.Part 2: haruskah?

.

.

enjoy

Kazune pov

"Akh haruskah aku menolong gadis keropi itu?, dia sepertinya pucat..." kenapa aku harus memikirkan dia, siapa tau dia hanya akting di depan ku, tunggu apa dia tau mobilku? akhh Kazune lagi pula sekarang kau harus menjemput Kazuza.

calling Kazuza...

"Kau dimana? APA? Tidak tidak kau harus pulang bersama ku Kazuza Kujyo! Kau tau Kuga itu playboy! akhh bocah nakal kau..." sial anak ini selalu saja, mengacuhkanku dan mematikan telfon, apa tidak tau saudara kembarmu ini sedang pusing antara menolong gadis keropi itu atau bukan, bagaimana kalau dia pingsan di stasiun bagaimana? Dia di culik dan dijadikan wanita penghibur! aku rasa masa depan gadis itu ada di tangan ku ( -_-) aku harus memutar mobil ini ke stasiun, harus!

Author pov

Kazune memutar mobil sport hitam itu ke arah stasiun yang tak jauh dari tempat Kazune sekarang, sampai disana yang dia dapati hanya stasiun yang tidak ramai, dan lebih banyak orang berteduh disini, tidak ada yang namanya gadis keropi itu. sampai mata sayu itu menangkap gadis yang sedang duduk termenung dan melipat kakinya agar suhu badannya agak panas, pucat... sangat pucat seperti mayat yang 3 hari belum di kuburkan di mandikan de el el (-_-)

menghampiri gadis itu dan mensejajarkan tinggi mereka agar Kazune dapat melihat wajahnya, memang bibirnya biru, sangat pucat...

"Kau tak apa? kau pasti kedinginan, kau ikut saja bersamaku, kau bisa menghangatkan badanmu di rumahku" melepas jaket kulit coklat itu dan memakaikannya ke tubuh gadis hijau itu, sedangkan gadis itu hanya menggeleng pelan, takut dengan kazune yang akan membahayakannya.

"Aku bukan orang jahat, aku tinggal dengan adikku di rumah, dia perempuan kok, kau mau liat" meng-utak atik sakunya dan mengeluarkan foto walpappernya handphone dan memperlihatkan fotonya dan gadis berambut jagung panjang dengan bandana telinga kelinci yang terpasang indah di rambutnya.

"Eumm, kau tidak hentai kan?"lirih Karin dan menunjuk wajah Kazune, sesaat Kazune tersenyum dan mengulurkan tangannya, "Tidak aku janji"

"Awas saja kau kalau hentai aku patahkan tulang lehermu nanti"Kazune bergidik ngeri mendengar tuturan gadis ini, badannya mungil mana mungkin bisa mematahkan tulang leher orang, sekarang? berjalan saja Kazune harus memopohnya (?) hahahaha gadis hijau ini kau tidak seorang pelawak kan?

"Nama mu siapa?" tanya Kazune sesampainya di mobil, dan melihat karin yang membenarkan rambutnya, Kazune mematung melihat pemandangan di depannya benar-benar...akhhh apa yang ada di pikiran seorang Kazune Kujyo ini? hehe tentu saja dia, author, dan tuhan yang tau.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" suara lembut ini memecah keheningan di antara mereka berdua, hanya berdua baiklah, sebaiknya seorang Kazune Kujyo menjalankan mobilnya sekarang, bukannya mematung melihat karin dengan intens seperti itu! cinta pada pandangan pertama heh?

"A-aku anu i-ini hah huh hah huh" sepertinya Kazune terserang asma sekarang, Karin hanya memebenarkan rambutnya, iya hanya membenarkan rambut basah itu, kenapa laki-laki ini malah gugup seperti itu? apa kau mengidap kelainan rambut basah Kazune?

"Kau kenapa? jangan menatap ku seprti itu a-aku takut pak tukang daging!"memukul pelan bahu Kazune dan mencoba membuka pintu mobil, tapi apa? jangan tanya dia sama sekali tidak tau cara membuka mobil sport itu, cih benar benar gadis kampung...

"Aaa maaf maaf maaf hei maaf kkan aku sebaiknya kau tutup rambutmu!"meng utak atik tas Karin dan mendapatkan handuk keropi dan memberikannya ke Karin"ini pakai!"

"Tapi kenapa?"Karin menatap Kazune heran, apa jangan-jangan di alergi rambut, tapi kenapa dia tidak memotong atau nge-botakin rambutnya coba?

"Pakai saja!, oh iya tadi namamu siapa?"melihat ke arah karin dan kembali menatap ke depan.

"N-nama ku Karin, Hanazono Karin" menatap lurus ke depan dan memiringkan kepalanya dan menatap Kazune yang bibirnya sedang membentuk huruf o "Kau? namamu siapa?"

