[Author pov]

Pagi ini Jinyoung merutuki salah satu tindakan bodohnya sekaligus merutuki kenapa Mark begitu penurut? kMark benar-benar berangkat ke sekolah tanpa menjemput Jinyoung persis seperti apa yang Jinyoung suruh. Jadi sebenarnya ini salah siapa?

Jari nya dengan cepat mendial angka 2

"apa?!"

"aku belum mengatakan sepatah katapun Jaebum! Kenapa kau berteriak pada ku!"

"maaf ku kira Nayeon, ada apa?"

"jemput aku, kurang dari 15 menit kau sudah harus disini"

"hei jangan bercan—"

Jinyoung memutuskan sambungan telepon secara sepihak, enggan mendengar protesan dari lawan bicaranya.

well, ini sudah 9 menit dan ia masih belum melihat tanda-tanda kehadiran Jaebum, ia mengikat rambut smooky grey-nya asal-asalan. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Ia takut terlambat. Rumahnya kosong, Mark sudah berangkat, Jaebum tak kunjung datang. TadinyaJinyoung berniat menggunakan taxi tapi menginggat jatah bulanannya habis setelah pulang dari salon kemarin ia segera mengurungkan niatnya.

Takk!

"aduh!" Jinyoung mengusap kepalanya yang dipukul oleh Jaebum.

"ayo cepat jangan melamun!"

"pelan-pelan saja nanti rok ku terbang bagaimana?"

"ya begitu lagipula apasih yang bisa dilihat? , pakai helm mu dulu. Setidaknya jika kita kecelakaan kita tidak akan tewas ditempat"

"kurang ajar sekali anak gila satu ini! Berhentilah berpikir terlalu jauh urusi saja nilai matematika mu yang—aaaa Jaebum pelan-pelan!"

Dan setelahnya kepala mereka dipenuhi oleh pikiran masing-masing.

Jinyong mendengus kesal mendengar celotehan tidak berguna siswi-siswi di lorong.

Stephani mengubah warna rambutnya?

Terlihat jelas sekali bahwa Stephani

menjadikan Jinyoung batu loncatan

Apa ia masih menyukai Mark ketua tim Basket itu?

"sudah tutup saja telinga mu, kau tidak perlu mendengarkannya. Lagipula mana mungkin kau sejahat itu kan?" Jinyoung menyodorkan beberapa lembar tissue kearah Stephani.

"apa aku seburuk itu?"

"tentu saja tidak! Kau ini kenapa sih!"

Jinyoung memukul pelan lengan Stephani.

"omong-omong kau tadi berangkat bersama Jaebum?"

Jinyoung menganggukkan kepalanya singkat. Ia masih sedikit kesal dengan Mark omong-omong.

"apa kalian berkencan?"

"apa kami terlihat seperti itu?" Jinyoung tanpa sengaja mengeluarkan nada tidak suka. Ayolah yang dia suka itu Mark kan? Kenapa malah jadi Jaebum?

"ahahaha tidak, kalian lucu dan ya kurasa kalian terlihat cocok"

"ayolah Stephani, aku kan berniat menikahi pria Amerika" Jinyoung mengerucutkan bibirnya, sedikit tidak terima dengan opini temannya itu.

Stephani menanggapinya dengan senyuman atau—entahlah.

"sepertinya Turnament basket sudah semakin dekat"

Jinyoung menoleh kearah sumber suara, dan sedikit tersenyum.

"kalau begitu sana latihan!"

"kau mengusirku?"

"apa aku tega mengusir kakak ku yang tampan ini?"

Mark terdiam untuk beberapa saat.

"apa aku salah bicara?"

"apa kau mengaku salah?"

"tentu saja tidak, bagaimanapun aku selalu benar"

Mereka tertawa, tanpa Mark sadari Jinyoung mengharapkan satu kalimat . mungkin seperti,

'bagaimana harimu?' 'kau berangkat dengan siapa?'

atau yang lebih sederhana saja seperti 'kau benar-benar mengubah warna rambutmu?'

Tapi hingga bel istirahat selesai, 3 kalimat itu tidak terucap oleh Mark sama sekali, Jinyoung merasa kecewa. Dan berakhir dengan Jinyoung berjalan malas kearah kelasnya, harapan kecilnya baru saja dihancurkan oleh kakak kelasnya itu.

"hai Jinyoung! Bagaimana hari mu?"

Jinyoung ingin menangis saja rasanya, kenapa kalimat yang diharapkannya malah keluar dari mulut orang yang tak diharapkannya?

"ayolah Jinyoung jangan mengacuhkan ku"

"ah, aku seperti mendengar seseorang berbicara. Apa sekolah ini memiliki hantu?"

Jinyoung masa bodoh dengan kehadiran Jackson disampingnya dan memilih untuk bermonolog ria.

