Chapter sebelumnya...
SRAK SRAK
Aomine yang apatisnya sedang tidak kambuh, mencoba untuk melihat apa yang ada di balik semak – semak itu.
Dan ia melihat—
.
.
"Hm?"
"..."
.
.
—Seorang pemuda berwajah manis, berkulit putih bersih, berambut pirang keemasan, beriris madu bening, bertelanjang dada, hanya di lapisi kain putih untuk menutup bagian anunya, dan juga... kuping anjing dan ekor? Ia terduduk dengan pose seperti bersimpuh dan sedang memakan sesuatu. Ia menatap Aomine sambil memiringkan kepalanya dengan imut.
.
.
"Hai-ssu! Woof!"
"...Hai"
.
.
CROOOT
Detik berikutnya darah segar keluar dari dua bolongan hidung mancung Aomine.
You are My Dog
AoKise Fanfic
Fujimaki Tadatoshi
T
Romance, Fantasy, Humor (Garing)
YAOI/BL/AU/Abal/OOC(?)/Bahasa campur aduk/Typo/dkk
KEEEK KEEEK KEEEK
Suara burung gagak bergema pada sore itu dan melintasi sebuah taman kecil di tengah kota. Yak, setelah kita close-up lebih dalam lagi taman tersebut, ternyata di balik semak – semak ada dua orang pemuda yang luthu – luthu. Yang satu sedang pingsan dengan daun sirih menyumbat hidungnya, dan yang satu lagi, yang agak sedikit aneh, malah memperhatikan si pingsan yang dekil dengan wajah yang menggemaskan.
Si hitam, sebut saja Aomine Daiki, mencoba membuka matanya. Ia terbangun karena ada suara burung gagak yang entah mengapa lewat di atas taman.
"Uh.."
"Kamu tidak apa – apa?" Si pirang asing itu memiringkan kepalanya di depan Aomine. Mata Aomine melotot dan alisnya yang mengkerut itu makin mengkerut. Jangan sampai ia mimisan lagi! JANGAN!
"T-tidak apa – apa. Maaf, kau terlalu dekat" Aomine menoleh ke arah lain sambil bersemu. Jantungnya penuh dengan suara dentuman. Si pirang setengah anjing itu pun panik dengan ekspresi yang imut. Ia agak sedikit menjauhi Aomine. Aomine menutup mukanya.
"Kami - sama! Mahkluk ini manis sekali!"
"M-maafkan aku-ssu! Kalau kamu tidak suka denganku, kamu bisa tinggalkan aku... Sendirian..." Katanya sambil menunduk. Telinganya terlihat turun. Sekarang giliran Aomine yang panik.
"O-oi, siapa yang tidak suka denganmu?" "...Kau manis begitu" Aomine melanjutkannya dalam hati.
"Eh?"
"M-maksudku pasti ada yang menyukaimu! Argh, lupakan. Kau tinggal dimana? Pakaianmu di rampok?" Tanya Aomine yang mulai terbiasa dengan mahkluk di depannya ini.
"T-tidak kok. Aku tinggal jauh dari sini. Saat aku di sihir, malah jadinya seperti ini-ssu"
Sihir?
Aomine pasang wajah dongok.
Jaman modern begini ada sihir? JAMAN MAJAPAHIT KALEE.
"Oke, mungkin itu bisa dijelaskan nanti. Mungkin sekarang kau bisa tinggal di rumahku dulu"
"Waaah~ Kamu baik sekali pemuda negro!" Kata pemuda itu semangat sambil berbinar.
Mendengar kata negro. Perjelas lagi, NEGRO. Aomine jadi sedikit tersinggung. Tapi fakta sih kalau dia memang hitamnya tidak ketulungan. Tidak apa – apa di sebut begitu oleh orang manis, katanya.
"Err... Tapi.. itu.." Aomine melihat ke arah lain tetapi matanya mengikuti nafsunya. Liat saja. Kain putih yang digunakan untuk menutupi anunya si pirang agak terbuka sedikit. Si pirang diam. Mencoba mencerna apa yang terjadi.
