Seketika angin berhembus kencang dari arah jendela, menyibak tirai putih itu, kemudian berputar di dalam kelas. Beberapa benda berat melayang-layang dan kertas-kertas berterbangan, membuat Luhan merasa mual. Namun yang membuat Luhan tersentak dari duduknya adalah..

Kehadiran Baekhyun yang duduk tepat di depannya.

"AAAAAAAAA..."

.

.

Chapter 2

.

Teriakan Luhan mengundang perhatian murid-murid yang berjalan di depan koridor kelasnya. Ditambah lagi Luhan yang mendobrak pintu dan berlari tunggang-langgang. Beberapa siswa kemudian mengedikkan bahu tak acuh. Berbeda dengan seorang siswa bertubuh tinggi yang justru semakin merapat pada jendela kelas Luhan.

Semua terlihat normal di matanya, dan membuat siswa tinggi itu beranggapan jika siswa yang baru saja lari ketakutan itu sedang berhalusinasi. Ia mengabaikannya dan hendak pergi. Beberapa detik setelah pemuda itu berbalik, ia kembali menoleh. Tatapannya berubah sendu ketika mata bulat itu menangkap kursi kosong Baekhyun yang dipenuhi bunga.

.

.

Ini pertama kali dalam hidup Luhan, ia merasa begitu ketakutan. Belum genap seminggu ia berada di sekolah barunya dan ia sudah harus berhadapan dengan arwah orang yang belum lama meninggal. Langkah lebar Luhan membawanya ke atap, dan menemukan punggung tegap milik seseorang berambut blonde.

"Oh Sehun." Gumamnya.

Entah sehebat apa telinga Sehun sampai-sampai ia menoleh dan membuat Luhan mati kutu. Luhan bersumpah dia tidak bermaksud memanggilnya.

"Eung..kau, Oh Sehun?" ujar Luhan sekenanya.

Bukannya menanggapi, Sehun malah berbalik dan kembali memunggungi Luhan. Luhan mendesah, entah lega atau kecewa. Mengingat Sehun adalah tunangan Baekhyun, Luhan sadar, mungkin pemuda itu membutuhkan sedikit privasi saat ini. Luhan mengangguk-angguk imut sebelum berbalik. Ia berjalan lemas menuju pintu, tapi kemudian matanya membulat. Membutuhkan privasi atau?

"YA! OH SEHUN! Apa kau mau melakukan hal gila, eoh?" Luhan baru sadar jika Sehun berada dekat dengan pinggiran atap. Pemuda itu menghampiri Sehun dan menarik tangannya. Sehun mengernyit heran sebelum menyentak tangan Luhan dengan kasar.

"Ck, Kau pikir dengan begitu kau akan kembali melihatnya, eoh?"

"Mworago?"

"Ya! Oh Sehun. Jika kau melakukan hal yang sama gilanya dengan Baekhyun, apa kau pikir masalah kalian akan selesai begitu saja, hah?"

Sehun mengerutkan keningnya. Memandang aneh anak di depannya.

"Mworago?" ulangnya dengan nada yang lebih datar dari sebelumnya.

"Mwo?"

Luhan tidak mengerti mengapa Sehun justru tertawa mengejek sebelum pergi meninggalkannya. Ketika Sehun menutup pintu, sosok Baekhyun yang menyeramkan muncul di baliknya. Membuat Luhan berteriak dan buru-buru menutup matanya. Dengan gemetar, Luhan mengintip dari sela-sela jarinya. Menyadari sosok pucat menyeramkan itu malah mendekat, Luhan kembali menutup rapat matanya kemudian berjongkok.

"YA! Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau mengikutiku?"

Luhan hampir menangis ketika merasakan Baekhyun berdiri tepat di depannya. Ini seperti mimpi buruknya yang menjadi kenyataan. Luhan benar-benar takut dengan hal-hal yang berbau mistis sejak kecil. Bahkan ia meminta ibunya untuk tidur bersamanya jika ia sedang sangat ketakutan.

TAK!

Ketika Luhan mendengar benda jatuh di depannya, Luhan mengintip. Seketika ia dapat bernapas lega karena Baekhyun tidak ada di sana. Tetapi sebuah cincin perak menggelinding di dekat sepatunya. Walaupun ragu, Luhan tetap mengambilnya.

