa membantumu untuk mengabaikannya" kata Ino mantap.

"Aku tidak bisa menjadi salah satu dari mereka yang selalu mengabaikannya?"

"Apa maksudmu?" tanya Hinata penasaran.

"Kami memiliki nasib yang sama, apa yang saat ini terlihat pada Sasuke sangat bertolak belakang dengan apa yang Sasuke lalui dimasa lalu."

Flashback

"Kenapa semua orang tidak suka denganmu?" tanya Sakura pada Sasuke yang saat itu lagi-lagi mendapatkan bekas luka pukulan.

Saat ini mereka berada di atap sekolah dan sepertinya dari semua lokasi hanya atap sekolah saja yang mungkin tidak didatangi oleh para murid melihat status sosial mereka yang tinggi dan merasa atap sekolah bukanlah tempat yang berkelas dibandingkan dengan fasilitas lain yang diberikan sekolah ini.

"Seperti yang sering kau dengar bahwa aku merupakan sebuah aib dan kau juga pasti tau bagaimana kejamnya orang-orang kaya" kata Sasuke santai.

"Bukankah kau juga merupakan orang kaya? Bahkan yang kudengar keluargamu memiliki saham terbesar disekolah ini" kata Sakura sambil mengambil obat miliknya didalam tas miliknya.

"Apa kau mendengar secara keseluruhan rumor yang beredar?" tanya Sasuke.

"Apa kau menghinaku? Kaukan tau aku bahkan tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol selain kau!" kata Sakura sedikit kesal.

"Satu hal yang tidak aku mengerti tentang rumor yang beredar, mereka mengatakan aku merupakan anak yang tidak di inginkan dan hanya menjadi aib bagi keluargaku, aku tidak bisa mengatakan rumor itu benar tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa rumor itu salah" Sasuke memulai ceritanya sambil menghembuskan nafas kesal.

"Kau tau keluargaku sebetulnya terlalu kuno, mereka mengatakan tidak mungkin ada dua matahari disatu tempat dan jika matahari tersebut dipaksakan berada di satu tempat maka akan menghancurkan banyak hal, maka dari itu beberapa bulan setelah aku lahir mereka langsung membawaku ke sebuah desa, aku dirawat oleh kakek dan nenek yang merupakan teman dari kakek dan nenekku." Sasuke menatap langit dengan penuh kekesalan.

"Bagaimana bisa mereka hanya berpegangan dengan kepercayaan kuno tersebut dan mengasingkanku bersama orang yang tidak memiliki hubungan darah denganku, kau tau? aku bahkan tidak pernah melihat wajah kedua orang tuaku secara langsung, aku baru bisa melihatnya beberapa bulan setelah kematian kakek dan nenek yang merawatku, rasanya benar-benar sakit sekali hatiku harus menguburkan kakek dan nenek yang merawatku seorang diri tanpa bantuan dari keluargaku, aku sangat sedih karena saat itu yang aku tau aku harus bisa menjalani hidupku seorang diri tanpa siapapun" Sasuke menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa kesal yang semakin membara dihatinya.

"Setelah beberapa bulan aku menemukan sebuah catatan dan sebuah buku tabungan peninggalan nenek, kau tau? sakitnya hatiku saat mengetahui fakta bahwa aku akan menjalani hidupku seorang diri tidak sesakit saat aku menemukan fakta bahwa sebetulnya aku masih memiliki orang tua, selama ini mereka hanya mengirimkan uang tanpa pernah menghubungiku dan menanyakan kabarku, alangkah baiknya jika aku tidak menemukan catatan tersebut dan menganggap bahwa orang tuaku sudah meninggal, melalui catatan tersebut aku juga menemukan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang nantinya mungkin akan kutanyakan jika aku mengetahui fakta tersebut seperti kenapa mereka percaya dengan hal kuno seperti itu, kenapa harus aku yang diasingkan, kenapa mereka mengabaikanku, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaanku namun semua pertanyaan itu hanya memiliki satu jawaban yaitu karena mereka menganggap akulah yang menjadi sumber dari semua masalah yang menimpa mereka, ibuku hampir meninggal saat melahirkanku, kondisi keungan keluargaku tidak stabil setelah aku lahir, kakak ku hampir meninggal juga karena menyelamatkanku, itulah alasan besar mengapa aku yang harus menjauh." Sakura menatap sedih Sasuke dengan air mata yang menumpuk di sudut matanya

"Semua itu tidak masuk akal bukan, aku bahkan masih kecil, bagaimana bisa aku menjadi penyebab dari semua kesialan tersebut?" kata Sasuke penuh dengan perasaan tidak terima.

