Setitik cahaya yang ada di hatimu bisakah aku dapatkan agar bisa menjaganya dan menempati hatimu hanya untukku?
Men With a Mission
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
.
Story by Me
.
Pairing : U. Sasuke x Haruno Sakura
.
.
.
.
"Kau sudah bangun?"
Sakura yang baru saja turun dari flat dimana semalam ia bermalam di kejutkan dengan kehadiran Shikamaru yang membawa empat gelas kopi di tangannya.
Sakura mengangguk sebagai jawaban dan beruntungnya ia karena anak tunggal dari Nara Shikaku itu datang tanpa harus ia menghampirinya terlebih dahulu. Ingatannya kembali merujuk pada kejadian tadi pagi oleh sebab itulah ia ingin bertemu Shikamaru dan menanyainya perhal tempat tinggal yang semalam ia jadikan singgah untuk bermalam. Sebenarnya sejak tadi ia terus berpikir dan berasumsi jika Shikamaru kenal dengan pria itu karena bisa masuk dengan mudahnya dan lagi sepertinya Shikamaru sangat kenal tempat itu. Jadi dengan segala pertanyaan yang menggulung memenuhi pikirannya, akhirnya ia menarik tangan Shikamaru untuk duduk di kursi panjang yang ada di taman kecil tepat di depan gedung itu.
"Apa kau kenal pemilik tempat itu?" Sakura langsung bertanya saat ia mendudukan diri di kursi panjang itu.
Shikamaru pun ikut duduk di sebelah Sakura dan memberikan satu gelas kopi padanya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"tanya balik Shikamaru pada Sakura yang kini sedang meminum coffee latte kesukaannya.
"Aku pernah bertemu dengannya, ya." jelas Sakura yang menjelaskan jika ia pernah bertemu namun sama sekali tidak mengenal pria itu.
"Hm," Shikamaru meminum salah satu gelas coffee americano yang ia bawa dan juga mendengar dengan seksama apa yang di ucapkan Sakura. "Ah, kau kenal dengannya." ucapnya mengerti.
"T-tidak. Aku hanya pernah bertemu, ya secara tidak di sengaja." Sakura menatap langit musim gugur yang terlihat begitu indah saat ini. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin dimana ia bertemu pria asing itu dan sekarang nyatanya ia kembali bertemu. Entahlah, hanya saja jika memang pria itu tinggal di flat itu kemungkinan dia akan terus mengganggunya bahkan membencinya karena insiden kemarin.
Mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing. Shikamaru menoleh dan melihat bagaimana Sakura tersenyum dengan wajah menegadah menatap langit indah saat ini. Wajah cantik itu terpapar sinar pagi membuatnya semakin terlihat menawan saat ini.
"Aku sudah menemukan tempat tinggal untukmu," kata Shikamaru sambil menepuk kepala Sakura pelan.
Mendengar itu Sakura langsung menoleh pandanganya dari langit pada Shikamaru.
"Benarkah?"
Shikamaru mengangguk mengiyakan dan tangannya kini sudah tidak lagi menepuk kepala merah muda Sakura.
"Berikan alamatnya aku akan ke sana sekarang." pinta Sakura yang sebenarnya ingin langsung pergi atau bisa dibilang menghindari akan kemungkinan bertemu kembali dengan pria itu.
Shikamaru bersyukur karena Sakura sepertinya sudah lupa akan apa yang ingin dibicarakan padanya tentang sosok itu.
"Kita kesana bersama."
"Oke."
"Mana kopi ku?"
Seseorang hadir di antara mereka dan berdiri menjulang di samping Shikamaru.
Dapat Sakura lihat sosok yang dengan santai nya meminta kopi yang mungkin saja memang pesanan nya. Tidak sadar akan apa yang dilakukan, kini tatapan Sakura terpusat pada kedua pria itu dan keyakinan dengan opini-opini dalam dirinya semakin menguatkanya jika mereka benar berteman. Tatapan Sakura yang sejak tadi meneliti pada kedua pria itu seketika merunduk saat mata yang sama dengan Shikamaru itu menatapnya datar tanpa terlihat emosi sedikitpun di dalam sana.
Menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan akhirnya Sakura memberanikan diri untuk berbicara. Mungkin saja pria itu masih belum memaafkan atas apa yang terjadi kemarin dan karena itulah ia harus minta maaf dan berterima kasih dengan benar agar pria itu mempercayainya.
"Terima kasih sudah meminjamkan flat untuk saya tidur semalam dan juga atas pertolongannya kemarin, Tuan."
Pria itu masih sama dengan memberikan tatapan datar nya pada Sakura. Tidak ada balasan dari perkataan Sakura yang ia berikan, yang ada ia mengambil dua gelas kopi dan berlalu pergi meninggalkan Sakura yang terbengong tidak percaya dan juga rasa kesal karena ketidak sopanan pria itu pada orang yang sedang mengajaknya berbicara.
"Dasar ayam hitam sialan." gerutu Sakura yang sukses menghentikan langkah pria itu.
Pria yang Sakura akui sebagai wanita normal terlihat sangat tampan dan seksi itu pun menolehkan kepalanya ke samping dan berucap;
"Aku dengar itu Pinky." ucapnya yang lagi-lagi dengan nada ketus nan menyebalkan. Pria itu mengalihkan pandangannya pada Shikamaru yang masih terduduk dengan santai seolah kedua orang itu adalah kucing dan anjing tetangganya yang sering berkelahi.
"jam 10." ucap pria itu lagi kemudian berlalu pergi dari tempat Sakura berada.
"Kau ada janji?" tanya Sakura pada Shikamaru saat mendengar perkataan pria itu yang jelas sekali di tujukan pada Shikamaru.
"Ya."
Sakura kembali menghela napas pelan dan duduk menyamping agar bisa menghadap Shikamaru.
"Kau ada janji sebaiknya aku pergi sendiri saja, oke?" kata Sakura yang merasa tidak enak hati selalu merepotkan Shikamaru. Ia sangat tahu jika Shikamaru tidak suka di repotkan dan lagi-lagi orang yang selalu merepotkannya adalah dirinya.
"Tidak." tolak Shikamaru tegas.
Sakura tahu kenapa Shikamaru bersikeras akan dirinya setelah kejadian kemarin dan ia harus meyakinkan anak tunggal dari keluarga Nara itu sekarang.
"Aku akan baik-baik saja Shika sungguh, lagi pula aku akan meminta Ino menemaniku."
Shikamaru menimang usulan Sakura. Instingnya tidak berkata baik-baik saja jadi, "aku akan antar dan setelah itu Ino menemanimu, deal."kata Shikamaru menolak untuk di bantah.
"Deal." setuju Sakura yang nyatanya tidak bisa menolak Shikamaru. Jika sudah seperti itu akan susah untuk membujuk Shikamaru dan itu akan menjadi hal yang sangat menyebalkan.
"Ayo." Shikamaru berdiri dengan kedua tangan ia masukan pada saku celananya.
Sakura pun bangkit dan berjalan beriringan. Namun baru beberapa langkah berjalan ia langsung menghentikan langkahnya dan menepuk dahinya karena melupakan sesuatu.
"Aku belum berkemas, sebaiknya kita ke sana dulu."
"Nanti saja."
"Shika," Sakura tahu jika ia kembali ke rumah lamanya kemungkinan Shikamaru akan terlambat dan lagi-lagi itu karena dirinya. "Aku akan baik-baik saja, kau tahu aku dari dulu seperti tupai kan."
Tupai dalam artian yang bisa lolos dari kejaran orang-orang yang selalu mengincarnya sejak kejadian lima tahun lalu yang membuatnya selalu mendapatkan mimpi buruk hingga saat ini.