1 detik
.
3 detik
.
BLUUSSH
"KYAAAAA!"
KEEEK KEEEK KEEEK KEKEKEKEK
Burung gagak kembali lewat dan tertawa mesum.
*AkuRapopo*
Kediaman keluarga Aomine, malam hari.
Suasana malam hari di Rumah Aomine berbeda kali ini. Biasanya ia ngenes main video game sendiri, sekarang di kamarnya ada yang menemani. Yap, pemuda asing ini. Ia heran, mengapa bisa ada telinga atau ekor anjing di tubuhnya. Atau jangan – jangan dia clospey? Uh..cosuprei?.. uh.. cosplay? Tapi dia bilang dia di sihir? Apa dia dikutuk?! Di kutuk sama nenek sihir begitu?! Lupakan dulu masalah itu. Sekarang ia harus memberikan pemuda ini baju. Aomine berjalan ke arah lemari sambil mengambil baju yang mungkin akan pas di tubuh si pirang. Sambil mengambil, mata mesumnya melirik pemuda itu.
"Enak sih kalau melihatnya begitu. Seger gitu deh nih mata muehehehe" Aomine tertawa mesum. Si pirang masih berkutat dengan bantal guling Aomine.
.
Tunggu, bantal guling?
.
"JANGAN SENTUH ITUUU!" Aomine segera merebut bantal guling 'mai-chan-berbikini' miliknya. Si pirang itu hanya menatapnya heran. Aomine segera ngeles dengan memberikan si pirang baju. Si pirang hanya melihat baju itu, menciumnya, dan mendengus. Beberapa detik kemudian ia menggigit – gigit baju Aomine tersebut. Aomine yang sedang menaruh guling ke sayangannya kini menoleh ke arah si pirang.
"Hey! Apa yang kau lakukan?!"
"Ini jelek! Tidak bisa dimakan!" Kata si pirang cemberut. Aomine menghela nafas. Ia mendekati si pirang itu dan tersenyum.
"Kau seharusnya memakainya, bukan memakannya" "...benar – benar seperti anjing" Aomine menutup mukanya lagi. Ia sangat tidak tahan dengan si pirang ini. Ia segera memakaikan si pirang kaos dan celananya biar si pirang yang memakainya sendiri. Kalau Aomine yang pakein bisa berabe pake begete urusannya. Setelah selesai, mereka berdua duduk di karpet dekat TV di kamar Aomine.
"Namamu?"
"Aku tidak punya nama-ssu~ Kalau kamu?" Si pirang bertanya dengan senyuman manis. Kokoro Aomine gak kuat menerima semua ini. GA GA GA KUAT GA GA GA KUAT~
Ehem.
"Aomine Daiki. Bisakah kau menyebutnya?"
"Um.. Ao~mine.. D-daiki?" Si pirang itu mengulang perkataan Aomine. Aomine tertawa pelan. Si pirang cuma nyengir.
"Aominecchi! Berikan aku nama-woof! Ah, maaf aku kelepasan gonggonganku.." Kise menutup mulutnya dengan imut. Aomine tertawa.
"Hahaha! Apa itu 'cchi'? Baiklah, karena rambutmu pirang, nama mu harus ada unsur 'Kiiro' yang berarti 'Kuning'"
"Kiiro?"
"Um.. Ki~rito? Tidak, tidak, Ki~same? Tidak juga, Ki~ki.. ki.. Kise! Kise.. Kise.. Ryouki.. etto.. Ryouta! Ya! Kise Ryouta!" Entah mengapa Aomine jadi kritis dan pintar. Kise berbinar mendengar nama barunya.
"Ki~se Ryouta! Namaku Kise Ryouta! Terima kasih, Aominecchi!" Kise spontan memeluk Aomine. Aomine ya seneng – seneng aja di peluk bishie seperti Kise. Aomine membalas pelukannya sambil menepuk kepala Kise. Dilihatnya ekor Kise berkibas ke kanan dan ke kiri. Setau dia, kalau ada anjing yang begitu, itu artinya suka.