"Apa Baekhyun yang menjatuhkannya?"

"Hey! Apa yang dilakukan murid di sana? Tidakkah kau lihat tanda larangan di sekitarmu?" suara rendah khas orang paruh baya mengejutkan Luhan.

"Eoh?"

"Apa yang kau lakukan di atas sini? Ini berbahaya."

Mata Luhan menjelajah, dan menemukan berbagai tanda larangan dan garis polisi di sisi atap.

"Ah, Joeseonghamnida."

Alasan logis mengapa Oh Sehun berdiam diri di sini. Tanpa diberi tahu pun Luhan mengerti jika tempat ini adalah lokasi di mana Baekhyun bunuh diri. Seketika rasa bersalah menyambangi Luhan. Tidak seharusnya ia berteriak pada Sehun, ketika orang itu berusaha mengenang orang yang dikasihinya. Luhan bodoh!

"Aish, jinjja. Kenapa remaja zaman sekarang senang sekali melompat dari atas gedung untuk bunuh diri."

Sekilas Luhan mendengar umpatan pelan dari pak tua di belakangnya sebelum ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

...

Rabu

Sehun terlihat marah mendengar berita pertunangan kami. Bahkan dia tidak menyapaku hari ini.

.

Kamis

Ini pertama kalinya Sehun berbuat kasar padaku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sehun benar-benar membuatku takut.

.

Luhan memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia menutup buku harian Baekhyun dan menyimpannya di laci. Ini selalu terjadi tiap kali ia membaca tulisan Baekhyun. Tapi Luhan yakin, bukan tidak sengaja ia menemukan buku harian Baekhyun dan bertemu pemiliknya beberapa kali. Ini akan jadi sangat merepotkan jika benar Baekhyun ingin meminta bantuannya. Demi Tuhan, Luhan itu penakut. Terlebih Baekhyun adalah...hantu.

Luhan mengerang ketika melihat jam di sisi kanannya. Ini sudah lewat tengah malam. Xi Luhan bukanlah orang yang susah tidur sebelumnya. Ketika ia di Cina, di saat seperti ini Luhan akan merangkak ke ranjang ibunya dan tidur di sampingnya. Ia sedikit menyesal kenapa ia harus dipindahkan ke Seoul.

.

.

.

"Aku tidak berpikir kau memiliki banyak masalah di hari ketigamu sekolah, Luhan-ah. Kau mempunyai lingkaran di bawah matamu. Apa sesuatu terjadi?" Yixing meneliti wajah Luhan yang tidak bersemangat. Terlihat sedikit aneh untuk Yixing ketika mengingat betapa cerianya anak itu sebelumnya.

Luhan menggeleng lemas sambil berkata tidak apa-apa. Kemudian Yixing kembali menulis dalam diam. Luhan menoleh ke sisi kirinya. Dia hampir saja jatuh dari kursinya ketika melihat arwah Baekhyun yang duduk di sana. Ketimbang lari keluar kelas dan mendapat hukuman dari guru, Luhan lebih baik menutup matanya. Mengalihkan pandangannya ke arah Yixing.

"Apa yang kau lakukan di sana, Baekhyun-ah?" gumamnya sedikit gemetar.

"Ne? Kau bicara denganku?" Yixing mengernyit melihat kelakuan aneh Luhan.

"A-ani. A-aku..kepalaku sedikit sakit." Luhan memijit pelipisnya dengan tangan kiri, masih tidak mau mengintip sisi kirinya.

"Apa perlu kuantar ke ruang kesehatan?"

"Gwaenchana."

"Kau terlihat tidak baik-baik saja."

"Aku baik, Yixing-ah."

Yixing mengangguk imut dan kembali melanjutkan catatannya.

.

.

Memilih mengikuti Yixing ke kantin adalah hal terbodoh kedua setelah memutuskan untuk berdiam diri di kelas saat jam istirahat. Pasalnya, Yixing malah membuatnya seperti orang dungu yang mendengarkan dia dan kekasihnya berkencan.

"Yixing-ah."

"Ya?"