"Mendokusei, baiklah," ucap Shikamaru akhirnya menyerah dan menuruti kemauan Sakura. Sejujurnya jika ia terus memaksa maka Sakura sudah pasti akan tidak nyaman dan berpikir semua itu salahnya. Jika hal itu terjadi mungkin Sakura akan menjauh atau lebih menakutkan menghilang darinya dan ia tidak mau itu terjadi lagi.
Mendengar itu senyuman Sakura nampak dengan kekehan ringan. Merangkul kan lengannya pada lengan Shikamaru, Sakura menarik pria itu berjalan bersamanya.
"Dasar keras kepala," ucapnya.
"Itu kau." kata Shikamaru yang membalas perkataan Sakura yang mengatainya keras kepala yang tentu saja benar dan Sakura pun lebih keras kepala darinya.
Mereka berjalan menuju bengkel dengan Sakura sesekali memukul perut pria itu di barengi tawa riang yang di sambut Shikamaru dengan memukul kepala merah muda itu pelan bersama kata ajaib yang selalu di ucapkannya, tentu saja.
Di balik salah satu kaca yang ada pada gedung itu, seseorang memperhatikan dengan segelas kopi yang sama sekali belum di sentuhnya. Bersandar pada dinding ia meminum kopi yang masih terasa panas itu perlahan dengan menutup kedua matanya seakan menikmati suasana ketenangan pagi ini. Helaan napas panjang ia keluarkan perlahan seiring kedua kelopak matanya terbuka kembali dan menoleh menatap kedua orang yang sudah pergi meninggalkan pekarangan gedung.
.
.
.
Sakura kini berada di flat sederhana miliknya untuk mengemasi barang-barang miliknya yang akan di bawanya pindah dari tempat ini. Setengah tahun sudah ia lewati di sini yang merupakan waktu terlama dari tempat terdahulu yang pernah ia tinggali dengan waktu yang cukup singkat. Shikamaru sudah pergi setelah membantunya sebentar dan dengan paksaan pula akhirnya Shikamaru pergi sesuai perkataannya jika dia harus datang ke tempat janji yang kemungkinan perkumpulan teman-temannya.
Deringan ponsel mengalihkan Sakura pada barang-barang yang sedang ia kemasi dan dengan segera ia meraih ponsel yang terletak di meja dekat televisi.
"Ya Ino, ada apa?" tanya Sakura setelah menyapa dan tahu jika Ino menelponnya sekarang.
Raut wajah Sakura tertekuk saat Ino mengucapkan maaf karena tidak bisa menemaninya. Pada pembicaraannya, Ino menyarankan Sakura menghubungi Shikamaru yang tentu saja Sakura tolak mengingat tidak ingin merepotkan Shikamaru dan Ino. Ada batasan-batasan sahabat yang tidak selamanya harus di selesaikan bersama dan mereka juga punya kehidupan masing-masing.
"Hn, semoga berhasil."
Sakura menutup sambungan telepon mereka dengan helaan napas panjang. Tidak bisa di salahkan akan keadaan ini dan ia pun harus bisa untuk tidak selalu bergantung pada kedua sahabatnya itu.
"Yosh, aku harus cepat mengemasi semuanya."
Dengan penuh semangat Sakura mulai memasukan barang-barang yang akan di bawanya pada koper. Namun saat ia membuka laci meja kecil yang ada di sudut ruangan, raut wajah yang semula menunjukan keceriaan berubah seketika tat kala sebuah figura di ambilnya dari sana.
"Apa kabar?" satu pertanyaan yang Sakura ucapkan saat memandangi foto dalam figura hitam. Di sana memperlihatkan bagaimana sosok dirinya saat berusia enam tahun dan kedua orang tuanya. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya turun melintasi kedua sisi wajahnya dengan tangan yang mengusap foto itu.
"Aku lelah Kaa-chan, Tou-chan." lirihnya yang mengiba. Sekuat tenaga ia berusaha kuat di depan Shikamaru dan Ino tapi akan seperti ini saat sendirian. Bayangan masa lalunya akan kembali menghantuinya saat ia sendiri dan mimpi buruknya selalu datang mengganggunya.