"Ah! Aku juga suka padamu, Kise!" Aomine berseru gemas dalam hati. Bukankah ini dinamakan love at the first sight? Atau apalah itu Author tidak mengerti bahasa inggris. Pokoknya hari ini untuk pertama kalinya, seorang apatis bernama Aomine Daiki, merasa senang. Sangat senang!
"Aominecchi~ Aku lapar~" Kata Kise. Telinganya terlihat turun.
"Imut sekali!" Aomine berseru dalam hati.
"Biasanya kau makan apa?"
"Daging panggang!~"
SIIIING
Hening sejenak. Aomine memeriksa uang di atas kulkas.
.
.
"Kise, kau tau? Harga daging sapi itu seberapa?"
Kise menggeleng cepat.
"Itu—"
"SEBESAR SIMPANANKU SELAMA 4 HARI! IBU RATU ANDA SUNGGUH PELIT!"
Batin Aomine teriak tak tahan.
Selanjutnya dapat dilihat kedua pemuda ini makan malam dengan makanan kaleng.
*AkuRapopo*
Jatuh cinta itu bisa membuat orang menjadi gila. Termasuk, orang dakian ini.
Pagi tadi, sebelum berangkat sekolah Kise menjilat pipi Aomine untuk membangunkannya. Ya, JILAT. Mereka berdua tidur seranjang. Aomine malah kesenengan dan ketawa ketiwi sendiri sampai sekarang, di Sekolah.
"Muehehehe"
"Kau kenapa, Aomine?" Imayoshi yang sebenarnya jijik melihat tampang Aomine yang mesum itu terpaksa bertanya padanya karena mukanya itu menganggu pemandangan.
"Ah~ Imayoshi. Kau tau tidak?" Aomine menengok ke Imayoshi. Imayoshi memalingkan muka.
"Sial. Mukanya makin menjijikan" "Tidak tau"
"Aku.. JATUH CINTA~~~"
HUEEEKK HUOOGH OHOK OHOK
Sepersekian detik itu juga Imayoshi muntah darah yang daritadi terus ditahannya. Wakamatsu dan Sakurai pun datang setelah itu.
"HUWOOO! Kenapa kau, Imayoshi?! Kau diapakan sama Aomine hah?!" Tanya Wakamatsu kenyat. Sementara Sakurai langsung kabur entah kemana karena ketakutan. Yah, daripada dia bongkok bongkok sih. Lalu, Imayoshi menunjuk Aomine sambil menunjukkan tatapan tanya-sendiri-saja-sama-orangnya. Wakamatsu pun berjalan ke arah Aomine yang masih cengar cengir layaknya kuda fandom sebelah.
"Woy Aomine! Kau apakan Imayoshi sampai muntah darah begitu hah?!"
"HAH?! Aku hanya bilang sesuatu saja kok!" Aomine untuk sementara sadar akan siapa dirinya. Wakamatsu mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Hah? Sesuatu?"
"Iya"
"Apaan?"
"Ja-tuh cin-ta" Aomine mengatakannya sambil meniru gaya anak kribo di sebuah iklan wafer (Aomine: Ketahuan nih Author korban iklan) ...Diem deh.
Lalu Wakamatsu berpikir sejenak. Seorang yang dia benci, orang negro dari jepang itu, yang ditakuti sebagai 'monster' tim basket Touou, yang selalu bolos pelajaran, tidur di atap sampai bel pulang, sedang mengidap penyakit yang sering melanda anak remaja bernama jatuh cinta. Ya, jatuh cinta. Seorang AOMINE DAIKI JATUH CINTA.
.
Tunggu, JATUH CINTA?!
.
HUEEEK GUOOGH BHUUUH HUWEEEGH
Beberapa menit ambulance datang untuk mengangkut jasad Imayoshi dan Wakamatsu ke mobil untuk diberikan pengobatan karena muntah darah tiba – tiba. Ga ada chara death kok.