"Kazune Kujyo"

"Kenapa dari tadi mobilmu belum jalan? sudah seperempat jam kita disini!"menyadarkan Kazune yang kembali bermenung, dan hal itu membuat Kazune kaget dan segera menghidupkan mobil sportnya

"A-ah iya aku lupa hehehe" menjalankan mobilnya dan fokus dengan jalanan di Kanagawa, sedangkan Karin asyik melihat kiri kanan, 'jadi ini Tokyo! tapi apa benar ini Tokyo?'

"Kazune.."

"Iya, ada apa?"melihat sebentar ke arah karin dan melihat ke arah depan lagi "Apa benar ini Tokyo?" dengan polosnya Karin berkata seperti itu membuat Kazune gemas dengan gadis ini, yang ada di pikiran Kazune adalah 'ternyata ada juga gadis yang sama polosnya dengan ku ya'

"Hei jadi sebenarnya kau itu ingin pergi ke Tokyo dan malah tersesat di Kanagawa, ahh kau ini"

"JADI INI BUKAN TOKYO!?" jika kalian ada disitu gendang telinga kalian akan pecah secara sadis, untung saja Kazune sudah kebal, toh di rumah saja Kazuza seperti ini, tentu saja pemuda rambut jagung ini sudah kebal.

"Iya, tapi besok aku akan mengantarkanmu ke stasiun, tdi aku hanya janji akan menolongmu untuk menghangatkan badanmu, bukan?"kali ini karin tertunduh, isaknya terdengar oleh Kazune membuatnya merasa ragu, apakah ada yang salah dengan apa yang dia ucapkan? tidak kan?

"Hei hei hei jangan menangis, kita sudah hampir sampai"memasuki gerbang perumahan elit di kota Kanagawa, dan Karin yang menangis tiba tiba matanya berbinar- binar betapa bagusnya rumah-rumah disitu, sangat berbeda dengan rumah Michiru yang termasuk besar di Tochigi.

"Wah Kazuneee kauuuu tingalll disiniii? kyaaaaaaaaaa apa dirumah mu ada kolam atau pemandangan?" dengan semangat 45 (?)nya karin bertanya dengan Kazune ahhh Kazunee 'kalau saja di adalah istriku akan langsung ku ajak ke kamar (?)' kyaaaa KUJYOOO apa yang kamu pikirkan -_-

"Aishh kau ini, nanti sebentar lagi juga sampai"

AT TOCHIGI

"MICHIRU NISHIKIORYYYYY KEMANA KAU BAWA ANAK KU HAA? ITU ANAK TUNGGALKU MICHIRU!" Ibu Hanazono sibuk mengejar Michiru anaknya tidak sampai ke Tokyo, padahal dia sudah mempercayakan Karin kepada Michiru, impiannya adalah Karin pulang ke Tochigi dengan mobil mewah dan mengandeng seorang pria kaya dan tampan (emak-emak matreee). malah berita ini yang dia dapatkan.

"A-ahh aku pusing Michiru cepatt ambilkan obatku d-di atas meja"MIchiru tunggang langgang mencari obat yang di maksud tadi, sampai bola mata biru dan ungu itu melihat sebotol kapsul yang mungkin di maksudkan oleh tadi

"Ini bi"

"ahhh aku lega, jadi bagaimana ceitanya sekarang bagaimana dengan anakku?"menatap sayu ke arah Michiru, dan Michiru hanya menatap ibu Karin dengan rasa bersalah, membuat ibu Karin semakin lesu perihal anaknya yang hilang.

"Bi aku tau aku tau bi, tunggu bagaimana kalau... kalau... ah aku lupa"

"MICHIRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU"

AT Kanagawa

"Bagusnyaaaa ini benar rumahmu kan?"karin memutar mutar badannya menikmati rumah Kazune yang super duper mewah itu. sedangkan Kazune hanya terkekeh pelan melihat karin seperti itu.

"Kakak kau pula...siapa dia Kazune Kujyo?"Kazuza membuka pintu dan mendapati Karin yang menatapnya lugu, lalu Kazune mendorong Kazuza ke dalam untuk memberi penjelasan tentang Karin.

"Kau tunggu disini saja ya, sebentar!"
"iya"

Kazuza menepis tangan Kazune dari bahunya dan menatap tajam kembarannya itu, dan segera mengintropeksi kazune "Siapa itu kak, jangan bilang kalau kau menghamilinya!"

"Bicara apa kau Kazuza, mana mungkin aku menghamili seorang gadis ha?"

"lalu gadis polos itu siapa kau ha?"suaranya juga tak kalah besar dari Kazune, membuat perselisihan kakak beradik itu menjadi tambah panas.
"Polos? polos kau bilang memang kau tidak polos ha Kazuza Kujyo?"

"Kakak! kau ingin apakan gadis itu ha?"