Flash back
Malam itu salju turun untuk pertama kalinya di musim dingin dan Sakura yang berusia tujuh belas tahun terbangun dari tidurnya saat sang Ibu tiba-tiba saja masuk dan memeluknya erat. Dengan raut kebingungan yang tiada kira akan sikap ibu nya yang seperti ini pun ia bertanya, "ada apa Kaa-san?" tanyanya memastikan.
Sang Ibu melepas pelukannya dan meletakan kedua telapak tangannya pada sisi wajah anaknya yang sudah menginjak remaja nan cantik.
"Sakura dengarkan Kaa-san," Haruno mebuki tersenyum dengan tatapan yang berusaha menenangkan. Sebisa mungkin Sakura harus mengikuti apa yang ia katakan saat ini karena Sakura itu sangat sulit percaya jika itu bukan ayahnya. Bukan Sakura tidak mempercayainya, tapi yang sangat tegas adalah sosok ayahnya.
"Ada apa?" Sakura masih bertanya dengan rasa penasaran dan kebingungan akan sikap aneh sang Ibunda.
Mebuki menyerahkan kalung berlambang kipas besar seperti liontin pada genggaman Sakura dan berkata, "bawa ini bersamamu dan sebisa mungkin sekarang kau harus pergi, maaf."ucap Mebuki dengan air mata yang mengalir deras dan tubuh bergetar menahan isak tangis yang akan meledak jika saja tidak di tahannya.
"M-maksud Kaa-san apa?"
"Mereka membunuh Tou-san dan mungkin sekarang mereka akan ke sini." jelas Mebuki yang tidak bisa Sakura maksud dari perkataannya.
"Tou-chan... t-tidak..."Sakura menggeleng keras tidak percaya akan ucapan sang Ibu dan berharap itu semua hanya bohong dan jika ia masih tertidur bisa jadi ini hanya mimpi buruk.
"Kau tahu pekerjaan Tou-san bukan?" tanya Mebuki yang di jawab anggukan lemah Sakura jika gadis itu mengerti.
"T-tapi..."
"Berjanjilah kau harus selamat sayang, maafkan Kaa-san." ujar Mebuki yang kini memeluk putrinya kembali.
Sakura pun ikut menangis dan membalas pelukan sang Ibunda. Ia tahu cepat atau lambat akan seperti ini karena pekerjaan Ayahnya yang memungkinkan siapa saja mengincarnya dan ia pun harus siap karena itulah janjinya kepada Ayahnya.
"Kaa-san harus bersamaku."
Mebuki melepas pelukannya dan menyerahkan sesuatu pada Sakura.
"Ini mungkin tidak cukup tapi Kaa-san berharap kau kuat Sakura."
Suara geduran dari gerbang membuat keduanya terlonjak.
"Mereka datang, pergi sekarang Ibu akan menemui mereka." Mebuki mengelus pipi Sakura dan mengecup kening yang mungkin untuk terakhir kalinya.
Sakura mengusap kedua pipinya yang basah dan berdiri meraih ransel yang sudah di siapkan Ibunya. Memasukan uang pemberian Ibunya, ia memakai liontin itu serta meraih fotonya bersama kedua orang tuanya. Menatap seisi kamar yang sudah di tinggalinya sejak kecil ia berbalik menuju jendela dan membukanya untuk turun langsung pada halaman belakang rumahnya.
Dapat ia lihat beberapa orang sedang menggeledah rumahnya dan sang Ibu yang mereka tawan. Saat Ibunya menoleh dan pandangannya saling bertemu, Ibunya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Kaa-san." lirih Sakura yang sudah turun dari kamarnm memakai tali yang memang terpasang di berandanya karena sesekali ia suka mengendap pergi malam. Dengan langkah yang berhati-hati ia membuka bagasi rumahnya.