Aomine? Masih sibuk di dunianya sendiri. liat aja tuh sekarang dia manjatin pohon palem yang ada di taman sekolah sambil menyapa para tupai – tupai yang tinggal di sana. Kalau ada Kise di sana mungkin ia akan mengatakan:
Bukan seme gue~ Bukan seme gue~
Gitu.
*AkuRapopo*
Pulang sekolah. Tak biasanya Aomine bolos untuk pergi ke atap.
Hari ini dan untuk pertama kalinya Aomine mengikuti seluruh pelajaran dan sama sekali tidak pergi membolos dengan berbagai alasan. Guru – guru berserta teman – temannya ikut heran atas perilaku Aomine. Momoi, sahabatnya, ikut perihatin. Ia tau kalau 'Dai-chan' nya menyebalkan jika bolos. Tetapi kali ini dia merasa aneh juga sahabatnya tiba – tiba berubah drastis.
"Mana dia cengar cengir pula..." "Hei, Dai-chan!" Momoi memulai pembicaraan. Kini mereka berjalan berdampingan. Tumben karena Momoi sedang sempat. Aomine masih cengar – cengir sambil menengok Momoi. Momoi jadi takut.
"H-hey, mukamu itu seram tau. Ada apa dengan mu? Kau mengonsumsi narkotika ya!" Momoi menunjuk Aomine dramatis. Gara – gara kalimat tersebut Aomine menjadi dirinya semula.
"Bodoh, aku sedang jatuh cinta tau!" Momoi terdiam sejenak.
"JANGAN LEBAY AMPE MUNTAH DARAH PLIS"
"Nggak kok! Ga nyangka aja orang seperti Dai-chan jatuh cinta! Pfft—" Momoi menutup mulutnya menahan tawa.
"Cih, padahal dia ga laku"
"Apa?!"
"BWEEEEE! Jones!" Aomine melet – melet.
"Dai-chan bodoh! Kau juga jones tau!"
Momoi menimpuk pundak Aomine dengan tasnya. Aomine cuma mengaduh dan menggerutu.
"Seperti apa orangnya?! Dari mana?! Sekolah dimana?! Orang tuanya kerja apa?! Punya nomor teleponnya?! Minta dooong!~ Bla bla bla"
Aomine terdiam. Ia tak mendengar lagi ocehan Momoi. Ia benar. Ia belum tau Kise dengan jelas. Seperti apa orangnya? Kise itu mahkluk yang di sihir. Dari mana? Ia bahkan belum menjelaskannya. Sekolah dimana? Aomine bahkan tak tau kalau Kise masih sekolah atau tidak. Orang tua? Memangnya Kise masih memiliki orang tua? Argh. Omongan Momoi membuatnya pusing tiba – tiba. Ia harus segera pulang dan bertanya dengan serius apa yang sebenarnya terjadi!
"Satsuki! Aku duluan ya!" Kata Aomine sambil berlari meninggalkan Momoi yang misuh – misuh.
*AkuRapopo*
"Aku pulang, Kise" Hening, tak ada suara. Suara Aomine mungkin agak kecil dan pelan. Ia mencoba memanggil sekali lagi dan lebih keras namun tak disahut juga. Setelah melepas sepatu dan menaruhnya sembarangan, ia pergi ke tempat tidur dan langsung mendobrak pintu.
"Kise!" Tak ada. Kise tak ada di situ. Ia mencarinya ke Kamar mandi, tetap tak ada. Lalu saat mencarinya di dapur—
.
.
.
"Aominecchi! Kau sudah pulang-ssu?! Selamat datang~ " Kise menghamburkan pelukannya ke arah Aomine. Seperti biasa ekornya berkibas - kibas. Yang dipeluk membalasnya namun dengan satu tangan memencet hidungnya agar darah segar tak keluar kembali. Setelah melepas rindu antara 'peliharaan' dan 'majikan', Aomine bertanya mengapa Kise berpakaian seperti sekarang.
"K-Kise..."
"Iya?~" Kise menggerakan kembali ekornya.
"Mana... celanamu?"