"Baiklah aku katakan, begini dia itu adalah gadis yang berdiri di depan tokoku, dan aku mengusirnya dan sewaktu itu juga hujan, dan aku melihatnya pucat dekat stasiun lalu aku menolongnya, kasian Kazuza, dia itu seorang gadis, apa lagi kau tau keadaan jepang ini, pasti ada seseorang yang menolongnya dan akan menjadikannya wanita penghibur, kasian dia kan? apa lagi dia tersesat, sebenarnya dia ingin ke Tokyo, tapi malah kesini, mengertilah sedikit Kazuza, apa lagi ayah dan ibu kan di luar negeri"

"Akhhhhhh baiklah terserah kau saja, tapi jangan suruh aku berbagi kamar dengannya"

"Lalu dia tidur dimana Kazuza? dengan ku?"

"Jangan nekat kau Kazune!"

"baiklah dia tidur bersama mu, setuju?"
"hah baiklah"

Karin duduk termenung di teras rumah Kazune, apa baik jika merusak hubungan kakak adik? gara-gara dia, Kazune dan adiknya bertengkar, apa sebaiknya dia pergi? tapi kalau dia pergi dia tak tau jalan di kota ini.

"Karin.."
Karin mendongakankan kepalanya ke atas Kazune menatapnya datar, dan menenteng kopernya. "Apa aku harus pergi? a-aku bisa pergi sekarang, terima kasih"

"Bukan, kau bisa tinggal disini Karin, kau sekamar dengan adikku Kazuza"

"I-iya, t-terima kasih Kazune"

karin mengikuti Kazune masuk kedalam, mereka memang orang yang sangat kaya, maidnya sangat banyak, di dalam Karin di pakaikan handuk oleh seorang perempuan berbaju maid berwarna aqua, dan melayani Karin dengan sangat baik, karin merasa ada di surga sekarang.

"Cihh jadi ini gadis Tochigi itu? kau membuat kakak ku melupakan ku"
Kazuza melirik tajam ke arah Karin, Karin hanya menunduk, tak tau apa yang harus di lakukan sekarang, hanya diam dan menatap Kazune sayu, membuat Kazune menatap tajam kazuza.

"Jaga omongan ku Kazuza Kujyo!"

"Akhhhh kau ini selalu saja dia ini gadis desa, dan kau tertarik dengannya heh? ternyata bujang lapuk ini jatuh cinta juga"
melihat kuku lentiknya dan menatap remeh ke arah kazune, membuat Kazune geram dengan tingkah adik bungsunya ini.

"Siapa yang kau panggil bujang lapuk hah?"membesarkan volume suaranya dan memegang tangan Kazuza.

"Tantu saja kau kakak, ahhh sakit lepaskan aku!"

"KENAPA KAU PANGGIL AKU BUJANG LAPUK KAZUZA!"

"Dengar! Siapa suruh kau belum menikah ha? Seharusnya kau itu sekarang sudah punya pacar"

"Apa pedulimu?"

"Kau itu penerus usaha toko daging kita kak, dan kau perlu istri untuk menimbang nimbang sesuatu, akhhh aku capek kau itu ihhh aku mau ke kamar"berlari ke arah tangga dan tak menunjukan batang hidungnya lagi "Kazune maafkan aku..." kali ini Karin angkat bicara dia merasa bersalah, hubungan kakak beradik ini agak terganggu mungkin karna kehadiranya.

"Tidak Karin kami memang sering seperti itu, aku sudah terbiasa dengan sifat Kazuza yang keras kepala itu"

"Orang tua mu kemana?"karin melihat seisi rumah, tidak ada org tua Kazune disini "Mereka sedang pergi ke luar negeri, jadi toko daging kami juga bukak disana"

"Kenapa kau memilih bekerja di toko daging dari pada kantoran, pada hal aku pikir kau tampan dengan dasi ^-^"

"Eh aku tampan?" apa ini? Seorang Kazune malu? Karin hanya bilang dia tampan bukan? Iya hanya bilang dia tampan, banyak gadis centil pembeli dagingnya sering mengatakannya tampan, tapi kenapa kalau gadis Tochigi ini kalau bilang di itu tampan rasanya sangat berbeda?

Apakah bujang lapuk ini mulai merasakan jatuh cinta?

TBC

Makasih ya yang udh review ^-^ balasanya:

-Manda: nih dah lanjut, makasih. ^^

-Viviana kazurin: udh lanjut kok ^^ semoga chapter ini tembah menarik ^^

-karinokazune: nih udah, makasih ^^

-Sofis siquelle: aku lebih pingin beda dari yang lain, kalau yang sofia katain itu umumnya udah banyak, makanya aku pengen gambarin sifat Kazune yang polos dan terbuka, tapi ga ketinggalan dia kayanya segudang :D gitu aja, makasih ^^

-vii violetta anais: nih udah, makasih ^^

so, mind to review minna? review kalian adalah semangatku ^^