Satu mobil dan motor tersimpan di sana dan ia sudah mendapat SIM saat hari ulang tahunnya dan kini bisa mengendarainya. Mengeratkan jaket hitamnya ia menghampiri motor sport merah miliknya dan mengendarainya.
Beberapa orang menghadang dan ada juga yang mengejarnya. Bunyi letusan dari senapan membuatnya memejamkan matanya menahan gejolak yang sudah meruntuhkan pengendalian dirinya. Dengan kecepatan tinggi ia pergi dari rumah yang penuh dengan kenangan indah tentang mereka dan kini ia harus pergi sejauh mungkin dari kebahagiaan itu.
"Kaa-san, Tou-sann."
Flash Back off
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Sakura menyeka air matanya dan kembali memakai liontin pemberian sang Ibu untuk terakhir kalinya. Buku rekening yang mereka siapkan atas namanya sama sekali belum di pergunakan nya. Ia takut, sesuatu akan menghampirinya kembali.
Setelah selesai memasukan semua barang-barang nya, Sakura pun keluar karena Taxi yang di pesannya sudah datang.
"Antar semua ini ke alamat ini ya Pak!"
Sakura menyerahkan uang dan alamat untuk mengantarkan barang-barang miliknya ke tempatnya yang baru sedangkan ia akan menyusul nantinya.
Setelah taksi itu pergi sesuai alamat yang di mintanya, Sakura berjalan pada parkiran khusus pemilik flat yang nampak beberapa mobil dan satu buah motor sport merah.
"Ayo kita pergi." ujarnya sesaat sudah menaiki motor miliknya. Dengan jaket hitam yang dipakainya ia menggenggam liontin itu dan berucap, "lindungi aku Kaa-san, Tou-san." dan ia pun berlalu pergi meninggalkan flat yang untuk kesekian kalinya ia tinggalkan.
.
.
.
Ruangan gelap dengan cahaya redup dari beberapa layar komputer yang ada di dalam membuat yang ada di sana nampak meremang. Dan di sinilah Shikamaru kini berada, bersama rekan lainnya yang sudah berkumpul. Tidak banyak, hanya ada empat orang termasuk dirinya. Namun keadaan kali ini penting dan ia tidak bisa mengabaikan nya walaupun Sebenarnya ia khawatir akan Sakura di luar sana.
"Mashino Tenzo sudah mendapatkan hukumannya, terima kasih atas kerja keras kalian."
Pembukaan dari perbincangan mereka di awali dari pria yang memiliki rambut bergaya melawan grafitasi dan masker menutupi sebagian wajahnya. Layar besar menunjukan kejadian kemarin yang memang sangat mengejutkan bagi semua orang, kecuali mereka. Bagaimana tidak, seorang yang sudah bebas nyatanya memang benar bersalah dan mereka harus bekerja dengan cara mereka secara rahasia.
"Aku sangat bosan mengikutinya kalau kau tahu Kakashi-sensei."
Seruan dengan nada riang namun terdengar bosan terlontar dari sosok pria dengan rambut kuning yang sedang memainkan psp miliknya tanpa mengalihkan pandangannya untuk sekedar bertatap muka dengan orang yang di panggilnya Sensei.
"Aku akan traktir kau ramen, Naruto."
Mendengar kata ramen tentu saja Uzumaki Naruto langsung semangat dengan mengacungkan jari yang tidak digunakan pada permainannya.
"Be okay."
"Ada apa?"
Satu pertanyaan dari pria yang sejak tadi duduk dalam diam akhirnya bertanya karena merasa pembicaraan sejak tadi tidak penting sama sekali.
Kakashi mengubah layar dengan foto seorang pria berkulit cokelat dan berambut putih.
"Dia Omoi, pria buronan yang masih berkeliaran." Kakashi mulai menjelaskan apa tujuannya mengumpulkan anak didiknya saat ini.