"Aku lupa jika seonsaengnim memintaku datang ke kantornya saat istirahat."

"Begitukah? Sebaiknya kau cepat, jika tidak mau kena omel."

Great. Tentu saja itu hanya bualan karena Luhan tidak mau lebih lama lagi terjebak bersama Yixing dan pacarnya. Tapi membohongi Yixing yang polos bukanlah hal yang baik. Luhan tahu itu.

Luhan tidak perlu berpikir dua kali ketika Yixing menyuruhnya pergi. Pemuda Cina itu kemudian keluar dari kantin, berjalan tanpa tujuan di koridor lantai dasar. Ia menatap asing setiap tempat maupun murid yang ditemuinya.

Semakin dalam ia menyusuri koridor yang di laluinya, semakin ia merasa tidak ada satu pun murid lagi di sekitarnya. Luhan berpikir sebaiknya ia kembali sebelum sesuatu yang buruk terjadi –seperti terakhir kali ia tersesat dan menemukan perpustakaan tua. Luhan memilih memutar haluannya sebelum seorang siswa yang tengah duduk menyendiri di samping mesin penjual minuman otomatis menarik perhatiannya. Lelaki tinggi dengan rambut hitam dan mata bulat yang sedang meremas kaleng minuman di tangannya. Namun kemudian Luhan mengernyit, matanya dibuat sipit untuk menajamkan penglihatannya.

Siswa itu tidak sendirian. Mata Luhan membulat.

"B-Baekhyun?"

.

.

"Yixing-ah, aku ingin menanyakanmu satu hal."

"Apa ini tentang Baekhyun lagi?"

Luhan mengangguk. Tidak heran kenapa Yixing bisa membaca pikirannya. Ia menekuk lututnya dan menghadap pemuda manis di sampingnya.

"Apa Baekhyun memiliki orang terdekat selain Sehun dan Kyungsoo?"

"Aku tidak tahu pasti. Baekhyun itu dekat dengan siapa saja."

Luhan mendesah kecewa. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan basket di depannya.

"Kalau aku boleh tahu, kenapa kau begitu tertarik dengan Baekhyun?"

"Jika aku menceritakannya, apa kau akan percaya?"

"Jika itu masuk akal." Ledek Yixing.

"Aku bertemu beberapa kali dengan arwah Baekhyun. Aku rasa dia mencoba meminta bantuan dariku."

"Pffft." Yixing menutup mulutnya, Luhan tahu Yixing sedang menahan tawa saat ini.

Itu tidak penting, Luhan tahu hal ini akan terjadi. Begitupun jika ia memberitahukannya pada Sehun.

"Aku hanya bercanda." Gumamnya kemudian.

Luhan menatap Sehun yang sedang mendribble bola di tengah lapangan. Sekilas mengingat tulisan Baekhyun yang mengatakan jika Sehun membencinya.

"Yixing-ah. Apa hubungan Sehun dan Baekhyun sangat dekat?"

"Hm. Sebelum berita itu tersebar di sekolah."

"Pertunangan mereka?"

Yixing mengangguk sambil menenggak botol minumnya.

"Sehun berubah setelah berita pertunangannya dengan Baekhyun tersebar di sekolah."

"Sedekat apa hubungan mereka?"

"Aku dengar Sehun sering menginap di rumah Baekhyun. Begitupun sebaliknya."

Luhan mengangguk-angguk imut. Pandangannya tak lepas dari sosok Sehun di tengah lapangan.

"Oh ya, mereka berdua itu memang sudah dekat sejak sekolah dasar. Orang tua mereka juga dekat."

Mereka begitu dekat, kenapa Sehun menolak perjodohannya dengan Baekhyun?

.

.

Saat jam pelajaran berakhir, Luhan tahu jika Sehun akan keluar kelas paling akhir seperti kemarin. Jadi Luhan pura-pura sibuk memberesi tasnya sampai semua teman sekelasnya keluar dan menyisakan mereka berdua. Tadinya Luhan berencana meminta maaf untuk kejadian kemarin saat ia memaki Sehun di atap. Itu benar-benar tindakan yang tidak sopan dan Luhan tidak mau dirinya dicap sebagai orang yang sok tahu.