"Perlakuan pertama yang kuterima saat bertemu kedua orang tuaku untuk yang pertama kali tidak bisa kulupakan, meskipun aku benci dengan fakta bahwa aku masih memiliki orang tua, tapi tidak kupungkiri bahwa aku ingin mereka memeluk dan menyambutku dengan hangat, tapi faktanya mereka hanya mengatakan aturan-aturan yang sangat tidak kumengerti!" Sasuke menghembuskan nafas kesal

"Yang membuatku semakin kesal adalah kedua orang tuaku merupakan orang yang sangat kaya raya, kau tau bagaimana aku hidup di desa dengan kakek dan nenekku? Kau tau perbandingan tempat tinggalku di desa dengan tempat tinggal mereka? Rumahku di desa hanya sebatas rumah anjing di rumah mereka. Tidakkah kau berfikir mengapa semua orang memperlakukanku seperti ini?" Sasuke menatap Sakura penuh dengan tatapan kepedihan.

"Semua ini karena sikap keluargaku yang menganggap bahwa aku tidak pernah ada meskipun saat ini kami sudah tinggal di satu rumah yang sama, mereka selalu melupakanku, pergi ke pesta tanpa mengajakku, makan bersama tanpa kehadiranku, mengobrol bersama tanpa menyadari kehadiranku." Sasuke mengangkat kepalanya lurus kearah langit untuk menjaga dirinya untuk tidak meneteskan air mata.

"Aku tidak suka makan sendiri tapi faktanya aku harus selalu makan sendiri, karena mereka akan merasa tidak nyaman jika aku berada di sekeliling mereka, entahlah mungkin akan menimbulkan kesialan bagi mereka." Sasuke menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.

"Meskipun aku tau alasan utama dari semua ini, tapi hatiku tetap terus bertanya, kenapa semua ini harus terjadi padaku, bisakah sekali saja aku bertukar tempat dengan Itachi-nii, aku ingin merasakan semua yang dia miliki saat ini. maka dari itu, suatu saat aku akan mendapatkan semua harta mereka dan menghancurkannya dengan tanganku!" kata Sasuke penuh dengan keseriusan dalam kata-katanya.

"Apa kau puas hanya dengan menghancurkan mereka?" tanya Sakura

"Harusnya aku puas!" jawab Sasuke mantap.

"Tidak! kau tidak akan puas, tapi kau akan menyesal" mendengar kata-kata Sakura membuat Sasuke menatap tajam Sakura tanda tidak suka dengan ucapan Sakura.

"Jika kau melakukan itu berarti semua kepercayaan kuno yang sangat kau benci itu akan menjadi nyata dan secara tidak langsung kau membuat jalan bagi beberapa orang untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan kedua orang tua mu itu dan itu berarti akan ada orang yang bernasib sama sepertimu, kau saja sangat tidak suka dengan apa yang kau rasakan lalu apa kau sekejam itu membuat seseorang merasakan hal yang sama sepertimu?" mendengar kata-kata Sakura membuat Sasuke terdiam dan memikirkan apa yang di ucapkan Sakura.

"Sakura bisakah kau berada di sisiku, dan membantuku lepas dari beban yang kurasakan?" tanya Sasuke yang lebih terdengar seperti permohonan dengan air mata yang menumpuk pada sudut matanya.

Melihat Sasuke yang saat ini membuat Sakura bisa merasakan sakit yang dirasakan Sasuke, Sakura segera memeluk Sasuke dan mengelus rambut Sasuke pelan.

"Hmm, aku akan melakukannya" jawab Sakura, mendengar jawaban Sakura, Sasuke memeluk Sakura balik untuk menunjukkan rasa senangnya.

End Flashback

TO BE CONTINUE