Ya, sekarang Kise HANYA memakai kemeja putih kelonggaran milik Aomine sehingga panjangnya seatas paha. Bahu putih porselennya terlihat jelas saking longgarnya. Parahnya, tanpa bawahan sama sekali.
"Etto... Celanaku kotor... lalu kulihat celana Aominecchi ternyata tak ada yang pas..." Kise menunduk dan telinganya juga ikut turun. Iya menatap Aomine penuh rasa bersalah. Posenya sangat menggemaskan. Aomine ingin menerkamnya sekarang juga!
"Junior, jangan berdiri oke? Kita tunggu waktu yang tepat!"
Hentai.
"Kise, kau sedang apa di Dapur?" Aomine mengusap kepala Kise.
"Eh? Aku sedang mencari makanan-ssu! Hehe~"
"Sial, dia imut sekali!" "Oke, nanti ku belikan makanan sekaligus... membelikanmu celana yang pas" Aomine bersemu dan memalingkan muka. Kise hanya memiringkan kepalanya.
"Kise, ada yang ingin ku bicarakan"
"Iya?~" Ekor Kise berkibas lagi.
"Sebenarnya... dari mana asalmu?" Aomine menatap Kise lekat. Ekor Kise berhenti bergerak. Kise menunduk. Aomine yang melihat perubahan wajah Kise mulai gelagapan.
"M-maaf aku tak bermaksud—"
"Tak apa kok, Aominecchi. Sebenarnya... aku ini mahkluk yang.. yah, mungkin Aominecchi tau tak akan bisa hidup di sini-ssu, di dunia manusia"
"Maksudnya?"
"Aku ini mahkluk fantasi, khayalan-ssu. Aku adalah seekor anjing-ssu. Aku tinggal di dunia bernama Weltwunder. Dunia yang segalanya serba ada-ssu!Berbagai macam mahkluk ada di sana—"
"Hey! Apa ada gajah yang bisa terbang?! Lalu apa ada unicorn?! Ada Pr*ncess B*bbl* G*m?!" Aomine antusias.
Aho. Ini situasi serius. Siapa pula itu Pr*ncess B*bbl* G*m?!
Kise tertawa geli. Di dalam pandangan Aomine, seketika ada bling bling di sekitar wajah Kise.
"Hihihi... Tapi ada satu masalah-ssu..."
"Apa itu?" Dilihatnya Kise menunduk makin dalam dan memainkan ujung kemejanya.
"Yang memerintah di sana adalah seorang ratu yang jahat. Ia dan pasukkannya melarang mahkluk – mahkluk untuk berteman. Jika ada yang berteman, maka mereka akan di bunuh-ssu.."
"Apa alasan ratu itu? Mengapa tak boleh berteman?" Aomine melembutkan suara bassnya. Ia mengusap kepala Kise lembut agar Kise bisa tenang.
"Entahlah, kami sebagai rakyat biasa tak perlu tau urusan ratu. Yang jelas, kami hanya ingin cari selamat-ssu .. hiks.."
Astaganagaboneng.
Kise nangis! KiseNYA menangis!
Aomine segera memeluk Kise. Meletakkan kepalanya di dada bidang miliknya. Mengusap kepalanya dengan lembut. Hatinya seakan teriris melihat Kise menangis.
"Sudah, Kise.. sudah.."
"Aku tidak kuat.. hiks.. Aominecchi.. aku selalu kesepian.. hanya ada penyihir yang selalu menjengukku-ssu.. hiks.. hiks.. itu pun diam – diam.. ia kasihan padaku.. hiks.. hiks"
"Jadi dia yang mengutukmu?" Kise melepaskan pelukannya dan menggeleng. Airmata masih mengalir di pipi putihnya. Tangan Aomine berinisiatif untuk menghapusnya dengan lembut.