"Berapa lama?" tanya Naruto yang ingin mengetahui berapa lama pria itu jadi buronan.
"Lima tahun. Sudah lima tahun dia melarikan diri setelah kasus pembunuhan kepala divisi dari kepolisian Haruno Kizashi dan Isterinya Haruno Mebuki. Omoi melarikan diri sesaat setelah membunuh Haruno Mebuki. Kemungkinan Omoi pergi keluar kota dan kalian tahu bukan apa masalahnya?"
"Ada dalang dari semua ini dan Omoi adalah kuncinya?"
Kakashi menjentikkan jarinya pada jawaban dan dugaan tepat Shikamaru.
"Dia mafia yang menyewakan jasa dan kemungkinan ada sosok di belakangnya selama ini. Jadi kau bisa meneruskan pencarianmu terhadap orang ini Shikamaru."
"Mendokusei, dia di lindungi sosok penting yang masih belum di ketahui jati dirinya."
Shikamaru menyandarkan diri pada sandaran kursi dan menatap intens pada foto pria yang memang sudah ia incar sejak dulu. Pria itu buron dan anehnya polisi yang menangani kasus ini menyatakan pasangan yang tidak lain orang tua Sakura di nyatakan bunuh diri. Tentu saja itu hal janggal dengan kematian mereka, Haruno Kizashi tewas karena kecelakaan mobil yang masuk jurang sedangkan bibi Mebuki tewas bunuh diri dengan cara menembak dirinya. Sakura menghilang dan baru ia temui setahun setelah kehilangannya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
"Mereka akan mengincarmu jika membuka lagi kasus ini Kakashi."
Kini Kakashi tertuju pada pria yang baru saja mengatakan pendapat yang memungkinkan akan benar terjadi jika hal itu di lakukan nya.
"Ya. Maka dari itu kita harus membuka dan menyelidikinya kembali karena ini adalah pintu pada labirin." Kakashi membenarkan dan kini foto pria buronan mereka di gantikan oleh foto perempuan berambut merah muda.
"Dia anak dari Haruno Kizashi. Perempuan yang tidak akan kalian duga sebelumnya jika dia ahli bela diri. Tidak ada yang tahu tentang gadis ini kecuali beberapa orang saja," Kakashi melirik Shikamaru dan kembali menjelaskan.
Naruto kini mengalihkan permainannya pada pembahasan yang menarik perhatiannya.
"Dia cantik sekali Kakashi-sensei."
"Tentu saja, kan Shikamaru?" Kakashi melirik Shikamaru yang kini mendengus karena perkataan itu memang di tujukan untuknya agar mengakui siapa Sakura.
Naruto menoleh dan mendekatkan diri pada Shikamaru, "kau mengenalnya?" tanyanya curiga.
"Hn."
"Kenalkan dengan aku, oke?"
"Tidak."
Naruto merengut sebal karena sikap Shikamaru yang sangat jelas jika pria nanas itu dekat dengan perempuan cantik itu.
"Dia mesum asal kau tahu Naruto."
Kini ucapan itu terlontar dari pria yang masih duduk tenang dengan ponsel yang di putar (di mainkannya ).
Mengedipkan berkali-kali akan ucapan pria yang sangat tidak mungkin membicarakan wanita itu, Naruto menatap curiga pada sahabatnya itu.
"Siapa? Kau yang mesum Teme?"
"Pinky."
"Woaahh, tidak mungkin perempuan manis tipe idealku seperti itu. Tapi, jika mesum denganku bol- Awww Shikamaru!"
Naruto mengaduh kesakitan karena ulah Shikamaru yang memukulnya dengan buku novel orange milik Kakashi.
Melihat tingkah Naruto yang seperti biasanya, di tanggapi dengusan pria berkata onyx lain dan Kakashi yang terkekeh ringan.
"Apa hubungannya dengan Sakura?"