"oh come on!"

"AAAA ADA HANTU!!!"

Jinyoung berlari kearah kelasnya dan meninggalkan Jackson dengan keadaan kesal.

[Jinyoung pov]

Aku rasa aku perlu mengembangkan bakat ku dalam dunia akting, mungkin nanti aku bisa menjadi aktris? Aku begitu hebat dalam menata raut wajah, walaupun jauh didalam hati biasanya berbanding terbalik.

Ah, soal Jackson entah kenapa hati kecil ku terus berkata 'jauhi dia' sebenarnya aku ingin sesekali berkenalan dengan orang itu. Ayolah Jackson Wang, siapa yang tidak tau? Pewaris resmi Wang holding corp. Tampan iya, pintar iya. Tapi ku rasa sudah cukup, aku tidak mau berurusan dengan pria-pria tampan. Kak Mark saja sudah membuat hatiku naik turun tidak jelas begini.

Aku memasuki ruangan kelas. Aku melirik kearah Stephani, dia tertidur. Aku tidak perlu membangunkannya lagipula Mr. Sam sedang ada urusan kami hanya diberi tugas saja. Aku memutar pena ku bosan. Aku tidak terlalu menyukai pelajaran bahasa, entahlah bahasa itu cakupannya terlalu luas. Struktur, ciri-ciri, sastra. Sudahlah aku muak. Aku mengerti kenapa Stephani lebih memilih tidur, dan aku memutuskan untuk mengikuti jejaknya. Tapi sialnya tidak bisa, kelas ini terlalu hening. Suasana hening itu menyeramkan bagiku. Salahkan Im Nayeon yang meracuni ku dengan berbagai koleksi film horor kesukaannya itu.

"Jinnie sudah jam pulang! Kau ini memikirkan apa sih sampai bel saja tidak dengar? Aku yang tidur saja dengar"

"h-hah?"

"berhenti memikirkan pelajaran, ku rasa otakmu mulai lelah dengannya" Grace menepuk bahu ku dan berlalu.

"dasar sok tau!"

"Jinnie aku mendengar mu!"

Kemudian aku merutuki mulut bodohku ini.

[author pov]

"kak Mark!"

Mark menoleh kebelakang, Stephani? Ada sedikit rasa kecewa dihatinya saat yang memanggilnya bukan Jinyoung.

"ada perlu ap—"

Stephani mencium tepat sebelum Mark menyelesaikan kalimatnya.

"aku menyukai mu, bukan sebagai senior, bukan sebagai kakak tapi sebagai pria"

Mark diam ditempatnya, ekor matanya menangkap sosok Jinyoung yang berlari ke arah gerbang utama sekolah.

"ku rasa kau salah pa—"

"aku merubah warna rambutku, bukan kah kakak menyukai gadis bersurai hitam?"

"aku berubah pikiran aku menyukai gadis bertubuh kecil, rambut grey smoke dan yang jelas gadis asia"

Stephani tidak bodoh, ia tau jelas tipe yang baru disebutkan Mark sangat jelas bahwa itu Jinyoung.

[Jinyoung pov]

Aku berniat menemui kak Mark diruang latihan basket, Jaebum sudah pulang. Jelas aku harus pulang bersama Mark karena uang saku ku telah kandas. Kalau bukan karena Sean yang meminta aku tidak perlu repot-repot menghabiskan uang ku hanya demi komik astaga!

"ayolah, aku harus membeli komik itu hari ini. Kau tau itu limited edition!"

"siapa peduli?"

"Jinnie harus kah aku berlutut dihadapan mu?"

"cih! Ini ambilah dan berhenti bertingkah menjijikkan"

"kau memang yang terbaik! Terimakasih! Ingin ku antar pulang?"

"sayangnya aku pulang bersama Jaebum"

Ya awalnya aku mengharapkan Jaebum tapi si kakek itu berkata bahwa adiknya, Nayeon merengek meminta makanan Italia. Lalu saat itu kak Mark tiba-tiba terlintas diotak ku.

Kak Mark tidak mungkin membiarkan ku pulang sendirian apalagi dalam kondisi hujan seperti ini. Tapi sepertinya aku melupakan satu fakta bahwa 'tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini'.

Stephani mencium kak Mark tepat dibibir, aku merasa dunia ku runtuh saat itu juga.

Stephani si gadis berparas cantik, dan Mark si laki-laki berparas tampan

Stephani si ketua Cheers dan Mark si ketua Basket

Aku tidak pernah mengira bahwa selama ini aku hanya 'camera-man' bagi mereka, aku hanya merekam tentang cerita mereka. Tapi tidak dengan ceritaku.

A/N : kritik dan saran dibutuhkan. review please :' newbie butuh bimbingan

next chapter : Do you love me?