"Bukan mengutuk-ssu. Aku yang memintanya menyihirku-ssu. Soalnya aku dengar dari kicauan burung kalau dunia manusia itu dunia yang bersahabat. Walau kata penyihircchi banyak nafsu jahatnya.." Kise mengangkat sedikit kerah bajunya untuk mengelap air matanya. Otomatis, bagian bawah agak terlihat. Aomine menengok ke arah lain namun matanya mengikuti nafsunya.
Kise, 'nafsu jahat' itu ada di depanmu loh.
"Lalu kau ke sini untuk mencari teman? Begitu?" Otak bodoh Aomine mulai konek. Kise hanya membalasnya dengan anggukan. Aomine pun meringkuh wajah Kise dengan tangan itemnya. Kise mengangguk.
"Iya-ssu. Tidak ada teman itu sepi sekali-ssu..."
"Aku mengerti kok, Kise" Aomine mempersempit jaraknya dengan Kise. Badan kise yang lebih rendah beberapa centi itu mendongakkan kepalanya. Wajah Aomine semakin dekat dan dekat—
5 cm
.
3,5 cm
.
1,5 cm
.
Dan—
RRRRRRRRRR
HANDPHONE B*LLSH*T!
"Maaf, Kise. Aku mengangkat teleponku dulu" Aomine pun agak menjauh dari Kise. Kise memiringkan kepalanya dengan imut dan Aomine tersenyum. Senyum mesum. Dilihatnya layar handphone, tertera di sana 'SATSUKI JELEK is calling'. Aomine mendecih pelan. Jadi dia yang menganggu kesempatan Aomine, huh?! Aomine mengangkat teleponnya.
"Halo~ Dai-c—"
"APA?!"
"He?! Apa maksudmu teriak – teriak?!" Suara di seberang tak kalah nyaring.
"KAU MENGGANGGU WAKTUKU! BARU SAJA INGIN MENCIUM KISE!"
"Ha? Siapa Kise?"
Ups. Aomine keceplosan.
Ia tidak boleh memberitahu siapa – siapa soal Kise. Cukup hanya dia yang tau. Kalau semua orang tau, mungkin Kise akan menjadi terkenal, di bedah atau di... pajang?! NO!
"Bu-bukan siapa – siapa kok!"
"Dasar tukang ngayal. Akashi – kun ingin kita reunian besok di Maji Burger. Katanya kau HARUS ikut"
"Ya ya ya. Kalau tidak ikut si setan merah bakal mengamuk kan?"
"Psst! Dai-chan! Telinga Akashi – kun itu dimana – mana tau! Kalau kau ketahuan tamatlah riwayatmu! Senanglah aku~ Muehehe"
"Kurang ajar kau. Bye"
"HEE?! Tung—"
BIP BIP BIP
Aomine menghela nafas. Ingin sekali ia membunuh sahabatnya itu. Selain itu, besok Kise tidak boleh ikut. Maunya Aomine mencarikannya teman tetapi kalau rahasianya ketahuan, ia tak tau reaksi teman - temannya seperti apa nanti. Dan juga... ada Akashi. Kalian tau Akashi Seijuuro? Anak dari pemilik perusahaan perdagangan terbesar se-Kyoto?
Ia adalah seorang bishiecon. BISHIECON
Atau apalah itu penyuka pemuda bishie. Aomine tak rela jika Kise di rebut olehnya. Plis, Aominelah yang menemukan Kise untuk pertama kali dan ia lah cinta pertamanya.
"Kise, aku akan beli makanan dulu. Jaga rumah ya" Aomine mengambil jaket hitamnya dan menuju pintu depan. Kise berlarian kecil ke arah Aomine dengan ekor yang di kibas – kibaskan.
"Hati – hati di jalan Aominecchi!~" Kise melambaikan tangannya dan tersenyum manis. Aomine balas tersenyum. Saat membalikan badannya ia menutup mukanya.
"Aku akan berhati – hati, sayang!"
*AkuRapopo*
Siang hari, Maji burger
5 orang manusia dengan rambut berwarna – warni sedang duduk di satu meja di sebuah Restoran cepat saji.
"Mana Aomine, nanodayo?" Si hijau yang sedang membawa pot bunga memulai percakapan.