Saat melihat pergerakan Sehun, Luhan buru-buru menyandang ranselnya dan buru-buru menyusul Sehun.

"Oh Sehun, bisa kita bicara?" Luhan menarik paksa tangan Sehun yang baru saja keluar dari kelas. Sehun menurut ketika Luhan membawanya kembali ke dalam ruang kelas yang telah kosong.

Sehun melipat kedua tangannya di depan dada. Menunggu sampai Luhan mengatakan maksud dan tujuannya. Luhan terlihat gugup. Ia menggenggam tali ranselnya kuat sebelum menatap penuh wajah Sehun.

"A-aku minta maaf untuk hal bodoh yang kulakukan kemarin." Luhan menunduk, menyesali perbuatannya.

"Aku tidak tahu jika tempat itu-"

"Bisakah kau membiarkanku pergi?" Sehun menyimpan tangan kanannya ke dalam saku celana.

"Ne?"

"Jika tidak ada yang penting untuk kau bicarakan, sebaiknya pulanglah!" Luhan berkedip dua kali, mencoba mencerna apa yang baru saja Sehun katakan.

"S-sebenarnya, A-ku bertemu Baekhyun beberapa kali."

Sehun tertawa mengejek, dan itu membuat Luhan sedikit kesal. Entah sejak kapan ia jadi benci tawa mengejek Sehun yang memuakan itu.

"Bahkan ketika kau meninggalkan atap tempo hari." Lanjut Luhan meredam emosinya.

"Apa kau ingin bilang jika kau adalah seorang cenayang?"

"Beberapa kali Baekhyun muncul di hadapanku. Berwajah pucat disertai aura kebiruan di sekitarnya. Dia membuatku sangat ketakutan."

"Jika ini hanya bualanmu untuk mendekatiku, itu sama sekali tidak berpengaruh untukku!" Sehun menatap rendah pada Luhan sebelum melangkahkan kakinya ke arah pintu.

"YA! Oh Sehun! Katakan apa yang membuatmu membenci pertunanganmu dengan Byun Baekhyun!" Luhan meledak, tapi kemudian menutup mulutnya.

DEG.

Sehun mematung di ambang pintu. Telapak tangannya mengepal kuat.

"Aku bahkan belum mengingat namamu, tapi kau sudah mencampuri urusan pribadiku." Ujarnya tetap pada posisi membelakangi Luhan.

"Bukankah kau menyukai Baekhyun?" Luhan kembali menutup mulutnya. Memukul-mukul pelipisnya dan bergumam bodoh. Luhan tidak tahu asal dari kata-katanya barusan. Dia bahkan tidak tahu apa-apa mengenai hubungan Sehun dan Baekhyun.

Sehun berbalik. Perlahan berjalan mendekati Luhan. Tatapannya dingin, seperti pertama kali Luhan melihatnya. Luhan paham betul mengapa Baekhyun mengatakan jika Sehun membuatnya takut. Mungkin itu pertama kalinya Sehun memperlihatkan tatapan itu pada Baekhyun.

Sehun berhenti ketika Luhan menarik satu langkahnya mundur. Luhan sadar jika dirinya mungkin dalam bahaya saat ini. Satu tarikan kuat di kerah Blazernya, membuat Luhan memekik kesakitan.

"Xi Luhan, eoh? Aku akan mengingatnya."

Setelah membaca nametag di blazer Luhan, Sehun melepaskannya, melenggang pergi meninggalkan Luhan yang merasa sesak di lehernya.

Luhan benar-benar tidak tahu jika Sehun akan berubah sangat sensitif jika menyangkut masalahnya dengan Baekhyun. Tapi Luhan berani bersumpah, jika yang bicara tadi bukanlah dirinya.

.

.

TBC

Uahh, terimakasih yang sudah mampir untuk membaca dan mereview ff ini, muach :* yang menunggu next chap ffnya, aku mungkin akan selalu ngaret nge-publishnya, jadi mohon ditunggu aja okeh? aku ga bisa janji yang muluk-muluk, berhubung masih harus ikut tes masuk perguruan tinggi :p

For this chapter, RnR juseyo~

kamsahamnida :)