Kakashi duduk di meja dan melihat foto itu sekali lagi. Banyak misteri yang belum terpecahkan dan semua karena banyak orang yang bekerja dengan kejahatan hanya karena uang dan merelakan keadilan terbuang begitu saja.
"Jika kita membuka kasus itu kembali mereka akan menjadikannya dalang dari kasus itu. Singkat saja, Haruno Sakura adalah kunci untuk membuka pintu labirin yang akan kita masuki."
"Aku tidak mengingankan itu."tolak Shikamaru yang tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada Sakura.
"Jika kita membiarkannya, Sakura akan bahaya dan kau tahu itu Shikamaru."
"Apa penting si Pinky itu dalam semua ini?"
Semua perhatian mereka teralih pada pria yang seolah tidak ada minat dengan kasus ini.
"Kau akan mengetahuinya saat bertemu dengannya, Sasuke."
pria yang di sebut Sasuke hanya menaikan sebelah alisnya mendengar penjelasan yang tidak masuk akal dari Kakashi. Baginya misi untuk menghukum semua yang sudah mengkhianati dan uang sedangkan gadis itu bukan siapa-siapa. mengendalikan bahu acuh ia tunjukan sebagai respon jika dirinya tidak akan berkata apa-apa lagi mengenai hal ini.
Kakashi tersenyum dibalik masker yang digunakannya melihat sikap sasuke yang akhirnya menyerah dan asal kalian tahu ini adalah hal pertama ia bisa lihat emosi dalam diri Sasuke.
"Sebaiknya kita awasi dulu Haruno Sakura untuk melihat pergerakan mereka baru bertemu secara langsung dengan Sakura."
Semua menimang dan mengangguk kecuali Sasuke yang masih terlihat acuh. Naruto masih dalam mode pemikiran yang kritis setelah mendengarkan kisah Sakura dan apa baik jika Sakura bertemu mereka.
"Apa kita harus menginterogasi Sakura-chan begitu?" tanya Naruto yang sudah memanggil Sakura dengan akrab walaupun dia sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis kembang gula itu.
"Aku akan menemuinya setelah ini." ujar Shikamaru yang mengerti kenapa selama ini Sakura selalu pindah tempat dan itu karena mereka.
"Kau harus mengontrol karena kau ahli di bidang ini Shikamaru." tolak Kakashi yang menugaskan Shikamaru untuk tetap di markas mereka.
"Tid-"
"Naruto dan Sasuke akan menemuinya."
"Serahkan padaku dan Tem- kemana Sasuke?" Naruto yang sudah berdiri terbengong karena salah satu dari mereka sudah menghilang.
"Mendokusei."
"Ah sial selalu seperti hantu, aku pergi dan kirimkan aku alamatnya Shikamaru." ujar Naruto yang langsung meninggalkan ruangan menyusul Sasuke yang hilang entah kemana.
Kakashi mendengus melihat kelakuan para anggotanya.
"Kita selidiki CCTV di tempat tinggal Sakura yang terakhir."
"Hn."
"Kita sudah membahas ini dan apa kau tidak apa?"
"Sakura belum menentukan."
"Ya karena dia tidak tahu jika dia milik orang lain."
"Aku akan mengecek dan melacak semua cctv tempat tinggal dulu dan juga yang baru."
Kakashi hanya mengangkat bahu karena sikap acuh Shikamaru.
"Hn, aku percaya padamu."
Sesulitnya mencari jalan untuk keluar, pasti ada satu jalan yang tidak mungkin menyesatkan dan itulah kenapa labirin selalu di penuhi lorong-lorong semu yang menyesatkan dan hanya ada satu jalan untuk mencapai kebenaran.
.
.
.
to be Continue
ingin lanjutkan yang lain tapi apa dayaku yang musiman ini. Mood kadang tidak berpihak
oya pake app ffn dah di kasih jarak kenapa pada deket kalo dah publish ya mood kurang ya salah satunya g bisa buka ffn dr browser T.T
Wyd Rei Gil Sei Kuran Tanaka
CKRG