"Mungkin dia tidur sampai siang, Midorima – kun" Si biru muda menjawab. Tumben kelihatan.
"Padahal tadi malam sudah ku beri tau!" Momoi asik mengotak – ngatik Handphonenya.
"Aka – chin~ Boleh aku pesan eskrim~?" Si raksasa bersuara.
"Belum, Atsushi. Bersabarlah. Sepertinya Shougo juga tidak datang karena sakit" Emperor bersuara sambil memeriksa handphone nya.
"Kalau Akashi/kun/chin tau yang sebenarnya pasti Haizaki akan tamat" Batin semua yang ada di situ. Haizaki Shougo. Salah satu anggota Kisedai itu hanya pura – pura sakit. Nyatanya apa? Dia main game di rumahnya dengan santainya.
"Maaf, aku sedikit terlambat" Suara Bass mengagetkan mereka.
"Daiki, tak ku kira kau membawa teman yang manis" Akashi tersenyum aneh. Aomine tampang pasang dongok. Yang lain hanya bisa cengo.
"Ha? Apa maksudmu, Akashi?"
Akashi menggerakan tangannya dan menujuk ke arah belakang Aomine.
"Hai manis, siapa namamu? Apa kau saudara Daiki?" Akashi mulai bertanya. Aomine langsung menoleh dengan dramatis.
.
.
.
"Eh? A-apa? Ak-Aku cuma mau membawakan ponsel Aominecchi saja kok! Lalu pulang! Hahaha~"
.
.
.
"HEEEEEE?!"
Take #3
"Sudah, Kise.. sudah.."
"Aku tidak kuat.. hiks.. Aominecchi.. aku selalu kesepian.. hanya ada penyihir yang selalu menjengukku-ssu.. hiks.. hiks.. itu pun diam – diam.. ia kasihan padaku.. hiks.. hiks"
"Jadi dia yang mengutukmu?" Kise melepaskan pelukannya dan menggeleng. Airmata masih mengalir di pipi putihnya. Tangan Aomine berinisiatif untuk menghapusnya dengan lembut.
"Bukan mengutuk-ssu. Aku yang memintanya menyihirku-ssu— mmnn~"
"S-sedang apa kau?"
"Air mata ku asin. Enak~ hehe"
Aomine headbang
Take #4
"Maaf, aku sedikit terlambat"
"Daiki, tak ku kira kau membawa teman yang— err..."
"Kau tidak ingat dialogmu, Akashi?"
"Kau lihat saja sendiri"
Aomine noleh dan—
"Hihihihi~"
.
.
"SIAL! MASA ADA HANTU SIANG – SIANG?!"
TBC
Cuap – cuap sang author:
Saya sudah update =w=)/
. Sebelumnya, saya berterimakasih kepada:
anakYunJae dan dee-mocchan
yang sudah mereview/fav/follow :"3 saya senang.. hiks *terharu* padahal saya kira Fic ini ga bakalan ada yang meriview (_ _) #pesimisbanget dan mohon maaf kalo yang ini kurang so suit D'X
. Soal Kise, dia itu lagaknya seperti manusia: jalan, makan, dan sebagainya. Tetapi, kadang – kala sifat ke'anjing'annya itu kambuh(?) soalnya di sihir gak sempurna. Pokoknya gitu deh :"D lalu soal keimutan Kise, saya gak bisa deskripsiin dengan jelas. Yang jelas dia imut banget di sini :"3
. Weltwunder artinya Dunia keajaiban. Itu bahasa jerman dan menggunakan gugel trenslet :v
. Chapter depan, kemungkinan akan saya buat sedikit menjorok ke AoKiAka. Soalnya saya juga suka AkaKise~ #gananya dan mungkin humor garingnya akan dikurangi #apapulaini
. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih pada readers yang sudah sempat membuka fic humu nista ini. Terima kasih juga yang sudah meripiuw :3 mungkin banyak kata – kata saya yang kurang berkenan, saya mohon magang #apa
Okay, see ya in next chapter! Thanks for reading!
